Anda di halaman 1dari 2

Sosok muda, enerjik, Kreatif dan Inspiratif, inilah yang menggambarkan pria

berumur 34 tahun ini. Azrul Ananda, begitulah orang-orang mengenalinya. anak


muda ganteng dengan tinggi badan 176 cm dan berat badan 74 kg yang lahir di
Samarinda 4 Juli 1977, alumnus Ellinwood High School, Kansas, USA dan California
State University Sacramento, 1999 itu benar-benar telah mengalihkan perhatian
saya. Hal ini pula yang menjadikan alasan saya menjadikan Azrul Ananda sebagai
sosok produktif dan inspiratif. Karena dia telah Menginspirasiku untuk terus
berkarya dan inspiratif.
Menjabat sebagai Direktur Utama sebuah perusahaan Koran besar di Indonesia
tidak menjadikan dia sebagai sosok yang angkuh dan sombong, justru sebaliknya
sosoknya yang ramah dan selalu tersenyum kepada setiap orang membawa dia
mendapatkan berbagai macam prestasi dan penghargaan atas ide-ide kreatifnya.
Yang terbaru yaitu perusahaan Koran Jawa Pos Surabaya mendapatkan
penghargaan Newspaper of the Year dari World Young Reader Prize 2011 di Wina,
Austria.
Seni, Kreativitas, dan Jurnalistik adalah passion dan hidup Azrul. Ketika tahun 2000
dia kembali ke Indonesia, Jawapos menjadi tujuannya, selain karena memang sang
Bapak Dahlan Iskan (Menteri BUMN saat ini) menginginkannya untuk meneruskan
Kerajaan beliau.
Pada awalnya Azrul membentuk DetEksi, sebuah kolom dalam Koran Jawa Pos yang
memuat semua tentang anak muda. Kolom anak muda ini dikelola oleh dari dan
untuk orang muda. Darah muda Azrul juga mengalir dalam kolom-kolom Jawa Pos.
Bahkan, boleh dibilang, halaman anak muda ini menjadi tempat dirinya
mengekspresikan jiwa mudanya. Apa yang menjadi kebutuhan dan kesenangannya
sebagai anak muda ia terjemahkan dalam rubrikasi. Azrul pun tidak hanya
menyuguhkan sajian menghibur dan populer anak muda dalam bentuk tulisan dan
grafis. DetEksi melakukan brand activation dengan menggelar lomba majalah
dinding (mading) yang dikenal dengan DetEksi Mading Championshipsekarang
dikenal DetEksi Convention. Target lomba ini adalah komunitas pelajar. Dari sinilah,
DetEksi semakin digandrungi oleh anak muda. Anak muda yang doyan membaca,
inilah yang menjadi salah satu impian Azrul saat membuka kolom muda tersebut.
Bahkan, sampai saat ini event tersebut menjadi event yang paling di tunggu-tunggu
para pelajar di Jawa timur Khususnya di Kota Surabaya.
Dari situlah ide-ide kreatif Azrul mulai tumbuh. Ia kemudian mencoba berinovasi
merambah dunia olahraga untuk mewujudkan hasrat kaum muda yang doyan
olahraga. Pada tahun 2004, Azrul membuat brand activity DetEksi berupa
kompetisi basket tingkat SMA di Surabaya. Respons anak muda cukup besar. Inilah
yang menjadi cikal bakal DBLDevelopment Baskell Leaque (DBL)yang tenar saat
ini. Seperti halnya DetEksi Convention, DBL Youth Events diorganisir oleh anak-anak
muda, dimulai dari titik nol, dan sama-sama meraih prestasi di bidangnya masing-

masing dalam waktu yang singkat dan spektakuler. Hanya kalau DetEksi merajai
dunia Jurnalistik, informasi dan komunikasi, DBL Youth Events merajai dunia olah
raga basket tanah air. DBL awalnya juga diperuntukkan untuk mahasiswa, seperti
NCAA di Amerika Serikat. Namun kejadian di mana dia mengumpulkan rektor-rektor
Universitas di Surabaya, membuat ia ogah karena aturan dan birokrasi yang sangat
ribet di masing-masing universitas. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat DBL
untuk pelajar, dan dia melakukannya tanpa perlu persetujuan kepala sekolah.
Buatnya, melangkah saja dulu, buat iklan di sekolah-sekolah, dan hasilnya ada 100
sekolah yang mendaftar untuk mengikuti DBL. Dan DBL menjadi luar biasa
berkembang, karena menjadi liga olahraga pelajar terbesar di Indonesia yang
bekerjasama dengan luar negeri seperti NBA (Amerika) dan NBL (Australia). DBL
juga berhasil mebangun lapangan basket sendiri yang diberi nama DBL arena dan
dia membuktikan bahwa untuk menjadi liga olahraga terbesar tidak harus dimulai di
Jakarta.
Yang lebih hebat lagi, tahun 2010 DBL dipercaya untuk mengelola IBL yang dulunya
KOBATAMA (liga basket nasional) supaya berhasil seperti DBL. dan hasilnya sudah
begitu Nampak, dengan Kompetisi NBL (national basketball league) Azrul sedikit
demi sedikit mempopulerkan olahraga Basket ke seluruh negeri. Luar biasanya, tim
DBL hampir seluruhnya di bawah usia 30 tahun. Azrul menyadari bahwa Young
Talent adalah kekuatan yang luar biasa, karena orang muda FIGHT with
CREATIVITY dan tidak ada yang bisa membendung hal tersebut. Bahkan, usai
sukses dengan DetEksi, Jawa Pos membuat halaman For Her yang membidik
komunitas perempuan muda urban dan Life Begin at 50 yang membidik komunitas
dewasa matang.
Kalau melihat perjalanan karier Azrul, mungkin ada yang berpikir bahwa dia
sanggup melakukan hal tersebut karena dukungan Uang dari Sang Bapak. Azrul
memang tidak memungkiri hal tersebut, karena dia tidak harus memulai dari Nol.
Namun, dia tidak menganggap hal tersebut adalah sebuah keuntungan. Karena
baginya, Generasi Penerus tidaklah mudah, karena kalau berhasil, orang berpikir
semua hasil kerja keras Dahlan Iskan, namun kalau bisnis Jawapos gagal, maka
dirinya lah yang disalahkan. Maka, Azrul pun harus bekerja keras untuk
bisa Perform di Jawapos. Dalam prinsipnya, selama ada Jawapos, maka paling tidak
di Surabaya, orang akan tetap membaca Koran.
Dengan apa yang dilakukannya, saya harus mengakui bahwa dia adalah
seorang Creative Young Talent yang luar biasa. Di luar segala kelamahan yang
dimilikinya, karena dia bukan orang yang suka Talk Show tetapi Do Show. Inilah
Sosok inspiratif dan Produktif ku.