Anda di halaman 1dari 42

Teknologi Beton

BAB I
METODE PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT HALUS
1. Maksud dan Tujuan
a. Maksud
metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian untuk menentukan
berat jenis curah, berat jenis kering permukaan jenuh, berat jenis semu, dan angka
penyerapan dari agregat halus.
b. Tujuan
tujuan pengujian adalah untuk mendapatkan angka berat jenis curah hujan, berat
jenis permukaan jenuh, berat jenis semu, dan penyerapan air pada agregat halus.

2. Ruang Lingkup
Pengujian ini dilakukan pada tanah jenis agregat halus, yaitu lolos saringan no.4 (4,75
mm). hasil pengujian ini selanjutnya dapat digunakan dalam pekerjaan :
1.

penyelidikan quarry agregat.

2.

perencanaan campuran dan pengendalian mutu beton.

3.

perencanaan campuran dan pengendalian mutu perkerasan jalan.

3. Pengertian
berat jenis curah
adalah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya
sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu 25C.

berat jenis jenuh kering permukaan


adalah perbandingan antara berat agregat kering permukaan jenuh dan berat air
suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu 25C.

berat jenis semu


Page 1

Teknologi Beton

adalah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air suling yang isinya
sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu 25C.

penyerapan
adalah perbandingan berat air yang dapat diserap pori terhadap berat agregat
kering, dinyatakan dalam persen.

4. CARA PELAKSANAAN
5. Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Timbangan, kapasitas 1 kg atau lebih dengan ketelitian 0,1 gram.
2. Kerucut terpancung, diameter bagian atas (40 3) mm, diameter bagian bawah
(90 3) mm dan tinggi (75 3) mm dibuat dari logam tebal minimum 0,8 mm.
3. Batang penumbuk yang mempunyai bidang penumbuk rata, berat (340 15)
gram, diameter permukaan penumbuk (25 3) mm.
4. Saringan no.4 (4,75 mm).
5. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (1105)C.
6. Talam.
7. Bejana tempat air.
8. Pompa hampa udara atau tungku.

6. Benda Uji
benda uji adalah agregat yang lewat saringan no.4 (4,75 mm) diperoleh dari alat
pemisah contoh atau cara perempat (quartering) sebanyak 100 gram.

7. Cara Pengujian
Urutan proses dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengeringkan benda uji dalam oven pada suhu (110 5)C, sampai berat tetap,
yang dimaksudkan berat tetap adalah keadaan berat benda uji selama 3 kali proses
penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan selang waktu 2 jam berturutturut, tidak akan mengalami perubahan kadar air lebih besar daripada 0,1%,
didinginkan pada suhu ruang, kemudian direndam dalam air selama (24 4) jam.
Page 2

Teknologi Beton

2. Membuang air perendam dengan hati-hati, hingga tidak ada butiran yang hilang,
agregat ditebarkan diatas talam, dikeringkan diudara panas dengan cara
membalik-balikan benda uji, pengeringan dilakukan sampai tercapai keadaan
kering permukaan jenuh.
3. Memeriksa keadaan kering permukaan jenuh dengan mengisikan benda uji ke
dalam kerucut terpancung, dipadatkan dengan batang penumbuk sebanyak 25 kali,
mengangkat kerucut terpancung, keadaan kering permukaan jenuh tercapai bila
benda uji runtuh akan tetapi masih dalam keadaan tercetak.
4. Segera setelah tercapai keadaan kering permukaan jenuh 500 gram benda uji
dimasukkan ke dalam piknometer, diputar sambil diguncang sampai tidak terlihat
gelembung udara didalamnya, untuk mempercepat proses ini dapat dipergunakan
pompa hampa udara, tetapi harus diperhatikan jangan sampai ada air yang ikut
terhisap dapat juga dilakukan dengan merebus piknometer.
5. Merendam piknometer dalam air dan ukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan
kepada suhu standar 25C. Menambahkan air sampai mencapai tanda batas.
6. Menimbang piknometer berisi air dan benda uji samapai ketelitian 0,1 gram (Bt).
7. Mengeluarkan benda uji, keringkan dalam oven dengan suhu (110 5)C sampai
berat tetap, kemudian benda uji didinginkan dalam desikator. Setelah benda uji
dingin kemudian ditimbang (Bk).Menentukan berat piknometer berisi air penuh
dan mengukur suhu air, guna penyesuaian dengan suhu standar 25C (B).

1
2

3
4

KETERANGAN GAMBAR
1. Tamper
2. Cone
3. Labu ukur
4. Sieve
Page 3

Teknologi Beton

8. Data dan Perhitungan

Page 4

Teknologi Beton

BAB II
METODE PENGUJIAN BERAT JENIS DAN PENYERAPAN AIR AGREGAT
KASAR

1. Maksud dan tujuan


a. maksud
metode ini dimaksudkan sebagai pegangan dalam pengujian untuk menentukan
berat jenis curah, berat jenis kering permukaan jenuh, berat jenis semu dari
agregat kasar, serta angka penyerapan dari agregat kasar.
b. tujuan
tujuan pengujian ini untuk memperoleh angka berat jenis curah, berat jenis kering
permukaan jenuh, dan berat jenis semu serta besarnya angka penyerapan.

2. Ruang lingkup
Pengujian dilakukan terhadap agregat kasar, yaitu yang lolos saringan No.
dan tertahan oleh saringan berdiameter 4,75 mm ( saringan no.4); hasil pengujian ini
dapat digunakan dalam pekerjaan :
1. penyelidikan quarry agregat.
2. perencanaan campuran dan pengendalian mutu beton.
3. perencanaan campuran dan pengendalian mutu perkerasan jalan.

3. Pengertian

berat jenis curah adalah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air
suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan jenuh pada suhu 25C.

berat jenis kering permukaan jenuh, yaitu perbandingan antara berat agregat
kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat
dalam keadaan jenuh pada suhu 25C.

berat jenis semu adalah perbandingan antara berat agregat kering dan berat air
suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam keadaan kering pada suhu 25C.
Page 5

Teknologi Beton

penyerapan adalah perbandingan berat air yang dapat diserap quarry terhadap
berat agregat kering, dinyatakan dalam %.

4. Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah sebagai berikut ;
a. keranjang kawat ukuran 3,35 mm (no.6) atau 2,36 mm (no.8) dengan kapasitas kirakira 5 Kg
b. tempat air dengan kapasitas dan bentuk yang sesuai untuk pemeriksaan. Tempat ini
harus dilengkapi dengan pipa sehingga permukaan air selalu tetap.
c. timbangan dengan kapasitas 5 Kg dan ketelitian 0,1% dari berat contoh yang
ditimbang dan dilengkapi dengan alat penggantung keranjang.
d. oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110 5)C.
e. alat pemisah contoh.
f. saringan no.4 (4,75 mm).

5. Benda uji
Benda uji adalah agregat yang tertahan saringan no.4 (4,75 mm) diperoleh dari alat
pemisah contoh atau cara perempat sebanyak kira-kira 5 Kg.

6. Cara Pengujian
Urutan pelaksanaan pengujian adalah sebagai berikut :
1. mencuci benda uji untuk menghilangkan debu atau bahan-bahan lain yang melekat
pada permukaan.
2. mengeringkan benda uji dalam oven pada suhu (110 5)C sampai beratnya tetap.

sebagai catatan, bila penyerapan dan harga berat jenis digunakan dalam pekerjaan
beton dimana agregat digunakan pada keadaan kadar air aslinya. Maka tidak pelu
dilakukan pengeringan dengan oven.
3. mendinginkan benda uji pada suhu kamar selama 1-3 jam, kemudian ditimbang
dengan ketelitian 0,5 gram (Bk).
4. merendam benda uji dalam air pada suhu kamar selama 24 4 jam.
Page 6

Teknologi Beton

5. mengeluarkan benda uji dari air, dilap dengan kain penyerap sampai selaput air
pada permukaan hilang, untuk butiran yang besar pengeringan, harus satu persatu.
6. menimbang benda uji kering permukaan jenuh (Bj).
7. meletakkan benda uji di dalam keranjang, menggoncangkan batunya untuk
mengeluarkan udara yang tersekap dan menentukan beratnya di dalam air (Ba),
dan mengukur suhu air untuk penyesuaian perhitungan pada suhu standar (25C).
8. banyak jenis bahan campuran yang mempunyai bagian butir-butir berat dan
ringan. Bahan semacam ini memberikan harga-harga berat jenis yang tidak tetap
walaupun pemeriksaan dilakukan dengan sangat hati-hati, dalam hal ini beberapa
pemeiksaan ulang diperlukan untuk mendapatkan harga rata-rata yang
memuaskan.

5
6

3
4

KETERANGAN GAMBAR
1. Beban keseimbangan
2. Penunjuk skala
3. Bak perendam
4. Keranjang sample
5. Anak timbangan
6. Baud pengunci

Page 7

Teknologi Beton

7. Data dan Perhitungan

BAB III
Page 8

Teknologi Beton

PEMERIKSAAN BAHAN LEWAT SARINGAN NO.200


(PEMERIKSAAN KADAR LUMPUR)
1. Tujuan
Pemerikasaan ini dimaksud untuk menentukan jumlah bahan yang terdapat dalam
agregat lewat saringan No.200 (lumpur) dengan cara pencucian.
2. Peralatan
1. Saringan No.16 dan No.200
2. Wadah pencuci benda uji dengan kapasitas cukup besar
3. Oven dengan pengaturan suhu (110 C)
4. Timbangan dengan ketelitian 0,1 % dari contoh benda
5. Talam dengan kapasitas besar untuk mengeringkan besar untuk mengeringkan
contoh agregat
6. Skop
3. Bahan
Bahan contoh agregat minimum tergantung pada ukuran agregat dengan sebagai
berikut :
1. Ukuran maks. 2,36 mm (No.8) ; berat minimum 100 gr
2. Ukuran maks. 1,18 mm (No.4) ; berat minimum 500 gr
3. Ukuran maks. 9,50 mm (0,375) ; berat minimum 2000 gr
4. Ukuran maks. 19,10 mm (0,750) ; berat minimum 2500 gr
5. Ukuran maks. 38,10 mm (1,500) ; berat minimum 5000 gr
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Masukan contoh agregat kurang lebih 1,25 kali berat minimum benda uji
kedalam talam, kerinngkan dalam oven dengan (110 C) sampai mempunyai
berat tetap.
2. Masukan benda uji kedalam wadah, kemudian diberi air pencuci secukupnya
sehingga benda uji terendam.
3. Guncang-guncangkan wadah dan tuangkan air cucian kedalam wadah susunan
saringan No.16 dan No.200.
4. Masukan air pencuci baru, ulangi langkah-langkah nomor 3 sampai air
pencuci menjadi bersih.
5. Semua bahan yang tertahan saringan No.16 dan No.200 kembalikan dalam
wadah, kemudian masukan seluruh bahan tersebut kedalam talam yang telah
diketahui berat (W2) dan keringkan dalam oven dengan suhu (110 C) sampai
berat tetap (diambil waktu pengovenan selam 24 jam).
6. Setalah kering timbang dan catat beratnya (W3).
7. Hitunglah berat bahan kering tersebut (W4= W3-W2)

5. Perhitungan
Page 9

Teknologi Beton

Jumlah bahan lewat saringan No.200 =


W1 = berat benda uji semula (gr)
W2 = berat bahan yang tertahan pada saringan No.200 dengan stuan dalam gram

6. Tabel Penentuan Kadar Lumpur

Page 10

Teknologi Beton

BAB IV
Page 11

Teknologi Beton

PEMERIKSAAN KADAR AIR AGREGAT

1. Tujuan
Pemeriksaan ini dimaksud menentukan kadar air agregat dengan cara pengeringan.
Kadar air agregat adalah perbandingan antara berat air yang dikandung agregat
dengan agregat dalam keadaan kering.
2. Peralatan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 % dari berat benda uji
2. Oven yang dilengkapi dengan pengaturan suhu
3. Talam logam tahan karat dengan kapasitas cukup besar untuk mengeringkan
benda uji
3. Bahan
Berat benda uji agregat minimum tergantung pada ukuran agregat maksimum, dengan
batasan sebagai berikut :
1. Ukuran maksimum 6,3 mm (0,250) ; berat min. 0,5 kg
2. Ukuran maksimum 9,5 mm (0,375) ; berat min. 1,5 kg
3. Ukuran maksimum 12,7 mm (0,500) ; berat min. 2,0 kg
4. Ukuran maksimum 19,7 mm (0,750) ; berat min. 3,0 kg
5. Ukuran maksimum 25,3 mm (1,000) ; berat min. 4,0 kg
6. Ukuran maksimum 38,1 mm (1,500) ; berat min. 6,0 kg
7. Ukuran maksimum 50,8 mm (2,000) ; berat min. 8,0 kg
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Timbang dan catat berat talam (W1).
2. Masukan benda uji kedalam talam, kemudian timbang dan catat berat (W2).
3. Hitung benda uji (W3=W2-W1).
4. Keringkan benda uji beserta talamnya kedalam oven dengan suhu (110 C)
sampai beratnya tetap.
5. Setelah kering, timbang dan catat benda uji besrta talamnya (W4).
6. Hitung benda uji (W5=W4-W1).
5. Perhitungan
Kadar air agregat =
Dimana :
W3 = berat benda uji basah
W5 = berat benda uji kering
6. Data Hasil Agregat Kasar

Page 12

Teknologi Beton

7. Data Hasil Agregat Halus

Page 13

Teknologi Beton

Page 14

Teknologi Beton

BAB IV
METODE PENGUJIAN TENTANG ANALISA SARINGAN AGREGAT HALUS DAN
KASAR
1. Tujuan Pelaksanaan
Percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan komposisi prosentase
campuran antara agregat kasar dan halus untuk pembuatan campuran aspal
yang kemudian akan menjalani percobaan marshall

2. Dasar teori
Analisa saringan (ayakan) adalah menggetarkan contoh tanah melalui satu set
ayakan dimana lubang lubang ayakan tersebut makin kecil serta berurutan
(Braja 1995-17).
Dalam analisis saringan agregat ini dilakukan penentuan prosentase berat
butiran agregat yang lolos dari satu set saringan,kemudian angka angka
prosentase digambarkan pada grafik pembagian butir.
Berdasarkan berat partikel partikel agregat, agregat dapat dibedakan atas :

Agregat kasar yaitu agregat dengan ukuran partikel > 4,75 mm

menurut ASTM atau ukuran partikel > 2 mm menurut AASHTO


Agregat halus yaitu agregat dengan ukuran partikel < 4,75 mm
menurut ASTM atau ukuran partikel < 2 mm dan > 0,075 menurut

AASHTO
Abu batu / mineral filter yaitu agregat halus yang umumnya lolos
saringan no 200

3. Test yang dilaksanakan


A. Peralatan
1. Timbangan dan neraca dengan ketelitian 0,2% dari berat uji
Page 15

Teknologi Beton

2. Satu set saringan 19,1 mm (3/4), 12,5 mm (1/2), 9,5 mm


(3/8), no 4, no 8, no 30, no 50, no 100, no 200 dan PAN
3. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi
sampai (1100C)
Alat pemisah contoh
Mesian pengguncang saringan
Talam
Kuas, silikat kuningan, sendok dan alat alat lainnya

4.
5.
6.
7.
B. Bahan
1. Agregat halus dengan berat 1000 gram
2. Agregat kasar dengan berat 2000 gram
3. Bila agregat tersebut berupa campuran dari agregat halus dan
agregat kasar maka dipisah jadi dua (2) bagian dengan saringan
no 4,(bila agregat diatas no 4,maka dikatakan agregat kasar dan
bila agregat dibawah no 4, maka dikatakan agregat halus)
C. Langkah Kerja
1. Benda uji dikeringkan dalam oven dengan suhu (1100C),
sampai berat tetap
2. Menyaring benda uji lewat susunan saringan dengan ukuran
saringan paling besar ditempatkan paling atas. Saringan
diguncang dengan tangan atau mesin pengguncang selama 15
menit
3. Mengolah data yang diperoleh dan disesuaikan dengan
spesifikasi Bina Marga II
4. Table Spesifikasi Bina Marga II

1
2
3

KETERANGAN GAMBAR:
Page 16

Teknologi Beton

1. Palang penggantung
2. Penggantung saringan
3. Saringan
4. Condensor
5. Motor penggerak
6. Saklar
7. Sabuk pemutar
8. Puli

4. Data Hasil Analisa Saringan Agregat Halus

Page 17

Teknologi Beton

5. Data Hasil Analisa Saringan Agregat Kasar


Page 18

Teknologi Beton

BAB V
Page 19

Teknologi Beton

PEMERIKSAAN BERAT ISI AGREGAT


1. Tujuan
Pemeriksaan ini dimaksud untuk menentukan berat isi agregat halus dan kasar. Berat
isi adalah perbandingan berat terhadap isi.
2. Peralatan
1. Timbangan dengan ketelitian 0,1 % berat contoh
2. Talam kapasitas besar untuk mengeringkan contoh agregat
3. Tongkat pemadat diameter 15 mm panjang 60 cm dengan memiliki ujung
bulat, sebaiknya terbuat dari baja tahan karat.
4. Mistar perata
5. Skop
6. Wadah baja yang cukup kaku berbentuk silinder dengan alat pemegang,
berkapasitas sebagai berikut :
Tebal wadah minimum
(mm)
dasar

sisi

Ukuran
Butir
(mm)

154,9+2,5

5,08

2,54

12,7

203,2+2,5

292,1+2,5

5,08

2,54

25,4

14,158

254,0+2,5

279,4+2,5

5,08

3,00

38,1

28,316

355,6+2,5

284,4+2,5

5,08

3,00

101,8

Kapasitas
(liter)

Diameter
(mm)

Tinggi
(mm)

2,832

152,4+2,5

9,435

3. Bahan
Agregat kering
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Masukan agregat kedalam talam sekurang-kurang sebanyak kapasitas wadah
sesuai tabel 1. Keringkan dengan oven dengan suhu (110 C) sampai agregat
mempunyai berat tetap.
a. Agregat ini dipakai sebagai benda uji
Berat isi lepas
Isilah wadah (talam) dengan benda uji secara hati-hati agar
tidak terjadi memisahkan butir-butiran dari ketinggian 5 cm
diatas wadah dengan menggunakan sendok skop sampai penuh.
Timbang permukaan benda uji dengan menggunakan mistar
perata.
Timbang dan catat berat wadah beserta talam (W2)
Hitung berat benda uji (W3=W2-W1)
b. Berat isi padat dengan cara penusukan
Timbang dan catat berat wadah (W1)
Page 20

Teknologi Beton

Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapisan sama tebal.
Setiap lapisan dipadatkan dengan tongkat pemadat sebanyak 25
kali tusukan secara merata. Pelaksanaan pemadatan, tongkat
harus tepat masuk sampai lapisan bagian bawah tiap-tiap
lapisan.
Timbang dan catat berat wadah beseta isinya (W3)
Hitung berat benda uji (W3=W2-W1)
c. Berat isi padat dengan cara menggoyangkan
Timbanglah dan catat berat wadah (W1)
Isilah wadah dengan benda uji dalam tiga lapis yang sama
dengan tebalnya.
Padatkan setiap lapis dengan cara menggoyang-goyangkan
dengan wadah sebagai berikut :
- Letakan wadah diatas tempat kokoh dan datar, angkat
salah satu sisinya kira-kira setinggi 5 cm kemudian
lepaskan
- Ulangi hal ini pada yang berlawanan, padatkan lapisan
sebanyak 25 kali setiap sisi.
2. Ratakan wadah dengan menggunakan mistar perata.
3. Timbang dan catat berat wadah beserta benda uji (W2)
4. Hitung berat benda uji (W3=W2-W1)
5. Perhitungan
Berat isi agregat =

kg.dm-3

Dimana :
V = isi wadah
6. Laporan
Laporan berat isi agregat dalam =
Catatan :
Wadah sebelum digunakan harus dikalibrasikan dengan cara :
Isilah wadah sampai penuh dengan air pada suhu kamar, sehingga pada waktu

ditutup dengan plat kaca tidak terlihat gelembung udara


Timbang dan cetak berat wadah beserta isinya
Hitung berat air ( berat air sama dengan isi atau volume wadah ).

Page 21

Teknologi Beton

DINAS BINA MARGA DAN PENGAIRAN


KABUPATEN SUBANG
UPTD LABORATORIUM
PENENTUAN BERAT ISI AGREGAT HALUS
1. No. Order/Contoh
2. Jenis contoh Uji

:
: Pasir Songgom
Page 22

Teknologi Beton
3.
4.
5.
6.
7.

Jeis Pekerjaan
Diterima Tanggal
Di Uji Tanggal
Metode Uji
Hasil Pengujian
Berat Isi Lepas

Berat Contoh + Tempat


Berat Tempat
Berat Contoh
Volume Tempat
Berat Isi Contoh
Berat Isi Rata - Rata
Berat Isi Padat
Berat Contoh + Tempat
Berat Tempat
Berat Contoh
Volume Tempat
Berat Isi Contoh
Berat Isi Rata - Rata

: Praktikum Teknologi Beton


:
: 25-02-2013
: SNI 03-4804-1998
:
Satuan

kg
kg
kg
liter
kg/liter
kg/liter

22,414
8,17
14,244
10
1,4244
1,4244

Satuan

kg
kg
kg
liter
kg/liter
kg/liter

23,844
8,17
15,674
10
1,5674
1,5674

I
I

Notasi

I
I

Notasi

Subang, 07/03/2013
Dikerjakan oleh Teknisi
Tanggal
Tanda Tangan

: Kelompok 3
: 25-02-2-13
:

Page 23

Teknologi Beton

Page 24

Teknologi Beton

BAB VI
PENENTUAN WAKTU IKAT AWAL SEMEN HIDROLIS
Page 25

Teknologi Beton

1. Tujuan Percobaan
Menentukan waktu mengingat permulaan semen hidrolis (dalam keadaan konsistensi
normal 0 dengan alat vicat).
2. Peralatan
1. Mesin aduk (mixer) dengan daun-daun pengaduk dari baja tahan karat serta
mangkok yang dapat dilepas dengan kapsitas (4,73 liter)
2. Alat vicat (dengan memakai jarum seperti pada gambar)
3. Timbangan dengan kepekaan 1,0 gram
4. Alat pengorek dari karet yang kaku
5. Gelas ukur dengan kapsitas 150 ml atau 200 ml
6. Ruang lembab yang mampu memberikan kelembaban relatif minimum 90 %
3. Bahan
1. Semen Portland 650 gram
2. Air bersih (temperatur kamar)
4. Cara Melakukan
1. Pemeriksaan pasta (seperti percobaan 2 butir D-1).
2. Pencetakan benda uji (seperti percobaan butir D-2).
3. Penentuan waktu pengikat :
a. Segera masukan benda uji kedalam ruang lembab dan biarkan, kecuali
hanya pada saat melakukan percobaan waktu pengikat.
b. Pengujian waktu pengikat dilakukan setelah benda jika 30 detik cetak
dalam ruang lembab tidak mengalami keruksakan. Turunkan jarum D
sehingga menyentuh permukaan rata pastanya semen. Keraskan sekrup
E dan geser jarum penunjuk F pada bagian atas dari skaladan lakukan
percobaan pengikatan awal.
c. Lepaskan batang B dengan memutar sekrup E dan biarkan jarum pada
permukaan pasta selama 30 detik. Adakah pembacaan untuk
menetapkan didalamnya penetrasi. Apabila ternyata pasta lembek,
lambatkan penurunan jarum.
d. Jarak antara setiap titik-titik menetrasi benda pasta tidak boleh kurang
dari 6,4 mm dan jarak titiknya yang terdekat dengan dinding dalam
cetakan tidak kurang dari 9,5 mm.
e. Pembesaran dilakukan segera setelah diambil dari ruang lembab setiap
16 menit/15 menit (10 menit untuk semen tipe III).
f. Waktu pengikatan awal tercapai bila penetrasi lebih kecil atau sama
dengan 25 mm, dan waktu pengikatan akhir tercapai bila jarum
membekas pada benda uji.
5. Perhitungan
Untuk mengetahui waktu ikat awal dapat dilihat dalam grafik pada penurunan 25 mm.
6. Laporan
Page 26

Teknologi Beton

1. Gambarkan grafik hubungan antar waktu dengan penurunan


2. Waktu pengikatan awal dan waktu pengikatan akhir pasta semen
7. WAKTU IKATAN
Semen jika dicampur dengan air membentuk bubur yang secara bertahan menjadi
kurang plastis, dan akhirnya menjadi keras. Pada proses ini tahap pertama dicapai ketika pata
semen cukup kaku untuk menahan sesuatu tekanan waktu untuk mencapai tahap ini disebut
sebagai waktu ikatan. Waktu tersebut dihitung sejak air dicampur dengan semen. Waktu
ikatan dibagi menjadi dua bagian, yaitu waktu ikatan awal ( initial time) dan waktu ikatan
akhir ( final setting time ). Waktu dari pencampuran semen dan air sampai saat kehilangan
sifat keplastisannya disebut waktu ikatan awal, lalu waktu sampai mencapai ikatan akhir
disebut sebagai waktu ikatan akhir pada semen. Portland biasa waktu ikatan awal tidak boleh
kurang dari 60 menit dan waktu ikatan akhir tidak boleh lebih dari 480 menit.
Pengertian waktu ikatan awal adalah penting pada pekerjaan beton. Waktu ikatan
awal yang cukup lama diperlukan untuk bekerja beton, yaitu waktu transfortasi , penuh
angina, pemadatan dan peralatan permukaan. Proses ikatan ini disertai perubahan temperatur.
Temperature naik dengan cepat dari ikatan awal dan mencapai puncaknya pada waktu
berakhirnya ikatan akhir. Waktu ikatan yang pendek kenaikan temperature dapat mencapai
30 C. Dalam praktek lama waktu ikatan dipengaruhi oleh jumlah air campuran yang
digunakan dan suhu udara disekitarnya.
PENENTUAN KONSISTENSI NORMAL
1. Tepatkan tengah tengah cincin pada batang B
2. Tempelkan ujung jarum C ke pasta dan kunci skrup E tempatkan indikator F pada
tanda nol skala, lalu lepaskan batang peluncuran selama 30 detik.
Kerjakan percobaan diatas dengan kadar air pada pasta yag berbeda- beda sehingga
konsistensi normal tercapai

Page 27

Teknologi Beton

Initial needle
1
Final needle
2
3
4

9
10

6
7
8

KETERANGAN GAMBAR :
1. Pluyer
2. Baud pengunci pluyer
3. Plat skala
4. Jarum penunjuk skala
5. Jarum
6. Conical mold
7. Plat kaca
8. Plat ebonit
9. Baud jarum skala
10. Rangak

8. DATA DAN ANALISA


Page 28

Teknologi Beton

BAB VII
PERENCANAAN PERCOBAAN CAMPURAN BETON
Page 29

Teknologi Beton

Merencanakan campuran beton dengan data sebagai berikut.

Contoh dengan karakter benda uji Silinder

Renccanakan campuran beton dengan data sebagai berikut.


Mutu beton K225, benda uji silinder, umur 28 hari, cacat maksimum 5 % . Beton kontinu
berhubungan dengan air tawar. Volume pengecoran kecil. Pengawasan pelaksanaan dapat
diterima. Ukuran butir agregat maksimum 20 mm. Semen tipe 1. Agregat halus alami, agregat
kasar batu pecah. Slump 60 180 mm. Temperatur udara di lokasi 300C.
Data fisik agregat :

Data hasil analisa saringan agregat halus

Langkah Langkah Penyelesaian :


1. 1. K 225

bk = 225 kg / cm2, silinder 15, 28 hari , cacat 5 % ( k = 1,64 )


Page 30

Teknologi Beton

2. Deviasi Standar
Isi pekerjaan
Sebut
Volume
an
beton (m)
Kecil
Sedan
g
Besar

< 1000
1000-3000
> 3000

Deviasi standar
Baik
Baik
sekali
5,5 < S
4,5 < S <
< 6,5
5,5 3,5
4,5 < S
< S < 4,5
< 5,5
2,5 < S <
3,5 < S
3,5
< 4,5

(Mpa)
Dapat
diterima
6,5 < S <
8,5
6,5
< S < 7,5
4,5 < S <
6,5

3. Margin, M = k.s = 1,64 x 60 = 98,4 kg/cm.


4. Kuat tekan rata-rata yang direncanakan , bk + M = 225 + 98,4 = 323,4 kg/cm (32,34
MPa).
5. Tipe Semen (Semen Tipe 1)
6. Agregat halus alami, agregat kasar batu pecah
7. Tentukan faktor air semen (fas)= ( 0,55 ) mengikuti langkah berikut :

Jumlah semen minimum


per m beton (kg)

Nilai
faktor
air
semen
maksim
um

275

0.6

325

0.52

a. Tidak terlindung dari hujan dan


terik matahari langsung.

325

0.6

b. Terlindung dari hujan dan terik


matahari langsung.
Beton yang masuk ke dalam tanah

275

0.6

a. Mengalami keadaan basah dan


kering berganti-ganti.
b. Mendapat pengaruh sulfat alkali
dari tanah atau air tanah.
Beton yang kontinu berhubungan
dengan air.
a. Air tawar.

325

0.55

375

0.52

275

0.57

KONDISI LINGKUNGAN

Beton di dalam ruang bangunan


a. Keadaan keliling non-korosif
b. Keadaan keliling korosif
disebabkan oleh kondensasi atau
uap-uap korosif
Beton di luar ruang bangunan

Page 31

Teknologi Beton
b. Air laut.

375

0.52

8. fas maksimum = 0,55

per m beton
(kg)

Nilai
faktor
airsemen
maksim
um

275

0,6

325

0,52

325

0.60

275

0,6

325

0,55

375

0,52

275
375

0,57
0,52

Jumlah semen
KONDISI LINGKUNGAN

minimum

Beton di dalam ruang bangunan


a. Keadaan keliling non-korosif
b. Keadaan keliling korosif
disebabkan
oleh kondensasi atau uap-uap
korosif
Beton di luar ruang bangunan
a. Tidak terlindung dari hujan
dan
terik matahari langsung.
b. Terlindung dari hujan dan terik
matahari langsung.
Beton yang masuk ke dalam
tanah
a. Mengalami keadaan basah
dan
kering berganti-ganti.
b. Mendapat pengaruh sulfat
alkali
dari tanah atau air tanah.
Beton yang kontinu
berhubungan
dengan air.
a. Air tawar.
b. Air laut.

9. fas maksimum 0, 55
10. Nilai Slump = 60 180 mm
11. Ukuran butir nominal agregat maksimum = 20 mm
12. Kadar air bebas ( gunakan Tabel 6 )
Ukuran
besar
butir
agregat
maksimu
m
10 mm

Slump ( mm )
Jenis agregat

Batu tak
dipecah
Batu pecah

010

150
180

10-30 30-60

180
205

205
230

60-180

225
250
Page 32

Teknologi Beton

20 mm
40 mm

Batu tak
dipecah
Batu pecah
Batu tak
dipecah
Batu pecah

135
170

160
190

180
210

195
225

115
155

140
175

160
190

175
205

jadi kadar air bebas = ( 2/3 ). (195) + ( 1/3 ) . ( 225 ) = 205 liter
13. Jumlah semen = jumlah air/fas = : 0,60 = 300 kg.
14. Kadar semen maksimum dianggap tidak ditetapkan.
15. Kadar air semen maksimum = 275 < 300 kg.
16. Tidak perlu penyesuaian fas.
17. Tipe gradasi agregat halus tipe 1

18.

Presentase agregat halus = ( 47 + 52 ) / 2 = 52 %, Presentase agregat kasar


( 100 52 ) = 48 %.

19. Berat jenis relatif = ( 0, 52 x 2,22 ) + ( o,48 x 2,22) = 2,22


20. Berat beton basah 2180
21. Kadar agregat gabungan 2180 ( 215 + 390 ) = 1575 kg
22. Kadar agregat halus (0,52 x 1575) = 819 kg
23.

Kadar agregat kasar ( 1575 819 ) = 756 kg

24. Proposi campuran dengan basis agregat SSD

Page 33

Teknologi Beton

25. Koreksi campuran berdasarkan kondisi agregat saat pelaksanaan ( harus dilakukan jika
pada saat pelaksanaan kondisi agregat tidak SSD )

Misal pada saat pelaksanaan :


Faktor koreksi
Kadar air agregat halus 14,55%
Kadar air agregat kasar 2,35 %
Koreksi penimbangan :
Semen tetap = 390 kg
Air = 215 ( 14,55 19,0 ) x ( 819 / 100 ) ( 2,35 21,06 ) x ( 756 / 100)
= ( 215 + 43,81 + 141,45 ) = 400,27 kg
Agregat halus = ( 819 ) + ( 14,55 19,9 ) x (819 /100)
= ( 819 -43,82 ) = 775,18 kg
Agregat kasar = ( 756 ) + ( 2,35 21,06 ) x ( 756 / 100 )
= ( 756 141,45 ) = 614,55 kg

Volume silinder = (1.14 x 314 x 152) = 176,7 x 30 = 5,30 cm3 x 3 = 15,9 cm3
= ( 0,016 x 2180 ) = 34,7

35 kg

Semen = ( 35 / 2180 ) x ( 390 ) = 6,26 kg


Agregat halus = ( 6,26 / 390 ) x ( 775,18 ) = 12,44 kg
Air
= ( 6,26 / 390 ) x ( 400,27 ) = 6,42 kg
Agregat kasar = ( 6,26 / 390 ) x ( 614,55) = 9,864 kg
Nilai Slump = 180

Page 34

Teknologi Beton

DINAS BINA MARGA DAN PENGAIRAN


KABUPATEN SUBANG
UPTD LABORATORIUM
UJI KEAUSAN AGREGAT
DENGAN MESIN ABRASI LOS ANGELES

1. No. Order/Contoh
2. Jenis Uji Contoh
3. Jenis Pekerjaan
4. Diterima Tanggal
5. Di Uji Tanggal
6. Metode Uji
7. Hasil Pengujian

:
: Batu Pecah Songgom
:
:
: 25-02-2013
: SNI 03-2417-2008
:

Ukuran Saringan
Lolos
76.2 (3")
63.5 ( 2 1/2")
50.8 (2")
36.1 (1 1/2")
25.4 (1")
19.1 (3/4")
12.7 (1/2")
9.52 (3/8")
6.35 (1/4")
4.75 (No. 4)
Jumlah Berat (a), (gr)
Berat tertahan Saringan No. 12
sesudah percobaan (b), (gr)
I. a
=
b
=
a-b=
Keausan-I =

Keausan-II =

Tertahan
63.5 ( 2 1/2")
50.8 (2")
36.1 (1 1/2")
25.4 (1")
19.1 (3/4")
12.7 (1/2")
9.52 (3/8")
6.35 (1/4")
4.75 (No. 4)
2.36 (No. 8)

I
Berat (a)

II
Berat (a)

2500
2500

5000
4271

5000
4271
729

gram
gram
gram

II. a
=
b
=
a-b=

x 100%

x 100%

gram
gram
gram

14,58

Page 35

Teknologi Beton
Keausan Rata - Rata :

14,58

BAB VIII
PEMBUATAN BENDA UJI KUBUS BETON
1. TUJUAN
Untuk pembuatan benda uji sebagai bahan pemeriksaan sesuai dengan mutu beton
yang disesuaikan (direncanakan)
2. PERALATAN
1. Concrete mixer
2. Sekop
3. Talam persegi ukuran (60 x 60 x 10)
4. Ember
5. Timbangan dengan kapasitas 100 kg
6. Sendok aduk
7. Sendok perata
8. Gelas ukur
9. Kubus dengan ukuran (15 x 15 x 15)
3. BAHAN
1. Agregat kasar (split)
2. Agregat halus (pasir)
3. Semen
4. Air
(dengan hasil perhitungan)
4. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Bersihkan bagian dalam concrete mixer
2. Masukan bahan-bahan camuran beton hasil perhitungan tadi yang telah
ditimbang kedalam concrete mixer
3. Jalankan mesin pengaduk betob pelan-pelan agar campuran pasir dan split
merata
4. Setelah campuran tersebut rata, tambahkan semen, lalu putar sampai merata
5. Setelah campuran tersebut rata, tambahkan air ke pengaduk sedikit demi
sedikit
6. Aduk sampai homogen (dilakukan selama 3 menit)
7. Letakan talam besar didepan concrete mixer sedemikian sehingga tumpahan
beton akan jatuh kedalam talam
8. Setelah diperoleh campuran yang homogen, buka pengunci tuas pengungkit
lalu gulingkan corong concrete mixer sehingga campuran beton yang ada
didalamnya tumpah kedalam talam, adukan beton siap dipakai pekerjaan
selanjutnya
9. Setelah tumpah semua, bersihkan bagian dalam concrete mixer dengan air
untuk mencegah pengerasan beton yang sulit dibersihkan
Page 36

Teknologi Beton

1
4
2

KETERANGAN GAMBAR :
1. Mold mixer
2. Box motor
3. Handle pengunci mold
4. Pemutar roda

BAB IX
SLUMP TEST BETON
Page 37

Teknologi Beton

1. Tujuan
Tujuan pengujian ini adalah untuk memperoleh besaran kekentalan (slump) beton.
2. Peralatan
1. Cetakan dari logam setebal 1,2 mm berupa kerucut terpancung (cone) dengan
bagian bawah 203 mm, bagian atas dibagian bawah terbuka.
2. Tongkat pemadat diameter 16 mm, panjang 600 mm dengan ujung dibulatkan,
dibuat dari baja yang tahan karat.
3. Plat logam dengan permukaan yang kokoh, rata dan kedap air.
4. Sendok cekung tidak menyerap air dan mistar ukur.
3. Benda uji
Pengambilan benda uji harus dari contoh beton segar yang mewakili beton segar.
4. Prosedur Pelaksanaan
1. Basahi cetakan dan plat dengan kain basah.
2. Letakan cetakan diatas plat yang kokoh.
3. Isilah cetakan sampai penuh dengan beton segar dalam 3 lapis; tiap lapis (kirakira 1/3) isi cetakan; setiap lapis ditusuk dengan tongkat pemadat sebanyak 25
tusuk secara merata; tongkat harus masuk sampai bawah ditiap-tiap lapisan;
pada penusukan bagian bawah,tongkat dimiringkan sesuai kemiringan
cetakan.
4. Segera setelah selesai penusukan, ratakan permukaan benda uji dengan
tongkat dan semua sisa benda uji yang jatuh disekitar cetakan harus
disingkirkan; kemudian cetakan diangkat perlahan-lahan tegak lurus keatas;
seluruhnya pengujian mulai dari pengisian sampai cetakan diangkat harus
selesai dalam jangka waktu 2,5 menit.
5. Balikan cetakan dan letakan perlahan-lahan disamping benda uji;ukurlah
slump yang terjadi dengan menentukan perbedaan tinggi cetakan dengan
tinggi rat-rata benda uji.

5. Pengukuran Slump
Pengukuran slump harus segera dilakukan dengan cara tegak lurus antara tepi cetakan
dengan tinggi rata-rata benda uji; ukurlah untuk mendapat hasil lebih teliti dilakukan
dua kali pemeriksaan dengan adukan yang sama dan laporkan hasil rata-ratanya.

6. Laporan
Laporan slump yang didapat dari pekerjaan tersebut, apabila ada hal yang terjadi tidak
sesuai rencana, beriakan kesimpulan. (Tinggi slump yang didapat dari hasil percobaan
= 18 cm)
Page 38

Teknologi Beton

5
2

6
4

KETERANGAN GAMBAR :
1. Corong slump
2. Mistar pengukur
3. Batang pengaduk
4. Plat alas
5. Scoop
6. Sendok aduk
7. Sikat pembersih

BAB X
PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON

1. TUJUAN
Untuk mengetahui kekuatan tekan karakteristik beton keras
Page 39

Teknologi Beton

2. PERALATAN
1. Mesin tekan (compression testing machine)
2. Cetakan silinder/kubus beton
3. Capping set
3. BENDA UJI
Kubus / silinder beton yang telah cukup umur untuk pengetesan dalam keadaan kering
4. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Ambil benda uji dari ruang lembab/perendaman dan lap basah (lembab)
2. Timbang beratnya dan ukur permukaan yang akan ditekan tentukan luas
permukaannya
3. Jika berbentuk silinder, sebelum benda uji ditekan harus dikeping terlebih
dahulu untuk mendapatkan permukaan yang betul-betul simetris
4. Letakan benda uji pada mesin tekan secara simetris
5. Periksa jarum manometer pada mesin yang akan digunakan skala nol
6. Jalankan mesin dengan penambahan beban berkisar antara 2 sampai 4 kg/cm2
7. Pembebanan ini dilakukan sampai beban maksimum dan catat hasilnya
8. Hitung kuat tekan dari benda uji tersebut
5. PERHITUNGAN
kg/cm2

Kuat tekan beton =

1
benda uji
2
6

3
10
4
5

7
8
9

KETERANGAN GAMBAR :
Page 40

Teknologi Beton

1. Manometer
2. Plat atas
3. Rangka
4. Plat bawah
5. Silinder hidrolik
6. Slang oli
7. Pompa hidrolik
8. Slang bend
9. Slang eject
10. Dudukan tambahan

6. DATA

Page 41

Teknologi Beton

Page 42