Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan
pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul
FURUNKEL DAN NERVUS PIGMENTOSUS yang diajukan sebagai persyaratan untuk
mengikuti KKS Ilmu Kulit dan Kelamin. Terima kasih penulis ucapkan kepada dokter
pembimbing yaitu dr. Imawan Hardiman, Sp.KK yang telah bersedia membimbing penulis,
sehingga laporan kasus ini dapat selesai pada waktunya.
Penulis memohon maaf jika dalam penulisan laporan kasus ini terdapat kesalahan, dan
penulis memohon kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan laporan kasus ini. Atas
perhatian dan sarannya penulis mengucapkan terima kasih.

Bangkinang, 4 Februari 2015

Penulis

1 | Page

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

: PENDAHULUAN

BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Etiologi
4
Faktor Predisposisi
4
Klasifikasi ........... .................................................................................... 5
Pengobatan Umum ................................................................................. 5
Pemeriksaan ........................................................................................... 7
Bentuk Pioderma
7
Nervus Pigmentosus ............................................................................... 14

BAB III

: LAPORAN KASUS

15

DAFTAR PUSTAKA

20

BAB I
PENDAHULUAN
2 | Page

Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan suhu dan
kelembapan yang tinggi akan memudahkan tumbuhnya jamur. Oleh karena itu, golongan
penyakit kulit yang disebabkan infeksi jamur menempati urutan kedua terbanyak dari insiden
penyakit kulit di bagian ilmu kesehatan kulit dan kelamin Fakultas kedokteran USU, RSUP.
H. Adam Malik, RSUD. Dr. Pirngadi Medan.
Penyakit kulit karena infeksi jamur secara umum dapat terbagi atas dua bentuk, bentuk
superfisial dan bentuk yang dalam (deep mycosis). Bentuk superfiasial terbagi atas golongan
dermatofitosis yang disebabkan oleh jamur dermatofita (antara lain: Tinea kapitis, tinea
korporis, tinea unguium, tinea cruris, tinea fasialis, tinea barbae, tinea manus, tinea pedis) dan
yang kedua golongan non dermatofitosis (pitiriasis versikolor, piedra, tinea nigra palmaris,
kandidiasis). Perbedaan antara dermatofitosis dan non dermatofitosis adalah pada
dermatofitosis melibatkan zat tanduk (keratin) pada stratum korneum epidermis, rambut dan
kuku yang disebabkan oleh dermatofit. Sedangkan non dermatofitosis disebabkan oleh jenis
jamur yang tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit tetapi hanya
menyerang lapisan kulit yang paling luar 8. Diantara penyakit jamur superfisial yang sering
dijumpai di Indonesia salah satunya adalah pitiriasis versikolor. Pada penyakit kulit karena
infeksi jamur superfisial, seseorang terkena penyakit tersebut oleh karena kontak langsung
dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh jamur atau konta langsung dengan
penderita. Infeksi jamur yang non dermatofitosis salah satunya pitiriasis versikolor yang
disebabkan oleh jamur malassezia. Penyakit ini sangat menarik oleh karena keluhannya
bergantung pada tingkat ekonomi daripada kehidupan penderita. Bila penderita adalah orang
dengan golongan ekonomi lemah (misalnya: tukang becak, pembantu rumah tangga) penyakit
ini tidak dihiraukan. Tetapi pada penderita dengan ekonomi menengah keatas yang
mengutamakan penampilan maka penyakit ini adalah penyakit yang sangat bermasalah .

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

3 | Page

1. Definisi
Pioderma ialah penyakit kulit yang disebabkan oleh Staphylococcus, Streptococcus,
atau oleh kedua-duanya. Kadang juga disebabkan oleh bakteri gram negative seperi
pseudomonas namun itu jarang terjadi dan efeknya biasanya lebih parah.
2. Etiologi
Penyebab yang utama dari pioderma adalah Staphylococcus B hemolyticus,
Streptococcus aureus.
3. Faktor Predisposisi
Higiene yang kurang
Menurunnya daya tahan tubuh, biasanya karena kelelahan, anemia, atau penyakitpenyakit tertentu seperti penyakit kronis, neoplasma, dan diabetes melitus
Telah ada penyakit lain di kulit, hal ini dapat merangsang terjadinya pioderma
yang hampir bisa dipastikan akan memperparah penyakit kulit sebelumnya
tersebut, hal itu juga terjadi karena fungsi kulit sebagai pelindung yang terganggu
oleh penyakit.

4. Klasifikasi
4 | Page

Pioderma terbagi menjadi dua, yaitu :


Pioderma Primer
Pioderma yang terjadi pada kulit yang normal.
Pioderma Sekunder
Pioderma yang terjadi pada kulit yang sebelumnya telah ada penyakit kulit.
Gambaran klinisnya menjadi tidak khas dan kadang ditemukan lebih dari satu
organism pada pemeriksaan. Jika penyakit kulit disertai pioderma sekunder maka
disebut impetigenisata. Tanda impetigenisata adalah munculnya pustule, pus, bula
purulen, krusta berwarna kuning kehijauan, pembesaran KGB regional,
leukositosis, dan dapat pula disertai demam.
5. Pengobatan Umum
Sistemik
Penisilin G prokain dan semi-sintetiknya
Penisilin G prokain, dosisnya 1,2 juta/hari i.m, obat ini sudah tidak dipakai
lagi karena dianggap tidak praktis dan pemakaiannya sering menimbulkan
syok anafilaktik
Ampisillin, dosis 4x500 mg, diberikan sejam sebelum makan
Amoksisilin, dosisnya sama dengan ampisilin, dimunum setelah makan dan
absorbsinya lebih cepat sehingga kadar dalam plasma lebih tinggi.
Golongan obat penisilin resisten-penisillinase, contohnya adalah oksasillin,
kloksasillin, dikloksasillin, flukloksasillin. Dosis 3x250 mg/hari antecunam. Kelebihan obat ini adalah juga berkashiat pada Staphylococcus
yang telah membentuk penisilinase.

5 | Page

Linkomisin dan Klindamisin


Dosis linkomisin, 3x500 mg/hari. Klindamisin diabsorbsi lebih banyak
karenanya dosisnya lebih kecil yaitu 4x150 mg/hari/os, pada infeksi berat
dosisnya 4x300-450 mg/hari. Linkomisin agar tidak dipakai lagi dan
digantikan oleh Klindamisin karena potensial antibakterinya lebih besar dan
efek sampingnya lebih sedikit dan tidak terlalu terhambat oleh adanya
makanan dalam lambung.
Eritromisin
Dosis

4x500

mg/hari/os.

Efektivitasnya

kurang

dibandingkan

Linkomisin/klindamisin dan obat golongan penisilin resisten-penisillinase.


Cepat menyebabkan resistensi dan kadang terjadi tak enak di lambung.
Sefalosporin
Bila terjadi pioderma berat yang dengat obat diatas tidak menunjukan hasil
maka dipakailah Sefalosporin. Ada empat generasi yang berkhasiat untuk
kuman gram positif yaitu generasi I juga generasi IV. Contohnya adalah
sefadoksil dari generasi I dengan dosis dewasa, 2x500 mg atau 2x1000
mg/hari
Topikal
Bermacam obat topikal dapat digunakan untuk pioderma, contohnya basitrasin,
neomisin, mupirosin. Neomisin berkhasiat juga untuk bakteri gram negative,
Neomisin dituliskan sering mengalami sensitisasi, sedangkan teramisin dan
kloramfenikol sebenarnya tidak terlalu efektif namun sering dipakai karenanya
harganya murah. Obat-obatan ini biasanya berbentuk salep atau krim.
Selain itu juga baik agar diberikan kompres terbuka contohnya, larutan
permanganas kalikus 1/5000, larutan rivanol 1 o/oo dan yodium povidon 7,5 %
yang dilarutkan 10 kali.
6 | Page

6. Pemeriksaan
Terdapat leukositosis pada pemeriksaan laboratorium. Pada kasus yang sulit sembuh
dilakukan kultur dan tes resistensi. Ada kemungkinan penyebabnya buka kedua bakteri
penyebab pioderma yang sering terjadi melainkan kuman gram negative.
7. Bentuk Pioderma
IMPETIGO
Impetigo ialah pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis). Terdapat tiga
jenis dari impetigo, yaitu :
Impetigo krustosa (impetigo kantagiosa, impetigo vulgaris, impetigo
Tillbury Fox), disebabkan biasanya oleh Streptococcus B hemolyticus.
Gejala umum tidak menyertai. Predileksi di muka, yakni sekitar lubang
hidung dan mulut karena dianggap sember infeksi dari daerah tersebut.
UKK berupa eritem dan vesikel yang cepat memecah sehingga akan terlihat
krusta tebal berwarna kuning seperti madu. Jika krusta dilepaskan akan
tampak erosi dibawahnya, sering menyebar ke perifer dan sembuh di bagian
tengah. Komplikasi, glomerulonefritis (2-5%), yang disebabkan oleh sero
tipe tertentu.
Diagnosis bandingnya adalah Ektima.
Pengobatan yang dipakai jika krusta sedikit, lepaskan krusta dan diberi
antibiotic. Jika banyak berikan antibiotic sistemik.
Impetigo bulosa (Impetigo vesiko-bulosa, cacar monyet), penyebab
biasanya adalah Staphylococcus aureus
Keadaan umum tidak dipengaruhi, dengan predileksi di daerah ketiak,
dada, punggung. Sering bersama miliaria. Kelainan kulit berupa eritema,

7 | Page

bula dan bula hipopion. Kadang saat datang berobat bula sudah pecah dan
yang tampak hanyalah koleret dan dasarnya masih eritematosa.
Diagnosis banding dari impetigo ini adalah dermatofitosis (jika sudah
pecah dan tampak koleret).
Pengobatannya pecahkan bula, lalu berikan antibiotic salep atau cairan
antiseptic. Jika bula/vesikel banyak maka berikan pula antibiotic sistemik.
Impetigo neonatorum, varian impetigo bulosa yang terjadi pada neonatus.
Kelainan sama dengan impetigo bulosa hanya saja bisa terjadi pada seluruh
tubuh dan disertai demam.
Diagnosis bandingnya adalah sifilis congenital.
Pengobatannya adalah antibiotic sistemik, untuk topical dapat diberikan
bedak salisil 2%
FOLIKULITIS
Radang pada folikel rambut, biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus.
Terbagi menjadi dua jenis :
Folikulitis Superfisial (terbatas didalam epidermis)
Nama lainnya adalah impetigo Bockhart, tempat predileksi adalah tungkai
bawah. Kelainannya berupa papul atau pustule yang eritematosa, di
tengahnya terdapat rambut. Biasanya multiple.
Folikulitis profunda (sampai ke subkutan)
Gambaran klinis sama, selain itu juga teraba infiltrate di subkutan.
Contohnya sikosis barbae, bersifat bilateral. Diagnosis banding penyakit ini
adalah tinea barbae. Pengobatan dipakai antibiotic sistemik/topical dan cari
faktor predisposisinya.

8 | Page

FURUNKEL/KARBUNKEL
Furunkel ialah radang folikel rambut dan sekitarnya. Jika lebih dari sebuah
disebut furunkulosis. Karbunkel ialah kumpulan furunkel. Biasanya disebabkan
oleh Staphylococcus aureus.
Keluhan yang muncul adalah nyeri, dengan UKK berupa nodus eritem
berbentuk kerucut dengan pustule ditengahnya. Kemudian melunak menjadi
abses berisi pus dan jaringan nekrotik lalu memecah membentuk fistel. Predileksi
adalah tempat yang banyak friksi, misalnya aksila dan bokong.
Pengobatan jika hanya sedikit furunkel, cukup dengan antibiotic topical, jika
banyak perlu gabungan dengan antibiotic sistemik. Jika terjadi furunkulosis atau
karbunkel berulang-ulang cari faktor predisposisi, misalnya diabetes mellitus.
EKTIMA
Ektima ialah ulkus superficial dengan krusta diatasnya disebabkan infeksi
Streptococcus, biasanya Streptococcus B hemolyticus.
Gejala yang tampak adalah krusta tebal berwarna kuning berlokasi di tungkai
bawah, yaitu tempat yang relative banyak trauma. Jika krusta diangkat ternyata
lekat dan tampak ulkus yang dangkal. Diagnosis bandingnya adalah impetigo
krustosa, perbedaannya, impetigo krustosa sering terjadi pada anak dan berlokasi
di muka dan dasarnya adalah erosi, ektima terjadi pada anak maupun dewasa
tempat predileksi tungkai bawah dan dasarnya adalah ulkus.
Pengobatan yang dipakai adalah krusta diangkat dan disalep antibiotic. Jika
banyak, gabungkan dengan antibiotic sistemik.
PIONIKA

9 | Page

Pionika adalah radang sekitar kuku oleh piokokus. Penyebabnya biasanya


Staphylococcus dan/atau Streptococcus B hemolyticus.
Gejala klinis dari penyakit ini adalah didahului trauma, mulai infeksi pada
lipatan kuku, terlihat tanda-tanda radang dan menjalar ke matriks dan lempeng
kuku, dapat terbentuk abses subungual.
Pengobatan kompres dengan larutan antiseptic dan berikan antibiotic sistemik.
Jika terjadi abses subungual, kuku diekstraksi.
ERISIPELAS
Erisipelas ialah penyakit infeksi akut, biasanya disebabkan oleh Streptococcus B
hemolyticus.
Gejala klinis, demam, malaise. Lapisan kulit yang diserang ialah epidermis dan
dermis, didahului dengan trauma, tempat predileksinya tungkai bawah. Kelainan
kulit yang utama adalah eritema merah cerah, berbatas tegas, dan pinggirnya
meninggi dengan tanda radang akut. Dapat disertai edem, vesikel dan bula.
Terdapat leukosistosis. Jika sering residif ditempat yang sama dapat terjadi
elephantiasis.
Diagnosis bandingnya adalah selulitis, namun pada penyakit ini infiltratnya di
subkutan.
Pengobatan terutama adalah istirahat, tungkai bawah dan kaki yang diserang
ditinggikan (elevasi), pengobatan sistemik dengan antibiotic, topical diberikan
kompres terbuka dengan larutan antiseptic. Jika terjadi edem diberikan diuretic.
SELULITIS
Etiologi, gejala konstitusi, tempat predileksi, kelainan pemeriksaan lab, dan terapi
sama dengan erysipelas. Kelainan kulit berupa infiltrate difus di subkutan dengan
tanda-tanda radang akut.
FLEGMON

10 | P a g e

Flegmon adalah selulitis yang mengalami supurasi. Terapi sama dengan selulitis
hanya saja ditambah dengan insisi.
ULKUS PIOGENIK
Berbentuk ulkus, gambaran klinisnya tidak khas dengan disertai pus diatasnya.
Dibedakan dengan ulkus lain yang disebabkan oleh kuman gram negative
sehingga perlu dilakukan kultur.
ABSES MULTIPEL KELENJAR KERINGAT
Definisinya adalah Infeksi yang biasanya disebabkan oleh Staphylococcus
aureus, pada kelenjar keringat berupa abses multiple tak nyeri berbentuk kubah.
Didapati pada anak dengan faktor predisposisi berupa daya tahan tubuh yang
menurun juga banyak keringat, sehingga sering bersama denga miliaria. Kelainan
kulitnya berupa nodus eritema, multiple, tidak nyeri, berbentuk kubah dan lama
memecah. Lokasinya di tempat yang banyak keringat.
Diagnosis bandingnya adalah furunkulosis, namuan furunkulosis terasa nyeri
dan bentuknya seperti kerucut, dengan pustule ditengah dan lebih cepat memecah.
Pengobatan yaitu antibiotic topical dan sistemik dengan tidak lupa
memperhatikan faktor predisposisi.
HIDRADENITIS
Hidradenitis adalahInfeksi kelenjar apokrin biasanya oleh Staphylococcus
aureus.
Gejala klinis. Sering didahului oleh trauma, dengan gejala konstitusi berupa
demam, malaise. Ruam berupa nodus, dengan kelima tanda radang akut (rubor,
dolor, kalor, tumor, fungsiolesa). Kemudian dapat melunak menjadi abses, dan
memecah membentuk fistel yang disebut hidradenitis supuratif. Pada yang
menahun dapat terbentuk abses, fistel, sinus yang multiple. Terbanyak berlokasi
di ketiak, juga di perineum. Terdapat leukositosis.

11 | P a g e

Diagnosis bandingnya adalah skrofuloderma, perbedaannya pada hidradenitis


didahului tanda radang akut dan terdapat gejala konstitusi.
Pengobatan yang digunakan adalah antibiotic sistemik, jika telah terbentuk
abses, diinsisi. Jika belum melunak diberi kompres terbuka, pada kasus yang
kronik residif, kelenjar apokrin dieksisi.
S4 (STAPHYLOCOCCAL SCALDED SKIN SYNDROME)
S4 pertama kali oleh Ritter von Rittershain, sehingga sering disebut penyakit
Ritter.
S.S.S.S ialah infeksi kulit oleh Staphylococcus aureus tipe tertentu dengan ciri
yang khas ialah terdapatnya epidermolisis.
Epidemiologi. Penyakit ini terutama terdapat pada anak dibawah 5 tahun, pria
lebih banyak dari wanita. Etiologinya ialah Staphylococcus aureus grup II faga
52, 55 dan/atau faga 71.
Patogenesis. Sebagai sumber infeksi ialah infeksi pada mata, hidung, tenggorok,
dan telinga. Eksotoksin yang dikeluarkan bersifat epidermolitik (epidermolin,
eksofoliatin) yang beredar di seluruh tubuh sampai pada epidermis dan
menyebabkan kerusakan. Pada kulit tidak selalu ditemukan kuman penyebab.
Fungsi ginjal yang baik diperlukan untuk mengekskresikan eksofoliatin, pada
bayi diduga fungsi ginjal belum sempurna sehingga penyakit ini terjadi pada
golongan usia tersebut.
Gejala Klinis. Pada umumnya terdapat demam yang tinggi disertai infeksi
disaluran nafas bagian atas. Kelainan kulit yang pertama timbul adalah eritema,
yang timbul mendadak pada muka, leher, ketiak dan lipat paha, kemudian
menyeluruh dalam waktu 24 jam. Dalam waktu 1-2 hari akan muncul bula-bula
berdinding kendur, tanda nikolsky positif. Dalam 2-3 hari terjadi pengeriputan
spontan disertai pengelupasan lembaran-lembaran kulit sehingga tanpak daerah
erosif. Akibat epidermolisis tersebut gambarannya mirip dengan kambustio.
Daerah-daerah tersebut akan mongering dalam beberapa hari dan terjadi

12 | P a g e

deskuamasi. Penyembuhan penyakit akan terjadi setelah 10-14 hari tanpa disertai
sikatriks.
Komplikasi. Meskipun dapat sembuh spontan, dapat pula terjadi komplikasi
seperti selulitis, pneumonia dan septicemia.
Pemeriksaan bakteriologi. Jika terdapat infeksi ditempat lain maka dapat
dilakukan pemeriksaan bakteriologi. Juga dilihat tipe kuman karena tidak semua
Satphylococcus aureus dapat menyebabkan penyakit ini, hanya tipe tertentu. Pada
kulit tidak ditemukan kuman penyebab karena kerusakan kulit akibat toksin.
Histopatologi. Terdapat gambaran yang khas yaitu terlihat lepuh intraepidermal,
celah terdapat di stratum granulosum, meskipun ruang lepuh sering mengandung
sel-sel akantolitik, epidermis sisanya tampaknya utuh tanpa disertai nekrosis sel.
Diagnosis banding. Penyakit ini mirip N.E.T (Nekrolisis Epidermal Toksik,
bahkan pada awalnya disebut N.E.T sebelum dilaporkan oleh Ritter).
Perbedaannya S4 umumnya menyerang anak-anak dibawah usia 5 tahun,
mulainya kelainan kulit didaerah muka, leher, dan lipat paha, mukosa umumnya
tidak diserang dan angka kematian lebih rendah (meskipun begitu penyakit ini
adalah pioderma penyebab kematian paling mungkin). Kedua penyakit ini sulit
dibedakan sehingga ada baiknya dilakukan pemeriksaan histopatologi secara
frozen section agar hasilnya cepat diketahui, karena prinsip pengobatan keduanya
berbeda. Perbedaan terletak pada celah, S4 di stratum granulosum, N.E.T di sub
epidermal. Perbedaan lain pada N.E.T terdapat nekrosis disekitar celah dan
terdapat sel radang.
Pengobatan. Pengobatan antibiotic, kortikosteroid tidak perlu. Penisilin cukup
efektif, misalnya kloksasillin dengan dosis 3x250 mg untuk orang dewasa/hari/os.
Pada neonatus, dosisnya 3x50 mg/hari/os. Obat lain yang dapat diberikan ialah
klindamisin dan sefalosporin generasi I. topical dapat diberikan sufratulle, atau
krim antibiotic. Diperhatikan juga keseimbangan cairan dan elektrolit.

13 | P a g e

Prognosis. Kematian dapat terjadi terutama pada bayi berusia kurang dari 1 tahun
dengan prevalensi sekitar 1-10%. Penyebab utama kematian adalah tidak adanya
keseimbangan cairan dan elektrolit juga karena sepsis.

8. Nervus Pigmentosus
Nervus pigmentosus adalah proliferasi jinak pigmen melanosit, timbul pertama kali
setelah lahir, tumbuh perlahan-lahan, stabil, dan dapat mengalami regresi spontan. Pada
umumnya nevus pigmentosus tidak memerlukan pengobatan.
Indikasi pengangkatan nevus pigmentosus adalah adanya perubahan pada lesi, secara
klinis dicurigai suatu melanoma, alasan kosmetik, atau terjadinya iritasi berulang.
Operasi dilakukan dengan mengangkat seluruh lesi, yang terbaik adalah dengan eksisi,
namun dapat timbul scar.
Terapi destruktif pada lesi seperti elektrodesikasi, cryotherapy, dermabrasi dan laser,
sebaiknya dihindari dan perlu pertimbangan secara hati-hati. Hal ini akan merugikan
karena tidak tersedianya jaringan yang akan diperiksa secara histopatologi. Dermabrasi
telah digunakan untuk menghilangkan nervus pigmentosus, namun hasilnya secara
kosmetik tidak dapat diperkirakan. Tindakan dengan laser secara teori dapat berisiko
untuk perubahan kearah keganasan, tetapi belum terbukti.

14 | P a g e

BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Hidayati Rora

Pendidikan

: SMA

Umur

: 16 tahun

Agama

: Islam

Jenis kelamin

: Wanita

Suku

: Mendelang

Pekerjaan

:-

No.MR

: --

Alamat

: Kumantan

Tanggal

: 2-2-2015

Perkawinan

: Belum Menikah

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Pasien datang ke RSUD Bangkinang dengan benjolan dekat tahi
lalat dimuka sejak +2 bulan yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUD Bangkinang dengan benjolan dekat tahi lalat dimuka sejak +2
bulan yang lalu. Pertama kali muncul tidak ada rasa gatal ataupun nyeri, tetapi sejak 2
hari yang lalu mulai teraa gatal pada benjolan dimuka. Benjolan dekat tahi lalat

15 | P a g e

berwarna merah. Pasien juga mengeluhkan tahi lalat nya yang juga semakin membesar
sejak lahir, pasien memiliki rencana operasi tahi lalat yang semakin membesar.

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan serupa.
Keluarga pasien yang lain juga memiliki tahi lalat, tetapi tidak ada yang membesar.
Riwayat Pengobatan
Belum ada menjalani pengobatan
Riwayat kebiasaan
Pasien tidak ada mencongkel tahi lalat ataupun pada penonjolan yang merah

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Keadaan umum : Baik
Kesadaran

: Composmentis

TD

: Tidak diperiksa

Nadi

: Tidak diperiksa

Respirasi : Tidak diperiksa


16 | P a g e

Suhu

: Tidak diperiksa

Keadaan gizi

: Baik

Pem. thorax

: Tidak diperiksa

Pem. abdomen : Tidak diperiksa


Status Dermatologis
Lokasi

: Regio Facialis Dextra

Distribusi

: Konfluens

Bentuk

: Bulat

Susunan

: Sirsinar

Batas

: Sirkumskrip

Ukuran

: Lentikular

Efloresensi

: Nodul Eritem, Nervus Pigmentosus

17 | P a g e

Gambar : Furunkel dan Nervus Pigmentosus

Kelainan mukosa

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan Mata

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan kuku

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan Rambut

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan KGB

: Tidak ditemukan pembesaran KGB

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
1. Sinar Wood
2. Kerokan kulit dengan KOH 10%

RESUME :
Pasien datang ke RSUD Bangkinang dengan benjolan dekat tahi lalat dimuka sejak +2
bulan yang lalu. Pertama kali muncul tidak ada rasa gatal ataupun nyeri, tetapi sejak 2
hari yang lalu mulai teraa gatal pada benjolan dimuka. Benjolan dekat tahi lalat
berwarna merah. Pasien juga mengeluhkan tahi lalat nya yang juga semakin membesar
sejak lahir, pasien memiliki rencana operasi tahi lalat yang semakin membesar. Pasien
tidak ada mencongkel tahi lalat ataupun pada penonjolan yang merah. Efloresensi yang
muncul Nodul Eritem, Nervus Pigmentosus.

18 | P a g e

DIAGNOSIS KERJA
1. Furunkel
2. Nervus pigmentosus

DIAGNOSIS BANDING
Folikuitis

PENATALAKSANAAN
Umum
Khusus
Topikal : Mupirosin krim 2% sebanyak 3x1

PROGNOSIS
Quo ad sanam

: Bonam

Quo ad vitam

: Bonam

Quo ad functionam

: Bonam

19 | P a g e

Quo ad kosmetikum

: Bonam

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda Adhi. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi keenam. Balai Penerbit FKUI ;
2011.
2. Siregar RS. Atlas Bewarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi kedua. Jakarta: EGC ; 2013.
3. Sri L, Ennesta A. Tangential Excision of A Nervus Pigmentosus on Alae Nasi Sinistra.
Faculty of Medicine of Andalas University, Padang. 2010.
4. Elizabeth PB. Staphylococcus Aureus Infection . Updated: Nov 6, 2014. Diakses ;
http://emedicine.medscape.com/article/971358-overview

20 | P a g e