Anda di halaman 1dari 13

PEMBUATAN ADSORBEN DARI AMPAS TEH

Disusun Oleh:
FARISTA GALUH SANDRA

03121403003

PUTRI AYU ELISA

03121403005

M. RISKA J. P.

03121403010

APRIYANI KARTINI

03121403011

RENIZA RAMADHANTI
KURNIA INDAH PRATIWI

03121403021
03121403027

ANINDYA FATMADINI

03121403041

DEBI PUTRI SUPRAPTO

03121403045

CINTHYA ROITO

03121403057

LATAR BELAKANG

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Teh

Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara
menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia
sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh
hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.
Istilah "teh" juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau
tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh
yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal.
Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak,
karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang
merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.
2.2. Sejarah Teh

Negeri Cina menjadi tempat lahirnya teh, disanalah pohon teh Cina (Camellia sinensis)
ditemukan dan berasal. Tepatnya di provisnsi Yunnan, bagian barat daya Cina. Iklim wilayah
itu tropis dan sub-tropis, dimana daerah tersebut memang secara keseluruhan adalah hutan
zaman purba. Daerah demikian, yang hangat dan lembab menjadi tempat yang sangat cocok
bagi tanaman teh, bahkan ada teh liar yang berumur 2,700 tahun dan selebihnya tanaman teh
yang ditanam yang mencapai usia 800 tahun ditemukan ditempat ini.
Legenda menjadi bentuk dokumentasi yang paling tua, dimana diceritakan bahwa Shennong
yang menjadi cikal bakal pertanian dan ramuan obat - obatan, juga yang menjadi penemu teh.
Dikatakan dalam bukunya bahwa ia secara langsung mencoba banyak ramuan herbal dan
menggunakan teh sebagai obat pemunah bila ia terkena racun dari ramuan yang dicoba.
Hidupnya berakhir karena ia meminum ramuan yang beracun dan tidak sempat meminum teh
pemunah racun menyebabkan organ dalam tubuhnya meradang.
Teh Cina pada awalnya memang digunakan untuk bahan obat obatan (Abad ke-8 SM),
itupun sudah berumur ribuan tahun riwayatnya. Orang orang Cina pada waktu itu
mengunyah teh (770 SM 476 SM) mereka menikmati rasa yang menyenangkan dari sari
daun teh. Teh juga sering kali dipadukan dengan ragam jenis makanan dan racikan sop.
Pada zaman pemerintahan dinasti Han (221 SM 8 M), teh mulai diolah dengan pemrosesan
yang terbilang sederhana, dibentuk membulat, dikeringkan dan disimpan, teh mulai dijadikan
sebagai minuman, teh diseduh dan dikombinasikan dengan ramuan lain (misalnya : jahe) dan
kebiasaan ini melekat kuat dengan kebudayaan masyarakat Cina. Lebih jauh lagi, teh
kemudian digunakan sebagai tradisi dalam menjamu para tamu. Setelah zaman Dinasti Ming,
banyak ragam jenis teh kemudian ditemukan dan ditambahkan, teh yang populer nantinya ini
banyak dikembangkan di daerah Canton (Guangdong) dan Fukien (Fujian).
Konsumsi budaya Cina akan kebiasaan minum teh pun menyebar, bahkan melekat erat pada
setiap lapisan masyarakat.Pada tahun 800 M., Lu Yu menulis buku yang mendefiniskan
tentang teh, dengan judul Ch'a Ching. Lu Yu adalah seorang anak yatim yang dibesarkan oleh
cendekiawan Pendeta Budha di salah satu Biara terbaik di Cina. Sebagai seorang pemuda,

diapun acap kali melawan disiplin pendidikan kependetaan yang kemudian membuatnya
memiliki daya pengamatan yang baik, performasinya pun meningkat dari tahun ke tahun,
meskipun demikian, ia merasa hidupnya hampa dan tidak bermakna.
Setelah setengah perjalan hidupnya, ia pensiun selama 5 tahun untuk mengasingkan diri.
Dengan riwayat hidup dan perjalanan yang pernah disinggahinya, ia mengkondisikan
beragam metode dalam bertanam dan mengelola teh zaman Cina Purba.
2.2.1. Perjalanan Teh ke Jepang
Ternyata Pengaruh Teh Cina menulari Jepang, konsumsi teh menyebar melalui kebudayaan
Cina yang akhirnya menjangkau setiap aspek masyarakat. Bibit teh dibawa ke Jepang oleh
seorang pendeta Budha bernama Yeisei yang melihat bahwa teh Cina mampu meningkatkan
konsentrasi saat bermeditasi. Ia dikenal sebagai Bapak Teh di Jepang, karena asal muasal
inilah, teh Jepang erat kaitannya dengan Zen Buddhism. Teh diminati pula dalam kekaisaran
Jepang, yang kemudian menyebar dengan cepat di kalangan istana dam masyarakat Jepang.
Teh bahkan menjadi budaya dan bagian dari seni yang dituangkan dalam Japanese Tea
Ceremony (Cha-no-yu atau air panas untuk teh). Upacara ini membutuhkan latihan yang
panjang, bahkan hingga bertahun tahun. Performasi dari Cha-no-yu adalah menjungjung
tinggi kesempurnaan, kesopanan, pesona dan keanggunan.

2.2.2. Perjalanan Teh ke Negeri Barat


Budaya mengkonsumsi teh yang sudah dilakukan di Cina dan Jepang ternyata menjadi buah
bibir di Eropa. Kelompok kafilah bahkan mendengar bagaimana orang orang
mengkonsumsi teh, dan mendapatkan informasi yang samar, lucunya mereka mendengar
bahwa teh di seduh, digarami, diberi mentega dan kemudian dimakan. Orang Eropa yang
secara personal menemukan teh dan kemudian menulis tentangnya adalah Jesuit Father
Jasper de Cruz pada tahun 1560.
Portugis menjalin hubungan dagang dengan Cina, mengembangkan jalur dagang dengan
mengkapalkan teh ke Lisbon dan kemudian kapal kapal Belanda berangkat ke Perancis,
Negeri Belanda dan baltik, teh kemudian semakin populer ke belahan dunia barat.
Teh singgah di Eropa pada zaman Elizabeth I,dan kemudian tren dalam kerajaan Belanda.
Teh menjadi minuman yang mahal pada waktu itu (lebih dari $100 per pound-nya), sehingga
para pedagang teh mendapatkan kemakmuran darinya. Masyarakat Belanda sangat
menggemari teh, dan konsumsi teh pun meningkat pesat, meskipun demikian banyak yang
mempertanyakan manfaat teh,dan berbagai dampak negatif lainnya. Apapun itu, masyarakat
pada umunya tidak lagi mempermasalahkan/terpengaruh dan kembali menikmati minuman
teh ini. Teh menjadi bagian dari masyarakat di Eropa, dan ragam kombinasi konsumsi teh pun
dicoba, seperti mencampurkan teh dengan susu. Pada masa itupun layanan teh disajikan
pertama kali di restoran. Kedai minuman pun memberikan perkakas teh portabel lengkap
disertai alat pemanasnya.
Teh pun sangat populer di Perancis, tetapi tidak berlangsung lama (kurang lebih lima belas
tahun), dan kemudian digantikan popularitasnya dengan minuman yang memiliki daya tarik
yang lebih kuat seperti anggur, kopi, dan cokelat.

2.2.3. Teh di Amerika dan Inggris


Pada tahun 1650, orang orang Belanda sangat aktif dalam perdagangan sampai pada dunia
Barat. Peter Stuyvesant yang membawa teh Cina ke Amerika pertama kali untuk koloninya
(tempat itu kenal sebagai: New York sampai sekarang).
Teh pertmana kali tiba di Inggris sekitar tahun 1650-an, setelahnya teh menjadi minuman
yang sangat populer bahkan dapat dikatakan sebagai minuman nasional masyarakat Inggris.
2.3. Tanin
Tanin adalah suatu senyawa polifenol yang berasal dari tumbuhan, berasa pahit dan kelat,
yang bereaksi dengan dan menggumpalkan protein, atau berbagai senyawa organik lainnya
termasuk asam amino dan alkaloid.
Tanin (dari bahasa Inggris tannin; dari bahasa Jerman Hulu Kuno tanna, yang berarti pohon
ek atau pohon berangan) pada mulanya merujuk pada penggunaan bahan tanin nabati dari
pohon ek untuk menyamak belulang (kulit mentah) hewan agar menjadi kulit masak yang
awet dan lentur. Namun kini pengertian tanin meluas, mencakup aneka senyawa polifenol
berukuran besar yang mengandung cukup banyak gugus hidroksil dan gugus lain yang sesuai
(misalnya karboksil) untuk membentuk perikatan kompleks yang kuat dengan protein dan
makromolekul yang lain.
Senyawa-senyawa tanin ditemukan pada banyak jenis tumbuhan; pelbagai senyawa ini
berperan penting untuk melindungi tumbuhan dari pemangsaan oleh herbivora dan hama,
serta dalam pengaturan pertumbuhan[1]. Tanin yang terkandung dalam buah muda
menimbulkan rasa kelat (sepat)[2]; perubahan-perubahan yang terjadi pada senyawa tanin
bersama berjalannya waktu berperan penting dalam proses pemasakan buah.
Kandungan tanin dari bahan organik (serasah, ranting dan kayu) yang terlarut dalam air hujan
(bersama aneka subtansi humus), menjadikan air yang tergenang di rawa-rawa dan rawa
gambut berwarna coklat kehitaman seperti air teh, yang dikenal sebagai air hitam (black
water). Kandungan tanin pula yang membuat air semacam ini berasa kesat dan agak pahit.[3]
2.3.1. Sifat-sifat Tanin
Untuk membedakan tanin dengan senyawa metabolit sekunder lainnya, dapat
dilihat dari sifat-sifat dari tanin itu sendiri. Sifat-sifat tanin, antara lain :
a. Sifat Fisika.
Sifat fisika dari tanin adalah sebagai berikut :
Apabila dilarutkan ke dalam air, tanin akan membentuk koloid dan akan memiliki
rasa asam dan sepat. Apabila dicampur dengan alkaloid dan glatin, maka akan
terbentuk endapan.
Tanin tidak dapat mengkristal.

Tanin dapat mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein
tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik.
b. Sifat Kimia
Sifat kimia dari tanin adalah sebagai berikut :
Tanin merupakan senyawa kompleks yang memiliki bentuk campuran polifenol
yang Sulit untuk dipisahkan sehingga sulit membetuk kristal. Tanin dapat
diidentifikasi dengan menggunakan kromotografi Senyawa
fenol yang ada pada tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptic dan pemberi
warna.
c. Sifat sebagai pengkhelat logam.
Fenol yang ada pada tanin, secara biologis dapat berguna sebagai khelat
logam. Mekanisme atau proses pengkhelatan akan terjadi sesuai dengan pola
subtitusi dan pH senyawa fenol itu sendiri. Hal ini biasanya terjadi pada tanin
terhidrolisis, sehingga memiliki kemampuan untuk menjadi pengkhelat logam.
Khelat yang dihasilkan dari tanin ini dapat memiliki daya khelat yang kuat dan
dapat membuat khlelat logam menjadi lebih stabil dan aman di dalam tubuh. Namun,
dalam mengkonsumsi tanin harus sesuai dengan kadarnya, karena apabila terlalu
sedikit (kadarnya rendah) tidak akan memberikan efek, namun apabila mengkonsumsi
terlalu banyak (kadar tinggi) dapat mengakibatkan anemia karena zat besi yang ada
dalam darah akan dikhelat oleh senyawa tanin tersebut.

2.3.2. Manfaat Tanin


Sebagai senyawa metabolit sekunder, tanin memiliki banyak manfaat dan
kegunaan. Manfaat dan kegunaan tanin adalah sebagai berikut :
1. Sebagai anti hama untuk mencegah serangga dan fungi pada tanaman.
2. Sebagai pelindung tanaman ketika masa pertumbuhan dari bagian tertentu
tanaman, misalnya pada bagian buah, saat masih muda akan terasa pahit dan
sepat.
3. Sebagai adstrigensia pada GI dan kulit.
4. Untuk proses metabolisme dari beberapa bagian tanaman.

5. Dapat mengendapkan protein sehingga digunakan sebagai antiseptik.


6. Sebagai antidotum (keracunan alkaloid).
7. Sebagai reagen pendeteksi gelatin, alkaloid, dan protein.
8. Sebagai penyamak kulit dan pengawet.

2.4. Adsorpsi
Adsorpsi atau penjerapan adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan
maupun gas, terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penjerap, adsorben) dan akhirnya
membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat terjerap, adsorbat) pada permukaannya. Berbeda
dengan absorpsi yang merupakan penyerapan fluida oleh fluida lainnya dengan membentuk
suatu larutan.
Adsorpsi secara umum adalah proses penggumpalan substansi terlarut (soluble) yang ada
dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, di mana terjadi suatu ikatan kimia
fisika antara substansi dengan penyerapnya.
Definisi lain menyatakan adsorpsi sebagai suatu peristiwa penyerapan pada lapisan
permukaan atau antar fasa, di mana molekul dari suatu materi terkumpul pada bahan
pengadsorpsi atau adsorben.
Adsorpsi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu adsorpsi fisika (disebabkan oleh gaya Van Der
Waals (penyebab terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan) yang ada pada
permukaan adsorbens) dan adsorpsi kimia (terjadi reaksi antara zat yang diserap dengan
adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat khas zat padatnya yang
merupakan fungsi tekanan dan suhu)
2.4.1. Adsorpsi fisika
Berhubungan dengan gaya Van der Waals. Apabila daya tarik menarik antara zat
terlarut dengan adsorben lebih besar dari daya tarik menarik antara zat terlarut
dengan pelarutnya, maka zat yang terlarut akan diadsorpsi pada permukaan
adsorben. Adsorpsi ini mirip dengan proses kondensasi dan biasanya terjadi pada
temperatur rendah. Pada proses ini gaya yang menahan molekul fluida pada
permukaan solid relatif lemah, dan besarnya sama dengan gaya kohesi molekul
pada fase cair (gaya van der waals) mempunyai derajat yang sama dengan
panas kondensasi dari gas menjadi cair, yaitu sekitar 2.19-21.9 kg/mol.
Keseimbangan antara permukaan solid dengan molekul fluida biasanya cepat
tercapai dan bersifat reversibel. Adsorbsi dapat memurnikan suatu larutan dari
zat-zat pengotornya.

2.4.2. Adsorpsi Kimia


Yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dengan zat terlarut yang teradsorpsi.
Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya yang jauh lebih besar daripada
adsorpsi fisika. Panas yang dilibatkan adalah sama dengan panas reaksi kimia.
Menurut Langmuir, molekul teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh gaya
valensi yang tipenya sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam
molekul. Karena adanya ikatan kimia maka pada permukaan adsorben akan
terbentuk suatu lapisan, di mana terbentuknya lapisan tersebut akan
menghambat proses penyerapan selanjutnya oleh bantuan adsorben sehingga
efektifitasnya berkurang.

2.5. Air tanah


Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah
permukaan tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air Selain air
sungai dan air hujan, air tanah juga mempunyai peranan yang sangat penting
terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk
kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri.
Dibeberapa daerah, ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah
mencapai 70%

2.5.1. Permasalahan Air Tanah


Air tanah, khususnya untuk pemakaian rumah tangga dan industri, di wilayah urban dan
dataran rendah memiliki kecenderungan untuk mengandung kadar besi atau asam organik
tinggi. Hal ini bisa diakibatkan dari kondisi geologis Indonesia yang secara alami memiliki
deposit Fe tinggi terutama di daerah lereng gunung atau diakibatkan pula oleh aktivitas
manusia. Sedangkan air dengan kandungan asam organik tinggi bisa disebabkan oleh adanya
lahan gambut atau daerah bakau yang kaya akan kandungan senyawa organik. Ciri-ciri air
yang mengandung kadar besi tinggi atau kandungan senyawa organik tinggi bisa dilihat
sebagai berikut :
a. Air mengandung zat besi

Air dengan kandungan zat besi tinggi akan menyebabkan air berwarna kuning. Pertama
keluar dari kran, air nampak jernih namun setelah beberapa saat air akan berubah warna
menjadi kuning. Hal ini disebabkan karena air yang berasal dari sumber air sebelum keluar
dari kran berada dalam bentuk ion Fe2+, setelah keluar dari kran Fe2+ akan teroksidasi
menjadi Fe3+ yang berwarna kuning.
b. Air kuning permanen

Air kuning permanen biasanya terdapat di daerah bakau dan tanah gambut yang kaya akan
kandungan senyawa organik. Berbeda dengan kuning akibat kadar besi tinggi, air kuning
permanen ini sudah berwarna kuning saat pertama keluar dari kran sampai beberapa saat
kemudian didiamkan akan tetap berwarna kuning.

2.5.2. pH Air Tanah


pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan
sebagai kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas
ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya
didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala absolut. Ia
bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan
berdasarkan persetujuan internasional
2.6. Karbon Aktif
Karbon aktif adalah karbon yang di proses sedemikian rupa sehingga pori porinya
terbuka, dan dengan demikian akan mempunyai daya serap yang tinggi. Karbon aktif
merupakkan karbon yang bebas serta memiliki permukaan dalam (internal surface),
sehingga mempunyai daya serap yang baik. Keaktifan daya menyerap dari karbon aktif
ini tergantung dari jumlah senyawa kabonnya yang berkisar antara 85 % sampai 95%
karbon bebas. Karbon aktif yang berwarna hitam, tidak berbau, tidak terasa dan
mempunyai daya serap yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kabon aktif yang
belum menjalani proses aktivasi, serta mempunyai permukaan yang luas, yaitu memiliki
luas antara 300 sampai 2000 m/gram. Karbon aktif ini mempunyai dua bentuk sesuai
ukuran butirannya, yaitu karbon aktif bubuk dan karbon aktif granular (butiran). Karbon
aktif bubuk ukuran diameter butirannya kurang dari atau sama dengan 325 mesh.
Sedangkan karbon aktif granular ukuran diameter butirannya lebih besar dari 325 mesh.
Ada 2 tahap utama proses pembuatan karbon aktif yakni proses karbonasi dan proses
aktifasi. Dijelaskan bahwa secara umum proses karbonisasi sempurna adalah pemanasan
bahan baku tanpa adanya udara sampai temperatur yang cukup tinggi untuk
mengeringkan dan menguapkan senyawa dalam karbon. Pada proses ini terjadi
dekomposisi termal dari bahan yang mengandung karbon, dan menghilangkan spesies
non karbonnya. Proses aktifasi bertujuan untuk meningkatkan volume dan memperbesar
diameter pori setelah mengalami proses karbonisasi, dan meningkatkan penyerapan.
Pada umumnya karbon aktif dapat di aktifasi dengan 2 (dua) cara, yaitu dengan cara
aktifasi kimia dan aktifasi fisika.
1. Aktifasi kimia, arang hasil karbonisasi direndam dalam larutan aktifasi sebelum
dipanaskan. Pada proses aktifasi kimia, arang direndam dalam larutan pengaktifasi
selama 24 jam lalu ditiriskan dan dipanaskan pada suhu 600 9000C selama 1 2 jam.
2. Aktifasi fisika, yaitu proses menggunakan gas aktifasi misalnya uap air atau CO2 yang
dialirkan pada arang hasil karbonisasi. Proses ini biasanya berlangsung pada temperatur
800 11000C.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

CARA KERJA

GAMBAR

1. Cuci serbuk teh dengan air panas


secara berulang sehingga airnya
jernih.

2. Cuci dengan aquades

3. Anginkan ampas teh selama


24jam.

4. Keringkan ampas teh


menggunakan oven dengan suhu
100oC selama 5-10 menit

5. Cuci ampas teh dengan larutan


NaOH 0,48N dan diamkan
selama 30 menit

6. Saring ampas teh yang terlarut


dalam NaOH lalu ambil ampas
tehnya dan masukkan ke dalam
oven pada suhu 50oC-180oC
selama sejam