Anda di halaman 1dari 6

JTM Vol. XVIII No.

2/2011

EVALUASI FORMATION DAMAGE DENGAN MENGGUNAKAN


HALL PLOT PADA SUMUR PRODUKSI
Pahmi Utamaraja Ginting1, Taufan Marhaendrajana1
Sari
Hall Plot adalah kurva yang dapat digunakan untuk menganalisis performa dari sumur injeksi melalui metode dengan cara
membuat kurva antara tekanan yang dikalikan pada waktu tertentu dengan volume injeksi kumulatif yang diberikan kepada
sumur. Dengan Hall Plot dapat diketahui seberapa besar efek damage yang terdapat pada sumur injeksi tersebut sehingga
tidak perlu dibutuhkan pengujian sumur yang cukup menghabiskan waktu, menunda produksi, dan mahal. Pada studi ini,
kurva Hall Plot digunakan untuk mengukur seberapa besar efek damage yang terdapat pada sumur produksi dengan cara
menganalisis dari kurva antara tekanan bawah sumur dikalikan waktu tertentu dengan volume produksi kumulatif. Metode
yang digunakan adalah dengan cara mensimulasikan produksi sumur yang mengalami efek damage dan menganalisisnya
dengan kurva Hall Plot. Hasil dari penelitian ini adalah didapatkan bahwa kurva Hall Plot dapat digunakan pada sumur
produksi dan dapat digunakan untuk mendeteksi formation damage yang terjadi pada sumur.
Kata kunci: Hall Plot, sumur produksi, formation damage

Abstract
Hall plot is acurve that can be used to analyze the performance of injection wells through the method by making a curve
between the pressure at any given time multiplied by the cumulative injection volume given to the wells. With Hall plot can be
known how much the damage effects contained in the injection wells so that well testing which is lenghtly, time consuming,
and costly can be eliminated. In this study, Hall Plot curve is used to measure how much damage there isthe effect on the
production wells by analyzing the curve between the pressure of time under the well multiplied by the cumulative production
volume. The method used is to simulate the production well which has damage effect and to analyze by Hall Plot. The results
of this study was found that the Hall curve plots can be used on production wells and can be used to detect the formation
damage that occurs in the well.
Keywords: Hall Plot, sumur produksi, formation damage
1)

Program Studi Teknik Perminyakan-Institut Teknologi Bandung


Jl. Ganesa No. 10 Bandung 40132, Telp: +62 22-2504955, Fax: +62 22-2504955, Email: tmarhaendrajana@tm.itb.ac.id

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Metode Hall mulai dilakukan untuk menganalisis
sumur injeksi air pada tahun 1963. Metode ini
berupa
pendekatan
secara
grafis
untuk
mengevaluasi kapasitas injeksi sumur. Secara
umum, kapasitas sumur injeksi sulit untuk
dievaluasi karena banyaknya variasi dari laju
injeksi dan tekanan. Untuk mengevaluasi
kemungkinan
adanya
plugging
ataupun
peningkatan injeksi biasanya dibutuhkan data-data
tekanan reservoir, viskositas air, dan densitas air.
Untuk mengatasi masalah tersebut, maka Hall
menunjukkan bahwa gradient dari kurva jumlah
tekanan kepala sumur dikalikan dengan waktu versus volume injeksi kumulatif dapat
memperlihatkan kapasitas sumur injeksi dan
gradient akan tetap bernilai konstan apabila
kapasitasnya tetap konstan. Persamaan yang
digunakan untuk menentukan gradient pada hall
plot adalah fungsi yang berasal dari berbagai
parmeter reservoir yang mana permeabilitiythickness(kapasitas) adalah yang paling penting.
Persamaannya adalah

Beberapa asumsi berlaku untuk persamaan ini.


Asumsi yang paling penting adalah tekanan
reservoir dan radius injeksi harus konstan. Ketika
nilai gradient pada kurva water injeksi kumulatif
versus tekanan kepala sumur dikalikan dengan
waktu mengalami perubahan menjadi berkurang,
maka diindkasikan adanya efek stimulasi, misalnya
perekahan hydraulic, pengasaman, dll. Dan jika
gradient pada kurva tersebut mengalami perubahan
menjadi bertambah, maka diindikasikan bahwa
adanya efek damage pada sumur, misalnya adanya
plugging atau bertambahnya nilai skin yang
menyebabkan menurunnya kapasitas injeksi fluida.
Kurva Hall Plot tidak hanya dapat digunakan untuk
mengidentifikasikan adanya penurununan kapasitas
injeksi, tetapi juga dapat digunakan sebagai metode
untuk menentukan treatment atau prosedur
workover apa yang akan dilakukan untuk sumur
tersebut. Pada prosedur konvensional, jika
ditemukan adanya problem pada sumur melalui
Hall Plot, langsung dilakukan pengujian sumur
untuk menentukan nilai formation damage ataupun
nilai skin.

(1)

69

Pahmi Utamaraja Ginting, Taufan Marhaendrajana

TMNo.4/2009
mengetahui nilai skin factor atau formation damage
tanpa melakukan pengujian sumur.
Penelitian ini juga sangat membantu sebagai
metode untuk menentukan prosedur workover atau
treatment yang akan dilakukan pada sumur.
Sehingga diharapkan dengan adanya penelitian ini,
dapat menghemat waktu dan biaya yang
dibutuhkan untuk mengetahui efek damage pada
sumur.

The hall plot is constructed by plotting cumulative pressure


(cumulative product of average injection pressure and
injection days on a monthly basis) versus cumulative volume
of water injected.
Where :
A = Normal Injection
B = Wellbore stimulation (negative skin) or injection above the
parting pressure
C = Possible Channeling or out of zone injection
D = plugging (positive skin) or poor water water quality

Gambar 1. Hall Plot (Hall, 1963)


Hawe (1976) menjelaskan bahwa nilai formation
damage dapat diketahui tanpa melaksanakan
pengujian sumur yang memerlukan waktu yang
lama dan biaya yang mahal. Dengan cara
mengevaluasi data laju injeksi dan tekanan pada
waktu tertentu, dengan menggunakan kurva Hall
Plot, maka nilai formation damage bisa didapatkan.
Sehingga pengujian sumur tidak perlu lagi
dilakukan untuk menentukan nilai formatiaon
damage atau skin factor pada sumur tersebut.
Penulis ingin mengetahui apakah kurva Hall Plot
dapat digunakan juga untuk menentukan nilai
formation damage atau skin factor pada sumur
produksi sehingga pengujian sumur tidak
dibutuhkan lagi untuk mengetahui efek damage
pada sumur.
Hal tersebut melatarbelakagi penulisan penelitian
ini, yakni menentukan nilai formation damage atau
skin factor dari kurva Hall Plot tanpa menggunakan
analisis pressure build-up.
1.2 Tujuan dan Kepentingan Penelitian
Tujuan penulisan penelitian ini adalah apakah nilai
formation damage dapat ditentukan melalui kurva
Hall plot yang digunakan pada sumur produksi
dengan jenis fluida minyak tanpa menggunakan
analisis
pressure
build-upuntuk
keperluan
monitoring sumur produksi.
Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi
nantinya bagi para akademisi ataupun para
profesional dalam menentukan nilai skin factor atau
formation damage dengan menggunakan kurva
Hall plot. Dengan ini, diharapkan kita dapat

70

1.3 Evaluasi Formation Damage dengan Hall


Plot
Dalam setiap evaluasi formation damage, tujuan
utamanya adalah untuk mengetahui apakah terjadi
penurunan produktifitas sumur atau apakah ada
penambahan pressure loss akibat adanya skin. Oleh
karena itu nilai skin factor dihitung untuk
mengetahui seberapa seriuskah efek damage yang
terdapat pada sumur, pressure drop yang terdapat
karena adanya skin, dan memperkirakan jumlah
produksi yang dapat ditingkatkan. Dari indikasiindikasi ini, kita dapat memperkirakan treatment
atau prosedur workover apa yang dapat kita
lakukan.
Hall Plot untuk sumur injeksi menggunakan data
tekanan kepala sumur dan laju injeksi air. Pada
penelitian ini digunakan tekanan bawah sumur
dengan asumsi pressure loss yang terdapat
sepanjang tubing dianggap konstan dan
menggunakan laju alir fluida terproduksi. Pada
keadaan sebenarnya digunakan data tekanan kepala
sumur sehingga dapat mempermudah dalam
membuat kurva Hall Plot.
Penelitian ini menggunakan batasan bahwa fluida
yang terprosuksi seluruhnya adalah minyak. Dari
persamaan gradient yang sudah dijelaskan diatas,
persamaan tersebut diaplikasikan untuk fluida
minyak. Persamaannya menjadi :
m=

(2)

Kemudian terlihat bahwa gradient garis tersebut


berbanding terbalik dengan transmissibility (Tm),
dimana:
Tm =

(3)

Tm ~

(4)

dimana gradient tersebut mempunyai satuan


psi/bbl, dan transmissibilitas mempunyai satuan
mD-ft/cp, sehingga dibutuhkan nilai konstanta
konversi sebesar 29d2. maka persamaannya
menjadi:
Tm =(

)(

, )

(5)

Evaluasi Formation Damage dengan Menggunakan Hall Plot pada Sumur Produksi

atau
Tm =

(6)

Oleh karena itu, ketika dilakukan dengan


menggunakan Hall plot dan terjadi perubahan
gradient pada kurva tersebut menjadi meningkat,
maka dapat diperkirakan terjadi formation damage
pada sumur tersebut. Kedua gradient yang berbeda
ini merupakan kondisi ketika formation damage
belum dan sudah terjadi pada sumur yaitu m1 dan
m2. Nilai transmissibilitas pertama (Tm1) berasal
dari gradient yang pertama (m1) yaitu ketika
formation damage belum terjadi. Disini terlihat
jelas, bahwa gradien tidak berubah ketika belum
terjadi damage. Nilai transmissibity kedua (Tm2)
yang berasal dari gradient kedua (m2) merupakan
nilai
yang berasal
dari rata-rata nilai
transmissibilitas ketika formation damage telah
terjadi dan belum terjadi. Dengan didapatkannya
kedua nilai transmissibilitas ini (Tm1 dan Tm2),
maka formation damage dapat ditentukan seperti
pada Gambar 2 dan 3.
Oleh karena itu, masing-masing transmissibilitas
selanjutnya disebut menjadi:
Tm1 = Tme (transmissibilitas pada zona undamaged)
Tm2 = Tmavg (transmissibilitas rata-rata pada zona
damaged dan undamaged)
Setelah kedua nilai transmissibilitas diketahui,
maka kita mengasumsikan radius dari reservoir
yang terkena damage (ra). Nilai ra pada umumnya
berkisar tidak lebih dari tiga feet karena efek skin
hanya terasa pada sumur itu saja. Walaupun begitu,
seberapa besarpun nilainya, tidak memberikan
perubahan yang cukup signifikan pada nilai skin
factor yang didapatkan. Pada gambar tersebut dapat
dilihat dimana zona damaged.

Gambar 2. Lokasi zona damage

Gambar 3. Lokasi zona damage

Dengan asumsi nilai ra tersebut, kemudian dapat


ditentukan nilai transmissibilitas pada zona
damaged (Tma). Nilai Tma didapatkan dengan
menggunakan
korelasi
untuk
menghitung
permeabilitas rata-rata pada lapisan seri:
(7)

Kavg =
Persamaan ini menjadi:
Tmavg = Tm2 =

(8)

Kemudian disini didapatkan nilai dari Tma. Setelah


didapatkan nilai Tma, dan menggunakan asumsi ra
yang sudah ditentukan sebelumnya. Maka nilai
transmissibilitas dan ra disubstitusikan ke
persamaan untuk mendapatkan nilai skin:
S=

ln

(9)

menjadi:
(

S=

ln

(10)

1.4 Metodologi Pengerjaan


Dalam pengerjaan penelitian, prosedur yang
dilakukan adalah:
1. Membaca literatur-literatur yang bersangkutan
seperti paper, diktat, dan buku yang berkaitan
mengenai Hall Plot. Juga diperlukan membaca
literatur yang menyangkut tentang penentuan
formation damage.
2. Mempelajari penggunaan software terkait
seperti Petrel dan Eclipse.
3. Membuat model geologi dengan dengan grid
Cartesian dengan ukuran 40x40x10 (16000
cells).
4. Menggunakan data sintetis untuk data property
batuan dan fluida.
5. Melakukan simulasi dengan menggunakan
simulator Petrel untuk memodelkan adanya
formation damage dengan cara menggunakan PI
multiplier sebesar 0.01 pada interval 50055095
ft.
6. Membuat kurva Hall plot dari laju alir minyak
dan tekanan bawah sumur yang didapatkan dari
hasil simulasi.
7. Menghitung besarnya nilai skin factor atau
formation damage.
II. DATA DAN MODEL RESERVOIR
2.1 Input Data Reservoir
Tabel 1 dan 2 adalah properti-properti umum yang
digunakan dalam simulator Petrel. Data yang
digunakan adalah data sintetis yang umum di
lapangan.

71

Pahmi Utamaraja Ginting, Taufan Marhaendrajana

TMNo.4/2009
Tabel 1. Properti umum yang digunakan pada
model
Properti model reservoir
Nilai
Porositas
0,18
Permeability x
180 mD
Permeability Y
180 mD
Permeability Z
18 mD
Ukuran blok grid X
50 ft
Ukuran blok grid Y
50 ft
Ukuran blok grid Z
20 ft
Kedalaman puncak lapisan
5000 ft
Tabel 2. Properti fluida yang digunakan pada
model
Property fluida
Densitas minyak
54,643 lb/cuft
Densitas air
63,69 lb/cuft
Densitas gas
0,0506 lb/cuft
Tekanan referensi
3.118 psi
Bo @ tekanan referensi
1.2 rb/stb
Bw @ tekanan referensi
1 rb/stb
Kompresibilitas minyak
1,378e-05 psia-1
Kompresibilitas air
2,743E-06 psia-1
Viskositas
minyak
@tekanan referensi
1,1 cp
Viskositas air @tekanan
referensi
0,4 cp
Rs
354 scf/stb
Pb
2.000 psi
Kedalaman Datum
4.500 ft
WOC
5.300 ft
Untuk data karakteristik batuan dapat dilihat pada
Tabel 3 di bawah ini. Tabel 3 berikut berisikan nilai
permeabilitas relatif air dan minyak pada berbagai
harga saturasi.
Tabel 3. Nilai permeabilitas model
Sw
Krw
Kro
0.2
0
0.9
0.22
0
0.813
0.2925
0.0002
0.5446
0.365
0.0031
0.343
0.4375
0.0158
0.1985
0.51
0.05
0.1016
0.5825
0.1221
0.0429
0.655
0.2531
0.0127
0.7275
0.4689
0.0016
0.8
0.8
0
1
1
0

72

2.2 Deskripsi Reservoir


Reservoir ini dibuat dengan model sintetis
menggunakan parameter yang diasumsikan
homogeny. Tipe grid yang digunakan adalah grid
Cartesian.top reservoir berada pada kedalaman
5000 ft dengan saturasi merata sebesar 80% di
reservoir. Model pada Gambar 4 diasumsikan
dengan tidak menggunakan aquifer baik itu berasal
dari bawah ataupun dari samping zona minyak.
Pada kondisi awal, tidak ada saturasi gas pada
reservoir ini karena tekanan reservoir lebih besar
daripada tekanan gelembung minyak yaitu 2000
psi. akan tetapi, seiiring berjalannya produksi maka
aka nada gas yang diproduksikan karena terjadi
penurunan tekanan reservoir.
Perforasi dilakukan sepanjang 100 ft pada interval
5000-5100 ft dan diberikan PI multiplier sebesar
0.01 untuk mensimulasikan adanya formation
damage pada sumur.

Gambar 4. Model Reservoir


2.3 Simulasi Reservoir
Reservoir disimulasikan dengan cara reservoir
diproduksikan selama waktu 1 tahun untuk
mensimulasikan kegiatan produksi pada umumnya
dengan tidak ada batasan laju alir. Hal ini
membuat reservoir seolah-olah
mempunyai
performa yang sama seperti pompa yang digunakan
untuk menginjeksikan air ke formasi. Pada bulan
kelima nilai produktifitas dikalikan dengan 0.01,
yang menghasilkan rate sumur menurun secara
drastis. Hal ini memodelkan terjadinya efek
damage pada sumur. Beranjak dari hal ini, data
tekanan bawah sumur dan kumulatif produksi
digunakan untuk membuat kurva Hall Plot. Dengan
kurva Hall Plot ini, dihitung berapa besar nilai skin
factor atau formation damage yang terdapat pada
sumur
III. HASIL SIMULASI DAN ANALISIS
Evaluasi formation damage menggunakan Hall Plot
seperti pada Gambar 5.

Evaluasi Formation Damage dengan Menggunakan Hall Plot pada Sumur Produksi

Dari nilai PI dihitung nilai skin yang terdapat pada


model untuk memvalidasi apakah terjadi formation
damage. Dengan asumsi reservoir telah berada
pada keadaan pseudo steady state:
PI2 = 0,01 PI1

Hall Plot

80000
m2 = 0.223

BHP (psi)

60000

141,2

40000
m1 = 0.028.8

20000

ln(

3
)4+

= 0,01
141,2

ln

0
0

500000

1000000

1500000

b.

3
)4
3
ln( ) +
4
1128,66
3
ln( 0,5 )
4
ln(

Menghitung nilai transmissibilitas dengan


menggunakan persamaan 6:
Tm1=

( ,

Tm2 =
c.

( ,

)( . )

( ,
)( , )

= 1603,1 mD-ft/cp

)
,

( ,

= 201,28 mD-ft/cp

Menghitung nilai transmissibilitas pada zona


damaged (Tma) dengan menggunakan
persamaan 8.

d.
Disini kita menggunakan asumsi ra = 2 ft
(

201,282 =

,
,

)
(

Maka,
= 40,285
e.

Kemudian menghitung nilai skin factor dengan


menggunakan persamaan 10,
=

(1603,073 40,285)
2
= 53,77
ln
40,285
0,5

Dari hasil perhitungan terlihat bahwa sumur


mempunyai nilai skin factor positif sebesar +53,77.
Nilai skin factor ini menunjukkan bahwa sumur
mengalami formation damage yang cukup
signifikan.

3
4+

Dengan asumsi S1 = 0, maka

Gambar 5. Hall plot hasil simulasi


Dari kurva tersebut terlihat bahwa terjadi
perubahan gradient. Hal tersebut mengindikasikan
bahwa adanya efek formation damage terdapat
pada sumur tersebut. Maka gradient tersebut
dihitung untuk dua periode tersebut. Kemudian
dilakukan prosedur perhitungan untuk menghitung
besar skin factor dari sumur tersebut;
a. Menghitung gradient sebelum dan setelah
terjadi formation damage
Dari Gambar 4:
m1 (sebelum terjadi perubahan) = 0.028
psi/bbl
m2 (setelah terjadi perubahan) = 0.223 psi/bbl

1128,66
3
ln( 0,5 ) +
4

= 0.01

= 0.01

S2 = 690,221
Dari hal ini dapat diperhatikan bahwa skin yang
didapatkan bernilai positif juga, nilai ini
menunjukkan bahwa sumur memang benar
mengalami formation damage.
Besarnya nilai skin yang didapatkan dari analisis
dengan menggunakan Hall Plot dan dengan
menggunakan nilai PI terlihat berbeda cukup
signifikan. Hal ini dapat disebabkan adanya
perbedaan asumsi keadaan yang digunakan, bisa
saja sumur masih mengalami keadaan transient
pada saat tersebut. Dan juga dapat disebabkan
pengaruh karakteristik fluida yang seharusnya
berubah pada setiap perubahan tekanan.
Pada penelitian ini, fluida yang digunakan untuk
evaluasi ini hanya satu fasa saja yaitu fasa minyak.
Adanya fasa air kemungkinan dapat menyebabkan
seolah-olah terjadi skin pada daerah sumur karena
masuknya air dapat menghambat laju alir total
fluida. Adanya fasa gas dapat membuat kurva pada
hall plot menjadi tidak lurus-hal ini bisa dilihat
pada gambar kurva hall plot pada latar belakangkarena adanya efek gas tersebut yang mengisi poripori batuan terlebih dahulu.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian
ini adalah :
1. Kurva Hall Plot dapat juga digunakan pada
sumur produksi, dan digunakan untuk
mengidentifikasi apakah terjadi formation
damage apabila gradien kurva berubah.

73

Pahmi Utamaraja Ginting, Taufan Marhaendrajana

TMNo.4/2009
2.

Kurva Hall Plot dapat dijadikan prosedur


untuk menentukan apakah sebaiknya dilakukan
workover atau tidak pada sumur dalam rangka
monitoring sumur produksi.
4.2 Saran
Saran untuk ke depan dalam melakukan penelitian
lebih lanjut terhadap topik ini ialah:
1. Sebaiknya digunakan data lapangan untuk
mendapatkan hasil yang lebih valid.
2. Menggunakan kurva Hall Plot untuk melihat
seberapa kuat driving mechanism reservoir.

UCAPAN TERIMA KASIH


Saya mengucapkan terima kasih kepada
Schlumberger karena telah memberikan lisensi
software Petrel dan eclipse sehingga saya dapat
menggunakan software tersebut dalam pengerjaan
penelitian ini.

74

DAFTAR PUSTAKA
1. Hall, H. N., 1963. How to Analyze Waterflood
Injection Well Performance, World Oil 128130.
2. Hawe, D. E., 1976. Direct Aproach Through
Hall Plot Evaluation Improves the Accuracy Of
Formation Damage Calculations And Eliminate
Pressure Fall Of Testing, SPE paper 5985.
DAFTAR SIMBOL
= viskositas air, cp
= formation volume factor air, bbl/stb
= viskositas minyak, cp
= formation volume factor minyak, cp
= radius pengurasan, ft
= radius lubang sumur, ft
= radius zona damage, ft
k
= permeabilitas, mD
Tm
= transmissibilitas, mD-ft/cp
S
= skin factor