Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH TUGAS BESAR ILMU UKUR TANAH

PROYEK 3 PADA RUAS T34 - T36


PENAMBAHAN DAN PENGURANGAN KEMIRINGAN JALAN

KELOMPOK 24
Henri Faldi

0806329256

Krisman Sinaga

0806329363

Piawai Said Umbara

0806329520

Qi Yahya

0806329533

Afimonika

0806338506

Syifarahma Ayu

0806338941

Waktu Praktikum :
Asisten Praktikum : Kemal Sandianugraha
Tanggal Disetujui :
Nilai

Paraf

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2009

KATA PENGANTAR

Segala Puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat,
hidayah serta karuniaNya penulis dapat menyelesaikan Makalah Tugas Besar Ilmu Ukur Tanah
yang berjudul Proyek 3, Peninggian dan Penurunan Jalan. Makalah ini dibuat sebagai bahan
tugas besar mata kuliah Ilmu Ukur Tanah tahun ajaran 2009. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada asisten ilmu ukur, yaitu Saudara Kemal Sandianugraha, Vandemora dan Salman
Farisi selaku pendamping dan pembimbing yang telah memberikan bekal pengetahuan dan
pengarahan selama praktikum dan proses penulisan makalah tugas besar ilmu ukur tanah ini. Tak
lupa penulis ucapkan terima kasih kepada Tim Dosen Mata Kuliah Ilmu Ukur Tanah
Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Makalah ini disusun sebagai suatu bentuk penilaian akhir dalam mata kuliah ilmu ukur
tanah dan sebagai bentuk kontribusi pemikiran penulis dalam kegiatan surveying pembuatan
jalan raya berdasarkan konsep ilmu ukur tanah. Sebagai calon seorang sarjana teknik sipil
tentunya, penulis harus memahami dan menguasai konsep dan teknis ketekniksipilan. Ilmu ukur
tanah merupakan studi ilmu pengetahuan dalam teknik sipil yang mempelajari tentang pemetaan
dan topografi dalam membangun suatu proyek bangunan. Pembangunan yang akan dilakukan
oleh seharusnya sesuai dengan prinsip-prinsip keilmuan teknik sipil. Pembangunan tersebut
meliputi berbagai infrastruktur yang menunjang kehidupan manusia. Keadaan yang terjadi justru
sebaliknya, dewasa ini masih banyak ditemukan infrastruktur yang dikerjakan tidak sesuai
standar. Hal ini tentunya harus diperhatikan oleh penulis sebagai calon sarjana teknik sipil.
Demikianlah makalah tugas besar ilmu ukur tanah ini disusun, semoga dapat bermanfaat
dalam penyelesaian masalah berupa adanya pengaruh negatif akibat globalisasi pada sistem
ketahanan nasional di bidang kebudayaan. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan untuk perbaikan dalam pembuatan makalah di kemudian hari.

Depok, 10 Desember 2009

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ..ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....1
1.2 Tujuan Praktikum2
1.3 Batasan Masalah...3
1.4 Rumusan Masalah4
1.5 Metode Penulisan.5
1.6 Sistematika Penulisan..6
BAB II
PENGUMPULAN INFORMASI DAN LITERATUR
2.1 Istilah dan Definisi ..7
2.2 Teori Dasar..
2.3 Prosedur Percobaan
BAB III
BAB IV
BAB V

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Teknik sipil adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang bertujuan untuk
menyediakan infrastruktur yang berguna bagi kehidupan manusia yang dilakukan secara teknis.
Sistem yang diatur oleh ilmu teknik sipil, diantaranya adalah transportasi. Transportasi erat
kaitannya dengan sarana perhubungan dengan infrastruktur penunjang berupa jalan raya. Salah
satu ilmu yang mempelajari dan berguna bagi pembangunan infrastruktur transportasi adalah
Ilmu Ukur tanah.
Ilmu ukur tanah merupakan studi ilmu pengetahuan dalam teknik sipil yang mempelajari
tentang pemetaan dan topografi dalam membangun suatu proyek bangunan, termasuk
pembangunan jalan. Pembangunan yang akan dilakukan oleh seharusnya sesuai dengan prinsipprinsip keilmuan teknik sipil. Pembangunan tersebut meliputi berbagai infrastruktur yang
menunjang kehidupan manusia. Keadaan yang terjadi justru sebaliknya, dewasa ini masih
banyak ditemukan infrastruktur yang dikerjakan tidak sesuai standar. Sebagian besar
pembangunan yang ada mungkin sudah sesuai dengan fungsinya, tetapi sering kali banguan yang
telah selesai dikerjakan tidak dirawat dengan baik sehingga mengurangi nilai fungsi dari
infrastruktur itu sendiri.
Teknik sipil merupakan bidang studi yang sangat berperan penting dalam proses
pembangunan dan perkembangan suatu wilayah. Teknik sipil bertugas untuk melihat kondisi
wilayah tersebut (survey), kemudian menganalisa hubungan antara kehidupan masyarakat
setempat dengan teknologi yang cocok bagi perkembangan dan perencanaan wilayah tersebut.
Lebih lagi, Teknik Sipil juga bertanggung jawab dalam permasalahan lingkungan dan sosial
yang akan timbul oleh karena perkembangan wilayah itu. Penyediaan fasilitas dan kebutuhan
primer lainnya seperti air bersih dan listrik juga menjadi perhatian dan tanggung jawab teknik
sipil.
Dalam tahapan prakonstruksi, kegiatan survey sangatlah penting untuk mendapatkan
hasil yang baik. Hal ini dikarenakan kegiatan survey merupakan kegiatan yang dapat membantu
untuk melihat secara langsung kondisi nyata di lingkungan sekitarnya. Selain itu, melalui

kegiatan survey kita juga dapat mengidentifikasi masalah nyata yang terjadi di lingkungan.
Setelah kegiatan survey, identifikasi, dan analisis dilaksanakan, diharapkan dapat memberikan
rekomendasi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Dalam bidang teknik sipil terdapat beberapa tahapan dalam melaksanakan pembangunan.
Tahapan-tahapan tersebut antara lain prakonstruksi, konstruksi, dan pascakonstruksi. Dalam
tahapan prakonstruksi terdapat beberapa kegiatan seperti studi kelayakan, survey atau
investigasi, dan perencanaan. Untuk tahapan konstruksi terdapat kegiatan yang berhubungan
dengan konsultan atau kontraktor. Sedangkan tahapan pasca-konstruksi meliputi kegiatan
pemeliharaan, operasi, dan penelitian.
Sebagai seorang Civil Engineer, perlu adanya pengetahuan dan kompetensi dalam bidang
teknik sipil yang dapat berguna dan diaplikasikan dalam kegiatan konstruksi yang bermanfaat
bagi kehidupan masyarakat luas. Adapun hal yang dinilai penting dilakukan demi terciptanya
keteraturan dan kenyamanan jangka panjang bagi masyarakat sebagai pengguna infrastruktur
adalah kondisi infrastruktur yang terawat yang dinamakan tahap maintenance.. Apabila kondisi
tersebut tidak tercapai, akan timbul berbagai permasalahan yang saling terkait seperti kerusakan
infrastruktur dan ketidaknyamanan pengguna.
Untuk mewujudkan pembangunan tersebut, ilmu teknik sipil yang diperoleh di bangku
kuliah dalam pembangunan infrastruktur di kehidupan nyata. Survey yang kami lakukan ini
merupakan salah satu bentuk usaha pembangunan infrastruktur yang lebih baik, khususnya pada
bidang transportasi, dengan terlebih dahulu melakukan perbaikan infrastruktur jalan yang sudah
ada.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum tugas besar ini adalah untuk mengetahui jumlah volume galian dan
timbunan pada ruas jalan tepatnya pada ruas T34-T36 dengan menaikkan dan menurunkan
kemiringan jalan 2% disisi yang berbeda.

I.3 Batasan Masalah


Lingkup wilayah yang menjadi objek survey dan pengukuran ini adalah proyek 3, yaitu
stasiun T34 sampai T36 ruas jalan di wilayah kampus UI Depok. Adapun pada makalah ini
hanya akan membahas metode peninggiann dan penurunan jalan yang akan dilakukan pada ruas
ini.
I.4 Rumusan Masalah
Kondisi jalan di lingkungan Kampus UI Depok, pada beberapa titik, masih tergolong
kurang sesuai dengan SNI yang ada. Permasalahan utama yang kami amati adalah kondisi
kemiringan jalan. Pada proyek 3, kemiringan jalan pada tikungan kurang sesuai dengan yang
disyaratkan.

I.5 Metode Penulisan


Metode penulisan yang penulis pergunakan adalah metode observasi dan kepustakaan.
1. Survey lapangan
Metode ini dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung kondisi di lapangan.
2. Studi pustaka
Metode ini dilakukan dengan cara mempelajari literatur terkait berupa Standar Nasional
Indonesia tentang pelebaran jalan.

I.6 Sistematika Penulisan


BAB I Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
I.2 Tujuan Penulisan
I.3 Batasan Masalah
I.4 Rumusan Masalah
I.5 Metode Penulisan
I.6 Sistematika Penulisan
BAB II Pengumpulan informasi dan Literatur
BAB III Data dan pengolahan data
BAB IV Analisis dan Perbandingan
BAB V Kesimpulan dan Saran

BAB II
PENGUMPULAN INFORMASI DAN LITERATUR

II.1 Istilah dan definisi


Macam-macam istilah dan pengertian dalam standar:

Jalan perkotaan
Jalan di daerah perkotaan yang memiliki perkembangan permanen dan menerus di
sepanjang, seluruh atau sebagian jalan, minimum pada satu sisi jalan, apakah merupakan
penambahan lahan ataupun bukan, jalan di atau bukan pusat perkotaan dengan penduduk
lebih dari 100.000 jiwa selalu digolongkan dalam kelompok ini.

Jalan arteri
Jalan yang melayani angkutan utama dengan jarak yang jauh, kecepatan rata-rata tinggi,
dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.
(undang-undang RI no 13 tahun 1980)

Jalan kolektor
Jalan yang melayani pengumpulan atau pembagian dengan ciri-ciri perjalanan
sedang/jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan lajan masuk dibatasi.
(undang-undang RI no 13 tahun 1980)

Jalan lokal
Jalan yang melayani angkutan setempat dengan cirri-ciri perjalanan jarak dekat,
kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Jalan arteri primer


Jalan yang menghubungkan secara efisien antar pusat kegiatan wilayah dengan pusat
kegiatan lokal.

Jalan kolektor sekunder


Jalan yang menguhungkan kawasan sekunder dengan kawasan sekunder kedua atau
antara kawasab sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.

Jalan lokal sekunder


Menghubungkan kawasan sekunder ke satu dengan perumahan, kawasan sekunder kedua
dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dengan perumahan, dan seterusnya dengan
perumahan.

Alinyemen horizontal
Proyeksi garis sumbu jalan pada bidang horizontal

Alinyemen vertical
Proyeksi garis sumbu jalan pada bidang vertical dengan sumbu jalan.

Badan jalan
Bagian jalan yang meliputi jalur lalu lintas, dengan atau tanpa jalur pemisah dan bahu
jalan.

Bahu jalan
Bagian daerah manfaat jalan yang berdampingan dengan jalur lalu lintas untuk
menampung kendaraan yang berhenti, keperluan darurat dan untuk dan untuk pendukun
pondasi samping, pondasi bawah, dan permukaan.

Trotoar
Jalur lalu lintas untuk pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan sumbu jalan dan lebih
tinggi dari permukaan perkerasan jalan ( untuk menjamin keselamatan pejalan kaki yang
bersangkutan).

Damaja
Merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar, tinggi, dan kedalaman ruang
bebas tertentu, dimana ruang meliputi seluruh badan jalan, saluran tepi jalan, trotoar,
lereng, ambang pengaman, timbunan dan galian, gorong-gorong, perlengkapan jalan, dan
bangunan lainnya.

Damija
Merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar dan tinggi tertentu yang
diperuntukkan bagi daerah manfaat jalan dan pelebaran jalan maupun penambahan jalur
lalu lintas dikemudian hari serta kebutuhan ruangan untuk pengamanan jalan.
( Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 )

Dawasja
Lajur jalan di luar damija yang berada dibawah pengawasan penguasa jalan, ditujukan
untuk penjagaan terhadapnya terhalangnya pandangan bebas pengemudi dan untuk
konstruksi jalandalam ruang daerah jalan tidak mencukupi.
( Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1985 )

II.2 Ketentuan umum geometrik jalan


a. Memenuhi aspek keselamatan, kelancaran, efisiensi, ekonomi, ramah lingkungan, dan
kenyamanan.
b. Mempertimbangkan dimensi kendaraan
c. Mempertimbangkan efisiensi perencanaan.
d. Mendukung hirarki fungsi dan kelas jalan dalam suatu tatanan sistem jaringan jalan
secara konsisten
e. Mempertimbangkan pandangan bebas pengguna jalan.
f. Mempertimbangkan drainase jalan.
g. Memptimbangkan kepentingan para penyandang cacat.

II.3 Penampang melintang jalan

2.1 Teori Dasar

Dalam menentukan volume galian dan timbunan peta topografi harus diketahui. Topografi
merupakan faktor dalam menentukan lokasi jalan dan pada umumnya mempengaruhi penentuan
trase jalan, seperti ; landai jalan, jarak pandang, penampang melintang dan lain-lainnya.
Pengukuran topografi dapat dilakukan dengan pengukuran waterpass melintang. Waterpass
adalah alat yang digunakan untuk mengukur beda ketinggian antara dua titik. Jika terdapat 2 titik
yang akan ditentukan jarak selisih tingginya mempunyai jarak terlalu panjang, sehingga rambu
ukur tidak dapat dilihat dengan jelas maka jarak tersebut dapat dibagi menjadi jarak yang lebih.
Jarak bidik biasanya 50-60 m. Untuk menentukan tinggi permukaan bumi dapat dilihat dari suatu
bidang referensi, yaitu bidang yang ketinggiannya dianggap nol. Beda ketinggian diatas
permukaan bumi dapat ditentukan dengan berbagai cara, antara lain :
1. Sipat datar(Spirit levelling)
2. Takhimetrik(tachymetric levelling)
3. Trigonometrik( trigonometric levelling)kecil.
4. Barometrik(barometric levelling)
Sipat datar merupakan metode penentuan beda tinggi yang paling teliti. Metode ini biasa
digunakan untuk menentukan ketinggian titik-titik kerangka dasar pemetaan atau pekerjaanpekerjaan rekayasa yang membutuhkan ketelitian yang tinggi. Istilah sipat datar disini berarti
konsep penentuan beda tinggi antara dua titik atau lebih dengan dengan garis bidik mendatar
/horizontal yang diarahkan pada rambu-rambu yang berdiri tegak atau vertikal. Sedangkan alat
ukurnya disebut penyipat datar atau waterpass. Alat ini didirikan pada suatu titik yang diarahkan
pada rambu yang berdiri vertikal.

Untuk mencari jarak optis antara dua titik dapat digunakan rumus sebagai berikut :
D = 100 (BA BB)
Keterangan :
D

: jarak datar optis

BA

: bacaan benang atas

BB

: bacaan benang bawah

100

: konstanta pesawat

Bukit, lembah, sungai dan danau sering memberikan pembatasan terhadap lokasi dan
perencanaan trase jalan. Hal demikian perlu dikaitkan pula pada kondisi medan yang
direncanakan. Cara menghitung volume galian maupun timbunan didasarkan dari gambar
potongan melintang. Dari gambar-gambar tersebut dapat dihitung luas galian dan timbunan
profil.

Besarnya jumlah volume galian dan timbunan dapat dinyatakan dengan mass diagram.
Mass diagram adalah grafik yang menyatakan hubungan antara STA sebagai sumbu x dan
volume kumulatif dari galian (cut) sebagai sumbu y positif (+) dan volume kumulatif timbunan
(fill) sebagai sumbu y negatif (-). Dalam suatu diagram, garis keseimbangan menunjukkan
terdapatnya keseimbangan antara gali dan timbun.
Posisi grafik tidak memotong keseimbangan :

Diatas garis : terjadi pembuangan tanah

Di bawah garis : terjadi penambahan tanah dari luar segmen

Gambar Mass Diagram


Pengertian Volume
3

Volume mempunyai dimensi kubik, misalnya meter kubik (m ). Secara sederhana


diambil contoh suatu balok yang mempunyai ukuran panjang 10 m, lebar 0,5 m dan tinggi 6 m
3

akan mempunyai volume = panjang x lebar x tinggi = 10 m x 0,5 m x 6 m = 30 m . Pada


pembahasan kali ini yang dimaksud volume adalah volume tanah. Sering terjadi bahwa bentuk
tanah yang akan dihitung volumenya tidak ideal, artinya tidak selalu berbentu balok atau silinder.
Permukaan tanah yang tidak beraturan akan dihitung volumenya dengan beberapa metode. Yang
dimaksud dengan bidang tanah disini referensinya adalah pada bidang datar atau bidang
proyeksi.

Volume Tanah
Volume tanah yang dimaksud disini adalah apabila ingin menggali atau menimbun tanah
pada suatu tempat ( Cut and fill ) atau untuk menghitung material (bahan) galian yang sifatnya
padat. Suatu bidang tanah yang mempunyai ketinggian bervariasi, misalnya 10 m, 12 m, 15 m,
13 m, 12 m dan seterusnya, jika ingin dibangun gedung diatasnya dengan level (ketinggian)
tertentu, misalnya 16 m, maka bidang tanah tersebut harus ditimbun. Yang menjadi pertanyaan
adalah berapa volume timbunannya? Volume timbunan ini yang akan dihitung besarnya. Kasus
lain, apabila suatu daerah merupakan gundukan (tanah tinggi), sedangkan daerah tersebut akan
dibangun dengan ketinggian tertentu yang mengharuskan memangkas (memotong) ketinggian
daerah tersebut. Volume galian ini yang akan dihitung besarnya.

Metode Menghitung Volume Tanah


Prinsip hitungan volume adalah 1 (satu) luasan dikalikan dengan 1 (satu) wakil tinggi.
Apabila ada beberapa luasan atau beberapa tinggi, maka dibuat wakilnya, misalnya dengan
merata-ratakan luasan ataupun merata-ratakan tingginya. Ada beberapa cara atau metode untuk
menghitung volume tanah baik timbunan yang harus ditambahkan maupun galian yang harus
diambil tanahnya yaitu dengan cara :
-

Penampang rata-rata

Volume =
Keterangan :
A1 = luas penampang 1
A2 = luas penampang 2
d = jarak antar penampang 1 dan 2

Gambar 15.1. Metode Penampang Rata-rata

2.2 Prosedur Percobaan


1. Menggambar sketsa daerah beserta titik-titik yang akan

diukur beda

ketinggiannya.
2. Memasang theodolite pada statif dan meletakkannya di T10
3. Mengatur theodolite sehingga letak nivo berada di tengah.
4. Memulai pembidikan ke titik-titik yang telah di tentukan, yaitu pada setiap bagian
pinggir dan tengah jalan, lebar dan kedalaman selokan.
5. Membidik dan memfokuskan theodolite terhadap rambu sehingga dapat
terbaca.benang atas, tengah, dan bawah. Pada titik-titik sebagai berikut: pinggir
median jalan, median jalan, bahu jalan, lebar dan tinggi trotoar, lebar dan
kedalaman selokan.
6. Setelah titik-titik di sepanjang T10 dibidik, melakukan pembidikan ke titik
diantara T9 dan T8.
7. Dari titik tersebut dilakukan hal yang sama pada T10, A (titik diantara T10 dan
T9), T9, B (titik di antara T9 dan T8 ), dan T8.
8. Mencatat hasil pengukuran.

BAB III
PENGOLAHAN DATA

Dari praktikum yang telah dilakukan penulis pada proyek 3 diperoleh data sebagai berikut :

Titik
Alat

Tinggi Alat

T34

122

123

Titik
Bidik
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

BA (cm)
164.5
175
255.5
255.5
174.5
149.2
167.8
149.2
124.2
104.5
119.5
137.5
144.5
150.5
173.4
236
236.5
171
128.3
196.5
108.1
123.1
164.5
144
146.2
223.8
225
179.8
178
110.8
108.8
123.5

BT (cm)
160
170.5
251.5
251.5
170.5
145.8
164.5
149
124
104
118.2
136.2
140.5
146.5
168.5
231.2
231.2
165.8
122.6
172
107.7
122.7
161.2
140.7
142.1
219.5
220.5
175.3
173.2
110
107.5
122.5

BB (cm)
155
166
247.5
247.2
166.5
142.5
161.2
148.8
123.8
103.5
117
134.8
136
142.3
163.5
226.2
226
160.5
117
147
107.3
122.3
158.2
137.5
138
215.5
216
170.8
168.5
109.8
106.3
121

Jarak
(m)
9.5
9
8
8.3
8
6.7
6.6
0.4
0.4
1
2.5
2.7
8.5
8.2
9.9
9.8
10.5
10.5
11.3
49.5
0.8
0.8
6.3
6.5
8.2
8.3
9
9
9.5
1
2.5
2.5

T9

120.5

120.5

13
14
15
16
17
18
19

125.8
150.8
151.6
211.6
211.9
151.9
98.5

T9
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

106.5
131.2
148.8
170
153.8
155.7
281.5
185
282
177
131
150.25
155
132.5
148.5
179
147.5
113
135.5
159
186
169.7
168.7
303.5
304
203.7
189
134
153.1
139.2
118.9
124.5
156.2

121.4
146.4
146.4
206.4
206.4
146.4
92.5
81
130.6
148.1
166.2
150
151
277
180
277.5
170.5
130.5
149.5
151
128.5
142.5
175
142
89
134.5
158
182
165
164
289.5
299
198.7
183.7
133.3
152.4
135.5
115.1
120.5
152

117
142
141.2
201.2
200.9
140.9
86.5
56
129.9
147.3
162.4
146.3
146.3
272
175
273
166.5
130
149
148
125
138.5
170.5
137
84
134
157
178
161.5
159.5
294
294
193.7
178.5
132.8
151.7
131.9
111.4
116.5
147.6

8.8
8.8
10.4
10.4
11
11
12
50.5
1.3
1.5
7.6
7.5
9.4
9.5
10
9
10.5
1
1.25
7
7.5
10
8.5
10.5
29
1.5
2
8
8.2
9.2
9.5
10
10
10.5
1.2
1.4
7.3
7.5
8
8.6

T8

121.5

T10

End Area (m 2)
Cut
Fill
1.3709
2.0555

1.8655

4.1765

1.28823

1.6143

1.482

3.075

T8

1.901

3.3527

Stasiun

T9

16
17

149.2
112

144.4
106

139.4
100.8

9.8
11.2

T8
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

198
136.9
150.3
166.5
145.5
172.4
241.4
241.5
177
131
137.5
153.6
172
155.5
160.9
301.2
300.8
300.8
191.7

163
136.1
149.5
162.5
141.7
167.9
236.7
236.5
172
125.5
137
153
168.4
152
156.4
295.7
295.7
295.9
186.4

128
135.2
148.7
158.7
137.8
163.2
232
231.7
167
120.2
136.5
152.5
164.6
148.2
151.9
291.2
291.2
291
182.1

70
1.7
1.6
7.8
7.7
9.2
9.4
9.8
10
10.8
1
1.1
7.4
7.3
9
10
9.6
9.8
9.6

19

181.4

176.2

171

10.4

Volume Cut
(m 3)

Volume Fill
(m 3)

Adjusted Fill

Mass Diagram
Ordinat

80.91

155.8

171.38

-90.47

78.84325

144.77

159.247

-170.87375

69.25575

117.2325

128.95575

-230.57375

84.575

160.6925

176.76175

-322.7605

897.525

333.8175

367.19925

207.56525

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Analisa Praktikum


Praktikum Ilmu Ukur Tanah pada proyek 3 ini bertujuan untuk meninggikan dan
menurunkan jalan pada ruas yang berbeda, yaitu sebesar 2%. Praktikan telah melakukan
praktikum tugas besar Ilmu Ukur Tanah ini pada tanggal 22 November 2009, Praktikan
melakukan pengukuran jalan pada ruas 13 (T34 T36) yang terdapat di lingkungan Universitas
Indonesia, lokasi tersebut lebih tepatnya terdapat di daerah sepanjang jalan yang berada di depan
Fakultas Teknik hingga depan Halte Ekonomi .
Pertama-tama praktikan memulai pengukuran pada titik T34. Praktikan mengukur
menggunakan theodolite setiap bagian jalan untuk mendapatkan potongan melintang pada titik
T34. Theodolite diletakkan tepat diatas T34, yakni di median jalan. Kemudian praktikan
mengukur bagian jalan sebelah kiri dari arah depan Teknik hingga depen Halte Ekonomi.
Praktikan membidik ke pinggir median, tengah jalan, bahu jalan, pinggir selokan, tengah
selokan, dan tiga meter dari bahu jalan, untuk mendapatkan BA, BT, dan BB dan sudut
kemiringan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan lebar dan beda ketinggian jalan, lebar dan
beda ketinggian selokan,dan lebar dan beda ketinggian trotoar. Praktikan juga melakukan pada
ruas kanan jalan. Kemudian praktikan menembak kearah X1, yakni titik diantara T34 dan T35,
untuk mengetahui jarak dan perbedaan sudut. Pengukuran ini dilakukan berulang kali, yakni
pada titik X1 (titik diantara T34 dan T35, T36, X2 (titik diantara T34 dan T35), dan T36.
Dalam melakukan praktikum ini, praktikan mengalami kesulitan. Hal ini dapat terjadi
karena ruas jalan yang diukur ada yang merupakan suatu belokan, sehingga praktikan sulit dalam
menentukan sudut. Pada saat mengukur di titik T36, praktikan juga mengalami kesulitan karena
pada ruas jalan sebelah kiri dari arah Fakultas Ekonomi terdapat halte.