Anda di halaman 1dari 6

D4

KUAT TEKAN BETON


I.

TUJUAN PERCOBAAN
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk menentukan kekuatan tekan beton
berbentuk silinder dan kubus yang dibuat dan dirawat (cured) di laboratorium.
Kekuatan tekan beton adalah beban persatuan luas yang menyebabkan beton hancur.

II.

PERALATAN YANG DIGUNAKAN


1. Cetakan silinder, diameter 15 cm, tinggi 30 cm.
2. Tongkat pemadat, diameter 16 mm, panjang 60 cm, dengan ujung dibulatkan,
sebaiknya terbuat dari baja tahan karat.
3. Timbangan dengan ketelitian 200 gram.
4. Mesin tekan

III.

BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. 3 sampel beton berbentuk silinder dengan masa perawatan 3 hari.

IV.

PEMBAHASAN TEORI
Kuat tekan beton adalah besarnya beban per satuan luas, yang menyebabkan
benda uji beton hancur bila dibebani dengan gaya tekan tertentu, yang dihasilkan oleh
mesin tekan. Metoda ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian ini untuk
menentukan kuat tekan (compressive strength) beton dengan benda uji berbentuk
silinder yang dibuat dan dan dimatangkan (curring) di laboratorium maupun di
lapangan. Adapun tujuan pengujian ini adalah untuk memperoleh nilai kuat tekan
dengan prosedur yang benar.

Pengujian ini dilakukan terhadap beton segar (fresh concrete) yang mewakili
campuran beton, bentuk benda uji bisa berwujud silinder ataupun kubus, hasil
pengujian ini dapat digunakan untuk pekerjaan:
1.

Perencanaan campuran beton.

2.

Pengendalian mutu beton pada pelaksanaan pembetonan.1

Property paling penting dari beton yang dikeraskan adalah kuat tekannya, fc.
nilai ini merujuk pada kekuatan tekan silinder beton pada umur 28 hari. Dan
membentuk basis desain struktur. Di Amerika Serikat kuat tekan dari beton diukur
dengan benda uji silinder berdiameter 6 in dan tinggi 12 in. (Catatan: Sampel beton
segar diatur dalam ASTM C172, Method of Sampling Freshly Mixed Concrete.
Pembuatan dan curing silinder diatur dala ASTM C31, Practice for Making and
Curing Concrete Cylinder Test Specimen) .
Arsitek atau engineer desain menspesifikasikan ukuran cetakan silinder untuk
pengujian. Secara tipikal, satu set silinder dibuat dari setiap 50 atau 100 yd 3 beton, tapi
tidak kurang dari satu set setiap pencampuran selama satu hari. Biasanya satu set
terdiri dari 3 silinder. Setelah beton mengeras, silinder dipindahkan ke laboratorium
dimana mereka ditempatkan dalam ruang curing. Suhu didala ruangan curing dijaga
pada kisaran 72oF (suhu ruangan) dengan kelembaban relatif 100%. Silinder-silinder
ini disebut dengan lab-curred cylinders. Mereka mengindikasikan seberapa baik
campuran betonnya, tidak seberapa baik beton yang ada dalam struktur., karena
kontraktor mungkin tidak melaksanakan kondisi curing yang ideal di lapangan.
Uji kuat tekan diatur dalam ASTM C39, Test Method for Compressive
Strength of Cylindrical Concrete Specimen. Uji kuat tekan dilakukan pada silinder
beton yang telah disiapkan dengan menggunakan jack hidrolis. Beban ditambahkan
secara terus-menerus pada tingkatan 355 psi (pounds per square inch) per detik
sampai silinder beton runtuh. Besaran beban yang diperlukan untuk meruntuhkan
silinder dicatat lalu dibagi dengan area sambungan-silang dari silinder. Hasilnya
didapat tekanan hancur, atau kekuatan silinder. Uji tekan didapat dari rata-rata 2
silinder yang dicetak pada tempat yang sama.2
1NSPM KIMPRASWIL (2002). Metode, Spesifikasi dan Tata Cara, Jakarta:Departemen
Pemukiman dan Prasarana Wilayah Badan Penelitian dan Pengembangan
2 Setareh, Mehdi PhD, PE & Darvas, Robert SE, PE Concrete Structures, Ohio: Upper Saddle
River, New Jersey

Pengujian sampel beton merupakan bagian dari pengendalian mutu pekerjaan


beton di lapangan. Permasalahan yang sering timbul adalah mengenai bentuk sampel
beton yang akan kita gunakan. Apakah kita akan memakai sampel beton berbentuk
kubus atau silinder. Karena pada beberapa Dokumen Kontrak yang mensyaratkan
penggunaan sampel berbentuk kubus dan adapula Dokumen Kontrak yang
mensyaratkan penggunaan sampel berbentuk silinder.
Jika kita mengacu pada standar yang dibuat oleh Negara Amerika (ASTM),
maka bentuk sampel yang harus kita gunakan adalah bentuk silinder. Sebagaimana
disebutkan dalam ASTM C-31 Compressive and splitting tensile strength test shall
be cylinder cast and allow to set in upright position, with a length equal to twice the
diameter. The standard specimen shall be the 6 by 12-in (150 by 300 mm). Kemudian
jika kita melihat pada peraturan beton bertulang di Indonesia yaitu PBI71, maka
sampel beton yang digunakan adalah sampel berbentuk kubus, sementara menurut
SNI-2843-2002 pasal 3.33 fc adalah kuat tekan beton yang ditetapkan oleh
Perencana Struktur (benda uji berbentuk silinder diameter 150 mm tinggi 300 mm),
untuk dipakai dalam perencanaan struktur beton, dinyatakan dalam satuan MPa.
Kuat Tekan Beton
Kuat tekan sampel beton dipengaruhi oleh tinggi sampel (l) dan panjang sisi
sampel (d). Pada table di bawah ini saya mencoba menunjukkan hasil pengujian antara
benda uji berbentuk kubus dengan benda uji berbentuk balok.

Rasio (l/d)

Rasio kuat tekan (balok/kubus)

0,5

1,45

1,00

0,85 0,95

0,75 0,85

Tabel 4.1. Kuat Tekan Beton Hasil Pengujian

Gambar 4.1. Korelasi antara rasio (h/a) dengan Kuat Tekan Beton

Benda Uji

Perbandingan Nilai Kuat Tekan

Kubus (15x15x15) cm

1,00

Kubus (20x20x20) cm

0,95

Silinder (1530)

0,83

Tabel 4.2. Nilai Kuat Tekan pada Berbagai Bentuk Benda Uji Menurut PBI
1971

Gambar 4.2. Grafik Rasio (l/d) vs Kuat Tekan Beton (mindess, 2003)
Dari tabel dan grafik di atas dapat kita ketahui bahwa terdapat korelasi antara
rasio (h/d) dengan kuat tekan beton. Di mana semakin besar rasio (h/d) maka semaikin
kecil nilai kuat tekannya. Dan sebaliknya semakin kecil rasio (h/d) maka semakin
besar nilai kuat tekannya (Mindess, 2003).

Gambar 4.3. Grafik hubungan Diameter Baton dengan Kuat Tekan Beton
(Mindess, 2003)
Gambar. 3 diatas menerangkan hubungan antara kuat tekan beton pada silinder
yang memiliki rasio (h/d) = 2 dengan diameter sampel beton. Dari gambar tersebut
dapat kita simpulkan bahwa semakin besar dimensi sampel beton maka semakin kecil
nilai kuat tekannya.

Tabel 4.3. Nilai Kuat Tekan Beton pada Berbagai Dimensi Sampel (ASTM)

Gambar 4.4. Grafik Korelasi antara rasio (l/d) dengan Kuat Tekan Beton
(ASTM C-39)
Tabel 3 dan Gambar 4 di atas menunjukkan bahwa nilai kuat tekan beton akan
menurun dengan turunnya rasio (l/d).3

3 https://luhurnews.wordpress.com/2013/06/19/sampel-uji-kubus-vs-sampel-uji-silinder/