Anda di halaman 1dari 3

REFORMASI BIROKRASI BIDANG ORGANISASI

DI LINGKUNGAN SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG


PENDAHULUAN
Sebagaimana diamanatkan UU No. 17/2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJM 2005-2025), tujuan reformasi birokasi adalah untuk
mewujudkan tata pemerintahan yang baik di pusat maupun di daerah, agar mampu
mendukung keberhasilan pembangunan di bidang lainnya. Undang-undang ini kemudian
ditindaklanjuti dengan Peraturan Presiden No. 5/2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014, yang yang mengatur dan
menetapkan prioritas pelaksanaan perbaikan tata kelola pemerintahan ini pada reformasi
birokrasi dan tata kelola.
Yang dimaksud dengan tata (kelola) pemerintahan atau governance dalam paper ini
merujuk pada pengertian yang dikemukakan UN ESCAP (United Nation Economic and
Social Comission for Asia and the Pacific) yang menyebutkan bahwa governance adalah:
the process of decision-making and the process by which decisions are implemented
(or not implemented). Governance can be used in several contexts such as corporate
governance, international governance, national governance and local governance.
Dewasa ini, pengambilan keputusan yang dilakukan pemerintah, tidak hanya menjadi
domain atau hak mutlak pemerintah, tapi mempertimbangkan atau mengikutsertakan
pihak-pihak lain terkait, yaitu industri dan kalangan masyarakat sipil (civil society)
sehingga keseimbangan kekuasaan (balancing of power) akan tercapai, dan pada
gilirannya kebijakan yang dihasilkan da juga implementasi kebijakan tersebut mampu
mengadokomodasi beragam kepentingan yang ada.
Pelaksanaan tata kelola pemerintahan ini, akan berhasil atau menjadi baik (good
governance) apabila dilandasi prinsip-prinsip dasar yang secara umum disepakati harus
diwujudkan, yaitu: participatory, consensus oriented, accountable, transparent,
responsive, effective and efficient, equitable and inclusive, and follows the rule of law
(UN ESCAP).
STP Bandung yang merupakan salah satu unit di bawah Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata mau tidak mau harus tunduk dan mengikuti kebijakan umum pemerintah
Republik Indonesia dan khususnya Kemenbudpar, termasuk keharusan untuk melakukan
upaya-upaya perbaikan atau mereformasi birokrasi yang dijalankan selama ini yang
mungkin sudah tidak sesuai dengan berbagai tuntutan yang berkembang.
Meskipun STP Bandung merupakan instansi pemerintah, dan dengan itu tunduk pada
berbagai aturan dan kebijakan di atasnya, dalam upaya-upaya reformasi birokrasi yang
akan dilaksanakan selayaknya juga mempertimbangkan berbagai faktor dan karakteristik
yang melekat dalam organisasi/badan penyelenggara pendidikan, yang mungkin dalam
tata peraturan dan perundang-undangan kurang diperhatikan.
Sudah umum diketahui bahwa parameter penilaian yang digunakan dalam sebuah
organisasi/badan penyelenggara pendidikan adalah kompetensi, kemampuan pendidik
dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Di perguruan tinggi, tupoksi
seorang pendidik dirajut dalam Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan,

penelitian, dan pengabdian masyarakat. Ketiga kompetensi inilah yang harus dinilai,
apakah seseorang memiliki kemampuan pengajaran dan pendidikan sehingga mampu
mencerdaskan siswa didik, melakukan penelitian (yang kemudian dipublikasikan untuk
diuji oleh masyarakat akademik yang menjadi peer group-nya), dan sejauh mana ilmu
pengetahuan yang dikuasainya itu didharma-baktikan kepada masyarakat sehingga
mampu mensejahterakan masyarakat sekitarnya.
Ketiga dharma tersebut dijalankan dengan prinsip yang menekankan pada merit
seseorang (merit system). Merit system meletakan penilaian pada kualitas kemampuan
seseorang. Penghargaan akademik hanya melihat achievement seseorang ditiga dharma
tersebut. Senioritas dan lama bekerja, termasuk gelar-gelar pendidikan formal, bukan
tolok ukur dalam menetapkan penghargaan. Dengan demikian, daftar urutan kepangkatan
(DUK), dan DP3, yang biasa dipergunakan sebagai bahan penilaian pegawai negeri
menjadi tidak relevan dipakai. Penilaian berdasarkan achievement seseorang ini dapat
diimplementasikan dalam sebuah peer group. Karena sifat-sifatnya, sebuah kelompok
peer1 akan mampu menilai kredibilitas dan kemampuan orang-orang yang menjadi
anggotanya.
Ciri lain yang inheren dalam pendidikan tinggi adalah kebebasan akademik. Dengan ciri
ini, seorang akademisi, sepanjang mampu mempertanggungjawabkan secara ilmiah,
boleh menyatakan atau menulis sesuatu yang mungkin saja bertentangan dengan
kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan, bahkan nilai-nilai dan kepercayaan yang berlaku.
Asumsi:
Sebelum merumuskan tujuan dan langkah-langkah teknis yang nantinya akan disusun dan
dilaksanakan, perlu disepakati asumsi-asumsi yang mendasari rencana reformasi birokasi
ini karena asumsi-asumsi ini akan menimbulkan implikasi-implikasi yang mau tidak mau
harus diikuti dan dilaksanakan. Ada dua pilihan asumsi yang bisa diikuti, yaitu yang
bersifat ideal dan yang bersifat pragmatis.
Asumsi yang pertama mendasari pemikiran pada kondisi ideal yang ingin dicapai
lembaga dan organisasi STP Bandung ini di masa depan. Asumsi ini bisa diterima
mengingat bahwa reformasi birokasi mengandung pengertian PERUBAHAN BESAR
dalam tata kelola pemerintahan sehingga kemudian MEMERLUKAN TEROBOSANTEROBOSAN BARU (yang mungkin tidak biasa) (Sukarma), atau bisa juga diartikan
PEMBAHARUAN DAN PERUBAHAN MENDASAR terhadap sistem penyelenggaraan
pemerintahan (Sedarmayanti).
Apabila pengertian di atas bisa diterima, maka implikasi yang harus dihadapi adalah
menata ulang dan merevisi berbagai kebijakan dan perundang-undangan yang berlaku
selama ini yang sebetulnya tidak kondusif bagi penyelenggaraan sebuah lembaga
pendidikan. Sebagai contoh, undang-undang kepegawaian apabila dikaji lebih cermat
1

Dalam sosiologi peer group merupakan salah satu bentuk kelompok primer; di dalamnya interaksi
berjalan sangat intens, bersifat tatap muka dan emosional, dan oleh karena itu masing-masing anggota akan
saling mengenal dengan baik. Dewasa ini pengertian peer group dipergunakan dengan konotasi yang
meluas menjadi kelompok sekunder; dia mencakup juga kelompok yang lebih besar yang interaksinya tidak
perlu intensif dan tatap muka serta tidak melibatkan emosi-emosi pribadi (instrumental).

sebetulnya dilandasi pada asumsi dasar sifat pegawai negeri yang seragam, padahal STP
Bandung merupakan sebuah lembaga pendidikan yang penyelenggara utamanya bersifat
fungsional. Universitas dan institut yang menyelenggarakan pendidikan dilaksanakan
oleh tenaga-tenaga fungsional, bukan pejabat struktural, sehingga tata aturan yang secara
sederhana menyeragamkan kondisi kepegawainegerian dengan sendirinya harus diubah.
Di sisi lain, kondisi objektif di masa yang akan datang, STP Bandung akan menghadapi
kenyataan yang mau tidak mau harus dilaksanakannya, di antaranya pemberlakuan UU
BHP yang sementara ini masih terus direvisi.
Penerapan undang-undang ini harus dengan cermat diantisipasi karena mengandung
implikasi yang meluas dan mendalam; tidak hanya menuntut sisi kreativitas dan inovatif
dalam mencari sumber-sumber dana alternatif bagi penyelenggaraan pendidikan tetapi
juga sifat hubungan dengan Depbudpar yang telah melembaga sebagaimana dilaksanakan
sekarang. Selain itu, mungkin yang utama harus diperhatikan adalah persoalan
kelembagaan2 (dalam pengertian umum dianggap juga sikap mental) yang selama ini
dijalankan yang sebetulnya tidak sesuai dengan pilihan organisasi STP Bandung di masa
depan itu. Di sini terkandung persoalan penatalaksanaan penyelenggaraan administrasi
pendidikan yang harus terus menerus dilaksanakan sehingga menjadi pola perilaku (blue
print for behaviour), dan terlebih lagi pola tindak dan pola pikir sebagai akademisi/
ilmuwan.
Asumsi kedua yang bisa dipilih lebih bersifat pragmatis. Artinya, seluruh kebijakan dan
tata perundang-undangan yang ada dianggap berlaku, tidak perlu dilakukan revisi atau
pembenahan-pembenahan. UU PNS, UU Sisdiknas, berbagai peraturan pemerintah,
peraturan presiden, dan peraturan-peraturan menteri terkait, serta berbagai praktek
kebiasaan-kebiasaan yang berlaku selama ini, menjadi pembatas ruang gerak
pembenahan yang akan dilaksanakan.
Asumsi kedua ini akan menempatkan posisi reformasi birokrasi yang akan ditempuh STP
Bandung pada situasi yang oleh Dr. Ismail Muhamad disebut sebagai organizational
development. Perubahan yang terjadi pada situasi ini bersifat mikro, terjadi pada masingmasing instansi, dan tidak menyentuh aspek yang lebih besar yang mencakup perubahan
keseluruhan birokrasi pemerintahan.
Namun demikian, apapun asumsi yang akan dipilih tetap harus meletakkan tatanan
reformasi birokrasi ini dalam kerangka pencapaian good governance. Dan oleh karena itu
tetap harus mempertimbangkan atau melibatkan para aktor yang terkait serta dilandasi
prinsip-prinsip atau karakterisktik yang melekat di dalamnya.

Yang dimaksud dengan lembaga (institution) di sini mengacu pada pengertian yang dipahami dalam ilmu
Sosiologi yang memandang lembaga sebagai sekumpulan aturan-aturan, prosedur-prosedur, yang telah
berpola yang mengacu pada suatu kegiatan tertentu. Lembaga ini kemudian dijalankan oleh/dalam sebuah
insitut (institute/organisasi).