Anda di halaman 1dari 10

C.

FAKTOR/ POTENSI BAHAYA DI TEMPAT KERJA

Untuk menghindari dan meminimalkan kemungkinan terjadinya potensi bahaya di


tempat kerja, Pengenalan potensi bahaya di tempat kerja merupakan dasar untuk
mengetahui pengaruhnya terhadap tenaga kerja, serta dapat dipergunakan untuk
mengadakan upaya-upaya pengendalian dalam rangka pencegahan penyakit akibat kerja
yagmungkin terjadi. Secara umum, potensi bahaya lingkungan kerja dapat berasal atau
bersumber dari berbagai faktor, antara lain :
1) faktor teknis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau terdapat pada peralatan kerja
yang digunakan atau dari pekerjaan itu sendiri;
2) faktor lingkungan, yaitu potensi bahaya yang berasal dari atau berada di dalam
lingkungan, yang bisa bersumber dari proses produksi termasuk bahan baku, baik produk
antara maupun hasil akhir;
3) faktor manusia, merupakan potensi bahaya yang cukup besar terutama apabila
manusia yang melakukan pekerjaan tersebut tidak berada dalam kondisi kesehatan yang
prima baik fisik maupun psikis.
Potensi bahaya di tempat kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dapat
dikelompokkan antara lain sebagai berikut :
2. Potensi bahaya kimia, yaitu potensi bahaya yang berasal dari bahan-bahan kimia
yang digunakan dalam proses produksi. Potensi bahaya ini dapat memasuki atau
mempengaruhi tubuh tenga kerja melalui : inhalation (melalui pernafasan), ingestion
(melalui mulut ke saluran pencernaan), skin contact (melalui kulit). Terjadinya
pengaruh potensi kimia terhadap tubuh tenaga kerja sangat tergantung dari jenis
bahan kimia atau kontaminan, bentuk potensi bahaya debu, gas, uap. asap; daya acun
bahan (toksisitas); cara masuk ke dalam tubuh. Jalan masuk bahan kimia ke dalam
tubuh dapat melalui:
Pernapasan ( inhalation ),
Kulit (skin absorption )
Tertelan ( ingestion )
Racun dapat menyebabkan efek yang bersifat akut,kronis atau kedua-duanya.
Adapun potensi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh bahan kimia adalah
a) Korosi

Bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan pada permukaan tempat
dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem pencernaan adalah bagain tubuh yang
paling umum terkena.

Contoh : konsentrat asam dan basa , fosfor.


b) Iritasi

Iritasi menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat kontak. Iritasi kulit bisa
menyebabkan reaksi seperti eksim atau dermatitis. Iritasi pada alat-alat pernapasan yang
hebat dapat menyebabkan sesak napas, peradangan dan oedema ( bengkak )

Contoh :
Kulit : asam, basa,pelarut, minyak .
Pernapasan : aldehydes, alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide,
phosgene, chlorine ,bromine, ozone.

c) Reaksi Alergi

Bahan kimia alergen atau sensitizers dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit
atau organ pernapasan

Contoh :
Kulit : colophony ( rosin), formaldehyde, logam seperti chromium atau
nickel, epoxy hardeners, turpentine.
Pernapasan : isocyanates, fibre-reactive dyes, formaldehyde, nickel.
d) Asfiksiasi

Asfiksian yang sederhana adalah inert gas yang mengencerkan atmosfer yang ada,
misalnya pada kapal, silo, atau tambang bawah tanah. Konsentrasi oksigen pada udara
normal tidak boleh kurang dari 19,5% volume udara.

Asfiksian kimia mencegah transport oksigen dan oksigenasi normal pada darah atau
mencegah oksigenasi normal pada kulit.

Contoh :
Asfiksian sederhana : methane, ethane, hydrogen, helium
Asfiksian kimia : carbon monoxide, nitrobenzene, hydrogen cyanide,
hidrogen sulphide
e) Kanker

Karsinogen pada manusia adalah bahan kimia yang secara jelas telah terbukti pada
manusia.

Kemungkinan karsinogen pada manusia adalah bahan kimia yang secara jelas sudah
terbukti menyebabkan kanker pada hewan .

Contoh :
o Terbukti karsinogen pada manusia : benzene ( leukaemia); vinylchloride ( liver
angiosarcoma) ; 2-naphthylamine, benzidine (kanker kandung kemih ); asbestos (kanker
paru-paru , mesothelioma);
o Kemungkinan karsinogen pada manusia : formaldehyde, carbon tetrachloride,
dichromates, beryllium
f)
Efek Reproduksi

Bahan-bahan beracun mempengaruhi fungsi reproduksi dan seksual dari seorang


manusia.

Perkembangan bahan-bahan racun adalah faktor yang dapat memberikan pengaruh


negatif pada keturunan orang yang terpapar, sebagai contoh :aborsi spontan.

Contoh :
Manganese, carbondisulphide, monomethyl dan ethyl ethers dari ethylene
glycol, mercury. Organic mercury compounds, carbonmonoxide, lead,
thalidomide, pelarut.
g) Racun Sistemik

Racun sistemik adalah agen-agen yang menyebabkan luka pada organ atau sistem
tubuh.

Contoh :
Otak : pelarut, lead, mercury, manganese
Sistem syaraf peripheral : n-hexane, lead, arsenic, carbon disulphide
Sistem pembentukan darah : benzene, ethylene glycol ethers
Ginjal : cadmium, lead, mercury, chlorinated hydrocarbons
Paru-paru : silica, asbestos, debu batubara ( pneumoconiosis )

3. Potensi bahaya biologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh
kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara yang berasal dari atau bersumber
pada tenaga kerja yang menderita penyakit-penyakit tertentu, misalnya : TBC,
Hepatitis A/B, Aids,dll maupun yang berasal dari bahan-bahan yang digunakan
dalam proses produksi. Dimana pun Anda bekerja dan apa pun bidang pekerjaan
Anda, faktor biologi merupakan salah satu bahaya yang kemungkinan ditemukan
ditempat kerja. Maksudnya faktor biologi eksternal yang mengancam kesehatan
diri kita saat bekerja. Namun demikian seringkali luput dari perhatian, sehingga
bahaya dari faktor ini tidak dikenal, dikontrol, diantisipasi dan cenderung
diabaikan sampai suatu ketika menjadi keadaan yang sulit diperbaiki. Faktor
biologi ditempat kerja umumnya dalam bentuk mikro organisma sebagai berikut :
a) Bakteri
Bakteri mempunyai tiga bentuk dasar yaitu bulat (kokus), lengkung dan batang (basil).
Banyak bakteri penyebab penyakit timbul akibat kesehatan dan sanitasi yang buruk,
makanan yang tidak dimasak dan dipersiapkan dengan baik dan kontak dengan hewan
atau orang yang terinfeksi. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh bakteri : anthrax, tbc,
lepra, tetanus, thypoid, cholera, dan sebagainya.
b) Virus
Virus mempunyai ukuran yang sangat kecil antara 16 - 300 nano meter. Virus tidak
mampu bereplikasi, untuk itu virus harus menginfeksi sel inangnya yang khas. Contoh
penyakit yang diakibatkan oleh virus : influenza, varicella, hepatitis, HIV, dan
sebagainya.
c) Jamur
Jamur dapat berupa sel tunggal atau koloni, tetapi berbentuk lebih komplek karena
berupa multi sel. Mengambil makanan dan nutrisi dari jaringan yang mati dan hidup dari
organisme atau hewan lain.
d) Mikroorganisme penyebab penyakit di tempat kerja
Beberapa literatur telah menguraikan infeksi akibat organisme yang mungkin ditemukan
di tempat kerja, diantaranya :
Daerah pertanian
Llingkungan pertanian yang cenderung berupa tanah membuat pekerja dapat terinfeksi
oleh mikroorganisme seperti : Tetanus, Leptospirosis, cacing, Asma bronkhiale atau
keracunan Mycotoxins yang merupakan hasil metabolisme jamur.
Di lingkungan berdebu (Pertambangan atau pabrik)
Di tempat kerja seperti ini, mikroorganisme yang mungkin ditemukan adalah bakteri
penyebab penyakit saluran napas, seperti : Tbc, Bronchitis dan Infeksi saluran pernapasan
lainnya seperti Pneumonia.
Daerah peternakan terutama yang mengolah kulit hewan serta produk-produk dari
hewan
Penyakit-penyakit yang mungkin ditemukan di peternakan seperti ini misalnya : Anthrax
yang penularannya melalui bakteri yang tertelan atau terhirup, Brucellosis, Infeksi
Salmonella.
Di Laboratorium

Para pekerja di laboratorium mempunyai risiko yang besar terinfeksi, terutama untuk
laboratorium yang menangani organisme atau bahan-bahan yang megandung organisme
pathogen
Di Perkantoran : terutama yang menggunakan pendingin tanpa ventilasi alami
Para pekerja di perkantoran seperti itu dapat berisiko mengidap penyakit seperti :
Humidifier fever yaitu suatu penyakit pada saluran pernapasan dan alergi yang
disebabkan organisme yang hidup pada air yang terdapat pada system pendingin,
Legionnaire disease penyakit yang juga berhubungan dengan sistem pendingin dan akan
lebih berbahaya pada pekerja dengan usia lanjut.
Cara penularan kedalam tubuh manusia
Banyak dari mikroorganisme ini dapat menyebabkan penyakit hanya setelah masuk
kedalam tubuh manusia dan cara masuknya kedalam tubuh, yaitu :
1. Melalui saluran pernapasan
2. Melalui mulut (makanan dan minuman)
3. Melalui kulit apabila terluka
Mengontrol bahaya dari faktor biologi
Faktor biologi dan juga bahaya-bahaya lainnya di tempat kerja dapat dihindari dengan
pencegahan antara lain dengan :
1. Penggunaan masker yang baik untuk pekerja yang berisiko tertular lewat debu yang
mengandung organism patogen
2. Mengkarantina hewan yang terinfeksi dan vaksinasi
3. Imunisasi bagi pekerja yang berisiko tertular penyakit di tempat kerja
4. Membersihkan semua debu yang ada di sistem pendingin paling tidak datu kali
setiap bulan
5. Membuat sistem pembersihan yang memungkinkan terbunuhnya mikroorganisme
yang patogen pada system pendingin.
Dengan mengenal bahaya dari faktor biologi dan bagaimana mengotrol dan mencegah
penularannya diharapkan efek yang merugikan dapat dihindari.
4. Potensi bahaya fisiologis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau yang
disebabkan oleh penerapan ergonomi yang tidak baik atau tidak sesuai dengan
norma-norma ergonomi yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan serta peralatan
kerja, termasuk : sikap dan cara kerja yang tidak sesuai, pengaturan kerja yang
tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan pekerja ataupun
ketidakserasian antara manusia dan mesin.
Pembebanan Kerja Fisik

Beban kerja fisik bagi pekerja kasar perlu memperhatikan kondisi iklim, sosial
ekonomi dan derajat kesehatan.

Pembebanan tidak melebihi 30 40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga


kerja dalam jangka waktu 8 jam sehari.

Berdasarkan hasil beberapa observasi, beban untuk tenaga Indonesia adalah 40 kg.
Bila mengangkat dan mengangkut dikerjakan lebih dari sekali maka beban maksimum
tersebut harus disesuaikan.


Oleh karena penetapan kemampuan kerja maksimum sangat sulit, parameter praktis
yang digunakan adalah pengukuran denyut nadi yang diusahakan tidak melebihi 30-40
permenit di atas denyut nadi sebelum bekerja.
A. Ergonomi
Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang secara sistematis memanfaatkan
informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk
merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu
dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan
efektif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai hasil yang optimal, perlu diperhatikan
performansi pekerjanya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah postur dan
sikap tubuh pada saat melakukan aktivitas tersebut. Hal tersebut sangat penting untuk
diperhatikan karena hasil produksi sangat dipengaruhi oleh apa yang dilakukan
pekerja. Bila postur kerja yang digunakan pekerja salah atau tidak ergonomis, pekerja
akan cepat lelah sehingga konsentrasi dan tingkat ketelitiannya menurun. Pekerja
menjadi lambat, akibatnya kualitas dan kuantitas hasil produksi menurun yang pada
akhirnya menyebabkan turunnya produktivitas.
Menurut Mira (2009) ada beberapa aspek dalam penerapan ergonomi yang perlu
diperhatikan, antara lain :
1. Faktor manusia
Penataan dalam sistem kerja menuntut faktor manusia sebagai pelaku/pengguna
menjadi titik sentralnya. Pada bidang rancang bangun dikenal istilah Human Centered
Design (HCD) atau perancangan berpusat pada manusia. Perancangan dengan prinsip
HCD, berdasarkan pada karakter-karakter manusia yang akan berinteraksi dengan
produknya. Sebagai titik sentral maka unsur keterbatasan manusia haruslah menjadi
patokan dalam penataan suatu produk yang ergonomis.
Ada beberapa faktor pembatas yang tidak boleh dilampaui agar dapat bekerja
dengan aman, nyaman dan sehat, yaitu : faktor dari dalam (internal factors) dan faktor
dari luar (external factor). Tergolong dalam faktor dari dalam (internal factors) ini
adalah yang berasal dari dalam diri manusia seperti : umur, jenis kelamin, kekuatan
otot, bentuk dan ukuran tubuh, dll. Sedangkan faktor dari luar (external factor) yang
dapat mempengaruhi kerja atau berasal dari luar manusia, seperti : penyakit, gizi,
lingkungan kerja, sosial ekonomi dan adat istiadat, dll.
2. Faktor Anthropometri
Anthropometri yaitu pengukuran yang sistematis terhadap tubuh manusia,
terutama seluk beluk baik dimensional ukuran dan bentuk tubuh manusia.
Antropometri yang merupakan ukuran tubuh digunakan untuk merancang atau
menciptakan suatu sarana kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh penggunanya.
Ukuran alat kerja menentukan sikap, gerak dan posisi tenaga kerja, dengan demikian
penerapan antropometri mutlak diperlukan guna menjamin adanya sistem kerja yang

baik. Ukuran alat-alat kerja erat kaitannya dengan tubuh penggunanya. Jika alat-alat
tersebut tidak sesuai, maka tenaga kerja akan merasa tidak nyaman dan akan lebih
lamban dalam bekerja yang dapat menimbulkan kelelahan kerja atau gejala penyakit
otot yang lain akibat melakukan pekerjaan dengan cara yang tidak alamiah.
3. Faktor Sikap Tubuh dalam Bekerja
Hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya terhadap sarana kerja akan
menentukan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, selain SOP (Standard
Operating Procedures) yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan. Semua sikap tubuh
yang tidak alamiah dalam bekerja, misalnya sikap menjangkau barang yang melebihi
jangkauan tangannya harus dihindarkan. Penggunaan meja dan kursi kerja ukuran
baku oleh orang yang memiliki ukuran tubuh yang lebih tinggi atau sikap duduk yang
terlalu tinggi sedikit banyak akan berpengaruh terhadap hasil kerjanya.
4. Faktor Manusia dan Mesin
Penggunaan teknologi dalam pelaksanaan produksi akan menimbulkan suatu
hubungan timbal balik antara manusia sebagai pelaku dan mesin sebagai sarana
kerjanya. Dalam proses produksi, hubungan ini menjadi sangat erat sehingga
merupakan satu kesatuan. Secara ergonomis, hubungan antara manusia dengan mesin
haruslah merupakan suatu hubungan yang selaras, serasi dan sesuai.
5. Faktor Pengorganisasian Kerja
Pengorganisasian kerja terutama menyangkut waktu kerja, waktu istirahat, kerja
lembur dan lainnya yang dapat menentukan tingkat kesehatan dan efisiensi tenaga
kerja. Diperlukan pola pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat yang baik,
terutama untuk kerja fisik yang berat. Jam kerja selama 8 (delapan) jam/hari
diusahakan sedapat mungkin tidak terlampaui, apabila tidak dapat dihindarkan, perlu
diusahakan group kerja baru atau perbanyakkan kerja shift. Untuk pekerjaan lembur
sebaiknya ditiadakan, karena dapat menurunkan efisiensi dan produktivitas kerja serta
meningkatnya angka kecelakaan kerja dan sakit.
6. Faktor Pengendalian Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang manusiawi merupakan faktor pendorong bagi kegairahan
dan efisiensi kerja. Sedangkan lingkungan kerja yang buruk (melampaui nilai ambang
batas yang telah ditetapkan), yang melebihi toleransi manusia untuk menghadapinya,
tidak hanya akan menurunkan produktivitas kerja tetapi juga akan menyebabkan
penyakit akibat kerja, kecelakaan kerja, pencemaran lingkungan sehingga tenaga
kerja dalam melaksanakan pekerjaannya tidak mendapat rasa aman, nyaman, sehat
dan selamat.
B. Anthropometri
Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi tubuh
manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan ukuran
persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang terkecil sampai terbesar dalam

suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan dari 1 persentil sampai 100 persentil.
Data dimensi manusia ini sangat berguna dalam perancangan produk dengan tujuan
mencari keserasian produk dengan manusia yang memakainya. Pemakaian data
antropometri mengusahakan semua alat disesuaikan dengan kemampuan manusia,
bukan manusia disesuaikan dengan alat. Rancangan yang mempunyai kompatibilitas
tinggi dengan manusia yang memakainya sangat penting untuk mengurangi
timbulnya bahaya akibat terjadinya kesalahan kerja akibat adanya kesalahan disain
(design-induced error).
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan anthropometri:
1. Menentukan dimensi tubuh yang penting dalam suatu desain.
2. Mengetahui secara pasti populasi yang akan menggunakan desain tersebut.
3. Menentukan prinsip aplikasi yang akan digunakan dengan perencanaan
distribusi ekstrim.
4. Desain harus digunakan 90%-95% dari suatu populasi.
5. Harus bisa menentukan nilai kelonggaran.
Penerapan data anthropometri dapat dilakukan jika ada nilai mean (rata-rata dan
standart deviasi dari suatu populasi tenaga kerja) dan persentil (suatu yang
menyatakan bahwa presentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya
sama/lebih rendah dari nilai tersebut). Anthropometri ada dua tipe, yaitu:
a. Anthropometri dinamis
Adalah pengukuran gerak tubuh untuk melaksanakan pekerjaan yang
sesuai antara gerak benda dan gerak tubuh, agar tenaga kerja dapat bekerja
secara maksimal.
b. Anthropometri statis
Adalah pengukuran ukuran tubuh manusia, dimana ukuran tubuh tersebut
digunakan untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya yang
menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan gerakangerakan yang dibutuhkan.
Pertimbangan untuk perancangan dalam anthropometri :

Umur
Jenis kelamin
Suku bangsa
Posisi tubuh
Cacat tubuh
Tebal/tipisnya pakaian
Kehamilan

Anthropometri merupakan suatu pengukuran sistematis terhadap tubuh manusia


terutama seluk beluk dimensional ukuran dan bentuk tubuh manusia. Anthropometri
yang merupakan ukuran tubuh digunakan untuk merancang atau menciptakan suatu

bentuk rancangan bangun yang disebut sebagai suatu rancang bangun yang
ergonomis. Anthropometri berkaitan dengan ukuran tubuh yang sangat bervariasi.
Data-data mengenai ukuran tubuh manusia penting untuk desain ruang dan alat kerja.
Ukuran tubuh manusia tergantung pada usia, jenis kelamin, keturunan, status Gizi,
dan kesehatan.
Pada lingkungan pabrik yang serba otomatispun manusia masih harus membuat
mesin dan produk yang dihasilkan lewat jalur perakitan yang dirancang bagi manusia
sebagai penggunaannya. Ukuran alat kerja menentukan sikap, gerak dan posisi kerja
tenaga kerja, dengan demikian penerapan antropometri mutlak diperlukan untuk
menjamin adanya sistem yang baik
Pekerjaan sejauh mungkin harus dilakukan sambil duduk. Keuntungan bekerja
sambil duduk menurut Sumamur (1982) adalah sebagai berikut :
a. Kurangnya kelelahan pada kaki.
b. Terhindarnya sikap-sikap yang tidak alamiah.
c. Berkurangnya pemakaian energi.
d. Kurangnya tingkat keperluan sirkulasi darah .
Namun begitu, terdapat pula kerugian-kerugian sebagai akibat bekerja sambil
duduk, yaitu :
a. Melembeknya otot-otot perut.
b. Melengkungnya punggung.
c. Tidak baik bagi alat-alat dalam, khususnya peralatan pencernaan, jika
posisi dilakukan secara membungkuk (Sumamur, 1982 : 42).
Atas dasar ukuran-ukuran yang dimiliki, ukuran tempat duduk menurut Sumamur
1982 : 44 adalah :
a. Tinggi alas duduk sebaiknya dapat disetel di antara 38 - 48 cm (pakai
tambah alas kaki).
b. Topangan pinggang dapat distel ke atas ke bawah dan begerak 8 - 12 cm di
atas alas duduk.
c. Dalamnya topangan pinggang adalah 35 sampai 38 dari ujung depan alas
duduk.
d. Dalamnya alas duduk 36 cm.
e. Kursi harus stabil dan tidak goyang atau bergerak
f. Kursi harus memungkinkan cukup kebebasan bagi gerakan khusus
pemakainya.
Agar stabil, sebaiknya dipergunakan kursi berkaki empat dan menggunakan
sandaran kaki. Topangan pinggang dianjurkan lebih dari 10 cm, agar dapat
melakukan gerakan yang bebas. Untuk kursi kerja, sandaran tangan tidak diadakan
agar gerakan dapat dilakukan dengan bebas. Perasaan tegangan di paha dihilangkan
dengan tinggi alas kursi yang tepat. Alas harus empuk dan ujung depannya tidak
tajam.

Sikap dan sistem kerja yang ergonomis memungkinkan berkurangnya tingkat


kelelahan tenaga kerja. Sikap tubuh dalam bekerja selalu diusahakan dilaksanakan
dengan duduk atau dalam sikap duduk dan sikap berdiri secara bergantian. Oleh
karena itu, sistem kerja berdiri sebaiknya diganti dengan sistem kerja duduk.
Sikap duduk yang benar yaitu sebaiknya duduk dengan punggung lurus dan bahu
berada dibelakang serta bokong menyentuh belakang kursi. Caranya, duduk diujung
kursi dan bungkukkan badan seolah terbentuk huruf C. Setelah itu tegakkan badan
buatlah lengkungan tubuh sebisa mungkin. Tahan untuk beberapa detik kemudian
lepaskan posisi tersebut secara ringan (sekitar 10 derajat). Posisi duduk seperti inilah
yang terbaik. Duduklah dengan lutut tetap setinggi atau sedikit lebih tinggi panggul
(gunakan penyangga kaki) dan sebaiknya kedua tungkai tidak saling menyilang. Jaga
agar kedua kaki tidak menggantung dan hindari duduk dengan posisi yang sama
lebih dari 20-30 menit. Selama duduk, istirahatkan siku dan lengan pada kursi, jaga
bahu tetap rileks
5. Potensi bahaya Psiko-sosial, yaitu potensi bahaya yang berasal atau ditimbulkan
oleh kondisi aspek-aspek psikologis keenagakerjaan yang kurang baik atau
kurang mendapatkan perhatian seperti : penempatan tenaga kerja yang tidak
sesuai dengan bakat, minat, kepribadian, motivasi, temperamen atau
pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja yang tidak sesuai,
kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya sebagai
akibat kurangnya latihan kerja yang diperoleh, serta hubungan antara individu
yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam organisasi kerja. Kesemuanya tersebut
akan menyebabkan terjadinya stress akibat kerja.
Stress

Stress adalah tanggapan tubuh (respon) yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap
tuntutan atasnya. Manakala tuntutan terhadap tubuh itu berlebihan, maka hal ini
dinamakan stress.

Gangguan emosional yang di timbulkan : cemas, gelisah, gangguan kepribadian,


penyimpangan seksual, ketagihan alkohol dan psikotropika.

Penyakit-penyakit psikosomatis antara lain : jantung koroner, tekanan darah tinggi,


gangguan pencernaan, luka usus besar, gangguan pernapasan, asma bronkial, penyakit
kulit seperti eksim,dll.
6. Potensi bahaya dari proses produksi, yaitu potensi bahaya yang berasal atau
ditimbulkan oleh bebarapa kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi, yang
sangat bergantung dari: bahan dan peralatan yang dipakai, kegiatan serta jenis
kegiatan yang dilakukan. Potensi bahaya keselamatan terdapat pada alat/mesin,
serta bahan yang digunakan dalam proses produksi, seperti forklift (tertabrak),
gancu (tertusuk), pallet (tertimpa), dan bahan baku (tertimpa, terjatuh dari
tumpukan bahan baku), feed additive (kerusakan mata akibat terkena debu feed
additive), cutter, mesin bubut/las (kerusakan mata akibat terpercik geram, lecet
akibat terkena part panas, dan kerusakan paru-paru akibat terhirup debu las), luka

bakar akibat kebocoran gas, terjepit part, semburan panas dari blow down
otomatis, kebakaran, dan peledakan.

DAFTAR PUSTAKA
Bung okles. 2008. Pengenalan Bahaya Di Lingkungan Kerja
http://okleqs.wordpress.com/2008/05/23/pengenalan-bahaya-di-lingkungan-kerja/.
Diakses 08 November 2011
Posted:
Mei
23,
2008
in
IDENTIFIKASI
BAHAYA.
http://okleqs.wordpress.com/category/identifikasi-bahaya/ Diakses 08 November 2011
Rusli Mustar.2008. Pengaruh Kebisingan Dan Getaran Terhadap Perubahan Tekanan
Darah
Masyarakat Yang Tinggal Di Pinggiran Rel Kereta Api Lingkungan Xiv Kelurahan Tegal
Sari Kecamatan Medan Denai Tahun 2008.Managemen Kesehatan Lingkungan
Industri.USU. Sumatera Utara.
Aria Gusti. 7 Januari 2011 Manajemen Risiko dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
http://ariagusti.wordpress.com/2011/01/07/manajemen-risiko-dalam-keselamatandan-kesehatan-kerja/ Diakses 17 Desember 2011
http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2016489-radiasi-pengertian-jenis-jenisdan/#ixzz1fpWSbEW8
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23650/4/Chapter%20II.pdf
Pengaruh Sikap Kerja Duduk pada Kursi Kerja yang Tidak Ergonomis Terhadap Keluhan
Otot-Otot Skeletal Bagi Pekerja Wanita Bagian Mesin Cucuk di PT Iskandar Indah
Printing Textile Surakarta; Program DIV Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran
Universitas
Sebelas
Maret
Surakarta
2010;
diunduh
dari
(http://eprints.uns.ac.id/6708/1/143641308201003121.pdf)
Sumamur PK. 1994. Hiperkes Keselamatan Kerja dan Ergonomi. Dharma Bakti Muara
Agung. Jakarta.