Anda di halaman 1dari 126

ANALISIS PEMASARAN JERUK SIAM

DI KAMPUNG WADIO, DISTRIK NABIRE BARAT,


KABUPATEN NABIRE, PAPUA

SKRIPSI

CINTYA HANDAYANI SINAGA


H34070102

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

RINGKASAN
CINTYA HANDAYANI SINAGA. Analisis Pemasaran Jeruk Siam di Kampung
Wadio, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua. Skripsi. Departemen
Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di
bawah bimbingan LUSI FAUSIA).
Wilayah Indonesia memiliki potensi yang tinggi untuk mengembangkan
pertanian. Selain itu, pertanian juga memegang peranan yang sangat penting bagi
perekonomian Indonesia. Salah satu produk pertanian yang memiliki pasar yang
cukup besar adalah hortikultura. Hortikultura yang prospektif untuk
dikembangkan adalah buah-buahan. Jeruk siam merupakan salah satu jenis buahbuahan yang digemari oleh masyarakat. Kabupaten Nabire menjadi salah satu
sentra produksi jeruk siam di Provinsi Papua karena tingginya jumlah produksi
jeruk siam di kabupaten tersebut. Kesesuaian tanaman jeruk dengan keadaan
lingkungan di Kabupaten Nabire mendorong pemerintah untuk melakukan
pengembangan jeruk di daerah tersebut. Akan tetapi, perluasan areal penanaman
dan peningkatan jumlah produksi tidak sejalan dengan peningkatan pemasaran
komoditi tersebut. Oleh sebab itu, dilakukanlah analisis sistem pemasaran jeruk
siam pada daerah tersebut.
Penelitian ini dilakukan di Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat,
Kabupaten Nabire, Papua. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive
sampling). Kegiatan pengambilan data dilakukan sejak Februari 2011 hingga
April 2011. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Sampel
yang digunakan terdiri dari dua kelompok responden, yaitu kelompok petani
responden yang terdiri dari 15 orang, dipilih secara purposive (sengaja) dan
kelompok responden lembaga pemasaran yang terdiri dari 16 orang, dipilih
dengan menggunakan metode snowball sampling. Penelitian ini menggunakan
metode analisis deskriptif serta menggunakan metode pengolahan data analisis
kualitatif dan kuantitatif. Analisis sistem pemasaran dilakukan dengan
mengidentifikasi lembaga-lembaga dan saluran pemasaran yang terjadi di daerah
tersebut. Selain itu juga dilakukan analisis struktur, perilaku dan keragaan pasar.
Efisiensi sistem pemasaran dianalisis dengan menggunakan tiga pendekatan yaitu
marjin pemasaran, farmers share, dan rasio keuntungan terhadap biaya.
Kemudian dilakukan analisis struktur biaya pemasaran untuk mengetahui
kesesuaian biaya yang dikeluarkan dengan kebutuhan.
Lembaga pemasaran yang berperan dalam memasarkan jeruk dari
Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat adalah petani, pedagang pengumpul,
pedagang besar, dan pedagang pengecer. Terdapat enam pola saluran pemasaran
yaitu; Saluran 1: Petani Pedagang pengumpul Pedagang besar Pedagang
pengecer non lokal Konsumen; Saluran 2 : Petani Pedagang pengecer pasar
Pedagang pengecer pinggir jalan Konsumen; Saluran 3 : Petani Pedagang
pengecer pasar Konsumen; Saluran 4 : Petani Pedagang pengecer keliling
Konsumen; Saluran 5 : Petani Pedagang pengecer pinggir jalan Konsumen;
dan Saluran 6 : Petani Konsumen..
Lembaga pemasaran jeruk di Kampung Wadio melakukan fungsi-fungsi
pemasaran seperti fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Setiap
lembaga pemasaran yang ada melakukan fungsi pemasaran yang berbeda-beda.

Akan tetapi, tidak semua lembaga pemasaran melakukan semua fungsi-fungsi


pemasaran yang ada. Fungsi pemasaran yang paling dominan dilakukan oleh
lembaga pemasaran yang ada adalah fungsi pertukaran.
Struktur pasar yang dihadapi oleh petani adalah bersaing murni. Pedagang
pengumpul dan pedagang besar menghadapi struktur pasar yang sama yaitu
oligopsoni. Sedangkan struktur pasar yang dihadapi pedagang pengecer lokal dan
non lokal adalah bersaing murni. Sistem penentuan harga pada semua saluran
umumnya mengikuti harga yang berlaku. Akan tetapi, pedagang pengumpul pada
saluran 1 (satu) terkadang cenderung lebih memiliki kekuatan dalam menentukan
harga, terlebih lagi di saat musim panen tiba. Sistem pembayaran jeruk yang
diterapkan pada pemasaran jeruk di Kampung Wadio umumnya adalah sistem
tunai. Kerjasama yang terjadi diantara lembaga pemasaran adalah antara pedagang
pengumpul dengan petani serta antara pedagang pengumpul dengan pedagang
besar.
Margin pemasaran yang ada tidak diterima secara merata oleh tiap saluran
pemasaran yang ada. Hal ini dikarenakan komponen dan besarnya biaya yang
dikeluarkan serta fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan setiap lembaga
pemasaran berbeda-beda. Struktur biaya pemasaran pada saluran pemasaran jeruk
adalah biaya tenaga kerja, biaya pengangkutan, biaya pengemasan, biaya
penyimpanan, biaya retribusi, biaya penyusutan, biaya bongkar muat, biaya
komunikasi dan biaya timbang. Saluran pemasaran 3 merupakan saluran yang
paling efisien, diukur berdasarkan nilai margin, farmers share, dan rasio
keuntungan terhadap biaya serta volume penjualan.

ii

Judul Skripsi

: Analisis Pemasaran Jeruk Siam di Kampung Wadio, Distrik


Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua

Nama

: Cintya Handayani Sinaga

NRP

: H34070102

Disetujui,
Pembimbing

Ir. Lusi Fausia, M.Ec


NIP. 19600321 198601 2 001

Diketahui
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS


NIP. 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Analisis
Pemasaran Jeruk Siam di Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat, Kabupaten
Nabire, Papua adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian
akhir skripsi ini.

Bogor,

Juli 2011

Cintya Handayani Sinaga


H34070102

ANALISIS PEMASARAN JERUK SIAM


DI KAMPUNG WADIO, DISTRIK NABIRE BARAT,
KABUPATEN NABIRE, PAPUA

CINTYA HANDAYANI SINAGA


H34070102

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis menyadari bahwa selama penulisan skripsi tidak lepas dari
kerjasama, doa, dukungan, dan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih pada:
1. Ibu Ir. Lusi Fausia, M.Ec selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah
mencurahkan pikiran serta meluangkan waktu dalam memberikan
petunjuk dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Ir. Suharno, M.Adev selaku dosen penguji utama pada ujian
sidang penulis, yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik
dan saran demi perbaikan skripsi ini.
3. Ibu Yanti Nuraeni Muflikh, SP, M.Agribuss selaku dosen penguji dari
Komisi Pendidikan yang telah meluangkan waktunya serta memberikan
kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.
4. Ibu Eva Yolynda selaku dosen pembimbing akademik atas motivasi dan
segala dukungan yang diberikan selama perkuliahan.
5. Bapak AL. Sinaga (Bapak) dan Ibu Elly Rosida (Mama) atas seluruh kasih
sayang, dukungan, cinta kasih dan doa sepanjang hidup penulis.
6. Eva, Evi,

Dewi Sinaga yang

telah mendukung serta memberikan

semangat dan doa kepada penulis serta Kak Tika yang telah memberikan
bantuan dan dukungan kepada penulis dalam penulisan skripsi.
7. Para petani dan pedagang jeruk siam di Kabupaten Nabire, atas kerjasama
dan bantuannya selama penulis melakukan penelitian.
8. Para penyuluh dan aparat desa atas bantuan dan informasi selama penulis
melakukan penelitian ini.
9. Teman-teman seperjuangan Agb 44, Inang Nova Meliyora, Desi Natalis
dan Sella Kristy atas semangat dan dukungan serta kerjasama selama
perkuliahan. Dan juga kepada teman se-PS, Astri Widayanti, atas bantuan
dan dukungan selama

bersama-sama melakukan bimbingan, revisi,

seminar dan sidang dalam penyelesaian skripsi ini.


10. Saudara-saudariku Kpanis, Yesika (Kutil), Krisna (Mbul), Esti (Estut) dan
semua Kpanis yang tidak dapat disebutkan satu per satu, atas dukungan,
semangat serta doa kepada penulis.

11. Teman-teman Kost Putri Bunda, Ka Yomi dan Eci atas semangat dan
dukungan yang diberikan kepada penulis.
12. Teman-teman Agb44 atas kerjasama selama perkuliahan di Departemen
Agribisnis.
13. Ibu Ida, Mbak Dian, Pak Yusuf, dan seluruh dosen serta staf Departemen
Agribisnis, terima kasih telah banyak membantu dan memberikan
dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.
14. Tidak lupa juga saya ucapkan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam
penyelesaian skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung dan
terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya.

Bogor, Juli 2011


Penulis

xi

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Cintya Handayani Sinaga, dilahirkan di Nabire
pada tanggal 3 April 1990. Penulis adalah anak pertama dari empat bersaudara
dari pasangan Bapak Asranlundu Sinaga dan Ibu Elly Rosida Hutabarat.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Inpres Nabarua Nabire
pada tahun 2001 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2004
di SMP Negeri 1 Nabire. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMA Negeri 1
Nabire diselesaikan pada tahun 2007. Penulis diterima pada Departemen
Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui
jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dari Kabupaten Nabire pada tahun 2007.
Selama mengikuti pendidikan, penulis tercatat sebagai anggota Unit
Kegiatan Mahasiswa Kristen (PMK) Institut Pertanian Bogor pada Komisi
Pelayanan Anak (KPA) dan menjadi Badan Pengurus Harian Komisi Pelayanan
Anak periode 2009-2010. Selain itu, penulis pernah mengikuti berbagai
kepanitian, yaitu Retreat Komisi Pelayanan Anak pada tahun 2009, Paskah Besar
Anak pada tahun 2009 dan Natal Civitas Akademika (Civa) Institut Pertanian
Bogor tahun 2008 dan 2010.

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan penyertaan-Nya
dalam hidup penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Analisis Pemasaran Jeruk Siam di Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat,
Kabupaten Nabire, Papua.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis saluran pemasaran, lembaga
pemasaran dan menganalisis tingkat efisiensi pemasaran jeruk siam di Kampung
Wadio. Metode analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan
pendekatan Structure-Conduct-Performance.
Namun demikian, sangat disadari masih terdapat kekurangan serta
keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran
dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan pada skripsi ini sehingga
dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Juli 2011


Cintya Handayani Sinaga

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL..

xiv

DAFTAR GAMBAR

xvi

DAFTAR LAMPIRAN..

xvii

PENDAHULUAN ........................................................................
1.1. Latar Belakang ....................................................................
1.2. Perumusan Masalah .............................................................
1.3. Tujuan Penelitian .................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ...............................................................
1.5. Ruang Lingkup Penelitian....................................................

1
1
10
12
12
12

II

TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................


2.1. Gambaran Umum Komoditas Jeruk Siam ............................
2.2. Penelitian Terdahulu ............................................................

14
14
16

III

KERANGKA PEMIKIRAN ..........................................................


3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ...............................................
3.1.1 Pengertian Pemasaran ................................................
3.1.2 Saluran dan Lembaga Pemasaran ...............................
3.1.3 Fungsi-Fungsi Pemasaran ..........................................
3.1.4 Struktur, Perilaku dan Keragaan pasar ........................
3.1.4.1. Struktur Pasar ..............................................
3.1.4.2. Perilaku Pasar ..............................................
3.1.4.3. Keragaan Pasar ............................................
3.1.5 Struktur Biaya Pemasaran ..........................................
3.1.6 Margin Pemasaran .....................................................
3.1.7 Farmers Share ..........................................................
3.1.8 Efisiensi Pemasaran ...................................................
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional..........................................

20
20
20
22
24
25
25
26
27
27
29
31
31
34

IV

METODE PENELITIAN ..............................................................


4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ..............................................
4.2. Jenis dan Sumber data ...........................................................
4.3. Metode Pengumpulan Data ...................................................
4.4. Metode Penarikan Sampel ....................................................
4.5. Metode Pengolahan Data ......................................................

35
35
35
36
36
36

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ..........................


5.1. Karakteristik Kampung Wadio ............................................
5.2. Karakteristik Responden .......................................................
5.2.1. Karakteristik Petani Responden ...................................
5.2.2. Karakteristik Pedagang ..............................................
5.3. Gambaran Usahatani Jeruk Siam di Kampung Wadio ..........

44
44
47
47
49
51

VI

HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................


6.1. Lembaga Pemasaran .............................................................

57
57

6.2. Saluran Pemasaran ...............................................................


6.3. Fungsi-Fungsi Pemasaran .....................................................
6.4. Struktur dan Perilaku Pasar...................................................
6.5. Struktur Biaya, Margin Pemasaran dan Farmers Share ........
6.6. Analisis Keuntungan terhadap Biaya ....................................
6.7. Efisiensi Pemasaran ..............................................................

62
67
74
77
84
87

VII KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................


7.1. Kesimpulan ..........................................................................
7.2. Saran ....................................................................................

89
89
90

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................

91

LAMPIRAN .........................................................................................

93

xiii

DAFTAR TABEL
Nomor
1.

Halaman
Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut
Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 20082010 (juta orang).

2.

Statistik Ekspor Buah-buahan Indonesia Tahun 2005 - 2010*..

3.

Produksi Beberapa Buah Indonesia Tahun 2005 hingga 2009


(ton)....

Luas Panen, Produksi dan Rata-Rata Produksi Buah-Buahan


Provinsi Papua Menurut Jenis Tanaman Tahun 2009...

Produksi Jeruk Siam Provinsi Papua Menurut


Kabupaten/Kota Tahun 2005-2009 (ton)...

Jumlah Produksi dan Luas Panen Jeruk Siam di Kabupaten


Nabire Tahun 2005-2010...

Rencana Pengembangan Jeruk di Kabupaten Nabire Selama 5


Tahun (2010 2014)..

4.
5.
6.
7.
8.

Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu....

20

9.

Karakteristik Struktur Pasar berdasarkan Sudut Penjual dan


Pembeli..

38

Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur/Usia di Kampung


Wadio, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire Tahun 2011..

45

Komposisi Penduduk Berdasarkan Matapencaharian di


Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire
Tahun 2011

46

Struktur Kepemilikan Lahan Pertanian di Kampung Wadio,


Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire Tahun 2011...

47

13.

Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Usia...

48

14.

Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat


Pendidikan.

48

Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman


Bertani....

49

16.

Karakteristik Pedagang Berdasarkan Usia.....

50

17.

Karakteristik Pedagang Berdasarkan Tingkat Pendidikan.

50

18.

Karakteristik Pedagang Berdasarkan Pengalaman Berdagang..

51

19.

Total Produksi Petani Responden dan Harga Jeruk (Rp) dalam


Tiga Bulan Terakhir (Februari-April) 2011...............

58

Perbedaan Antara Pedagang Pengecer Pasar, Pedagang


Pengecer Keliling dan Pedagang Pengecer di Pinggir Jalan..

62

10.
11.

12.

15.

20.

xiv

21.
22.
23.
24.

Margin Pemasaran Jeruk di Kampung Wadio, Distrik Nabire


Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tahun 2011....

83

Analisis Farmer's Share pada Saluran Pemasaran Jeruk di


Kampung Wadio Tahun 2011....

84

Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya pada Lembaga


Pemasaran Jeruk di Kampung Wadio Tahun 2011....

85

Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Jeruk Siam di Kampung


Wadio Tahun 2011.....

88

xv

DAFTAR GAMBAR
Nomor
1.

Halaman
Fluktuasi Harga Jeruk Siam di Kabupaten Nabire Tahun
2006 Hingga 2010.

11

2.

Marjin Pemasaran.

29

3.

Kerangka Pemikiran Operasional.

34

4.

Tanaman Jeruk Sebelum Dipindahkan ke Bedengan.......

52

5.

Tanaman Jeruk yang Telah Diokulasi..

53

6.

Jeruk yang Terserang Lalat Buah.

55

7.

Buah Jeruk yang Telah Siap Untuk Dipanen

56

8.

Pedagang Pengecer Pasar..

60

9.

Pedagang Pengecer Keliling.

61

10.

Pedagang Pengecer Pinggir Jalan.

62

11.

Saluran Pemasaran Jeruk dari Kampung Wadio hingga


Konsumen.

63

12.

Pedagang Pengumpul Melakukan Fungsi Pengangkutan.

69

13.

Pedagang Pengecer Lokal Melakukan Fungsi Sortasi..

74

xvi

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1.

Kuisioner Penelitian untuk Petani

94

2.

Kuisioner Penelitian untuk Lembaga Pemasaran.

97

3.

Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 1.

103

4.

Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 2.

104

5.

Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 3.

104

6.

Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 4.

105

7.

Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 5.

105

8.

Fungsi-fungsi Pemasaran Jeruk di Kampung Wadio Tahun


2011..

106

Luas Tanam, Panen dan Produksi jeruk di Beberapa Distrik


di Kabupaten Nabire Tahun 2006 2009

107

Analisis Usahatani Jeruk Per Hektar di Kabupaten Nabire


Tahun 2010...

108

Gambaran Lahan Penanaman Jeruk.

110

9.
10.
11.

xvii

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan negara kepulauan, sebagian besar daratan
Indonesia dikelilingi oleh lautan atau samudra. Hal ini menyebabkan Indonesia
merupakan negara yang beriklim laut. Sifat iklim ini lembab dan banyak
mendatangkan hujan, sehingga wilayah Indonesia termasuk memiliki iklim yang
panas dan basah (Setyowati 2009). Secara geografis wilayah Indonesia terletak
pada garis equator dan termasuk daerah beriklim tropis basah. Keadaan ini
menyebabkan wilayah di Indonesia umumnya memiliki temperatur hangat,
kelembaban udara tinggi, dan curah hujan tinggi. Oleh sebab itu, wilayah
Indonesia memiliki tanah yang subur, cocok untuk lahan pertanian dan memiliki
hutan yang cukup lebat.1 Selain dipengaruhi oleh khatulistiwa, bentuk wilayah
Indonesia sebagai negara kepulauan serta topografi yang dimiliki merupakan
faktor alam yang memberikan corak pertanian.
Pertanian memiliki peranan penting bagi perekonomian Indonesia.
Penduduk yang bermatapencaharian pada sektor pertanian jumlahnya tidak
sedikit, begitu juga dengan produk nasional yang berasal dari pertanian (Rahim
dan Hastuti 2008). Jumlah penduduk yang bekerja pada sektor pertanian pada
Agustus 2010 adalah 41,49 juta orang. Jumlah ini merupakan jumlah tertinggi
dibandingkan jumlah penduduk yang bekerja pada sektor lain seperti
perdagangan, industri, konstruksi, transportasi dan lain-lain (Tabel 1). Begitu
juga pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu tahun 2008 dan 2009, penduduk yang
bekerja

pada

sektor

pertanian

jumlahnya

merupakan

jumlah

tertinggi

dibandingkan dengan sektor yang lain.

Iskandarsyah. 2008. http://www.pdfchaser.com/GEOLOGI-LINGKUNGAN-GUNUNGBIJIH-MINING-DISTRICT-(GBMD)-DAN-GUNUNG-....html [6 Maret 2011]

Tabel 1. Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan


Pekerjaan Utama Tahun 20082010 (juta orang)
No

Lapangan Pekerjaan
Utama

2008

2009

2010

Agustus
41,33

Februari
43,03

Agustus
41,61

Februari
42,83

Agustus
41,49

12,55

12,62

12,84

13,05

13,82

5,44

4,61

5,49

4,84

5,59

21,22

21,84

21,95

22,21

22,49

Pertanian

Industri

Konstruksi

Perdagangan

Transportasi, pergudangan
dan komunikasi

6,18

5,95

6,12

5,82

5,62

Keuangan

1,46

1,48

1,49

1,64

1,74

Jasa kemasyarakatan

13,10

13,61

14,00

15,62

15,96

Lainnya

1,27

1,35

1,39

1,40

1,50

102,55

104,49

104,87

107,41

108,21

Jumlah
2

Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)

Nilai PDB pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan atas dasar


harga konstan 2000 pada tahun 2008 adalah sebesar 284,6 triliun, kemudian
mengalami pertumbuhan sebesar 4,1 persen pada tahun 2009 menjadi 296,4
triliun. Hal ini menunjukkan bahwa peranan sektor pertanian terhadap PDB
Indonesia pada tahun 2009 meningkat dari 14,5 persen menjadi 15,3 persen.
Sehingga sektor pertanian turut berkontribusi terhadap PDB setelah sektor industri
pengolahan yang berkontribusi sebesar 26,4 persen.3
Hortikultura merupakan kelompok komoditas yang penting dan strategis
karena merupakan kebutuhan pokok manusia. Oleh sebab itu, komoditas
hortikultura harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dengan mutu yang
layak, aman dikonsumsi dan harga yang terjangkau bagi masyarakat. Konsumsi
hortikultura dalam skala rumah tangga mencapai 16,1 persen. Pasar hortikultura di
Indonesia sangat besar dan menunjukkan kecenderungan yang semakin
meningkat, sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk. Akan tetapi,

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Penduduk Usia 15 ke Atas yang Bekerja Menurut
Lapangan
Pekerjaan
Utama
Tahun
20082010.
http://www.bps.go.id/aboutus.php?pub=1&dse=1&pubs=10 [6 Maret 2011].
3
Handyoko A. 2010. Konstribusi Sektor Pertanian Terhadap PDB. http://www2.bbpplembang.info/index.php?option=com_content&view=article&id=515&Itemid=304 [6 Maret 2011]

kondisi tersebut belum dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperkuat


pembangunan subsektor hortikultura.4
Hortikultura yang prospektif untuk dikembangkan adalah buah-buahan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal dengan berbagai macam
jenis buah tropisnya. Didukung oleh alam tropis Indonesia yang sangat subur,
peluang untuk melakukan pengembangan tanaman buah tropis menjadi besar.
Selain itu, potensi untuk mengembangkan buah-buahan tropis di Indonesia juga
didukung oleh peluang pasar yang masih sangat tinggi. Pasar yang mampu
menyerap hasil panen masih sangat besar jumlahnya.
Krisnamurthi dalam Asmarantaka (2009) menyatakan bahwa kegiatan
pemasaran buah-buahan memiliki peran yang penting bagi pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Peran yang dimiliki adalah kegiatan usaha pertanian menjanjikan
peluang yang besar untuk dikembangkan karena memiliki tingkat pertumbuhan
yang tinggi dibandingkan dengan kegiatan usaha lain; cukup besarnya jumlah
rumah tangga yang mengusahakan buah-buahan; angka ekspor buah-buahan yang
cukup tinggi; pemenuhan gizi masyarakat Indonesia; keterkaitan agroindustri dan
usahatani buah merupakan potensi yang sangat propektif bagi ke depannya;
penyediaan jasa-jasa lingkungan; dan buah menjadi salah satu faktor yang dapat
membangun identitas bangsa. Manggis, salak, mangga, duku, dan buah tropis
lainnya berpeluang menjadi brand sebagai identitas bangsa Indonesia.
Perkembangan ekspor buah-buahan Indonesia cukup tinggi. Pada tahun
2009 telah mencapai 119.291.196 US$ dan pada tahun 2010 diperkirakan
meningkatkan hingga 171.970.000 US$ (Tabel 2).

Tabloid Sinartani. 2011. Buah Pendatang Baru yang Potensial untuk Dikembangkan.
http://www.sinartani.com/buahsayur/abiu-buah-pendatang-baru-potensial-dikembangkan1293425752.htm [13 Februari 2011]

Tabel 2. Statistik Ekspor Buah-Buahan Indonesia Tahun 2005 - 2010*


Tahun

Volume ekspor (ton)

Nilai ekspor (US$)

2005

272.292,6

150.062.557

2006

262.358,5

144.492.469

2007

157.620,9

93.652.526

2008

171.822,6

100.163.544

2009

164.557,6

119.291.196

2010*

214.742,0

171.970.000

Rata-rata

207.232,4

129.938.715

Sumber: Badan Pusat Statistik (2010) dalam Tabloid Agrina (Volume 6, Nomor 145. 19 Januari1 Februari 2011, Halaman 5)5

Keterangan : *Angka sementara


Peningkatan perdagangan buah tropika

ditingkat dunia ke negara

pengimpor Amerika Serikat, negara-negara di Eropa dan Timur Tengah serta Asia
Timur, membuka peluang bagi negara Indonesia untuk meningkatkan ekspor
buah-buahan tropis yang dimiliki.6 Namun yang menjadi tantangan saat ini,
walaupun nilai ekspor terus mengalami peningkatan, nilai impor selalu lebih
tinggi dari pada nilai ekspor.
Jeruk adalah tanaman yang mudah menyesuaikan dengan keadaan
lingkungan tumbuhnya. Oleh sebab itu, hampir di seluruh wilayah Indonesia
terdapat sentra produksi jeruk. 7 Jika dibandingkan dengan jenis buah-buahan lain
di Indonesia, jeruk merupakan salah satu jenis buah yang produksinya tinggi,
yaitu mencapai 2.131.768 ton pada tahun 2009 setelah pisang yang jumlah
produksinya 6.373.533 ton (Tabel 3).

Tabloid Agrina Nomor 145 Volume 6: Halaman 5.


Nasional Republika. 2010.Ekspor Buah Lokal Masih Prospekt.
http://bataviase.co.id/node/450382 [6 Maret 2011]
7
Zainuri, Hanif. 2010. Jeruk Indonesia Mampu Bersaing.
http://zainurihanif.com/2010/12/22/jeruk-indonesia-mampu-bersaing/. [16 Februari 2011]
6

Tabel 3. Produksi Beberapa Buah Indonesia Tahun 2005 hingga 2009 (ton)
Tahun

Mangga
(ton)

Jeruk
(ton)

Pepaya
(ton)

2005

1.412.884

2.214.019

548.657

2006

1.621.997

2.565.543

2007

1.818.619

2008
2009

Pisang
(ton)

Nanas
(ton)

Durian
(ton)

Manggis
(ton)

5.177.607

925.082

566.205

64.711

643.451

5.037.472

1.427.781

747.848

72.634

2.625.884

621.524

5.454.226

2.237.858

594.842

112.722

2.013.121

2.311.581

653.276

5.741.351

1.272.761

602.694

65.133

2.243.440

2.131.768

772.844

6.373.533

1.558.196

797.798

105.558

Sumber: Badan Pusat Statistik (2010) (diolah)8

Walaupun pada tahun 2009 mengalami penurunan jumlah produksi, jeruk


tetap merupakan salah satu buah unggulan Indonesia. Varietas jeruk Indonesia
sangat beragam. Beberapa jenis jeruk telah dikomersialkan dan diunggulkan
seperti jeruk siam, jeruk keprok, dan jeruk besar. Jeruk (Citrus Sp) memiliki rasa
yang khas, dengan kandungan gizi dan sumber kalori yang cukup tinggi. Buah ini
menjadi salah satu jenis buah yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia.
Disamping itu, harganya pun relatif cukup terjangkau. 9
Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, permintaan dan konsumsi
buah-buahan pun terus mengalami peningkatan. Hal ini menyebabkan konsumsi
buah per kapita juga meningkat. Peningkatan permintaan akan buah-buahan ini
bukan hanya pada volumenya, tetapi juga variasi dari jenis buah yang berasal dari
berbagai daerah di Indonesia (Limbongan dan Uhi 2005). Jeruk merupakan salah
satu komoditas hortikultura yang banyak disukai oleh masyarakat. Jeruk juga
merupakan komoditas buah yang menguntungkan untuk diusahakan saat ini,
karena prospek pasar dalam dan luar negeri yang sangat baik.
Buah yang memiliki nilai produksi tinggi di Provinsi Papua adalah jeruk.
Jumlah produksi jeruk pada tahun 2009 adalah 9.183 ton. Jumlah ini dapat
dikatakan cukup tinggi dibandingkan dengan jumlah produksi buah-buahan yang
lain. Luas panen komoditas jeruk juga merupakan terluas ketiga setelah pisang
8

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2009. Produksi Buah-buahan menurut Provinsi.


http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=55&notab=1 [26 Februari
2011].
9
Rayanto, Roni. 2009. Ekspor Buah-buahan Indonesia Capai 240 Juta Dolar.
http://agribisnis.deptan.go.id/disp_informasi/1/1/0/914/ekspor_buah-buahan_indonesia_capai.html
[19 Februari 2011]

dan mangga. Selain itu, jeruk juga termasuk ke dalam kelompok buah dengan
rata-rata produksi yang tinggi seperti buah pepaya, durian dan nangka (Tabel 4).
Nabire merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang memiliki
tanah subur dengan solum yang tebal. Hal ini merupakan salah satu faktor fisik
yang mendukung berkembangnya pertanian di Kabupaten Nabire. Curah hujan
yang tinggi dan merata sepanjang tahun menyebabkan berbagai tanaman dapat
tumbuh dengan baik di daerah ini. Produktivitas yang dihasilkan pun cukup
tinggi, termasuk tanaman jeruk. Jeruk siam merupakan salah satu komoditas yang
dikembangkan secara serius oleh pemerintah setempat. Jika dibandingkan dengan
jenis jeruk siam lainnya yang juga dikembangkan di daerah lain, jeruk siam dari
Kabupaten Nabire ini memiliki keunggulan tersendiri. Keunggulan yang dimiliki
yaitu buahnya lebih besar, memiliki aroma yang khas, warna hijau kekuningan,
berpenampilan menarik, dan tentunya memiliki rasa yang manis. Di kawasan
Indonesia bagian Timur, jeruk nabire telah memiliki citra dan nama tersendiri bagi
konsumen.10

10

YH Bahar. 2007. Jeruk Nabire, Emas Hijau dari Timur.


http://www.hortikultura.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=63&Itemid=2. [20
Februari 2011]

Tabel 4.

Luas Panen, Produksi dan Rata-Rata Produksi Buah-Buahan Provinsi


Papua Menurut Jenis Tanaman Tahun 2009

Jenis Tanaman

Luas Panen

Produksi

Rata-Rata

(ton)

Produksi

658

2.609

(kw/ha)
39,65

2. Jeruk Siam

1.373

9.183

66,88

3. Mangga

1.852

9.276

50,09

4. Rambutan

623

2.362

37,91

5. Duku/Langsat

300

1.185

39,50

6. Durian

443

2.999

67,70

7. Jambu Biji

316

1.141

36,11

8. Jambu Air

494

2.095

42,41

9. Pepaya

412

3.529

85,66

10. Pisang

3.581

23.519

65,68

11. Nenas

826

3.845

46,55

12. Salak

1.003

3.622

36,11

13. Nangka

715

4.622

64,64

14. Sirsak

95

280

29,47

15. Belimbing

361

1.496

41,44

16. Semangka

179

944

52,74

17. Sukun

180

1.1

61,11

18. Melon

46

145

31,52

19. Markisa

14

47

33,57

1. Alpukat

Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Papua (2010) (diolah)

Berdasarkan kabupaten yang ada di Provinsi Papua, produksi jeruk siam di


Kabupaten Nabire terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun
2009 produksi jeruk di Kabupaten Nabire berada pada peringkat kedua yaitu
2.232 ton setelah Kabupaten Keerom dengan jumlah produksi 2.423 ton (Tabel 5).

Tabel 5. Produksi Jeruk Siam Provinsi Papua Menurut Kabupaten/Kota Tahun


2005-2009 (ton)
No.

Kabupaten/Kota

Tahun
2005

2006

2007

2008

2009

Merauke

687

754

827

807

845

Jayawijaya

227

237

244

259

267

Jayapura

1.602

1.696

1.752

1.677

1.694

Nabire

965

1.029

1.884

1.950

2.232

Mimika

133

147

161

186

202

Yapen Waropen

144

159

173

190

177

Biak Numfor

122

134

161

173

179

Boven Digoel

Mappi

10

Yahukimo

13

11

Tolikara

183

196

203

218

217

12

Sarmi

584

587

603

619

664

13

Keerom

2.166

2.286

2.341

2.386

2.423

14

Waropen

117

133

167

178

165

15

Supiori

16

Jayapura

236

259

275

298

92

7.190

7.642

8.816

8.966

9.183

Jumlah/Total

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Papua (2010)

Besarnya jumlah produksi dan keadaan lingkungan yang cocok,


mendukung Kabupaten Nabire menjadi salah satu sentra produksi jeruk di
Provinsi Papua. Jeruk telah diusahakan di Kabupaten Nabire sejak tahun 1996.
Pada tahun 2006, luas areal penanaman jeruk telah mencapai 308 hektar dengan
luas panen 157 hektar dan hasil produksi 6.240 ton (Tabel 4).

Tabel 6. Jumlah Produksi dan Luas Panen Jeruk Siam di Kabupaten Nabire
Tahun 2005-2010
Tahun

Jumlah Produksi (ton)

Luas Panen (ha)

2005

965

109

2006

1.029

156

2007

1.884

227

2008

1.950

238

2009

2.232

246

2010

2.610

246

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Nabire (2011)

Melihat potensi dan prospek yang menjanjikan dari penanaman jeruk di


Kabupaten Nabire, Ditjen Hortikultura berupaya mengembangkan jeruk nabire
secara konsisten dan berkelanjutan. Upaya ini dilakukan dengan pemberian dana
APBN dan pembinaan teknis. Pengembangan areal penanaman jeruk seluas 80
hektar dilakukan tahun 2004 pada dua kelompok tani. Kemudian pada tahun 2005
dilakukan kembali pengembangan areal penanaman seluas 30 hektar pada satu
kelompok tani. Tahun 2006 dilakukan kembali pengembangan areal penanaman
seluas 48 hektar pada tiga kelompok tani. Kini luas panen jeruk siam di
Kabupaten Nabire telah mencapai 396 hektar, dengan areal penanaman tersebar di
beberapa kecamatan. Untuk mendukung hal tersebut, pada tahun 2010 Dinas
Pertanian Kabupaten Nabire juga melakukan perencanaan pengembangan jeruk.
Rencana pengembangan jeruk di Kabupaten Nabire selama 5 tahun dapat dilihat
pada Tabel 7.
Tabel 7. Rencana Pengembangan Jeruk di Kabupaten Nabire Selama 5 Tahun
(2010 2014)
No.

Luas (ha)

Distrik
2010

2011

2012

2013

2014

1.

Makimi

2.

Teluk Kimi

3.

Nabire

25

4.

Nabire Barat

40

50

25

5.

Wanggar

50

50

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Nabire (2011)

Perluasan areal penanaman jeruk ini sejalan dengan berkembang dan


menyebarnya jeruk pada masyarakat di sekitar Kota Nabire. Akan tetapi, buah
jeruk tidak hanya berkembang dan menyebar di Kota Nabire saja. Permintaan
yang cukup tinggi juga berasal dari luar Kota Nabire, seperti Jayapura,
Manokwari, Sorong, Ambon, dan Surabaya. Sehingga pemasaran jeruk nabire
tidak hanya dilakukan di pasar lokal, melainkan juga di pasar luar daerah.
Pendistribusian dilakukan dengan menggunakan kapal laut. Banyaknya kapal
penumpang dan kapal barang yang beroperasi di Pelabuhan Nabire menyebabkan
peningkatan aktivitas ekonomi dan pemasaran di Kota Nabire, termasuk
komoditas jeruk nabire ini.
1.2. Perumusan Masalah
Pengembangan komoditas jeruk di Kabupaten Nabire sangat mendapat
dukungan oleh Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat. Pengembangan
areal penanaman jeruk di Kabupaten Nabire terus dilakukan hampir setiap tahun.
Akan tetapi, pengembangan agribisnis jeruk di Kabupaten Nabire masih
mengalami hambatan. Terdapat beberapa permasalahan yang dialami oleh para
petani maupun pedagang jeruk siam, terutama masalah pendistribusian atau
pemasaran komoditas jeruk. Pedagang pengumpul yang ada di daerah ini
umumnya melakukan penjualan keluar daerah. Hal ini dilakukan dengan
menggunakan kapal laut penumpang. Oleh sebab itu, pemasaran jeruk masih
sangat tergantung pada kedatangan kapal penumpang ke Pelabuhan Nabire.
Ketergantungan ini juga terjadi karena volume pembelian oleh pedagang
pengumpul cukup besar, yaitu 500 2500 kilogram per petani. Sehingga apabila
tidak ada pembeli, jeruk petani tidak terjual dan terbuang begitu saja.
Produk pertanian termasuk komoditas jeruk siam umumnya memiliki ciri
yaitu diproduksi secara musiman, selalu segar, mudah rusak, jumlahnya banyak
akan tetapi nilainya relatif sedikit (bulky), dan tidak dapat diproduksi di semua
tempat atau daerah. Hal ini menyebabkan harga jeruk siam sering berflukuasi
(Soekartawi 1993). Kendala dalam pemasaran atau pendistribusian jeruk siam di
kabupaten tersebut juga menyebabkan terjadinya fluktuasi harga jeruk. Pada tahun
2006, harga rata-rata tahunan jeruk siam di Kabupaten Nabire adalah Rp 5.800,00
per kilogram, setahun kemudian harga rata-rata turun menjadi Rp 4.800,00 per
10

kilogram, kemudian pada tahun 2008 sedikit meningkat menjadi Rp. 4.900,00 per
kilogram, terjadi peningkatan kembali pada tahun 2009 menjadi Rp. 6.200,00 per
kilogram, namun pada tahun 2010 harga kembali turun menjadi Rp. 5000,00 per
kilogram (Gambar 1).

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Nabire (2011)(diolah)

Gambar 1. Fluktuasi Harga Jeruk Siam di Kabupaten Nabire Tahun 2006


Hingga 2010
Terjadinya flukuasi harga jeruk siam ini disebabkan oleh keadaan musim,
tingkat produksi ataupun biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses pemasaran
komoditas jeruk tersebut. Oleh sebab itu, masalah pemasaran komoditas jeruk
siam inilah yang menjadi topik penelitian ini. Penelitian ini menganalisis sistem
pemasaran jeruk siam serta efisiensi biaya-biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh
lembaga pemasaran. Berdasarkan uraian tersebut maka perumusan masalah dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana saluran pemasaran, lembaga pemasaran dan fungsi-fungsi
pemasaran yang terjadi di Kampung Wadio?
2. Bagaimana tingkat efisiensi pemasaran jeruk siam?

11

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menganalisis saluran pemasaran, lembaga pemasaran dan fungsi-fungsi
pemasaran.
2. Menganalisis tingkat efisiensi pemasaran jeruk siam di Kampung Wadio.
1. 4. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang
terkait, yaitu:
1. Para petani dan pelaku pemasaran. Hasil penelitian dapat digunakan
sebagai sumber informasi dan bahan pertimbangan dalam melakukan
pemasaran jeruk siam.
2. Pemerintah dan instansi terkait. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai
sumber informasi dan tambahan masukan dalam melihat sejauh mana
pemasaran jeruk siam dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan dapat
menghasilkan pemasukan bagi petani jeruk siam, serta dapat digunakan
dalam mengambil kebijakan dalam mencari alternatif pemecahan masalah
pemasaran jeruk siam di Kampung Wadio.
3. Mahasiswa dan perguruan tinggi. Hasil penelitian dapat digunakan
sebagai sumber informasi dan pembanding bagi studi-studi mengenai
komoditas jeruk siam.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum mengenai
sistem pemasaran jeruk siam di Kampung Wadio. Penelitian ini menganalisis
saluran pemasaran jeruk siam yang dilakukan dari petani jeruk di Kampung
Wadio hingga konsumen yang ada di Kabupaten Nabire maupun luar Kabupaten
Nabire. Metode pendekatan deskriptif dilakukan dalam menggambarkan fungsi,
struktur, perilaku, dan keragaan pasar.. Fungsi-fungsi yang dilakukan yaitu fungsi
pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Struktur pasar yang dihadapi oleh
lembaga pemasaran adalah oligopsoni dan persaingan murni. Analisis mengenai
perilaku pasar dalam penentuan harga dan cara pembayaran serta keragaan pasar
dilakukan dengan metode kualitatif. Struktur biaya dan margin pemasaran juga

12

dianalisis dengan metode kuantitatif. Analisis farmers share dilakukan untuk


mengetahui saluran mana yang memberikan insentif besar bagi petani.

13

II. TINJAUAN PUSTAKA


2. 1. Gambaran Umum Komoditas Jeruk Siam
Sejak ratusan tahun lalu jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara
alami maupun dibudidayakan. Jeruk manis dan keprok dari Amerika dan Italia
yang tumbuh di Indonesia merupakan peninggalan Belanda (Agromedia 2009).
Indonesia termasuk ke dalam 10 besar produsen jeruk dunia, namun apabila
dibandingkan dengan jeruk impor dari negara lain, pada umumnya mutu buah
jeruk dari Indonesia masih rendah yang menyebabkan jeruk dari Indonesia kurang
kompetitif di pasaran. Hal ini akibat dari variasi cara budidaya jeruk yang
dilakukan oleh para petani jeruk di Indonesia. Akan tetapi, jeruk masih menjadi
komoditas buah yang menguntungkan untuk diperdagangkan melihat bahwa
terjadi perubahan gaya hidup masyarakat menjadi pola hidup sehat, yaitu
mengonsumsi makanan yang alami dan masih segar, contohnya buah-buahan.
Jeruk merupakan buah yang disukai oleh anak-anak hingga orang dewasa dan juga
dari masyarakat berpenghasilan rendah hingga masyarakat berpenghasilan tinggi,
serta dapat dibudidayakan di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi.
Cita rasa dan kandungan vitamin C yang tinggi membuat jeruk banyak
dimanfaatkan baik sebagai buah segar maupun makanan olahan. Kandungan yang
dimiliki buah jeruk yaitu, beta karoten dan antioksidan yang dapat melindungi selsel tubuh dari kerusakan dan juga dapat memerangi kanker. Jeruk juga
mengandung kalsium yang mampu melindungi tulang dan gigi. Jeruk juga
mengandung asam folat yang menyediakan makanan bagi otak dan menjaga
perkembangan sel otak, serta mengandung thiamin yang mengubah makanan
menjadi energi. Mengatur tekanan darah, potassium, menjaga kestabilan dan
kardiovaskuler dapat dilakukan oleh Magnesium yang terkandung dalam buah
jeruk. Disamping itu, jeruk juga mengandung vitamin B6 yang dapat
meningkatkan hemoglobin dan berperan penting dalam peredaran oksigen dalam
tubuh. Kandungan nutrisi yang dimiliki buah jeruk dapat juga mengobati berbagai
penyakit seperti asma, bronchitis, TBC, reumatik, gagal ginjal, mengurangi
jumlah kolesterol di dalam tubuh, mencegah diabetes, menyembuhkan arthritis,
tekanan darah tinggi, kecanduan alkohol hingga pneumonia.

Jeruk dapat diolah menjadi jus, baik jus dalam bentuk segar maupun jus
dalam kemasan yang diawetkan. Setiap 100 ml sari buah jeruk siam mengandung
glukosa 1,02-1,24 gram, fruktosa 1,49-1,58 gram, dan sukrosa 2,19-4,9 gram
dengan total komponen utamanya yaitu gula sebanyak 4,93-7,57 gram. Selain itu
juga buah jeruk dan olahan jeruk seperti jus jeruk dapat bermanfaat bagi
kesehatan karena mengandung senyawa flaonoid yang mengandung naringin dan
limonid yang mengandung limonin. Kandungan naringin dan limonin ini diduga
bermanfaat bagi kesehatan yaitu dapat melawan berbagai penyakit. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa limonin dapat menyembuhkan beberapa penyakit
yang cukup berbahaya seperti kanker yaitu kanker payudara dan kanker ovarium,
karena limonin memiliki sifat bioaktif. Disamping itu, limonin

juga dapat

menghambat perbanyakan virus HIV, sebagai detoksifikan,

antimalaria,

antimikroba, serta menurunkan kolesterol. Penelitian yang dilakukan di Jepang


menunjukkan bahwa limonin mampu menghambat senyawa karsinogen yang
membahayakan tubuh.
Sama seperti limonin, naringin juga memiliki kandungan yang sangat
bemanfaat bagi kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, naringin mampu
menghambat pertumbuhan sel tumor pada kolon, mengontrol gula darah,
trigliserida dan kolesterol dengan membuang trigliserida dan kolesterol ke dalam
kotoran,dan sebagai antioksidan. Akan tetapi penelitian tersebut masih pada
hewan percobaan, namun hasilnya dapat menjadi bukti khasiat kedua senyawa
tersebut.11
Beberapa negara telah memproduksi minyak dari kulit dan biji jeruk
serta gula tetes, alkohol, dan pektin dari buah jeruk yang terbuang. Minyak kulit
jeruk digunakan sebagai bahan minyak wangi, sabun mandi, esens minuman, dan
campuran kue. Beberapa jenis jeruk seperti jeruk nipis dimanfaatkan sebagai
obat tradisional untuk menurunkan panas, meredakan nyeri saluran napas bagian
atas, dan menyembuhkan radang mata (Agromedia 2009).
Berdasarkan pernyataan diatas, dapat kita ketahui bahwa tidak hanya sari
buahnya saja, kulit dan bji jeruk juga dapat memberikan manfaat bagi manusia.
Selain itu, jeruk sebagai salah satu jenis buah dapat juga dimanfaatkan sebagai
11

http://www.litbang.deptan.go.id [23 Februari 2011]

15

bahan non pangan yang bermanfaat seperti minyak wangi, sabun, dan obat
tradisional.
Jeruk siam merupakan jenis jeruk yang cukup banyak mendapat perhatian
dibandingkan dengan jenis jeruk yang lain, karena telah dicanangkan program
pengembangan jeruk secara nasional. Target pengembangannya meliputi Aceh
sampai Papua. Pemerintah pun turut aktif membantu penanganan masalah yang
menyangkut nasib jeruk, baik masalah penyakitnya maupun tataniaganya.
Manfaat jeruk bukan hanya untuk kesehatan saja tetapi juga berguna bagi
budaya masyarakat, khususnya masyarakat Tionghoa. Dalam budaya Tionghoa
jeruk dipercaya sebagai lambang kemakmuran. Dalam bahasa Tionghoa, kata
'jeruk' bunyinya hampir sama dengan 'Da Ji' yang artinya besar rejeki. Oleh sebab
itu, saat Tahun Baru Imlek jeruk merupakan salah satu suguhan utama, karena
masyarakat Tionghoa percaya bahwa jeruk yang berwarna kuning orange dan
masih ada daunnya dipercaya sebagai jeruk terbaik yang melambangkan kekayaan
yang terus tumbuh.
2. 2. Penelitian Terdahulu
Penelitian Lubis (2009) mengenai Analisis Sistem Pemasaran Belimbing
Dewa (studi kasus : Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok)
yang bertujuan: (1) menganalisis sistem pemasaran komoditas belimbing di
Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok dengan menganalisis
saluran dan lembaga pemasaran, fungsi-fungsi yang dilakukan oleh lembaga
pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, serta keragaan pasar; (2) menganalisis
tingkat efisiensi pemasaran belimbing dewa untuk menentukan alternatif saluran
pemasaran belimbing dewa. Permasalahan yang dihadapi di lokasi penelitian
adalah tingginya margin tataniaga dan nilai farmers share yang rendah. Metode
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan data primer dan
data sekunder. Analisis dilakukan secara kualitatif yaitu dengan melihat saluran
pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, permasalahan
pemasaran dan secara kuantitatif

yaitu dengan mengetahui keadaan marjin

pemasaran, farmers share serta rasio keuntungan dan biaya. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa: (a) terdapat empat saluran pemasaran belimbing dewa di
Kelurahan Pasir Putih yaitu: saluran pemasaran 1) petani tengkulak pedagang

16

besar pedagang pengecer konsumen. Saluran pemasaran 2) petani - pedagang


pengecer (toko buah dan pasar tradisional) konsumen. Saluran pemasaran 3)
petani pusat koperasi belimbing pedagang pengecer (toko buah) konsumen.
Saluran pemasaran 4) petani pusat koperasi belimbing pemasok pedagang
pengecer modern (swalayan) konsumen. Saluran pemasaran tiga adalah saluran
pemasaran yang paling efisien karena memiliki nilai margin pemasaran terendah,
farmers share tertinggi dan juga kegiatan pemasaran pada saluran tiga
menguntungkan bagi setiap lembaga yang terlibat.
Kurniawati (2007) meneliti tentang Analisis Sistem Pemasaran Buah
Stroberi (Kasus di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung,
Provinsi Jawa Barat). Permasalahan yang terdapat pada lokasi penelitian adalah
terjadinya perbedaan yang cukup besar antara harga jual buah stroberi di tingkat
petani dan harga jual buah dtroberi di tingkat pedagang pengecer. Sehingga
penelitian ini bertujuan menganalisis terjadinya perbedaan yang besar diantara
harga jual di tingkat petani dan harga jual di tingkat pedagang pengecer;
menganalisis sistem pemasaran pada lokasi penelitian dengan menganalisis
saluran pemasaran, lembaga pemasaran, struktur pasar dan fungsi-fungsi yang
dilakukan oleh lembaga pemasaran; menganalisis tingkat efisiensi pemasaran
berdasarkan marjin pemasaran, farmers share dan rasio keuntungan biaya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui keadaan marjin
pemasaran

dan

farmers

share.

Analisis

kuantitatif

dilakukan

dengan

mengidentifikasi saluran pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar, dan


permasalahan pemasaran. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa
terjadinya perbedaan harga yang cukup besar di tingkat petani dan pedagang
pengecer disebabkan karena petani tidak memiliki posisi tawar yang cukup tinggi
dibandingkan dengan lembaga-lembaga pemasaran lainnya, dan juga petani tidak
memiliki informasi pasar yang lengkap tentang harga. Terdapat lima pola saluran
pemasaran buah stroberi di Desa Alamendah yang melibatkan empat lembaga
pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran pemasaran yang paling
efisien adalah petani pedagang pengecer desa konsumen.

17

Penelitian mengenai Analisis Pemasaran Mangga Gedong Gincu


(Mangifera Indica L.) di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat oleh Eryani
(2009) memiliki tujuan: 1) menganalisis saluran pemasaran dan fungsi pemasaran
yang dilakukan oleh pelaku pemasaran komoditas mangga gedong gincu di
Kabupaten Cirebon; 2) menganalisis struktur, perilaku dan keragaan pasar yang
terdapat dalam pemasaran komoditas mangga gedong gincu di Kabupaten
Cirebon; 3) mengidentifikasi efisiensi pemasaran mangga gedong gincu dengan
menggunakan indikator marjin pemasaran, bagian harga yang diterima petani
(farmers share) dan perbandingan keuntungan terhadap biaya (benefit/cost ratio).
Permasalahan yang terjadi pada pemasaran mangga gedong gincu di Kabupaten
Cirebon adalah variasi saluran pemasaran, distribusi margin yang tidak merata,
posisi tawar petani yang lemah, harga jual di tingkat petani yang rendah,
informasi pasar yang terbatas dan penanganan saat panen dan pascapanen yang
kurang baik. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis
pendapatan dan biaya usahatani, analisis saluran pemasaran, analisis struktur dan
perilaku pasar, analisis marjin pemasaran, farmers share dan rasio keuntungan
terhadap biaya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat delapan saluran pemasaran
mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon; fungsi yang paling berperan dalam
pemasaran mangga gedong gincu adalah fungsi sortasi, grading, fungsi
pengangkutan dan fungsi penyimpanan serta fungsi pembiayaan; struktur pasar
yang terjadi cenderung mengarah pada pasar bersaing tidak sempurna. Saluran
pemasaran yang paling efisien untuk mangga gedong gincu di Kabupaten Cirebon
ini adalah petani pedagang pengumpul besar pedagang pengecer di pasar lokal
konsumen.
Analisis Efisiensi Pemasaran Alpukat (Kasus di Desa Ciburial,
Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat) oleh Taufan (2006) bertujuan:
1) menganalisis saluran pemasaran dan fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan
oleh masing-masing lembaga pemasaran komoditas alpukat di lokasi penelitian. 2)
menganalisis struktur dan perilaku pasar yang dihadapi komoditas alpukat. 3)
menganalisis tingkat efisiensi dari tiap saluran pemasaran untuk menentukan
saluran pemasaran alpukat yang paling efisien bagi petani. Dari hasil identifikasi
yang dilakukan, ditemukan bahwa petani memperoleh harga jual yang rendah dan

18

menghadapi posisi tawar yang rendah. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan


bahwa sistem pemasaran alpukat di Desa Ciburial, Kecamatan Leles, Kabupaten
Garut dilakukan dengan melibatkan lima lembaga pemasaran, yaitu: petani,
pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang grosir, dan
pedagang pengecer dan terdapat empat pola saluran pemasaran. Saluran
pemasaran yang dapat dijadikan alternatif saluran pemasaran guna meningkatkan
pendapatan petani adalah petani pedagang grosir pedagang pengecer
konsumen dengan farmers share 47 persen, dan marjin sebesar 78,17 persen dari
harga beli konsumen.
Sumardi (2009) meneliti Analisis Efisiensi Pemasaran Jambu Biji
(Psidium guajava) (Studi Kasus Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja
Kabupaten Bogor) yang bertujuan: 1) mengidentifikasi dan menganalisis sistem
pemasaran melalui saluran pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur pasar
dan perilaku pasar jambu biji di Desa Cilebut Barat; 2) menganalisis efisiensi
pemasaran melalui marjin pemasaran, farmers share dan rasio keuntungan atas
biaya yang diterima petani jambu biji Desa Cilebut Barat. Keterlibatan lembaga
pemasaran dalam memasarkan jambu biji di Desa Cilebut Barat menyebabkan
perbedaan harga. Dalam penelitian ini efisiensi pemasaran dianalisis dengan
menggunakan marjin pemasaran, farmers share, dan rasio keuntungan dan biaya.
Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa terdapat tiga saluran pemasaran
yang dijalankan oleh petani responden di Desa Cilebut Barat, yang melibatkan
petani, pedagang pengumpul, pedagang besar dan pengecer. Dari ketiga saluran
tersebut yang relatif paling banyak dipilih oleh petani adalah saluran petani
pedagang pengumpul pedagang besar pengecer konsumen. Fungsi-fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang terlibat meliputi fungsi
pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas sudah berjalan relatif baik namun
belum dilaksanakan secara tepat oleh beberapa lembaga pemasaran khususnya
petani.

19

Tabel 8. Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu


Nama
Peneliti
Hartati Utami
Lubis

Tahun
Penelitian
2009

Solechan
Rima
Kurniawati

2007

Yeyen Eryani

2009

R.
Mochammad
Taufan

2006

Dedi
Sumardi

2009

Judul Penelitian
Analisis Sistem
pemasaran
Belimbing Dewa
(Studi kasus :
Kelurahan Pasir
Putih, Kecamatan
Sawangan, Kota
Depok)
Analisis Sistem
Pemasaran Buah
Stroberi (Kasus di
Desa Alamendah,
Kecamatan
Rancabali,
Kabupaten
Bandung, Propinsi
Jawa Barat)
Analisis
Pemasaran
Mangga Gedong
Gincu (Mangifera
Indica L.) di
Kabupaten
Cirebon, Provinsi
Jawa Barat
Analisis Efisiensi
Pemasaran
Alpukat (Kasus di
Desa Ciburial,
Kecamatan Leles,
Kabupaten Garut,
Jawa Barat)
Analisis Efisiensi
Pemasaran Jambu
Biji (Psidium
guajava) (Studi
Kasus Desa
Cilebut Barat,
Kecamatan
Sukaraja
Kabupaten Bogor)

Persamaan

Perbedaan

Alat analisis
yang
digunakan

1. Jenis
komoditi
2. Lokasi
penelitian

Alat analisis
yang
digunakan

1. Jenis
komoditi
2. Lokasi
penelitian

Alat analisis
yang
digunakan

1. Jenis
komoditi
2. Lokasi
penelitian

Alat analisis
yang
digunakan

1. Jenis
komoditi
2. Lokasi
penelitian

Alat analisis
yang
digunakan

1. Jenis
komoditi
2. Lokasi
penelitian

20

III. KERANGKA PEMIKIRAN


3. 1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Pengertian Pemasaran
Dahl dan Hammond dalam Asmarantaka

(2009) mendefinisikan

pemasaran dalam pengertian ekonomi adalah ruang atau dimensi dimana kekuatan
penawaran dan permintaan bekerja untuk menentukan atau mengubah harga.
Pemasaran adalah aliran barang yang terjadi dari produsen hingga konsumen.
Barang dapat sampai ke tangan konsumen karena adanya peranan lembaga
pemasaran di dalamnya (Soekartawi 2002). Sedangkan Kohls dan Uhl
menyatakan pemasaran adalah kesatuan dari segala aktivitas bisnis dalam aliran
produk dan jasa yang dimulai dari tingkat produksi pertanian hingga konsumen
akhir. Selanjutnya Rahim dan Hastuti (2008) menyimpulkan bahwa pemasaran
komoditas pertanian merupakan aktivitas atau proses mengalirnya komoditas
pertanian dari produsen (petani, peternak, dan nelayan) hingga ke konsumen atau
pedagang perantara (tengkulak, pengumpul, pedagang besar, dan pengecer)
berdasarkan pendekatan sistem pemasaran, kegunaan pemasaran, dan fungsifungsi pemasaran.
Pengertian pemasaran yang sering disarankan oleh para ahli ekonomi
adalah sekumpulan pembeli dan penjual yang melakukan transaksi atas sejumlah
produk atau kelas produk tertentu. Pasar dapat juga diartikan sebagai tempat
terjadinya penawaran dan permintaan, transaksi, tawar-menawar harga, dan
atau terjadinya pemindahan kepemilikan melalui kesepakatan harga, cara
pembayaran, cara pengiriman, tempat pengambilan atau penerimaan produk,
jenis dan jumlah produk, spesifikasi serta mutu produk (Tjiptono dalam Rahim
dan Hastuti 2008).
Berdasarkan beberapa pengertian mengenai pemasaran, maka pengertian
pemasaran penelitian ini mengacu kepada Rahim dan Hastuti (2008). Sehingga
pemasaran merupakan kegiatan atau proses pengaliran suatu komoditas pertanian
yang berasal dari petani produsen hingga sampai ke tangan konsumen, dimana
dalam proses tersebut komodoti pertanian yang dimaksud mengalami penambahan
nilai guna.

21

Pemasaran dapat ditinjau dari dua perspektif yaitu perspektif makro yang
menganalisis sistem pemasaran secara

keseluruhan dalam penyampaian

produk/jasa hingga ke konsumen akhir, dan perpektif mikro yang menganalisis


sistem pemasaran secara individu melalui aspek manajemen sebuah perusahaan
(Schaffner et al dalam Asmarantaka 2009). Penelitian ini mengkaji sistem
pemasaran dengan menggunakan perpektif makro, yaitu sistem pemasaran
dianalisis secara keseluruhan dimulai produk tersebut dari tangan produsen hingga
ke tangan konsumen.
3.1.2. Saluran dan Lembaga Pemasaran
Menurut Kotler dalam Taufan (2006), saluran pemasaran adalah suatu
rangkaian dari lembaga-lembaga yang saling memiliki ketergantungan satu sama
lain dalam sebuah proses agar menciptakan produk barang atau jasa yang siap
digunakan oleh konsumen. Dalam saluran pemasaran terjadi suatu proses yaitu
pemindahan barang dan jasa yang berasal dari produsen hingga ke konsumen.
Proses tersebut meniadakan terjadinya kesenjangan yang ada di antara produsen
dan konsumen, yaitu waktu, tempat dan kepemilikan.
Sampainya produk ke tangan konsumen dapat berupa saluran pemasaran
yang panjang atau pun pendek, hal ini tergantung kebijakan pada perusahaan atau
pihak yang akan menyalurkan produk tersebut. Rantai distribusi atau saluran
pemasaran dapat digolongkan atas dua tipe, yaitu saluran pemasaran langsung dan
saluran pemasaran tidak langsung. Saluran pemasaran langsung yaitu produk
disalurkan dari tangan produsen langsung ke tangan konsumen tanpa melalui
perantara, contohnya penjualan di tempat produksi, penjualan di toko/gerai
produsen, penjualan dari pintu ke pintu, penjualan melalui surat. Sedangkan
saluran pemasaran tidak langsung yaitu penyampaian produk dari produsen ke
tangan konsumen melalui perantara. Perantara merupakan individu atau kelompok
yang membeli suatu produk kemudian menjualnya kembali kepada perantara lain
ataupun konsumen.
Lembaga pemasaran merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam proses
penyaluran barang dari produsen hingga konsumen. Menurut Rahim dan Hastuti
(2008) lembaga pemasaran adalah badan usaha atau

individu yang

menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditas dari produsen


22

kepada konsumen akhir, serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau
individu lainnya. Munculnya lembaga pemasaran disebabkan oleh adanya
keinginan konsumen untuk memiliki barang atau produk sesuai dengan waktu,
tempat, dan bentuk tertentu. Lembaga pemasaran memiliki tugas yaitu melakukan
fungsi-fungsi pemasaran serta mengupayakan agar keinginan konsumen dapat
terpenuhi semaksimal mungkin. Margin merupakan balas jasa yang diberikan oleh
konsumen kepada lembaga pemasaran atas keinginannya yang telah dipenuhi oleh
lembaga pemasaran.
Rahim dan Hastuti (2008) menyatakan bahwa panjang pendeknya saluran
pemasaran yang dilalui oleh suatu komoditas pertanian tergantung pada beberapa
faktor. Faktor-faktor tersebut yaitu: 1) jarak antara produsen dan konsumen,
makin panjang jarak antara produsen dan konsumen maka biasanya saluran
pemasaran yang dilalui akan semakin panjang. 2) daya tahan produk/cepat
tidaknya produk rusak, produk yang lebih cepat rusak harus segera diterima oleh
konsumen sehingga membutuhkan saluran yang pendek dan cepat. 3) skala
produksi, apabila jumlah produk yang dihasilkan dalam jumlah yang kecil-kecil,
hal ini tidak memberi keuntungan bagi produsen apabila langsung memasarkan
produknya ke pasar. Sehingga apabila skala produksi sebuah produk terdiri dari
skala-skala yang kecil, maka saluran pemasarannya akan cenderung semakin
panjang. 4) keadaan keuangan pengusaha. Pengusaha atau pedagang yang
memiliki keadaan keuangan yang kuat maka cenderung akan memasarkan
produknya melalui saluran pemasaran yang lebih pendek. Karena pedagang atau
pengusaha yang memiliki keadaan keuangan yang kuat dapat lebih banyak
melakukan fungsi-fungsi tataniaganya dibandingkan dengan pedagang atau
pengusaha yang memiliki keadaan keuangan yang lemah.
Dalam proses penyaluran produk dari produsen hingga ke konsumen,
lembaga pemasaran yang sangat berperan adalah perantara. Perantara dapat
digolongkan menjadi merchant middleman dan agent middleman.

Merchant

middleman seperti wholesaler (distributor) dan retailer (dealer), adalah perantara


yang memiliki barang/produk dengan membelinya dari lembaga pemasaran yang
lain dan menjualnya lagi ke konsumen ataupun ke perantara yang lain. Sedangkan
agent middleman tidak memiliki barang/produk secara langsung, tetapi hanya

23

mencari konsumen/pembeli, kemudian bernegosiasi dengan pembeli tersebut dan


melakukan transaksi atas nama produsen.
Menurut Sudiyono dalam Rahim dan Hastuti (2008) penguasaan
terhadap komoditas yang diperjualbelikan oleh lembaga pemasaran dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu pertama, lembaga yang tidak memiliki tetapi
menguasai benda, seperti agen perantara, makelar (broker, selling broker, dan
buying broker); kedua, lembaga yang memiliki dan menguasai komoditas
pertanian yang diperjualbelikan, seperti pedagang pengumpul, tengkulak,
eksportir, dan importir; dan ketiga, lembaga pemasaran yang tidak memiliki dan
menguasai komoditas-komoditas pertanian yang diperjualbelikan, seperti
perusahaan-perusahaan

penyedia

fasilitas-fasilitas

transportasi,

asuransi

pemasaran, dan perusahaan penentu kualitas produk pertanian (surveyor).


Sehingga lembaga pemasaran dapat dibedakan berdasarkan kepemilikan
dan penguasaan atas komoditas yang diperjual belikan. Lembaga pemasaran
tersebut adalah agen perantara dan makelar yang menguasai komoditas tersebut
tetapi tidak memilikinya; pedagang pegumpul, tengkulak, importer dan eksportir
yang memiliki dan senguasai komoitas tersebut; dan perusahaan transportasi,
asuransi, dan penentukan kualitas produk pertanian yang tidak memiliki maupun
tidak menguasai komoditas tersebut.
3.1.3. Fungsi-Fungsi Pemasaran
Terdapat lima pendekatan dalam menganalisis sistem pemasaran, yaitu:
a) Pendekatan Fungsi
Pendekatan fungsi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

Fungsi

pertukaran

yang

terdiri

dari

fungsi

pembelian

atau

pengumpulan dan fungsi penjualan.

Fungsi fisik yang terdiri dari fungsi penyimpanan atau gudang, fungsi
pengangkutan dan fungsi pengolahan.

Fungsi fasilitas yang terdiri dari fungsi standarisasi, pembiayaan,


penanggungan risiko dan intelijen pemasaran.

Pendekatan fungsi ini dapat berguna dalam mempertimbangkan bagaimana


pekerjaan harus dilakukan, menganalisis fungsional berbagai pedagang perantara
dalam mengevaluasi biaya pemasaran, serta membantu mengetahui adanya
24

perbedaan-perbedaaan biaya pemasaran berbagai komoditas akibat adanya


perlakuan yang berbeda.
b) Pendekatan Kelembagaan Pemasaran atau Institusi
Pendekatan ini mempertimbangkan sifat dan karakter dari pedagang
perantara (middlemen), agen dan susunan organisasi.
c) Pendekatan Komoditas
Pendekatan ini berfokus pada penanganan komoditas di sepanjang gap
antara petani dan konsumen akhir, apa yang dilakukan dan bagaimana caranya
agar penanganannya efisien.
d) Pendekatan Sistem
Pendekatan ini berfokus pada keseluruhan sistem, efisiensi dan proses
yang kontinyu dalam membentuk suatu sistem. Sehingga pendekatan sistem
menganalisis keterkaitan yang kontinyu diantara subsistem-subsistem yang
memberikan tingkat efisiensi tinggi.
e) Pendekatan Permintaan dan harga
Melalui pendekatan analitis dari kegiatan ekonomi di bidang pemasaran
antara petani dan konsumen. Kegiatan ekonomi berhubungan dengan proses
perubahan hasil-hasil produksi usahatani menjadi berbagai produk yang
diinginkan oleh konsumen. Proses ini pada dasarnya adalah mengubah komoditas
agar lebih berguna bagi konsumen, hal ini merupakan kegiatan produktif dalam
sistem pemasaran karena melakukan penambahan nilai guna sebuah produk.
3.1.4. Struktur, Perilaku dan Keragaan pasar
3.1.4.1. Stuktur Pasar
Struktur pasar merupakan jenis atau tipe pasar yang diartikan sebagai
hubungan antara pembeli ataupun calon pembeli dan penjual ataupun calon
penjual yang mempengaruhi penentuan harga dan pengorganisasian pasar secara
strategi. Menurut Mc Kie dalam Asmarantaka (2009) terdapat beberapa ukuran
untuk melihat struktur pasar, yaitu:
a. Market concentration (konsentrasi pasar); dapat diukur berdasarkan persentase
dari penjual/aset/pangsa pasar.

25

b. Exit-entry (kebebasan keluar-masuk calon penjual); kelebihan yang dimiliki


oleh perusahaan besar untuk menentukan price control dapat mendukung
untuk mempertahankan konsentrasinya di dalam pasar.
c. Product differentiation (diferensiasi produk); dalam upaya meningkatkan
keuntungannya, kelebihan dalam menentukan product differentiation dimiliki
oleh perusahaan yang mempunyai konsentrasi pasar yang tinggi. Upaya ini
dilakukan dengan mengubah kurva permintaan yang elastis menjadi tidak
elastis. Hal ini dimaksudkan agar konsumen lebih loyal terhadap produk yang
dihasilkan.
Dahl dan

Hammond

(1977)

menyatakan

bahwa

struktur

pasar

mendeskripsikan keadaan fisik dari suatu industri atau pasar. Karakteristik


struktur pasar ditentukan oleh empat faktor penentu, yaitu: 1) ukuran atau jumlah
dari perusahaan atau usahatani di dalam sebuah pasar, 2) kondisi atau keadaan
produk uang diperjualbelikan, 3) pengetahuan mengenai informasi pasar, dan 4)
hambatan keluar masuknya pelaku pemasaran ke dalam sebuah pasar, hambatan
dapat berupa biaya, harga, dan kondisi pasar.
Kotler (2002) menggolongkan pasar menjadi dua, berdasarkan struktur
pasarnya, yaitu pasar bersaing sempurna dan pasar tidak bersaing sempurna. Pasar
yang termasuk ke dalam struktur pasar bersaing sempurna memiliki ciri, yaitu
banyak terdapat penjual dan pembeli, penentuan harga dilakukan melalui
mekanisme pasar, penjual dan pembeli sebagai price taker, produk homogen,
bebas untuk masuk ataupun keluar dari pasar.
3.1.4.2. Perilaku Pasar
Poespowidjojo dalam Taufan (2008) menguraikan definisi perilaku pasar
sebagai pola tindak tanduk pedagang dalam upaya mengadaptasi dan
mengantisipasi setiap keadaan pasar. Bagaimana pola atau tingkah laku dari
lembaga-lembaga pemasaran melakukan penyesuaian dengan struktur pasar yang
ada. Dalam menghadapi struktur pasar yang ada, lembaga-lembaga pemasaran
tersebut melakukan kegiatan pembelian dan penjualan serta menentukan berbagai
keputusan-keputusan (Dahl dan Hammond, 1977). Perilaku pasar perlu diketahui
oleh lembaga-lembaga pemasaran agar kegiatan pemasaran yang dilakukan dapat
direncanakan secara efisien dan terkoordinasi. Berdasarkan kondisi pasar yang
26

dihadapi dan tujuan yang akan dicapai, lembaga pemasaran akan bertindak sendiri
atau bersama-sama untuk memutuskan tingkat harga produk, jenis produk dan
jumlah produk.
3.1.4.3. Keragaan Pasar
Dahl dan Hammond (1977) dalam Asmarantaka (2009) mendefinisikan
keragaan pasar yaitu hasil akhir yang dicapai yang diperoleh dari proses
penyesuaian pasar oleh lembaga pemasaran. Adanya struktur pasar dan perilaku
pasar menimbulkan munculnya keragaan pasar dalam harga, biaya dan volume
produksi dalam suatu sistem pemasaran. Keragaan pasar dapat diidentifikasi
melalui tingkat harga di pasar dan penyebaran harga yang terjadi di tingkat
produsen hingga konsumen serta dapat diamati melalui tingkat persaingan, marjin
pemasaran serta penyebaran marjin pada setiap tingkat pasar.
3.1.5. Struktur Biaya Pemasaran
Menurut Sudarsono (1995) pengertian biaya dalam ekonomi adalah jumlah
total beban yang harus ditanggung untuk menyiapkan barang sehingga siap untuk
digunakan oleh konsumen. Dalam ekonomi, biaya diharuskan berupa beban, tidak
hanya berupa pengeluaran yang bersifat eksplisit akan tetapi juga beban-beban
yang bersifat implisit, contohnya adalah beban penyusutan yang juga termasuk
biaya.
Secara umum, biaya merupakan pengorbanan yang dikeluarkan oleh
produsen dalam mengelola usahanya untuk mendapatkan hasil yang maksimal,
biaya juga berupa pengorbanan yang diukur dalam satuan alat tukar berupa uang
untuk mencapai suatu tujuan tertentu (Rahim dan Hastuti 2008).

Secara

tradisional, Sudarsono (1995) menyatakan biaya dapat dikategorikan menjadi


biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya tidak
tergantung kepada besar kecilnya kuantitas produksi. Biaya ini tetap dikeluarkan
bahkan apabila proses produksi tidak dilakukan untuk sementara. Contoh dari
biaya tetap adalah gaji tenaga administratif, penyusutan dan sebagainya. Biaya
tetap tidak dapat berubah dalam jangka waktu pendek akan tetapi dalam jangka
waktu panjang hal ini dapat terjadi. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya
yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan kuantitas produksi yang
dihasilkan. Apabila kuantitas produksi meningkat, biaya variabel pun akan
27

mengalami peningkatan. Contoh biaya variabel adalah biaya tenaga kerja


langsung, biaya perawatan, dan lain-lain.
Biaya pemasaran merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan
pemasaran. Biaya pemasaran meliputi biaya angkut, biaya pengeringan,
pungutan retribusi, dan lain-lain (Soekartawi 2002). Rahim dan Hastuti (2008)
mendefinisikan biaya pemasaran komoditas pertanian sebagai biaya yang
dikeluarkan untuk melakukan kegiatan usaha pemasaran komoditas pertanian.
Besarnya biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani produsen ataupun
pedagang dapat berbeda-beda satu sama lain, hal ini bergantung kepada jenis atau
macam komoditi yang dipasarkan, lokasi pemasaran, dan jenis lembaga serta
efektivitas pemasaran yang dilakukan. Kadangkala komoditi pertanian yang
bernilai tinggi memiliki biaya pemasaran yang tinggi pula. Namun peraturan
pemasaran yang berlaku pada suatu daerah juga menentukan jenis lembaga
pemasaran dan efektivitas pemasarannya. Apabila pemasaran dilakukan dengan
semakin efektif maka semakin kecil pula biaya yang dikeluarkan.
Komponen biaya-biaya yang biasanya dikeluarkan oleh lembaga
pemasaran dalam memasarkan produk berupa komoditas pertanian adalah sebagai
berikut. Pada tingkat pemasaran petani biaya-biaya yang dikeluarkan adalah upah
tenaga kerja, biaya pengemasan, biaya listrik, air, dan sewa tempat, telepon, serta
speksi timbangan. Pedagang pengumpul mengeluarkan biaya-biaya pemasaran
berupa biaya transportasi, retribusi, biaya bongkar, biaya sewa tempat dan listrik,
biaya keamanan, biaya tenaga kerja, speksi timbangan dan telepon. Sedangkan
biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer adalah biaya transportasi, sewa
tempat dan listrik, pajak, speksi timbangan, biaya pengemasan, serta biaya
penyimpanan.

3.1.6. Margin Pemasaran


Marjin pemasaran sering digunakan dalam menjelaskan kegiatan yang
terjadi dalam gap yang terjadi diantara pasar ditingkat petani dan pasar di tingkat
pengecer. Sehingga marjin pemasaran dapat diartikan sebagai perbedaan harga
antara berbagai lembaga pemasaran di dalam sebuah sistem pemasaran. Sudiyono
(2002) dalam Asmarantaka (2009) mendefinisikan margin pemasaran sebagai

28

perbedaan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir dengan harga yang
diterima oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima oleh petani produsen.
Tomek dan Robinson dalam Asmarantaka (2009) menyatakan terdapat dua
alternatif definisi marjin pemasaran, yaitu:
a. Perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima
produsen.
b. Harga dari kumpulan jasa-jasa pemasaran sebagai akibat adanya aktivitasaktivitas bisnis yang terjadi dalam sistem pemasaran.
Sehingga dapat disimpulkan marjin pemasaran adalah perbedaan harga
yang terjadi diantara harga ditingkat petani dan pengecer, perbedaan tersebut
terjadi akibat adanya aktivitas-aktivitas dalam proses penyaluran produk, marjin
yang terjadi dibayarkan oleh konsumen.
Marjin tataniaga terdiri dari dua komponen yaitu biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi
pemasaran dan keuntungan yang diperoleh oleh lembaga pemasaran tersebut
(Sudiyono dalam Asmarantaka 2009).

Harga (P)
Sr
Sf
Pr
Marjin
Pf
Dr
Df
Jumlah (Q)
Qr, f
Sumber : Hammond dan Dahl (1977) dalam Rahim dan Hastuti (2008)

Gambar 2. Marjin Pemasaran


Pada gambar dua marjin pemasaran merupakan (Pr Pf) x Qr, f , yaitu
perbedaan harga pada dua tingkat sistem pemasaran yang terlibat, dikalikan

29

dengan jumlah produk yang dipasarkan. Menurut Tomek dan Robinson dalam
Asmaranataka (2009), adanya perubahan marjin pemasaran dapat terjadi yang
disebabkan oleh perubahan harga, efisiensi dari jasa pemasaran, kualitas dan
kuantitas jasa pemasaran yang digunakan dalam memproduksi produk akhir.
Diantara berbagai komoditas, marjin pemasaran yang ada pun berbeda-beda.
Dampak perubahan marjin pemasaran di tingkat petani dan pedagang eceran pada
pasar bersaing sempurna ditentukan oleh slope kurva permintaan dan
penawarannya.
Tomek dan Robinson (1990) dalam Asmaranataka (2009) menyatakan
bahwa marjin pemasaran ditentukan oleh faktor-faktor berikut: 1) perubahan
harga-harga input, 2) efisiensi pengadaan jasa-jasa pemasaran, 3) jumlah dan
kualitas jasa-jasa pemasaran, serta 4) perubahan struktur pasar dan teknologi.
Oleh sebab itu, apabila terjadi perubahan pada komponen-komponen tersebut,
maka marjin pemasaran pun akan berubah.
Terdapat beberapa unsur yang dibutuhkan dalam operasional marjin
pemasaran, yaitu: pertama,

biaya langsung yaitu berupa biaya penanganan,

pengangkutan dan penjualan. Kedua, biaya tambahan yang berupa biaya


perkantoran, gaji dan kontribusi, sosial untuk kesejahteraan karyawan, bunga bank
dan penyusutan untuk peralatan dan fasilitas. Ketiga, pembayaran untuk
manajemen dan risiko, yang terdiri dari penghasilan bersih operasional atau
penghasilan kewirausahaan (Manumono dalam Rahim dan Hastuti 2008).
Berdasarkan penjelasan marjin pemasaran yang ada, maka dapat disimpulkan
bahwa adanya marjin pemasaran bertujuan untuk mengukur pangsa pasar petani
dari harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir; mengukur biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh lembaga pemasaran dalam proses penyaluran produk tersebut,
seperti biaya pengangkutan, penimbangan, retribusi, pembersihan, penyimpanan
dan biaya transaksi lainnya; serta mengukur keuntungan yang diperoleh lembaga
pemasaran dalam menyalurkan produk dari produsen hingga ke tangan konsumen.
3.1.7. Farmers Share
Farmers share merupakan bagian dari pengeluaran konsumen yang
diterima oleh petani, dinyatakan sebagai persentasi pengeluaran konsumen.
Farmers share merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan dalam
30

menentukan efisiensi pemasaran. Apabila terjadi peningkatan marjin dalam


sebuah saluran pemasaran maka farmers share atau bagian yang diperoleh oleh
petani akan menurun, karena farmers share dan marjin tataniaga memiliki
hubungan yang negatif.
3.1.8 Efisiensi Pemasaran
Pasar persaingan sempurna merupakan realisasi pemasaran yang efisien.
Akan tetapi, secara realita pasar persaingan sempurna belum dapat ditemukan
(Asmarantaka 2009). Banyak pengertian mengenai efisiensi yang diungkapkan
para ahli begitu juga mengenai pengertian efisiensi pemasaran. Downey dan
Steven dalam Rahim dan Hastuti (2008) menjabarkan pengertian efisiensi
pemasaran sebagai tolak ukur produktivitas suatu kegiatan pemasaran dengan
membandingkan sumberdaya yang digunakan dengan keluaran yang dihasilkan
dari kegiatan pemasaran tersebut. Kemudian Crammer dan Jensen menyatakan
bahwa

pengukuran

efisiensi

pemasaran

dapat dilakukan dengan

jalan

membandingkan nilai input dan nilai output. Nilai input berupa penilaian
konsumen terhadap produk, dan nilai input berupa biaya produksi alternatif.
Sehingga Rahim dan Hastuti (2008) menyimpulkan bahwa efisiensi
pemasaran merupakan peningkatan rasio output-input yang dapat dicapai
dengan cara, yaitu; 1) output konstan dan input mengecil; 2) peningkatan output
dan input konstan; 3) peningkatan output yang jumlahnya lebih tinggi daripada
peningkatan input; 4) penurunan input yang lebih rendah dibandingkan
penurunan input.
Ukuran tingkat kepuasan konsumen relatif dan sangat sulit ditentukan
terhadap masing-masing konsumen, namun kepuasan konsumen, produsen serta
semua lembaga-lembaga yang terlibat dalam kegiatan penyaluran barang dari
petani hingga kepada konsumen akhir merupakan ukuran efisiensi suatu
pemasaran (Kohl dan Uhl 2002). Pengurangan biaya dalam kegiatan pemasaran
tanpa mengubah nilai kegunaan produk dapat meningkatkan efisiensi pemasaran.
Hal yang sama dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai kegunaan produk dari
proses pemasaran tanpa meningkatkan biaya pemasaran akan menghasilkan
peningkatan efisiensi pemasaran.

31

Sehingga efisiensi pemasaran dapat dilihat melalui dua cara, yaitu efisiensi
operasional dan efisiensi harga. Kohl dan Uhl (2002) menyatakan operational
efficiency refers to the situation where the cost of marketing are reduced without
necessarily

affecting

the

output

side

of

the

efficiency

ratio

(efisiensi operasional mengacu pada situasi dimana biaya pemasaran dikurangi


tanpa harus mempengaruhi keadaan output). Asmarantaka (2009) menyatakan
efisiensi operasional berkaitan dengan aktivitas-aktivitas yang menangani
peningkatan rasio input maupun output pemasaran. Sumberdaya yang digunakan
untuk menjalankan fungsi-fungsi pemasaran termasuk didalamnya tenaga kerja,
pengepakan, mesin-mesin, dan lain sebagainya, merupakan input pemasaran,
sedangkan output pemasaran berupa kegunaan waktu, bentuk, tempat dan
kepemilikan yang

berkaitan dengan kepuasan konsumen. Oleh karena itu

sumberdaya merupakan biaya dan kegunaan merupakan benefit dari rasio efisiensi
pemasaran. Biaya pemasaran dapat dikatakan sebagai jumlah total dari harga
sumberdaya yang digunakan dalam proses pemasaran, sehingga nilainya lebih
mudah dihitung dan diketahui daripada indikator nilai kepuasan dari konsumen.
Rasio efisiensi pemasaran dapat dilihat melalui dua cara, yaitu peningkatan
perubahan sistem pemasaran melalui pengurangan biaya perlakuan pada fungsifungsi pemasaran tanpa mengubah kepuasan konsumen, dan peningkatan
kegunaan output tanpa meningkatkan biaya pemasaran suatu sistem pemasaran.
Akan tetapi, yang sering digunakan untuk mengetahui besarnya indikator efisiensi
operasional adalah analisis margin pemasaran.
Bentuk kedua dari efisiensi pemasaran adalah efisiensi harga. Kohl dan
Uhl (2002) menyatakan marketing efficiency is concerned with the ability of the
market system to efficiently allocate resources and coordinate the entire food
production and marketing process in accordance with consumer directives
(efisiensi harga berkaitan dengan kemampuan sistem pemasaran yang efisien
untuk mengalokasikan
seluruh produksi dan proses

sumberdaya

dan

mengkoordinasikan

pemasaran sesuai dengan keinginan konsumen).

Asmaranataka (2009) menguraikan bahwa efisiensi harga bertujuan agar


tercapainya efisiensi alokasi sumberdaya dan maksimumnya output. Efisiensi
harga dapat dianalisis dengan mengidentifikasi ada atau tidak adanya keterpaduan

32

pasar antara pasar acuan dengan pasar pengikutnya, contohnya antara pasar di
tingkat petani dengan pasar ditingkat konsumen akhir. Prinsip efisiensi pemasaran
juga dinyatakan dalam Soekartawi (2004) bahwa efisiensi pemasaran dapat
tercapai

apabila

dengan

biaya-biaya

yang

serendah-rendahnya

dapat

menyampaikan hasil-hasil pertanian kepada konsumen dan dari total harga yang
dibayarkan, konsumen dapat melakukan pembagian harga secara merata kepada
semua pihak dalam pemasaran.
Selain itu,

secara

makro

efisiensi pemasaran dianalisis dengan

menggunakan pendekatan S-C-P (Structure-Conduct-Performance). Pendekatan


S-C-P diawali dengan menganalisis kondisi dasar pasar yaitu keadaan sosial dan
politik, elastisitas teknologi dan harga input. Analisis struktur pasar dilakukan
dengan mengidentifikasi konsentrasi pasar, ukuran distribusi, jumlah lembaga
pemasaran, hambatan masuk, integrasi vertikal, struktur biaya, diferensiasi produk
dan sebagainya. Perilaku pasar mengidentifikasi keadaan harga, keadaan produk,
kebijakan keuangan, R & D (inovasi), promosi, dan sebagainya. Sedangkan
keragaan pasar menganalisis profitabilitas, tingkat pertumbuhan, kemuhtahiran
teknologi, dan sebagainya.

33

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional


- Fluktuasi harga jeruk
- Transportasi tergantung kepada kapal
penumpang

Petani mengalami kendala


dalam memasarkan hasil
produksinya

1. Bagaimana saluran pemasaran, lembaga pemasaran dan


fungsi-fungsi pemasaran yang terjadi ?
2. Bagaimana tingkat efisiensi pemasaran jeruk siam?

Analisis lembaga & saluran pemasaran


Analisis fungsi-fungsi pemasaran
Analisis Struktur, Perilaku dan Keragaan Pasar

Analisis
Farmers Share

Analisis struktur
biaya pemasaran

Analisis R/C Rasio

Efisiensi pemasaran

Rekomendasi

Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional

34

IV. METODE PENELITIAN


4. 1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengambilan sampel penelitian ini berlokasi di Kampung Wadio, Distrik
Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua. Pemilihan lokasi dilakukan secara
sengaja (purposive sampling), dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Nabire
merupakan salah satu daerah yang memperoleh dukungan pengembangan
komoditas jeruk siam oleh pemerintah. Kabupaten Nabire juga merupakan daerah
penghasil jeruk siam di Propinsi Papua yang memiliki tingkat produktivitas
tertinggi kedua setelah Kabupaten Keerom pada tahun 2009. Sedangkan Distrik
Nabire Barat merupakan daerah sentra produksi dan pengembangan areal
penanaman jeruk yang telah menjadi rencana program pemerintah hingga tahun
2014. Kegiatan pengembangan sentra produksi jeruk ini terutama dilakukan pada
satu kampung di Distrik Nabire Barat, yaitu Kampung Wadio. Kegiatan
pengambilan data dilakukan sejak Februari 2011 hingga April 2011.
4. 2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung melalui
pengamatan, wawancara langsung dan penyebaran kuesioner kepada para petani,
pedagang pengumpul, pedagang pengecer, serta pihak-pihak lain yang terkait.
Data primer yang diperoleh mencakup luas areal tanam, jumlah produksi, data
harga, biaya-biaya yang dikeluarkan dan saluran pemasaran.
Data sekunder merupakan data yang telah terdokumentasi sebelumnya,
diperoleh melalui laporan-laporan instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik
(BPS) Nasional, Badan Pusat Statistik Propinsi Papua, Departemen Pertanian,
Dinas Pertanian Kabupaten Nabire, Balai Kampung Wadio, juga berbagai pustaka
dan literatur seperti buku, skripsi, tesis, jurnal, majalah, serta situs internet. Data
sekunder yang diperoleh mencakup jumlah produksi, luas tanam, luas panen,
tingkat produktivitas, statistik ekspor, serta data dasar profil Kampung Wadio.

4. 3. Metode Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pengamatan secara
mendalam, partisipasi aktif, wawancara langsung serta penyebaran kuesioner
kepada petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer.
Penentuan responden dilakukan secara sengaja berdasarkan keterlibatannya dalam
kegiatan pemasaran jeruk siam.
4. 4. Metode Penarikan Sampel
Penarikan sampel dilakukan kepada dua kelompok responden yaitu petani
dan pedagang. Kelompok petani responden ditentukan secara sengaja (purposive),
dengan memilih petani yang aktif dalam membudidayakan dan memasarkan jeruk
siam. Petani yang aktif adalah petani yang selalu mengikuti kegiatan kelompok
tani; sudah pernah melakukan penjualan jeruk baik ke pedagang pengumpul,
pengecer maupun konsumen; serta masih melakukan pemeliharaan terhadap lahan
jeruk yang dimiliki. Hal ini dilakukan agar responden yang dipilih dapat
memberikan informasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Jumlah sampel
petani responden adalah 15 orang, baik yang memasarkan jeruk siam kepada
pedagang pengumpul, pedagang pengecer ataupun secara langsung ke konsumen.
Kelompok responden lembaga pemasaran yaitu pihak yang memasarkan
buah jeruk siam, baik yang berperan sebagai pedagang pengumpul, pedagang
besar ataupun pedagang pengecer. Responden dari sampel lembaga pemasaran
ditentukan berdasarkan metode snowball sampling, yaitu dengan menelusuri
saluran pemasaran yang secara dominan dilakukan oleh pelaku-pelaku pemasaran
di daerah tersebut, dan juga berdasarkan informasi yang diperoleh dari pelaku
pasar sebelumnya. Pedagang yang diambil sebagai sampel terdiri dari dua orang
pedagang pengumpul, satu orang pedagang besar, empat orang pedagang pengecer
pasar, tiga orang pedagang pengecer keliling, dan enam orang pedagang pengecer
di pinggir jalan.
4. 5. Metode Pengolahan Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kualitatif
dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif mencoba menguraikan mengenai
gambaran keadaan lokasi penelitian dan mendeskripsikan saluran pemasaran,

36

lembaga pemasaran serta fungsi-fungsi pemasaran. Analisis kualitatif juga


digunakan dalam mengiterpretasikan hasil pengolahan data dengan menggunakan
analisis kuantitatif, tabulasi dan gambar. Analisis kuantitatif yang dilakukan
berupa analisis struktur biaya pemasaran, analisis margin pemasaran, analisis
farmers share, dan analisis r/c rasio.
4.5.1. Analisis Lembaga Pemasaran dan Saluran Pemasaran
Analisis lembaga pemasaran dilakukan dengan penelusuran dan partisipasi
aktif dalam kegiatan lembaga yang terlibat, serta mengamati fungsi-fungsi yang
dilakukan. Kegiatan ini dilakukan terhadap pelaku pemasaran di lokasi penelitian,
baik yang berperan sebagai produsen, perantara hingga konsumen. Sehingga akan
terbentuk saluran pemasaran. Hal ini digunakan untuk mengetahui fungsi-fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran tersebut. Selain itu,
lembaga-lembaga ini juga berperan sebagai sumber informasi dalam sistem
pemasaran tersebut.
Analisis saluran pemasaran dilakukan dengan penelusuran kegiatan
penyaluran jeruk siam Nabire, dimulai dari petani hingga konsumen akhir.
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui berapa banyak jumlah lembaga yang
terlibat dalam sistem pemasaran tersebut. Semakin panjangnya saluran pemasaran
yang terjadi, maka marjin pemasaran yang ada juga akan semakin tinggi.
4.5.2. Analisis Fungsi-fungsi Pemasaran
Analisis ini dilakukan dengan mengamati kegiatan pokok yang dilakukan
oleh masing-masing lembaga pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran tersebut
terbagi menjadi tiga yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas.
Aktivitas lembaga pemasaran yang menjalankan fungsi pertukaran dapat berupa
pembelian atau pengumpulan dan penjualan. Fungsi fisik berupa kegiatan
penyimpanan atau gudang, pengangkutan dan pengolahan. Sedangkan fungsi
fasilitas berupa standarisasi, pembiayaan, penanggungan risiko dan intelijen
pemasaran. Analisis fungsi pemasaran dapat digunakan dalam mengevaluasi biaya
pemasaran. selain itu juga dapat berguna untuk membandingkan biaya yang
dikeluarkan oleh dua lembaga pemasaran yang saling berhubungan.

37

4.5.3. Analisis Struktur, Perilaku dan Keragaan Pasar


4.5.3.1. Analisis Struktur Pasar
Struktur pasar merupakan pola, bentuk atau cara yang dilakukan oleh
lembaga pemasaran yang saling terkait. Analisis struktur pasar dilakukan dengan
mengacu kepada Dahl dan Hammond (1977) dalam Sumardi (2009), yaitu analisis
struktur pasar ditentukan berdasarkan hasil identifikasi dari jumlah dan ukuran
lembaga pemasaran, sifat produk, serta hambatan keluar masuk pasar.
Karakteristik struktur pasar berdasarkan sudut pandang penjual dan pembeli dapat
dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Karakteristik Struktur Pasar berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli
Karakteristik
No

Jumlah
Penjual/
Pembeli

Sifat
Produk

Struktur Pasar
Hambatan
keluar
masuk pasar

Sudut Penjual

Sudut Pembeli

Tinggi

Persaingan
murni
Monopolistik

Persaingan
murni
Monopolistik

Homogen

Tinggi

Oligopoli murni

Oligopsoni
murni

Sedikit

Diferensiasi

Tinggi

Satu

Unik

Tinggi

Oligopoli
diferensiasi
Monopoli

Oligopsoni
diferensiasi
Monopsoni

Banyak

Homogen

Rendah

Banyak

Diferensiasi

Sedikit

4
5

Sumber: Dahl dan Hammond (1977) dalam Sumardi (2009)

Jumlah penjual merupakan ditribusi dan banyaknya lembaga pemasaran


yang memperdagangkan jenis komoditas tertentu di pasar. Jumlah pembeli
merupakan distribusi jumlah dan ukuran pembeli untuk komoditas tertentu di
pasar. Sifat produk merupakan perbedaan suatu komoditas atau produk yang
dimiliki oleh lembaga pemasaran yang berbeda. Sedangkan hambatan keluar
masuk pasar menunjukkan seberapa mudahnya lembaga pemasaran baru
bergabung dalam pasar yang telah ada.
4.5.3.2. Analisis Perilaku Pasar
Analisis perilaku pasar dilakukan dengan mengamati beberapa aktivitas
yang terjadi pada sistem pemasaran. Aktivitas tersebut dilakukan oleh lembagalembaga pemasaran yang terlibat melalui penyesuaian diri dengan keadaan pasar
38

yang dihadapi agar dapat mencapai tujuan masing-masing. Aktivitas tersebut yaitu
kegiatan penjualan dan pembelian yang terjadi diantara petani atau produsen,
pedagang pegumpul, pedagang grosir, hingga pedagang pengecer; sistem
penentuan harga serta sistem pembayaran; dan kerjasama yang dilakukan antar
lembaga pemasaran.
4.5.4. Analisis Struktur Biaya Pemasaran
Analisis struktur biaya pemasaran dilakukan dengan mengidentifikasi
komponen-komponen biaya yang dikeluarkan oleh para lembaga pemasaran.
Menurut Mulyadi (1999) dalam Herawati (2005), biaya pemasaran dapat
digolongkan berdasarkan fungsi pemasaran sebagai berikut:
1.

Fungsi penjualan, terdiri dari akivitas yang dilakukan untuk memenuhi


pesanan yang diterima dari pelanggan atau konsumen. Biaya fungsi penjualan
terdiri dari gaji karyawan fungsi penjualan, biaya depresiasi kantor, biaya
sewa kantor, dll.

2.

Fungsi periklanan, terdiri dari aktivitas perancangan dan pelaksanaan


kegiatan untuk mendapatkan pesanan melalui kegiatan periklanan dan
promosi. Biaya fungsi advertensi terdiri: gaji karyawan, biaya iklan, biaya
pameran, biaya promosi, biaya contoh atau sampel.

3.

Fungsi pergudangan, terdiri dari aktivitas penyimpanan produk jadi yang siap
untuk dijual. Biaya fungsi pergudangan terdiri: gaji karyawan gudang, biaya
depresiasi gudang, dan biaya sewa gudang.

4.

Fungsi pembungkusan dan pengiriman, terdiri dari aktivitas pembungkusan


produk dan pengiriman produk kepada pembeli. Fungsi pembungkusan dan
pengiriman terdiri: gaji karyawan pembungkusan dan pengiriman, biaya
bahan pembungkus, biaya pengiriman, biaya depresiasi kendaraan, biaya
operasi kendaraan.

5.

Fungsi kredit dan penagihan, terdiri dari aktivitas pemantauan kemampuan


keuangan pelanggan dan penagihan piutang dari pelanggan. Biaya fungsi
kredit dan penagihan terdiri: gaji karyawan bagian penagihan, kerugian
penghapusan piutang, potongan tunai.

6.

Fungsi akuntansi pemasaran, terdiri dari kegiatan pembuatan faktur dan


penyelenggaraan catatan akuntansi penjualan.

39

4.5.5. Analisis Margin Pemasaran


Analisis marjin pemasaran sering digunakan sebagai salah satu indikator
efisiensi pemasaran, sehingga melalui marjin pemasaran dapat diukur tingkat
efisiensi suatu sistem pemasaran. Marjin pemasaran diperoleh dari selisih antara
harga penjualan dan pembelian yang berlaku di tingkat lembaga-lembaga
pemasaran atau perbedaan harga produk yang berlaku di tingkat petani dengan
harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Melalui marjin pemasaran dapat
diketahui perbedaan pendapatan yang diperoleh oleh lembaga pemasaran yang
berbeda, dengan membedakan tingkat harga yang berlaku pada tingkat-tingkat
lembaga pemasaran yang ada. Besarnya marjin pemasaran pada dasarnya
merupakan hasil penjumlahan dari biaya-biaya pemasaran dan keuntungan yang di
peroleh oleh lembaga pemasaran. Secara matematis marjin pemasaran dapat
dirumuskan sebagai berikut.
MT = Mi.......1
Mi = Psi Pbi.......2
Mi = Ci + i......3
Dengan menggabungkan persamaan (1) dan (2) diperoleh:
Psi Pbi = Ci + i....4
Sehingga keuntungan lembaga tingkat ke-i adalah:
i = Psi Pbi Ci5
Keterangan : MT : Marjin pemasaran total
Mi : Marjin pemasaran tingkat ke-i
Psi : Harga jual pasar tingkat ke-i
Pbi : Harga beli pasar tingkat ke-i
Ci : Biaya lembaga pemasaran tingkat ke-i
i : Keuntungan pemasaran tingkat ke-i
Efisiensi pemasaran juga diukur dengan melihat penggunaan biaya-biaya
dalam kegiatan pemasaran dan bagaimana pembagian harga kepada pelaku-pelaku
pemasaran tersebut. Selain itu, efisiensi juga dilihat dari manfaat yang dapat
diperoleh oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran dari nilai tambah yang
diberikan kepada suatu produk atau komoditi.

40

4.5.6. Analisis Farmers Share


Farmers share juga dapat digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi
pemasaran, yaitu persentase bagian yang diperoleh oleh petani dari harga yang
dibayarkan oleh konsumen untuk membeli sebuah produk. Secara matematis nilai
farmers share dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut.
Pf
Fs = 100 %
Pr
Keterangan: Fs : Persentase yang diterima petani
Pf : Harga di tingkat petani
Pr : Harga di tingkat konsumen
Terdapat hubungan negatif antara marjin pemasaran dengan bagian yang
diterima oleh petani, sehingga semakin besar marjin pemasaran dalam suatu
saluran pemasaran maka bagian yang diterima petani akan relatif semakin kecil.
4.5.7. Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya
Analisis R/C rasio adalah analisis rasio keuntungan terhadap biaya.
Melalui analisis rasio keuntungan terhadap biaya dapat diketahui telah tercapainya
efisiensi pemasaran pada saluran pemasaran, dengan melihat besarnya rasio
keuntungan yang diperoleh terhadap biaya yang telah dikeluarkan. Secara
operasional (teknis) dengan semakin meratanya penyebaran rasio biaya dan
keuntungan maka sistem pemasaran tersebut akan semakin efisien. Rasio
keuntungan biaya secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut.
R/C = Li
Ci
Keterangan : R/C : Rasio keuntungan terhadap biaya
Li : Keuntungan lembaga pemasaran
Ci : Biaya pemasaran
Jika nilai R/C > 1 maka aktivitas pemasaran tersebut relatif
menguntungkan. Jika nilai R/C < 1 aktivitas pemasaran tersebut relatif kurang
menguntungkan.

41

4.5.8. Analisis Efisiensi Pemasaran


Secara makro efisiensi pemasaran dianalisis dengan menggunakan
pendekatan S-C-P (Structure-Conduct-Performance). Banyak terdapat alat yang
dapat digunakan dalam menganalisis efisiensi pemasaran dengan menggunakan
pendekatan S-C-P. Namun, penelitian ini hanya menggunakan beberapa alat untuk
mengukur efisiensi tersebut. Pada struktur pasar dilakukan identifikasi mengenai
jumlah lembaga pemasaran, hambatan masuk, struktur biaya dan diferensiasi
produk. Perilaku pasar mengidentifikasi keadaan harga dan keadaan produk.
Sedangkan keragaan pasar menganalisis profitabilitas, sistem penentuan harga,
sistem pembayaran dan kerjasama antar lembaga pemasaran.
Suatu sistem pemasaran dapat dikatakan efisien apabila biaya-biaya
pemasaran yang dikeluarkan merupakan biaya terendah. Biaya tersebut
merupakan biaya yang dapat menyampaikan hasil-hasil pertanian kepada
konsumen. Syarat kedua yaitu total harga yang dibayarkan konsumen dapat
melakukan pembagian harga secara merata kepada semua pihak dalam pemasaran
(Soekartawi 2004). Sehingga untuk penelitian ini efisiensi pemasaran juga
mengacu kepada teori Soekartawi (2004) yaitu dengan menganalisis penggunaan
biaya-biaya pemasaran, apakah telah dikeluarkan serendah-rendahnya dan apakah
harga total yang diterima oleh konsumen telah terbagi secara merata bagi seluruh
pelaku-pelaku pemasaran tersebut. Untuk mengetahui apakah pembagian harga
telah merata, digunakan analisis R/C Rasio.
4.6. Definisi Operasional
Beberapa istilah yang terkait dengan analisis sistem pemasaran jeruk siam
Nabire ini diuraikan sebagai berikut.
1.

Petani jeruk siam adalah individu yang melaksanakan usahatani atau


budidaya komoditas jeruk siam serta melakukan kegiatan pemasaran jeruk
siam.

2.

Pedagang pengumpul adalah individu ataupun kelompok yang membeli


jeruk siam dari petani kemudian menjualnya kepada pedagang besar atau
pedagang pengecer.

42

3.

Pedagang besar adalah individu atau kelompok yang melakukan pembelian


jeruk siam dari pedagang pengumpul dan kemudian menjualnya kepada
pedagang pengecer.

4.

Pedagang pengecer adalah individu atau kelompok yang membeli jeruk siam
dari pedagang besar atau dari pedagang pengumpul ataupun dari petani,
kemudian menjualnya kepada konsumen akhir.

5.

Konsumen akhir adalah individu atau kelompok yang melakukan pembelian


jeruk siam dari pedagang pengecer, pedagang besar, pedagang pengumpul
ataupun petani untuk dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai
bentuk olahan lain.

6.

Harga jual adalah harga rata-rata jeruk siam per kilogram yang diterima oleh
lembaga pemasaran dalam melakukan penjualan jeruk siamnya (Rp/kg).

7.

Harga beli adalah harga rata-rata jeruk siam per kilogram yang dibayarkan
oleh lembaga pemasaran yang melakukan pembelian jeruk siam (Rp/kg).

8.

Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran


untuk kegiatan atau aktivitas usaha pemasaran jeruk siam (Rp/kg).

9.

Keuntungan pemasaran adalah selisih antara harga yang dibayarkan ke


produsen dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir jeruk siam
(Rp/kg).

43

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN


5.1. Karakteristik Umum Kampung Wadio
Kampung Wadio merupakan salah satu kampung yang termasuk dalam
wilayah Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire. Luas wilayah kampung ini
adalah 1.650 hektar, sedangkan luas Distrik Nabire Barat secara keseluruhan
adalah 14.319 hektar. Batas-batas geografis Kampung Wadio adalah sebagai
berikut:

Sebelah Utara berbatasan dengan Kampung Kalisemen

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kampung Topo

Sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Bumi Raya

Sebelah Timur berbatasan dengan Kampung Gerbang Sadu


Kampung Wadio terletak lima kilometer di sebelah Timur Ibukota Distrik

Nabire Barat dengan waktu tempuh 15 menit. Sedangkan jarak Kampung Wadio
dengan Ibukota Kabupaten adalah sembilan kilometer dengan waktu tempuh 25
menit.
Persentase penggunaan lahan di Kampung Wadio yaitu 57,43 persen untuk
pemukiman, pertokoan serta hutan, 10,42 persen ladang/tegal yang diusahakan,
16,92 persen perkebunan, 4,96 persen lahan sawah dan 10,27 persen ladang yang
tidak diusahakan. Kampung Wadio merupakan salah satu sentra produksi jeruk
siam di Kabupaten Nabire, dengan rata-rata suhu udara 29,93 C dan kelembaban
udara 82,25 persen. Curah hujan per tahun berkisar rata-rata 432,83 mm dan hari
hujan 19 hari/bulan.

Kampung ini terletak pada ketinggian 10 meter diatas

permukaan laut.
Fasilitas transportasi yang menghubungkan Kampung Wadio dengan
kampung

lain adalah angkutan umum dan ojek yang tersedia setiap menit.

Kampung ini terbagi menjadi 2 RW dan 13 RT. Jumlah penduduk Kampung


Wadio hingga April 2011 adalah 1.458 jiwa yang terdiri dari 752 jiwa laki-laki
dan 706 jiwa perempuan, dengan kepadatan penduduk 23,5 per kilometer. Jumlah
Kepala Keluarga di Kampung Wadio adalah 450 KK. Komposisi penduduk
berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur/Usia di Kampung Wadio,


Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire Tahun 2011
Umur (tahun)

Jumlah Penduduk (jiwa)


Laki-laki

Persentase (%)

Perempuan

< 15

274

302

39,51

15 50

278

325

41,36

> 50

128

151

19,14

Jumlah

680

778

100.00

Sumber : Balai Kampung Wadio (2011)

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa angkatan kerja penduduk


Kampung Wadio memiliki persentase tertinggi, yaitu 41,36 persen. Sementara
penduduk dengan usia yang masih tergolong anak-anak memiliki persentase 39,51
persen. Penduduk dengan diatas 50 tahun, memiliki persentase 19,14 persen.
Dengan banyaknya angkatan kerja atau penduduk usia produktif, dapat
mendukung peningkatan produktivitas penduduk di kampung tersebut.
Sebagian besar penduduk Kampung Wadio bermatapencaharian utama
sebagai petani, yaitu sebesar 69,78 persen. Hal ini menunjukkan sektor pertanian
merupakan sumber pendapatan utama sebagian besar penduduk Kampung Wadio.
Akan tetapi, penduduk Kampung Wadio yang bermatapencaharian utama selain
petani juga memiliki lahan pertanian. Penduduk tersebut melakukan kegiatan
usahatani sebagai usaha tambahan. Usahatani dengan komoditas jeruk dilakukan
oleh sebagian besar petani di Kampung Wadio. Komposisi penduduk berdasarkan
matapencaharian utamanya dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 11.

45

Tabel 11. Komposisi Penduduk Berdasarkan Matapencaharian di Kampung


Wadio, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire Tahun 2011
No.

Mata Pencaharian

Jumlah KK

Persentase (%)

Pegawai Negeri Sipil

29

6,44

TNI/POLRI

11

2,44

Swasta

12

2,67

Tukang

17

3,78

Jasa

10

2,22

Petani

314

69,78

Pensiunan

0,89

Pedagang

51

11,33

Peternak

0,44

450

100,00

Jumlah
Sumber : Balai Kampung Wadio (2011)

Lahan pertanian di Kampung Wadio sebagian besar ditanami jeruk oleh


petani. Selain jeruk, komoditas lain yang ditanam adalah jagung, kedelai, dan
sayur-sayuran seperti sawi, bayam, ketimun, terong, bawang merah, semangka,
melon, kacang panjang, cabai, dan tomat. Penggunaan lahan untuk menanam padi
sudah hampir tidak ada. Karena petani telah beralih menanam jeruk yang
dirasakan lebih menguntungkan. Selain ditanam di areal penanaman, tanaman
jeruk juga ditanam di pekarangan rumah penduduk. Sebagian besar penduduk
kampung tersebut memiliki tanaman jeruk di pekarangan rumah mereka. Sehingga
apabila kita berada di kampung ini, sejauh mata memandang akan terlihat pohonpohon jeruk yang ditanam di areal penanaman maupun di pekarangan rumah
penduduk.
Latar belakang pendidikan penduduk Kampung Wadio umumnya telah
dapat menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SD yaitu sebanyak 41,44 persen.
Selain itu, 23,63 persen penduduk telah menyelesaikan pendidikan hingga tingkat
SMP, 22,42 persen telah menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA/SMK,
2,77 persen telah menyelesaikan pendidikan hingga tingkat Sarjana dan 9,76
persen tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa
penduduk Kampung Wadio tergolong dalam tingkat pendidikan yang rendah.
Struktur kepemilikan lahan di Kampung Wadio didominasi oleh
kepemilikan lahan dengan luas 0,1 1 hektar. Hal ini menunjukkan bahwa petani

46

setempat umumnya masih memiliki luas lahan yang kecil. Hanya beberapa
penduduk yang memiliki luas lahan 3 5 hektar. Belum ada petani atau penduduk
yang memiliki lahan lebih dari lima hektar. Hal ini disajikan secara rinci pada
Tabel 12.
Tabel 12. Struktur Kepemilikan Lahan Pertanian di Kampung Wadio, Distrik
Nabire Barat, Kabupaten Nabire Tahun 2011
No.

Luas Pemilikan Lahan (ha)

Jumlah penduduk (jiwa)

Persentase (%)

< 0,1

43

14,53

0,1 - 0,5

67

22,64

0,6 1

65

21,96

1,1 - 1,5

51

17,23

1,6 - 2,0

55

18,58

35

15

5,07

>6

296

100,00

Jumlah
Sumber : Balai Kampung Wadio (2011)

Sarana perekonomian yang mendukung atau menunjang kegiatan


perekonomian di Kampung Wadio salah satunya adalah satu unit pasar. Pasar ini
menjual sembilan bahan pokok. Akan tetapi, kegiatan pasar tersebut hanya
berlangsung pada pagi dan sore hari. Selain itu terdapat 10 unit kios/warung dan
satu unit KUD.
5.2. Karakteristik Responden
5.2.1. Karakteristik Petani Responden
Keberhasilan usahatani suatu desa atau kampung dipengaruhi oleh
karakteristik yang dimiliki oleh para petaninya. Karakteristik petani responden
dalam penelitian ini meliputi usia, tingkat pendidikan, status usaha dan
pengalaman bertani.
Usia petani responden berdasarkan Tabel 13 pada umumnya 31 50
tahun, dengan rata-rata usia petani responden 44 tahun. Usia ini tergolong ke
dalam usia produktif. Sehingga hal ini menunjukkan sebagian besar petani
tergolong dalam usia produktif. Hal ini juga dapat secara rinci pada Tabel 13.

47

Tabel 13. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Usia


No.

Usia (tahun)

Jumlah Petani (orang)

Persentase (%)

20 30

6,67

31 40

40,00

41 50

33,33

< 50

20,00

15

100,00

Total

Pendidikan merupakan salah satu faktor pelancar pembangunan pertanian.


Sehingga dengan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat di suatu
daerah, maka hal ini dapat meningkatkan serta memperlancar pembangunan
pertanian di daerah tersebut. Petani responden sebanyak sembilan orang (60
persen) telah menyelesaikan pendidikan tingkat SD, dua orang (13,33 persen)
telah menyelesaikan pendidikan tingkat SMP dan empat orang (26,67 persen)
telah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA/SMK. Tidak ada petani
responden yang menyelesaikan pendidikan hingga tingkat Diploma maupun
Sarjana ataupun yang tidak melanjutkan sekolah. Hal ini menunjukkan petani di
Kampung Wadio tersebut masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah karena
pada umumnya hanya dapat menyelesaikan tingkat pendidikan hingga Sekolah
Dasar (Tabel 14).
Tabel 14. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No.

Tingkat pendidikan

Jumlah Petani (orang)

Persentase (%)

Tidak sekolah

SD

60,00

SMP

13,33

SMA/SMK

26,67

Diploma

Sarjana

15

100,00

Total

Status usaha petani setempat umumnya merupakan usaha milik sendiri.


Lahan yang digunakan untuk bertani pun merupakan lahan milik petani sendiri,
bukan lahan sewaan ataupun bagi hasil. Hal ini dikarenakan Kampung Wadio
48

merupakan daerah penempatan penduduk transmigrasi. Setiap penduduk


transmigrasi memperoleh lahan yang telah disediakan oleh pemerintah setempat
untuk diusahakan sebaik-baiknya. Sehingga penduduk setempat umumnya telah
memiliki lahan masing-masing.
Petani jeruk di Kampung Wadio sebagian besar telah melakukan usahatani
jeruk tersebut selama 6 - 15 tahun. Hal ini ditunjukkan pada Tabel 15. Sebanyak
40 persen petani telah melakukan usahatani jeruk selama 6 - 10 tahun dan 46,67
persen telah mengusahakan jeruk selama 11 15 tahun. Sementara hanya dua
petani atau 13,33 persen yang memiliki pengalaman bertani selama 1 5 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani telah cukup berpengalaman
dalam mengusahakan jeruk yaitu lebih dari lima tahun. Selain itu, hal ini juga
menunjukkan semua petani responden telah melakukan pemanenan dan penjualan
jeruk paling sedikit selama 2 tahun (Tabel 15).
Tabel 15. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Bertani
No.

Pengalaman Bertani (tahun)

Jumlah Petani (orang)

Persentase (%)

15

13,33

6 10

40,00

11 15

46,67

< 15

15

100,00

Total

5.2.2. Karakteristik Pedagang


Beberapa karakteristik pedagang yang dianalisis meliputi usia pedagang,
tingkat pendidikan, pengalaman berdagang, dan status usaha. Responden yang
tergolong pedagang terdiri dari dua orang pedagang pengumpul dan 12 orang
pedagang pengecer. Pedagang pengecer terdiri dari pedagang pengecer keliling,
pedagang pengecer pasar, dan pedagang pengecer pinggir jalan.
Pedagang yang membeli jeruk dari petani dan menjualnya kembali
sebagian besar berusia 41 50 tahun. Hal ini menunjukkan pedagang perantara di
daerah tersebut umumnya hampir mendekati usia tidak produktif namun memiliki
potensi kerja yang tinggi dan pengalaman kerja yang cukup banyak. Sehingga

49

memiliki peluang untuk mengelola dan mengembangkan usahanya. Hal ini dapat
dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Karakteristik Pedagang Berdasarkan Usia
No.

Usia (tahun)

21 30

35,71

31 40

14,29

41 50

50,00

< 50

14

100,00

Total

Jumlah (orang)

Persentase (%)

Para pedagang responden dapat dikategorikan cukup berpendidikan,


dimana pedagang yang telah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar
sebanyak lima orang (35,71 persen), SMP sebanyak tiga orang (21.43 persen),
SMA/SMK sebanyak lima orang (35.71 persen) dan hanya satu orang (7.14
persen) yang tidak mengenyam pendidikan. Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada
Tabel 17.
Tabel 17. Karakteristik Pedagang Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No.

Tingkat pendidikan

Jumlah (orang)

Persentase (%)

Tidak sekolah

7,14

SD

35,71

SMP

21,43

SMA/SMK

35,71

Diploma

Sarjana

14

100,00

Total

Pengalaman berdagang pedagang responden masih tergolong sedikit. Hal


ini dikarenakan pada umumnya pedagang telah berdagang selama 1-5 tahun. Hal
ini menunjukkan banyak pedagang baru yang tertarik untuk melakukan usaha
berdagang jeruk karena menguntungkan. Berdagang merupakan pekerjaan utama
para pedagang yang pada umumnya berjenis kelamin wanita ini. Distribusi
pengalaman berdagang pedagang jeruk di Nabire lebih jelas disajikan pada Tabel
18.

50

Tabel 18. Karakteristik Pedagang Berdasarkan Pengalaman Berdagang


No.

Pengalaman bertani (tahun)

15

42,86

6 10

14,29

11 15

28,57

< 15

14,29

14

100,00

Total

Jumlah

Presentase (%)

Usaha yang dimiliki oleh pedagang di daerah ini merupakan usaha milik
sendiri dan tidak melakukan kemitraan atau kerjasama dengan petani maupun
pedagang lainnya. Komoditas pertanian yang diperdagangkan sebagian besar
hanya berupa jeruk. Namun, beberapa pedagang juga menjual buah-buahan lain
seperti pisang, mangga, pepaya, semangka dan melon, akan tetapi persentasi
jumlah buah jeruk tetap lebih banyak dari buah-buah yang lain.
Pedagang di daerah ini umumnya tidak memiliki tenaga kerja tetap untuk
melakukan usaha dagangnya, walaupun ada beberapa pedagang yang dibantu oleh
tenaga kerja yang berasal dari keluarga sendiri. Sehingga terdapat beberapa
pedagang yang tidak mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja. Di daerah ini juga
belum terdapat suatu perkumpulan usaha sejenis, sehingga pedagang menjalankan
usahanya secara sendiri-sendiri.
5.3. Gambaran Usahatani Jeruk Siam di Kampung Wadio
Petani jeruk di kampung ini umumnya adalah penduduk pendatang yang
berasal dari Pulau Jawa, karena Kampung Wadio ini merupakan daerah
transmigrasi. Usahatani jeruk di Kampung Wadio telah dilakukan selama 15
tahun. Sebelum melakukan usahatani jeruk, para petani mengusahakan padi,
kakao, dan palawija. Namun setelah mendapatkan anjuran dari pemerintah untuk
mengusahakan jeruk di kampung tersebut serta melihat usaha tersebut
menguntungkan untuk dijalankan, maka petani mulai beralih menanam jeruk.
Setelah menjalankan usahatani jeruk ini, petani merasa bahwa usaha tersebut
menguntungkan, sehingga hingga saat ini petani terus menanggapi secara positif
program pemerintah untuk terus mengembangkan komoditas jeruk di daerah
tersebut. Varietas jeruk yang ditanam di daerah ini umumnya adalah jeruk siam.

51

5.3.1. Pembenihan
Benih yang digunakan oleh para petani berasal dari penangkar setempat
karena bibit yang siap ditanam pada areal pertanaman adalah bibit hasil okulasi.
Proses pembenihan diawali dengan menabur biji jeruk dari varietas jeruk asam
yang akan digunakan sebagai batang bawah.

Gambar 4. Tanaman Jeruk Sebelum Dipindahkan ke Bedengan


Setelah berumur 3 bulan, tanaman tersebut dipindahkan ke bedengan
dengan jarak tanam 20 centimeter x 20 centimeter dan dilakukan pemupukan
setiap bulan. Proses okulasi dilakukan setelah tujuh bulan tanaman ditanam pada
bedengan. Batang atas untuk okulasi diperoleh dari pohon jeruk manis yang telah
dewasa. Proses okulasi antara batang bawah yang berasal dari tanaman jeruk asam
dan batang atas dari jeruk manis dilakukan agar tanaman yang akan menghasilkan
nantinya memiliki batang yang kuat dan tahan terhadap penyakit, sebab tanaman
jeruk manis memiliki batang yang kurang kuat dan tidak tahan terhadap serangan
penyakit.
Setelah satu bulan proses okulasi, dilakukan pemotongan ujung-ujung
cabang batang bawah (jeruk asam), sehingga yang tersisa hanya ujung cabang dari
jeruk manis. Sebulan berikutnya saat besar batang telah mencapai 1,5 centimeter,
bibit siap ditanam pada areal penanaman. Kebutuhan benih untuk satu hektar
lahan adalah (kurang lebih) 400 pohon.

52

Gambar 5. Tanaman Jeruk yang Telah Diokulasi


5.3.2. Persiapan Lahan
Proses penyiapan lahan dilakukan dengan membersihkan lahan dari gulma
atau tanaman-tanaman yang ditanam sebelumnya. Kemudian tanah digemburkan
dengan cara dicangkul. Setelah itu dilakukan pembuatan guludan dan parit.
Selanjutnya dapat dilakukan penanaman benih dengan jarak tanam 5 meter x 5
meter.
5.3.3. Penanaman
Kegiatan penanaman dilakukan pada awal musim hujan, dengan cara
menggali tanah pada bedengan sedalam tinggi polibag. Bagian bawah polibag
dilubangi secara melingkar, kemudian bibit ditanam pada lubang galian dan
lubang ditimbun dengan tanah. Polibag ditarik ke atas dan sisinya dipadatkan
dengan tanah. Bila diperlukan tanaman diberi ajir untuk mempertegak tanaman
tersebut. Apabila kondisi tanah kering dilakukan penyiraman dengan air
secukupnya. Setelah tamanan berumur tiga bulan, dilakukan pemupukan dengan
dosis per hektar = 200 kilogram TSP, 300 kilogram Urea atau Za, dan 200
kilogram KCL.
5.3.4. Pemeliharaan Tanaman
a. Penyulaman. Apabila setelah satu bulan penanaman terdapat bibit yang mati
maka dilakukan penyulaman dengan menanam kembali bibit pada lubang
tanam yang tanamannya tidak tumbuh atau mati.

53

b. Pengairan. Pada saat fase vegetatif maupun generatif tanaman jeruk sangat
membutuhkan air sehingga dilakukan pengairan secara berkala dengan melihat
kondisi tanah dan cuaca.
c. Penanaman tanaman sela. Pada saat tanaman jeruk belum menghasilkan,
dilakukan penanaman secara tumpang sari dengan jagung, kedelai dan
tanaman sayur-sayuran seperti tomat, cabai, bawang merah, kacang panjang,
melon dan semangka.
d. Penyiangan dan penggemburan tanah. Penyiangan dilakukan setelah tanaman
berumur satu bulan. Penyiangan berikutnya dilakukan secara kontinu setiap 2
4 minggu. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan perbaikan parit saat
tanaman telah berumur satu tahun.
e. Pemupukan. Pemupukan dilakukan saat tanaman berumur tiga bulan. Jenis
dan dosis pupuk yang diberikan adalah Urea atau Za sebanyak 300 kilogram
per hektar, TSP sebanyak 200 kilogram per hektar dan KCL sebanyak 200
kilogram per hektar. Pemupukan diberikan kembali setelah tanaman
berproduksi, sebanyak 2 kali dalam setahun.
f. Pemangkasan dan pembentukan pohon. Pemangkasan ditujukan untuk
pembentukan pohon dan menjaga kesehatan tanaman. Kegiatan pemangkasan
dilakukan dengan menggunakan alat yang tajam seperti pisau atau gunting
pangkas. Saat pembentukan pohon dilakukan, tanaman harus dalam kondisi
tercukupi unsur hara dan airnya. Pada bekas pangkasan disemprot dengan
pestisida untuk mencegah terjadinya infeksi.
5.3.5. Pembungaan dan Pembuahan
Tanaman jeruk mulai berbunga saat tanaman berumur kurang lebih dua
tahun dan mulai berbuah saat tanaman berumur tiga tahun. Produksi buah
tanaman jeruk akan maksimal saat tanaman berumur 5 7 tahun. Umur maksimal
tanaman jeruk mencapai 10 tahun.
5.3.6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
Terdapat beberapa OPT yang perlu diperhatikan dalam kegiatan usahatani
jeruk. Hama yang sering mengganggu tanaman maupun buah yang telah
dihasilkan adalah lalat buah. Sedangkan penyakit yang dapat membahayakan

54

tanaman jeruk di daerah ini adalah Phitoptora dan Diplodia. Untuk


mengendalikan hama dan penyakit, pada umumnya petani masih menggunakan
pestisida. Perkembangan hama dan penyakit ditekan dengan melakukan sanitasi
kebun dan perbaikan parit serta peninggian guludan. Pengendalian lalat buah juga
dilakukan dengan menggunakan perangkap lalat buah yang diberi petrogenol
(senyawa kimia yang mempunyai daya tarik terhadap serangga, berbentuk larutan
dan berwarna kuning jernih untuk mengendalikan lalat buah).

Gambar 6. Jeruk yang Terserang Lalat Buah


5.3.7. Pemanenan
Umur panen buah jeruk adalah 240 255 hari setelah berbunga. Buah
telah siap dipanen apabila kulit buah berwarna hijau kekuningan, pangkal bawah
buah bila ditekan terasa lunak/empuk, dan penampakan kulit mengkilat. Produksi
jeruk rata-rata adalah 75 kilogram/pohon/tahun atau 30 ton per hektar. Proses
pemanenan atau pemetikan dilakukan dengan tangan atau dapat juga dengan
menggunakan gunting panen. Biasanya pemanenan dilakukan saat hari cerah,
dengan menggunakan wadah tas nelon.

55

Gambar 7. Buah Jeruk yang Telah Siap Untuk Dipanen


5.3.8. Pasca Panen
Setelah kegiatan pemanenan, jeruk yang telah dipanen diangkut dengan
menggunakan sepeda motor menuju tempat pengumpulan. Bila permukaan kulit
jeruk kotor, buah jeruk yang telah dipanen dibersihkan dengan menggunakan kain
lap basah. Kegiatan sortasi dilakukan dengan memisahkan buah-buah yang cacat
dan rusak. Buah jeruk yang akan dijual ke luar kota dikemas dalam peti-peti yang
terbuat dari kayu, sedangkan buah jeruk yang akan di jual di sekitar Kabupaten
Nabire dikemas dalam kardus-kardus atau tas-tas nilon. Kegiatan pengangkutan
buah jeruk dari kebun ke tempat penampungan atau pengumpulan dilakukan
dengan menggunakan sepeda motor. Selanjutnya buah jeruk yang akan dijual
diluar daerah akan diangkut menggunakan truk menuju pelabuhan dan akan
langsung dikirim dengan menggunakan kapal ke tempat tujuan penjualan di luar
daerah. Sedangkan untuk penjualan pada pasar daerah pengangkutan dilakukan
dengan menggunakan mobil angkutan ataupun sepeda motor. Kegiatan
pengolahan buah jeruk yang dilakukan hanya sebatas untuk juice/minuman segar
yang disajikan di rumah-rumah makan.

56

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


6.1. Lembaga Pemasaran
Lembaga-lembaga pemasaran yang berperan dalam kegiatan pemasaran
jeruk di Kampung Wadio adalah pedagang pengumpul, pedagang besar, dan
pedagang pengecer. Pedagang pengecer yang terlibat dalam pemasaran terdiri dari
pengecer lokal dan pengecer non lokal. Pedagang pengecer lokal dibedakan
berdasarkan tempat penjualan jeruk dan fasilitas yang digunakan menjadi tiga
jenis, yaitu pengecer keliling, pengecer pasar maupun pengecer yang menjual
jeruk di pinggir-pinggir jalan.
6.1.1. Petani
Petani yang dimaksud adalah petani yang mengusahakan atau melakukan
budidaya jeruk siam di Kampung Wadio. Petani melakukan penjualan jeruk
kepada pedagang pengumpul, pedagang pengecer lokal dan konsumen. Penjualan
kepada pedagang pengumpul tidak dilakukan secara rutin, akan tetapi tergantung
kepada kematangan jeruk petani. Volume penjualan jeruk kepada pedagang
pengumpul rata-rata adalah sebanyak 25 peti atau 1.250 kilogram. Sedangkan
penjualan kepada pedagang pengecer berkisar antara 5 10 tas atau setara dengan
75 150 kilogram. Jumlah penjualan kepada konsumen akhir maksimal sebanyak
50 kilogram.
Jeruk yang dijual oleh petani kepada pedagang pengumpul, pengecer
maupun konsumen pada umumnya berbentuk buah jeruk segar. Bentuk dan
ukurannya masih dalam keadaan bervariasi, karena petani tidak melakukan proses
grading. Harga jual yang berlaku pada saat petani melakukan penjualan
disesuaikan dengan harga yang berlaku di pasar.
Pada saat panen raya harga tertinggi jeruk siam di tingkat petani adalah Rp
2.500,00 per kilogram, sedangkan pada saat panen kecil harga tertinggi di tingkat
petani adalah Rp 5000,00 per kilogram. Panen raya jeruk siam di Kampung
Wadio pada umumnya berlangsung sebanyak dua kali dalam setahun, yaitu pada
Desember Januari dan Juli Agustus.

Petani menghasilkan rata-rata 148

kilogram jeruk dengan intensitas panen satu kali dalam seminggu. Total produksi
jeruk oleh petani dalam tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Total Produksi Petani Responden dan Harga Jeruk (Rp) dalam Tiga
Bulan Terakhir (Februari-April) 2011
Bulan

Produksi (kg)

Harga (Rp/kg)

Februari

481,54

3.826,67

Maret

581,15

3.453,33

April

713,85

3.100,00

Rata-Rata

592,18

3.460,00

Pada bulan Februari jumlah produksi jeruk yang dihasilkan petani rata-rata
adalah 481,52 kilogram dengan harga rata-rata yang berlaku Rp 3.826,67 per
kilogram. Pada bulan ini jumlah produksi jeruk di Kampung Wadio dalam
keadaan sedikit, karena telah melewati periode musim panen. Pada bulan Maret,
produksi jeruk mengalami sedikit peningkatan yaitu 581,15 kilogram. Jumlah
jeruk yang tersedia di pasar dalam keadaan cukup sehingga harga jeruk pun
sedikit mengalami penurunan menjadi Rp 3.453,33 per kilogram. Pada bulan
April, jumlah jeruk di pasar kembali meningkat karena mendekati periode musim
panen. Rata-rata jumlah produksi jeruk dalam bulan April adalah 718,83 kilogram
dengan harga jual Rp 3.100,00 per kilogram. Sehingga diperoleh rata-rata jumlah
produksi dalam tiga bulan tersebut yaitu 592,18 kilogram dalam sebulan dan ratarata harga jual jeruk adalah Rp 3.460,00 per kilogram.
6.1.2. Pedagang Pengumpul
Pedagang pengumpul yang dimaksud disini adalah pedagang pengumpul
di tingkat desa. Pedagang pengumpul mengumpulkan hasil produksi jeruk petani
di Kampung Wadio kemudian memasarkannya ke luar daerah. Lembaga
pemasaran ini melakukan penjualan ke luar daerah dengan memanfaatkan
transportasi laut, yaitu menggunakan kapal penumpang. Alasan pedagang
pengumpul melakukan kegiatan pemasaran ini karena keuntungan yang diperoleh
cukup menjanjikan, selain itu juga permintaan dari luar daerah cukup besar
jumlahnya, yaitu rata-rata 200 peti (1.000 kilogram) setiap periode penjualan.
Kapal yang digunakan untuk mengirim jeruk adalah kapal penumpang yang
singgah di Pelabuhan Nabire. Kapal-kapal tersebut yaitu Kapal Labobar, Kapal
Nggapulu dan Kapal Dorolonda. Kapal-kapal ini singgah sebanyak tiga kali dalam
seminggu. Kapal-kapal tersebut mulai berlayar dari pelabuhan Tanjung Priok
58

menuju ke timur Indonesia, hingga sampai ke pelabuhan terakhir yaitu Pelabuhan


Jayapura. Kemudian kapal berlayar kembali ke arah barat menuju Pelabuhan
Tanjung Priok. Daerah tujuan penjualan jeruk yaitu Jayapura, Manokwari,
Sorong, Ambon, Bitung dan Surabaya.
Dua hari sebelum kapal masuk ke Pelabuhan Nabire, pedagang pengumpul
mulai mengamati lahan milik petani yang akan dibeli. Pedagang pengumpul
mendatangi lahan jeruk milik petani dan mengamati keadaan jeruk yang dimiliki
petani tersebut. Apabila sebagian besar jeruk pada lahan petani tersebut sudah
terlihat matang, dan memiliki ciri-ciri bahwa jeruk tersebut telah siap dipanen,
maka pedagang pengumpul akan mendatangi petani tersebut untuk melakukan
proses pembelian.
6.1.3. Pedagang Besar
Umumnya pedagang besar merupakan pedagang yang berasal dari daerah
tujuan pemasaran jeruk di luar Kabupaten Nabire. Pedagang besar terlebih dahulu
memesan jeruk yang akan dibeli dengan menghubungi pedagang pengumpul yang
telah menjadi langganannya melalui telepon. Pemesanan dilakukan dua hari
sebelum kapal singgah di Pelabuhan Nabire. Setelah itu pedagang besar dari luar
Nabire akan menjemput jeruk yang telah disiapkan oleh pedagang pengumpul.
Hal ini dilakukan dengan menumpangi kapal penumpang yang akan membawa
jeruk tersebut ke luar Kabupaten Nabire. Selanjutnya pedagang besar kembali ke
daerah tujuan penjualan dengan menumpangi kapal yang sama, yaitu kapal yang
juga mengangkut jeruk yang telah dibeli.
6.1.4. Pedagang pengecer
Pedagang pengecer merupakan pedagang yang menjual jeruk secara
langsung kepada konsumen secara eceran. Pedagang pengecer non lokal membeli
jeruk dari pedagang besar, kemudian menjualnya kepada konsumen akhir di
pasar-pasar daerah setempat. Penjualan jeruk oleh pedagang pengecer non lokal
dilakukan di luar Kabupaten Nabire seperti Jayapura, Sorong, Manokwari,
Ambon, Makassar dan Surabaya. Sehingga yang menjadi konsumen pada pasar ini
adalah konsumen yang ada di daerah tersebut.

59

Pedagang pengecer lokal membeli jeruk langsung dari petani tanpa melalui
pedagang pengumpul desa, karena jarak antara lahan petani dengan tempat
pedagang pengecer menjual jeruk hanya memakan waktu 25 menit perjalanan,
sehingga dapat dengan mudah dijangkau oleh keduanya. Daerah penjualan
pedagang pengecer adalah di sekitar Kabupaten Nabire. Terdapat beberapa jenis
pedagang pengecer di daerah ini, yaitu pedagang pengecer pasar, pedagang
pengecer keliling dan pedagang pengecer di pinggir jalan. Pedagang pengecer
pasar menjual buah jeruk di pasar-pasar daerah setempat, seperti Pasar Kalibobo,
Pasar Oyehe, Pasar Karang dan Pasar Sore. Tempat pedagang pengecer pasar
berjualan adalah tetap pada satu tempat, dengan hanya menggunakan payung dan
pengalas dari karung atau karpet pedagang sudah dapat membuka lapak untuk
berjualan di pasar. Pasar-pasar lokal di daerah tersebut pada umumnya dalam
keadaan ramai pada pagi hingga siang hari, sehingga pedagang pengecer pasar
pun berjualan hanya pada pagi hingga siang hari. Sebagian kecil pedagang
pengecer pasar ini melakukan pembelian langsung ke lahan jeruk petani. Karena
sudah berlangganan untuk melakukan pembelian dengan petani, sebagian besar
pedagang pengecer memperoleh buah jeruk yang akan dijual dengan memesan
melalui telepon kepada petani, kemudian petani tersebut yang mengantar jerukjeruk yang telah dipesan ke tempat pedagang pengecer berjualan.

Gambar 8. Pedagang Pengecer Pasar

60

Pedagang pengecer keliling merupakan pengecer yang melakukan


penjualan dengan berkeliling, tempat pedagang ini berjualan tidak tetap pada satu
tempat. Waktu berjualan pedagang pengecer keliling adalah pada pagi hingga sore
hari dengan mendatangi lokasilokasi yang memungkinkan adanya pembeli.
Jeruk dimasukkan ke dalam keranjang dan dijual berkeliling dengan
menggunakan sepeda motor ke pemukiman-pemukiman, kantor-kantor, pasarpasar dan tempattempat umum lainnya. Pedagang pengecer ini biasanya
mendatangi petani untuk melakukan pembelian bahkan tidak jarang mereka
sendiri yang melakukan pemanenan ke kebun petani.

Gambar 9. Pedagang Pengecer Keliling


Pedagang pengecer di pinggir jalan melakukan penjualan di pinggirpinggir jalan yang ramai dilewati oleh calon konsumen. Namun tempat penjualan
jeruk di pinggir jalan ini sebagian besar terdapat di Kampung Bumi Wonorejo.
Biasanya konsumen akan mendatangi daerah tersebut untuk melakukan
pembelian. Di pinggir jalan tersebut pedagang pengecer membangun stand-stand
sebagai tempat berjualan. Pedagang-pedagang ini umumnya merupakan penduduk
kampung setempat dan jarak rumah mereka dengan tempat berjualan tidak jauh,
sehingga pedagang-pedagang tersebut dapat berjualan pada pagi hingga malam
hari. Perbedaan antara ketiga jenis pedagang pengecer tersebut diuraikan pada
Tabel 20.

61

Gambar 10. Pedagang Pengecer Pinggir Jalan


Tabel 20. Perbedaan Antara Pedagang Pengecer Pasar, Pedagang Pengecer
Keliling dan Pedagang Pengecer di Pinggir Jalan
Pedagang

Pedagang

Pedagang

Pengecer Pasar

Pengecer Keliling

Tetap

Tidak tetap

Tetap

Tidak

Ya

Tidak

Ya

Tidak

Tidak

- Stand

Tidak

Tidak

Ya

- Keranjang

Tidak

Ya

Tidak

Pagi hingga siang


hari

Pagi hingga sore


hari

Pagi hingga
malam hari

100 kg

75 kg

46,93 kg

No

Keterangan

Lokasi berjualan

Fasilitas yang digunakan:


- Sepeda motor
- Payung

Waktu berjualan

Rata-rata volume
pembelian/penjualan per
hari

Pengecer Pinggir
Jalan

6.2. Saluran Pemasaran


Terdapat enam pola saluran pemasaran jeruk dalam proses penyaluran
jeruk siam dari petani jeruk di Kampung Wadio hingga konsumen akhir, baik
yang berada di Kabupaten Nabire maupun yang berada di luar Kabupaten Nabire.
Keenam saluran pemasaran tersebut yaitu:

62

Saluran 1 : Petani Pedagang pengumpul Pedagang besar Pedagang


pengecer non lokal Konsumen
Saluran 2 : Petani Pedagang pengecer pasar Pedagang pengecer pinggir jalan
Konsumen
Saluran 3 : Petani Pedagang pengecer pasar Konsumen
Saluran 4 : Petani Pedagang pengecer keliling Konsumen
Saluran 5 : Petani Pedagang pengecer pinggir jalan Konsumen
Saluran 6 : Petani Konsumen
Saluran pemasaran jeruk di Kampung Wadio lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 12.
100 kg

50 kg
Petani
1.250 kg

100 kg

100 kg

75 kg

Pengecer pasar

50 kg

Pedagang
pengumpul

Pengecer
keliling

Pengecer
pinggir jalan

Pedagang besar

Pedagang
pengecer non
lokal
Konsumen

Keterangan :
: Saluran pemasaran 1
: Saluran pemasaran 2
: Saluran pemasaran 3
: Saluran pemasaran 4
: Saluran pemasaran 5
: Saluran pemasaran 6
Gambar 10. Saluran Pemasaran Jeruk dari Kampung Wadio hingga Konsumen
63

6.2.1. Saluran Pemasaran 1


Pada saluran pemasaran 1, petani menjual

jeruk kepada pedagang

pengumpul desa, kemudian pedagang pengumpul desa menjual kepada pedagang


besar dengan melakukan pengiriman melalui transportasi laut yaitu menggunakan
kapal penumpang. Sehingga kegiatan pembelian jeruk oleh pedagang pengumpul
hanya berlangsung saat adanya kapal laut yang singgah di Pelabuhan Nabire.
Selain itu juga saat adanya permintaan dari pedagang di luar daerah. Kemudian di
luar daerah pedagang besar akan menjual buah jeruk tersebut kepada pedagang
pengecer di daerah tersebut. Selanjutnya pedagang pengecer non lokal akan
menjual kepada konsumen akhir yang ada di daerah tersebut. Proses pembelian
oleh pedagang pengumpul diawali dengan pengemasan buah jeruk dengan
menggunakan peti kayu. Peti kayu tersebut telah disiapkan terlebih dahulu oleh
pedagang pengumpul. Kapasitas per peti adalah kurang lebih 50 kilogram. Setelah
dikemas dalam peti kayu, jeruk dijual dengan harga rata-rata Rp 3.460,00 per
kilogram. Berbeda pada saat musim panen, harga jeruk mengalami penurunan,
harga terendah yang pernah diterima oleh petani mencapai Rp 1.400,00 per
kilogram. Sedangkan pada saat jumlah produksi jeruk sangat sedikit, harga
terendah yang diterima oleh petani adalah Rp 3.800,00 per kilogram. Jeruk-jeruk
yang telah berada di dalam peti selanjutnya diangkut dengan menggunakan truk
menuju pelabuhan, dimana kapal penumpang yang akan mengangkut jeruk-jeruk
tersebut berlabuh. Setelah sampai di pelabuhan, peti-peti yang berisikan jeruk
tersebut dikemas lagi ke dalam container, tiap container dapat memuat 200 peti.
Hal ini dilakukan agar jeruk-jeruk tersebut dapat diangkut menggunakan kapal
penumpang. Selanjutnya container tersebut akan dibawa oleh kapal penumpang
menuju daerah tujuan penjualan. Setelah tiba di daerah tujuan penjualan,
pedagang besar menjual jeruk tersebut kepada pedagang pengecer di kota tersebut.
Umumnya transaksi jual beli oleh pedagang besar dengan pedagang pengecer non
lokal dilakukan di tempat pembongkaran container. Pedagang pengecer non lokal
menjual jeruk-jeruk tersebut di pasar-pasar yang ada di daerah tersebut.
Keputusan petani untuk menjual hasil produksi jeruknya kepada pedagang
pengumpul disebabkan oleh faktor berikut, yaitu kemudahan dalam melakukan
transaksi dan pembelian dalam jumlah yang besar.

64

6.2.2. Saluran Pemasaran 2


Pada saluran pemasaran 2, petani menjual jeruk kepada pedagang
pengecer lokal yang berjualan di pasar. Kemudian pedagang pengecer pasar
menjual kepada pedagang pengecer pinggir jalan, selanjutnya pedagang ini akan
menjual kepada konsumen akhir. Pada umumnya pedagang pengecer pasar
melakukan pemesanan melalui telepon. Kemudian petani tersebut akan mengantar
pesanan jeruk ke tempat yang telah ditentukan oleh pedagang pengecer pasar
dengan menggunakan sepeda motor. Jeruk dikemas di dalam tas-tas nilon oleh
petani. Pedagang pengecer pasar membeli dengan harga rata-rata Rp 3.500,00 per
kilogram. Namun, pada saat musim harga jeruk terendah yang diterima oleh
pedagang pengecer pasar adalah Rp 2.500,00 per kilogram. Sedangkan pada saat
produksi sangat sedikit, pedagang pengecer pasar membeli jeruk dengan harga Rp
5.000,00 per kilogram. Pedagang pengecer pinggir jalan mendatangi pasar untuk
melakukan pembelian jeruk. Transaksi ini biasanya dilakukan pada pagi hari,
sebab pada siang hari, jeruk tersebut akan dijual kembali. Pedagang pengecer
pinggir jalan membeli jeruk dengan harga Rp 4.666,67 per kilogram. Pedagang
pengecer pinggir jalan akan melakukan pembelian kembali jika jeruk telah atau
hampir habis terjual. Kemudian, pedagang pengecer pinggir jalan akan
menjualnya kembali dengan harga Rp 6.766,67 per kilogram kepada konsumen.
6.2.3. Pola Saluran Pemasaran 3
Saluran pemasaran 3 melibatkan petani, pedagang pengecer pasar dan
konsumen. Pada saluran ini, proses pembelian dan harga beli yang diterima oleh
pedagang pengecer pasar sama seperti yang berlaku pada saluran 2. Akan tetapi,
pada saluran ini yang membeli jeruk dari pedagang pengecer pasar adalah
konsumen.
6.2.4. Pola Saluran Pemasaran 4
Pada pola saluran pemasaran 4, petani menjual jeruk kepada pedagang
keliling. Kegiatan pembelian berlangsung setelah terjadi pemesanan oleh
pedagang pengecer keliling terlebih dahulu. Pemesanan dilakukan oleh pedagang
pengecer keliling melalui telepon. Selanjutnya, petani akan mengantar pesanan
tersebut ke tempat yang telah ditentukan oleh pedagang pengecer keliling,

65

biasanya petani mengantar ke rumah pedagang keliling tersebut. Pedagang


pengecer keliling melakukan pembelian jeruk hampir setiap hari. Tetapi jeruk
diperoleh dari petani yang berbeda-beda. Dalam sekali pembelian jeruk juga
diperoleh dari petani yang berbeda-beda. Sehingga pada umumnya pedagang
pengecer keliling telah mengenal petani-petani yang ada di Kampung Wadio.
Pedagang keliling melakukan penjualan dengan berkeliling menggunakan sepeda
motor. Setiap hari pedagang keliling menjual jeruk dengan volume rata-rata 75
kilogram. Sebab kapasitas jeruk yang dapat diangkut dengan menggunakan motor
rata-rata 75 kilogram. Harga beli jeruk dari petani adalah Rp 4.333,33 per
kilogram. Kemudian pedagang keliling menjual jeruk kembali kepada konsumen
dengan harga Rp 7.222,22 per kilogram.
6.2.5. Pola Saluran Pemasaran 5
Selain memperoleh jeruk dari pedagang pengecer pasar, beberapa
pedagang pengecer pinggir jalan juga memperoleh jeruk langsung dari petani.
Pembelian dilakukan dengan mendatangi

petani. Bahkan kadang-kadang

pedagang pengecer pinggir jalan juga memetik jeruk sendiri di lahan petani.
Harga beli jeruk dari petani adalah Rp 4.541,67 per kilogram. Volume pembelian
pedagang pengecer pasar dari petani adalah 1.423 kilogram per bulan. Kemudian
jeruk dijual kembali di stand yang dimiliki petani di pinggir jalan. Harga jual
kepada konsumen selama bulan Februari, Maret dan April adalah Rp 6.766,67 per
kilogram.
6.2.6. Pola Saluran Pemasaran 6
Saluran pemasaran ketiga hanya melibatkan dua lembaga yaitu petani dan
konsumen akhir. Biasanya konsumen mendatangi lahan petani untuk melakukan
pembelian. Berbeda dengan harga yang diterima oleh pengecer, harga jual jeruk di
tingkat petani pada saat musim panen adalah Rp 2.000,00 per kilogram, dan pada
saat tidak musim panen harga tertingginya adalah Rp 5.000,00 per kilogram.
Namun, harga rata-rata penjualan jeruk oleh petani kepada konsumen adalah Rp
3.460,00 per kilogram.

66

6.3. Fungsi Pemasaran


Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran terdiri dari tiga
fungsi yaitu fungsi pertukaran (pembelian dan penjualan), fungsi fisik
(pengolahan, pengangkutan dan penyimpanan) dan fungsi fasilitas/pelancar
(pembiayaan, informasi harga dan pasar, sortasi, grading dan penanggungan
risiko). Setiap lembaga pemasaran yang terlibat dalam memasarkan jeruk mulai
dari petani hingga sampai ke tangan konsumen melakukan fungsi-fungsi
pemasaran yang berbeda-beda. Lembaga pemasaran yang terlibat dalam
pemasaran jeruk di Kampung Wadio tidak melakukan semua fungsi-fungsi
pemasaran yang ada.
6.3.1. Fungsi Pemasaran di Tingkat Petani
Petani jeruk di Kampung Wadio tidak melakukan semua fungsi-fungsi
pemasaran yang ada. Petani melakukan fungsi pertukaran dengan melakukan
penjualan kepada pedagang pengumpul, pedagang pengecer lokal dan konsumen
akhir. Pada saat panen raya atau panen besar, petani melakukan pemanenan
dengan menyewa tenaga kerja untuk memetik, mengemas, dan mengangkut hasil
panen. Sedangkan pada saat panen kecil, biasanya petani sendiri yang melakukan
pemanenan dibantu oleh tenaga kerja keluarga. Pada saluran 1, setelah pemanenan
dilkakukan, jeruk dikumpulkan dan diangkut oleh petani dengan menggunakan
sepeda motor ke tempat pengumpulan, kemudian dimasukkan ke dalam peti-peti
kayu yang telah disediakan oleh pedagang pengumpul. Saat itu petani melakukan
fungsi fisik, yaitu pengemasan dan pengangkutan. Pada saluran 2, 3, 4 dan 5 jeruk
tidak dimasukkan ke dalam peti-peti, akan tetapi hanya dikemas menggunakan
tas-tas nilon yang telah disediakan oleh pedagang pengecer. Setelah itu, jerukjeruk tersebut diantar oleh petani atau dibawa oleh pedagang pengecer tersebut
(saluran 5).

Pada saluran 6, fungsi fisik yang dilakukan oleh petani sedikit

berbeda. Pada saluran ini fungsi fisik yang dilakukan petani hanya berupa fungsi
pengemasan. Setelah panen, buah jeruk hanya dikemas di dalam tas nilon dan
langsung dibawa oleh konsumen.
Petani melakukan fungsi fasilitas dengan kegiatan sortasi, informasi pasar
dan penanggungan risiko. Kegiatan sortasi dilakukan bersamaan saat melakukan
pemanenan dengan memisahkan buah jeruk yang tidak layak jual. Jeruk yang
67

tidak layak jual yaitu buah jeruk yang rusak karena terjatuh saat pemanenan,
terkena gigitan lalat buah atau hama lainnya, serta bentuk yang tidak sempurna.
Umumnya para petani sudah mengetahui buah jeruk seperti apa yang diinginkan
oleh pedagang pengumpul, yaitu berukuran sedang (tidak terlalu besar dan tidak
terlalu kecil) sehingga petani hanya memanen buah yang ukurannya sedang.
Selain itu, karena buah jeruk tersebut akan dikirim melalui transportasi laut dan
memakan waktu paling cepat sehari, maka buah jeruk yang dipanen adalah buah
jeruk yang tidak terlalu matang agar tidak busuk selama perjalanan. Sedangkan
pedagang pengecer biasanya tidak menentukan ukuran buah yang diinginkan,
sehingga petani dapat memanen buah jeruk dengan ukuran apapun. Hasil panen
dijual kepada pedagang pengumpul, pedagang pengecer lokal dan konsumen
akhir berdasarkan harga yang berlaku di pasar pada saat itu. Informasi harga
biasanya diperoleh petani dari lembaga pemasaran di tingkat sebelumnya dan juga
dari petani lainnya. Informasi pasar tersebut dijadikan acuan untuk menjual hasil
produksinya. Namun, terkadang pedagang pengumpul memiliki kekuatan lebih
besar untuk menentukan harga karena petani tidak memiliki pilihan yang banyak
untuk menjual ke pedagang pengumpul lainnya, khususnya pada saat musim
panen. Hal ini disebabkan oleh lemahnya kelembagaan pada Kelompok Tani serta
Gapoktan yang ada di Kampung Wadio. Fungsi penanggungan risiko dilakukan
petani saat jeruk yang diterima oleh pedagang pengecer dalam kondisi tidak layak
untuk dijual, maka petani

akan mengganti sejumlah jeruk yang tidak layak

tersebut. Akan tetapi hal ini terjadi apabila jeruk yang rusak atau tidak layak
tersebut berjumlah lebih dari lima kilogram.
6.3.2. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengumpul
Pedagang pengumpul melaksanakan fungsi pertukaran dengan melakukan
pembelian dan penjualan. Umumnya pedagang pengumpul melakukan pembelian
di tempat pengumpulan jeruk, tempat pengumpulan tersebut merupakan tempat
yang dapat dilewati oleh truk. Pedagang pengumpul mengangkut jeruk tersebut
hingga ke Pelabuhan.
Fungsi

fisik

yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah

pengangkutan dan pengemasan. Pengangkutan dari tempat pengumpulan ke


pelabuhan dilakukan dengan menggunakan truk. Setelah tiba di pelabuhan, peti68

peti yang berisi jeruk tersebut dikemas lagi dengan menggunakan container.
Kemudian kegiatan pengangkutan dilanjutkan dengan menggunakan kapal laut
menuju daerah tujuan penjualan.

Gambar 12. Pedagang Pengumpul Melakukan Fungsi Pengangkutan


Fungsi fasilitas/pelancar yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah
fungsi informasi pasar. Informasi pasar sangat dibutuhkan oleh pedagang
pengumpul untuk mengetahui kondisi permintaan dan penawaran jeruk karena
terkait dengan penentuan harga jual maupun harga beli jeruk.
6.3.2. Fungsi pemasaran di Tingkat Pedagang Besar
Pedagang besar melakukan fungsi pertukaran dengan kegiatan pembelian
dari pedagang pengumpul dan penjualan kepada pedagang pengecer non lokal.
Transaksi pembelian jeruk dari pedagang pengumpul dilakukan di Pelabuhan
Nabire, dan transaksi penjualan kepada pedagang pengecer non lokal dilakukan di
tempat pembongkaran container.
Fungsi fisik yang dilakukan pedagang besar luar kota berupa
pengangkutan dan penyimpanan.

Kegiatan pengangkutan dilakukan melalui

transportasi laut menggunakan kapal penumpang. Pedagang besar luar kota


tersebut menjemput jeruk yang akan dibawa dengan menumpangi kapal yang akan
membawa jeruk tersebut ke pelabuhan kota tujuan pemasaran. Selama perjalanan

69

menuju kota tujuan dilakukan juga fungsi penyimpanan yang dilakukan dalam
container.
Fungsi fasilitas yang dilakukan pedagang besar luar kota berupa
penanggungan risiko, pembiayaan, sortasi dan informasi pasar. Penanggungan
risiko dilakukan oleh pedagang besar terkait dengan kerusakan buah jeruk selama
proses pendistribusian yang memakan waktu dua hari sehingga menyebabkan
penyusutan dan penurunan kualitas jeruk tersebut. Pedagang besar luar kota
melakukan fungsi pembiayaan dengan menyediakan modal awal kepada pedagang
pengumpul. Modal tersebut diberikan untuk melakukan pembelian serta
pengangkutan jeruk hingga jeruk jeruk tersebut siap untuk dikirim. Setelah
melakukan pemesanan kepada pedagang pengumpul, pedagang besar luar kota
akan mentransfer modal awal yang dibutuhkan melalui bank. Kegiatan sortasi
dilakukan setelah container telah sampai pada daerah tujuan pemasaran dan
dilakukan pembongkaran. Jeruk-jeruk yang sudah busuk dan tidak layak lagi
untuk dijual dipisahkan dan dibuang. Informasi pasar sangat dibutuhkan oleh
pedagang besar luar kota terkait perkembangan permintaan dan penawaran jeruk
di pasaran, karena berhubungan juga dengan harga jual dan harga beli yang akan
diterapkan.
6.3.3. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer Non Lokal
Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer non lokal
adalah pembelian dan penjualan kepada konsumen akhir. Pedagang pengecer luar
kota melakukan pembelian dengan mendatangi tempat pedagang besar.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang pengecer non lokal adalah
pengangkutan, pengemasan dan penyimpanan. Kegiatan pengangkutan dilakukan
untuk

membawa

jeruk

ke

tempat

berjualan.

Pengangkutan

dilakukan

menggunakan mobil angkutan karena umumnya pedagang pengecer luar kota


membeli dalam jumlah rata-rata empat peti atau 200 kilogram. Kegiatan
pengemasan dilakukan pada saat pembeli melakukan pembelian. Buah jeruk yang
telah dibeli dikemas dalam kantong plastik agar konsumen mendapatkan
kemudahan dalam membawanya. Karena

volume penjualan cukup banyak,

biasanya jeruk tidak habis terjual dalam sehari, sehingga pedagang pengecer non

70

lokal melakukan penyimpanan agar jeruk tersebut dapat dijual kembali pada hari
berikutnya.
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pedagang pengecer non lokal adalah
sortasi, penanggungan risiko dan informasi pasar. Kegiatan sortasi yang dilakukan
hanya dengan memisahkan buah jeruk yang sudah tidak layak jual dengan jeruk
yang masih layak untuk dijual. Kegiatan penanggungan risiko terkait dengan
kerusakan buah jeruk selama pendistribusian ataupun selama penjualan. Selain itu,
penanggungan risiko juga terkait dengan risiko penyimpanan yang menyebabkan
penyusutan dan penurunan kualitas jeruk. Informasi pasar juga sangat dibutuhkan
untuk mengetahui perkembangan permintaan dan penawaran jeruk di pasaran,
karena berkaitan dengan harga jual dan harga beli yang berlaku.
6.3.4. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer Pasar
Baik pedagang pengecer lokal maupun non lokal, tidak melakukan semua
fungsi pemasaran yang ada. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang
pengecer pasar adalah pembelian dan penjualan. Kegiatan penjualan dilakukan di
pasar-pasar lokal setempat.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang pengecer pasar adalah fungsi
pengangkutan, pengemasan dan penyimpanan. Fungsi pengangkutan dilakukan
dengan mengangkut jeruk yang dijual dari rumah pedagang hingga ke pasar.
Pengangkutan dilakukan dengan menggunakan motor ataupun angkutan umum.
Pedagang pengecer pasar mengemas jeruk yang dibeli oleh pembeli dengan
menggunakan kantong plastik maupun kardus kemasan. Kegiatan penyimpanan
dilakukan apabila jeruk tidak habis terjual pada hari tersebut. Jeruk disimpan dan
akan dijual kembali pada hari berikutnya.
Fungsi fasilitas yang dilakukan pedagang pengecer pasar adalah sortasi,
penanggungan risiko dan informasi pasar. Kegiatan sortasi yang dilakukan hanya
dengan memisahkan buah jeruk yang sudah tidak layak jual dengan jeruk yang
masih layak untuk dijual. Kegiatan penanggungan risiko terkait dengan kerusakan
buah jeruk selama pendistribusian ataupun selama penjualan. Selain itu,
penanggungan risiko juga terkait dengan risiko penyimpanan yang menyebabkan
penyusutan dan penurunan kualitas jeruk. Informasi pasar sangat dibutuhkan
untuk mengetahui perkembangan permintaan dan penawaran jeruk di pasaran,
71

karena berkaitan dengan harga jual dan harga beli yang berlaku. Pedagang
pengecer pasar memperoleh informasi mengenai pasar melalui petani ataupun
pedagang lainnya.
6.3.5. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer Keliling
Fungsi pertukaran dilakukan oleh pedagang pengecer keliling adalah
pembelian dan penjualan. Fungsi pembelian berupa kegiatan pembelian jeruk dari
petani, sedangkan fungsi penjualan berupa kegiatan penjualan jeruk kepada
konsumen.
Pedagang pengecer keliling juga melakukan ketiga fungsi fisik, yaitu
fungsi pengangkutan, pengemasan dan penyimpanan. Pengangkutan dilakukan
dengan menggunakan sepeda motor. Jeruk tersebut dimasukkan ke dalam
keranjang yang dibuat sedemikian rupa agar dapat menampung jeruk pada saat
berkeliling. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan kantong plastik atau
kardus apabila jeruk tersebut akan dibawa ke daerah lain sebagai oleh-oleh. Sama
seperti pedagang pengecer lainnya, apabila buah jeruk tidak habis terjual dalam
sehari, maka pedagang pengecer keliling juga melakukan penyimpanan agar jeruk
tersebut dapat dijual kembali pada hari berikutnya.
Fungsi fasilitas yang dijalankan oleh pedagang pengecer keliling sama
seperti yang dijalankan oleh pedagang pengecer pasar dan pengecer pinggir jalan.
Fungsi tersebut berupa sortasi, penanggungan risiko dan informasi pasar.
6.3.6. Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer Pinggir Jalan
Fungsi pertukaran dilakukan oleh pedagang pengecer pinggir jalan adalah
pembelian dan penjualan. Fungsi pembelian berupa kegiatan pembelian jeruk dari
petani ataupun pengecer pasar, sedangkan fungsi penjualan berupa kegiatan
penjualan jeruk kepada konsumen.
Fungsi fisik yang dijalankan oleh pedagang pengecer pinggir jalan berupa
pengangkutan, pengemasan dan penyimpanan. Pedagang pengecer pinggir jalan
melakukan pengangkutan dari rumah masing-masing menuju tempat mereka
berjualan, umumnya dengan menggunakan sepeda motor. Pengemasan yang
dilakukan oleh pedagang pengecer dilakukan dengan mengemas jeruk yang dibeli
oleh konsumen menggunakan kardus atau plastik kemasan. Pengemasan

72

menggunakan kardus dilakukan apabila konsumen meminta, dan biasanya karena


jeruk tersebut akan dibawa ke luar daerah sebagai oleh-oleh. Kegiatan
penyimpanan hanya dilakukan oleh pedagang pengecer apabila buah jeruk tidak
habis terjual dalam sehari dan akan dijual kembali pada hari berikutnya. Sama
seperti pedagang pengecer lainnya, fungsi penyimpanan dilakukan apabila jeruk
tidak terjual habis, agar dapat dijual kembali pada hari berikutnya.
Fungsi fasilitas yang dijalankan berupa sortasi, penangungan risiko dan
informasi pasar. Pedagang pengecer pinggir jalan melakukan kegiatan sortasi
dengan mengelompokkan jeruk berdasarkan ukurannya atau berdasarkan tingkat
kematangannya. Berdasarkan ukurannya, jeruk dikelompokkan menjadi tiga
kelompok yaitu kecil, sedang dan besar. Berdasarkan tingkat kematangannya,
pengelompokkan dilakukan berdasarkan warna buah jeruk, yaitu kelompok jeruk
yang berwarna kuning kehijau-hijauan dan hijau kekuning-kuningan. Namun,
tidak

ada

perbedaan

harga

bagi

pengelompokkan

tersebut.

Kegiatan

pengelompokkan tersebut dilakukan agar memudahkan pembeli saat melakukan


pembelian. Hal ini didasarkan karena adanya perbedaan selera konsumen dalam
hal warna dan ukuran serta pedagang ingin mempermudah konsumen pada saat
proses pembelian. Apabila konsumen lebih menyukai jeruk dengan ukuran kecil,
maka penjual segera menyodorkan kelompok jeruk dengan ukuran kecil kepada
konsumen, sehingga proses pembelian dapat dengan cepat dan mudah dilakukan.
Kegiatan penanggungan risiko terkait dengan kerusakan buah jeruk selama
pendistribusian ataupun selama penjualan. Selain itu, penanggungan risiko juga
terkait dengan risiko penyimpanan yang menyebabkan penyusutan dan penurunan
kualitas jeruk. Informasi pasar juga sangat dibutuhkan oleh pedagang pengecer
untuk mengetahui perkembangan permintaan dan penawaran jeruk di pasaran,
karena berkaitan dengan harga jual dan harga beli yang berlaku.

73

Gambar 13. Pedagang Pengecer Lokal Melakukan Fungsi Sortasi


6.4. Struktur dan Perilaku Pasar
6.4.1. Struktur Pasar
Struktur pasar yang berlaku antara lembaga-lembaga yang terkait dalam
pemasaran jeruk di Kampung Wadio dianalisis dengan mengacu kepada Dahl dan
Hammond (1977) dalam Sumardi (2009), yaitu analisis struktur pasar ditentukan
berdasarkan hasil identifikasi dari jumlah dan ukuran lembaga pemasaran, sifat
produk, serta hambatan keluar masuk pasar.
a. Struktur Pasar yang Dihadapi Petani
Struktur pasar yang dihadapi petani jeruk di Kampung Wadio mendekati
struktur pasar bersaing murni. Jumlah petani di Kampung Wadio cukup banyak
dan rata-rata melakukan penjualan jeruk setiap minggu. Komoditas jeruk yang
diperdagangkan adalah homogen, dimana jeruk tersebut tidak dibedakan bentuk
maupun ukurannya. Hambatan masuk bagi petani untuk melakukan pemasaran
jeruk adalah rendah. Karena setiap petani dapat menjual hasil produksi jeruknya
kepada pedagang ataupun konsumen yang ada.
b. Struktur Pasar yang Dihadapi Pedagang Pengumpul
Pedagang pengumpul jeruk di Kampung Wadio dihadapkan dengan
struktur pasar yang cenderung mendekati pasar oligopsoni. Hal ini dilihat dari 15
orang petani jeruk di Kampung Wadio umumnya pernah menjual hasil panennya
kepada dua orang pedagang pengumpul yang ada di Kampung tersebut.

74

Komoditas jeruk yang diperdagangkan juga masih dalam keadaan homogen,


karena pedagang pengumpul tidak melakukan proses sortasi ataupun grading.
Hambatan masuk pedagang pengumpul sangat besar, karena untuk melakukan
usaha ini dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk melakukan pengiriman,
pengangkutan, dan pengemasan. Biaya yang besar juga dibutuhkan untuk
melakukan pembelian jeruk kepada petani, sebab pada umumnya petani jeruk
menginginkan sistem pembayaran tunai. Selain itu, dibutuhkan koneksi dengan
pedagang besar luar daerah yang berperan sebagai pembeli jeruk dari pedagang
pengumpul.
c. Struktur Pasar yang Dihadapi Pedagang Besar
Struktur

pasar yang dihadapi oleh pedagang besar dilihat dari sudut

pandang pembeli adalah mendekati oligopsoni murni. Dimana jumlah pedagang


pengumpul yang sangat sedikit menyebabkan pedagang besar tidak dapat dengan
bebas memilih untuk membeli kepada siapa. Begitu juga dengan jumlah pedagang
besar yang sedikit, hambatan masuk untuk melakukan pemasaran jeruk antar
daerah sangat tinggi. Sifat jeruk yang diperdagangkan masih dalam keadaan
homogen, yaitu dalam bentuk dan ukuran yang bervariasi. Hambatan keluar
masuk pasar tersebut sangat tinggi karena besarnya biaya yang dibutuhkan untuk
memodali pedagang pengumpul tidaklah sedikit. Biaya yang dibutuhkan dalam
sekali transaksi paling sedikit adalah Rp 15.000.000,- untuk membeli jeruk dari
pedagang pengumpul dan Rp 22.000.000,- untuk membiayai pengangkutan dan
biaya distribusi lainnya.
d. Struktur Pasar yang Dihadapi Pedagang Pengecer Non Lokal
Dilihat dari sudut pandang pembeli dan penjual, struktur pasar yang
dihadapi oleh pedagang pengecer luar kota adalah persaingan murni. Jumlah
pedagang pengecer luar kota yang memasarkan jeruk di luar kota cukup banyak,
selain itu jeruk yang dijual pun tetap dalam keadaan homogen tanpa pembagian
kualitas. Hambatan keluar masuk pasar tersebut cukup rendah karena pedagang
umumnya hanya membeli maksimal 5 peti, sehingga tidak begitu membutuhkan
modal yang besar.

75

e. Struktur Pasar yang Dihadapi Pedagang Pengecer Lokal


Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengecer lokal termasuk
mendekati pasar bersaing murni. Hal ini dilihat dari jumlah pedagang pengecer
yang membeli jeruk kepada petani yang cukup banyak. Selain itu, buah jeruk yang
diperdagangkan bersifat homogen dan tidak dibedakan berdasarkan kualitas.
Hambatan masuk dan keluar pasar bagi pedagang pengecer rendah, karena untuk
memulai usaha berdagang jeruk di daerah ini tidak terlalu memerlukan modal
yang cukup besar, terutama untuk pengangkutan.
6.4.2. Perilaku Pasar
Perilaku pasar merupakan pola tingkah laku lembaga pemasaran dalam
menghadapi kondisi pasar yang ada. Perilaku pasar dapat diketahui dengan
menganalisis sistem penentuan harga, sistem pembayaran dan kerjasama yang
dilakukan antar lembaga pemasaran.
a. Sistem penentuan harga
Sistem penentuan harga diantara petani jeruk di Kampung Wadio dengan
pedagang pengumpul adalah berdasarkan harga berlaku di pasar, tetapi didahului
dengan koordinasi antara petani dengan lembaga pemasaran dan antara lembaga
pemasaran yang ada. Harga pasar tergantung kepada jumlah permintaan dan
penawaran. Jumlah atau volume pembelian jeruk biasanya didasarkan pada
besarnya permintaan konsumen. Pada umumnya harga jeruk akan lebih murah
pada saat panen raya dibandingkan pada saat panen kecil, dan akan sangat mahal
pada saat produksi jeruk sedikit. Begitu juga sistem penentuan harga antara petani
jeruk dengan pedagang pengecer, pedagang pengumpul dengan pedagang besar
luar kota dan pedagang besar luar kota dengan pedagang pengecer luar kota, harga
ditentukan mengikuti harga yang berlaku di pasar berdasarkan informasi yang
diperoleh oleh lembaga di tingkat sebelumnya.
b. Sistem pembayaran
Sistem pembayaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran yang terlibat
dalam pemasaran jeruk pada saluran 2, 3, 4, 5 dan 6 adalah secara tunai dan
pembayaran setelah jeruk terjual (tidak tunai). Berdasarkan pengamatan

76

dilapangan, satu orang pedagang pengumpul melakukan pembayaran setelah jeruk


dipasarkan ke luar daerah yaitu 5 hari setelah pemanenan, sedangkan pedagang
pengumpul lainnya melakukan pembayaran kepada petani secara tunai. Demikian
juga sistem pembayaran yang berlaku diantara petani jeruk di Kampung Wadio
dengan pedagang pengecer lokal, pembayaran dilakukan secara tunai. Sedangkan
sistem pembayaran antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar
setengahnya dilakukan dua hari sebelum proses pembelian (dibayar dimuka),
melalui fasilitas transfer bank. Kemudian sisa pembayaran akan dibayarkan
setelah jeruk tersebut terjual di luar daerah. Sistem pembayaran yang berlaku
antara pedagang besar dengan pedagang pengecer non lokal dilakukan secara
tunai pada saat proses pembelian.
c. Kerjasama antar lembaga-lembaga pemasaran
Pada umumnya hubungan yang berlaku antara pembeli dan penjual dalam
sistem pemasaran jeruk di Kampung Wadio hanya sebatas sebagai penjual dan
pembeli. Kerjasama yang dilakukan oleh pedagang pengumpul dengan pedagang
besar sebatas dalam hal pembiayaan modal awal. Pemodalan awal diberikan
kepada pedagang pengumpul untuk membeli jeruk dari petani. Kerjasama juga
dilakukan pedagang pengumpul dengan petani dalam penyediaan peti-peti kayu
yang digunakan untuk mengemas jeruk-jeruk yang telah dipanen oleh petani.
6.5. Struktur Biaya, Margin Pemasaran dan Farmers Share
Biaya pemasaran merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga
pemasaran untuk kegiatan memasarkan produknya. Biaya-biaya pemasaran yang
dikeluarkan oleh lembaga pemasaran adalah biaya tenaga kerja, biaya
pengangkutan,

biaya

pengemasan,

biaya

penyusutan,

retribusi,

biaya

penyimpanan, dan penimbangan. Komponen biaya dan besarnya biaya pemasaran


berbeda-beda berdasarkan saluran pemasaran. Akan tetapi. Selain biaya-biaya
yang telah diidentifikasi, masih terdapat biaya transaksi yang tidak dapat
dianalisis pada penelitian ini.

77

6.4.1. Biaya Tenaga Kerja


Biaya tenaga kerja merupakan biaya yang dikeluarkan oleh lembaga
pemasaran untuk upah tenaga kerja. Besarnya biaya tenaga kerja yang dikeluarkan
oleh pedagang pengecer luar kota pada saluran 1 adalah Rp 100,- per kilogram.
Pekerjaan yang dilakukan tenaga kerja yaitu mengangkut peti-peti yang berisi
jeruk sebanyak 50 kilogram per petinya. Pengangkutan dimulai dari tempat
pengumpulan hingga memasukkannya ke dalam container. Selain memberikan
upah berupa uang, tenaga kerja tersebut juga dibiayai makan dan diberi rokok.
Pedagang pengecer luar kota juga mengeluarkan biaya tenaga kerja, yang diupah
untuk melakukan pengangkutan setelah jeruk dibeli dari pedagang besar.
Sedangkan pada saluran 2, 3, 4, dan 5 pedagang pengecer tidak mengeluarkan
biaya untuk tenaga kerja, karena pada umumnya kegiatan pengangkutan dan
sortasi dilakukan sendiri walaupun terkadang dibantu juga oleh tenaga kerja
keluarga.
6.4.2. Biaya Pengangkutan
Biaya pengangkutan merupakan biaya yang dikeluarkan lembaga
pemasaran untuk memindahkan produk yang akan dijual dari satu tempat ke
tempat yang lain. Hal ini dilakukan agar memudahkan produk tersebut sampai ke
tangan konsumen, contohnya dari tempat petani ke tempat pedagang pengecer
melakukan penjualan. Pada saluran 1, biaya pengangkutan dari tempat
pengumpulan jeruk ke pelabuhan ditanggung oleh pedagang besar. Tetapi hal ini
dilakukan melalui pedagang pengumpul, dimana pedagang pengumpulah yang
mencari jasa pengangkutan dengan menggunakan truk. Biaya yang dikeluarkan
oleh pedagang besar adalah sebesar Rp 3.000.000,00 per truk yang dapat
mengangkut 200 peti sekali angkut. Sehingga biaya pengangkutan per
kilogramnya adalah Rp 300,00. Biaya tersebut digunakan untuk membayar jasa
supir dan bahan bakar serta sewa alat. Pedagang pengecer juga mengeluarkan
biaya pengangkutan untuk mengangkut jeruk yang telah dibeli dari pedagang
besar dari tempat pembongkaran container hingga tempat berjualan. Besarnya
biaya yang dikeluarkan adalah Rp 250,00 per kilogram.
Pada saluran 2, 4 dan 5, biaya pengangkutan yang dikeluarkan oleh
pedagang pengecer pasar dan pedagang pengecer pinggir jalan adalah sebesar Rp
78

95,89 per kilogram. Biaya ini dikeluarkan untuk mengangkut jeruk dengan ratarata per harinya sebanyak 46,93 kilogram. Pada saluran 3, pedagang pengecer
keliling mengeluarkan untuk membeli bahan bakar bensin sebesar Rp 210,00 per
kilogram. Dimana pedagang pengecer melakukan pengangkutan dengan
menggunakan motor yang umumnya adalah milik sendiri. Apabila menggunakan
motor, kapasitas jeruk yang dapat diangkut sekali jalan adalah 75 kilogram. Per
harinya kegiatan pengangkutan menghabiskan 3,5 liter bensin seharga Rp
4.500,00 per liter. Sedangkan pada saluran 5 dan 6, petani tidak mengeluarkan
biaya pengangkutan, karena biaya tersebut ditanggung oleh pembeli atau
konsumen. Biaya pengangkutan pada saluran 1 lebih besar dibandingkan dengan
saluran lainnya, sebab jeruk yang didistribusikan melalui saluran 1 dibeli oleh
pembeli luar kota dan tujuan penjualannya ke luar kota, sedangkan saluran lainnya
dibeli oleh pembeli atau konsumen lokal dan tujuan penjualannya hanya pada
pasar lokal.
6.4.3. Biaya Pengemasan
Biaya pengemasan merupakan biaya yang dikeluarkan oleh lembaga
pemasaran untuk menjaga kualitas jeruk. Selain itu, agar jeruk tetap dalam
keadaan baik. Biaya pengemasan pada saluran 1, yang dikeluarkan oleh pedagang
besar melalui pedagang pengumpul berupa pembelian peti kayu dan paku. Peti
kayu dibeli dengan harga Rp 20.000,00 per peti dan paku Rp 360.000,00 setiap
proses pengemasan. Sehingga biaya pengemasan yang dikeluarkan adalah sebesar
Rp 460,00 per kilogram. Pedagang pengecer lokal maupun non lokal
mengeluarkan biaya pengemasan untuk kantong plastik sebesar Rp 75,00 per
kilogram. pedagang pengecer pasar pada saluran 3, hanya mengeluarkan biaya
pengemasan sebesar Rp 2,50 per kilogram. Sebab pada saluran ini pembelian
dilakukan oleh pedagang pengecer pinggir jalan, sehingga pengemasan tidak
menggunakan kardus, akan tetapi hanya menggunakan kantong plastik besar.
Bahkan terkadang pembeli sendirilah yang menyediakan pengemasnya. Kemudian
pedagang pengecer lokal lainnya mengeluarkan biaya pengemasan untuk kardus
serta lakban, sebesar Rp 1.373,33 per kilogram. Biaya pengemasan merupakan
biaya yang paling besar dikeluarkan khususnya bagi pedagang pengecer.

79

6.4.4. Biaya Penyimpanan (sewa container)


Biaya sewa container hanya dikeluarkan oleh pedagang besar luar daerah,
namun yang melakukan pembayaran adalah pedagang pengumpul. Biaya yang
diperlukan untuk menyewa container agar jeruk-jeruk tersebut dapat disimpan dan
dikirim dengan menggunakan kapal penumpang adalah Rp 1.000,00 per kilogram.
Dimana sebuah container disewa dengan harga sebesar Rp 10.000.000,00 (untuk
tujuan Sorong). Kapasitas sebuah container dapat memuat 200 peti jeruk yang
tiap petinya berisi 50 kilogram, sehingga satu container memuat 10.000 kilogram.
6.4.5. Biaya Bongkar Muat
Biaya bongkar muat adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga
pemasaran untuk memindahkan jeruk siam ke/dari tempat penyimpanan. Biaya
bongkar muat hanya dikeluarkan oleh pedagang besar sebelum dan setelah proses
pengangkutan jeruk melalui transportasi laut. Namun, biaya muat telah
dikeluarkan bersamaan dengan biaya tenaga kerja pada saat pengiriman jeruk
menggunakan peti dan container. Selanjutnya, biaya bongkar yang dikeluarkan
oleh pedagang besar setelah tiba di kota lain adalah sebesar Rp 100,00 per
kilogram. Besarnya biaya bongkar adalah Rp 5.000,00 per peti.
6.4.5. Biaya Penyusutan
Biaya penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan tiap kilogram oleh
tiap lembaga pemasaran akibat adanya jeruk yang rusak, busuk, pecah, dan
lembek sehingga menyebabkan berkurangnya kuantitas jeruk tersebut. Biaya
penyusutan yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer pasar dan pengecer pinggir
jalan pada saluran 2, 4 dan 5 adalah Rp 22,00 per kilogram. Dimana perharinya
rata-rata jeruk akan menyusut sebanyak 0,3 kilogram dari 46,93 kilogram.
Pedagang pengecer keliling pada saluran 3 mengeluarkan biaya penyusutan
sebesar Rp 14,00 per kilogram. Biaya ini diperoleh berdasarkan jumlah volume
jeruk yang menyusut sebanyak 0,3 kilogram per hari, dari total volume penjualan
75 kilogram.
Sedangkan pedagang pengumpul tidak menanggung biaya penyusutan,
karena selama ditangan pedagang pengumpul jeruk tetap berada di dalam peti.
Jeruk akan dikeluarkan setelah berada di tangan pedagang besar. Sehingga biaya

80

penyusutan juga ditanggung oleh pedagang besar dan pedagang pengecer non
lokal. Biaya penyusutan yang ditanggung oleh pedagang besar adalah Rp 64,00
per kilogram. Sedangkan pedagang pengecer non lokal menganggung biaya
penyusutan yang lebih besar yaitu Rp. 104,00. Hal ini terjadi karena saat di tangan
pedagang pengecer non lokal, jeruk telah dipanen paling sedikit tiga hari
sebelumnya. Hal ini menyebabkan jeruk telah mengalami penurunan kualitas.
6.4.6. Biaya Retribusi
Biaya yang dikeluarkan untuk membayar retribusi pada saluran 2 dan 4
dikeluarkan oleh pedagang pengecer yang berjualan di pasar. Besarnya biaya
tersebut adalah Rp 21,31 per kilogram. Dimana per harinya pedagang pengecer
pasar harus mengeluarkan biaya retribusi sebesar Rp 1.000,00, sedangkan volume
penjualan rata-rata per hari adalah 46,93 kilogram.
Pada saluran 1, pedagang pengumpul mengeluarkan biaya retribusi saat
akan melakukan pengiriman menggunakan kapal laut sebesar Rp 900.000,00 per
truk. Sebuah truk dapat mengangkut 200 peti jeruk. Kemudian setelah tiba di
pelabuhan tujuan, pedagang besar kembali mengeluarkan biaya sebesar Rp
300.000,00 per container, sehingga total biaya retribusinya adalah Rp 120,00 per
kilogram. Selanjutnya, pedagang pengecer non lokal mengeluarkan biaya retribusi
pada saat berjualan di pasar daerah tersebut. Besarnya biaya retribusi yang
dikeluarkan oleh pedagang pengecer non lokal adalah Rp 50,00 per kilogram.
6.4.7. Biaya Komunikasi dan Biaya Timbang
Biaya komunikasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh pedagang
pengumpul untuk menghubungi petani dan pedagang besar. Biaya ini berguna
untuk mendukung proses pembelian dan penjualan agar dapat berjalan dengan
lancar. Besarnya biaya komunikasi yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul
adalah Rp 3,00 per kilogram. Sedangkan biaya timbang hanya dikeluarkan oleh
pedagang pengecer non lokal sebesar Rp 120,00 per kilogram.
6.4.8. Margin Pemasaran
Banyak peneliti menggunakan analisis margin pemasaran sebagai
indikator efisiensi operasional dalam sistem pemasaran (Asmarantaka 2009).
Margin pemasaran terbesar pada sistem pemasaran jeruk siam di Kampung Wadio
81

terdapat pada saluran 1 yaitu sebesar Rp 7.000,00 per kilogram, dengan total biaya
pemasaran adalah Rp 2.902,00 per kilogram dan total keuntungan Rp 4.098,00 per
kilogram. Margin terbesar terdapat pada pedagang pengecer yaitu sebesar Rp
4.400,00 per kilogram. Pada saluran 2, total margin yang dikeluarkan oleh
lembaga pemasaran yang ada adalah Rp 3.266,67 per kilogram, dengan total biaya
pemasaran adalah Rp 2.108,54 per kilogram dan total keuntungan Rp 1.158.13 per
kilogram. Margin pemasaran terkecil terdapat pada saluran 3, yaitu sebesar Rp
1.166,67, dengan total biaya pemasaran sebesar Rp 142,07 per kilogram dan total
keuntungan sebesar Rp 1.024,60 per kilogram. Pada saluran 4, total margin
pemasaran adalah Rp 2.888,89 per kilogram, dengan total biaya pemasaran Rp
2.032,33 per kilogram dan total keuntungan sebesar Rp 856,56 per kilogram.
Sedangkan pada saluran 5, total margin pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga
pemasaran yang terlibat adalah Rp 2.225,00 per kilogram, dengan total biaya
pemasaran Rp 1.881,24 per kilogram dan total keuntungan sebesar Rp 343,76 per
kilogram. Besarnya margin pemasaran pada setiap saluran pemasaran berbedabeda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan harga beli dan perlakuan yang
dilakukan. Selain itu, hal ini disebabkan juga oleh pengambilan keuntungan yang
tidak merata pada masing-masing lembaga pemasaran. Sedangkan pada saluran 6,
besarnya margin pemasaran adalah nol. Karena saluran ini merupakan saluran
tingkat nol, dimana petani langsung menjual kepada konsumen. Sehingga, dari
tabel margin pemasaran, dapat disimpulkan bahwa semakin panjangnya dan
banyaknya perlakuan, maka margin pemasarannya pun akan semakin besar.

82

Tabel 21. Margin Pemasaran Jeruk di Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat,
Kabupaten Nabire, Papua Tahun 2011 (Rp/Kg)
Saluran Pemasaran
Uraian

Nilai (Rp/kg)
Harga Jual Petani

3.000

3.500

3.500

4.333,33

4.541,67

3.460

Ped. Pengumpul
Harga beli

3.000

Biaya pemasaran

559

Keuntungan

241

Marjin

800

3.800

3.800
1.664
136
1.800
5.600

5.600
679
3.721
4.400
10.000

3.500
142,07
1.024,60
1.166,67
4.666,67

3.500
142,07
1.024,60
1.166,67
4.666,67

4.333,33
2.032
857
2.888,89
7.222,22

4.541,67
1.881,24
343,76
2.225,00
6.766,67

4.666,67
1.966
134
2.100
6.766,67

Harga jual
Pedagang Besar
Harga beli
Biaya pemasaran
Keuntungan
Marjin
Harga jual
Pedagang Pengecer 1
Harga beli
Biaya pemasaran
Keuntungan
Marjin
Harga jual
Pedagang Pengecer 2
Harga beli
Biaya pemasaran
Keuntungan
Marjin
Harga jual

Total biaya pemasaran

2.902

2.108,54

142,07

2.032,33

1.881,24

Total keuntungan

4.098

1.158.13

1.024,60

856,56

343,76

Total marjin

7.000

3.266,67

1.166,67

2.888,89

2.225,00

6.4.9. Farmers Share


Farmers share digunakan dalam mengukur kinerja suatu sistem
pemasaran. Bagian yang diterima oleh petani merupakan persentase perbandingan
antara harga yang dibayarkan oleh kosumen dengan harga yang diterima oleh
petani. Nilai farmers share terbesar pada sistem pemasaran jeruk siam di
Kampung Wadio terdapat pada saluran 6, yaitu sebesar 100 persen. Hal ini

83

menyatakan bahwa pada saluran 6, petani memperoleh sebanyak 100 persen dari
harga yang dibayar konsumen, yaitu sebesar Rp 3.460,00 per kilogram jeruk siam.
Pada saluran 1 besarnya farmers share adalah 30 persen, hal ini berarti petani
memperoleh bagian 30 persen dari harga yang diterima oleh konsumen. Pada
saluran 2, petani memperoleh bagian sebesar 51,72 persen dari harga yang
diterima oleh konsumen. Pada saluran 3, petani meperoleh bagian sebesar 75
persen dari harga yang diterima oleh konsumen. Sedangkan pada saluran 4 dan 5,
petani mendapatkan bagian masing-masing sebesar 60 persen dan 67,12 persen
dari harga yang diterima oleh konsumen. Walaupun persentase farmers share
terbesar terdapat pada saluran 6, tidak dapat dikatakan bahwa saluran 6
merupakan saluran yang paling efisien dibandingkan dengan saluran lainnya. Hal
ini disebabkan karena, lembaga pemasaran atau perantara tidak terlibat dalam
saluran ini. Sehingga pada saluran ini tidak dilakukan fungsi-fungsi pemasaran
yang dapat meningkatkan nilai tambah pada komoditi jeruk siam tersebut. Oleh
sebab itu, berdasarkan nilai farmers share maka saluran 3 merupakan saluran
yang paling efisien karena memiliki nilai farmers share yang paling besar yaitu
sebesar 75 persen.
Tabel 22. Analisis Farmer's Share pada Saluran Pemasaran Jeruk di Kampung
Wadio Tahun 2011
Saluran Pemasaran

Harga di Tingkat Petani


(Rp/kg)

Harga di Tingkat

Farmer's Share
(%)

3.000,00

Konsumen (Rp/kg)
10.000,00

II

3.500,00

6.766,67

51,72

III

3.500,00

4.666,67

75,00

IV

4.333,33

7.222,22

60,00

4.541,67

6.766,67

67,12

VI

3.460,00

3.460,00

100,00

30,00

6.6. Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya


Berdasarkan Soekartawi (2004), suatu sistem pemasaran dapat dikatakan
efisien apabila biaya-biaya pemasaran yang dikeluarkan merupakan biaya
terendah yang dapat menyampaikan hasil-hasil pertanian kepada konsumen,
kemudian dari total harga yang dibayarkan konsumen dapat melakukan

84

pembagian harga secara merata kepada semua pihak dalam pemasaran.


Berdasarkan uraian komponen biaya-biaya pemasaran pada ketiga saluran,
penggunaan biaya-biaya pemasaran sudah dipergunakan serendah-rendahnya.
Sebab semua biaya yang dikeluarkan adalah sesuai dengan kebutuhan untuk
melakukan pemasaran suatu produk dan besarnya telah sesuai dengan harga yang
berlaku. Menurut Asmarantaka 2009, efisiensi operasional suatu sistem
pemasaran lebih tepat menggunakan rasio antara keuntungan dengan biaya,
karena pembanding opportunity cost dari biaya adalah keuntungan. Sehingga,
untuk mengetahui tingkat

efisiensi pemasaran secara

kuantitatif dapat

menggunakan perhitungan rasio keuntungan terhadap biaya yaitu rasio


keuntungan yang diperoleh lembaga pemasaran terhadap biaya yang telah
dikeluarkan untuk kegiatan pemasaran. Tabel 23 menyajikan hasil perhitungan
rasio keuntungan terhadap biaya tiap saluran pemasaran.
Tabel 23.

Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya


Pemasaran Jeruk di Kampung Wadio Tahun 2011

Lembaga Pemasaran
Saluran 1
Pedagang pengumpul
Pedagang Besar

Keuntungan (Rp/kg)

Biaya (Rp/kg)

pada

Lembaga

Nilai R/C Rasio

241,00
136,00

559,00
136,00

0,43
1,00

Pedagang Pengecer

3.720,88

679,12

5,48

Total

4.097,88

1.374,12

2,98

1.024,60
133,53
1.158,13

142,07
1.966,47
2.108,54

7,21
0,07
0,55

Pengecer pasar

1.024,60

142,07

7,21

Total

1.024,60

142,07

7,21

Saluran 4
Pengecer keliling

856,56

2.032,33

0,42

Total

856,56

2.032,33

0,42

Pengecer pinggir jalan

343,76

1.881,24

0,18

Total

343,76

1.881,24

0,18

Saluran 2
Pengecer pasar
Pengecer pinggir jalan
Total
Saluran 3

Saluran 5

85

Pada saluran 1, pedagang pengecer memperoleh keuntungan terbesar yaitu


sebesar Rp 3.720,88 per kilogram dan menanggung biaya pemasaran terbesar
yaitu Rp 679,12 per kilogram, dengan nilai rasio keuntungan terhadap biaya
sebesar 5,48. Hal ini berarti untuk setiap 1 satuan rupiah biaya yang dikeluarkan
oleh pedagang pengecer akan menghasilkan keuntungan sebesar 5,48 rupiah.
Berdasarkan hasil perhitungan, nilai rasio keuntungan terhadap biaya pada saluran
1 adalah 2,98, maka untuk setiap 1 satuan rupiah biaya yang dikeluarkan oleh
lembaga pemasaran akan menghasilkan keuntungan sebesar 2,98 rupiah. Nilai
rasio keuntungan terhadap biaya pada saluran 2 adalah 0,55, dengan total
keuntungan terbesar diperoleh oleh pengecer pasar sebesar Rp 1.024,60 per
kilogram dan biaya terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer pinggir jalan
sebesar Rp 1.966,47 per kilogram. Pada saluran 3 diperoleh nilai rasio keuntungan
terhadap biaya terbesar dibandingkan dengan saluran lainnya, yaitu sebesar 7,21,
dengan total keuntungan yang diperoleh pedagang pengecer pasar sebesar Rp
1.024,60 per kilogram dan total biaya pemasaran yang ditanggung sebesar Rp
142,07 per kilogram. Nilai rasio keuntungan terhadap biaya pada saluran 4 dan 5
masing-masing adalah 0,42 dan 0,18. Pada saluran 4, total keuntungan yang
diperoleh pengecer keliling adalah sebesar Rp 856,56 per kilogram dan
menanggung biaya pemasaran sebesar Rp 2.032,33 per kilogram. Sedangkan pada
saluran 5, total biaya pemasaran yang ditanggung oleh pengecer pinggir jalan
adalah sebesar Rp 1.881,24 dan memperoleh keuntungan Rp 343,76 per kilogram.
Sedangkan pada saluran 6, tidak terdapat lembaga pemasaran yang terlibat dan
petani tidak mengeluarkan biaya pemasaran.
Saluran yang memiliki nilai lebih besar dari satu merupakan saluran yang
menguntungkan untuk dijalankan. Sehingga berdasarkan analisis rasio keuntungan
terhadap biaya, saluran yang paling menguntungkan untuk dijalankan adalah
saluran 3, karena saluran 3 memiliki nilai rasio tertinggi. Saluran 1 juga memiliki
nilai rasio lebih besar dari satu yaitu 2,98, sehingga saluran 1 juga merupakan
saluran yang menguntungkan untuk dijalankan. Sedangkan saluran 2, 4 dan 5
relatif kurang menguntungkan untuk dijalankan karena rasio keuntungan terhadap
biaya pada ketiga saluran ini bernilai lebih kecil dari satu. Hal ini disebabkan
karena keuntungan yang diperoleh lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan,

86

sehingga biaya yang telah dikeluarkan tidak memberikan keuntungan bagi pelaku
pemasaran tersebut. Bila melihat penyebaran harga yang diterima oleh konsumen
kepada biaya pemasaran, pada saluran 1 harga yang diterima oleh konsumen tidak
tersebar secara merata. Sebab pada saluran 1, pedagang pengecer mengambil
keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan pedagang pengumpul dan
pedagang besar. Hal yang sama juga terjadi pada saluran 2, pembagian
keuntungan tidak dilakukan secara merata. Oleh sebab itu, saluran 1 dan 2 dapat
dikatakan kurang efisien.
6.7. Efisiensi Pemasaran
Tingkat efisiensi pemasaran diukur berdasarkan hasil analisis margin,
farmers share dan rasio keuntungan terhadap biaya. Saluran pemasaran yang
efisien berdasarkan analisis margin pemasaran adalah saluran yang memiliki nilai
margin paling rendah. Berdasarkan keenam saluran yang ada, saluran yang
memiliki nilai margin terkecil adalah saluran 3, yaitu sebesar Rp 1.167,00.
Tingkat efisiensi berdasarkan farmer's share adalah saluran yang memiliki nilai
farmer's share terbesar. Nilai farmer's share terbesar terdapat pada saluran 3
dengan nilai farmer's share sebesar 75 persen, karena pada saluran 6 tidak
dilakukan fungsi-fungsi pemasaran yang memberikan nilai tambah bagi komiditi
jeruk tersebut dan petani menjual langsung kepada konsumen sehingga tidak
melibatkan lembaga pemasaran. Hal ini berarti petani memperoleh bagian
sebanyak 75 persen dari harga beli yang diterima konsumen akhir. Berdasarkan
analisis rasio keuntungan terhadap biaya, saluran pemasaran yang efisien adalah
saluran yang memiliki nilai rasio keuntungan terhadap biaya terbesar. Nilai rasio
keuntungan terhadap biaya terbesar diperoleh pada saluran 3, yaitu sebesar 7,21.
Hal ini mengindikasikan bahwa usaha pada saluran 3 menguntungkan (Tabel 24).

87

Tabel 24. Analisis Efisiensi Saluran Pemasaran Jeruk Siam di Kampung Wadio
Tahun 2011
Saluran
Pemasaran

Farmer's Share
(%)

Margin (Rp)

Rasio keuntungan
terhadap biaya

7.000,00

30,00

2,98

II

3.267,00

51,72

0,55

III

1.167,00

75,00

7,21

IV

2.889,00

60,00

0,42

2.225,00

67,12

0,18

VI

100,00

0,00

Berdasarkan tabel dan ketiga indikator tersebut, maka dapat disimpulkan


bahwa saluran pemasaran yang relatif paling efisien dari keenam saluran
pemasaran yang ada adalah saluran pemasaran 3. Karena pada saluran 3 diperoleh
nilai margin terkecil, nilai farmer's share terbesar, dan rasio keuntungan terhdap
biaya tertinggi.

88

VII. KESIMPULAN DAN SARAN


7.1. Kesimpulan
Lembaga pemasaran yang berperan dalam memasarkan jeruk dari
Kampung Wadio, Distrik Nabire Barat adalah petani, pedagang pengumpul,
pedagang besar, dan pedagang pengecer. Terdapat enam pola saluran pemasaran
yaitu; Saluran 1: Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Besar Pedagang
Pengecer Non Lokal Konsumen; Saluran 2 : Petani Pedagang Pengecer Pasar
Pedagang Pengecer Pinggir Jalan Konsumen; Saluran 3 : Petani Pedagang
Pengecer Pasar Konsumen; Saluran 4 : Petani Pedagang Pengecer Keliling
Konsumen; Saluran 5 : Petani Pedagang Pengecer Pinggir Jalan Konsumen;
dan Saluran 6 : Petani Konsumen.
Lembaga pemasaran jeruk di Kampung Wadio melakukan fungsi-fungsi
pemasaran seperti fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Tiap
lembaga pemasaran yang ada melakukan fungsi pemasaran yang berbeda-beda.
Akan tetapi, tidak semua lembaga pemasaran melakukan semua fungsi-fungsi
pemasaran yang ada. Fungsi pemasaran yang paling dominan dilakukan oleh
lembaga pemasaran yang ada adalah fungsi pertukaran. Kerjasama yang terjadi
diantara lembaga pemasaran adalah antara pedagang pengumpul dengan petani
serta antara pedagang pengumpul dengan pedagang besar.
Margin pemasaran yang ada tidak diterima secara merata oleh tiap saluran
pemasaran yang ada. Hal ini dikarenakan komponen dan besarnya biaya yang
dikeluarkan berbeda-beda. Struktur biaya pemasaran pada saluran pemasaran
jeruk adalah biaya tenaga kerja, biaya pengangkutan, biaya pengemasan, biaya
penyimpanan, biaya retribusi, biaya penyusutan, biaya bongkar muat, biaya
komunikasi dan biaya timbang.
Berdasarkan analisis pemasaran secara makro dengan pendekatan S-C-P,
sistem pemasaran jeruk di Kampung Wadio belum cukup efisien, karena masih
terdapat inefisiensi penggunaan biaya yang tidak terlihat atau tidak dapat
teridentifikasi. Akan tetapi, saluran pemasaran 3 merupakan saluran yang relatif
paling efisien, diukur berdasarkan nilai margin, farmers share, dan R/C rasio.

7.2. Saran
Saluran pemasaran ketiga merupakan saluran yang paling efisien, sehingga
petani dapat memaksimalkan penjualan pada saluran tersebut agar tercapai sistem
pemasaran yang lebih efisien. Pedagang pengumpul pada saluran pertama
sebaiknya meningkatkan volume penjualan atau memperluas pasar tujuan, sebab
apabila saluran tersebut dioptimalkan maka diharapkan

dapat meningkatkan

efisiensi sistem pemasaran dan memberikan keuntungan bagi petani maupun


pedagang pengumpul. Hal ini juga dapat terjadi apabila rantai pemasaran pada
saluran satu diperpendek.
Petani masih mengalami kendala dalam memasarkan komoditi jeruk siam
yang dihasilkan, diharapkan ada penelitian mengenai strategi pemasaran jeruk
siam nabire.

90

DAFTAR PUSTAKA
Agromedia. 2009. Budidaya Tanaman Buah Unggul Indonesia. Jakarta: PT.
Agromedia Pustaka.
Asmarantaka RW. 2009. Pemasaran Produk-Produk Pertanian. Di dalam Bunga
Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Bogor: Departemen Agribisnis,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Nabire. 2009. Nabire Barat dalam Angka.
Nabire: BPS Kabupaten Nabire.
[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Papua. 2006 - 2010. Papua dalam Angka.
Jayapura: BPS Provinsi Papua.
Balai Kampung Wadio. 2011. Data Dasar Profil Kampung Wadio. Nabire: Balai
Kampung Wadio.
Carter WK. 2009. Akuntansi Biaya = Cost Accounting. Buku1. Ed ke-14. Jakarta:
Salemba Empat.
Dinas Pertanian Kabupaten Nabire. 2010. Pengembangan Tanaman Buah di
Provinsi Papua. Nabire: Dinas Pertanian Kabupaten Nabire.
Eryani Y. 2009. Analisis Pemasaran Mangga Gedong Gincu (Mangifera Indica
L.) di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor. Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Herawati, 2005. Analisis Biaya Pemasaran dan Profitabilitas Berdasarkan Jenis
Produk pada PT. Tirta Eka Perkasa Semarang [Skripsi]. Jurusan Ekonomi.
Fakultas Ilmu Sosial. Univesitas Negeri Semarang.
Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi Millenium. Jakarta: Prentince
Hall Indonesia.
Kotler P, Amstrong G. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Edisi 21, Jilid 1.
Jakarta: Erlangga.
Krisnamurti B. 2009. Pengembangan Agribisnis Buah Indonesia. Di dalam Bunga
Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Bogor: Departemen Agribisnis,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Kuntarsih, Sri. 2007. Prosiding Seminar Nasional Jeruk 2007: Pengelolaan Rantai
Pasokan Agribisnis Jeruk (Kasus Jeruk Siam Pontianak, Kab. Sambas).
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Balai Penelitian dan
pengembangan Pertanian.
Kurniawati SR. 2007. Analisis Sistem Pemasaran Buah Stroberi (Kasus di Desa
Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa
Barat). [Skripsi]. Bogor. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Limbongan J, Uhi HT. 2005. Penggalian Data Pendukung Domestikasi dan


Komersialisasi Jenis, Spesies dan Varietas Tanaman Buah di Provinsi
Papua. Di dalam Domestikasi dan Komersialisasi Tanaman Hortikultura.
Prosiding Lokakarya I Domestikasi dan Komersialisasi Tanaman
Hortikultura; 15 September 2005. Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hortikultura. hlm 55-82.
Lubis HU. 2009. Analisis Sistem Pemasaran Belimbing Dewa (Studi Kasus :
Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok). [Skripsi].
Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Rahim A, Hastuti DRD. 2008. Pengantar, Teori dan Kasus Ekonomika Pertanian.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Setyowati ED. 2009. Dampak Perubahan Iklim Tropis di Indonesia terhadap
Ekologi Habitat Hutan Hujan Ttropis Sebagai Habitat Alami Orangutan.
[Skripsi]. Yogyakarta. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Yogyakarta.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian : Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Soekartawi. 2004. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian : Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Sudarsono. 1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Jakarta: LP3ES.
Sumardi D. 2009. Analisis Efisiensi Pemasaran Jambu Biji (Psidium guajava)
(Studi Kasus Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Bogor).
[Skripsi]. Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor.
Supriyanto A. 2008. Model Pengembangan Agribisnis Kebun Jeruk Rakyat. Di
dalam Prosiding Seminar Nasional Jeruk 2007. Prosiding Seminar
Nasional Jeruk; Yogyakarta, 13-14 Juni 2007. Jakarta: Puslitbang Horti.
Taufan RM. 2006. Analisis Efisiensi Pemasaran Alpukat (Kasus di Desa Ciburial,
Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat). [Skripsi]. Bogor.
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Tim Penulis PS. 2003. Peluang Usaha & Pembudidayaan Jeruk Siam. Jakarta:
Penebar swadaya.

92

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuisioner Penelitian untuk Petani

Kuisioner Penelitian Analisis Pemasaran Jeruk Siam


di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua

Oleh

Cintya Handayani Sinaga (H34070102)


Mahasiswa Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor.
KUISIONER UNTUK PETANI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

No. Kuisioner
Nama Petani
Jenis Kelamin
Alamat
Umur
Status
Pendidikan

:
:
:
:
: ..Tahun
: a. Menikah
b. Belum Menikah
:
a. Tidak Sekolah
e. Diploma (D1/D2/D3)
b. SD
f. Sarjana (S1/S2/S3)
c. SMP
e. Lainnya
d. SMA/SMK

Kegiatan Usahatani
8. Sudah berapa lama anda melakukan kegiatan usahatani Jeruk Siam ?

9. Apa alasan anda melakukan kegiatan usahatani Jeruk Siam?


a. Harga bagus
b. Pemasaran terjamin
c. Ketersediaan kredit
d. Keturunan/Tradisi
e. Mendapatkan bantuan pemerintah
f. Lainnya, sebutkan..
10. Apakah usahatani Jeruk Siam merupakan mata pencaharian utama?
(Ya/Tidak)

94

11. Selain bertani Jeruk Siam, apakah anda mengusahakan jenis usaha pertanian
lain? (Ya/Tidak)
12. Jika Ya, jenis usaha pertanian apa yang anda usahakan, sebutkan
13. Luas lahan yang diusahakan/dimiliki = .m2
14. Luas
lahan
yang
diusahakan
untuk
usahatani
Jeruk
2
Siam?..............................m
15. Apakah status lahan yang diusahakan ? (sewa/milik sendiri/bagi
hasil/lainnya)
16. Pola bertanam (monokultur/tumpang sari)
17. Apakah tanaman Jeruk Siam selalu berbuah sepanjang tahun? (Ya/Tidak)
18. Jika Ya, bagaimana pola panen Jeruk Siam yang anda terapkan? ...........
harian/mingguan/bulanan; berapa jumlah hasil produksi/panen setiap kali
melakukan pemanenan? .Kg
19. Jika Tidak, pada bulan-bulan musim tanaman Jeruk Siam berbuah, bagaimana
pola
panen
Jeruk
Siam
yang
anda
terapkan?
.............
harian/mingguan/bulanan; berapa jumlah hasil produksi/panen setiap kali
melakukan pemanenan? .Kg
20. Apakah anda tergabung dalam kelompok tani Jeruk Siam ? (Ya/Tidak)
21. Jika tergabung dalam kelompok tani, apa alasan anda bergabung dalam
kelompok
tani
tersebut
?

22. Pekerjaan tetap, selain petani :


a. Pegawai Negeri
d. Guru/dosen
b. Pegawai Swasta
e. Lainnya, sebutkan..
c. BUMN
23. Kesulitan apa yang anda alami dalam usahatani Jeruk Siam sampai saat ini ?

Kegiatan Pasca Panen


24. Apakah anda melakukan sortasi (pengelompokan Jeruk Siam)? (Ya/Tidak)
25. Apakah anda melakukan pengemasan pada Jeruk Siam? (Ya/Tidak)
26. Apakah anda melakukan penyimpanan Jeruk Siam ? (Ya/Tidak)
27. Jika harga Jeruk Siam turun, apakah anda tetap melakukan budidaya dan
panen?
Jika
Ya,
alasannya..
Sistem Tataniaga
28. Berapa harga rata-rata Jeruk Siam per
Rp/Kg
29. Kemana biasanya anda menjual hasil panen ?

Kg

yang

anda

terima?

95

Lembaga
pemasaran

Harga Jual
(Rp/Kg)

Jumlah
Penjualan
(Kg)

Sistem
Pembayaran

Pasar yang
dituju

Pedagang
Pengumpul
Pengecer
Konsumen Akhir
Tengkulak
Lainnya,
sebutkan..
30. Bagaimana cara menentukan harga jual?..................................
31. Apakah lembaga pemasaran (Pedagang pengumpul, Pengecer, Konsumen
akhir, Tengkulak, dll) mempunyai standar tertentu dalam melakukan pembelian
Jeruk Siam? (Ya/Tidak)
32. Apakah anda melakukan kerjasama atau kontrak tertentu dalam memasarkan
Jeruk Siam? (misalnya dengan sesama petani, pedagang pengumpul, dll)
(Ya/Tidak)
Jika Ya, apa alasan anda melakukan kerjasama?
...............................................................................................................
Apakah anda telah mengetahui informasi tentang pasar Jeruk Siam? (Ya/Tidak)
33. Dari
mana
anda
memperoleh
informasi
pasar?.........................................................
34. Jika ada berapa jumlah biaya pemasaran yang anda keluarkan setiap kali
panen?
a. Biaya tenaga kerja
: Rp. ..
b. Biaya Pengangkutan : Rp. ..
c. Biaya Pengemasan : Rp. ..
d. Biaya Penyimpanan : Rp. ..
e. Biaya Penyusutan
: Rp. ..
f. Biaya bongkat muat : Rp. ..
g. Biaya Sortir
: Rp. ..
h. Retribusi
: Rp. ..
i. Biaya lain-lain
: Rp. ..
35. Bagaimana
sistem
pemasaran
yang
dilakukan?..........................................................
36. Permasalahan apa yang anda alami dalam kegiatan pemasaran Jeruk Siam?

37. Harapan anda mengenai usahatani dan pemasaran Jeruk Siam?

Terima Kasih
96

Lampiran 2. Kuisioner Penelitian untuk Lembaga Pemasaran

Kuisioner Penelitian Analisis Sistem Pemasaran Jeruk Siam


di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua

Oleh

Cintya Handayani Sinaga (H34070102)


Mahasiswa Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor.
KUISIONER UNTUK LEMBAGA PEMASARAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

No. Kuisioner
Nama Petani
Jenis Kelamin
Alamat
Umur
Status
Pendidikan

:
:
:
:
: ..Tahun
: a. Menikah
b. Belum Menikah
:
a. Tidak Sekolah
e. Diploma (D1/D2/D3)
c. SD
f. Sarjana (S1/S2/S3)
c. SMP
e. Lainnya
d. SMA/SMK
8. Klasifikasi pedagang : a. Pengumpul desa
d. Pengecer
b. Pengumpul Kecamatan
e.
Lainnya,
sebutkan..
c. Pedagang Besar
9. Nama lembaga
: ..
10. Bentuk lembaga
: a. Perorangan
c. Firma
b.
Koperasi d.
Lainnya,
sebutkan..
11. Tahun mulai beroperasi : .
12. Pekerjaan utama
: .
13. Pekerjaan sampingan
: .
14. Apakah anda melakukan kemitraan atau kerjasama? (Ya/Tidak)

97

No.

Nama Mitra

Jenis Kemitraan

15. Komoditas pertanian yang diperdagangkan (berdasarkan pembelian)


Bulan **
Komoditas %*
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Jeruk Siam

11

12

Keterangan : *persentase terhadap seluruh komoditas yang diperdagangkan;


**kelimpahan komoditas (B/banyak; C/cukup; S/sedikit)
16. Jumlah pegawai tetap :
Jenis pekerjaan
Jumlah
Status pekerja*
Upah/Bulan (Rp)
(orang)

Keterangan : *anggota keluarga atau dari luar keluarga.


17. Apakah ada suatu perkumpulan usaha sejenis? (Ya/Tidak)
18. Jika Ya, apakah anda menjadi anggota perkumpulan usaha sejenis? (Ya/Tidak)
19. Jika Ya, sebutkan.
a.
Nama perkumpulan : ..
b.
Status.Jabatan
:
..
c.
Keanggotaan sejak : .
20. Jika Tidak, mengapa ?..............
Sistem Pembelian
21. Jenis komoditas apa yang anda beli?
No.
Komoditas

Volume

22. Apakah anda menerapkan suatu standar mutu, dan apakah ada sistem kontrak
tertentu dalam pembelian Jeruk Siam? (Ya/Tidak)
23. Apabila diterapkan suatu standar mutu dan melakukan penyortiran, apakah
ada perbedaan harga berdasarkan mutu? (Ya/Tidak)

98

24. Jika diterapkan standar mutu dan melakukan kegiatan penyortiran terhadap
Jeruk Siam, bagaimana kelas mutu yang diterapkan?
Kelas
Ukuran Bentuk Fisik Ketuaan (%)
Kotoran
Tingkat
Mutu
Ketuaan

25. Tata cara pembelian:..(dalam satu minggu terakhir)


Kegiatan Penjualan
Uraian
1
2
3
4
1. Tujuan penjualan
2. Volume (Kg)
a. Kelas mutu .
b.Kelas mutu
c. Kelas Mutu
3. Harga (Rp/Kg)
a. Kelas mutu .
b.Kelas mutu
c. Kelas Mutu
4. Lokasi
5. Alasan penjualan
6. Cara penjualan
a. Bebas/tanpa kontrak
b. Sistem kontrak
c. Lainnya, sebutkan
7. Cara pembayaran
a. Tunai
b. Dibayar dimuka
c. Dibayar sebagian
d. Lainnya, sebutkan
8. Cara penentuan harga
a. Ditentukan petani
b. Ditentukan pedagang
c. Tawar-menawar
d. Lainnya, sebutkan
9. Cara penyerahan barang
a. Ditempat penjual
b. Ditempat pembeli
10. Cara
memperoleh
informasi harga

99

26. Perkembangan volume penjualan dan harga beberapa minggu terakhir.


Bulan
Minggu
Volume (Kg)
Harga (Rp/Kg)

27. Kesulitan apa yang anda alami dalam proses pembelian Jeruk Siam sampai
saat
ini?
..
Sistem Penjualan
28. Jenis komoditas apa yang anda jual?
No.
Komoditas

Volume

29. Apakah anda menerapkan suatu standar mutu, dan apakah ada sistem kontrak
tertentu dalam penjualan Jeruk Siam?
30. Apabila diterapkan suatu standar mutu dan melakukan penyortiran, apakah
ada
perbedaan
harga
berdasarkan
mutu...
31. Jika diterapkan standar mutu dan melakukan kegiatan penyortiran terhadap
Jeruk Siam, bagaimana kelas mutu yang diterapkan?
Kelas
Ukuran Bentuk Fisik Ketuaan (%)
Kotoran
Tingkat
Mutu
Ketuaan

100

32. Tatacara penjualan : ..


Kegiatan Pembelian
Uraian
1
2
3
4
11. Sumber pembelian
12. Volume (Kg)
d.Kelas mutu .
e. Kelas mutu
f. Kelas Mutu
13. Harga (Rp/Kg)
d.Kelas mutu .
e. Kelas mutu
f. Kelas Mutu
14. Lokasi
15. Alasan membeli pada
sumber
16. Cara pembelian
d. Bebas/tanpa kontrak
e. Sistem kontrak
f. Lainnya, sebutkan
17. Cara pembayaran
e. Tunai
f. Dibayar dimuka
g. Dibayar sebagian
h. Lainnya, sebutkan
18. Cara penentuan harga
e. Ditentukan petani
f. Ditentukan pedagang
g. Tawar-menawar
h. Lainnya, sebutkan
19. Cara penyerahan barang
c. Ditempat penjual
d. Ditempat pembeli
20. Cara
memperoleh
informasi harga
33. Perkembangan volume penjualan dan harga beberapa minggu terakhir.
Bulan
Minggu
Volume (Kg)
Harga (Rp/Kg)

101

34. Biaya dari kegiatan pemasaran yang ditanggung, baik dari proses pembelian
dan proses penjualan.
No.
Jenis Kegiatan
Biaya (Rp)
1
Pengangkutan
2
Pengemasan
3
Retribusi
4
Penyusutan
5
6
Aspek Pembiayaan Usaha
35. Apakah anda pernah menerima bantuan kredit/modal? (Ya/Tidak)
36. Jika pernah, sebutkan:
a. Dari siapa: .
b. Jenis kredit/bantuan yang didapat : ..
c. Jumlah kredit/bantuan yang didapat : .
d. Tingkat bunga kredit/pinjaman:
e. Jangka waktu pengembalian : .
f. Besar angsuran kredit per bulan : ..
37. Apakah kredit/bantuan tersebut meningkatkan usaha anda? (Ya/Tidak)
38. Apakah ada perjanjian / ketentuan dengan pemberi kredit/bantuan mengenai
cara/aturan dalam pembelian maupun penjualan komoditas Jeruk Siam?
(Ya/Tidak)
39. Jika Ya, bisa anda jelaskan?

..
40. Kesulitan apa yang anda alami dalam proses pemasaran Jeruk Siam sampai
saat
ini?
.
41. Harapan anda mengenai pemasaran Jeruk Siam?

Terima Kasih

102

Lampiran 3. Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 1


Biaya

Rata-rata (Rp/kg)

Pedagang Pengumpul
1. Biaya pengemasan

436,00

2. Biaya komunikasi

3,00

3. Biaya Retribusi

120,00

Jumlah

559,00

Pedagang Besar
1. Biaya Tenaga Kerja (angkut, muat)
2. Biaya Penyimpanan (sewa container)

100,00
1.000,00

3. Biaya Pengangkutan

300,00

4. Biaya Bongkar Muat

200,00

5. Biaya Penyusutan
Jumlah

64,00
1.664,00

Pedagang Pengecer
1. Biaya Pengangkutan

250,00

2. Biaya Sortasi

100,00

3. Biaya Tenaga Kerja

100,00

4. Biaya Retribusi

50,00

5. Biaya Pengemasan

75,00

6. Biaya Penyusutan

104,00

7. Biaya Timbang

120,00

Jumlah

679,00

103

Lampiran 4. Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 2


Biaya

Biaya (Rp/kg)

Pedagang Pengecer Pasar


1. Biaya Pengangkutan

95,89

2. Biaya Retribusi

21,31

3. Biaya Pengemasan

2,50

4. Biaya Penyusutan

22,00

Jumlah

142,00

Pedagang Pengecer Pinggir Jalan


1. Biaya Pengangkutan

95,89

2. Biaya Sortasi

106,54

3. Biaya Pengemasan

1.741,67

4. Biaya Penyusutan

22,00

Jumlah

1.966,00

Lampiran 5. Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 3


Biaya

Biaya (Rp/kg)

Pedagang Pengecer Pasar


1. Biaya Pengangkutan

95,89

2. Biaya Retribusi

21,31

3. Biaya Pengemasan

2,50

4. Biaya Penyusutan

22,00

Jumlah

142,00

104

Lampiran 6. Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 4


Biaya

Biaya (Rp/kg)

Pedagang Pengecer Keliling


1. Biaya Pengangkutan

210,00

2. Biaya Sortasi

66,67

3. Biaya Pengemasan

1.741,67

4. Biaya Penyusutan

14,00
2.032,00

Jumlah
Lampiran 7. Komponen Biaya Pemasaran Jeruk pada Saluran 5
Biaya

Biaya (Rp/kg)

Pedagang Pengecer Pinggir Jalan


1. Biaya Pengangkutan
2. Biaya Sortasi
3. Biaya Pengemasan
4. Biaya Penyusutan
Jumlah

95,89
106,54
1.741,67
22,00
1.966,00

105

Lampiran 8. Fungsi-fungsi Pemasaran Jeruk di Kampung Wadio Tahun 2011


Saluran 1

Fungsi
Pemasaran

Pedagang
Petani

Pedagang

Saluran 2
Pengecer
non
lokal

Petani

Pengecer
Pasar

Saluran 3
Pengecer
Pinggir
Jalan

Petani

Saluran 4

Pengecer
Pasar

Saluran 5

Pengecer
Petani

Keliling

Saluran 6

Petani

Pengecer
Pinggir
Jalan

Petani

Pengumpul

Besar

Fungsi Pertukaran
Pembelian
Penjualan
Fungsi Fisik
Pengangkutan
Pengemasan
Penyimpanan
Fungsi Fasilitas
Penanggungan risiko
Pembiayaan
Sortasi
Grading
Informasi pasar

Keterangan:
= melakukan fungsi pemasaran
- = tidak melakukan fungsi pemasaran

106

Lampiran 9. Luas Tanam, Panen dan Produksi jeruk di Beberapa Distrik di Kabupaten Nabire Tahun 2006 - 2009
No.

Distrik

2006
LT

LP

2007
Prod

LT

LP

2008
Prod

LT

LP

2009
Prod

LT

Nabire

80

80

80

63

Makimi

49

40

40

36

Wanggar

55

Nabire Barat

179

209

226

242

Jumlah

308

156

6240

329

227

9080

346

238

9520

396

LP

246

Prod

9840

107

Lampiran 10. Analisis Usahatani Jeruk Per Hektar di Kabupaten Nabire Tahun 2010
Biaya Satuan
No

Uraian

Jumlah
(Rp)

A.

Lahan dan peralatan

Sewa tanah

Peralatan

Biaya Per Tahun

Volume

1 ha

3.000.000

II

III

IV

VI

VII

VIII

IX

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

30.000.000

a. Hand Sprayer

2 unit

450.000

900.000

900.000

b. Sekop

5 buah

75.000

375.000

375.000

c. Parang

5 buah

125.000

625.000

625.000

d. Gunting Pangkas

2 buah

100.000

200.000

200.000

Gubug dan Pagar

1 unit

4.000.000

4.000.000

4.000.000

9.100.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

36.100.000

Subtotal

3.000.000

Input

Sarana Produksi

Bibit

400 ph

20.000

8.000.000

8.000.000

Pupuk kandang

2000 kg

1.000

2.000.000

2.500.000

3.250.000

3.500.000

3.500.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

34.750.000

Pembelian ajir

400 btg

2.000

800.000

Pupuk
a. Urea

300 kg

2.000

600.000

200.000

250.000

250.000

250.000

300.000

300.000

300.000

300.000

300.000

3.050.000

b. TSP

200 kg

2.000

400.000

200.000

250.000

250.000

250.000

300.000

300.000

300.000

300.000

300.000

2.850.000

c. KCL

200 kg

3.500

700.000

175.000

265.000

265.000

265.000

350.000

350.000

350.000

350.000

350.000

3.421.500

300.000

300.000

400.000

400.000

500.000

500.000

600.000

600.000

600.000

4.200.000

3.375.000

4.315.500

4.665.500

4.665.500

5.450.000

5.450.000

5.550.000

5.550.000

5.550.000

57.071.500

2.000.000

d. Pestisida

Subtotal

II

Tenaga Kerja

Pengolahan lahan

12.5000.000

40 HOK

50.000

2.000.000

108

Pembuatan lubang tanam

15 HOK

50.000

750.000

Penanaman

10 HOK

50.000

500.000

Penyiangan/bumbun

15 HOK

50.000

750.000

1.000.000

1.000.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

11.5000.000

Pemupukan

10 HOK

50.000

500.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

7.250.000

Penyemprotan

10 HOK

50.000

500.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

750.000

6.500.000

Pemangkasan

5 HOK

50.000

Perbaikan drainase

10 HOK

50.000

Panen dan Pasca panen

12 HOK

50.000

Subtotal
Total biaya produksi

500.000
-

300.000
1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

1.250.000

750.000
500.000

300.000
10.500.000

600.000

500.000

550.000

550.000

600.000

600.000

600.000

600.000

4.600.000

4.500.000

2.750.000

4.650.000

4.500.000

4.550.000

4.550.000

4.600.000

4.600.000

4.600.000

4.600.000

43.900.000

26.100.000

9.125.000

11.965.500

12.165.500

12.215.500

13.000.000

13.050.000

13.150.000

13.150.000

13.150.000

137.071.500

4.000

4.800

6.000

6.800

8.000

10.000

12.000

16000

67600

C.

Output

Produksi (ton)

Harga jual (Rp/kg)

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

Nilai produksi

20.000.000

24.000.000

30.000.000

34.000.000

40.000.000

50.000.000

60.000.000

80.000.000

338.000.000

Keuntungan

8.034.500

11.834.500

17.784.500

21.000.000

26.950.000

36.850.000

46.850.000

66.850.000

200.928.500

669.542

986.208

1.482.042

1.750.000

2.245.833

3.070.833

3.904.167

5.570.833

16.744.042

109

Lampiran 11. Lahan Penanaman Jeruk Siam

110