Anda di halaman 1dari 11

JURNAL

Abses Peritonsilar Yang Disebabkan Oleh Streptococcus


Grup C dan G Membutuhkan Perawatan
di Unit Perawatan Intensif

Disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik


SMF Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan RSD dr. Soebandi Jember

Oleh:
Nastiti Putri Ariani
112011101031

Pembimbing:
dr.H. Bambang Indra, Sp.THT

SMF ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN


RSD DR. SOEBANDI FAKULTAS KEDOKTERAN UJ
2014

Abses Peritonsilar Yang Disebabkan Oleh Streptococcus Grup C


dan G Membutuhkan Perawatan di Unit Perawatan Intensif
Nidhi Gupta*, Justin Lovvorn and Robert M Centor
Department of General Internal Medicine, University of Alabama at Birmingham, (1530 3rd Ave. South),
Birmingham,(35294-3407), USA

ABSTRAK
Faringitis akut pada orang dewasa adalah alasan umum untuk datang ke pusat pelayanan
kesehatan primer. Namun, tanpa adanya pengetahuan tentang perjalanan penyakit yang alami
dari faringitis akut pada pasien dewasa, komplikasi yang serius sering sekali terlewatkan.
Kami sajikan kasus seorang pria 46 tahun yang semula mengalami faringitis akut dan
akhirnya berkembang menjadi abses peritonsil yang membutuhkan intubasi serta perawatan
di unit perawatan intensif. Kami berharap kasus yang telah disajikan dapat memperjelas
perjalanan peyakit yang alami dari faringitis akut pada pasien dewasa serta menyarankan
pedoman klinis dalam hal memburuknya faringitis.

PENDAHULUAN
Faringitis akut merupakan salah satu dari sepuluh alasan yang paling sering untuk melakukan
perawatan episodik. Jarang, faringitis dapat berkembang menjadi komplikasi yang serius.
Streptokokus beta-hemolitik group A hanya salah satu dari beberapa bakteri yang merupakan
etiologi dari faringitis. Penelitian telah menunjukkan bahwa streptococcus beta-hemolitik
group C juga penting sebagai sumber infeksi pada usia remaja dan dewasa muda. Kami
melaporkan seorang pria yang mengalami faringitis akut terbukti terinfeksi streptococcus
beta-hemolitik group C dan G berdasarkan hasil kultur , namun pada tes antigen cepat
(Rappid test) juga menunjukkan hasil positif untuk Streptococcus beta-hemolitik group A.
Gejala yang dialami oleh pria tersebut kemudian memburuk sampai akhirnya berkembang
menjadi abses peritonsillar dengan edema dan ditandai dengan adanya oklusi jalan napas.
Kami menyarankan pedoman klinis untuk mengatasi terjadinya gejala faringitis yang makin
memburuk tersebut. Selanjutnya, hal ini harus dapat mengingatkan dokter pelaksana
pelayanan kesehatan primer tentang riwayat alami faringitis akut dan komplikasi
supuratifnya.
PRESENTASI KASUS
Seorang pria kulit putih, 46 tahun datang ke instalasi gawat darurat dengan keluhan
dyspnea progresif. Tiga hari sebelum masuk rumah sakit dia tampak masih sehat hingga
kemudian sakit tenggorokan dan demam yang dia rasakan semakin memburuk. Sebelumnya
ternyata diketahui bahwa dia pergi berobat ke dokter layanan kesehatan primer dan mendapat
hasil positif terhadap bakteri streptococcus beta-hemolitik group A berdasarkan tes antigen
cepat (Rappid test). Dokter meresepkan cefdinir 300mg dua kali sehari selama sepuluh hari.
Hari berikutnya, tenggorokannya terasa makin memburuk dan demamnya meninggkat hingga
105 derajat fahrenheit. Dia menelepon kantor penyelenggara pelayanan kesehatan primer
tersebut namun hari itu dokternya sedang tidak ada di tempat. Pada hari ketiga, dia kembali
ke dokter layanan kesehatan primer dengan keluhan panas yang menetap, nyeri tenggorokan,
dan lehernya pada sisi kiri nampak bengkak dan kemerahan. Ia menerima suntikan
ceftriakson dan promethazine (untuk mengatasi mual), dan diberitahu untuk menempatkan
kompres es di lehernya yang bengkak. Malam itu, istri pasien menyadari bahwa suaminya
mulai gelisah dan susah tidur. Keesokan harinya, pasien nampak susah bernafas dengan nafas
yang terengah-engah. Sang istri menelepon layanan medis darurat untuk mengangkut
suaminya ke rumah sakit. Berdasarkan hasil observasi dokter jaga instalasi gawat darurat,
pasien mengalami gangguan pernafasan akut dan perlu dilakukan pemasangan intubasi.

Selain itu dia juga mendapat acetaminofen 650mg per rektum, clindamycin 600mg iv,
ceftriaxon 2gm iv, vancomycn 2gm iv, dan 2 liter bolus normal saline. Kemudian pada
oberservasi selanjutnya tercatat tekanan darah sistolik mengalami penurunan hingga 60
mmhg dan mulai melakukan dopamine drip serta perawatan di unit perawatan intensif.
sebelumnya Riwayat medis didapatkan glukosa puasa terganggu dan hiperkolerterolemia
tanpa adanya riwayat operasi. Obat-obatan yang dikonsumsi sehari-hari terdiri dari
metformin 500mg dua kali sehari, resuvastatin 5 mg tiap malam, minyak ikan, biji rami, dan
niacin. Bukan seorang perokok maupun pengguna narkoba, namun pernah minum alkohol
sesekali.
Pada pemeriksaan fisik awal, suhunya 104 derajat fahrenheit, tekanan darah 141/81
dan denyut nadi 117. Namun beberapa saat kemudian tekanan darah sistolik turun menjadi 60
mmhg. Setelah dilakukan intubasi, tingkat pernafasannya 20x/menit dan saturasi oksigennya
100% pada ventilator.
Secara umum, kondisinya tampak baik dengan penggunaan ventilator. Sklera,
konjungtiva, dan membran mukosa dalam batas normal, namun, hasil visualisasi orofaring
dengan tabung ET dan OG nampak buruk. Terdapat benjolan yang besar di leher kirinya
berwarna merah dan teraba hangat. Auskultasi paru-paru jelas bilateral tanpa disertai dengan
suara mengi atauoun crackles dan irama jantungnya pun cepat dan teratur dengan S1 dam S2
terdengar tanpa murmur ataupun gallop. Denyut nadi teraba kuat tanpa disertai adanya
edema. Abdomen teraba lembut tanpa distended dengan bising usus positif. Tidak ada ruam
ataupun lesi pada kulit. Status neurologis dan mental buruk karena ditemukan adanya
kelumpuhan.
Data laboratorium awal mencatat, jumlah sel darah putih 6.96, Hb 13.2, Hct 38.4,
platellet 134, Na 125, K 4, Cl 91, Bikarbonat 22, BUN 7, Kreatinin 0.9, glukosa 140, Ca 8,5
dan tes fungsi hati normal. Enzim kardiak yang terdiri dari CK, CKMB, dan troponin normal.
Analisis gas darah setelah dilakukan intubasi adalah pH 7.13, pCO2 61, pO2 136, dan
saturasi oksigen dari 98% menjadi 100% O2. Setelah pemasangan ventilator pH menjadi
normal sampai dengan 7.41 dan pCO2 35.
Hasil CT scan menunjukkan tidak ditemukan adanya penyakit akut. CT scan leher
menunjukkan adanya edema jaringan lunak yang luas di sepanjang nasofaring dan orofaring
termasuk ruang paravertebral dan parafaringeal serta adanya abses peritonsil kiri yang
menutupi jalan nafas di sekitar tabung endotrakeal yang telah terpasang.
Pengobatan pada pasien dimulai dengan menggunakan dexamethasone iv segera setelah
masuk ICU, kemudian otolaringogist melakukan insisi dan drainase abses di tempat tidur

pasien. Beberapa hari berikutnya, ventilator dilepas dan dopamine dihentikan. Karena
clindamycin memberikan reaksi negatif pada pemberian hari pertama dirumah sakit, maka
antibiotik diganti dengan vancomycin dan piperacilin-tazobactam. Hari ke-4, kami ekstubasi
pasien, sayang sekali malamnya pasien mengalami dyspneu dan stridor yang berulang
sehinga harus dibawa kembali ke ICU dan dilakukan Insisi dan drainase ulang. Setelah
drainase ulang, pasien berangsur-angsur pulih selama 3 hari kemudian dengan tetap
meminum antibiotik dan steroid oral . Hasil kultur jaringan dari abses peritonsil didapatkan
banteri streptococcus beta-hemolik group C dan G, sedangkan hasil pemeriksaan darah
lengkap didapatkan septikemia oleh bakteri streptococcus beta-hemolitik group C.
DISKUSI
Streptococcus group A adalah mikroba patogen utama yang menyebabkan endemik
faringitis akut pada orang dewasa, tetapi penelitian juga menunjukkan bahwa streptococcus
group C juga berperan penting pada terjadinya faringitis akut. Pedoman tatalaksana pada
faringitis saat ini hanya fokus pada streptococcus group A dan merekomendasikan antibiotik
untuk jenis bakteri tersebut. Penting bagi dokter di layanan primer untuk mempertimbangkan
kemungkinan lain pada pasien faringitis, terutama jika pasien mengalami faringitis akut yang
bukan disebabkan oleh bakteri streptococcus group A.
Laporan kasus ini menggambarkan betapa pentingnyaa pemahaman mengenai riwayat
alami proses suatu penyakit yang dicuragi oleh dokter di layanan primer. Berdasarkan kriteria
Centor, Faringitis streptococcus adalah salah satu kemungkinan diagnosis ketika pasien
datang dengan tiga dari empat hal berikut; demam, batuk, eksudat/abses tonsil dan
limfadenopati cervikal. Pengobatan untuk faringitis streptococcus bertujuan untuk mencegah
terjadinya komplikasi supuratif, demam reamatik, meningkatnya tanda dan gejala klinis serta
mencegah terjadinya penularan. Tanpa pengobatan, tanda dan gejala streptococcus faringitis
meningkat dalam 4-5 hari. Dengan pengobatan, pasien menunjukkan perbaikan klinis selama
3 hari. Jika dalam 3 hari pengggunaan antibiotik pasien tidak membaik, perlu
dipertimbangkan diagnosis lebih lanjut. Sangat mudah untuk melupakan penyebab lain dari
faringitis akut pada orang dewasa karena pedoman tatalaksana hanya berfokus pada bakteri
streptococcus. Kita memberikan pedoman untuk kasus faringitis akut yang dialami orang
dewasa baik yang gejalanya membaik ataupun memburuk dengan antibiotik yang diberikan
selama 3 hari. Jika terdapat pembengkakan pada leher pasien, penting untuk segera
melakukan CT scan leher.Hal ini untuk menepis dugaan adanya abses peritonsilar ataupun
sindrom Lemierre. Penting kita ketahui bahwa abses peritonsil dapat berkembang pada saat

yang bersamaan dengan berjalannya terapi antibiotik pada faringitis akut. Jika tidak terdapat
pembengkakan pada leher pasien atau hasil CT scan negatif, maka perlu dilakukan kultur
tenggorok untuk menentukan jenis bakteri dan kepekaan atibiotik serta tes HIV bersamaan
dengan uji monospot.
Sebagaimana telah diketahui diatas, dalam mengatasi perburukan dari gejala faringitis
akut, kita harus memikirkan kemungkinan yang terjadi secara luas mencakup streptococcus
goup C ataupun group G faringitis, abses peritonsil, HIV akut, infeksi mononukleosis, dan
pada beberapa kasus juga dapat terjadi sindrom lemierre. Kondisi tersering menunjukkan
hasil negatif pada pemeriksaan antigen cepat (Rappid test) meskipun pasien pada kasus ini
mempunyai hasil positif terhadap pemeriksaan antigen cepat (Rappid test) namun masih perlu
dipikirkan adanya kemungkinan lain melihat kondisi pada pasien tersebut memburuk.
Streptococcus group C dan group G merupakan penyebab utama dari faringitis dan
perlu dimasukkan ke dalam diagnosis banding pasien yang mengalami perburukan gejala.
Faringitis streptococcus group C memiliki prevalensi kurang dari 5% pada pasien dewasa,
tetapi ini penting untuk dibedakan karena juga dapat menyebabkan meningkatnya titter ASO,
glomerulonefritis, dan faringitis epidemi. Dan tidak kalah penting, infeksi streptokokus C
dapat mengakibatkan komplikasi supuratif ekstrim seperti yang ditunjukkan oleh pasien
kami. Ada beberapa perbedaan antara faringitis streptokokus group A dan C. Sebagai contoh,
pasien dengan faringitis streptokokus group C dapat memiliki demam lebih pendek, suhu
mulut yang lebih rendah, dan pembesaran dan eksudat tonsil yang lebih kecil dibandingkan
dengan faringitis streptokokus group A. Namun, meskipun perbedaannya kecil, faringitis
streptococcus grup A, grup C dan G sering dapat dibedakan secara klinis [4,5]. Oleh karena
itu, dokter harus waspada mempertimbangkan faringitis streptokokus group C dan G pada
pasien yang mengalami sakit tenggorokan. Studi menunjukkan bahwa, penisilin masih
menjadi antibiotik pilihan untuk faringitis grup C dan G, bersama dengan sefalosporin dan
vankomisin [6]. Namun, streptococcus group G berpotensi memiliki tingkat resistensi yang
lebih tinggi terhadap vankomisin [7].
Infeksi streptokokus grup C dan G pada pasien kami mudah ditentukan jika hasil
antigen cepat tes deteksi (RADT) adalah negatif. RADT dirancang untuk mendeteksi
streptokokus beta-hemolitik group A dan memiliki sensitivitas antara 86-94% tergantung
pada jenis RADT digunakan [8]. Hal ini sangat tidak biasa, apabila pasien kami memiliki
hasil positif untuk tes deteksi antigen ketika hasil kulturnya tidak terbukti tumbuh kuman
streptokokus grup A. Hal ini tidak spesifik RADT untuk memiliki hasil positif palsu, tetapi
bakteri komensal yang sering disebut Streptococcus milleri dan varian kelompok

streptokokus group A bisa memberikan hasil RADT positif. Kemungkinan yang lain adalah
bahwa pasien kami juga awalnya terinfeksi dengan streptokokus grup A, yang tidak terdeteksi
pada kultur akibat pengobatan antibiotik. Di sisi lain, streptokokus grup C dan D tumbuh
dalam kultur karena mereka muncul dalam abses peritonsillar. Secara umum, streptokokus
grup C dan G akan memberikan hasil negatif pada RADT karena kurangnya kandungan
karbohidrat antigen grup A [8]. Berdasarkan pencarian pada literatur tidak mengungkapkan
hubungan apapun antara faringitis streptokokus grup C dan D denga RADT positif.
Diagnosis pada pasien kami seharusnya perlu dicurigai adanya pembengkakan leher
yang unilateral. Abses peritonsillar dikonfirmasi dengan CT scan leher dan kultur diambil
selama insisi dan drainase. Di Amerika Serikat, ada sekitar 45.000 kasus abses peritonsillar
pertahun. Meskipun kasusnya cukup tinggi, pengobatannya sangat bervariasi di kalangan
otolaryngologists termasuk pilihan awal antibiotik. Menurut Hanna et al., streptokokus Betahemolitik memainkan peran besar dalam abses peritonsillar. Streptokokus grup A adalah
isolat yang paling umum,diikuti oleh bacteroides dan kemudian streptokokus grup C [9].
Hadirnya bakteri isolat dalam abses peritonsillar penting karena tingginya jumlah bakteri
anaerob.
Pengobatan empiris dengan antibiotik spektrum luas telah diusulkan dalam
penanganan abses peritonsillar karena keunggulan sifat anaerob dalam kultur isolat. Namun,
kemungkinan bahwa penisilin masih pilihan terbaik bersamaan dengan dilakukan insisi dan
drainase atau aspirasi jarum, bahkan jika isolat mengandung bakteri anaerob. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa kebanyakan anaerob masih sensitif terhadap penisilin [10-13].
Sebuah pengecualian untuk aturan ini adalah spesies Bacteroides, tetapi pasien dengan infeksi
tertentu dapat pulih dengan penambahan metronidazol [10]. Kieff et al. menemukan bahwa
bersamaan insisi dan drainase abses, sebuah pengobatan antibiotik dengan penisilin sama
dengan dengan antibiotik spektrum luas [14]. Ini menunjukkan bahwa ketika berhadapan
dengan peritonsillar abses, Langkah pertama yang harus dilakukan adalah drainase abses,
diikuti dengan antibiotik

penisilin dan jika pasien tidak menunjukkan perbaikan maka

antibiotik dapat dikembangkan dengan penggunaan antibiotik spektrum luas.


Penggunaan antibiotik yang adekuat untuk sakit tenggorokan telah terbukti
menurunkan kejadian abses peritonsillar. Sebuah review yang dilakukan oleh Kolaborasi
Cochrane mengungkapkan bahwa mengobati sakit tenggorokan dengan antibiotik dapat
mengurangi kejadian Abses peritonsilar dibandingkan pengobatan dengan plasebo. Pada studi
ulasan, penisilin merupakan antibiotik yang paling sering digunakan sebagai pilihan mereka.
Namun, satu studi ada yang menggunakan sulfonamid dan yang satu lagi menggunakan baik

penisilin atau cefixime [3]. Seperti yang ditekankan sebelumnya, penting untuk diingat
bahwa Abses peritonsil dapat terjadi meskipun pasien memiliki pengobatan antibiotik yang
adekuat.
Infeksi bakteri memainkan peran besar dalam faringitis, tetapi ada juga virus penting
penyebab faringitis yang harus dipertimbangkan juga. Infeksi mononukleosis yang
disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) adalah mikroorganisme patogen lain yang perlu
dipertimbangkan pada pasien dengan perburukan gejala faringitis. EBV ini paling sering
dialami oleh kalangan orang dewasa muda dan menyebar melalui air liur. EBV sering
menyerupai faringitis streptokokus karena eksudat tebal dan terdapat palatal petechiae, tetapi
tidak seperti streptokokus faringitis, terdapat servikal limfadenopati pada bagian anterior dan
posterior. Infeksi EBV dapat berkembang menjadi Abses peritonsilar dan sekitar 1,6% dari
pasien dengan Abses peritonsilar positif memproduksi antibodi heterofil. Pengobatan dengan
tonsilektomi abses ditemukan aman pada pasien dengan infeksi mononucleosis [15]. Pasien
kami tidak memiliki faktor risiko untuk EBV dan ditangani dengan insisi dan drainase
bersamaan dengan antibiotik. Oleh karena itu, ia tidak memerlukan tes antibodi heterofil.
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus lain yang perlu dipertimbangkan
pada pasien yang memiliki gejala serupa mode dengan pasien kami. Faringitis dapat hadir
pada pasien HIV sebagai manifestasi awal dari sindrom akut retroviral. Faringitis HIV sering
bermanifestasi akut dan menyerupai sindrom mononukleosis. Faringitis ini biasanya
menunjukkan hipertrofi tonsil tanpa eksudat. Belum ditemukan adanya keterkaitan antara f
faringitis HIV dengan abses peritonsillar atau komplikasi supuratif lainnya. Namun, penting
untuk diingat sebagai diagnosis banding pada pasien dengan radang tenggorokan. Pasien
kami tidak memiliki faktor risiko ataupun gejala faringitis HIV, oleh karena itu tidak tidak
dilakukan uji HIV (rappid test).
Terakhir, sindrom Lemierre jarang terjadi namun kondisi ini berpotensi mengancam
jiwa dan tidak dapat diabaikan, terutama pada faringitis dengan pembengkakan di leher.
Sindrom Lemierre adalah infeksi akut orofaring dengan tromboflebitis sekunder dari vena
jugularis interna yang disebabkan oleh bakteri Fusobacterium necrophorum. Sindrom
Lemierre dapat dapat berkembang menjadi septic emboli, terutama ke otak atau paru-paru.
Sayangnya, hal ini paling sering ditemukan pada pasien muda dan sehat yang memiliki
morbiditas tinggi jika rawat inap tertunda [16]. Pasien-pasien ini sering mengalami demam
tinggi (39-41 C) dan kaku, yang terjadi 4-5 hari setelah onset dari radang tenggorokan.
Gejala lain yang dapat ditimbulkan yakni batuk, nyeri dada pleuritik, dan efusi pleura. Tandatanda metastasis abses termasuk lesi nodular di dada, empiema, septic arthritis, dan abses

jaringan lunak [17]. Meskipun penyakit ini langka, kejadian Sindrom Lemierre meningkat
tanpa diketahui penyebabnya [18]. Oleh karena itu, penting untuk menyingkirkan kondisi ini
pada kasus faringitis yang memburuk dan leher bengkak dengan CT scan untuk mencegah
keterlambatan rawat inap. Pasien kami memiliki usia yang bukan merupakan faktor
predisposisi untuk terjadinya sindrom Lemierre dan CT scan tidak menunjukkan infiltrasi
vena jugularis internal.
Diagnosis faringitis dewasa dapat menjadi kompleks, terutama ketika perjalanan
penyakit pasien tidak sesuai dengan perjalanan penyakit faringitis pada umumnya. Pada kasus
ini mengingatkan kita akan pentingnya memahami perjalanan alami penyakit faringitis
streptokokus selain itu kami juga menyediakan pedoman tentang bagaimana menangani
pasien yang jatuh di luar parameter. Jika dokter pada pelayanan primer melakukan perawatan
sesuai panduan ini, kita dapat dengan cepat mendiagnosa komplikasi awal faringitis pada
orang dewasa.

PERSPEKTIF PASIEN
Hari 1: Saat ditempat, kerja saya merasakan sakin dan untuk memeriksakannya ke dokter.
Aya mengeluh sakit tenggorokan dan dokter mendiagnosa saya dengan streptococcus
faringitis dan infeksi sinus. Kemudian saya antibiotik selama 10 hari.
Hari 2: Saya masih merasa sakit dan suhu tubuh saya naik hingga 105 derajat Fahrenheit.
Saya memtuskan untuk menelepon dokter dan mereka mengatakan untuk tetap meminum
antibiotik. Saya sedikit kecewa karena demam tidak juga turun.
Hari 3: leher di sisi kiri saya mulai membengkak. Demam masih tinggi dan juga merasa
mual. Saya selalu mengeluarkan kembali segala sesuatu yang saya minum. Kemudian saya
pergi ke dokter dan mendapat suntikan Rocephin dan beberapa pil untuk mual. Saya merasa
bahwa dokter harus lebih perhatian lagi, terutama semenjak saya memiliki massa sebesar 2
inci pada leher kiri saya yang terasa nyeri. Saya disarankan untuk mengatasi bengkak dengan
kompres es.
Hari 4: Saya berharap agar kondisi tubuh saya lebih baik tetapi justru saat saya terbangun
saya mengalami kesulitan bernafas.Saat saya bangkit dari tempat tidur untuk pergi ke kamar
mandi, yang jaraknya sekitar dua puluh lima meter saya berjalan cukup lama hingga berhasil
sampai ke wastafel saya berhenti dan mengontrol pernapasan saya. Napas saya terasa cepat,
dangkal, dan menyakitkan. Saya tidak bisa mendapatkan cukup udara dan saya mulai panik.
Sementara saya berdiri di sana terengah-engah,saya kehilangan kendali atas usus dan

kandung kemih saya. saya terus berdiri di sana untuk sementara dan mencoba untuk menarik
napas. Kemudian saya menanggalkan pakaian saya, pergi ke toilet, dan mencoba untuk
membersihkan diri. Dengan masih terengah-engah, saya pindah secepat saya bisa untuk
mencari istri saya. Saya menemukannya di luar dan kemudian menggedor jendela serta pintu
depan. Saya masih sulit bernafas dan cemas, namun saya merasa lebih dapat memegang
kendali. Saya kembali berpakaian dan istri saya berlari ke dalam rumah. Kami sepakat untuk
menelepon 911. Terakhir hal yang saya ingat adalah berpakaian.
Hari 5-6: Saya tidak mengigat apapun kejadian hari ini kemudian saya diberitahu bahwa
saya telah dibius dan diintubasi serta dilakukan drainase abses. Saya juga diberi tahu bahwa
saya memiliki tekanan darah yang sangat rendah. Untungnya, dua saudara perempuan saya,
yang perawat, berada di sini untuk membantu saya memahami apa yang telah terjadi.
Hari 7: Saya bangun di ICU dan berpikir hanya akan tinggal selama satu hari. Saya merasa
jauh lebih baik dan dokter menstrranfer saya keluar dari ICU ke ruangan. Sampai akhirnya
semalam mendapat perburukan gejala.
Hari 8: Saya mulai merasakan mual sekitar pukul 02:00. Saya diberi pil untuk mual tapi
masih susah tidur malam itu. Saya bisa merasakan pembengkakan di tonsil saya kembali
muncul dan saya tersedak pil sekitar pukul 05:00. Saya mencoba untuk meminum air untuk
membantu mengeluarka pil tapi saya mulai gelisah lagi. Sepertinya dua puluh orang datang
ke ruangan. Napas terasa sangat cepat, dangkal, dan menyakitkan. Sekali lagi, saya kencing
sedikit dan membuang gas. Saya malu oleh suara

buang gas tapi saya tidak dapat

mengendalikannya. Dokter mencoba untuk membuat saya tenang dan saya juga mencoba
untuk menenangkan diri sendiri dengan baik, tetapi aku merasa seolah-olah saya tidak
mampu mengendalikan tubuh saya sendiri. Saya diberi oksigen dan beberapa alat banttu
pernapasan. Mereka memasukkan saya ke dalam ICU. Hal ini membutuhkan beberapa jam
dan pada waktu itu saya mencoba untuk tenang dan berdoa. Di ICU dokter THT melakukan
drainase abses dan Abses terus hisap hingga 24 jam ke depan. Drainase abses, bersamaan
dengan pemberian steroid berat, tampaknya bekerja dengan baik dan kondisi saya membaik
selama 36 jam setelahnya.
Hari 9: Ini adalah hari pertama kondisi saya baik dalam beberapa saat. Saya dikirim kembali
ruangan pada akhir hari dan akhirnya mampu untuk bangun dan mandi.
Hari 10: Nafas terasa ringan dan nadi teratur, tanpa ada kelainan dari pemeriksaan tersebut.
Saya bisa pulang ke rumah setelah makan siang. Saya sangat senang dapat meninggalkan
rumah sakit dan tentu saja dapat tinggal di rumah. Saya mencoba untuk kembali ke kondisi
semula sehingga saya bisa pergi kembali bekerja. Saya masih punya beberapa bekas drainase

yang membuat tenggorokan saya sakit. Saya juga mengalami diare. Secara keseluruhan, saya
kehilangan 15 dalam waktu sekitar dua minggu.
SINGKATAN
CT, computerized tomography; EBV, virus Epstein-Barr; ED, gawat darurat; HIV, Human
Immunodeficiency Virus; I & D, insisi dan drainase; PCP, primer perawatan dokter; RADT,
tes deteksi antigen cepat.
PERSETUJUAN
Informed consent tertulis diperoleh dari pasien untuk penerbitan laporan kasus ini bersama
dengan gambar. Salinan persetujuan tersedia untuk diperiksa ke editorin-chief jurnal ini.
KEPENTINGAN BERSAING
Para penulis menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kepentingan bersaing.
KONTRIBUSI PENULIS
NG melakukan tinjauan literatur, menulis naskah, dan merupakan mahasiswa kedokteran
pada kasus ini. JL membantu menulis dan mengedit naskah dan menjadi dokter residen di
kasus. RMC mengedit naskah dan merupakan dokter pada kasus ini.