Anda di halaman 1dari 5

Nama

: Naharia

Nim

: 104100111037

Fakultas

: Syariah dan Hukum

Jurusan

: Perbandingan Mazhab & Hukum

Judul

: Wali Nikah Beda Agama Dalam Persfektif Imam Mazhab

A. Latar Belakang
Allah SWT menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Serta
menjadikan makhluknya yang paling sempurna, yaitu manusia laki-laki dan
perempuan, menciptakan hewan jantan dan betina. Begitu pula dengan
tumbuh-tumbuhan. Hal ini dimaksudkan agar semua makhluk hidup
berpasang-pasanga, rukun, dan damai. Sehingga akan tercipta kehidupan
yang tentram, teratur dan sejahtera. Agar makhluk hidup dan kehidupan
didunia ini tetap lestari, maka harus ada keturunan yang akan melangsungkan
dan melanjutkan jalannya roda kehidupan dibumi ini. Untuk itu harus ada
pengembang biakan.
Dan jalinan hubungan mereka dipersatukan oleh suatu akad yang dikenal
dengan pernikahan atau perkawinan. Yaitu dengan mengawinkan pasangan
dari makhluk yang berlainan jenis ini, laki-laki dan perempuan. Pernikhan
merupakan sunatullah yang umum dan berlaku kepada seluruh mahluknya.
Pernikahan akan berperan setelah masing-masing pasangannya sudah
melakukan perannya masing-masing yang positif dalam mewujdkan pernikan
tersebut.

Maka perkawinan merupakan salah satu sunatullah yang termasuk


dalam penciptaan alam ini. Perkawinan merupakan perintah Allah SWT
kepada

hamba_Nya

untuk

memperoleh

keturunan

yang

sah

dalam

masyarakat, yaitu dengan mendirikan rumah tangga yang damai dan tenram.
Allah SWT berfirman:




Terjemahnya: dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu
rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa, dari hidup bersama ini yang
kemudiaan yang akan melahirkan anak dari keturunan mereka dan
merupakan sendi yang paling utama bagi pembentukan negara dan bangsa.
Kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat dan Negara, sebaliknya rusak
dan kacau hidup bersama yang bernama keluarga ini akan menimbulkan
rusak dan kacaunya bangunan masyarakat.
Dalam undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang pernikahan,
pernikahan didefinisikan sebagaimana termuat dalam pasal 1 ayat 2 yaitu:
"Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami
istri dengan tujuan membetuk keluarga, rumah tangga yang bahagia dan kekal
berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa." Pencantuman berdasarkan kepada
ketuhanan yang Maha Esa adalah karena negara Indonesia berdasarkan atas

pancasila dan karena perkawinan mempunyai hubungan yang sangat erat


sekali dengan agama yang bertujuan kepada kebahagiaan dan kekekalan.
Pernikahan merupakan perjanjian yang suci dan kuat untuk hidup
bersama secara sah antara seseorang laki-laki dengan seorang perempuan
dalam membentuk keluarga yang kekal, di samping itu juga santun
menyantuni, kasih mengasihi supaya tentram dan bahagia atau sakinah,
mawaddah. Karena itu pernikahan harus dilaksanakan dengan memenuhi
syarat-syarat dan rukun-rukunnya.
Sebagai salah satu syarat sahnya nikah adalah adanya seorang wali,
sebab itu wali menempati kedudukan yang sangat penting dalam pernikahan.
Seperti diketahui dalam prakteknya, yang mengucapkan Ijab adalah pihak
perempuan dan yang mengucapkan ikrar qobul adalah pihak laki-laki,
disinilah peranan wali sangat menentukan sebagai wakil dari pihak calon
pengantin perempuan.
Kedudukan wali nikah dalam hukum Islam adalah sebagai salah satu
rukun nikah, oleh karena itu imam Syafii berpendapat bahwa nikah dianggap
tidak sah atau batal, apabila wali dari pihak calon pengantin perempuan tidak
ada. hal itu berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan
bahwa ali nikah tidak merupakan salah satu rukun nikah. Karena itu, nikah
dipandang sah sekalipun tanpa wali.
Perkawinan merupakan kebutuhan biologis dan psikologis manusia
sejak zaman dahulu. Pernikahan mempunyai pengaruh yang sangat besar

bagi kehidupan manusia, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.


Karena itu, perkawinan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan hukum
yang berlaku pernikahan dinyatakan sah bila terpenuhi syarat-syarat dan
rukun-rukunnya.
Diketahui bahwa masalah perwalian dalam pernikahan masih banyak
dipermasalahkan. Di satu pihak ada yang berpendapat bahwa salah satu
rukun yang menentukan keabsahan nikah adsalah wali. Dipihak lain ada pula
yang berpendapat tanpa adanya wali, pernikahan tetap sah, bila calon
pengantin telah mencapai usia dewasa. Adapun batas usia dewasa dalam
undang-undang nomor 1 tahun 1974 dan BW (Burgelijk Wetboek) disebutkan
bahwa batas usia dewasa adalah 21 tahun.
Masalah perwalian dalam pernikahan menurut undang-undang nomor
1 tahun 1974 pada bagian penjelasan dinyatakan cukup jelas. Padahal
sesungguhnya hal tersebut belum begitu jelas. Masalahnya adalah siapakah
yang sebenarnya berhak menjadi wali nikah?. Menurut penulis bahwa yang
dimaksud wali dalam undang-undang tersebut adalah izin dari orang tua.
Dalam prakteknya terdapat permasalahan apakah izin dari orang tua tersebut
harus secara tertulis atau tidak.
Dewasa ini perwalian beda agama banyak terjadi, khususnya
dikecamatan Balanipa, sehingga tidak jarang hal ini membuat sulit kedua
pasangan untuk melaksanakan pernikahan. Belum lagi jika seorang nonmuslimah masuk ke dalam agama Islam, sehingga saat pernikahan terjadi

kesulitan khususnya tentang kedudukan wali tersebut. Sebaliknya ketika


seorang bapak non muslim masuk ke dalam agama Islam sementara putrinya
tetap pada agamanya. Maka, hal itu pun menjadi masalah dalam perkawinan
adalah batasan masalah yang penulis tuangkan dalam skripsi ini.