Anda di halaman 1dari 9

Bab 3 PEMODELAN MENGGUNAKAN METODE

ELEMEN HINGGA
3.1 Pengertian Metoda Elemen Hingga
Finite element method (FEM), atau metode elemen hingga adalah suatu metode analisis numerik yang didasarkan pada
gagasan dalam membangun suatu obyek yang sangat rumit menjadi beberapa bagian/ elemen yang sederhana.
Untuk masalah yang melibatkan geometri rumit, pembebanan, dan sifat material, biasanya tidak mungkin untuk mendapatkan
solusi matematis analitis. Analitis adalah solusi yang diberikan oleh suatu ekspresi matematika yang menghasilkan nilai-nilai yang tidak
diketahui yang diinginkan di setiap lokasi di suatu obyek (disini total elemen atau sistem bagian fisik) dan karena itu berlaku untuk jumlah
tak terbatas lokasi titik di obyek. Solusi analitis ini umumnya memerlukan solusi persamaan diferensial biasa atau parsial, yang karena
geometri yang rumit, biasanya tidak dapat diperoleh. Oleh karena itu, kita perlu mengandalkan metode numerik, seperti metode elemen
hingga, untuk solusi yang dapat diterima. Metode-metode numerik menghasilkan nilai perkiraan yang tidak diketahui pada titik diskrit
dalam kontinum. Oleh karena itu, proses pemodelan obyek dengan membaginya menjadi suatu sistem yang setara dengan obyek yang
lebih kecil atau unit (elemen hingga), interkoneksi pada titik-titik umum untuk dua atau lebih elemen (titik nodai atau node) disebut
diskritisasi. Dalam metode elemen hingga, bukannya memecahkan masalah bagi seluruh obyek dalam satu operasi, tetapi merumuskan
satu persamaan untuk setiap elemen hingga dan menggabungkan mereka untuk mendapatkan solusi dari seluruh elemen (Logan, D. L.,
1992).
Secara singkat, solusi untuk masalah struktural biasanya mengacu untuk menentukan perpindahan di setiap node dan tegangan
dalam setiap elemen yang membentuk struktur yang mengalami pembebanan.
3. 2 Langkah-langkah Umum Metode Elemen Hingga
Biasanya, untuk masalah analisis tegangan struktural, analis berusaha untuk menentukan perpindahan dan tegangan sepanjang
struktur, yang berada dalam kesetimbangan kaitannya dengan pembebanan. Untuk struktur banyak, sulit untuk menentukan distribusi
deformasi dengan menggunakan metode konvensional, dan dengan demikian metode elemen hingga harus digunakan.
Ini adalah dua pendekatan umum yang terkait dengan metode elemen hingga. Pendekatan satu, yang disebut gaya, atau
metode fleksibilitas (flexibility method), menggunakan kekuatan internal sebagai masalah yang tidak diketahui. Untuk memperoleh
persamaan, yang pertama persamaan kesetimbangan digunakan, kemudian persamaan tambahan diperlukan ditemukan dengan
memperkenalkan persamaan kontinuitas atau kompatibilitas. Hasilnya adalah seperangkat persamaan aljabar untuk menentukan kekuatan
berlebihan atau kekuatan tidak diketahui. Pendekatan kedua, yang disebut perpindahan atau metode kekakuan (stiffness method),
menganggap perpindahan node sebagai masalah yang tidak diketahui. Misalnya, kondisi kompatibilitas mengharuskan elemen terhubung
pada node, sepanjang tepi, atau di permukaan umum sebelum pembebanan tetap terhubung pada node, tepi, atau permukaan setelah terjadi
deformasi pada awalnya mencukupi. Kemudian persamaan disajikan dalam istilah perpindahan node menggunakan persamaan
kesetimbangan dan kekuatan hukum yang berlaku yang berkaitan dengan perpindahan. Kedua pendekatan menghasilkan yang tidak
diketahui berbeda (gaya atau perpindahan) dalam analisis dan matrik perbedaan terkait dengan formulasi di atas (fleksibilitas atau
1
7

kekakuan). Untuk tujuan komputasi, metode perpindahan (atau kekakuan) yang lebih diinginkan, karena perumusannya paling sederhana
pada masalah analisis struktural. Selain itu, sebagian besar untuk tujuan umum program elemen hingga telah memasukkan perumusan
perpindahan untuk memecahkan masalah struktural.
Metode elemen hingga melibatkan pemodelan struktur dengan menggunakan elemen-elemen kecil yang saling berhubungan
yang disebut elemen hingga. Sebuah fungsi perpindahan adalah yang terkait dengan setiap elemen hingga. Setiap elemen saling terkait,
langsung atau tidak langsung, untuk setiap elemen lain melalui umum (atau bersama) antarmuka, termasuk node dan atau garis batas dan
atau permukaan. Pada penggunaan sifat tegangan atau regangan yang diketahui dari material yang membentuk struktur, seseorang dapat
menentukan perilaku dari node yang diberikan dalam istilah sifat dari setiap elemen lainnya dalam struktur. Total set persamaan yang
menggambarkan perilaku dari setiap hasil node dalam serangkaian persamaan aljabar terbaik dinyatakan dalam notasi matriks.
Perlu diketahui bahwa analis harus membuat keputusan tentang membagi struktur atau kontinum menjadi elemen hingga dan
memilih jenis elemen untuk digunakan dalam analisis (langkah 1) dan jenis pembebanan yang akan diterapkan dan jenis kondisi batas
untuk diterapkan. Langkah-langkah lain,
3, 4, 5, 6, dan 7, dilakukan secara otomatis oleh program komputer.
2.1 Langkah 1 Diskritisasi dan Memilih Tipe Elemen
Langkah 1 melibatkan membagi obyek menjadikan sistem setara dengan elemen hingga dengan node yang terkait dan
memilih jenis elemen yang paling sesuai. Jumlah elemen yang digunakan dan variasi ukuran dan jenis tertentu dalam obyek terutama
masalah kebenaran teknik. Elemen harus dibuat cukup kecil untuk memberikan hasil yang dapat digunakan. Obyek terdiskritisasi atau
mesh sering dibuat dengan program jaring-generasi atau program preprocessor tersedia bagi pengguna. Pemilihan elemen yang digunakan
dalam analisis elemen hingga tergantung pada susunan fisik dari obyek dibawah kondisi pembebanan aktual dan seberapa dekat dengan
perilaku aktual analis menginginkan hasil. Hukum tentang kesesuaian satu, dua, atau tiga-dimensi idealisasi diperlukan. Selain itu, pilihan
dari elemen yang paling tepat untuk masalah tertentu adalah salah satu tugas utama yang harus dilakukan oleh desainer atau analis.
Elemen yang umum digunakan dalam praktek sebagian besar yang dipertimbangkan seperti terlihat pada Gambar 3.1.

1
8

if

n;

.r

a) Elemen garis sederhana biasanya digunakan untnk mewakili sebuah bar


atau elemen balok

vf

b) Elemen dua dimensi sederhana biasanya digunakan untuk mewakili


tegangan-regangan bidang
mewakili stres tiga dimensi
Gambar 3.1 Berbagai jenis elemen hingga (Logan, D. L., 1992).
d) elemen axisymmetric
sederhana biasanya

digunakan untuk mewakili


masalah axisymmetric

1
9

Utamanya elemen garis, Gambar 3. 1(a), terdiri dari bar atau truss dan disimbolkan sebagai segmen garis. Hal tersebut sering digunakan
untuk model truss dan struktur. Elemen garis sederhana (disebut elemen linear) memiliki dua node, satu di setiap ujung, meskipun elemen
tingkat tinggi yang memiliki tiga atau lebih (elemen quadratic, cubic) juga ada.
Dasar elemen dua dimensi (atau elemen bidang), Gambar 3. 1(b), dibebani oleh gaya dalam bidangnya sendiri (kondisi
tegangan bidang atau regangan bidang). Elemen tersebut adalah elemen segitiga atau segiempat. Elemen dua dimensi sederhana hanya
memiliki node pada sudut (elemen linier) dengan sisi-sisi lurus atau batas, meskipun ada juga elemen order yang lebih tinggi, biasanya
dengan node midside (disebut elemen kuadratik) dan sisi melengkung. Elemen-elemen dapat memiliki variabel ketebalan seluruh atau
konstan. Mereka sering digunakan untuk model berbagai masalah rekayasa.
Elemen tiga dimensi yang paling umum, Gambar 3. 1(c), adalah elemen tetrahedral dan hexahedral (atau bata); mereka
digunakan ketika kita perlu untuk melakukan analisis tegangan tiga dimensi. Dasar elemen tiga dimensi memiliki node hanya sisi sudut
dan lurus, sedangkan elemen tingkat tinggi dengan node midedge (dan mungkin midface odes) memiliki permukaan melengkung untuk
sisinya.
Elemen axisymmetric, Gambar 3. 1(d), dikembangkan dengan memutar sebuah segitiga atau segiempat sumbu tetap terletak di
bidang elemen melalui 360. Elemen dapat digunakan ketika masalah geometri dan pembebanan adalah axisymmetric.
3. 2. 2 Langkah 2 Memilih Fungsi Perpindahan

2
0

Langkah 2 melibatkan memilih fungsi perpindahan dalam setiap elemen. Fungsi didefinisikan dalam elemen dengan
menggunakan nilai noda elemen. Linear, kuadrat, polinomial kubik fungsi yang sering digunakan, karena sangat sederhana untuk bekerja
dengan formulasi elemen hingga. Namun, seri trigonometri juga bisa digunakan. Untuk elemen dua dimensi, fungsi perpindahan
merupakan fungsi dari koordinat di bidang tersebut (misalnya, bidang xy). Fungsi disajikan dalam posisi noda yang tidak diketahui (dalam
masalah dua-dimensi,komponen x dan komponen y). Fungsi perpindahan umum yang sama dapat digunakan berulang kali untuk setiap
elemen. Oleh karena itu, metode elemen hingga adalah satu di mana kuantitas terus menerus, seperti perpindahan seluruh struktur, yang
didekati dengan model diskrit yang terdiri dari satu set fungsi sesepenggal-menerus (piecewise-continuous) didefinisikan dalam setiap
domain hingga atau elemen hingga.
3.2.3 Langkah 3 Menentukan Regangan/Perpindahan dan Tegangan- Regangan
Regangan/perpindahan dan hubungan tegangan-regangan yang diperlukan untuk menurunkan persamaan pada setiap elemen
hingga. Dalam kasus deformasi satu dimensi, mengatakan, dalam arah x, kita memilki regangan sx terkait dengan perpindahan u dengan
du
dx

(3. 1)

Untuk regangan kecil. Selain itu, tegangan harus berhubungan dengan regangan melalui hukum tegangan-regangan umumnya disebut
hukum konstitutif. Kemampuan untuk menentukan perilaku material akurat yang paling penting dalam memperoleh hasil yang dapat
diterima. Hukum paling sederhana tegangan- regangan, hukum Hooke, sering digunakan dalam analisis tegangan, diberikan oleh
a x =Es x

(3.2)

dimana ax = tegangan pada arah x dan E = modulus elastisitas.


3. 2. 4 Langkah 4 Menurunkan Matrik Kekakuan Elemen dan Persamaan

2
1

Awalnya, pengembangan matrik elemen kekakuan dan persamaan elemen didasarkan pada konsep pengaruh koefisien
kekakuan (stiffness), yang mensyaratkan latar belakang dalam analisis struktural. Salah satu metode adalahmetode kesetimbangan
langsung. Menurut metode ini, matrik kekakuan dan persamaan elemen yang berkaitan pembebanan noda untuk perpindahan noda
diperoleh dengan kondisi kesetimbangan gaya untuk elemen dasar, bersama dengan hubungan gaya atau deformasi. Karena metode ini
paling mudah beradaptasi dengan garis atau bidang (elemen satu atau dua dimensi).
Dengan menggunakan metode di atas akan menghasilkan persamaan untuk menggambarkan perilaku suatu elemen.
Persamaan ini ditulis dengan mudah dalam bentuk matrik sebagai

i\

31

32

A
i

/
3

A A

1-

/2

ku

4T

'A'

"
"

fl-23

k33

"

Kn
K

X
'X
d

(3.3)

A.

Atau dalam bentuk matrik kompak sebagai

{/)=MM

(3-4)

Dimana {/} adalah vektor gaya noda elemen, [] adalah matrik kekakuan elemen, dan {d} adalah vektor dari elemen yang tidak diketahui
derajat kebebasan noda (perpindahan umum). Disini perpindahan umum dapat mencakup jumlah seperti perpindahan aktual, lereng, atau
lekukan.
3.2.5 Langkah 5 Merakit Persamaan Elemen untuk Mendapatkan Persamaan Global atau Total dan Memperkenalkan
Kondisi Batas
Persamaan elemen individu yang dihasilkan pada langkah 4 sekarang
dapat ditambahkan bersama-sama menggunakan metode superposisi (disebut
metode kekakuan langsung) yang berdasar kesetimbangan gaya noda, agar
memperoleh persamaan global untuk seluruh struktur. Tersirat dalam metode
kekakuan langsung adalah konsep kontinuitas, atau kompatibilitas, yang
mengharuskan struktur tetap bersama dan tidak ada kesulitan/kemacetan terjadi di
mana saja dalam struktur.
Rakitan akhir atau persamaan global ditulis dalam bentuk matrik adalah

2
2

(3. s)
Dimana {F} adalah vektor gaya noda global, [F] adalah struktur global atau total matrik kekakuan, dan {d} sekarang vektor struktur
dikenal dan tidak dikenal derajat kebebasan noda atau perpindahan umum. Hal ini dapat menunjukkan bahwa, pada tahap ini, matrik
kekakuan global [F] adalah matrik tunggal karena determinannya sama dengan nol. Untuk menghapus singularitas masalah ini kita harus
memanggil kondisi batas tertentu (atau kendala atau mendukung) sehingga struktur tetap ditempat bukan bergerak sebagai benda tegar.
Pada saat ini cukup untuk dicatat bahwa batas invoking atau dukungan dalam kondisi hasil modifikasi dari persamaan global (3. 5). Kami
juga menekankan bahwa beban dikenal diterapkan telah dicatat dalam matrik gaya global {F}.
3.2.6 Langkah 6 Penyelesaian untuk Derajat Kebebasan yang Tidak Diketahui (atau perpindahan umum)
Persamaan (3. 5), dimodifikasi untuk memperhitungkan kondisi batas, adalah serangkaian persamaan aljabar simultan yang
dapat ditulis dalam bentuk matrik yang diperluas sebagai:

>
1*
2
F
n.

*12 *

- *u'

*21

*22 '

"

*2

- *_

*2n

d2
>

(3.6)

A.

Sekarang n adalah jumlah total struktur derajat kebebasan noda yang tidak diketahui. Persamaan ini dapat diselesaikan untuk d's dengan
menggunakan metode eliminasi (seperti metode Gauss) atau metode iteratif (seperti metode Gauss-Seidel's). d's disebut primer tidak
diketahui karena jumlah pertama ditentukan dengan menggunakan kekakuan (atau perpindahan) metode elemen hingga.

2
3

3. 2. 7 Langkah 7 Penyelesaian untuk Regangan dan Tegangan Elemen


Untuk masalah analisis tegangan struktural, jumlah sekunder yang
penting regangan dan tegangan (atau momen dan gaya geser) dapat diperoleh karena
mereka dapat secara langsung dinyatakan dalam istilah perpindahan ditentukan pada
langkah 6. Hubungan khas antara regangan dan perpindahan dan antara tegangan dan
regangan seperti persamaan (3. 1) dan (3. 2) untuk teganan satu-dimensi yang
diberikan pada langkah 3 dapat digunakan.
3. 2. 8 Langkah 8 Menginterpretasikan Hasil
Tujuan akhirnya adalah untuk menafsirkan dan menganalisis hasil untuk
digunakan dalam desain/proses analisis. Penentuan lokasi di struktur dimana
deformasi yang besar dan tegangan besar terjadi umumnya penting dalam pembuatan
keputusan oleh pendesain/analis. Program komputer Postprocessor membantu
pengguna untuk menginterpretasikan hasil dengan menampilkan dalam bentuk
grafik.
3. 3 Pengaplikasian Metoda Elemen Hingga
Pada pengaplikasian metode elemen hingga dengan menggunakan
software ABAQUS 6.5/CAE, agar efektif dan efisien dalam pelaksanaannya, maka
penulis tidak mengacu pada urutan langkah-langkah yang dipaparkan pada langkahlangkah umum metode elemen hingga, tetapi mengikuti prosedur sesuai aturan yang
ada dalam software.
3. 3.1 Spesifikasi Masalah
Analisis elemen hingga dalam tesis ini menggunakan ABAQUS
6.5/CAE pemodelan terdiri dari 7 simulasi, masing-masing simulasi mewakili kontak
dua bentuk model setengah bola seperti Gambar 3. 2a, dimana masing- masing
pasangan kontak tersebut memiliki perbandingan ukuran (R1/R2) berturut- turut 1, 2,
3, 4, 5, 6, dan 7. Dalam aplikasi pada pemodelan elemen hingga digunakan bentuk
seperempat lingkaran seperti Gambar 3. 2b, hal tersebut dipilih agar lebih efisien
dalam pelaksanaannya. Modulus elastisitas material (j = E2 = 96 GPa), yield
strength (7= 310 MPa), koefisien Friction (p = 0.1, dan 0.2) dan
25

Possions ratio (u, - o2 =0.34). Beban yang digunakan 8000 N dan 11000 N
perbedaan beban tersebut dilakukan agar diperoleh hasil mengenai pengaruh
besarnya beban yang diberikan terhadap deformasi plastis pada masing-masing
pasangan kontak. Pada simulasi dengan beban 8000 N dilakukan menggunakan dua
kondisi yakni kondisi dengan gesekan dan kondisi tanpa gesekan, perbedaan kondisi
tersebut dilakukan agar diperoleh hasil mengenai pengaruh pelumasan yang
diberikan terhadap deformasi plastis pada masing-masing pasangan kontak.

Gambar 3.2 (a) Geometri pemodelan kontak dua spesimen (b) Geometri
pemodelan simulasi.
3. 3. 2 Prosedur Pemodelan Metoda Elemen Hingga
Prosedur pemodelan metoda elemen hingga pada dasarnya meliputi tiga
langkah yang harus dilalui yakni, langkah 1 preprocessing, langkah 2 solution dan
langkah 3. postprocessing. Pemaparan langkah-langkah tersebut secara rinci sebagai
berikut:

2
6