Anda di halaman 1dari 18

Annual Conference on Islamic Studies

(ACIS) Ke - 10

Banjarmasin, 1 4 November 2010

PATRONASE AGAMA DALAM KEHIDUPAN


POLITIK LOKAL
(Melemahnya Nilai-Nilai Tradisional Agama Masyarakat)
Musafir Pababbari
Pendahuluan
Gagasan utama yang melatari tajuk permasalahan dalam makalah ini adalah berawal
dari pengamatan penulis terhadap suatu fenomena masyarakat dimana pola hubungan
patronase dalam komunitas agama semakin memudar serta belum banyak dikaji dalam
perspektif sosiologis, oleh karena itu melalui tulisan ini penulis bermaksud
menyumbangkan beberapa konsep ilmiah dalam konteks sosiologi agama untuk
mendeskripsikan secara mendalam tentang pola hubungan otoritas agama dan politik lokal.
Kajian sosiologi agama tentang hubungan patronase dalam kehidupan masyarakat
masih sangat minim, hal ini disebabkan karena masih rendahnya perhatian dalam
mengamati gejala-gejala sosial agama yang cenderung eksklusif ditambah lagi dengan
sulitnya mengaplikasikan teori-teori sosiologi yang lahir di barat untuk diaplikasikan dalam
kehidupan masyarakat agama yang sedang berkembang di timur, di mana agregasi sosialnya
sangat jauh berbeda.
Menganalisis gejala-gejala patronase tidak dapat dipisahkan dengan konsep otoritas
terutama dengan otoritas kharisma. Perkembangan masyarakat saat ini, terutama pada
masyarakat agama terdapat banyak pranata sosial yang dikembangkan atas dasar apa yang
disebut dalam tipologi Weber dengan otoritas legal-rasional (Johnson 1986:231) Namun
masih juga ditemui model otoritas dalam masyarakat yang berdasarkan sumber tradisional
dan kharismatik seperti dalam komunitas agama. Karena itu pemimpin kharismatik tidak
dengan sendirinya terhapus dengan menguatnya otoritas legal-rasional, sehingga seperti
pemahaman Coser, bahwa birokrasi legal-rasional bisa saja menghadirkan stagnasi, namun
sebaliknya kepemimpinan kharismatik dalam politik justru bisa lebih kokoh dibanding
dengan pola kepemimpinan politik yang berdasarkan kewenangan-kewenangan prosedural
yang rasional (Gordon,1991:488).
Pengaruh tokoh kharismatik di kalangan umat Islam sampai sekarang masih tampak
kokoh, Dengan tingkat aksentuasi yang berbeda-beda sesuai dengan ketenaran kharisma
mereka masing-masing. Para pemimpin kharismatik tersebut tidak hanya memecahkan
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan masalah ibadah khusus, namun juga masih
memperlihatkan perannya dalam ikut memecahkan dan menyelesaikan persoalan sosial,
ekonomi maupun politik. Meskipun peran tersebut masih harus dilihat apakah sebagai
proses partisipasi dan fungsi otonomi atau proses mobilisasi politik (Suyuthi , 2001: xix).
Dari dasar pemikiran tersebut diatas, perkenankanlah saya pada hari ini
menyampaikan makalah dalam forum yang terhormat ini Annual Conference on Islamic
Studies (ACIS) ke 10 Tahun 2010,

584 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

Tinjauan Teoritis
1. Kajian Sosiologis Tentang Patronase
Studi mengenai hubungan patronase masih bersifat marginal di akhir tahun limapuluhan dan awal tahun enam puluhan menjadi semakin penting artinya akhir-akhir ini,
baik dalam disiplin antropologi, sosiologi maupum politik. Ada beberapa factor yang
mendorong terjadinya perubahan ini. Pertama, semakin meluasnya objek dari studi gejala
semacam ini. Dari studi hubungan antar person yang terbatas sifatnya menjadi studi
tentang berbagai hubungan sosial dan hubungan antar organisasi. Kedua, kajian masalah
hubungan patronase ini kemudian mencakup berbagai macam masyarakat yang terdapat
diberbagai tempat di dunia, tidak lagi terbatas hanya di Amerika Selatan, dimana hubungan
semacam ini tanpak mencolok. Kesadaran dikalangan para ilmuwan sosial mengenai
pentingnya studi ini, oleh karena gejala tersebut rupanya tetap bertahan di daerah-daerah
yang sudah mengenal politik demokrasi atau system politik yang dapat berfungsi dengan
baik serta semakin eratnya hubungan studi ini dengan perkembangan teori pertukaran
sosial.(Putra 1988:1-2).
Kendatipun kajian mengenai gejala patronase telah banyak dilakukan oleh ilmuwan
sosial, namun gema kegiatan ini masih cukup lemah di Indonesia.Ini tidak berarti bahwa
gejala patronase tidak ada di Indonesia, tetapi sebaliknya gejala tersebut cukup signifikan
untuk diteliti sebagai suatu gejala sosial yang menarik, terutama di daerah-daerah pedesaan
yang masih kuat berpegang pada tradisi lokal.
a.Pengertian patronase
Dalam kajian ini, ada beberapa definisi yang telah disampaikan oleh para sosiolog di
antaranya adalah James C. Scott, Peter Burke dan Sydel F.Silverman dijadikan pegangan
untuk menganalisis gejala patronase yang terjadi di wilayah studi ini. Scott (1972)
mengatakan bahwa hubungan patronase mengandung dua unsur utama yaitu pertama
adalah bahwa apa yang diberikan oleh satu pihak adalah sesuatu yang berharga di mata
pihak lain, entah pemberian itu berupa barang ataupun jasa , dan bisa berbagai ragam
bentuknya. Dengan pemberian itu pihak penerima merasa berkewajiban untuk
membalasnya. sehingga terjadi hubungan timbal balik. Kedua adanya unsur timbal balik
yang membedakan dengan hubungan yang bersifat pemaksaan atau hubungan karena
adanya wewenang formal ( Putra 1988:3).
Menurut Burke Patronase dapat didefinisikan sebagai sistem politik yang
berlandaskan pada hubungan pribadi antara pihak-pihak yang tidak setara.antara pimpinan
(patron) dan pengikutnya (Client). Masing-masing pihak mempunyai sesuatu untuk
ditawarkan. Client menawarkan dukungan politik dan penghormatan kepada patron yang
ditampilkan dalam berbagai bentuk simbolis (sikap kepatuhan, bahasa yang hormat, hadiah
dan lain-lain). Di sisi lain, patron menawarkan kebaikan, pekerjaan, dan perlindungan
kepada clientnya. (Burke 2001:106)
Menurut Silverman Patronase sebagai sebuah pola lintas budaya dapat didefinisikan
sebagai hubungan kontraktual antara orang-orang dengan status dan kekuasaan yang tidak
sama, yang memberlakukan kewajiban-kewajiban timbal balik dan jenis yang berbeda pada
masing-masing pihak. Minimum, yang diberikan adalah perlindungan dan pertolongan di

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 585

satu pihak dan kesetiaan di lain pihak, hubungan ini dibangun diatas landasan pribadi dan
berhadapan muka,serta berlanjut (Frank Mc.Glynn dan Arthur Tuden 2000:244).
Adanya unsur timbal balik inilah yang menurut Scott yang membedakan dengan
hubungan yang bersifat pemaksaan (coercion) atau hubungan karena adanya wewenang
formal (formal authority). Selain itu hubungan patronase ini juga perlu didukung oleh
norma-norma dalam masyarakat yang memungkinkan pihak yang lebih rendah
kedudukannya (client) melakukan penawaran, artinya bilamana salah satu pihak merasa
bahwa pihak lain tidak memberi seperti yang diharapkan, dia bisa menarik diri dari
hubungan tersebut tanpa terkena sanksi sama sekali. Hubungan patronase mempunyai ciriciri tertentu yang membedakan dengan hubungan sosial lain. pertama, terdapatnya
ketidaksamaan (inequality) dalam pertukaran. kedua, adanya sifat tatap muka (face to face
character) dan ketiga adalah sifatnya yang luwes dan meluas (diffuse flexibility).
b. Patronase sebagai realitas sosial
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan empiris, maka patronase sebagai realitas sosial
menjadi pokok persoalan yang diteliti dalam sosiologi sebagai fakta sosial. Menurut
Durkheim (Ritzer 1992) Fakta sosial dinyatakannya sebagai barang sesuatu (thing) yang
berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi obyek penyelidikan dari seluruh ilmu
pengetahuan. Ia tidak dapat dipahami melalui kegiatan mental murni (spekulatif). Tetapi
untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil di luar pemikiran manusia. Arti
penting pernyataan Durkheim ini terletak pada usahanya untuk menerangkan bahwa fakta
sosial tidak dapat dipelajari melalui introspeksi .Fakta sosial harus diteliti di dalam dunia
nyata (empiris). Fakta sosial hasil karya Durkheim yang tertuang dalam bukunya The Rules
of sociological Method (1895) dan Suicide (1897) telah menjadikan sosiologi sebagai ilmu
pengetahuan yang berdiri sendiri lepas dari pengaruh filsafat dan psikologi.
Gejala patronase dapat juga dilihat dari sudut pandang paradigma interaksionisme
simbolik, melalui analisis tindakan sosial dari Weber. Perhatian interaksionisme simbolik
terhadap dimensi subyektif sejajar dengan tekanan Weber pada pemahaman arti subyektif
dari tindakan sosial individu.Teori interaksionisme simbolik tidak melihat tingkat subyektif
dalam cara yang sama seperti Weber, juga tidak didasarkan pada perspektif Weber secara
eksplisit. Weber bergerak lebih jauh melebihi analisa tindakan dan arti subyektif untuk
melihat pola institusional dan budaya yang luas. Interaksionisme simbolik memusatkan
perhatiaanya terutama pada tingkat interaksionisme antar pribadi secara mikro (Johnson
1986: 4).
Konsep Weber tentang tindakan sosial, dalam konteks ini dapat diasumsikan bahwa
gejala patronase adalah sebuah hubungan sosial, dengan dasar asumsi bahwa terdapat
sebuah tindakan yang terpola di mana beberapa orang aktor yang berbeda melakukan
hubungan dengan tujuan/motif tertentu dalam sebuah interaksionisme. Dengan demikian
secara kontekstual dari konsep teoritik Weber tentang rasionalitas dalam suatu tindakan
sosial, maka patronase merupakan sebuah pranata yang dapat dijelaskan secara impersonal
melalui tindakan antar hubungan sosial (sosial relationship). Menurut Weber, sejauh tindakan
yang dilakukan oleh aktor-aktor individu tersebut mengandung makna dan memiliki
hubungan serta terarah kepada orang lain, maka telah terjadi hubungan sosial. Syarat dari

586 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

hubungan sosial tersebut adalah terjadinya saling penyesuaian (mutual orientation) antara
orang yang satu dengan yang lain.
Dasar paradigma Weber berkaitan dengan teori aksi (action theory) yang melihat
tindakan sosial merupakan suatu proses keterlibatan aktor dalam pengambilan keputusan
subyektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan yang telah dipilih, yang
kesemuanya itu dibatasi kemungkinannya oleh system budaya, baik itu norma, ide ataupun
nilai-nilai sosial sebagaimana didukung oleh Talcott Parson (Perdue,1986).
Patronase sebagai realitas sosial yang muncul sebagai fakta empirik dapat dilihat
pada a.politik patron client. serta b. Agama patron client.
a).Politik Patron client
Kajian hubungan patron-client dalam kehidupan politik dapat dilihat pada tahun
1920 an dimana Lewis Namier mengemukakan pendapatnya bahwa partai Whig (cikal
bakal partai liberal di Inggeris) dan Tory (nama lain partai konservatif) kedua partai ini
merebut simpati dari kader-kadernya bukan dipersatukan oleh ideology atau program
melainkan hubungan patron client antara pengikut dengan pemimpinnya.(Burke 2001 :
108)
Juga beberapa kajian terbaru tentang politik Prancis pada abad ke 17 telah
memanfaatkan perkembangan literature sosiologi tentang patronase. Mereka mencatat,
misalnya bagaimana Kardinal Richelieu memilih pembantu-pembantunya berdasarkan
pada pertimbangan personal ketimbang impersonal, dengan kata lain yang ia cari bukanlah
calon-calon terbaik untuk mengisi jabatan tertentu, melainkan memberikan jabatan itu
kepada clientnya (Burke 2001: 110), juga kajian Sharon Kettering tentang patron-client, ia
menyatakan bahwa jaringan patronase sejalan dan saling melengkapi dengan pranatapranata politik resmi Perancis abad ke 17,bahwa ritual sosial pemberian hadiah adalah alat
untuk mencapai tujuan-tujuan politik, ( Burke 2001 : 121).
Di Indonesia, kecenderungan pembentukan pola hubungan patronase, baik
dikalangan penguasa maupun masyarakat. Pola hubungan dalam konteks ini bersifat
individual, terjadi interaksionisme yang bersifat resiprokal atau timbal balik dengan
mempertukarkan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak,
(Gaffar,2000:109).Dalam interaksionisme politik, masing-masing mempunyai kedudukan
yang saling membutuhkan penawaran untuk dipertukarkan karena Patron memiliki sumber
daya berupa kekuasaan, kedudukan atau jabatan, perlindungan perhatian dan kasi sayang
bahkan bisa berupa kekayaan harta benda atau uang. Sementara clientt memeliki sumber
daya berupa tenaga, dukungan dan loyalitas. Pola hubungan tersebut tetap terpelihara
karena masing-masing pihak saling tergantung dan menguntungkan disamping itu pula,
pola patronase ini kadang melibatkan pihak ketiga yang sering disebut sebagai perantara
(brooker atau middleman) yang menghubungkan antara pihak patron dengan client.
Kecenderungan patronase ini dapat ditemukan secara meluas baik dalam
lingkungan birokrasi maupun masyarakat dalam hubungannya dengan mobilisasi dan
partisipasi politik. Seorang pengamat kawakan terhadap masyarakat dan sejarah Indonesia,
WF.Wertheim, mengajukan politik patron client sebagai pola kehidupan politik Indonesia
(Wertheim 1969:10) itu berarti bahwa pengelompokan politik tidak didasarkan atas aliran
budaya maupun solidaritas klas, tetapi berdasarkan hubungan antara para patron dengan
client mereka yang merupakan hubungan yang tak putus-putus.(Kuntowijoyo1993:145).

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 587

Hubungan patron client juga telah diamati oleh Karl D. Jackson dalam kajiannya
mengenai mobilsasi pedesaan dalam gerakan Darul Islam di Jawa Barat.Dalam kajian itu ia
menyimpulkan bahwa dukungan dan penolakan rakyat terhadap mobilisasi itu begitu
banyak bergantung kepada para pemimpin desa, yang pada gilirannya bergantung kepada
pendapat koneksi mereka di kota, bukan atas dasar keagamaan semata-mata.(Jackson
1971:12-17) .
b). Agama patron - client
Gejala patronase pada masyarakat katholik telah diteliti oleh Foster (1961). Dalam
agama ini dikenal adanya santo-santo pelindung, baik itu individual ataupun yang komunal.
Oleh karena itu ia membedakan dua macam hubungan patron client, yaitu sebagai relasi
antar manusia dan relasi antara manusia dengan seorang tokoh spritual, dalam hal ini para
santo yang disebut juga patron.
Gejala patronase dapat ditemukan pula pada masyarakat Muslim, misalnya pada
komunitas tarekat Khalwatiah Samman di Sulawesi Selatan. Pola hubungan khalifah-murid
karena adanya system kepercayaan terhadap karamah dan barakah yang dalam bahasa
Bugis /Makassar disebut karamak dan barakkak. Anreguru memiliki karamak dan barakkak
lalu kemudian memberi karamak dan barakkak itu kepada anakguru, baik berupa benda
ataupun wejangan dan nasehat kepada anakguru. Pemberian tersebut dipandang barakkak.
Pola hubungan anreguru dan anakguru menjadi kokoh sepanjang masa karena meniti di atas
system kepercayaan yang sudah mengakar dalam tradisi tarekat berdasarkan etika dan
system kepercayaan sufistik. Kelebihan anreguru dilihat dari segi kemampuan ekonomi,
tidak ada yang menonjol kecuali kejujuran dan kepercayaan penganutnya. Penganut tarekat
telah menyerahkan dirinya kepada khalifah (anreguru) sejak ia mengucapkan baiat, bahkan
khalifah dipandang pemimpin simbolis dan menjadi pusat perhatian untuk diteladani
(patron) oleh para pengikutnya (clientt). (Hamid 1994: 234-241).
Pemisahan domain religius tersebut menunjukkan ada konsensus antara kekuatan
Islam dengan kekuatan religi local. Hal ini kemudian tertuang pada struktur organisasi
sosial masyarakat yang menempatkan dua unsur keagamaan tersebut di dalam aspek
kehidupan masyarakat. Hubungan antara masyarakat dengan kyai atau pemangku agama
bersifat saling membutuhkan sehingga terjadi hubungan antara patron (anregurutta, kyai
dan pemangku agama) dengan client (masyarakat, jamaah).
Kajian Sosiologis Tentang Otoritas
Kajian sosiologis tentang otoritas telah melahirkan suatu karya monumental dari
Weber dengan judul bukunya The theory of sosial and economic organization. Menurut Weber
terdapat serangkaian distingsi-distingsi tipologis yang bergerak dari tingkat hubungan sosial
ke tingkat keteraturan ekonomi dan sosial politik. Konsep legitimasi keteraturan sosial
mendasari analisa Weber mengenai institusi ekonomi, politik dan agama serta
interpretasinya mengenai perubahan sosial. Weber menunjukkan empat dasar legitimasi
yang berbeda-beda yang mencerminkan tipologi tindakan sosial yaitu a). karena tradisi
;suatu kepercayaan akan legitimasi mengenai apa yang sudah selalu ada. b). berdasarkan
sikap-sikap affektual, terutama emosi, yang melegitimasi validitas mengenai apa yang baru
diungkapkan atau suatu model untuk ditiru. c).berdasarkan kepercayaan rasional akan

588 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

suatu komitmen absolut dan terakhir d).karena dibentuk dalam suatu cara yang diakui
sebagai yang sah (Johnson 1986:226). Dengan demikian bahwa tipe tindakan sosial
tertentu sangat erat kaitannya dengan bentuk-bentuk otoritas yang telah dikemukakan
Weber, hal ini dapat dijelaskan lebih jauh pada kajian berikut ini.
a.Tindakan Sosial dan Tipe-Tipe Otoritas
Menurut Weber tindakan sosial itu harus dimengerti dalam hubungannya dengan
arti subjektif yang terkandung di dalamnya, Weber memperkenalkan metode sosiologi
untuk memahami tindakan sosial itu dengan nama Verstehen (Weber,1964:9). Bagi Weber
sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan-tindakan sosial dengan
menerangkan sebab-sebab tindakan tersebut, bukan bentuk substansial dari kehidupan
masyarakat maupun nilai yang obyektif dari tindakan, melainkan arti sesungguhnya yang
nyata dari tindakan perseorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Dengan kata lain
Verstehen adalah suatu metode pendekatan yang berusaha untuk mengerti makna yang
mendasari dan mengitari peristiwa sosial dan histories. Pendekatan ini bertolak dari
gagasan bahwa tiap situasi sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh para
aktor yang terlibat di dalamnya.(Siahaan 1986:200).
Dasar tindakan sosial menurut Weber adalah rasionalitas. Pembedaan pokok yang
diberikan adalah antara tindakan rasional dan yang nonrasional. Tindakan rasional
berhubungan dengan pertimbangan yang sadar akan pilihan tindakan yang dilakukan.
Kategori utama mengenai tindakan rasional dan yang non rasioanl memisahkan empat
tindakan sosial di dalam sosiologinya yaitu Rasional terdiri dari tindakan sosial rasional
instrumental (Zweck rasionalitat) dan rasional yang berorientasi nilai (Wertrationalitat) serta Non
rasional terdiri dari tindakan sosial tradisional dan afektual (Weber 1964:14-Johnson 1986:220Perdue 1986:382)
Keempat tindakan sosial inilah yang menurut Weber membentuk pola hubungan
sosial dalam masyarakat. Weber mengidentifikasi tiga dasar legitimasi yang utama dalam
hubungan otoritas berdasarkan tipologi tindakan sosial tersebut di atas.
a). Otoritas Legal-Rasional
Otoritas yang didasarkan pada komitmen terhadap seperangkat peraturan yang
diundangkan secara resmi dan diatur secara impersonal.Tipe ini sangat erat hubungannya
dengan tindakan sosial rasionalitas intrumental.Seseorang yang sedang melaksanakan otoritas
legal-rasional adalah karena dia memiliki suatu posisi sosial yang menurut peraturan yang
sah, dia didefinisikan sebagai memiliki posisi otoritas. Bawahan tunduk pada otoritas
karena posisi sosial yang mereka miliki itu didefinisikan menurut peraturan sebagai yang
harus tunduk kepada yang memegang otoritas legal-rasional itu. (Johnson,1986:231-232)
b). Otoritas Tradisional
Tipe otoritas ini berlandaskan pada suatu kepercayaan yang mapan terhadap
kekudusan tradisi-tradisi zaman dulu serta legitimasi status mereka yang menggunakan
otoritas yang dimilikinya.Jadi alasan penting orang taat pada struktur otoritas itu ialah
kepercayaan mereka bahwa hal itu sudah selalu ada. Mereka yang menggunakan otoritas
termasuk dalam satu kelompok status yang secara tradisional menggunakan otoritas atau
mereka dipilih sesuai dengan peraturan-peraturan yang dihormati sepanjang waktu. Jenis
otoritas yang berdasarkan tradisi sedemikian ini masih dapat dibedakan ke dalam jenis
otoritas yang disebut dengan patriarkhalisme dan patrimonialisme. Patriarkhalisme adalah

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 589

suatu jenis otoritas di mana kekuasaan didasarkan kepada senioritas.Meraka yang lebih tua
dianggap secara tradisional memiliki kedudukan yang lebih tinggi.Sedangkan patrimonialisme
adalah jenis otoritas yang mengharuskan seorang pemimpin bekerja sama dengan kerabatkerabatnya atau dengan orang terdekat yang memiliki loyalitas pribadi kepadanya (Giddens
1986:192-194).Di dalam jenis otoritas yang bersifat patriarkhalisme dan patrimonialisme ini
ikatan-ikatan tradisional memegang peranan utama. Si pemegang otoritas adalah mereka
yang dianggap mengetahui tradisi yang disucikan. Dan penunjukan otoritas lebih
didasarkan kepada hubungan yang bersifat personal / pribadi serta kepada kesetiaan
pribadi seseorang kepada sang pemimpin.(Gerth dan Mills 1953 :296).
c). Otoritas Kharismatik
Otoritas ini didasarkan pada mutu luar biasa yang dimiliki pemimpin itu sebagai
seorang pribadi.Istilah kharisma digunakan dalam pengertian yang luas untuk menunjuk
pada daya tarik pribadi yang ada pada orang sebagai pemimpin. Kharisma harus dipahami
sebagai kualitas luar biasa tanpa memperhitungkan apakah kualitas itu sungguh-sungguh
ataukah hanya berdasarkan dugaan orang belaka. jadi wewenang kharismatik adalah
penguasaan atas diri orang-orang baik secara predominan eksternal maupun secara
predominan internal ,di mana pihak si tertakluk menjadi tunduk dan patuh karena
kepercayaan pada kualitas luar biasa yang dimiliki orang tersebut.(Siahaan 1986 : 203)
b. Konflik dan Otoritas
Perkembangan teori-teori sosiologi dikenal adanya dua pendekatan teoritis yang
saling menunjang yaitu pendekatan fungsioanlisme structural dan pendekatan konflik.
Pendekatan fungsionalime structural berpendapat bahwa masyarakat terintegrasi di
atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu suatu
general agreement yang memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan
kepentingan di antara para anggota masyarakat. Ia memandang masyarakat sebagai suatu
system yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk equilibrium (Turner 1990
: 143). Pendekatan ini menganalogikan masyarakat dengan organisme biologis. Pendekatan
ini sering pula disebut dengan pendekatan organisme.
Sementara itu, penganut teori konflik mengatakan bahwa di dalam setiap
masyarakat selalu terdapat konflik antara kepentingan dari mereka yang memiliki
kekuasaan otoritatif berupa kepentingan untuk memelihara atau bahkan mengukuhkan
status quo dari pola hubungan kekuasaan yang ada dengan yang ingin merombak atau
mengubah status quo itu (Craib 1994:93), dengan demikian teori konflik dibangun dalam
rangka untuk menentang secara langsung terhadap teori fungsionalisme structural. Oleh
sebab itu proposisi yang dikembangkan oleh penganut teori konflik bertentangan dengan
proposisi yang terdapat dalam teori fungsionalisme structural. Teori konflik yang
cenderung memakai asumsi-asumsi struktural fungsional berpretensi untuk membangun
konsensus. Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu memiliki kepentingan, sehingga
masing-masing anggota atau kelompok masyarakat memiliki sumbangan terhadap
munculnya konflik. Oleh sebab itu konsesnsus sangat mengandalkan adanya konflik yang
muncul secara tidak terelakkan, sebagai konsekuansi dari adanya kepentingan pada setiap
individu. Dalam konteks inilah konsensus tidak mungkin dibangun tanpa diawali dengan
konflik. Eksponen fungsionalisme konflik antara lain adalah Ralf Dahrendorf, Lewis Coser
dan Randall Collins.

590 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

Menurut Ralf Dahrendorf sebagai tokoh utama teori konflik, bahwa kalau teori
fungsionalisme memandang masyarakat berada dalam kondisi statis atau bergerak dalam
kondisi keseimbangan, maka menurut teori konflik, bahwa masyarakat senantiasa berada
dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus menerus di antara
unsur-unsurnya. Kalau menurut teori fungsionalisme structural setiap elemen atau setiap
institusi memberikan dukungan terhadap stabilitas, maka teori konflik melihat bahwa
setiap elemen memberikan sumbangan terhadap disintegrasi sosial. Kontras lainnya adalah
bahwa kalau penganut teori fungsionalisme structural melihat anggota masyarakat terikat
secara informal oleh norma-norma , nilai-nilai dan moralitas umum, maka teori konflik
menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanyalah disebabkan karena adanya
tekanan atau pemaksaan dari atas oleh golongan yang berkuasa.(Ritzer 1992:30).
Menurut Dahrendorf, analogi antara sistem biologi dan sistem sosial serta ide
mengenai suatu sistem sosial itu sendiri diganti oleh suatu konsepsi mengenai suatu
sistem yang harus dikoordinasi hal ini sangat ruwet untuk sistem otoritas atau sistem
kekuasaan. Dalam konteks ini, perbedaan antara otoritas dan kekuasaan sangat penting
untuk dipahami dalam menganalisis suatu keadaan sosial tertentu. Kekuasaan cenderung
menaruh kepercayaan pada kekuatan, sedangkan otoritas adalah kekuasaan yang
dilegitimasi kekuasaan yang telah mendapat pengakuan umum(Craib 1994:93).
Keberadaan otoritas itu sendiri menciptakan kondisi-kondisi untuk konflik sebab
kendatipun masyarakat terintegrasi ke dalam nilai-nilai yang disepakati, namun masyarakat
yang terintegrasi tersebut berasal dari unsur masyarakat yang oleh Dahrendorf
menyebutnya sebagai quasi-group yaitu kelompok potensial yang akan mengembangkan
kepentingan-kepentingan bersama yang masih bersifat laten dan belum disadari biasa pula
disebut dengan manifest group.
Coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan kedua
pendekatan fungsionalisme structural dengan teori konflik. Coser mengakui beberapa
susunan structural merupakan hasil persetujuan dan konsensus. Suatu proses yang
ditonjolkan oleh kaum fungsionalime structural dan juga menunjuk pada proses lain yaitu
konflik sosial (Poloma 1994:107). Oleh sebab itu, antara konflik dan otoritas sepanjang
sejarah kemanusiaan tetap saja muncul sejalan dengan kepentingan sosial yang
berkembang dalam masyarakat. Masyarakat membutuhkan konflik untuk mendinamisir
kehidupan masyarakat di samping itu pula otoritas juga dibutuhkan untuk memberikan
keseimbangan (equiliberium) dalam kehidupan masyarakat.
Hasil Penelitian dan Pembahas
1. Melemahnya Nilai Nilai Tradisional Agama
Kajian sosiologis tentang pola hubungan otoritas dalam masalah-masalah politik
lokal akan mengacuh pada landasan empirik umat sebagai konsep sosial Hal ini
diperlukan untuk mempertegas bahwa agama pada dimensi spritual agak sulit dipahami
untuk menghubungkan antara tradisi mistik dengan politik karena hal ini merupakan kajian
teologis.
Terdapat dua persepsi yang berbeda tentang peran politik lokal yang dilakukan
oleh para pengamal tarekat, pertama bahwa dalam pandangan mereka, fanatisme kepada

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 591

guru dengan mudah berubah menjadi fanatisme politik yang dapat mempengaruhi
masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Beberapa gerakan politik yang dimotori
oleh tarekat, yang merupakan protes sosial akibat berbagai tekanan sosial dan ekonomi
terjadi pada masa penjajahan seperti dengan munculnya suatu gerakan dengan mengambil
bentuk ideologi milleniarisme, mahdiisme, dan jihad fi sabilillah sebagai elemen ideologi yang
memberikan legitimasi terhadap gerakan mereka, seperti pemberontakan petani Banten
dan gerakan milleniari di Kediri tahun 1888, kemudian Gerakan Mahdiisme di Gedangan
Sidoarjo tahun 1903. Pemberontakan antiBelanda di daerah Banjarmasin tahun 1860, juga
fenomena yang sama terjadi di daerah Sukabumi pada masa revolusi. Demikian juga halnya
di Makassar yang dipelopori oleh Syaikh Yusuf. Hal seperti ini juga terjadi di Turki
misalnya, pada tahun 1925 semua tarekat dilarang setelah terjadi pemberontakan nasional
Kurdi yang dipimpin oleh syaikh-syaikh tarekat Naqsyabandiyah (Bruinessen 1999).
Gerakan politik tarekat ini mencermin adanya hubungan teologis antara gerakan
pembebasan sosial dengan elemen ideologi yang berakar dari faham teologi Islam.
Persepsi kedua memandang bahwa perkembangan tarekat sebagai suatu gejala
depolitisasi , sebagai pelarian dari tanggung jawab sosial dan politik. Dalam pandangan ini,
tarekat lebih berorientasi kepada urusan ukhrawi ketimbang masalah duniawi. Pandangan
seperti ini terlihat terlalu sederhana. Tetapi tidak dapat terlepas bahwa terjadinya proses
depolitisasi akibat dari terjadinya hegemoni kekuasaan.
Sebagai klarifikasi terhadap masalah tersebut, peneliti mencoba melakukan studi
konprehensip terhadap beberapa masalah yang terkait dengan masalah pokok. Hal ini
dapat dilihat bahwa agama sebagai kategori sosial, agama seringkali dimanipulasi untuk
kepentingan-kepentingan politik tertentu atau dijadikan ikatan solidaritas baru
menggantikan simbol-simbol solidaritas sosial yang lain. Gejala muncul dan
berkembangnya konservatisme di Amerika Serikat misalnya pada masa pemerintahan
Ronald Reagen merupakan bukti konkriet saat agama dijadikan sebagai sebuah simbol
solidaritas baru. Dalam politik Amerika Serikat modern , tidak ada seorangpun yang dapat
mendiskualifikasi besarnya peranan Christian Coalition dalam memobilisasi dukungan
politik bagi golongan konservatif. (Gaffar 2000: 124).
Gambaran di atas sebagai landasan empirik untuk melihat bagaimana proses politik
melibatkan elite agama untuk memperkuat hubungan antara agama dan politik. Gambaran
berikut ini akan lebih fokus kepada keterlibatan elite tarekat lokal yang secara kultural
dikenal dengan nama anregurutta, annangguru. sebagai cultural broker (Geertz 1966) memegang
peranan penting dalam masyarakat sebagai penyuluh agama dan menyelesaikan persoalanpersoalan kemasyarakatan termasuk persoalan politik lokal yang terjadi, sehingga
annangguru menjadi pusat lingkaran masyarakat.
a. Interaksionisme Agama dengan Politik lokal
Studi tentang interaksionisme agama dengan politik adalah bagian dari kajian
sosiologi agama dengan focus kajian komunitas agama (the religious community). Dengan kata
lain kajian tentang hubungan agama dengan politik ini tidak akan memasuki wilayah
keyakinan , upacara (ritual) dan pengamalan agama pengamal tarekat, sebab nampaknya
akan sulit untuk menghubungkan atau mencari kaitan antara tradisi mistik yang
berkembang dalam tarekat dengan gerakan politik. Dalam kehidupan tarekat,
bagaimanapun bentuk dan ajarannya tetap menitikberatkan pada upaya setiap anggota

592 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

jamaah tarekat untuk mengembangkan potensi spritualnya sehingga mencapai tahap


kesempurnaan (insan kamil) dan cenderung mengabaikan unsur duniawi. Sedangkan politik
sangat erat hubungannya dengan upaya untuk menjaga kelangsungannya suatu kekuasaan
atas sekelompok orang. Tradisi mistik dalam tarekat lebih bersifat transendental, sedangkan
politik lebih bersifat corporeal.
Klarifikasi faktual terhadap masalah tersebut akan dilihat pada tataran empirik,
adakah hal yang menunjukkan bahwa interaksionisme sosial hubungan antara agama
dengan politik lokal sebagai suatu keharusan yang tidak dapat dielakkan karena melihat
komunitas tarekat yang merupakan bagian atau salah satu bentuk komunitas agama
(Islam), maka perlu dilakukan tinjauan kajian agama atau yang lebih spesifik yakni tarekat
dalam hubungannya dengan masalah-masalah politik dari perspektif sosiologis.
Pada masa pemerintahan Orde Baru dengan pendekatan yang kuat terhadap
stabilitas politik dalam rangka menjamin kesinambungan pembangunan, Jackson (1978)
melihat pemerintah Orde Baru dengan kacamata bureaucratic polity digambarkan sebagai
birokrasi yang melakukan konsentrasi kekuasaan, sehingga kebijakan politik diisolasi dari
keikutsertaan masyarakat seperti yang tertuang dalam kebijakan politik massa mengambang
(floating mass). Sebaliknya kebijakan politik mengedepankan pemusatan kekuasaan di tangan
orangorang kepercayaan tertentu. Sumber legitimasi menampakkan kemiripan dengan
legitimasi tradisional dengan spesifik patrimonial tradisional. Kalau legitimasi patrimonial
tradisional tergantung dari dana yang diperoleh dari eksploitasi terhadap petani dan
pedagang, maka neopatrimonial yang dikembangkan oleh Orde Baru tergantung pada tingkat
pertumbuhan ekonomi yang dibiayai dari bantuan luar negeri, modal asing, dan naiknya
harga minyak.
Gambaran tentang proses politik pada masa Orde Baru ini menurut Gaffar
menunjukkan terjadinya proses depolitisasi yang rapi dan sangat efektif terhadap institusi
sosial dan politik yang ada. Depolitisasi ini dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan
mewujudkan konsep massa mengambang atau floating mass. Dengan konsep seperti ini
kontrol politik terhadap partai politik non pemerintah (PDI dan PPP) akan semakin
gampang dilakukan. Kedua dengan mewujudkan prinsip monoloyalitas terhadap semua
pegawai negeri atau siapapun yang bekerja dalam lingkungan instansi pemerintah. Ketiga
dengan emaskulasi partai-partai politik yang ada. Hal ini dilakukan dengan dua cara yaitu
dengan melakukan regrouping atau penyederhanaan sistem kepartaian dan mengontol
rekruitmen pimpinan utama partai tersebut, sehingga partai-partai tersebut mempunyai
pemimpin yang akomodatif terhadap pemerintah.(Gaffar 2000: 40)
Melihat konstalasi politik, maka dapat digambarkan bagaimana hubungan politik
lokal dengan patronase agama sebagai berikut :
b. Keterlibatan Jamaah Tarekat dalam Politik lokal
Kecenderungan politik jamaah tarekat Qadiriyah tercermin dari pandangan
teologis yang mereka pahami, sehingga perilaku politik di kalangan jamaah tarekat juga
bervariasi. Hal ini dapat dilihat dari hasil jawaban responden tentang pandangan teologis
mengenai pemilu yang merupakan ajang demokrasi bagi bangsa Indonesia. Pemilihan
Umum dalam suatu negara demokrasi dilaksanakan secara teratur. Setiap warga negara
yang sudah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih serta bebas menggunakan
haknya sesuai dengan kehendak hati nuraninya. Dia bebas untuk menentukan partai atau

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 593

calon mana yang akan didukungnya, tanpa ada rasa takut atau paksaan dari orang lain.
Pemilih juga bebas mengikuti segala macam aktifitas pemilihan, termasuk didalamnya
kegiatan kampanye dan menyaksikan perhitungan suara.
Berdasar data yang diperoleh dalam studi lapangan menggambarkan bahwa terdapat
kecenderungan dari jamaah tarekat Qadiriyah dalam menentukan sikap politiknya
berdasarkan pandangan teologisnya bahwa hak menentukan pilihan partai bukan
kewajiban agama (62%), maka bisa saja terjadi perbedaan antara sikap politik elite agama
dengan para jamaahnya dalam afiliasi politiknya. Berikut ini disajikan data lapangan
pandangan teologis jamaah tarekat Qadiriyah dalam pemilihan umum.
Tabel : Pandangan Teologis Jamaah Tarekat Qadiriyah dalam Pemilihan Umum.
Pandangan teologis
Frekuensi
Prosentase
Kewajiban Agama
36
24
Bukan Kewajiban Agama
93
62
Tidak Tahu
21
14
Jumlah (N)
150
100
Sumber: Studi lapangan bulan September 2008.
Klarifikasi terhadap data faktual yang ditemukan di lapangan lalu kemudian di-cross
check melalui wawancara mendalam ditemukan bahwa ketika annangguru masih hidup
semua jamaah wajib mengikuti fatwanya, tetapi sekarang tidak lagi seperti itu karena sikap
politik annangguru pada saat itu, hanyalah untuk nyelamatkan tarekat Qadiriyah yang
mendapat tekanan politik dari penguasa Orde Baru.
Sisi lain dalam studi ini ditemukan bahwa ketika peneliti mentabulasi silang antara
sikap teologis dengan kecenderungan afiliasi politik tarekat Qadiriyah ditemukan hal-hal
sebagai berikut:
Tabel : Afiliasi Partai Politik Tarekat Qadiriyah di Mandar
Afiliasi Partai Politik
Pandangan
PKB
PAN
GOL
Teologis
PPP
Kewajiban Agama
9
5
6
Bukan
Kewajiban 2
11
66
Agama
Tidak Tahu
5
5
9
Jumlah (N)
16
21
81
32
Sumber : Studi lapangan bulan September 2008.

PKS
16
14

F
36
93

%
24
62

21
150

14
100

Kecenderungan jamaah untuk tidak mengikuti pilihan politik annangguru tidak bisa
dilepaskan dari warisan pendidikan politik Orde Baru ketika itu yang sangat dominan
melakukan depolitisasi Islam, bahwa amalan tarekat itu harus dibedakan dan dipisahkan
dari pilihan politik, sementara Pemilu itu adalah hak pribadi masing-masing warga negara
untuk menentukan pilihan politiknya.
Informasi lainnya dari data yang diperoleh dalam studi berkaitan dengan perbedaan
afiliasi politik dalam satu payung tarekat yang sama menunjukkan, bahwa perbedaan afiliasi

594 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

politik antara annagguru Shaleh yang masuk Golkar dengan pilihan politik yang diambil oleh
annanggru H.Sahabuddin yang tetap sebagai Ketua Dewan syuro PNU menjadi dasar
pembenaran dari sikap politik jamaah bahwa afiliasi politik jamaah tidak tergantung kepada
khalifahnya. Walaupun ada pandangan ekstrim dari pengikut setia annangguru yang
menyatakan bahwa orang yang tidak masuk Golkar berarti ia telah membangkan dari
gurunya dan itu berarti ia telah berkata ah kepada gurunya ini berarti secara substansial ia telah
keluar dari tarekat gurunya yaitu tarekat Qadiriyah.
Uraian tentang pola hubungan otoritas politik antara annangguru dengan
jamaahnya dapat disimpulkan bahwa afiliasi politik Annangguru tidak selalu sama dengan
afiliasi politik jamaah tarekat Qadiriyah, hal ini terjadi karena adanya persepsi yang
berbeda terhadap sikap annangguru Shaleh ketika masuk Golkar yang dinilai oleh
pengikutnya sebagai sikap setengah hati. Sehingga sebagian jamaah menganggap bahwa
masuknya annangguru Shaleh ke Golkar boleh diikuti dan boleh tidak diikuti karena hal itu
hanyalah sikap pribadi dan bukan sikapnya sebagai mursyid dari tarekat Qadiriyah.
c. Posisi Politik Elite Tarekat
Deskripsi ini akan memaparkan beberapa temuan hasil studi yang telah dilakukan
berkenaan dengan posisi politik elite tarekat pada konstalasi politik pada tingkat lokal di
wilayah studi, Gambaran umum menunjukkan bahwa Ikatan emosional yang merupakan
basis solidaritas penganut tarekat mulai melemah ketika kepentingan politik memasuki
wilayah tarekat, hal ini dapat terjadi disebabkan oleh karena pertimbangan politik lebih
didasarkan kepada hal-hal yang lebih pragmatis-rasional, sehingga ummat (jamaah tarekat)
sebagai kesatuan sosial mencair bersamaan dengan semakin pudarnya ikatan emosi
keagamaan karena konsep politik yang secara ketat diturunkan dari konsep keagamaan
(tidak ada pemisahan antara agama dan politik) kini mulai bergeser dengan dasar-dasar
pertimbangan yang lebih rasional oleh berbagai kepentingan sosial dan ekonomi.
Sebagai kelanjutan dari gerakan Reformasi yang membuka ruang politik yang luas
bagi masyarakat, maka tingkat partisipasi politik akan semakin tinggi sejalan dengan
semakin tingginya kesadaran politik masyarakat. Hal ini diakui oleh banyak pengamat
politik bahwa tingkat partisipasi politik pada era reformasi ini sangat legitimated. Dengan
demikian maka hal ini juga mendorong kemungkinannya berbagai kelompok
sosial/keagamaan membentuk sebuah partai politik atau berpartisipasi dalam suatu partai
politik yang sesuai dengan visi kelompok sosial / keagamaan yang bersangkutan.
Selanjutnya kajian sosiologis tentang posisi politik elite tarekat akan
mendeskripsikan tiga lokus kajian yakni pertama partisipasi politik tarekat dalam pemilu,
kedua bagaimana perubahan orientasi politik tarekat akan menjadi fokus dalam studi ini.
Partisipasi politik di era reformasi di mana studi ini dilakukan akan difokuskan pada
kelompok sosial dalam pergulatannya dengan masalah-masalah politik lokal serta
perubahan orientasi politik dan orientasinya terhadap kehidupan dunia yang secara
sosiologis terbentuk dalam komunitas tarekat Qadiriyah.
a). Partisipasi Politik Tarekat dalam Pemilu
Masalah politik adalah masalah pembagian wewenang dan fungsi sehingga dapat
dibangun suatu hirarki dalam struktur. Sama halnya dengan tarekat yang menempatkan
Annangguru (khalifah) di dalam struktur atas seperti agama atas dunia dalam hubungan

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 595

itulah persoalan partisipasi politik Islam selalu akan berkaitan dengan dengan posisi
agama atau institusi tarekat di satu pihak dalam kegiatan politik khususnya pada kegiatan
pemilu yang digolongkan sebagai hal yang bersifat duniawi . Karena itu, tujuan
partisipasi politik Islam akan bersifat struktural di mana agama ditempatkan pada
struktur atas bukan subordinatif atas negara. Sepanjang hubungan struktural itu sulit
atau tidak terpenuhi, maka Islam akan dianggap berada dalam situasi terancam. Pada saat
demikian, gerakan Islam merasa wajib untuk merebut posisi strategis yang mampu
mengontrol dinamika sosial dan politik.
Karena itu hirarki seseorang di dalam struktur masyarakat yang demikian itu
tampak amat jelas dalam institusi tarekat yang mana menempatkan Annangguru sebagai
penentu kebijakan gerakan tarekat. Para annangguru (khalifah) secara geneologis
terhubungkan sedemikian rupa dengan mata rantai historis yang berakhir pada diri rasul
Muhammad saw, sebagaimana tercermin dalam silsilah para mursyid tarekat Qadiriyah.
Maka ditangan annanggurulah persoalan sosial dari suatu komunitas dapat diselesaikan
termasuk persoalan politik.
Penyelesaian yang paling demokratis adalah dengan jalan Pemilu, karena dengan
Pemilu yang demokratis akan melahirkan sistem pemerintahan yang lebih legitimated.
Dalam suatu negara demokrasi, Pemilihan Umum dilaksanakan dengan teratur. Setiap
warga negara yang sudah dewasa mempunyai hak untuk memilih dan dipilih, dan bebas
menggunakan haknya tersebut sesuai dengan kehendak hati nuraninya. Dia bebas untuk
menentukan partai atau calon mana yang akan didukungnya, tanpa ada rasa takut atau
paksaan dari orang lain. Pemilih juga bebas mengikuti segala macam aktifitas pemilihan,
termasuk di dalamnya kegiatan kampanye dan menyaksikan perhitungan suara.(Gaffar
2000:9) Hal ini merupakan salah satu indikator dari suatu pemerintahan demokratis, di
samping indikator lain seperti adanya akuntabilitas, rotasi kekuasaan secara teratur dan
damai, rekruitmen politik secara terbuka, dan lain-lain.
Partisipasi politik tarekat dalam kegiatan pemilu terkait dengan memahami tindakan
sosial dari penganut tarekat Qadiriyah dalam hubungannya dengan arti subjektif, Weber
dalam analisa sosiologisnya mengajukan konsep rasionalitas yang merupakan kunci bagi
suatu analisa objektif mengenai arti-arti subjektif dan juga merupakan dasar perbandingan
mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda (Johnson, 1986:219).
Hasil studi lapangan dengan menggunakan instrumen kuestioner terstruktur dan
wawancara mendalam dengan para responden menunjukkan bahwa pola tindakan sosial
penganut tarekat Qadiriyah dalam afiliasi politik cenderung berprilaku rasional, hal ini
menunjukkan terjadinya perubahan orientasi perilaku politik jamaah tarekat dari tindakan
tradisional dengan mengikuti otoritas kharismatik ke tindakan rasional dengan pilihan
politiknya sendiri.
Gambaran tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

596 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

Tabel : Motivasi / Alasan Jamaah Tarekat Memilih


Partai Politik.
Karakteristik
Tipe tindakan social
motivasi/alas an
Rasionalitas instrumental
Pilihan sendiri
Rasionalitas berorientasi nilai
Ikut partai berkuasa
Tindakan tradisional
Ikut Annangguru
Tindakan afektif
Kecewa masa lalu
Jumlah

F
69
45
21
15

%
46
30
14
10

150

100

Sumber : Studi lapangan bulan September 2008


Klarifikasi terhadap data faktual yang ditemukan di lapangan lalu kemudian di-cross
check melalui wawancara mendalam ditemukan bahwa pilihan partai jamaah tarekat
tergolong rasional karena di samping kondisi politik di era reformasi membuka ruang yang
lebar dalam hal partisipasi politik rakyat., namun tidak menutup kemungkinan terjadi money
politic dalam pemungutan suara, karena rentangnya persoalan sosial dan ekonomi yang
dialami oleh kebanyakan umat Islam.
Data tersebut diatas (14%) juga menunjukkan lemahnya nilai-nilai tradisional agama
terhadap hubungan patronase antara jamaah dengan elite agama yang bersangkutan, hal ini
disebabkan karena rentangnya persoalan sosial dan ekonomi yang dialami, sehingga
mereka dengan mudah menerima uang dan / atau jasa dari pihak luar yang membantu dan
merekapun menukar uang/jasa yang telah diterimanya itu dengan memberikan dukungan
politik kepada pihak lain. Dengan demikian hubungan patronase berubah menjadi
hubungan kontraktual
Fenomena tersebut diatas tidak hanya berlaku dalam komunitas agama (tarekat) tapi
secara substansial juga bisa berlaku pada komunitas sosial lainnya yang memiliki agregasi
sosial yang sama, termasuk di lembaga birokrasi dan perguruan tinggi sekalipun, suatu
pilihan pragmatis rasional yang berorientasi nilai.
b). Perubahan Orientasi Politik Tarekat
Perubahan pandangan yang sangat mendasar tentang hubungan antara agama dan
politik, ketika seorang ulama kharismatik mengambil langkah politik dengan berafiliasi ke
Golkar, hal ini berlawanan secara horisontal dengan pemikiran politik Islam waktu itu yang
menganggap bahwa ketaatan dan keshalehan seseorang sangat ditentukan afiliasi
politiknya. Maka oleh karena itu seorang muslim yang taat tidak ada pilihan lain kecuali ke
partai Islam. Dalam konteks tahun 1970-an yang dimaksud dengan partai Islam adalah
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang berazaskan Islam, maka oleh karena itu adalah
logis ketika muncul fatwa dari Majlis Syuro PPP yang diketuai oleh KH.Bisri Syamsuri
bahwa wajib bagi seorang muslim untuk memilih dan memenangkan PPP yang berazaskan
Islam (Sujuthi, 2001:70)
Kontrol politik pemerintah Orde Baru yang menjangkau hampir segala kegiatan
masyarakat, termasuk kegiatan keagamaan. Hal ini juga dialami oleh para pengamal tarekat
Qadiriyah di Mandar. Kegiatan tarekat banyak terhambat dan dicurigai oleh aparat
pemerintah sebagai kegiatan politik. Para pengamal tarekat banyak yang melapor dan

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 597

mengeluh kepada annangguru atas kesulitan-kesulitan serta tekanan-tekanan politik dari


aparat pemerintah baik terang-terangan maupun terselubung.
Maka ketika annangguru mendengarkan hal tersebut, dan keinginan Golkar juga yang
ingin merangkul annangguru ke dalam politik, maka setelah annangguru melakukan shalat
istiharah beliau lalu kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Golkar. Kendatipun
Langkah dan pilihan politik annangguru bergabung dengan Golkar hanya membawa
keuntungan bagi Golkar, karena di satu pihak Golkar mendapat legitimasi sosial dan
politik dari kalangan Islam tradisional khususnya di kalangan pengikut tarekat, dan di lain
pihak tarekat Qadiriyah tidak lagi mendapat tekanan psikologis dari politik penguasa Orde
baru. Namun secara material, tarekat ini tidak mendapat fasilitas yang istimewa dari
penguasa Orde Baru. Hal ini dapat dibuktikan bahwa dilokasi ritual tahunan 27 Ramadhan
di Bukit Bukku Salabose tidak ada listerik serta pengerasan jalanan hanya dilakukan atas
swadaya masyarakat yang dipimpin langsung oleh annangguru.
Kehidupan berdemokrasi dalam fenomena di atas menunjukkan lemahnya institusi
keagamaan (tarekat) dalam konteks kehidupan politik sehingga melahirkan budaya politik
yang bersifat parokial dalam sebuah sistem politik. Budaya politik adalah suatu orientasi
psikologis terhadap objek sosial yang kemudian mengalami proses internalisasi ke dalam
bentuk orientasi yang bersifat Cognitive, affective, dan evaluatif.
Sikap dan orientasi tersebut lalu kemudian membentuk budaya politik yang
berbeda. Dalam sebuah masyarakat yang sikap dan orientasi politiknya didominasi oleh
karakteristik yang bersifat kognitive akan terbentuk budaya politik yang parokial.
Sementara dalam sebuah masyarakat yang sikap dan orientasi politiknya diwarnai oleh
karakteristik yang bersifat affektif, akan terbentuk budaya politik yang bersifat subjektif.
Akhirnya, masyarakat yang memiliki kompetensi politik yang tinggi, di mana warga
masyarakat mampu memberikan evaluasi terhadap proses politik yang berjalan, akan
terbentuk sebuah budaya politik yang bersifat partisipatif.( Gaffar 2000:100 )
Untuk lebih jelasnya Gaffar menggambarkan fenomena tersebut dalam tabel
berikut ini :
Tabel : Hubungan Antara Budaya Politik dengan Orientasi Politik .
Budaya Politik
Orientasi Politik
Parokial
Subjektif
Partisipatif
Kognitif
X
Affektif
X
Evaluatif
X
Sumber : Diolah dari data sekunder
Budaya politik yang demokratis, dalam hal ini budaya politik yang partisipatif, akan
mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratis dan stabil, maka oleh
karena itu dalam membangun suatu sistem budaya politik yang partisipatif memerlukan
infrastruktur politik yang kuat di antaranya adalah dengan Pemilihan Umum yang bukan
hanya sebagai sarana untuk mendapatkan legitimasi politik tapi juga sebagai sarana dalam
mengembangkan kehidupan demokrasi sebagai salah satu pilar dalam membangun
masyarakat madani.

598 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

Model budaya politik tersebut di atas dalam mengamati perubahan orientasi


perilaku politik pada wilayah kasus studi, maka dapat dideskripsikan bahwa telah terjadi
perubahan orientasi politik tarekat Qadiriyah di Mandar, di mana dalam bentuk budaya
politik parokial yang dibangun dari suatu sistem kepercayaan kepada pemimpin
kharismatik yang memiliki jamaah yang banyak dan dikenal mempunyai kesetiaan total
kepada pemimpin kharismatiknya, secara evolutif berubah ke bentuk yang lebih rasional
yakni dalam bentuk budaya politik subjektif dan partisipatif dimana pilihan partai politik
tidak lagi didasarkan pada afiliasi politik Annangguru melainkan berdasarkan pada pilihan
sendiri, (lihat tabel) Hal ini terjadi, sebagai konsekuensi logis dari proses reformasi politik
yang sementara ini sedang berjalan. Kendatipun sebenarnya benih-benih perubahan
orientasi politik itu sudah ada sebelum lahirnya gerakan reformasi. Namun perubahan ke
arah itu tidak nampak, karena hegemoni politik Orde Baru yang hampir menjangkau
seluruh lapisan masyarakat termasuk komunitas tarekat tidak dapat dielakkan.
Kesimpulan dan Penutup
Melemahnya nilai-nilai tradisional agama, dalam kehidupn politik local tergambar
pada data yang diperoleh dalam studi lapangan yang menggambarkan bahwa terdapat
kecenderungan dari jamaah tarekat Qadiriyah dalam menentukan sikap politiknya
berdasarkan pandangan teologis bahwa Hak menentukan pilihan partai bukan kewajiban
agama (62%), maka bisa saja terjadi perbedaan antara sikap politik elite agama dengan para
jamaahnya dalam afiliasi politiknya, Sisi lain dalam studi ini ditemukan bahwa ketika
peneliti mentabulasi silang antara sikap teologis dengan kecenderungan afiliasi politik
tarekat Qadiriyah ditemukan kecenderungan jamaah untuk tidak mengikuti pilihan politik
annangguru, tidak bisa dilepaskan dari warisan pendidikan politik Orde Baru ketika itu
yang sangat dominan melakukan depolitisasi Islam, bahwa amalan tarekat itu harus
dibedakan dan dipisahkan dari pilihan politik, sementara Pemilu itu adalah hak pribadi
masing-masing warga negara untuk menentukan pilihan politiknya.
Klarifikasi terhadap data faktual yang ditemukan di lapangan lalu kemudian di-cross
check melalui wawancara mendalam ditemukan bahwa pilihan partai jamaah tarekat
tergolong rasional karena di samping kondisi politik di era reformasi membuka ruang yang
lebar dalam hal partisipasi politik rakyat, namun tidak menutup kemungkinan terjadi money
politic dalam pemungutan suara, karena rentangnya persoalan sosial dan ekonomi yang
dialami oleh kebanyakan umat Islam.
Ikatan emosional yang merupakan basis solidaritas sosial penganut tarekat mulai
melemah ketika kepentingan politik memasuki wilayah tarekat, hal ini dapat terjadi
disebabkan oleh karena pertimbangan politik lebih didasarkan kepada hal-hal yang lebih
pragmatis-rasional, sehingga ummat (jamaah tarekat) sebagai kesatuan sosial mencair
bersamaan dengan semakin pudarnya ikatan emosi keagamaan karena konsep politik yang
secara ketat diturunkan dari konsep keagamaan (tidak ada pemisahan antara agama dan
politik) kini mulai bergeser dengan dasar-dasar pertimbangan yang lebih rasional oleh
berbagai kepentingan sosial dan ekonomi.

MUSAFIR PABABBARI

Patronase Agama 599

Daftar Pustaka
Andrian, F, Charles, Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial, Yogyakarta: Tiara
Wacana, 1995.
Bruinessen,Martin Van,Tarekat Naqsyabandiah di Indonesia, Bandung : Penerbit
Mizan, 1992
______,Kitab Kuning,Pesantren dan Tarekat,Tradisi-tradisi islam di Indonesia,
Bandung : Penerbit Mizan ,1995
Burke,Peter,History and social Theory, Diterjemahkan oleh Mestika Zed & Zulfami
dengan judul Sejarah dan Teori Sosial ,Jakarta :Yayasan Obor Indonesia,2001.
Coser, A Lewis. The Function of Social Conflict, London Collier Macmillan Limited,
1964.
Craib, IAN, Modern Social Theory : From Parsons to Habermas, Duterjemahkan
oleh Paul S. Baut dan T. Effendi dengan judul Teori-Teori Social Modern : Dari
Parson sampai Habermas. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1994
Giddens, Anthony, Capitalism and modern sosial theory : an Analysis of writing of
Marx, Durkheim and Max Weber Diterjemahkan oleh Soeheba Kramadibrata
dengan judul Kapitalisme dan Teori Sosial Modern : Suatu analisis karya tulis
Marx, Durkeim dan Max Weber. Jakarta: Penerbit UI-Press, 1986.
Geertz, Clifford, Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa., Terjemahan
YIIIS, Jakarta: Pustaka Jaya, 1960.
______, Changing role of cultural broker, Comparative studies in society and history
, Vol. 2 , 1960
Hamid, Abu, Syekh Yusuf : Seorang Ulama , Sufi dan Pejuang Jakarta : Yayasan
Obor Indonesia,1994
Jackson, Karl.D. & Lucian W. Pye (ed). Political and Comunication in Indonesia,
London University of California Press Berkeley Los Angeles, 1978.
Johnson, Paul Doyle, Sociological theory : Classical founders and contemporary
perspective, Diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang dengan judul Teori
Sosiologi Klasik dan Modern, Jilid I & II, (Pent) Jakarta: Penerbit PT. Gramedia,
1986.
Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Penerbit Mizan,
1993.
McGlynn, Frank dan Tude,Arthur (Editor) Anthropological approaches to political
behavior. Diterjemahkan oleh Suwargono dan Nugroho Pendekatan antropologi
pada perilaku politik , Jakarta : Penerbit UI-Press,2000
Perdue D. William, Sociological Theory, Explanation, Paradigm and Ideology, USA
: Mayfiels Publishing Computer, 1986.
Poloma, Margaret M., Contemporary sociological theory,Diterjemahkan oleh Tim
penerjemah Yasogama dengan judul Sosiologi Kontemporer, Jakarta: PT. Raja
Grafindo, 1994.
Putra,Heddy Shri Ahimsa, Minawang, Hubungan Patron-client Di Sulawesi Selatan .
Yogyakarta : Gajah Mada University Press,1988

600 Annual Conference on Islamic Studies

Banjarmasin, 1 4 Nov 2010

Rahim.Husni ,Sistem otoritas & Administrasi Islam : Studi tentang pejabat agama
masa kesultanan dan kolonial di Palembang, Jakarta : Logos ,1998
Ritzer, George, Sociology : A Multiple Paradigm Science Diterjemahkan oleh Drs.
Alimandan dengan judul Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda
Jakarta Rajawali Pers, 1992).
-------------, Contemporary Sociological Theory, Ne York: Mc Graw Hill, Inc, 1992.
Robertson, Roland (Ed),Sociology of religion , Diterjemahkan oleh AP. Saifuddin
dengan judul , Agama dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis, , Jakarta:
Rajawali Pers, 1993.
Scott,James,C.Patron-client politics and political change in Southeast Asia. The
American Political Science Review,1972
Siahaan, Hottman, M., Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi, Jakarta:
Penerbit Erlangga, 1986.
Sujuthi,Mahmud, Politik Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Jombang,
Hubungan agama,negara dan masyarakat Yogyakarta : Galang Press,2001
Turner, Jonathan H, The Structure of Sociological Theory , California : Wadsworth
Publishing Company, 1990
Usman,Sunyoto,Politik,Tajdid dan interaksionisme Guru dan Murid dalam Tarekat
( Laporan Studi) Yogyakarta :Universitas Gajah Mada, 1994
Wach, Joachim, The comparative study of Religion . Diterjemahkan oleh Djamannuri
dengan judul Ilmu Perbandingan Agama, Jakarta : CV.Rajawali , 1984
Weber ,Max. The theory of social and economic organization, New York : The Free
Press , 1964.
Wertheim,W.F, From aliran to class struggle in the country side of java dalam Pacific
viewpoint 10 ,1969.

Endnotes :

Guru Besar dalam Bidang Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Alauddin Makassar