Anda di halaman 1dari 8

PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PENGUASAAN KONSEP

SAINS DENGAN PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DALAM PEMBELAJARAN


IPA DENGAN TEMA PENCEMARAN AIR PADA KELAS VII F SMPN 1
PRAMBANAN TAHUN AJARAN 2012/2013
1)

Koniawan Fajar R. 2)Dr. Sukardiyono 2)Maryati, M.Si.


1)

Mahasiswa Pendidikan IPA FMIPA UNY


2)
Dosen Pembimbing Skripsi
+6285643554648
FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Email: conny_awan@yahoo.co.id

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui penerapan metode eksperimen dan aspek-aspek yang
optimal dalam metode eksperimen yang dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan
penguasaan konsep sains siswa pada pembelajaran IPA dengan tema Pencemaran Air pada siswa
kelas VII F SMPN 1 Prambanan. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
melalui tahap-tahap yang disampaikan Kemmis & Mc Taggart sebagai berikut: perencanaan
tindakan, pelaksanaan tindakan dan pengamatan, serta refleksi. Subjek penelitian adalah siswa
kelas VII F SMPN 1 Prambanan yang berjumlah 32 siswa. Peneliti bertindak sebagai observer dan
guru sebagai pelaksana PTK. Instrumen pengambilan data meliputi: lembar observasi keterampilan
proses untuk mengukur keterampilan proses, soal keterampilan proses untuk mengukur jumlah
siswa yang mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) keterampilan proses, soal
penguasaan konsep untuk mengukur penguasaan konsep siswa dari aspek kognitif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan metode eksperimen yang optimal dalam meningkatkan
keterampilan proses dan penguasaan konsep siswa yaitu diawali dengan guru mengidentifikasi dan
merumuskan masalah, guru kemudian merencanakan eksperimen, guru membimbing siswa dalam
melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data, guru membimbing siswa dalam melakukan
analisis data, serta guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. Rerata keterampilan
proses pada Siklus I sebesar 2,06 (kategori rendah) dimana hanya 3,57% siswa yang mencapai nilai
KKM. Guru kemudian melakukan tindakan berupa membimbing siswa secara intensif pada tahap
melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data sehingga perolehan keterampilan proses dapat
meningkat pada Siklus II menjadi 3,56 (kategori sangat tinggi) dimana 96,43% siswa sudah mencapai
nilai KKM. Rerata nilai penguasaan konsep sains pada siklus I masih rendah yaitu sebesar 56,61
(21,43% siswa mencapai nilai KKM) dimana gain skor hanya sebesar 0,24 (kategori rendah). Guru
kemudian melakukan tindakan berupa membimbing siswa pada tahap melaksanakan eksperimen
dan mengumpulkan data serta tindakan guru berupa menjelaskan kembali konsep-konsep sains
yang telah dipelajari pada tahap membuat kesimpulan sehingga nilai rata-rata penguasaan konsep
sains siswa pada siklus II meningkat menjadi 72,14 (60,71% siswa mencapai nilai KKM) dimana
gain skor pada Siklus II sebesar 0,39 (kategori sedang). Dengan demikian, penerapan metode
eksperimen yang optimal meningkatkan keterampilan proses dan penguasaan konsep siswa yaitu
guru melakukan tindakan berupa membimbing siswa pada tahap melaksanakan eksperimen dan
mengumpulkan data serta tindakan guru berupa menjelaskan kembali konsep-konsep yang telah
dipelajari pada tahap membuat kesimpulan.
Kata kunci: metode eksperimen, keterampilan proses sains, penguasaan konsep sains
ABSTRACT
This research aims to know the application of experiment method and the optimal aspects of
this method that can improve science process skills and science concepts mastery in science
learning with theme "Pencemaran Air" in class VII F SMPN1 Prambanan. This research is
Classroom Action Research (CAR) through stages that presented by Kemmis & Mc Taggart as
follows: action planning, action and observation, and reflection. The subjects in this research were
1

students of class VII F SMPN1 Prambanan that consist of 32 students. Researcher acted as
observer and teacher acted as CARs executor. Instrument of data collecting is done by:
observation sheets to measure science process skills, science process test sheets to measure
students who achieved the Standard Completeness Criteria (SCC) of science process skills, pretest
and posttest sheets to measure science concept mastery from cognitive aspect. The results showed
that the optimal application of the experiment method to improve science process skills and science
concept mastery are begins with identify and formulate problems that done by teacher, teacher then
plan experiment, teacher guide students in implementation experiment and collecting data, teacher
guide students in analyzing the data, as well as teacher guide students in making inferences.
Science process skills in Cycle I is 2.06 (lower category) where only 3.57% of students who
achieved the Standard Completeness Criteria (SCC). Teacher then take action intensively guiding
students in implementation experiment and collect data that can improve science process skill in
Cycle II as 3.56 (high category) where 96.43% of students have reached the SCC. The science
concepts mastery in Cycle I is still low at 56.61 (21.43% of students reached the SCC) where the
gain score only of 0.24 (lower category). Teacher then take action intensively guiding students in
implementation experiment and collect data, as well as a take action re-explain the science
concepts that that have been studied in the phase of making inferences, so science concepts mastery
in Cycle II improved to 72.14 (60 .71% of students achieving SCC grades) where the gain scores in
Cycle II of 0.39 (medium category). Therefore, the optimal application of experiment methods that
can improve science process skills and science concepts mastery of students are teacher take action
intensively guiding students in implementation experiment and collect data, as well as a take action
re-explain the science concepts that that have been studied in the phase of making inferences.
Keywords: experiment method, science process skills, science concept mastery.
A. PENDAHULUAN
Hasil observasi selama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata-Praktik Pengalaman Lapangan
(KKN-PPL) tanggal 1 Juli sampai 17 September 2012 serta observasi lanjutan tanggal 8 Maret
2013, permasalahan yang ditemui dalam proses pembelajaran IPA di kelas VII F SMPN 1
Prambanan diantaranya keterampilan proses sains siswa belum terlatih yang ditunjukkan saat
guru memberi pertanyaan cara penggunaan alat gelas ukur, pH stick, dan mikroskop, sebagian
besar siswa belum menjawab dengan benar. Siswa kemudian disuruh mencoba menggunakan
alat-alat pengukuran tersebut ternyata masih belum benar dalam melakukan pengukuran. Ketika
siswa diminta menyimpulkan hasil diskusi ternyata masih belum dapat menyimpulkan hasil
diskusi dengan benar. Ketika siswa diminta mengkomunikasikan hasil diskusi ke depan kelas
masih malu-malu dan kurang percaya diri. Peneliti kemudian melakukan observasi keterampilan
proses (observasi, pengukuran, klasifikasi, inferensi, dan komunikasi) dengan hasil skor ratarata hanya 1,2 (kategori sangat rendah) dimana tidak ada siswa yang mencapai nilai KKM.
Permasalahan lain yang muncul dalam pembelajaran yaitu penguasaan konsep siswa yang masih
rendah. Hal ini tercermin ketika guru mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran pada
siswa, sebagian besar siswa tidak bisa menjawab. Ketika guru meminta siswa menjelaskan
kembali konsep IPA yang baru saja selesai dipelajari, sebagian besar siswa tidak dapat
menjelaskan kembali konsep IPA dengan benar tanpa membuka buku/catatan. Rendahnya
penguasaan konsep siswa juga dibuktikan dengan nilai rata-rata ulangan siswa yang terakhir
2

hanya memperoleh 45,18 dimana hanya 1 siswa yang mencapai nilai KKM. Uraian fakta-fakta
yang diulas menunjukkan terjadi dua permasalahan utama yaitu kurang terlatihnya keterampilan
proses dan rendahnya penguasaan konsep siswa. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan
tindakan untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu dengan menerapkan metode eksperimen.
B. KAJIAN TEORI
Eksperimen merupakan situasi pemecahan masalah yang di dalamnya berlangsung
pengujian suatu hipotesis, dan terdapat variabel-variabel yang dikontrol secara ketat. Hal yang
diteliti dalam suatu eksperimen adalah pengaruh variabel tertentu terhadap variabel lain (E.
Mulyasa, 2009: 110). Hal ini sejalan dengan pendapat Nuryani Rustaman (1997: 35) bahwa
dalam metode eksperimen, semua siswa melakukan suatu kegiatan yang di dalamnya terdapat
pengendalian variabel, pengamatan, melibatkan pembanding atau kontrol, dan penggunaan alatalat praktikum. Tahap-tahap pembelajaran IPA dengan metode eksperimen menurut Yeap Chin
Heng, et. al. (2002: 13-14), yaitu: 1) Mengidentifikasi masalah, 2) Membuat hipotesis, 3)
Merencanakan eksperimen, 4) Melaksanakan eksperimen, 5) Mengumpulkan data, 6)
Melakukan analisis dan interpretasi data, 7) Membuat kesimpulan, 8) Membuat laporan.
Roestiyah N. K. (2008: 82) mengemukakan bahwa penerapan metode eksperimen siswa
selain memperoleh ilmu pengetahuan akan memperolah pengalaman praktis serta keterampilan
dalam menggunakan alat-alat percobaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Yeap Chin Heng, et.
al. (2002: 13) yang menjelaskan pembelajaran dengan metode eksperimen akan melibatkan
keterampilan berfikir, keterampilan sains, dan keterampilan manipulatif. Peneliti menyimpulkan
bahwa keterampilan proses sains erat kaitannya dengan metode eksperimen. Pembelajaran
dengan menerapkan metode eksperimen dapat memfasilitasi siswa dalam mengobservasi objek
serta membedakan (klasifikasi) objek yang diamati tersebut. Siswa juga menggunakan alat-alat
percobaan sehingga keterampilan mengukur dapat terlatih, kemudian hasil eksperimen akan
disimpulkan

untuk

memperoleh

atau

membuktikan

konsep

yang

dipelajari,

serta

mengkomunikasikan hasil yang diperoleh tersebut. Oleh karena itu, peneliti menggunakan
metode eksperimen untuk meningkatkan keterampilan proses siswa.
Wahyana (Trianto, 2012: 144) menjelaskan bahwa keterampilan proses adalah
keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan mental, fisik, dan sosial mendasar yang
secara terlatih maka lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan. Lalu Muhammad Azhar
(1993: 17) menjelaskan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan untuk mengelola hasil
(perolehan) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar yang memberi kesempatan kepada
siswa

untuk

mengamati,

menggolongkan,

menafsirkan,

meramalkan,

menerapkan,

merencanakan penelitian dan mengkomunikasikan hasil perolehannya tersebut. Peneliti


menyimpulkan bahwa keterampilan proses merupakan kemampuan intelektual yang diperoleh
3

dari latihan secara terus-menerus sehingga menjadi suatu keterampilan dalam mengamati,
menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan, melaksanakan
penelitian dan mengkomunikasikan hasil penelitian tersebut.
Penerapan metode eksperimen diharapkan juga dapat meningkatkan penguasaan konsep
siswa. Robert E. Slavin (2008: 298) menjelaskan bahwa konsep merupakan gagasan abstrak
yang digeneralisir dari contoh-contoh khusus. Pendapat lain dikemukakan oleh Hahn &
Ramscar (John W. Santrock, 2008: 351-352) bahwa konsep merupakan elemen dari kognisi
yang membantu menyederhanakan dan meringkas informasi. Peneliti menyimpulkan bahwa
penguasaan konsep sains merupakan kemampuan siswa dalam menguasai dan menghubungkan
konsep-konsep yang sudah diperoleh dengan konsep-konsep baru dipelajari. Penguasaan konsep
sains siswa diukur melalui hasil belajar siswa dalam aspek kognitif. Dimensi aspek kognitif
menurut Benyamin S. Bloom (John W. Santrock, 2008: 470-472) ada beberapa perubahan
tingkatan, yaitu: mengingat (C1), memahami (C2), mengaplikasikan (C3), menganalisis (C4),
mengevaluasi (C5), mencipta (C6). Untuk membelajarkan konsep-konsep pada siswa maka
diterapkanlah metode eksperimen. Metode ini mampu memfasilitasi siswa agar mencari dan
menemukan sendiri jawaban atas persoalan-persoalan sehingga menemukan bukti kebenaran
dari teori yang dipelajari (Roestiyah N.K., 2008: 80). Hal ini diperkuat dengan pendapat Nana
Sudjana (1987: 83) dengan metode eksperimen siswa akan mencari jawaban atas usaha sendiri
berdasarkan fakta yang benar. Oleh karena itulah, peneliti menggunakan metode eksperimen
untuk meningkatkan penguasaan konsep sains siswa.
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian diskriptif kualitatif berupa Penelitian Tindakan
Kelas (PTK). Berangkat dari permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran IPA, maka
penelitian ini didesain untuk meningkatkan keterampilan proses sains dan penguasaan konsep
sains siswa kelas VII F SMPN 1 Prambanan melalui penerapan metode eksperimen dalam
pembelajaran IPA. Desain PTK mengacu pada model Kemmis & Mc Taggart dimana setiap
siklusnya terdiri dari tahap perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan pengamatan, serta
refleksi. Instrumen pengambilan data meliputi: lembar observasi keterampilan proses untuk
mengukur keterampilan proses, soal keterampilan proses untuk mengukur jumlah siswa yang
mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) keterampilan proses, dan soal penguasaan
konsep untuk mengukur penguasaan konsep siswa dari aspek kognitif.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Siklus I dilaksanakan dalam dua pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran. Siklus I
membelajarkan tema Pencemaran Air dengan sub materi identifikasi air tercemar dan air tidak
tercemar, serta pengaruh konsentrasi detergen terhadap kehidupan ikan. Penerapkan metode
4

eksperimen diawali guru dengan mengidentifikasi dan merumuskan masalah, merencanakan


eksperimen, melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data, melakukan analisis data, serta
membuat kesimpulan. Beberapa kekurangan pada Siklus I dan perlu dilakukan perbaikan
tindakan, antara lain: 1) Keterampilan inferensi sangat rendah yang disebabkan pada sintaks ke5 di RPP yaitu tahap membuat kesimpulan guru tidak melakukan bimbingan pada siswa tentang
cara menarik kesimpulan yang benar, 2) Keterampilan observasi siswa rendah yang disebabkan
pada sintaks ke-3 di RPP yaitu tahap melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data guru
tidak membimbing siswa untuk mengobservasi sampel air sehingga siswa hanya menggunakan
sebagian alat indera mereka untuk mengobservasi sampel air tersebut, 3) Keterampilan
pengukuran rendah yang disebabkan pada sintaks ke-2 di RPP yaitu pada tahap merencanakan
eksperimen guru tidak memberi pengarahan cara penggunaan alat ukur yang benar, sehingga
siswa belum tepat dalam menggunakan alat ukur, 4) Keterampilan klasifikasi rendah yang
disebabkan pada sintaks ke-2 di RPP yaitu tahap merencanakan eksperimen guru membuat LKS
belum diberi dasar teori tentang pengelompokan zat berdasarkan sifat keasaman maupun
kebasaanya, sehingga siswa masih bingung tentang dasar pengelompokan air tersebut, 5) Jumlah
siswa yang mencapai KKM keterampilan proses hanya 1 siswa yang disebabkan pada sintaks
ke-3 di RPP yaitu tahap melaksanakan eksperimen guru tidak melakukan bimbingan yang
intensif pada setiap kelompok sehingga siswa masih kebingungan dalam melaksanakan
eksperimen yang berdampak pada keterampilan proses siswa masih rendah, 6) Gain skor
penguasaan konsep siklus I masih rendah yang disebabkan pada sintaks ke-3 di RPP yaitu tahap
melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data guru belum melakukan bimbingan yang
intensif pada setiap kelompok. Selain itu, pada tahap membuat kesimpulan guru belum
menyampaikan kembali konsep-konsep yang telah dipelajari, 7) Siswa kebingungan membuat
grafik hasil eksperimen yang disebabkan pada sintaks ke-4 di RPP yaitu melakukan analisis data
guru belum membimbing cara membuat grafik yang benar, 8) Guru belum efektif mengelola
waktu pembelajaran. Kekurangan pada Siklus I perlu dilakukan perbaikan agar dapat
meningkatkan keterampilan proses sains dan penguasaan konsep sains secara optimal pada
siklus berikutnya.
Siklus II dilaksanakan dalam dua pertemuan masing-masing 2 jam pelajaran. Siklus II
membelajarkan tema Pencemaran Air dengan sub materi penjernihan air tercemar dengan cara
filtrasi. Perbaikan tindakan penerapan metode eksperimen pada Siklus II yaitu: guru
mengidentifikasi dan merumuskan masalah, guru kemudian merencanakan eksperimen, guru
membimbing siswa dalam melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data, guru
membimbing siswa dalam melakukan analisis data, serta guru membimbing siswa dalam
membuat kesimpulan.

Data peningkatan rerata keterampilan proses sains hasil analisis lembar observasi
disajikan secara ringkas dalam diagram pada Gambar 1.
Diagram Rerata Keterampilan Proses Sains

Skor Rata-Rata

3,75 3,73 3,82

4
2,21

1,93

2,54

2,29 2,32

2,89

3,43

Siklus

Data Awal

Siklus I

Observasi
Pengukuran
Klasifikasi
Inferensi
Komunikasi

Siklus II

Gambar 1. Diagram Rerata Keterampilan Proses Sains Kelas VII F Hasil Analisis Lembar Observasi

Diagram pada Gambar 1 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan proses


yang optimal pada Siklus II dimana empat dari lima keterampilan proses sains yang diteliti
berada dalam kategori sangat tinggi yaitu keterampilan mengobservasi, mengukur,
mengklasifikasi, dan komunikasi. Rata-rata skor keterampilan observasi adalah sebesar 3,75.
Keterampilan mengobservasi pada siklus II mengalami peningkatan karena pada tahap
melaksanakan eksperimen guru membimbing siswa dalam mengobservasi objek agar
menggunakan semua alat indera. Rata-rata skor keterampilan mengukur adalah sebesar 3,73.
Keterampilan mengukur pada siklus II mengalami peningkatan karena pada tahap
merencanakan eksperimen guru memberi pengarahan tentang cara penggunaan alat ukur yang
benar pada siswa sehingga siswa sudah tepat dalam menggunakan alat ukur. Rata-rata skor
keterampilan mengklasifikasi adalah sebesar 3,82. Keterampilan mengklasifikasi pada siklus II
mengalami peningkatan karena pada tahap merencanakan eksperimen guru membuat LKS
yang sudah diberi dasar teori tentang dasar pengklasifikasian zat berdasarkan sifat keasaman
maupun kebasaannya sehingga siswa mengerti tentang dasar pengklasifikasian objek yang
diamati. Rata-rata skor keterampilan komunikasi adalah sebesar 3,43. Keterampilan
komunikasi pada siklus II mengalami peningkatan karena pada tahap melakukan analisis data
guru memfasilitasi siswa dalam berdiskusi sehingga sebagian besar siswa mampu menuangkan
gagasan dalam bentuk tulisan, lisan, dan grafik. Grafik yang dibuat siswa sebagian besar sudah
benar karena pada tahap melakukan analisis data guru menjelaskan cara membuat grafik yang
benar. Keterampilan proses sains pada aspek inferensi berada pada kategori tinggi yaitu
dengan rata-rata skor sebesar 2,89. Keterampilan inferensi pada siklus II mengalami
peningkatan karena pada tahap membuat kesimpulan guru melakukan bimbingan pada siswa
tentang cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil eksperimen yang benar sehingga siswa
mengerti cara menarik kesimpulan yang benar.
Instrumen tes tertulis keterampilan proses sains digunakan untuk mengetahui persentase
siswa yang sudah mencapai nilai KKM (70). Persentase siswa yang sudah mencapai nilai
KKM keterampilan proses secara ringkas disajikan dalam Gambar 2.

Persen

100
80
60
40
20
0

Diagram Persentase Ketercapaian KKM Keterampilan Proses Sains


96.43

3.57

Siklus

Data Awal

Siklus I

Siklus II

Gambar 2. Diagram Persentase Siswa yang Mencapai Nilai KKM Keterampilan Proses Sains

Pada siklus II jumlah siswa yang sudah mencapai nilai KKM keterampilan proses
meningkat menjadi 27 siswa atau persentase sebesar 96,43%. Secara keseluruhan, hal ini
disebabkan pada tahap melaksanakan eksperimen guru sudah melakukan bimbingan yang
intensif pada setiap kelompok sehingga menyebabkan siswa tidak kebingungan dalam
melaksanakan eksperimen. Dengan persentase siswa yang mencapai nilai KKM pada siklus II
sebesar 96,43% tersebut maka indikator keberhasilan dalam penelitian ini sudah tercapai.
Data peningkatan nilai rata-rata penguasaan konsep sains disajikan secara ringkas dalam
diagram pada Gambar 3 berikut.
Nilai

100
50
0

Diagram Rerata Penguasaan Konsep Sains


45.18

43.21

56.61

54.46

Pretes
Postes

72.14

Siklus

Data awal

Siklus I

Siklus II

Gambar 3. Diagram Rerata Penguasaan Konsep Sains Kelas VII F

Data persentase ketercapaian KKM penguasaan konsep sains disajikan secara ringkas
dalam diagram pada Gambar 4 berikut.
Persen

Diagram Persentase Ketercapaian KKM Penguasaan Konsep Sains.

100
60.71

50
0

21.43
3.57

Data Awal

Siklus

Siklus I

Siklus II

Gambar 4. Diagram Persentase Ketercapaian KKM Penguasaan Konsep Sains Kelas VII F

Diagram pada Gambar 3 dan Gambar 4 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rerata
penguasaan konsep yang signifikan pada Siklus II menjadi 72,14 dimana persentase siswa
yang mencapai nilai KKM adalah 60,71%. Banyaknya siswa yang sudah mencapai KKM ini
disebabkan pada tahap melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data guru intensif
melakukan bimbingan sehingga siswa tidak kebingungan dalam melaksanakan eksperimen
yang berdampak pada data hasil eksperimen siswa menjadi tepat. Eksperimen yang benar akan
menghasilkan data yang akurat sehingga konsep-konsep sains yang diperoleh juga tepat. Selain
itu, pada tahap membuat kesimpulan guru juga menyampaikan kembali secara ringkas konsep7

konsep yang sudah dipelajari sehingga siswa mengetahui mana konsep yang benar dan mana
konsep yang masih kurang tepat.
Kekurangan yang masih muncul pada siklus II dan perlu untuk dilakukan
penyempurnaan, yaitu: 1) Guru belum efektif menggunakan jam pelajaran selama proses
pembelajaran berlangsung, 2) Beberapa siswa yang kurang berhati-hati saat menggunakan alat
sehingga ada siswa di kelompok 3 yang menumpahkan bahan eksperimen sehingga guru harus
menyiapkan bahan tambahan lagi.
E. KESIMPULAN
1. Penerapan metode eksperimen yang optimal dalam meningkatkan keterampilan proses sains
dan penguasaan konsep sains siswa kelas VII F SMPN 1 Prambanan dalam pembelajaran
IPA terpadu yaitu diawali dengan guru mengidentifikasi dan merumuskan masalah, guru
kemudian merencanakan eksperimen, guru membimbing siswa dalam melaksanakan
eksperimen dan mengumpulkan data, guru membimbing siswa dalam melakukan analisis
data, serta guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.
2. Aspek-aspek tindakan yang optimal meningkatkan keterampilan proses sains dan penguasaan
konsep sains siswa kelas VII F SMPN 1 Prambanan dalam pembelajaran IPA terpadu dengan
penerapan metode ekperimen yaitu tindakan guru membimbing siswa secara intensif pada
tahap melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data sehingga perolehan keterampilan
proses sains siswa pada siklus II sebesar 3,56 (kategori sangat tinggi) dengan persentase siswa
yang mencapai nilai KKM sebesar 96,43%. Tindakan guru membimbing siswa pada tahap

melaksanakan eksperimen dan mengumpulkan data serta tindakan guru berupa menjelaskan
kembali konsep-konsep yang telah dipelajari pada tahap membuat kesimpulan mampu
meningkatkan rerata nilai penguasaan konsep sains siswa pada siklus II sebesar 72,14
(60,71% siswa mencapai nilai KKM), dimana perolehan gain skor pada Siklus II sebesar
0,39 (kategori sedang).
F. DAFTAR PUSTAKA
E. Mulyasa, 2009. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Heng, Yeap Chin, et. al. 2002. Integrated Curriculum for Secondary Schools. Kuala Lumpur:
Ministry of Education Malaysia
Lalu Muhammad Azhar. 1993. Proses Belajar Mengajar Pola CBSA. Surabaya: Usaha Nasional
Nuryani Rustaman. 1997. Pokok-Pokok Pengajaran Biologi dan Kurikulum 1994. Jakarta:
Depdikbud
Roestiyah N. K., 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta
Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan. Edisi Kedua. Penerjemah: Tri Wibowo B.S.
Jakarta: Kencana
Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktek. Jilid 1. Edisi Kedelapan.
Penerjemah: Drs. Marianto Samosir, S.H. Jakarta: Indeks
Trianto. 2012. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara
8