Anda di halaman 1dari 3

Solikhah 4311412051

Perbedaan Mekanika Klasik dan Mekanika Kuantum


Sebelum adanya teori mekanika kuantum, telah dikenal adanya teori mekanika klasik. Pada
tahun-tahun yang dimulai dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, tidak ada penjelasan
teoritis yang dengan baik berhasil menjelaskan fenomena radiasi termal, meski terdapat beberapa
usaha untuk menjelaskannya berdasarkan hukum-hukum fisika yang telah diketahui sebelumnya.
Karenanya, bagi ahli fisika pada tahun-tahun itu, hal tersebut sangat membingungkan.
Pada tahun 1900, Planck berhasil memperkenalkan sebuah konsep baru tentang sebuah
kuantum energi yang menghasilkan perumusan yang dapat menjelaskan radiasi termal. Max
Planck memperkenalkan ide bahwa energi dapat dibagi-bagi menjadi beberapa paket atau kuanta.
Ide ini secara khusus digunakan untuk menjelaskan sebaran intensitas radiasi yang dipancarkan
oleh benda hitam dan menemukan konstanta planck.
Tahun 1905, Albert Einstein menjelaskan efek fotolistrik dengan menyimpulkan bahwa
energi cahaya datang dalam bentuk kuanta yang disebut foton energi yang invariant. Dengan
kata lain foton tunggal dapat mentransfer energi lebih atau energi sisa, tetapi hal ini hanya untuk
frekuensi foton tersebut.
Pada tahun 1911, E. Rutherford mengusulkan sebuah model dari struktur atom yang
didasarkan pada studi eksperimen tentang partikel (aliran atom helium) yang dihamburkan oleh
lembaran tipis logam seperti lembaran tipis emas. Pada model ini, sebuah atom hidrogen terdiri
atas sebuah proton dan sebuah elektron yang berkeliling di sekitar proton.
Pada tahun 1913, Niels Bohr menjelaskan garis spektrum dari atom hidrogen dengan
menggunakan kuantisasi. Teori dasar Bohr adalah bahwa elektron hanya dapat berputar
mengelilingi atom dengan orbit tertentu. Orbit ini berupa spectral line. Bohr menjelaskan bahwa
orbit dari elektron dapat dijelaskan dengan menggunakan momentum angular. Bohr
mengeneralisasikan formula untuk hidrogen. Teori atom Niels Bohr tersebut dapat menjelaskan
kelemahan dari teori atom Rutherford.
Pada tahun 1923, Louis de Broglie memberikan teorinya tentang gelombang benda. Beliau
juga menjelaskan penghitungan matematis dari penemuan Bohr dan teorema dualisme gelombang
partikel, dengan partikel subatomik memiliki gelombang dan partikel yang simultan. De Broglie

menjelaskan model atom Bohr dengan menjelaskan elektron dalam orbital dan inti memiliki
gelombang.
Namun, pada perkembangan selanjutnya diketahui bahwa gerakan elektron menyerupai
gelombang. Oleh karena itu, posisinya tidak dapat ditentukan dengan pasti. Jadi, orbit yang
berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu tidak dapat diterima. Mekanika klasik meskipun
sukses menganalisis dinamika benda makroskopik, ternyata tidak akurat menangani dinamika
benda mikroskopik seperti atom. Pengertian mikroskopik dalam skala atomik bersifat mutlak.
Sistem dikategorikan mikroskopik jika fenomenanya tidak lagi dapat dijelaskan oleh mekanika
klasik.
Teori lengkap tentang kuantum pertama kali dikemukakan pada tahun 1925
oleh Werner Heisenberg yang pada tahun 1932 memenangkan nobel fisika. Menindak lanjuti Bohr,
Heisenberg menjelaskan fisika kuantum dalam orbit elektron, karena elektron tidak dapat
menjelaskan hubungan dengan orbit tertentu, Heisenberg mendeskripsikan secara matematik fisika
kuantum yaitu dengan cara menggunakan osilator anharmonic. Inilah salah satu rumusan dari
Heisenberg yaitu prinsip ketakpastian dua variabel yang nilainya tidak nol.
Pada tahun 1925 juga, Erwin Schrodinger, seorang ilmuwan dari Austria menganalisis
bagaimana elektron memiliki gelombang yang mengelilingi inti. Dengan menganalogikan orbit
yang mengelilingi planet, beliau menganggap bahwa elekton sebagai gelombang dan elektron
memiliki fungsi yang unik. Fungsi gelombang yang selanjutnya disebut sebagai persamaan
Schrodinger yang dideskripsikan melalui tiga point yaitu:
1. Tanda orbital, mengindikasikan bahwa gelombang partikel menutupi bagian inti dengan
sisa satu elektron yang lain letaknya lebih jauh dari pada inti denhgan energi yang lebih.
2. Bentuk orbital Spherical atau yang lainnya.
3. Kecenderungan orbital dengan momen magnetic orbital mengelilingi z axis.
Secara kolektif nama untuk ketiga deskripsi di atas adalah fungsi gelombang elektron
yang dideskripsikan sebagai Quantum State dari elektron yang mana berhubungan dengan
waktu. Quantum State dari elektron dideskripsikan oleh fungsi gelombang yang dinotasikan
dengan (psi). Ketiga unsur dalam persamaan Schrodinger tentang fungsi gelombang dalam
elektron disebut juga Quantum Number. Menjelaskan bahwa orbital merupakan prinsip dari
penomoran kuantum, penomoran menurut model Bohr, dimana (n) dinotasikan sebagai energi di

masing-masing orbital. Penomoran Azimut Kuantum dinotasikan dengan (I) dideskripsikan


menurut bentuk orbital. Bentuk umum dari konsekuensi orbital di atas adalah momentum angular.
Penomoran ini dinotasikan dengan huruf s,p,d,f. Penomoran kuantum yang ketiga dari Schrodinger
adalah mendeskripsikan momen magnetik elekton. Penomoran ini dinotasikan dengan m,l.
Kemudian pada tahun 1927, Erwin Schrodinger mengemukakan teori atom yang disebut teori atom
mekanika kuantum atau mekanika gelombang, sebagai hasil dari analisisnya. Teori tersebut dapat
diterima para ahli hingga sekarang.
Mekanika kuantum ini dapat menerangkan kelemahan teori atom Bohr tentang garis-garis
terpisah yang sedikit berbeda panjang gelombangnya (Efek Zeeman) dan memperbaiki model
atom Bohr dalam hal bentuk lintasan elektron dari yang berupa lingkaran dengan jari-jari tertentu
menjadi orbital dengan bentuk ruang tiga dimensi tertentu.
Teori mekanika kuantum mempunyai persamaaan dengan teori atom Niels Bohr dalam hal
tingkat energi atau kulit-kulit atom, tetapi berbeda dalam hal bentuk lintasan atau orbit tersebut.
Dalam teori atom mekanika kuatum, posisi elektron adalah tidak pasti. Hal yang dapat ditentukan
mengenai keberadaan elektron di dalam atom adalah daerah dengan peluang terbesar untuk
menemukan elektron tersebut. Daerah dengan peluang terbesar itu disebut orbital.