Anda di halaman 1dari 8

BAB

PENDAHULUAN

A. Pengertian Deformasi Tektonik


Lempeng tektonik memiliki nama yang berbeda beda sesuai tempat
atau asal lempeng itu berada. Pada 225 juta tahun yang lalu, seluruh daratan di bumi
ini merupakan satu kesatuan yang disebut dengan Benua Pangaea pada zaman
permian. Pergerakan lapisan bumi terus terjadi saat 200 juta tahun yang lalu pada
zaman triassic terbagi menjadi 2 Benua Laurasia dan Benua Gondwanaland.
Pergerakan lapisan bumi terjadi hingga saat ini terbagi menjadi 5 belahan benua.
Perubahan keadaan permukaan bumi terjadi selama 4 zaman kurang lebih selama 225
juta tahun. Penyebab perubahan muka bumi ini dapai dibagi menjadi dua yaitu akibat
tektonik maupun non tektonik.
1. Tektonik
Proses tektonik ini disebabkan oleh gaya gaya dalam bumi. Gaya ini adalah
gaya tekan hortisontal karena sejajar dengan permukaan bumi. Penyebab utama
terbentuknya perlipatan oleh gaya tektonik atau gaya tekan mendatar karena adanya
teori teori sebagai berikut :
a. Teori kontraksi
Teori klasik bahwa bumi semakin lama sesuai waktu geologinya semakin kecil,
dengan adanya pendinginan, pembentukan mineral yang lebih padat, dan ekstrusi
magma dan lapisan batuan lainnya, maka ada penyesuaian karena pengerutan bumi
tersebut dan menghasilkan gaya tekan.
b. Pengapungan Benua
Teori ini bagian dan tektonik lempeng yang menerangkan tentang pemekaran
dasar samudera, tumbukan lempeng, pengapungan benua, perlipatan serta patahan
yang disebabkan karena adanya aliran konveksi berupa gerakan magma. Karena

adanya aliran yang bergerak di sepanjang dasar kerak bumi tersebut menyebabkan
kerak bumi terlipat ke bawah dan lapisan yang di atasnya juga ikut terlipat.
c. Pergeseran karena Gaya Berat
Pergeseran ini terjadi karena adanya pengangkatan dari batuan dasar yang
membuat batuan dasar retak. Karena terus berlangsung maka retakan menyebabkan
patahan yang berurutan hingga karena adanya gaya berat maka lapisan akan bergeser
membentuk lipatan.
2. Non tektonik
Proses ini sebagian besar dihasilkan oleh proses eksogenik, yang antara lain
berupa erosi dan deposisi. Proses non-tektonik ini terjadi karena penyebab penyebab
antara lain :
a. Perbedaan Kompaksi Sedimen
Karena adanya perbedaan kekompakan atau keresistensian hingga nanti dalam
pengendapan selanjutnya lapisan secara otomatis akan terlipatkan melengkung.
b. Proses Pelarutan
Proses ini terjadi karena bahan kimia yang mengalami pelarutan dapat
menghasilkan struktur yang besar, seperti kubah yang terbentuk dan garam yang
menumpang.
Perubahan permukaan bumi ini yang mengakibatkan adanya batas
batas lempeng tektonik di masing masing lapisan bumi. Pergerakan yang berasal dari
tenaga endogen ini mengakibatkan sebuah siklus batuan dalam peroses pergeseran
lempeng.Lempeng tektonik merupakan sebuah siklus batuan di bumi yang terjadi
dalam skala waktu geologi. Siklus batuan tersebut terjadi dari pergerakan lempeng
bumi yang bersifat dinamis.
Dengan pergerakan lempeng tektonik yang terjadi mampu membentuk
muka bumi serta menimbulkan gejala gejala atau kejadian kejadian alam seperti
gempa tektonik, letusan gunung api, dan tsunami. Pergerakan lempeng tektonik di
bumi digolongkan dalam tiga macam batas pergerakan lempeng, yaitu konvergen,
divergen, dan transform (pergeseran).

1. Batas Transform.
Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar (slide each
other), yaitu bergerak sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling

memberai maupun saling menumpu. Batas transform ini juga dikenal sebagai sesar
ubahan-bentuk (transform fault).
2. Batas Divergen.
Terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling memberai (break apart).
Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan terbelah,
membentuk batas divergen. Pada lempeng samudra, proses ini menyebabkan
pemekaran dasar laut (seafloor spreading). Sedangkan pada lempeng benua, proses ini
menyebabkan terbentuknya lembah retakan (rift valley) akibat adanya celah antara
kedua lempeng yang saling menjauh tersebut. Pematang Tengah-Atlantik (MidAtlantic Ridge) adalah salah satu contoh divergensi yang paling terkenal, membujur
dari utara ke selatan di sepanjang Samudra Atlantik, membatasi Benua Eropa dan
Afrika dengan Benua Amerika.
3. Batas Konvergen.
Terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan (consumed) ke arah kerak bumi,
yang mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu satu sama lain (one slip
beneath another). Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah
lempeng benua atau lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman (subduction
zones). Di zona tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang gunung-api (volcanic
ridges) dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
Dari ketiga batas lempeng yang mendukung adanya siklus batuan di
bumi ini. Setiap daratan atau negara atau benua di dunia di batasi oleh lempeng yang
berbeda beda. Dikarenakan sifatnya dinamis dan kekuatan masing masing lempeng
berbeda beda, maka terbentuk 3 batas lempeng tektonik Gempa yang terjadi di
akibatkan oleh pergerakan lempeng tektonik. Dan apabila dilihat pada daerah
Indonesia yang merupakan daerah ternbanyak yang dilewati oleh titik titik gempa
yang tersebar di seluruh nusantara. Disebelah barat hingga ke selatan dari Indonesia
dibatasi oleh lempeng tektonik, disebelah utara dibatasi dengan lempeng yang
berbeda, dan dibagian timur dibatasi dengan lempeng yang berbeda pula. Jadi
Indonesia dibatasi oleh 3 lempeng mayor dunia yang berbeda. Maka dari itu Indonesia
memiliki titik gempa yang tersebar hampir diseluruh nusantara.

BAB
DEFORMASI TEKTONIK KOMPRESSIF

Deformasi bentuk muka Bumi akibat gaya tektonik kompressif antara


lain dapat berupa perlipatan dan patahan. Di bawah ini akan menjelaskan hal-hal yang
berkaitan dengan gejala struktur berupa perlipatan serta patahan.
A. Perlipatan
Gaya-gaya tektonik akan menyebabkan batuan penyusun kerak bumi,
berada dibawah kondisi tertekan (stressed) yang pada akhirnya menyebabkan batuan
akan berubah atau terdeformasi. Batuan yang bersifat plastis terutama batuan sedimen
mula-mula akan terlipat membentuk lipatan.
Lipatan atau terlipatnya suatu lapisan batuan terbentuk biasanya
diakibatkan oleh adanya gaya deformasi. Lipatan dikenali dengan lapisan batuan telah
mengalami penyimpangan bentuk menjadi bentukan seperti ombak (Sybil P. Parker,
1984). Mekanisme gaya yang menyebabkannya ada 2 macam, yaitu :
1. Buckling (melipat) : Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya sejajar dengan arah
permukaan lempeng.
2. Bending (pelengkungan) : Disebabkan oleh gaya tekan yang arahnya tegak lurus
dengan permukaan lempeng.
Perlipatan kulit batuan penyusun kulit bumi dapat berukuran regional
sampai dengan ukuran minor, Lipatan berukuran besar yang mencakup daerah yang
luas pada umumnya sekarang nampak sebagai permukaan lipatan yang telah
mengalami erosi terutama pada bagian tertinggi pada puncak-puncak lipatan seperti
pada kenampakan gambar berikut

Lipatan pada kerak bumi akan membentuk lipatan antiklin dan lipatan
siklin dan jika pada permukaan lipatan memperlihatkan bidang kemiringan kesegala
arah yang dimulai dari titik puncak maka disebut dome/kubah, bentuk yang demikian
dapat dijumpai di daerah Sangiran Sragen Jawa Tengah, sebaliknya bila kemiringan
permukaaan bidang lipatan mengarah kesatu titik pusat disebut lipatan cekungan.
Lipatan merupakan salah satu gejala struktur geologi yang amat penting.
Struktur lipatan sangat menentukan distribusi batuan dan strujtur bawah permukaan,
selain itu lipatan berhubungan erat dengan pola tegasan atau gaya yang berpengaruh di
daerah tersebut dan gejaIa struktur yang lain, misalnya sesar.
Cara yang biasa dilakukan dalam analisa lipatan adalah dengan
merekonstruksikankan dalam penampang.Kenampakan kenampakan dari lipatan
sendiri berupa antiformal, sinformal, antiklin, sinklin, antiklinal band, sinklinal band,
monoklin, terrace, vertical fold, normal fold, dll.
Untuk menganalisa lebih lanjut terhadap arah lipatan, bidang sumbu,
bentuk lipatan, garis sumbu, penunjaman dan pola tegasan yang berpengaruh terhadap
pembentukan lipatan, perlu dilakukan pengukuran secara menyeluruh pada suatu
daerah dimana gajala lipatan itu terbentuk. Hasil pengukuran pengukuran itu
disamping disajikan di dalam peta, juga dianalisa dengan menggunakan diagram Beta
dan diagram kontur, penggunaan kedua diagram ini pada dasarnya sama, karena tujuan
yang akan dicapai adalah kedudukan lipatan dan disinibusi hasil pengukuran yang
diplot dalam proyeksi kutub.

B. Patahan
Hampir semua batuan penyusun kulit bumi tidak lepas dari pengaruh
stress yang sangat kuat. Batuan yang brittle (kaku) sangat mudah patah dan putus
jika dibawah pengaruh gaya kompressi maupun tarikan, sehingga batuan akan patah
membentuk pegunungan Patahan.

Lapisan batuan penyusun kerak bumi yang mengalami patahan


sebagaimana batuan yang mengalami perlipatan akan berubah menjadi Pegunungan
Patahan, jika lapisan batuan mengalami patahan turun berjenjang maka akan
membentuk Pegunungan Blok, atau jika patahan tersebut bersekala kecil maka
kenampakan patahan berjenjang tersebut dapat diamati secara langsung di singkapan
batuan, terutama pada singkapan tebing-tebing jalan yang digali untuk perluasan jalan
atau pada tebing sungai tersingkap karena oleh kikisan arus air pada tebing/dinding
batuan sungai, seperti pada gambar berikut :

Oleh karena permukaan batuan berhubungan langsung dengan faktor luar


yang cenderung mempengaruhi sifat fisik maupun kimiawi batuan sehingga
permukaan lapisan batuan yang terpatahkan, mengalami pelapukan dan terkikis

sehingga kenampakan bentuk patahan sebenarnya berjenjang membentuk undakundak patahan akan menjadi rata dan permukaan batuannya dilapisi dengan soil atau
tanah penutup.
Pada daerah-daerah yang mempunyai susunan batuan yang berumur tua
seperti kondisi singkapan batuan yang ada di Sulawesi Selatan,tidak akan kita jumpai
lagi kenampakan ideal dari pada Pegunungan vokano/Gunungapi, Pegunungan lipatan
ataupun Pegunungan Blok yang pada awalnya dibentuk oleh gunungapi, oleh karena
pelapukan sudah berlangsung jutaan tahun. Yang dapat kita jumpai hanyalah Jalurjalur Pegunungan yang telah mengalami proses denudasi atau menuju ke proses
perataan menjadi Peneplain, bahkan bagian bawah kaki lereng sudah ceenderung
membentuk pedatan/plain berupa dataran pantai, dataran banjir, bahkan dataran danau.
Pada singkapan batuannyasangat sulit dijumpai singkapan yang baik dan ideal.

DAFTAR PUSTAKA
http://artikelbiboer.blogspot.com/2010/01/perlipatan-folding-dan-patahan.html