Anda di halaman 1dari 8

Tugas Kimia

Senyawa Turunan Alkana


(Ester)

Anggota Kelompok 7 :
Angkus Surawan (02)
Nanda Pradnya Dianti (19)
Rahayu Kusuma Pratiwi (23)
Taharyanti (28)
Yulia Hartanti Praptika (32)

SMA NEGERI 8 DENPASAR


Jl. Antasura, Peguyangan Kaja, Denpasar Utara

ESTER
I.

Pengertian Ester
Ester diturunkan dari asam karboksilat. Sebuah asam karboksilat mengandung gugus
COOH, dan pada sebuah ester hidrogen di grup ini digantikan oleh sebuah gugus hidrokarbon
dari beberapa jenis. Ini bisa menjadi gugus alkil seperti metil atau etil. Rumus umum Ester
adalah CnH2nO2.
Gugus fungsi Ester:

II.

Sifat Ester
Ester merupakan senyawa yang relatif polar (larut dalam air), namun tidak seperti dalam
asam karboksilat, ester tidak mempunyai ikatan hidrogen antarmolekulnya sehingga titik
didihnya tidak sebesar asam karboksilat.
1. Sifat Fisika
a. Molekul ester bersifat polar
b. Titik didih ester terletak antara keton dan eter dengan massa molekul relatif yang
hampir sama.
c. Ester dengan massa molekul relatif rendah larut dalam air.
d. Ester dengan sepuluh karbon atau kurang berupa cairan yang mudah menguap dan
baunya enak seperti buah-buahan.

Tabel Sifat Fisika Ester


Struktur

Nama IUPAC

Nama Trivial

Td (oC)
31.5

Kelarutan dalam
H2O g/100 mL

HCOOCH3

metil metanoat

metil format

sangat larut

HCOOCH2CH3

etil metanoat

etil format

54

larut

CH3COOCH3

metil etanoat

metil asetat

57

24.4

CH3COOCH2CH3

etil etanoat

etil asetat

77

7.39 (25 oC)

CH3COOCH2CH2CH3

propil etanoat

propil asetat

102

1.89

CH3CH2COOCH2CH3

etil propionat

etil propionat

99

1.75

CH3CH2CH2COOCH2CH3

etil butanoat

asam butirat

120

0.51

CH3(CH2)3COOCH2CH3

etil pentanoat

etil valerat

145

0.22

CH3(CH2)4COOCH2CH3

etil heksanoat

etil kaproat

168

0.063

2. Sifat Kimia
a. Semakin kecil berat molekulnya atau semakin pendek rantai karbonnya, ester akan
memberi aroma yang khas.
b. Ester bersifat netral dan tidak bereaksi dengan logam natrium maupun PCl3.
c. Ester dapat mengalami hidrolisis menjadi asam karboksilat dan alkohol.

d. Hidrolisis ester suku tinggi dengan NaOH atau KOH menghasilkan sabun dan
gliserol (reaksi penyabunan).
Contoh:

e. Ester dapat mengalami reduksi menjadi alkohol.


Contoh:

f. Reduksi terhadap ester tak jenuh suku tinggi (minyak atau lemak cair) yang
menghasilkan mentega

III.

Pembuatan Ester
Pembuatan Ester dinamakan Esterifikasi. Ester dapat terbentuk dari reaksi antara alcohol
dengan asam karboksilat. Reaksi alcohol dengan asam karboksilat dengan katalisis asam
adalah metode Fischer. Reaksi esterifikasi Fischer adalah reaksi pembentukan ester dengan
cara merefluks sebuah asam karboksilat bersama sebuah alkohol dengan katalis asam. Asam
yang digunakan sebagai katalis biasanya adalah asam sulfat atau asam Lewis seperti
skandium(III) triflat. Reaksi ini sangat mudah dilakukan meskipun adanya asam kuat yang
akan membuat reaksi ini lambat.
Contoh reaksi esterifikasi:
O

H3C C OH + H3C CH2 OH


asam asetat
etanol

HA

H3C C OCH2 CH3 + H2O


etil asetat
air

1. Pembuatan ester menggunakan asil klorida


Metode ini hanya berlaku bagi alkohol dan fenol. Untuk fenol, reaksi terkadang dapat
ditingkatkan dengan pertama-tama mengubah fenol menjadi bentuk yang lebih reaktif.
Reaksi dasar
Jika ditambahkan sebuah asil klorida ke dalam sebuah alkohol, maka reaksi yang
terjadi cukup progresif (bahkan berlangsung hebat) pada suhu kamar menghasilkan
sebuah ester dan awan-awan dari asap hidrogen klorida yang asam dan beruap.

Sebagai contoh, jika ditambahkan etanol krlorida ke dalam etanol, maka akan
terbentuk banyak hidrogen klorida bersama dengan ester cair etil etanoat.
Reaksi yang terbentuk:
CH3COCl + CH3CH2OH

CH3COOCH2CH3 + HCl

2. Pembuatan ester menggunakan anhidrida asam


Reaksi ini juga bisa digunakan untuk membuat ester baik dari alkohol maupun fenol.
Reaksinya berlangsung lebih lambat dibanding reaksi sebanding yang menggunakan asil
klorida, dan campuran reaksi biasanya perlu dipanaskan. Untuk fenol, direaksikan fenol
dengan larutan natrium hidroksida pertama kali, yang menghasilkan ion fenoksida yang
lebih reaktif. Sebagai contoh, etanol yang bereaksi dengan etanoat anhidrida sebagai
sebuah reaksi sederhana yang melibatkan sebuah alkohol:
Reaksi yang berlangsung pada suhu kamar cukup lambat (atau lebih cepat jika
dipanaskan). Tidak ada perubahan yang dapat diamati pada cairan tidak berwarna , tetapi
sebuah campuran antara etil etanoat dengan asam etanoat terbentuk.
Reaksi yang terbentuk:
(CH3CO)2 + CH3CH2OH

IV.

CH3COOCH2CH3 + CH3COOH

Reaksi Identifikasi
a. Reaksi Hidrolisis Ester
Reaksi hidrolisis ester adalah reaksi penguraian ester oleh air. Jika ester bereaksi
dengan air dalam keadaan tertentu akan terurai menjadi asam karboksilat dan alcohol.
Rumus umum hidrolisis Ester :
H3O+
R1 COOR2 + H2O

R1 COOH

+ R2 - OH

ester

air

asam karboksilat

alkohol

Reaksi tersebut berlangsung pada kondisi asam, karena hasil hidrolisis yang terbentuk
bersifat asam. Pada lemak triasilgliserol, hidrolisisnya selalu menghasilkan gliserol.
Reaksinya :
H2C O COR

HC O COR

H2C O COR + H2O


Triasilgliserol
air

H2C OH

HC OH

H2C OH + 3R COOH
gliserol
asam lemak

b. Reaksi Penyabunan/ Saponifikasi


Reaksi penyabunan adalah reaksi yang diperoleh dari reaksi lemak dengan basa kuat.
Reaksinya :
O

R1 C OR2 + NaOH

H2O

R1 C ONa+ + R2 OH

Umumnya, pada industri sabun R2 OH yang dihasilkan adalah gliserol karena ester
lemak yang ditambahkan NaOH adalah gliseril tripalmitat. Lemak bahan baku sabun
berasal dari lemak hewan dan sayuran. Lemak yang dipakai tersebut adalah gliserit
tripalmitat.
Hasil reaksi penyabunan diatas adalah Sabun. Sabun adalah salah satu senyawa kimia
tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun
berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak. Bahan
pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan
baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa).
Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas
produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum
dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat,
natrium fosfat, parfum, dan pewarna.

Lemak atau minyak tumbuhan


merupakan bahan baku
pembuatan sabun.

Reaksi pembuatannya :
H2C O CO
CH3

HC O CO

H2C O CO

CH3
CH3
gliserol tripalmitat
+
3NaOH

CO
3Na + O
natrium palmitat (sabun)

CH3
+
H2C O CO

H2C O CO

H2C O CO
gliserol

V.

Kegunaan
1. Keistimewaan ester : aromanya (semakin sedikit jumlah atom karbon pada ester,
semakin kuat aromanya)
2. Ester dengan atom karbon kurang dari 10 atau di bawah suhu kamar akan berupa zat
cair yang mudah menguap dan berbau khas dan menyegarkan
3. Ada beberapa senyawa yang memiliki aroma dengan senyawa lain
4. Ada senyawa yang dominan berperan sebagai senyawa aroma yang umumnya terdapat
pada buah-buahan atau bunga sehingga disebut ESTER BUAH
5. Ester digunakan sebagai penyedap atau essens
6. Ester yang berantai pendek digunakan sebagai pelarut seperti etil asetat CH 3COOC2H5
7. Etil asetat juga digunakan untuk melarutkan cat, cat kuku, perekat.

Table Ester dan Aromanya


Table dibawah ini menunjukkan aroma dari setiap nama ester yang digunakan sebagai
bahan penyedap atau essens, dll.

Metil
asetat
propionat
isobutirat
isovalerat
heksanoat

Etil

Aroma
lembut sweety
buah-buahan
bunga-bungaan
apel (tajam)
nanas

Aroma

Propil
format
asetat
propionat
isobutirat
heksanoat

Aroma
lembut daun
seledri
anggur manis
nanas (tajam)
keju

Butil

Aroma

format
asetat
isobutirat
valerat
isovalerat
heksanoat

rum
nanas
sitrus/jeruk
apel
apel (lebih kuat)
minuman anggur

format
propionat
butirat
isobutirat
valerat

plum/Rum
pisang
nanas
apel/pisang
raspberry

nonanoat

minyak kacang

Isopropil

Aroma

undekanoat

minyak kelapa

isobutirat

pir

Anda mungkin juga menyukai