Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

HEMOFILIA

Pokok Bahasan

: Penyakit Sistem Imun & Hematologi

Sub Pokok Bahasan

: Hemofilia

Sasaran

: Masyarakat

Hari/ Tanggal

: Senin 24-10-2011

Waktu

: 08.00-08.45 WITA

Tempat

: Desa Adat Sukawati

Struktur Organisasi
Penyaji

: Mudiastra

Moderator

: Adisukma

Notulen

: Siska Ambayati Dewi

Observer/fasilitator

: Netiari

A. Latar Belakang
Hemofilia merupakan suatu penyakit dengan kelainan faal koagulasi yang bersifat
herediter dan diturunkan secara X - linked recessive pada hemofilia A dan B ataupun secara
autosomal resesif pada hemofilia C. Hemofilia terjadi oleh karena adanya defisiensi atau
gangguan fungsi salah satu faktor pembekuan yaitu faktor VIII pada hemofilia A serta
kelainan faktor IX pada hemofilia B dan faktor XI pada hemofilia C (akademik. unsri. ac.id,
2006). Oleh karena itu, kebanyakan penderitanya adalah laki laki, sedangkan wanita

merupakan karier atau pembawa sifat. Sekitar 30% dari kasus hemofilia tidak mempunyai
riwayat keluarga, hal ini terjadi akibat mutasi spontan (hemofilia.or.id, 2006).
lnsidensi dari gangguan koagulasi herediter tidak pernah secara persis didefinisikan.
Perkiraannya berkisar sekitar 1 dalam 10.000 atau 1 dalam kelahiran populasi. Hemofilia A
adalah bentuk yang paling sering dijumpai, mencakup 70-80% dari data yang dapat
dilaporkan. Penyakit von willebrand tampaknya hampir sama seringnya dengan hemofilia A
namun insidensi tepatnya tidak diketahui karena kriteria diagnostik yang inadekuat. Hemofilia
B (defisiensi faktor IX) mewakili 10% dari keseluruhannya (1130.000). Ketiga kelainan ini
mendominasi 90% dari gangguan koagulasi herediter I. dan sisanya sangatlah langka. Di
Amerika Serikat sendiri, berdasarkan survei yang dilakukan oleh World Federation of
Hemophilia pada tahun 2001, jumlah pasien dengan hemofilia yang dapat diindentifikasi
kurang lebih hanya 100.000 kasus, dan sebagian besar adalah hemofilia A (83%). Sementara
metode diagnosis yang paling banyak dipakai adalah uji faktor spesifik (64%), yang masih
relatif mahal (digilib. unsri. ac.id, 2006).
Data penderita hemofilia di Indonesia belum ada dan data yang ada baru di Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta sebanyak 175 penderita. Salah satu kegiatan
yayasan hemofilia Indonesia adalah mengumpulkan data penderita hemofilia di Indonesia,
terutama yang ada di rumah sakit di seluruh Indonesia. Penyakit hemofilia merupakan
penyakit yang relatif langka dan masih perlu terus dipelajari untuk pemahaman yang lebih
baik dalam mendeteksi dan menanggulanginya secara dini (digilib. unsri. ac.id, 2006).
Penderita hemofilia di Indonesia yang teregistrasi di HMHI Jakarta tersebar hanya
pada 21 provinsi dengan jumlah penderita 895 orang, jumlah penduduk Indonesia:
217.854.000 populasi, prevalensinya 4,1/1 juta populasi (0,041/10.000 populasi), hal ini
menunjukkan masih tingginya angka undiagnosed hemofilia di Indonesia. Angka prevalensi
hemofilia di Indonesia masih sangat bervariasi sekali, beberapa kota besar di Indonesia seperti
DKI Jakarta, Medan, Bandung, dan Semarang angka prevalensinya lebih tinggi (digilib. usu.
ac.id, 2006).

B. Tujuan Umum
Pada akhir penyuluhan kesehatan, peserta penyuluhan diharapkan mampu memahami
tentang pengertian hemofilia, penyebab, tanda dan gejala, pengobatan serta pencegahannya.
C. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan, peserta penyuluhan diharapkan mampu:
1.
2.
3.
4.

Menjelaskan pengertian henofilia


Menjelaskan penyebab henofilia
Menjelaskan gejala klinis hemofilia
Menjelaskan tentang terapi tindakan pengobatan penyakit hemofilia

D. Metode
1. Ceramah
2. Diskusi dan tanya jawab
E. Media
1. Laptop
2. LCD
3. Leaflet
F. Isi Materi
1.
2.
3.
4.
5.

Pengertian Hemofilia
Penyebab Hemofilia
Tanda dan Gejala Hemofilia
Pencegahan Hemofilia
Pengobatan Hemofilia

G. Proses Pelaksanaan
N
o
1.

Waktu
5
menit

Sasaran

Kegiatan
Pembukaan

Penyajian

Menyampaikan
salam
pembuka, maksud dan

Masyarakat
Menjawab salam
Memperhatikan

a. Salam pembuka
b. Perkenalan
c. Menyampaikan
tujuan
d. Kontrak waktu
e. Melakukan apersepsi

2.

3.

20
menit

15
menit

Kegiatan Inti

Penyampaian materi
Pengertian
Hemofilia

Penyebab
Hemofilia
Tanda dan Gejala
Hemofilia

Pencegahan
Hemofilia
Pengobatan
Hemofilia
Penutup

a. Sesi tanya jawab


b. Melakukan evaluasi

c. Menyimpulkan
materi
yang
didiskusikan
d. Mengakhiri kegiatan
dengan salam

tujuan serta kontrak waktu


pelaksanaan
kegiatan
kepada
peserta
penyuluhan dengan bahasa
yang sopan dan jelas serta
penggunaan kata yang
efisien.
Menanyakan
beberapa
pertanyaan seputar opini
peserta mengenai topik
penyuluhan.
Menyampaikan
materi
dengan jelas dan tepat
sesuai dengan metode
yang dipilih
Menyampaikan
materi
tidak berbelit-belit serta
efisien sehingga mencegah
kekurangan waktu
Memanfaatkan
semua
media yang tersedia untuk
menyampaikan
materi
dengan baik.

dan
terlihat
antusias mengikuti
penyuluhan

Melalukan
dialog
interaktif dengan peserta
penyuluhan.
Menanyakan
beberapa
pertanyaan singkat kepada
pasien tentang materi
penyuluhan
untuk
mengetahui feed back.
Misalnya
dengan
memberikan studi kasus
dan hadiah kepada peserta
yang
bisa
menjawab
dengan benar.
Menyampaikan
kesimpulan
dengan
singkat dan jelas.

Peserta
penyuluhan
dengan
antusias
bertanya
dan
berdialog tentang
materi
penyuluhan.
Bersama penyaji
menyimpulkan
materi.
Mengerti
dan
mempunyai
pengetahuan baru
tentang
materi
penyuluhan
ditandai
dengan

Menyimak
dan
memperhatikan
penyuluhan
dengan baik dan
antusias.

Menyampaikan
salam
penutup
dan
ucapan
terimakasih dengan sopan
dan jelas.

hampir
keseluruhan
peserta
dapat
menjawab
studi
kasus.
Menjawab salam.

H. Setting Tempat
Penyuluhan dilaksanakan di balai Desa Sukawati
tembok

Lapt
op

Penyaj
i
LCD

Peserta Penyuluhan

Peserta Penyuluhan

Peserta Penyuluhan

Peserta Penyuluhan

Peserta Penyuluhan

Peserta Penyuluhan

Peserta Penyuluhan

Peserta Penyuluhan

I. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
o
SAP sudah siap 1 hari sebelum penyuluhan.
o
Media (Laptop, LCD, Leaflet) dan tempat sudah siap
o
Moderator dan sekretaris sudah siap.
o
Peserta siap mengikuti penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
o Media (Laptop, LCD, Leaflet) sudah disiapkan sesuai rencana.
o Tempat siap dan disusun sesuai dengan setting tempat yang telah direncanakan.
o Penyaji,moderator, sekretaris dan peserta siap mengikuti penyuluhan.
3. Evaluasi Hasil
o Penyuluhan berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.
o Masalah yang muncul saat pelaksanaan penyuluhan dapat diatasi dengan baik.
o Tujuan penyuluhan tercapai yaitu peserta penyuluhan dapat memahami tentang isi
penyuluhan dan diharapkan akan terjadi perubahan perilaku.

J. Referensi
Arif M, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid 2, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta.
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran: EGC
Sodeman, 1995, Patofisiologi Sodeman : Mekanisme Penyakit, Editor, Joko Suyono,
Hipocrates, Jakarta.
http://www.kilasberita.com/kb-news/kilas-indonesia/17509-hemofilia-penyakit-yang-bisamematikan, diakses tanggal 30 Oktober 2011
http://l1a006080.blogspot.com/2009/12/hemofilia.html, diakses tanggal 30 Oktober 2011
http://mr-fabio2.blogspot.com/2009/01/mengenal-penyakit-hemofilia-terjatuh.html,
tanggal 30 Oktober 2011
http://www.susukolostrum.com/artikel-kesehatan/genetika/apa-dan-bagaimanahemofilia.html, diakses tanggal 30 Oktober 2011

diakses

http://www.wawasandigital.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=21083&Itemid=64, diakses tanggal 30 Oktober 2011

LAMPIRAN
A. DEFINISI
Hemofilia adalah gangguan perdarahan bersifat herediter yang dengan defisiensi atau
kelainan biologik faktor VIII dan (antihemophilic globulin) dan faktor IX dalam plasma
(David Ovedoff, Kapita Selekta Kedokteran).
Hemofilia adalah penyakit gangguan pembekuan darah yang diturunkan melalui
kromosom X. Karena itu, penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria karena mereka hanya
mempunyai kromosom X, sedangkan wanita umumnya menjadi pembawa sifat saja (carrier).
Namun, wanita juga bisa menderita hemofilia jika mendapatkan kromosom X dari ayah
hemofilia dan ibu pembawa carrier dan bersifat letal
Hemofilia adalah kelainan perdarahan yang disebabkan adanya kekurangan salah satu
faktor pembekuan darah. Hemofilia merupakan penyakit gangguan pembekuan darah dan
diturunkan oleh melalui kromoson X. Hemofilia di bedakan menjadi dua, yaitu Hemofilia A
yang ditandai karena penderita tidak memiliki zat antihemofili globulin ( faktor VIII ),
Hemofilia B atau Penderita tidak memiliki komponen plasma tromboplastin.
Hemofilia merupakan gangguan koagulasi herediter atau didapat yang sering dijumpai.
Hal ini bisa terjadi karena mutasi gen faktor pembekuan darah yaitu faktor VIII atau faktor IX
kedua gen tersebut terletak pada kromosom X, sehingga termasuk penyakit resesif. Hemofilia
lebih banyak terjadi pada laki-laki, karena mereka hanya mempunyai satu kromosom X,
sedangkan wanita umumnya sebagai pembawa sifat saja (carier). Namun wanita juga bisa
menderita hemofilia jika mendapatkan kromosom X dari ayah hemofilia dan ibu pembawa
carrier dan bersifat letal.
Mekanisme pembekuan pada penderita hemofili mengalami gangguan, dimana dalam
mekanisme tersebut terdapat faktor pembekuan yang di beri nama dengan angka romawi, I
XIII.

B. ETIOLOGI
Penyebab utama dari penyakit hemofilia adalah adanya faktor keturunan atau genetik,
walaupun sekitar 30% dari kasus hemofilia tidak mempunyai riwayat keluarga, hal ini terjadi
akibat mutasi spontan. Hemofilia diturunkan oleh ibu sebagai pembawa sifat yang mempunyai
1 kromosom X normal dan 1 kromosom X hemofilia.
Hemofilia adalah kelainan pembekuan darah yang diturunkan secara X-linked
resesive. Oleh karena itu kebanyakan penderitanya adalah laki laki, sedangkan wanita
merupakan karier atau pembawa sifat. Sekitar 30% dari kasus hemofilia tidak mempunyai
riwayat keluarga, hal ini terjadi akibat mutasi spontan (hemofila. or. Id, 2006).
Hemofilia merupakan suatu penyakit dengan kelainan faal koagulasi yang bersifat
herediter dan diturunkan secara X - linked recessive pada hemofilia A dan B ataupun secara
autosomal resesif pada hemofilia C. Hemofilia terjadi oleh karena adanya defisiensi atau
gangguan fungsi salah satu faktor pembekuan yaitu faktor VIII pada hemofilia A serta
kelainan faktor IX pada hemofilia B dan faktor XI 1-4 pada hemofilia C. Biasanya
bermanifestasi pada anak laki-laki namun walaupun jarang, hemofilia pada wanita juga telah
dilaporkan. Wanita umumnya bertindak sebagai karier hemofilia. Secara imunologis,
hemofilia dapat memiliki varian-varian tertentu (digilib. unsri. ac. id, 2006).
C. GEJALA KLINIS

Terjadi perdarahan spontan pada sendi dan otot yang berulang disertai dengan rasa

nyeri dan terjadi bengkak.


Perdarahan sendi yang

menyempitkan ruang sendi, Krista tulang dan gerakan sendi yang terbatas.
Biasanya perdarahan juga dijumpai pada Gastrointestinal, hematuria yang berlebihan

dan juga perdarahan otak


Terjadi hematoma pada extremitas
Keterbatasan dan nyeri sendi yang berkelanjutan pada perdarahan.

berulang

menyebabkan

atropi

D. TERAPI/TINDAKAN PENANGANAN

hemofilia

dengan

Terapi Suportif
Pengobatan rasional pada hemofilia adalah menormalkan kadar factor anti hemophilia
yang kurang.Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Melakukan pencegahan baik menghindari luka atau benturan


Merencanakan suatu tindakan operasi serta mempertahankan kadar aktivitas factor

pembekuan sekitar 30-50%


Untuk mengatasi perdarahan akut yang terjadi maka dilakukan tindakan pertama

seperti rest, ice, compression, elevation (RICE) pada lokasi perdarahan.


Kortikosteroid, pemberian kortikosteroid sangat membantu untuk menghilangkan
proses inflamasi pada sinovitis akut yang terjadi setelah serangan akut hemartrosis.
Pemberian prednisone 0,5-1 mg/kg BB/hari selama 5-7 hari dapat mencegah
terjadinya gejala sisa berupa kaku sendi(artrosis) yang menggangu aktivitas harian
serta menurunkan kualitas hidup pasien hemophilia.
Analgetika. Pemakaian analgetika diindikasikan pada pasien hemartrosis dengan

nyeri hebat, dan sebaiknya dipilih analgetika yang tidak mengganggu agregasi
trombosit (harus dihindari pemakaian aspirin dan antikoagulan)
Rehabilitasi medik

Terapi Pengganti Faktor Pembekuan


Pemberian factor pembekuan dilakukan 3 kali seminggu untuk menghindari kecacatan
fisik (terutama sendi) sehingga pasien hemophilia dapat melakukan aktivitas normal. Namun
untuk mencapai tujuan tsb dibutuhkan factor anti hemophilia (AHF) yang cukup banyak
dengan biaya yang tinggi.
Terapi pengganti factor pembekuan pada kasus hemophilia dilakukan dengan
memberikan FVIII atau FIX, baik rekombinan, konsentrat maupun komponen darah yang
mengandung cukup banyak factor-faktor pembekuan tsb. Pemberian biasanya dilakukan
dalam beberapa hari sampai luka atau pembengkakan membaik, serta khususnya selama
fisioterapi.

Anda mungkin juga menyukai