Anda di halaman 1dari 13

PELANGGARAN

HAK ASASI MANUSIA


(HAM)

Fadhil Thariq Rasyid


7D

Pelanggaran hak Peradilan


1. Kasus BUI Mewah Artalyta
BUI tidak lagi seram dan menakutkan. Kini, penjara sudah berubah wajah seiring
bersalin nama menjadi lembaga pemasyarakatan (LP). Penjara sudah menjadi
hotel dalam pengertian yang sebenarnya. Ada fasilitas sofa empuk, kulkas,
pendingin ruangan, dan tentu saja televisi serta telepon seluler. Bahkan ada
pula
tempat
karaoke.
Fasilitas itulah yang ditemukan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Mafia
Hukum ketika melakukan inspeksi mendadak ke Rutan Pondok Bambu, Minggu
(10/1). Adalah Artalyta Suryani, terpidana kasus suap Rp6 miliar kepada jaksa
Urip Tri Gunawan, yang menikmati fasilitas itu. Dia telah menyulap ruangan
tahanan menjadi kantor mewah. Dari sel seluas 8 x 8 meter itulah dia rutin
mengadakan rapat bisnis dengan anak buahnya. Itu sangat kontras dengan
puluhan tahanan lain yang berjejal dalam ruangan sempit seperti sarden.

2.Kasus komisi banding merek


JAKARTA. Satu lagi, masalah sengketa merek yang berujung ke peradilan.
Perusahaan konveksi asal Hong Kong, G Star Internasional Limited menggugat
Komisi Banding Merek Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Kementrian Hukum dan HAM. Pasalnya, Komisi Banding menolak permintaan G
Star International untung mendaftarkan merek G Star.
Ceritanya, pada 12 Januari 2004, G Star International berniat mendaftarkan
merek G-Star untuk melindungi produk miliknya yaitu pakaian, sepatu, topi, dan
lain-lain. Tetapi, Direktorat Merek Ditjen HKI menilak permintaan itu karena
mereka itu mempunyai kesamaan dengan merek Star milik orang lain yang
sudah terdaftar terlebih dulu, yaitu atas nama Anton Sukmana dan Triumph
International Aktiengesellscahft.
Gara-gara itu, G star International lantas mengajukan upaya permohonan
banding ke Komisi Banding tanggal 7 Juli 2008. Pada 5 Februari 2009, Komisi
Banding kembali menilak permohonan pendaftaran merek G-Star.
G Star International lantas mengajukan upaya hukum dengan menggugat
Komisi Banding di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tanggal 14 januari lalu.
Dalam sidang Rabu (3/2) lalu, Komisi Banding menegaskan, merek G-Star
memiliki persamaan pokok dengan merek Star milik orang lain. Dengan
demikian, sangat beralasan jika komisi menolak permohonan pendaftaran merek
G-Star. Merek itu memiliki kemiripan dengan merek Star karena ada unsur yang

menonjol yang dapat menimbulkan kesan adanya persamaan, kata Elfrida


Lisnawati, kuasa hukum Komisi Banding Merek, Rabu (3/2).

Pelangaran hak Pribadi


1. Penurunan penumpang pesawat karena bau
badan
New York: Bagi Anda yang memiliki potensi bau badan berlebih sebaiknya
berhati-hati dan menggunakan minyak wangi sebelum bepergian. Karena
seorang penumpang di maskapai penerbangan Jazz Air asal Kanada,
diusir hanya lantaran keluhan seluruh penumpang pesawat yang
mencium bau badan menyengat. Demikian dirilis CNN, Kamis (18/2).
Penumpang wanita duduk dekat dengan penumpang pria "bau" itu
mengungkapkan, seluruh penumpang pesawat hanya bergumam dan menatap
ke arah pria sumber bau tidak sedap tersebut. Wanita yang tidak mau
disebutkan jati dirinya itu menggambarkan situasi pesawat sangat tidak nyaman.
Bahkan, penumpang lain menyebutkan bau yang ditimbulkan sangat
"brutal". Penumpang berbau badan menyengat itu akhirnya diminta
turun
oleh
awak
pesawat.
Juru bicara maskapai penerbangan Air Jazz, Manon Stuart, membenarkan
penumpang tersebut turun dari pesawat sebelum lepas landas. Namun, Stuart
tidak memberikan informasi secara spesifik mengenai alasan dan perintah
penumpang tersebut diminta meninggalkan pesawat karena menyangkut
masalah
privasi.
Stuart menambahkan, sebenarnya maskapai Air Jazz sama seperti perusahaan
maskapai lain, yakni tak mempunyai kebijakan tertentu mengenai bau badan.
Namun, dalam keadaan "darurat" itu, menurut Stuart, para awak akan bertindak
demi kepentingan keamanan dan kenyamanan yang terbaik bagi mayoritas
penumpang.
Insiden penurunan penumpang secara paksa bukan pertama kali di
Amerika Serikat. Sutradara dan produser film Holywood, Kevin Smith,
mengeluh dalam Twitter-nya, Ahad lalu. Ia dipaksa turun oleh pilot
maskapai Southwest Airline lantaran "terlalu gemuk".

Pelanggaran hak yang sama didepan Hukum


1.Kasus Prita dan RS Omni
Jakarta - Penahanan Prita Mulyasari menghebohkan jagad hukum,
media massa dan pelaku dunia maya. Sebuah pemasungan
kebebasan berpendapat gaya baru berlindung kepada UU
Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
Para aktivis HAM melihat penahanan Prita adalah bentuk penindasan,
ketidakadilan dan kesewenang-wenangan aparat yang main tangkap dan
menahannya begitu saja. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyesalkan
penahanan Prita Mulyasari, mantan pasien Rumah Sakit Omni Hospital
Alam Sutra.
Prita ditahan gara-gara keluhannya atas pelayanan rumah sakit yang
tersebar di milis. Prita menyebarkan email kepada 10 orang temannya
yang berisi keluhannya terhadap rumah sakit tersebut. Email tersebut
kemudian menyebar luas ke mailing list. Prita keberatan dengan analisis
dokter yang menyebutkan dia terkena demam berdarah.
Dia merasa ditipu karena dokter kemudian memberikan diagnosis hanya
terkena virus udara. Tak hanya itu, menurut Prita dalam emailnya, dokter
memberikan berbagai macam suntikan berdosis tinggi.
Merasa jengkel, Prita kemudian berniat pindah ke RS lain. Namun, dia
kesulitan mendapatkan hasil laboratorium. Prita telah mengajukan
keberatannya ke RS Omni Internasional dan tak mendapatkan
jawabannya.
Kemudian, ia menyampaikan keluhannya itu kepada teman-temannya
melalui e-mail. Pihak RS Omni Tangerang telah menjawab keluhan Prita
melalui mailing list dan iklan di media massa.

Banyak kalangan ikut prihatin. Dewan Pers telah mengunjungi Prita


Mulyasari (32). Namun sebaiknya diteruskan juga untuk bertemu dengan
Jaksa Agung dan Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo).
Rombongan dipimpin Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara ke LP
Tangerang. Dewan pers menyampaikan simpati karena Prita mendapati
kesulitan karena dituntut RS Omni menggunakan UU Informasi dan
Transaksi Elektronik (ITE). "Padahal dia hanya menyatakan pendapatnya,"
kata anggota Dewan Pers Abdullah Alamudi.
Prita Mulyasari ditahan sejak 13 Mei 2009 karena diduga melanggar Pasal
27 ayat (3) UU Informasi dan Transaksi Elektronik yang ancaman
hukumannya enam tahun.
Prita rencananya akan kembali menjalani sidang perdata pada 4 Juni
mendatang setelah meminta banding atas keputusan Pengadilan Negeri
Tangerang per 11 Mei 2009 yang memenangkan gugatan RS Omni.
Dewan Pers memang harus mencari kebenaran dari kasus Prita ini. Dewan
Pers harus turun tangan karena Prita menyatakan pendapatnya melalui
media elektronik, yang diatur dalam UU Pers.
Dalam UU Pers pasal 1 ayat 1 mengungkapkan, pers adalah wahana sosial
yang
mencakup
menyampaikan
berita,
mencari,
mengolah,
mengumpulkan, menyimpan berita baik secara elektronik, cetak dan
media lain yang tersedia. Media lain termasuk internet.
Dukungan bagi Prita juga makin meluas termasuk di situs jejaring sosial
Facebook. Di sebuah grup Dukungan Bagi Ibu Prita Mulyasari, Penulis
Surat Keluhan Melalui Internet Yang Dipenjara, setidaknya ada delapan
ribu orang yang mendukung dan meminta Prita dibebaskan.
Selain itu, terdapat juga sebuah grup Facebook lainnya yakni, Dukung
Prita Mulyasari, dukungan terus mengalir. Mulai dari kalangan yang
memberikan kecaman terhadap RS Omni maupun simpati kepada Prita.
Namun dari semua komentar, yang paling banyak mendominasi adalah
mempertanyakan penegakan hukum yang dilakukan aparat. Mereka
menilai hukum masih belum berpihak kepada yang benar. Selain grup
dukungan terhadap Prita, masih ada lagi grup yang mengecam RS Omni.
Grup itu bernama "Say No To RS OMNI Internasional".
Anggota Sub-Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia, Nur Kholis, saat mengunjungi Prita, menyatakan, email

yang ditulis Prita merupakan bagian hak paling asasi seorang warga
negara dan manusia di sebuah negara beradab. Bannyak kalangan
melihat kasus Prita bisa menjadi preseden buruk atas penegakan HAM dan
demokrasi di Indonesia.

2. Kasus nenek yang mencuri biji kakao


Banyumas - Nenek Minah (55) tak pernah menyangka perbuatan isengnya
memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA) akan
menjadikannya sebagai pesakitan di ruang pengadilan. Bahkan untuk
perbuatannya itu dia diganjar 1 bulan 15 hari penjara dengan masa percobaan 3
bulan.
Ironi hukum di Indonesia ini berawal saat Minah sedang memanen kedelai di
lahan garapannya di Dusun Sidoarjo, Desa Darmakradenan, Kecamatan
Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, pada 2 Agustus lalu. Lahan garapan Minah
ini
juga
dikelola
oleh
PT
RSA
untuk
menanam
kakao.
Ketika sedang asik memanen kedelai, mata tua Minah tertuju pada 3 buah kakao
yang sudah ranum. Dari sekadar memandang, Minah kemudian memetiknya
untuk disemai sebagai bibit di tanah garapannya. Setelah dipetik, 3 buah kakao
itu tidak disembunyikan melainkan digeletakkan begitu saja di bawah pohon
kakao.
Dan tak lama berselang, lewat seorang mandor perkebunan kakao PT RSA.
Mandor itu pun bertanya, siapa yang memetik buah kakao itu. Dengan polos,
Minah mengaku hal itu perbuatannya. Minah pun diceramahi bahwa tindakan itu
tidak
boleh
dilakukan
karena
sama
saja
mencuri.
Sadar perbuatannya salah, Minah meminta maaf pada sang mandor dan berjanji
tidak akan melakukannya lagi. 3 Buah kakao yang dipetiknya pun dia serahkan
kepada mandor tersebut. Minah berpikir semua beres dan dia kembali bekerja.
Namun dugaanya meleset. Peristiwa kecil itu ternyata berbuntut panjang. Sebab
seminggu kemudian dia mendapat panggilan pemeriksaan dari polisi. Proses
hukum terus berlanjut sampai akhirnya dia harus duduk sebagai seorang
terdakwa
kasus
pencuri
di
Pengadilan
Negeri
(PN)
Purwokerto.
Dan hari ini, Kamis (19/11/2009), majelis hakim yang dipimpin Muslih Bambang
Luqmono SH memvonisnya 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3
bulan. Minah dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 362
KUHP
tentang
pencurian.
Selama persidangan yang dimulai pukul 10.00 WIB, Nenek Minah terlihat tegar.

Sejumlah kerabat, tetangga, serta aktivis LSM juga menghadiri sidang itu untuk
memberikan
dukungan
moril.
Vonis hakim 1 bulan 15 hari dengan masa percobaan selama 3 bulan disambut
gembira keluarga, tetangga dan para aktivis LSM yang mengikuti sidang
tersebut. Mereka segera menyalami Minah karena wanita tua itu tidak harus
merasakan dinginnya sel tahanan.

Pelangaran hak Ekonomi


1. Kasus ibu yang pergi mencari uang
meninggalkan
anak-anaknya
Tangerang, Kompas - Diana (23), ibu Rafael (3), Farel (2), dan Putri Aprilia
(9 bulan), sedikit pun tidak berniat meninggalkan anaknya. Diana pergi
untuk bekerja mencari penghasilan karena tak mungkin terus berutang
kepada tetangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Diana, dirinya tidak bermaksud sama sekali menelantarkan
ketiga anaknya. Apa yang saya lakukan saat itu semata-mata agar
mereka bertiga bisa makan. Saya pergi agar bisa punya uang, katanya.

Selama wawancara, Diana terus menangis, Saya tidak mau pisah lagi
dengan mereka. Saya ingin hidup baru dengan mereka. Jika ada rezeki,
saya berencana membawa pulang ke kampung halaman di Sulawasi
Selatan. Biarlah saya merawat mereka di sana, ujar Diana.
Istri dari Stevanus alias Lery (25) ini bercerita, untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari, ia terpaksa bekerja di tempat hiburan
malam. Lulusan Sekolah Perawat Kesehatan ini rela menjadi wanita
pendamping dari diskotek satu ke diskotek lain di wilayah Jakarta meski
dengan penghasilan yang tak menentu.
Ia menjadi pendamping pengunjung selama berada di diskotek selama
enam tahun terakhir. Namun, akhirnya dia berhenti bekerja dan mengurus
ketiga anaknya. Belakangan, suaminya tidak bekerja lagi. Suaminya tidak
pernah pulang ke rumah sejak Rabu (20/1).
Guna menghidupi anak-anaknya, jalan satu-satunya, Diana meminta belas
kasih dari tetangganya. Saya sering ngutang di warung. Bahkan, untuk
minum sehari-hari saja, saya harus minta kepada tetangga karena tidak
punya apa-apa lagi, ujar Diana.
Dalam kondisi kebingungan itulah, Diana bertekat akan bekerja. Sabtu
sekitar pukul 04.00 ia terpaksa meninggalkan ketiga anaknya di rumah
untuk bekerja karena sudah tidak punya uang lagi. Pada hari Jumat, Diana
sempat menitipkan pesan kepada tetangga tempat suaminya kos di
Kosambi, Tangerang, bahwa dirinya akan bekerja lagi mulai Sabtu.
Saya pergi saat anak-anak baru tertidur pukul 03.00. Saat saya pergi,
harapan saya, suaminya akan datang untuk menjaga mereka, ucap
Diana terbata-bata.
Lantaran belum mendapatkan uang, Diana tak kembali ke rumah dan
menumpang di rumah temannya. Dalam pikiran saya, bagaimana cara
mendapatkan uang agar bisa membeli makan dan memberi susu buat
anak, kata Diana.
Setelah mendapatkan uang sebesar Rp 100.000, Diana kembali ke rumah
pada hari Rabu dan mendapatkan anak-anaknya sudah tidak ada di
rumah lagi.
Berkaitan dengan kasus tersebut, ibu dan ketiga anak telantar tersebut
dirawat, dipelihara, dan dilindungi negara. Mereka akan ditampung di
Rumah Perlindungan Sosial milik Departemen Sosial di Jakarta mulai
Kamis.

2. Pelanggaran tentang Pajak


Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan polisi
menegakkan hukum terhadap segala macam kejahatan, termasuk kejahatan
pajak, korupsi, dan mengemplang utang yang ditanggung rakyat. Karena itu
menyangkut rasa keadilan rakyat, kata Presiden.
Demikian disampaikan Presiden Yudhoyono pada pembukaan Rapat Pimpinan
Polri 2010 di Gedung Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (8/2). Dalam acara itu,
selain Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri, juga
hadir sejumlah menteri kabinet yang akan ikut memberikan pembekalan dalam
Rapat Pimpinan Polri tersebut.
Presiden memerintahkan seluruh jajaran Polri untuk terus melakukan penegakan
hukum terhadap kejahatan transnasional, narkotika, terorisme, penyelundupan
manusia, ataupun kejahatan lain.
Jangan lupa pula yang namanya korupsi, kejahatan pajak, dan mengemplang
utang yang ditanggung rakyat juga harus dituntaskan karena itu menyangkut
rasa keadilan rakyat, kata Presiden lagi.
Selain memerintahkan Polri agar melakukan konsolidasi dan meningkatkan
kinerja, Presiden meminta Polri menjaga ketertiban dan keamanan di
masyarakat. Cobalah datang ke seluruh Indonesia dan ketemu dengan rakyat,
dengarkan apa yang mereka sukai dan inginkan. Mereka menginginkan situasi
aman, tertib, ujarnya.

Mata hati kita harus peka untuk melihat setiap kasus yang ada. Bukan hanya
jumlah yang dibedakan, tetapi juga latar belakang terjadinya kasus. Inilah yang
membedakan antara penegakan hukum dan penegakan keadilan. Oleh sebab itu,
cara penanganannya pun harus berbeda-beda, kata Presiden.
Presiden kemudian mengambil contoh seorang pegawai negeri sipil golongan
kecil yang karena khilaf mengaku mengambil uang negara sebesar Rp 1 juta.
Setelah ditangani kepolisian ternyata uang tersebut diambil karena istrinya
tengah sakit, dan dua anaknya juga sedang sakit, sehingga pegawai tersebut
mengaku khilaf dan akhirnya mengambil uang tersebut, ujarnya.
Akan tetapi, Presiden menambahkan, ketika Polri menangani kasus di mana ada
seorang pejabat mengambil dana senilai Rp 10 miliar yang berasal dari APBN
atau APBD, dan anggaran itu digunakan untuk pembangunan, tentu
penanganannya pun harus berbeda.

Pelanggaran hak Politik


1. Penyelesaian kasus Papua
Jakarta, Kompas - Untuk menyelesaikan masalah Papua secara menyeluruh,
selain mengajak pemerintah, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia juga
menggandeng mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, yang kini menjadi
Ketua Umum Palang Merah Indonesia Pusat.
Jusuf Kalla kami ajak berbincang karena mempunyai pengalaman
menyelesaikan damai dari Aceh sampai Poso, ujar Ketua Komnas HAM Ifdhal
Kasim seusai bertemu dengan Jusuf Kalla di Gedung PMI Pusat, Jakarta, Senin
(8/2). Ifdhal Kasim datang ditemani Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh dan
staf Komnas HAM lainnya.
Menurut Ifdhal, penyelesaian Papua secara parsial seperti yang dilakukan selama
ini, misalnya hanya melalui penegakan hukum, bukan lagi solusi yang tepat.
Akan tetapi, harus komprehensif di berbagai bidang, seperti politik, hukum,
sosial, dan ekonomi, kata Ifdhal.
Ifdhal mengakui, pasca-kematian tokoh Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi
Papua Merdeka, Kelly Kwalik, situasi politik di Papua semakin memanas karena
ketidakpuasan sejumlah pihak atas kematiannya.
Untuk mengantisipasi dampaknya, Komnas HAM mendesak pemerintah
memikirkan langkah secara komprehensif penyelesaian Papua. Salah satu
caranya adalah dengan berdialog dengan masyarakat Papua sendiri, kata Ifdhal.
Jusuf Kalla saat ditanya pers membenarkan dirinya diajak berkonsultasi oleh
Komnas HAM untuk ikut memikirkan penyelesaian secara menyeluruh masalah
Papua. Itu karena, meskipun otonomi khusus (otsus) sudah lama dijalankan
dengan baik dan dengan dana yang sangat besar, diakui masih terjadi letupanletupan di Papua.
Namun, tambah Kalla, untuk menyelesaikan masalah Papua, tahap pertama
adalah mempelajari data dan informasinya secara lengkap dan rinci terkait
Papua, termasuk pelaksanaan otonomi khusus. Otsus sudah dilaksanakan, lalu
masalahnya apa? Tentu, ini ada masalah internal yang harus cepat diselesaikan,
kata Kalla menambahkan.
Kalla mengakui belum ditunjuk sebagai mediator mengingat dirinya masih harus
mempelajari rekomendasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang telah
menyusun peta jalan pembangunan di Papua. Rekomendasi Komnas HAM juga
harus dipelajari lagi terkait dengan rekomendasi penyelesaian masalah, yang
dilakukan dengan cara berdialog dan langkah yang sistematis, ujar Kalla.

2. 539 Pelanggaran saat Pilpres


JAKARTA - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menemukan 539 pelanggaran
pemilu per provinsi dalam tahapan pemungutan dan perhitungan surat suara
pilpres
8
Juli
lalu.
Anggota Bawaslu, Wahidah Suaib menyatakan dugaan pelanggaran pemilu
terdiri dari pelanggaran adminstrasi sebanyak 401 kasus, dan yang telah
ditindaklanjuti
ke
KPU
jumlahnya
188
kasus.
"Kasus pidana pemilu ada 67 kasus yang ditindaklanjuti 13 kasus," kata
Wahidah
dalam
keterangan
persnya,
Senin
(13/7/2009).
Pelanggaran lain-lain 71 kasus. Dia menjelaskan bahwa pelanggaran yang
dimaksud adalah pelanggaran pelanggaran di TPS yang tidak diatur di undangundang
secara
rinci
tapi
mengganggu
proses
pemilu.
"Misalnya disuruh mencelupkan jari ke tinta tidak mau, kotak suara dari kardus,
atau
undangan
ganda,"
jelasnya.
Bawaslu beserta Panwaslu daerah menurut Wahidah juga melakukan koreksi
kepada KPPS, terhadap proses yang tidak sesuai aturan dan melakukan koreksi
terhadap
potensi
pelangaran
pidana.
"Menindaklanjuti
pelanggaran
dengan
melakukan
pengkajian
dan
meneruskannya kepada instansi yang berwenang. Misalnya dugaan tindak
pidana politik uang di Subang dan KPPS tidak memberikan salinan C1 di
Kalimantan Tengah, dan kepala desa mencontreng 52 lembar surat suara di
Tapanuli Tengah," pungkasnya.

Pelanggaran hak sosial budaya

1. Penelantaran cagar budaya di Medan

Dua becak motor, melintas di depan bangunan tua cagar budaya di Jalan Sutoyo
Siswomiharjo Medan, Rabu (21/1). Kawasan ini pada awal abad 20 merupakan
pusat perdagangan di Kota Medan.
Di kawasan ini sampai sekarang masih bisa disaksikan deretan bangunan tua
peninggalan zaman kolonial Belanda yang megah dan anggun, seperti yang
terlihat dalam foto ini.
Pemerintah Kota Medan juga sudah menetapkan sejumlah bangunan di jalan itu
sebagai benda cagar budaya. Sayangnya, banyak atau bahkan sebagian besar
bangunan tua peninggalan masa lalu itu dibiarkan tak terawat.
Selain kusam dan dibiarkan terkelupas temboknya, atap dan pintu-pintu
bangunan itu juga dibiarkan rusak. Bahkan tumbuhan liar tumbuh di dinding
bangunan itu dalam ukuran cukup besar.