Anda di halaman 1dari 2

Disadur dari blog pribadi (dengan sedikit perubahan) :

http://azkiya2008.wordpress.com/2013/01/06/book-samira-samir/
Review Buku : Samira & Samir
Sudah pernahkah saya menyinggung soal hobi membaca buku saya kepada anda? Saya kok agak
lupa. Well, saya sangat suka membaca sedari kecil. Thanks to both of my parents for making me,
my sister, and my brothers for that.
Hobi ini membuat saya memasuki dunia-dunia luar biasa penuh warna yang selalu memiliki
kisah yang berbeda di setiap halamannya. Dimulai dari cerita para Nabi & para sahabat
Rasulullah saw yang selalu diceritakan ayah saya setiap malam sebelum kami semua tertidur,
kemudian dikenalkan pada cerita bergambar, tentang sekeluarga besar lumba-lumba lucu yang
senang berpetualang.
Hingga saat ini, ribuan buku sudah tamat di tangan saya, ada yang terlupakan, tetapi ada pula
yang tergabung dalam daftar spesial saya.
One of the most memorable books ever.
Adalah Samira & Samir.
Saya sudah lupa bagaimana saya bisa meminjam buku ini, dan dari siapa. Yang jelas, saat itu
saya sedang bersekolah asrama di Jogja. Mengesankan, itu pikiran pertama saya. Ide cerita yang
unik, bahasa yang indah, pemahaman yang seolah nyata, dan kompleks. Bahkan saat itu pun saya
mampu merasakan kompleks-nya perasaan tokoh ciptaan Siba Shakib ini.
Namanya Samir. Sesungguhnya ia perempuan. Namun menjadi anak pertama kepala suku, yang
justru mengharapkan sosok anak laki-laki, namanya Samira berubah menjadi Samir. Tak satupun
orang sukunya tau fakta bahwa anak sang kepala suku sebenarnya perempuan. Ayah Samir pun
mendandaninya sebagaimana lelaki. Mengajarinya sebagaimana mengajari lelaki suku. Samir
pun mengira ia Samir. Sama dengan anak lelaki lain. Ia Samir. Bukan Samira.
Hingga di usia 7 tahun, ia bermain dengan anak-anak lelaki lain di sukunya di tepi sungai.
Kemudian teman-temannya kencing di sana. Saat itulah ia melihat sesuatu yang tak sama. Yang
dimiliki temannya, tapi tak dimilikinya. Dan ia sadar, ia berbeda. Ia bukan Samir yang selama ini
ia pikirkan. Namun demi ayahnya, ia meneruskan perannya sebagai lelaki. Samir pun tumbuh
menjadi sosok lelaki berwajah cantik.
Di usianya yang menginjak belasan, ayahnya memimpin sukunya berperang. Yang membawa
ayahnya kembali dalam keadaan tak bernyawa. Terpaksa menyaksikan ibunya (maaf) diperkosa
oleh pengkhianat sukunya, Samir pun menjadi bisu. Ia tak bicara. Tak ingin bicara.

Hingga suatu saat ia meninggalkan sukunya. Berkelana. Sebagai Samir. Dengan modal ajaran
ayahnya yang mengharapkannya menjadi penerus suku pejuang pemberani. Mampu memanah.
Berkuda. Menggunakan pedang. Menjadi lelaki. Yang mengagumi burung besi di cakrawala
Nowshak.
Ia bertemu dengan seorang guru, yang mengajarinya membaca dan menulis. Samir. Menulis.
Awalnya ia hanya mampu menusukkan pensilnya di kertas. Dipikirnya sebagaimana mengukir
pisau di atas pohon.
Dan perkenalannya dengan Bashir. Pemuda yang kelak akan membuatnya kalut dalam pilihan
menjadi pasangan hidup Bashir, menjadi Samira. Yang artinya mengkhianati keluarganya. Atau
mempertahankan eksistensinya sebagai Samir. Tetapi kehilangan Bashir.
Buku ini benar-benar mampu menangkap kompleks-nya hidup Samir dalam waktu yang singkat.
Bukan sebuah buku yang tebal. Namun mengesankan. Bagaimana saya yang saat itu tak sampai
usia 13 tahun terlarut dalam kompleksnya hidup Samir. Turut tersenyum, bersedih, menangis.
Hingga mengaduk-ngaduk mencari novelnya di tumpukan buku Toga Mas Jogja. Ah, Samira..
Sebuah episode yang terkenang betul di benak saya. Ketika Samir terpaksa bernaung di sebuah
desa. Sebagai Samir. Membalas jasa. Anak perempuan si kepala desa jatuh hati padanya. Ingin
menikah dengannya. Maka disusunlah sebuah rencana penghilangan Samir di malam pertama
pernikahannya. Unik. Menegangkan. Tidak terpikirkan.
Siba Shakib membuat saya terpesona hingga saat ini. :)