Anda di halaman 1dari 3

Tes faal hati (TFH) dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Tes faal sintesis


A. Kadar ALBUMIN: (bagian dari protein)
Gangguan faal sintesis albumin terjadi hipoalbuminemia. Pada proses/penyakit akut keadaan
ini kurang nyata, sebaiknya pada penyakit kronis / degeberatif (wasting diseases) sering
dijumpai. Tes ini baik untuk prognosis.
B. Tes FLOKULASI atau LABILITASI:
Misalnya : TTT (Thymol Turbidity Test), ZTT (Zincsulphate TT=Kunkel), Takata Ara, dll.
Tes ini mengganbarkan kadar albumin secara tidak langsung.
C. ELEKTROFORESIS PROTEIN: (menggunakan medan magnet)
Teknik pemeriksaan untuk memisahkan protein menjadi fraksi-fraksi, yaitu : albumin dan
globulin (alfa-1, alfa-2, beta, gamma). Pola fraksi protein pada hasil pemeriksaan
elektroforesis tersebut, member i informasi tambahan untuk membuat diagnosis banding,
misalnya pola sirosis hepatis.
D. Aktivitas enzim (Pseudo-) CHOLINESTERASE
Aktivitasnya menurun pada kerusakan hepatoseluler, juga pada keracunan organofosfat. Tes
ini baik yntuk prognosis
E. FAKTOR-FAKTOR KOAGULASI, Tes PT (prothrobin Time) atau nama lain dari masa
protrombin plasma (MPP), setelah pemberian vitamin K secara parenteral :
Masa protrombin plasma memanjang pada gangguan hepatoseluler dan kolestasis
(terhentinya aliran empedu). Pada kolestasis maka pemberian vitamin K parenteral akan
memperbaiki PT. sebaiknya pada gangguan hepatoseluler maka pemberian vitamin K tidak
akan memperbaiki hasil PT.
2. Tes faal sekresi (terkonyugasi di hati=Dairek)
a. Pemeriksaa kadar BILIRUBIN darh yaitu bilirubin total, direk, dan indirek juga bilirubin
dan urobilinogen urin dan tinja serta urobilin urin dan sterkobilin tinja.
b. Indeks ikterus: (Daurek-Indairek)
Prinsip: warna serum dibandingkan dengan warna larutan kalium bikromat, agar kadar
bilirubin dapat diperkirakan. Sifat tes ini kasar dan banyak positif palsu. Teknik pemeriksaan
sekarang langsung telah umum digunakan.
c. Kadar Asam Empedu(bile acids)
Asam empedu (AE) berasal dari kolestrol. Asam empedu berikatan dengan asam amino
(gliinisin dan taurin) menjadi garam empedu (bile salts). Asam empedu berfungsi
mengemulsikan lemak yang berasal dari maksns yang telah berada dalam usus halus. Selain
itu, AE brperan mengaktifkan emzim lipase pancreas. Asma empedu direabsorpsi di ileum,
mengikuti sirkulasi enterohepatik sebagian besar AE akan diambil oleh sel hati, sebagian
kecil masuk ke sirkulasi sisremik (kadar darah puasa <6 mol/L). Tes ini cukup peka untuk
kelainan hepatobilier.
d. Tes retensi BSP (bromsulfonflalien)
Tes ini bersifat infasif karena larutan BSP disuntikkan intravena dan setelah 45 menit barulah
dilakukan pungsi vena lalu kadar BSP yang direntensi dalam darah diukur. Normal retensi:
<5%. Ada bahaya anafilaksis, selain itu bila ekstravasasi terjadi iritasi jaringan sampai
nekrosis. Tes ini digunakan khusus misalnya pada diagnosis Sindoma Dubin Johnson, yaitu
ditemukan setelah 45 menit retensi normal atau meningkat ringan, tetapi setelah 2 jam
meningkat tinggi karena adanya gangguan ekskresi.

3. Tes faal detoksifikasi


a. Kadar amoniak(Ammonia):
Amioniak berasal dari perombakan produk nitrogen (protein) oleh bakteri di usus yang
diserap dan kemudian diubah menjadi ureum oleh sel hati, lalu dikeluarkan lewat ginjal. Pada
kegagalan faal hati kadar amoniak darah meningkat dan dapat menyebabkan koma hepatikum
b. Uji asam hipurat: (zat yang tidak dapat diubah)
Asam benzoat diberikan per oral atau parenteral akan diubah menjadi asam hipurat di hati
dan dikeluarkan lewat ginjal dalam urin. Kadar yang menurun dalam urin menandakan
gangguan faal detoksifikasi hati atau faal ginjal.
4. Tes integritas sel hati:
Enzim enzim hepatoseluler terdiri dari enzim sitoplasmik dan enzim mitokondria. Tes ini
amat peka pada peningkatan permeabilitas atau kerusakan ringan dinding sel, enzim
sitoplasmik seperti ALT (alanin transaminase) atauSGPT (serum glutamate pyruvate
transaminase). ALT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik
untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkatan ALT terjadi bila
ada kerusakan pada selaput sel hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan
peningkatan pada ALT (GPT), LDH5 meningkat aktivitasnya dalam darah. Bila kerusakan
lebih berat sampai nekrosis sel maka aktivitas enzim mitokondria yaitu AST/GOT(aspartat
transaminase) atau SGOT(serum glutamate oxcaloacetat transaminase)AST adalah enzim
mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik
penyakit hati.dan GLDH(glutamate dehidrogenase) bersifat unikoluker terletak dalam
mitochondria. Enzim ini peka karena itu baik untuk deteksi dini kerusakan sel hati. Cortison
dan sulfonil urea dosis terapi dapat menurunkan GLDH.
5. Tes adanya kolestasis:
Enzim-enzim kolestasis yaitu ALP (Alkaline Phosphatase) ALP meningkat pada berbagai
jenis penyakit hati (sirosis, kanker), tetapi juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit
tidak terkait dengan hati. ALP sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim serupa, yang dibuat
dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan di banyak
jaringan lain. Peningkatan ALP dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat,
LAP,
-GT, 5-NT terdapat banyak pada dinding sel hati terutama di sekitar kanalikuli
biliaris. Pada kolestasis terutama bila penyebabnya ekstrahepatik, aktivitasnya meningkat
nyata (ekskresi, sintesis, regurgitasi). Pada kerusakan hepatoseluler peningkatannya hanya
ringan.
6. Tes factor etiologis
a. Auto-Antibodi
AMApada sebagian besar sirosis biliaris primer
SMApada hepatitis kronis aktif, sirosis biliaris primer
ANApada hepatitis kronis aktif tipe lupoid
b. Alfafetoprotein (AFP)
Kadarnya meningkat pada hepatitis akut, hepatitis kronis, sirosis hati, maupun hepatoma.
Pada penyembuhan hepatitis kadarnya juga mungkin meningkat ringan. Bila kadarnya terus
meningkat terutama bila 2000 ng/mL, AFP dapat dianggap diagnostic sebagai penanda

tumor (tumor marker) untuk hepatoma. Kadarnya juga meningkat pada tumor embrional,
kehamilan.
c. Alpha-1-antitrypsin: kdar dalm darah menurun menunjang adanya neonatal hepatitis /
cholestasis, juga sirosis hepatis.
d. Seruloplasmin: kadar dalam darah menurun menunjang adanya penyakit Wilson dan sirosis
hepatis.
e. Penanda serologis (SEROMARKER) Virus Hepatitis:
Telah dikenal jenis-jenisw virus hepatitis yaitu: virus hepatitis A, B, C, D, E, dll dengan
penanda masing-masing :
VNA atau HAV (hepetits virus A)
anti-HAV (IgM / IgG)
HBsAg, HBeAg, anti-HBs, anti-HBe, anti-HBc (IgM/IgG), HBV-DNA
HDAg, anti-HD (IgM/IgG)
anti-HCV (total/IgM), HCV-RNA
anti-HEV (IgM/IgG)