Anda di halaman 1dari 13

Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan

tiruan, dengan rongga-rongga antara butiran yang besar (agregat kasar


atau batu pecah), dan diisi oleh batuan kecil (agregat halus atau pasir),
dan pori-pori antara agregat halus diisi oleh semen dan air (pasta semen).
Pasta semen juga berfungsi sebagai perekat atau pengikat dalam proses
pengerasan, sehingga butiran-butiran agregat saling terekat dengan kuat
sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang padat dan tahan lama. Waktu
setting (waktu yang diperlukan sejak pertama adukan beton ditambah air
sampai reaksi semen air mulai mengeras, biasanya sekitar 90 menit)
penting untuk dipantau karena berkaitan dengan fase beton yang
mempengaruhi

kekuatan

beton

yang

dihasilkan

dari

pelaksanaan

pengecoran.
Secara umum waktu setting dibagi 2, yaitu :
1.

Initial setting atau waktu ikat awal, adalah proses di mana


pengikatan atau proses hidrasi sudah terjadi dan panas hidrasi sudah
muncul, serta workability beton sudah hilang

2.

Waktu total/final setting, adalah kondisi di mana beton sudah


mengeras sempurna
Hubungan waktu setting dan fase beton

fase plastis : kondisi beton sebelum initial setting terjadi

fase setting : kondisi beton di antara waktu initial setting dan


total/final setting

fase hardening : kondisi beton di antara waktu final setting sampai


dengan selesainya proses hidrasi seluruh komponen kimia pada semen
Pada beton tanpa bahan tambah/additive, secara umum disepakati

atau dipakai acuan waktu sebagai berikut:

waktu initial setting yang dipahami sebagai awal proses hidrasi


semen

mulai

terjadi

pada

45

-120

menit

dari

dimulainya

pencampuran/mixing beton

rentang waktu initial setting yang ditetapkan sebagai batas kondisi


plastis telah hilang pada umumnya adalah 1,5-2,5 jam dari
dimulainya pencampuran/mixing beton

waktu

total/final

setting

dianggap

adalah

3-4

jam

dari

dimulainya pencampuran/mixing beton


Fase beton yang merupakan kondisi di mana beton dinyatakan
sebagai beton segar, belum terjadi proses hidrasi dan dapat dicor
adalah fase plastis, dan pada umumnya diambil maksimal 2,5 jam dari
waktu mixing beton sebagai waktu maksimal penyelesaian pengerjaan
beton segar sampai dengan pemadatan/compacting.
Ciri fase plastis beton yang diamati di lapangan/proyek adalah secara
visual dan perabaan:

beton masih dalam kondisi basah, jika dituang masih terlihat aliran
beton segar dan tidak terputus-putus sebagai gumpalan-gumpalan
adukan beton

jika seseorang berjalan di atas beton segar, maka kaki masih akan
masuk/terbenam di dalam beton dengan mudah

jika beton dengan mudah dapat ditusuk dengan besi diameter 12


mm sampai kedalaman 10 cm, maka workability beton tersebut
masih baik

beton masih belum mengeluarkan panas hidrasi (jika dalam kondisi


lingkungan dingin kadang dapat diamati asap dari proses pelepasan
panas hidrasi)

dalam cetakan/acuan, beton masih dapat mengalir secara konstan


dan baik, dengan sendirinya atau dengan bantuan concrete vibrator
Beberapa praktisi beton menyepakati initial setting sebagai kondisi di

mana adukan beton jika dilakukan pengujian slump kembali, akan


diperoleh nilai slump = 0 cm, dan pada saat itulah dinyatakan adukan
beton segar tidak layak lagi dipakai (dituang/dicor dan dipadatkan)
Waktu initial

setting dianggap

sebagai

waktu berakhirnya

tahap

compacting dan dimulainya finishing permukaan beton yang sedang


dikerjakan, dan kesempatan pelaksanaan pekerjaan finishing ini akan
berakhir pada waktu tercapainya final setting, yang merupakan waktu
dimulainya

pelaksanaan

curing/pemeliharaan

beton.

Bagan

berikut

menggambarkan waktu dan fase beton tanpa bahan tambah/additive


secara umum :

Gambar 5.1. Waktu dan Fase Beton Tanpa Bahan Tambah/Additive Secara
Umum

mixing : pencampuran dan pengadukan material penyusun beton di


batching plant

loading : pemuatan adukan beton segar ke dalam truk mixer di


batching plant

transporting : pengiriman beton segar dari batching plant ke lokasi


proyek

checking : pemeriksaan beton segar yang terkirim di lokasi proyek,


meliputi pengecekan waktu mixing dan loading, lama pengiriman
(dari

waktu

kedatangan

trux

pemantauan visual dan rabaan, dsb

mixer), pengukuran

slump,

sampling : pengambilan contoh atau sampel benda uji

pouring/concreting : pelaksanaan penuangan beton segar ke


dalam

cetakan/acuan,

umumnya

pekerjaan

ini

yang

disebut

pengecoran oleh tenaga kerja di proyek

compacting : pemadatan adukan beton segar, dengan alat bantu


concrete vibrator atau batang besi dan palu karet, dsb

finishing : tahapan perapihan dan aplikasi finishing permukaan


dengan material khusus jika direncanakan demikian

curing :

tahapan

pemeliharaan

beton

yang

telah

selesai

perapihannya, untuk memastikan proses hidrasi dan lanjutannya


berjalan seoptimal mungkin dan menghasilkan beton berkekuatan
sesuai dengan rencana dan meminimalkan cacat hasil pekerjaan
pengecoran
Membuat beton sebenarnya tidaklah sederhana hanya sekedar
mencampurkan bahan-bahan dasarnya untuk membentuk campuran yang
plastis

sebagaimana

sering

terlihat

pada

pembuatan

bangunan

sederhana. Tetapi jika ingin membuat beton yang baik, dalam arti
memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi,
maka harus diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh
adukan beton segar yang baik dan menghasilkan beton keras yang baik
pula. Beton segar yang baik ialah beton segar yang dapat diaduk, dapat
diangkut, dapat dituang, dapat dipadatkan, tidak ada kecenderungan
untuk terjadi pemisahan kerikil dari adukan maupun pemisahan air dan
semen dari adukan. Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan
lama, kedap air, tahan aus, dan kembang susutnya kecil (Tjokrodimulyo
1996 : 2).
Sifat-sifat mekanis beton keras dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Sifat jangka pendek, seperti:
a. Kuat Tekan

Kekuatan beton terutama dipengaruhi oleh banyaknya air dan


semen yang digunakan atau tergantung pada faktor air semen
(perbandingan berat air dibagi berat semen) dan derajat
kekompakannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan
beton:
-

Perbandingan berat air dan semen (faktor air semen)


Dari perbandingan ini akan diperoleh nilai optimum untuk
mendapatkan

kuat

tekan

yang

semakin

besar.

Ada

kecenderungan semakin kecil nilai fas akan diperoleh kuat


tekan beton yang besar. Nilai faktor air semen ini dibuat
tanpa

mengurangi

nilai

kemudahan

pengerjaannya.

Walaupun semakin encer, beton akan lebih mudah untuk


dituangkan tapi tentunya malah akan berakibat mempunyai
nilai kuat tekan yang rendah. Hal ini yang perlu diperhatikan
saat pengecoran di lapangan, di mana terkadang pelaksana
yang

tidak

mengerti

kualitas

beton,

akan

selalu

menambahkan air agar beton encer dan mudah dituangkan.


-

Type dan gradasi agregat (pasir dan kerikil)


Semakin keras agregat akan diperoleh kuat tekan yang lebih
besar, termasuk sedikitnya kandungan lumpur. Gradasi
agregat harus sesuai dengan standar gradasi yang ada dan
cenderung tidak seragam, karena diharapkan agregat yang
lebih kecil dapat mengisi di antara sela-sela agregat yang
lebih besar.

Kualitas semen

Perawatan (curing)
Perawatan beton saat dalam proses pengerasan, 1 jam
setelah penuangan, sangat berpengaruh pada kuat tekan

beton.

Perawatan

ini

biasanya

dilakukan

dengan

mempertahankan suhu di bagian dalam dan luar/permukaan


beton. Bagian dalam beton pada proses hidrasi semen dan
air akan mempunyai panas yang lebih besar dibandingkan
dengan di permukaan/luar. Panas dari dalam dan lingkungan
di sekitarnya dapat membuat terjadinya penguapan pada
permukaan
pendinginan.

yang
Oleh

lebih

cepat,

karenanya,

sehingga

beton

diperlukan

dirawat

dengan

membasahi/menggenangi dengan air, atau menutupi dengan


karung goni yang telah dibasahi.
-

Umur
Pada keadaan normal kekuatan bertambah sesuai dengan
umurnya

Suhu
Kecepatan

pengerasan

beton

bertambah

dengan

bertambahnya suhu

Kekuatan beton yang utama adalah kuat tekannya. Nilai kuat


tekan beton meningkat sejalan dengan peningkatan umurnya
dan pada umur 28 hari, beton mencapai kekuatan maksimal.
Nilai kuat tekan beton diukur dengan membuat benda uji
berbentuk silinder atau kubus. Pembacaan kuat tekan pada
benda uji kubus dan silinder relatif berbeda. Perbandingan kuat
tekan silinder dan kubus menurut ISO Standard 3893 1977
disajikan pada tabel di bawah ini:

Tabel 5.1. Perbandingan Kuat Tekan antara Silinder dan Kubus

Kuat
tekan
silinder (Mpa)

10

1
2

1
6

2
0

2
5

3
0

3
5

4
0

4
5

5
0

Kuat
kubus
(Mpa)

2.
5

7.
5

1
0

12.
5

1
5

2
0

2
5

3
0

3
5

4
0

4
5

5
0

5
5

tekan

Pada umumnya, beton mencapai kuat tekan 70% pada umur 7


hari, dan pada umur 14 hari, kekuatannya mencapai 85 90%
dari kuat tekan beton umur 28 hari. Nilai kuat tekan beton
didapatkan melalui tata cara pengujian standar, menggunakan
mesin uji dengan cara memberikan beban tekan bertingkat pada
benda uji silinder beton (diameter 150 mm, tinggi 300 mm) atau
kubus dengan ukuran 15 x 15 x 15 cm sampai hancur/retak.
Pada beton normal, biasanya kuat tekannya berkisar antara 2035 MPa. sedangkan untuk beton konstruksi prategang antara 3550 MPa. Beton mutu tinggi bahkan dapat dibuat hingga
mencapai 100 MPa. yang digunakan untuk bangunan-bangunan
pencakar langit, landasan pesawat, dan bangunan khusus
lainnya. Tata cara pengujian yang umum dipakai adalah standar
ASTM (American Society for Testing Materials) C39-86 atau SK
SNI M14-1989-F (SNI 03-1974-1990).
Nilai kuat tekan beton ini akan berkorelasi dengan nilai kuat tarik
dan modulus elastisitas beton. Semakin tinggi nilai kuat tekan
beton, umumnya akan diperoleh kuat tarik dan modulus
elastisitas yang relatif tinggi pula.
b. Kuat Tarik
Kuat tarik beton yang tepat sulit untuk diukur. Selama bertahuntahun, sifat tarik beton diukur dengan memakai modulus
keruntuhan (modulus of rupture). Baru-baru ini, hasil dari
percobaan split silinder beton, umumnya memberikan hasil yang
lebih baik dan mencerminkan kuat tarik sebenarnya.

Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekannya pada


umur masih muda dan berkisar seperduapuluh pada umur
sesudahnya. Nilai kuat tekan dan tarik bahan beton tidak
berbanding lurus. Suatu perkiraan kasar dapat dipakai bahwa
nilai kuat tarik bahan beton normal hanya berkisar antara 9% 15% dari kuat tekannya. Nilai pendekatan yang diperoleh dari
hasil pengujian berulangkali mencapai kekuatan 0.50 0.60 kali
fc, sehingga untuk beton normal digunakan nilai 0,57 fc.
Pengamatan kuat tarik beton khususnya pada beton bertulang
sangat penting pada penentuan kemungkinan pencegahan
keretakan akibat susut dan perubahan panas. Sedang untuk
beton tidak bertulang, hasil pengujian ini dimanfaatkan dalam
perencanaan konstruksi jalan raya dan lapangan terbang serta
untuk beton prategang.
Cara yang digunakan untuk mengukur kuat tarik beton adalah
dengan pengujian kuat tarik belah, di mana silinder beton
diberikan beban tekan beton sepanjang tinggi silinder sesuai SK
SNI

M-60-1990-03

(SNI

03-2492-1991).

Spesimen

yang

digunakan adalah silinder dan ditekan oleh dua plat paralel pada
arah diameternya.
Kuat tarik belah dihitung dengan rumus:
f'ct = 2P/ LD
di mana :
f'ct = kuat tarik belah (Mpa)
P = beban uji maksimum (N)
L = Panjang benda uji (mm)
D = Diameter benda uji (mm

c. Kuat Geser
Kekuatan geser lebih sulit diperoleh, karena sulitnya mengisolasi
geser dari tegangan-tegangan lainnya. Ini merupakan salah satu
sebab banyaknya variasi kekuatan geser yang dituliskan dalam
berbagai literature, mulai dari 20% dari kekuatan tekan pada
pembebanan normal, sampai sebesar 85% dari kekuatan tekan,
dalam hal terjadi kombinasi geser dan tekan.
d. Modulus Elastisitas
Modulus elastisitas, merupakan kemiringan dari bagian awal
grafik yang lurus dari diagram regangan-tegangan, yang akan
bertambah besar dengan bertambahnya kekuatan beton. Beton
tidak memiliki modulus elastisitas yang pasti. Nilainya bervariasi
tergantung dari kekuatan beton, umur beton, jenis pembebanan,
dan

karakteristik

agregat. Peraturan

dan
ACI

perbandingan

menyebutkan

bahwa

semen

dan

rumus

untuk

menghitung modulus elastisitas beton yang memiliki berat beton


(wc) berkisar dari 1500-2500 . Besarnya modulus elastisitas
tersebut dapat dihitung berdasarkan persamaan empiris:

Ec = 0,043 wc1,50 fc
Untuk beton normal (wc = 23 kN/m3), Ec = 4700 fc
di mana :
Ec= modulus elastisitas beton tekan (MPa)
wc = berat isi beton (kg/m3)
fc = kuat tekan beton (MPa)

2. Sifat jangka panjang, seperti rangkak dan susut

a. Rangkak
Rangkak

(creep)

adalah

sifat

di

mana

beton

mengalami

perubahan bentuk (deformasi) permanen akibat beban tetap


yang bekerja padanya. Rangkak timbul dengan intesitas yang
semakin berkurang untuk selang waktu tertentu dan akan
berakhir setelah beberapa tahun berjalan. Besarnya deformasi
rangkak sebanding dengan besarnya beban yang ditahan dan
juga jangka waktu pembebanan. Pada umumnya rangkak tidak
mengakibatkan dampak langsung terhadap kekuatan struktur,
tetapi akan mengakibatkan timbulnya redistribusi tegangan
pada beban kerja dan kemudian mengakibatkan terjadinya
peningkatan lendutan (defleksi).
Faktor faktor yang mempengaruhi rangkak adalah:
1. Kekuatan
Rangkak dikurangi bila kenaikan kekuatan semakin besar
2. Perbandingan campuran
Bila fas dan volume pasta semen berkurang maka rangkak
berkurang.
3. Agregat
Rangkak bertambah bila agregat makin halus)
4. Perawatan
5. Umur
Kecepatan rangkak berkurang sejalan dengan umur beton.
b. Susut
Susut secara umum didefinisikan sebagai perubahan volume
beton karena terjadi kehilangan uap air ketika terjadi penguapan

yang tidak berhubungan dengan beban. Proses susut secara


umum didefinisikan sebagai perubahan volume yang tidak
berhubungan dengan beban. Faktor faktor yang mempengaruhi
besarnya susut adalah :
1. Agregat sebagai penahan susut pasta semen
2. Faktor air semen
Semakin besar fas semakin besar pula efek susut
3. Ukuran elemen beton
Kelajuan dan besarnya susut akan berkurang bila volume
elemen betonnya semakin besar.
4. Kondisi lingkungan
5. Banyaknya penulangan
6. Bahan tambahan.
Adapun proses susut pada beton yaitu:
a. Penyusutan

awal,

akibat

kehilangan

air

pada

proses

penguapan dan perembesan melalui acuan atau dikenal


dengan susut plastis (terjadi beberapa jam setelah beton
segar dicor ke dalam cetakan atau bekisting)
b. Penyusutan akibat suhu ketika beton mulai dingin. Penyusutan
ini masih dapat diatasi dengan perawatan yang baik atau
dikenal dengan susut pengeringan (terjadi setelah beton
mencapai bentuk akhirnya dan proses hidrasi pasta semen
telah selesai). Laju perubahannya berkurang terhadap waktu,
karena beton semakin berumur akan semakin tahan tegangan
dan semakin sedikit mengalami susut. Terjadinya penyusutan
akan berakibat retak-retak plastis pada beton.

Retak

yang

menimbulkan

lebih

luas

masuknya

dari

0,15

mm

tidak

air

pada

tulangan

akan
(dapat

diabaikan)

Retak-retak sebesar (0,15 0,5 mm) perlu diatasi dengan


menutup retakan tersebut (dengan emulsi latex dan lainlain

DAFTAR PUSTAKA
http://www.ilmusipil.com/pengertian-beton-adalah
http://dok.joglosemar.co/baca/2014/10/12/sifat-mekanik-beton-keras.html
http://lauwtjunnji.weebly.com/pemantauan-beton-segar.html
http://strukturexpert.wordpress.com/2012/04/29/sifat-mekanis-betonkeras/
http://civilresearch.blogspot.com/2011/01/sifat-sifat-beton-catatankuliah.html
http://tatangw.blogspot.com/2010/06/beton-1.html