Anda di halaman 1dari 9

DISKUSI KASUS

Luka bakar merupakan kondisi yang umum ditemukan dalam bidang kedokteran. Kondisi ini
mengenai segala aspek dari pasien baik dari segi fisik maupun mental. Kondisi ini juga dapat
mengenai segala umur dari bayi sampai orang lanjut usia, dan dapat terjadi pada negara maju
maupun negara berkembang.
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan karena kontak dengan
sumber panas seperti api dan air panas, suhu dingin yang tinggi, bahan kimia, listrik, radiasi atau
benda-benda fisik yang menghasilkan efek memanaskan atau mendinginkan. Pada pasien ini luka
bakar disebabkan oleh ledakan gas.
Beratnya Luka Bakar
Luka bakar biasanya dinyatakan dengan derajat yang ditentukan oleh kedalaman luka bakar.
Walaupun demikian beratnya luka bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Selain itu, umur,
adanya luka inhalasi dan keadaan kesehatan penderita sebelumnya akan sangat mempengaruhi
prognosis
Gejala dan tanda luka bakar yang mengenai jalan napas (inhalasi) :

Luka bakar pada kepala, muka (terutama mulut dan bibir) atau leher

Wheezing

Perubahan suara

Kesulitan bernapas, batuk

Terbakarnya bulu hidung dan bulu mata

Mukus yang gelap karena pewarnaan karbon

Pada pasien ini dicurigai adanya kemungkinan luka inhalasi karena luka bakar disebabkan oleh
ledakan gas dan terdapat luka bakar pada bagian wajah namun karena sesak dan batuknya tidak
ada adanya trauma inhalasi kemungkinan dapat disingkirkan.
Luas luka bakar

Terdapat tiga metode yang biasanya digunakan dalam menentukan luasnya luka bakar, dan
masing-masing memiliki aturan pada kasus yang berbeda-beda. Ketika menghitung luasnya luka
bakar, erythema sebaiknya tidak diikutsertakan. Erytema akan menghilang setelah beberapa jam,
sehingga kadang terjadi penghitungan yang berlebihan apabila penghitungan dilakukan dengan
segera.
a. Palmar surface : Area permukaan dari palmar pasien(termasuk jari-jari) kira-kira 0,8 %
dari luas permukaan tubuh total. Permukaan palamar digunakan untuk menghitung luas
luka bakar yang relatif kecil ( < 15% dari luas permukaan tubuh total) atau luas luka
bakar yang luas ( > 85%, ketika luas permukaan yang tidak terbakar yang dihitung)
b. Wallace rule of nines : Penghitungan ini bagus dan cepat dalam memperkirakan luka
bakar sedang sampai luas pada orang dewasa. tubuh dibagi dalam area 9%, dan total luas
luka bakar dijumlahkan. Penghitungan ini tidak akurat digunakan pada anak-anak.
c. Lund and Browder chart : Metode ini, apabila digunakan secara benar merupakan metode
yang paling akurat. Metode ini mengkompensasi variasi dari bentuk tubuh dan umur
sehingga dapat digunakan untuk memberikan perawatan yang akurat pada luka bakar
yang terjadi pada anak-anak.
Pada pasien ini digunakan metode Wallace rule of nines, pada pasien ini rincian luas luka
bakarnya adalah sebagai berikut :

Wajah : 3%

Lengan kanan : 4%

Lengan kiri : 9%

Perut: 5%

Sehingga total luas luka bakar adalah 21%


Derajat Luka Bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu tinggi. Selain
api yang langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga ikut memperdalam luka bakar.
Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu domba (wol). Bahan sintetis, seperti

nilon dan dakron, selain mudah terbakar juag mudah lumer oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket
sehingga memperberat kedalaman luka bakar
Luka bakar derajat satu hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari,
misalnya tersengat sinar matahari. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan dan rasa nyeri
atau hipersensitivitas setempat.
Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis, tetapi masih ada elemen epitel sehat yang
tersisa. Elemen epitel tersebut, misalnya sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan
pangkal rambut. Dengan adanya sisa sel epitel ini, luka dapat sembuh sendiri dalam dua sampai
tiga minggu. Gejala yang timbul adalah nyeri, gelembung, atau bula berisis cairan eksudat yang
keluar dari pembuluh karena permeabilitasnya dindingnya meninggi.
Luka bakar derajat tiga meliputi sel-seluruh kedalaman kulit dan mungkin subkutis, atau organ
yang

lebih

dalam.

Tidak

ada

lagi

elemen

epitel

hidup

yang

tersisa

yang

memungkinkanpenyembuhan dari dasar luka. Oleh karena itu, untuk mendapatkan kesembuhan
harus dilakukan cangkok kulit. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam, dengan
permukaann lebih rendah dari jaringan sekeliling yang masih sehat. Tidak ada bula dan tidak
tersaa nyeri.

Gambar 1. Derajat Luka Bakar

Diagnosis banding ditentukan dengan uji tusuk jarum. Uji dilakukan dengan menusukkan jarum
untuk menentukan apakah daerah luka bakar masih memiliki daya rasa. bila tusukan itu masih
terasa , artinya sensorisnya masih berfungsi dan dermis masih vital, luka itu bukan derajat tiga.

Berdasarkan tingkat keseriusan luka, American Burn Assosiation menggolongkan luka bakar
menjadi tiga kategori, yaitu :
a. Luka bakar berat/kritis

Luka bakar derajat 2 dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari
20% pada anak-anak

Luka bakar derajat 3 lebih dari 10%

Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata,telingga, kaki, dan perineum, serta
persendian sekitar ketiak

Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan derajat dan
luasnya luka

Luka bakar dengan komplikasi trauma berat atau dengan resiko tinggi (menderita
DM, dll)

Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi ( > 1000 V)

Harus dirawat di rumah sakit

b. Luka bakar sedang

Luka bakar derajat 2 dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada
anak-anak

Luka bakar derajat 3 kurang dari 10%

Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum

Sebaiknya dirawat di rumah sakit

c. Luka bakar ringan

Luka bakar derajat 1 dan 2 dengan luas kurang dari 15 % pada orang dewasa dan
kurang dari 10% pada anak-anak

luka bakar derajat 3 kurang dari 2%

Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki

Tidak terdapat trauma inhalasi,elektrik dan fraktur

Cukup dengan berobat jalan

Pada pasien ini luka bakar yang terjadi termasuk luka bakar berat karena melibatkan muka dan
tangan, derajat lukanya derajat I-II dan luasnya luka bakar 21 %, oleh karena itu pasien harus
dirawat di rumah sakit.

Patofisiologi
Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang
terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut
rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan
menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya
volume cairan intravaskuler. kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan
akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar
derajat dua dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga.
Bila luka bakar kurang dari 20 %, biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa
mengatasinya, tetapi bila lebih dari 20%, akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala khas,
seperti gelisah, pucat dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun, dan
produksi urin berkurang. Pembengakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan
jam.
Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan
mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang terisap. Udem laring yang
ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas, takipneu,
stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap akibat jelaga.
Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium baik untuk
pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak
tercapai oleh pembuluh kapiler kapileer yang mengalami trombosis. padahal pembuluh ini
membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar,
selain berasal dari kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman di lingkungan rumah
sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah
resisten terhadap berbagai antibiotik.

Infeksi ringan dan noninvasif (tidak dalam) ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas
dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasif sitandai dengan keropeng yang kering dengan
perubahanjaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik, akibatnya luka
nbakar yang mula-mula derajat dua menjadi derajat tiga. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis
pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis sehingga jaringan
yang diperdarahinya mati.
Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat dua dapat sembuh dengan
meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuahan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih
vital, misalnya kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut. Luka
bakar derajat dua yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri , gatal, kaku,
dan secara estetik sangat jelek. luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh sendiri akan
mengalami kontraktur. Bila ini terjadi di persendian, fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.
Pada luka bakar berat dapat terjadi ileus paralitik. pada fase akut, peristaltik usus menurun atau
berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi, peristaltik dapat menurun karena terjadi
kekurangan ion kalium.
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein menjadi
negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan infeksi.
Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang
diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. Oleh
karena itu, penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil, dan berat badan menurun. Dengan
demikian, korban luka bakar menderita penyakit berat yang disebut penyakit luka bakar. Bila
luka bakar menyebabkan cacat, terutama bila luka mengenai wajah sehingga rusak berat,
penderita mungkin mengalami beban kejiwaan berat. Jadi, prognosis luka bakar terutama
ditentukan oleh luasnya luka bakar.
Terapi
Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah dengana mendinginkandaerah yang
terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberikan kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk
berproliferasi, dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secra tertutup atau terbuka.

Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan, kalau perlu,
dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila penderita menunjukkan
gejala terbakarnya jalan napas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Kalu terjadi udem
laring, dipasang pipa endotrakea atau dibuat trakeostomi.
Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya terbuka untuk
perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut steril untuk perawatan terututp. kalau
perlu, penderita dimandikan dahulu. selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan
atau toksoid. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan.
Pemberian cairan intravena
Sebelum infus diberikan, luas dan dalamnya luka bakar harus ditentukan secara teliti. Kemudian,
jumlah cairan infus yang akan diberikan dihitung. Cara yang banyak dipakai dan sederhana
adalah menggunakan rumus baxter, yaitu :
% X BB X 4 ml
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam.
hari pertama terutama diberikan elektrolit, yaitu larutan ringer laktat karena terjadi defisit Na.
Hari kedua diberikan setengah cairan hari pertama.
Pada kasus ini, diberikan cairan infus dengan menggunakan formula Baxter yaitu :
Formula Baxter : 4 ml x Berat badan x % luas luka bakar
BB : 65 kg
Luas luka bakar 21 %
Total cairan 4 x 65 x 21 ml = 5460 ml
a. Berikan 50 % cairan ( 2730 ml ) pada 8 jam pertama, dan sisanya dalam 16 jam berikutnya.
b. Kebutuhan cairan total hari selanjutnya sama dengan hari pertama, namun cara
pemberiannya disesuaikan sehingga produksi urin sekitar 50-100ml/jam
Obat-obatan
Luka bakar derajat satu dan dua menyisakan elemen epitel berupa kelenjar sebasea, kelanjar
keringat, atau pangkal rambut, dapat diharapkan tumuh sendiri, asala dijaga supaya elemen epitel
tersebut tidak hancur atau rusak karena infeksi. Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan
pencegahaninfeksi. Pada luka yang lebih dalamperlu diusahakan membuang secepatnya jaringan

kulit yang mati dan memberi obat topikal yang daya tembusnya tinggi sampai mencapai jaringan
yang mati. Obat topikal yang dapat dipakai dapai berbentuk larutan, salep atau krim. Obat yang
banyak dipakaiadalah zilversulvadiazine, dalam bentuk krim 1%. Krim ini sangat berguna karena
bersifatbakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup, efektif terhadap semua kuman, tidak
menimbulkan resisteni dan aman. Krim dioleskan tanpa pembalut, dan dibersihkan dan diganti
setiap hari.
ATS dan/atau toksoid diberikan untuk pencegahan tetanus. Analgesik diberikan bila penderita
lesakitan. Antasida diberikan untuk pencegahan tukak beban (tukak stress) dan atipiretik
diberikan bila suhu tinggi. Penderita yang sudah mulai stabil keadaannnya perlu fisioterapi untuk
memperlancar peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Luka Bakar. Didownload dari http://id.wikipedia.org/wiki/Luka bakar
Duldner, John E. 2008. Burns. Didownload : http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article
Dziewulski, P. 2004. ABC of Burns : Introduction. BMJ. Vol 328; 1366-1368
Hettiaratchy, S. 2004. ABC of burns : Initial Management of major Burns : II-Assesment and
Resusiscitation. BMJ. Vol 328; 1427-1429
Sjamsuhidayat, R & Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2009. Luka Bakar. Didownload dari http://id.wikipedia.org/wiki/Luka_bakar
Duldner, John E. 2008. Burns. Didownload dari http://www.nlm.nih.gov/medlinplus/ency/article
Dziewulski,P. 2004. ABC of Burns : Introduction. BMJ. Vol 328; 1366-1368
Hettiaratchy, S. 2004. ABC of Burns : Initial Management of Major Burns : II- Assesment and
Resuscitation. BMJ. Vol 328; 1427-1429
Sjamsuhidayat, R & Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC