Anda di halaman 1dari 7

Ringkasan Materi

I.

Bab 4 : Optika

Pemantulan Cahaya
N

Hukum-hukum Pemantulan
Sinar datang, sinar pantul, dan garis normal (N) terletak pada satu bidang
datar
Sudut datang = sudut pantul
i r

i r

Cermin Datar
Menghasilkan bayangan yang bersifat
Tegak di belakang cermin
Maya
Sama besar

Cermin Cekung dan Cermin Cembung


Persamaan

1
1
1
2

S
S'
f
R
S'
S

Perbesaran
: M

h'
h

S
S
f
R
M
h
h

=
=
=
=
=
=
=

jarak benda ke cermin


jarak bayangan ke cermin
jarak fokus (titik api) cermin
jari-jari kelengkungan cermin
Perbesaran bayangan
tinggi benda
tinggi bayangan

Untuk cermin cekung, f dan R bertanda (+) sedang untuk cermin cembung, f dan R bertanda (-)
Bayangan tegak (maya) ada di belakang cermin bertanda (-) sedang bayangan terbalik (nyata) ada
di depan cermin
bertanda (+)
Untuk cermin cembung, bayangan terbentuk selalu maya, tegak, dan diperkecil
Nomor ruang benda + nomor ruang bayangan = 5 (lihat diagram berikut!)
1

tegak
4

II.

2
terbalik

Pembiasan

Hukum-hukum Pembiasan
Sinar datang, sinar bias, dan garis normal terletak pada satu bidang datar
N
Sinar yang datang dari medium kurang rapat ke medium yang lebih rapat
(n1 < n2) akan dibiaskan mendekati garis normal, dan sinar yang datang dari
n
i
1
medium lebih rapat ke medium kurang rapat (n 1 > n2) akan dibiaskan
n2
menjauhi garis normal
r

/var/www/apps/conversion/tmp/scratch_2/259682588.doc

Halaman 28

Ringkasan Materi

Bab 4 : Optika

Pada pembiasan berlaku :

sini
n
v

2 n21 1 1 sedangkanfrekuensi( f ) :tetap


sinr
n1
v 2 2

i = sudut dating
r = sudut bias
n1 = indeks bias medium 1
n2 = indeks bias medium 2
n2
n 21
= indeks bias relative medium 2 terhadap medium 1
n1
v1 = kecepatan cahaya di medium 1
v2 = kecepatan cahaya di medium 2
1 = panjang gelombang cahaya di medium 1
2 = panjang gelombang cahaya di medium 2

Peristiwa-peristiwa Pembiasan
(1) Kaca Planparalel
nm

i
r
d

Perhatikan gambar di samping!


Seberkas sinar dari suatu medium dengan indeks bias n m
menuju kaca dengan indeks bias nk, maka:
i r'
Pergeseran sinar :

nk

t d
r
t

sin( i r )
cos r

Ingat !!!

n
sin i
k
sinr
nm
(2) Prisma
Perhatikan gambar di samping!
Seberkas sinar dari suatu medium dengan indeks bias nm menuju
prisma dengan indeks bias nP, maka:
i r'

=
pembias
(puncak)
nP
= sudut deviasi
nm
sudut

Jika i = r dan r = i (sinar dalam prisma membagi prisma menjadi


segitiga sama kaki), maka akan terjadi deviasi minimum (m)

nm sin

1 (
m
2

) nP sin

1
2

Jika kecil ( < 15o), maka :

m (

nP
1)
nm

(3) Pemantulan Sempurna/Total


Sinar datang dari medium yang lebih rapat menuju medium yang
lebih renggang
(n1 > n2)
n1
ik
Pada saat sinar bias membentuk sudut 90 o, sudut datang disebut
dengan sudut kritis (ik).
n2
Jika sudut datang (i) terus diperbesar (i > i k), maka akan terjadi
n1 > n2
Pemantulan Sempurna/Total.

sini k

/var/www/apps/conversion/tmp/scratch_2/259682588.doc

n2
n1

Halaman 29

Ringkasan Materi

Bab 4 : Optika

III. Lensa Tipis dan Lensa Tebal

Lensa Tipis
adalah lensa yang jarak antar permukaannya diabaikan
Persamaan-persamaan pada lensa tipis

1 nL

1
f
nm

Perbesaran : M

1
1
R R
2
1

S'
S

1
1

S
S'

h'
h

Lensa gabungan
(1) berimpit (jarak d = 0)

1
f gab

1
1

...
f1
f1

Pgab P1 P2 ...
(2) berjarak d 0
- bayangan lensa I merupakan benda bagi lensa II

d S 1' S 2

M M1 M 2
1

f gab

S 1'
S '
x 2
S1
S2

1
1
d

f1
f1
f1 . f 2

Keterangan :
P = kekuatan/daya lensa (dioptri)
nL = indeks bias bahan lensa
nm = indeks bias medium
R1 = jari-jari permukaan 1
R2 = jari-jari permukaan 2
fgab = jarak fokus gabungan
Pgab= kuat lensa gabungan
d = jarak kedua lensa
Pembagian ruang benda dan bayangan
(+)
3

IV

II

bend
a

III

bayangan

Untuk lensa cembung, f dan R bertanda (+) sedang untuk lensa cekung, f dan R bertanda (-)
Bayangan tegak (maya) ada di depan lensa bertanda (-) sedang bayangan terbalik (nyata)
ada di belakang lensa bertanda (+)
Untuk lensa cekung, bayangan terbentuk selalu maya, tegak, dan diperkecil
Nomor ruang benda + nomor ruang bayangan = 5 (lihat diagram berikut!)
1

tegak
4

2
terbalik

Lensa Tebal/Permukaan Lengkung


adalah lensa yang jarak antar permukaannya tidak diabaikan
Persamaannya :

/var/www/apps/conversion/tmp/scratch_2/259682588.doc

Halaman 30

Ringkasan Materi

Bab 4 : Optika

n1
n
n n1
2 2
S
S'
R

n .S '
M 1
n2 .S
Keterangan :
n1
= indeks bias medium 1 (tempat benda)
n2
= indeks bias medium 2 (tempat pengamat)
S
= jarak benda dari permukaan lengkung
S = jarak bayangan dari permukaan lengkung
R
= jari-jari kelengkungan permukaan lengkung
R(+) : jika sinar menuju permukaan cembung
R(-) : jika sinar menuju permukaan cekung

IV. Optika Fisis

Interferensi Cahaya
Selaput Tipis
Gelap

2nd cos r = k

Terang

2nd cos r = (2k 1)

Cincin Newton

Celah Ganda

r2
k
R

dP
( 2k 1)
L

r2
( 2k 1)
R

1
2

1
2

dP
k
L

Keterangan:
Selaput Tipis
n = indeks bias selaput
d = tebal selaput
r = sudut bias
k = orde
= panjang gelombang cahaya
Cincin Newton
r = jari-jari garis gelap/terang
R = jari-jari lensa
Celah
d
P
L

Rangkap (Percobaan Young)


= jarak antar celah
= jarak garis terang/gelap dengan pusat
= jarak celah ke layar

Difraksi Cahaya
Celah Tunggal

Kisi

dP
k
L

Gelap

dP
( 2k 1)
L

Terang

d sin = (2k 1)
1
2

d sin = k

Keterangan :
Celah Tunggal
d = lebar celah
P = jarak garis terang/gelap dengan pusat
L = jarak celah ke layar
Kisi Difraksi

1
konst. kisi

= sudut penyimpangan

Daya Pisah Alat Optik (do)


/var/www/apps/conversion/tmp/scratch_2/259682588.doc

Halaman 31

Ringkasan Materi

Bab 4 : Optika

adalah kemampuan suatu alat optik untuk memisahkan dua bayangan yang berdekatan

d o 1,22
D
L

L
D

= diameter alat optic


= jarak alat optik ke benda

Dispersi Cahaya
Ialah peristiwa penguraian cahaya putih (polikhromatik) menjadi beberapa warna
(monokhromatik) karena melalui sebuah prisma
Penyebab: indeks bias tiap warna cahaya berbeda-beda ( nungu >>> dan nmerah <<<)
Selisih sudut deviasi sinar ungu dengan deviasi sinar merah disebut sudut dispersi ()

u m

sedang

cahaya

( n 1)

maka :

( nu nm )
Polarisasi Cahaya
Ialah peristiwa terserapnya sebagian arah getar cahaya. Polarisasi dapat terjadi karena:
(1) Pemantulan
(2) Pemantulan dan Pembiasan
(3) Bias Kembar
(4) Absorbsi Selektif
Contoh: karena Pemantulan dan Pembiasan
Pada saat sinar pantul dan sinar bias membentuk sudut 90 o, maka
sudut datang sinar disebut sudut polarisasi (iP)
i
n
P

n2

iP

r 90o

Rumus Brewster :

tg i P

n2
n1

V. Alat-alat Optik

Mata
Mata normal (emetropi)
bayangan jatuh di retina, terbalik, diperkecil
titik dekat (PP) = 25 cm (jarak baca Sn) dan titik jauh (PR) = (tak hingga)
untuk mata berakomodasi maksimum, bayangan benda yang terlihat jatuh di titik dekat mata (Sn)
untuk mata tak berakomodasi, benda harus diletakkan di titik fokus alat
Cacat mata
Hypermetropi (rabun dekat = mata jauh)
bola mata terlalu cekung
PP > 25 cm
bayangan jatuh di belakang retina
jika ingin melihat seperti mata normal (pada jarak baca tertentu), ditolong dengan lensa
positif dengan kekuatan :

100 100
100

khusus untuk jarak baca = 25 cm, maka berlaku : P 4


Sn
PP
PP

Myopi (rabun jauh = mata dekat)


bola mata terlalu cembung
PR <
bayangan jatuh di depan retina
untuk melihat pada jarak tak hingga, ditolong dengan lensa negatif dengan kekuatan :

100
PR

Lup
/var/www/apps/conversion/tmp/scratch_2/259682588.doc

Halaman 32

Ringkasan Materi

Bab 4 : Optika

Menggunakan 1 lensa positif


Untuk melihat benda-benda kecil
Secara umum, perbesaran anguler lup adalah

Sn
S

Penggunaan :
(1) Mata tak berakomodasi
benda diletakkan di titik fokus (f) S = f
perbesaran : M

Sn
f

(2) Mata berakomodasi maksimum


bayangan yang dibentuk terletak di titik dekat S = Sn
perbesaran : M

Sn
1
f

(3) Mata berakomodasi pada jarak X


bayangan yang dibentuk terletak pada jarak x di depan mata S = X
perbesaran : M

Sn
Sn

f
X

Mikroskop
Menggunakan 2 buah lensa (+), yaitu : obyektif (dekat dengan benda) dan okuler (dekat dengan
mata) yang berfungsi sebagai lup
di obyektif benda di letakkan di ruang II (f ob < S < 2fob), sehingga bayangannya nyata, terbalik,
diperbesar
sifat bayangan akhir : maya, terbalik, diperbesar
perbesaran : M M ob x M ok

S ob'
x M ok
S ob

penggunaan :
Mata tak berakomodasi
Di okuler benda diletakkan di titik fokus (S ok = fok)

M ok

Sn
fok

Panjang mikroskop (jarak obyektif dan okuler) : d S ob' f ok


Mata berakomodasi maksimum
Bayangan yang dibentuk lensa okuler harus terletak pada jarak baca (S ok = Sn)

M ok

PP
1
fok

Panjang mikroskop (jarak obyektif dan okuler) : d S ob' S ok

Teropong Bintang
Menggunakan 2 lensa (+) fob > fok

fob
Sok

Secara umum, perbesaran angulernya :

Khusus untuk mata normal yang tak berakomodasi :

Sob = Sob = fob


Karena fob dan fok berimpit, maka Sok = fok

/var/www/apps/conversion/tmp/scratch_2/259682588.doc

Halaman 33

Ringkasan Materi

Bab 4 : Optika

fob
fok

Perbesaran : M
Panjang teropong :

d fob fok

Teropong yang lain :


(1) Teropong Panggung : fob (+) dan fok () d fob fok
(2) Teropong Bumi :

fob (+), fok (+) dan lensa pembalik fP (+) d fob fok 4 f P

/var/www/apps/conversion/tmp/scratch_2/259682588.doc

Halaman 34