Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah dan
pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang berjudul TINEA
MANUS yang diajukan sebagai persyaratan untuk mengikuti KKS Ilmu Kulit dan Kelamin.
Terima kasih penulis ucapkan kepada dokter pembimbing yaitu dr. Imawan Hardiman, Sp.KK
yang telah bersedia membimbing penulis, sehingga laporan kasus ini dapat selesai pada
waktunya.
Penulis memohon maaf jika dalam penulisan laporan kasus ini terdapat kesalahan, dan
penulis memohon kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan laporan kasus ini. Atas
perhatian dan sarannya penulis mengucapkan terima kasih.

Bangkinang, 30 Januari 2015

Penulis

1 | Page

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

: PENDAHULUAN

BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Etiologi
4
Patogenesis
4
Manifestasi Klinis ................................................................................... 5
Pemeriksaan Penunjang ........................................................................ 5
Diagnosa Banding .................................................................................. 6
Penatalaksanaan
7
Komplikasi .............................................................................................. 8
Prognosis ................................................................................................. 8

BAB III

: LAPORAN KASUS

DAFTAR PUSTAKA

14

BAB I

2 | Page

PENDAHULUAN
Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan suhu dan
kelembapan yang tinggi akan memudahkan tumbuhnya jamur. Oleh karena itu, golongan
penyakit kulit yang disebabkan infeksi jamur menempati urutan kedua terbanyak dari insiden
penyakit kulit di bagian ilmu kesehatan kulit dan kelamin Fakultas kedokteran USU, RSUP.
H. Adam Malik, RSUD. Dr. Pirngadi Medan.
Penyakit kulit karena infeksi jamur secara umum dapat terbagi atas dua bentuk, bentuk
superfisial dan bentuk yang dalam (deep mycosis). Bentuk superfiasial terbagi atas golongan
dermatofitosis yang disebabkan oleh jamur dermatofita (antara lain: Tinea kapitis, tinea
korporis, tinea unguium, tinea cruris, tinea fasialis, tinea barbae, tinea manus, tinea pedis) dan
yang kedua golongan non dermatofitosis (pitiriasis versikolor, piedra, tinea nigra palmaris,
kandidiasis). Perbedaan antara dermatofitosis dan non dermatofitosis adalah pada
dermatofitosis melibatkan zat tanduk (keratin) pada stratum korneum epidermis, rambut dan
kuku yang disebabkan oleh dermatofit. Sedangkan non dermatofitosis disebabkan oleh jenis
jamur yang tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit tetapi hanya
menyerang lapisan kulit yang paling luar 8. Diantara penyakit jamur superfisial yang sering
dijumpai di Indonesia salah satunya adalah pitiriasis versikolor. Pada penyakit kulit karena
infeksi jamur superfisial, seseorang terkena penyakit tersebut oleh karena kontak langsung
dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh jamur atau konta langsung dengan
penderita. Infeksi jamur yang non dermatofitosis salah satunya pitiriasis versikolor yang
disebabkan oleh jamur malassezia. Penyakit ini sangat menarik oleh karena keluhannya
bergantung pada tingkat ekonomi daripada kehidupan penderita. Bila penderita adalah orang
dengan golongan ekonomi lemah (misalnya: tukang becak, pembantu rumah tangga) penyakit
ini tidak dihiraukan. Tetapi pada penderita dengan ekonomi menengah keatas yang
mengutamakan penampilan maka penyakit ini adalah penyakit yang sangat bermasalah .

BAB II

3 | Page

TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Dermatofitosis adalah Penyakit yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofit
disebut " Dermatofitosis ". Golongan jamur ini dapat mencerna keratin kulit oleh karena
mempunyai daya tarik kepada keratin (keratinofilik) sehingga infeksi jamur ini dapat
menyerang lapisanlapisan kulit mulai dari stratum korneurm sampai dengan stratum basalis.
2. Etiologi
Dermatofitosis disebabkan jamur golongan dermatofita yang terdiri dari tiga genus
yaitu genus: Mikrosporon, Trikofiton dan Epidermofiton. Dari 41 spesies dermafito yang
sudah dikenal hanya 23 spesies yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan
binatang yang terdiri dari 15 spesies Trikofiton, 7 spesies Mikrosporon dan 1 spesies
Epidermafiton.
3. Cara Penularan
Cara penularan jamur dapat secara langsung dan secara tidak langsung. Penularan
langsung dapat secara fomitis, epitel, rambut-rambut yang mengandung jamur baik dari
manusia, binatang atau dari tanah. Penularan tak langsung dapat melalui tanaman, kayu yang
dihinggapi jamur, barang-barang atau pakaian, debu atau air. Disamping cara penularan
tersebut diatas, untuk timbulnya kelainan-kelainan di kulit tergantung dari beberapa faktor :
A. Faktor virulensi dari dermatofita
Virulensi ini tergantung pada afinitas jamur itu, apakah jamur Antropofilik,
Zoofilik atau Geofilik. Selain afinitas ini masing-masing jenis jamur ini berbeda
pula satu dengan yang lain dalam afinitas terhadap manusia maupun bagianbagian dari tubuh Misalnya : Trikofiton rubrum jarang menyerang rambut,
Epidermatofiton flokosum paling sering menyerang lipat pada bagian dalam.

B. Faktor trauma

4 | Page

Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil, lebih susah untuk terserang jamur.
C. Faktor-suhu dan kelembaban
Kedua faktor ini sangat jelas berpengaruh terhadap infeksi jamur, tampak pada
lokalisasi atau lokal, di mana banyak keringat seperti lipat paha dan sela-sela jari
paling sering terserang penyakit jamur ini.
D. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan
Faktor ini memegang peranan penting pada infeksi jamur di mana terlihat insiden
penyakit jamur pada golongan sosial dan ekonomi yang lebih rendah, penyakit ini
lebih sering ditemukan dibanding golongan sosial dan ekonomi yang lebih baik.
E. Faktor umur dan jenis kelamin
Penyakit Tinea kapitis lebih sering ditemukan pada anak-anak dibandingkan
orang dewasa, dan pada wanita lebih sering ditemukan infeksi jamur di sela-sela
jari dibanding pria dan hal ini banyak berhubungan dengan pekerjaan. Di samping
faktor-faktor tadi masih ada faktor-faktor lain seperti faktor perlindungan tubuh
(topi, sepatu dan sebagainya), faktor transpirasi serta pemakaian pakaian yang
serba nilan, dapat mempermudah penyakit jamur ini.
4. Manifestasi Klinik
Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu bercakbercak yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain, sehingga memberikan
kelainan-kelainan yang polimorf, dengan bagian tepi yang aktif serta berbatas tegas sedang
bagian tengah tampak tenang . Gejala objektif ini selalu disertai dengan perasaan gatal, bila
kulit yang gatal ini digaruk maka papul-papul atau vesikel-vesikel akan pecah sehingga
menimbulkan daerah yang erosi dan bila mengering jadi krusta dan skuama. Kadang-kadang
bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema marginatum) , tetapi kadang-kadang hanya berupa
makula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis) dan bila ada infeksi sekunder menyerupai
gejala-gejala pioderma (impetigenisasi).

5 | Page

Istilah Tinea dipakai untuk semua infeksi oleh dermatofita dengan dibubuhi tempat
bagian tubuh yang terkena infeksi, sehingga diperoleh pembagian dermatofitosis sebagai
berikut :
Tinea kapitis : bila menyerang kulit kepala dan rambut
Tinea korporis : bila menyerang kulit tubuh yang berambut (globrous skin).
Tinea kruris : bila menyerang kulit lipat paha, perineum, sekitar anus dapat meluas
sampai ke daerah gluteus, perot bagian bawah dan ketiak atau aksila
Tinea manus dan tinea pedis : Bila menyerang daerah kaki dan tangan, terutama
telapak tangan dan kaki serta sela-selajari.
Tinea Unguium : bila menyerang kuku
Tinea Barbae : bila menyerang daerah dagu, jenggot, jambang dan kumis.
Tinea Imbrikata : bila menyerang seluruh tubuh dengan memberi gambaran klinik
yang khas.
5. Pemeriksaan penunjang
Kerokan kulit dengan KOH 10% : terlihat elemen-elemen jamur
Sinar Wood : fuoresensi positif
Biakan skuama pada media sabouraud dalam 1-2 minggu menghasilkan
pertumbuhan koloni ragi

6 | Page

6. Diangnosa Banding
Psoriasis pustula palmoplantar
Mengenai telapak tangan dan/ telapak kaki. Kelainan kulit berupa kelompok pustul
diatas kulit eritematosa, disertai rasa gatal.
Skabies
Stratum korneum yg tipis, seperti sela jari tangan, pergelangan tangan, siku, ketiak,
areola, umbilikus, bokong, genitalia. Efloresensi : papul, pustul, erosi, ekskoriasi,
disertai gatal malam hari, menyerang secara berkelompok, kunikulus, dan menemukan
tungau.

7. Penatalaksanaan
Pengobatan Pencegahan :
-

Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika
faktor-faktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan
lambat. Daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari sesudah mandi harus
dikeringkan betul dan diberi bedak pengering atau bedak anti jamur.

Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air
panas.

Terapi Topikal

7 | Page

Infeksi pada badan dan lipat paha dan lesi-lesi superfisialis, di daerah jenggot,
telapak tangan dan kaki, biasanya dapat diobati dengan pengobatan topikal saja.
Terapi topikal yang dapat diberikan adalah, asam slisilat, preparat triazol, atau
preparat holoprogin krim.

Terapi sistemik
Pengobatan sistemik pada umumnya mempergunakan griseofulvin. Griseofulvin
adalah suatu antibiotika fungisidal yang dibuat dari biakan spesies penisillium.
Obat ini sangat manjur terhadap segala jamur dermatofitosis. Griseofulvin diserap
lebih cepat oleh saluran pencernaan apabila diberi bersama-sama dengan makanan
yang banyak mengandung lemak, tetapi absorpsi total setelah 24 jam tetap dan
tidak dipengaruhi apakah griseofulvin diminum bersamaan waktu makan atau
diantara waktu makan. Dosis rata-rata orang dewasa 500 mg per hari. Pemberian
pengobatan dilakukan 4 x sehari , 2 x sehari atau sekali sehari. Untuk anak-anak
dianjurkan 5 mg per kg berat badan dan lamanya pemberian adalah 10 hari. Salep
ketokonasol dapat diberikan 2 x sehari dalam waktu 14 hari.

8. Prognosis
Perkembangan penyakit dermatofitosis dipengaruhi oleh bentuk klinik dan penyebab
penyakitnya disamping faktor-faktor yang memperberat atau memperingan penyakit. Apabila
faktor-faktor yang memperberat penyakit dapat dihilangkan, umumnya penyakit ini dapat
hilang sempurna.

8 | Page

BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: H. Martiyus

Pendidikan

: SD

Umur

: 50 tahun

Agama

: Islam

Jenis kelamin

: Pria

Suku

: Bendang

Pekerjaan

: Rumah Makan

No.MR

: --

Alamat

: Air Tiris

Tanggal

: 26-1-2015

Perkawinan

: Menikah

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Pasien datang ke RSUD Bangkinang dengan keluhan gatal dan
bercak kehitaman ditangan kanan sejak +5 bulan yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang

9 | Page

Pasien datang ke RSUD Bangkinang dengan keluhan gatal dan bercak kehitaman
ditangan kanan sejak +5 bulan yang lalu. Pertama pasien merasa gatal di tangan kanan,
digaruk terus, makin lama muncul bercak hitam dan kulit terasa lebih tebal. Saat kering
kelainan ditangan kanan terasa keras, sementara saat basah tangan terasa lunak dan
pedih. Tadi malam tangan kiri pasien merasa kan gatal, tetapi belum ada timbul
kelainan kulit.

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan serupa
Riwayat Pengobatan
Salep dan tablet
Riwayat kebiasaan
Tangan sering basah karena pekerjaan di rumah makan

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Keadaan umum : Baik
Kesadaran
TD

10 | P a g e

: Composmentis
: Tidak diperiksa

Nadi

: Tidak diperiksa

Respirasi : Tidak diperiksa


Suhu

: Tidak diperiksa

Keadaan gizi

: Baik

Pem. thorax

: Tidak diperiksa

Pem. abdomen : Tidak diperiksa


Status Dermatologis
Lokasi

: Regio palmar dextra

Distribusi

: Regional

Bentuk

: Tidak teratur

Susunan

: Polisiklik

Batas

: Sirkumskrip

Ukuran

: Plakat

Efloresensi

: Plak hiperpigmentasi, ekskoriasi, likenifikasi, skuama

11 | P a g e

Gambar : Tinea Palmaris

Kelainan mukosa

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan Mata

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan kuku

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan Rambut

: Tidak ditemukan kelainan

Kelainan KGB

: Tidak ditemukan pembesaran KGB

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Kerokan kulit dengan KOH 10%

RESUME :
Pasien datang ke RSUD Bangkinang dengan keluhan gatal dan bercak kehitaman
ditangan kanan sejak +5 bulan yang lalu. Pertama pasien merasa gatal di tangan kanan,
digaruk terus, makin lama muncul bercak hitam dan kulit terasa lebih tebal. Saat kering
kelainan ditangan kanan terasa keras, sementara saat basah tangan terasa lunak dan
pedih. Tadi malam tangan kiri pasien merasa kan gatal, tetapi belum ada timbul
kelainan kulit. Sebelumnya sudah diberi obat salep dan tablet tapi tidak tau nama

12 | P a g e

obatnya. Tangan sering basah karena pekerjaan di rumah makan. Efloresensi yang
muncul adalah Plak hiperpigmentasi, ekskoriasi, likenifikasi, skuama

DIAGNOSIS KERJA : Tinea Manus

DIAGNOSIS BANDING
Psoriasis pustula palmoplantar
Skabies

PENATALAKSANAAN
Umum
-

Gunakan alat pelindung tangan yang terbuat dari plastik agar tidak mudah basah

Sesudah mandi tangan harus dikeringkan, dan diberi bedak pengering atau anti
jamur.

Khusus
Topikal : Bedak salisil 2%, mikonazol krim 2%
Sistemik : Griseofulvin 500 mg/hari
13 | P a g e

PROGNOSIS
Quo ad sanam

: Bonam

Quo ad vitam

: Bonam

Quo ad functionam

: Bonam

Quo ad kosmetikum

: Bonam

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda Adhi. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi keenam. Balai Penerbit FKUI ;
2011.
2. Siregar RS. Atlas Bewarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi kedua. Jakarta: EGC ; 2013.
3. Trelia B. Mikosis Superfisial. FK USU. 2003.
4. Shari A. Tinea in Emergency Medicine. Updated: Dec 10, 2014. Diakses ;
http://emedicine.medscape.com/article/1132465-overview

14 | P a g e