Anda di halaman 1dari 13

UJI LARVASIDA EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.

)
TERHADAP LARVA Aedes aegypti L. INSTAR III
Uzmil Arifa1, Kurnia Fitri Jamil2, Cut Gina Inggriyani3
1)Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, 2) Bagian Penyakit
Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala , 3)Bagian Histologi
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

ABSTRAK
Manggis merupakan tumbuhan yang memiliki efek larvasida. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menguji efek larvasida ekstrak kulit manggis (Garcinia
mangostana L.) terhadap larva Aedes aegypti L. instar III. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan.
Perlakuan terdiri dari ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) 100 ppm,
200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, kontrol positif (abate) dan kontrol
negatif (aquades). Data yang dihasilkan dari penelitian ini dianalisis dengan
menggunakan Analysis of Variance (Anova) dan analisis probit. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol kulit Garcinia mangostana L.
dapat menyebabkan kematian larva Aedes aegypti L. dengan Fhitung sebesar
869,167 (p<0,05). Hasil analisis probit menunjukkan nilai LC50 dari ekstrak etanol
kulit Garcinia mangostana L adalah sebesar 204,668 ppm. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah ekstrak etanol kulit Garcinia mangostana L. berpengaruh
terhadap kematian larva Aedes aegypti L. dan aktif sebagai larvasida.
Kata Kunci : Garcinia mangostana L., Aedes aegypti L., Larvasida

ABSTRACT
Mangosteen is a plant that has the effect of larvacide. The purpose of this
research was to find out the effect of extraction mangosteens peel (Garcinia
mangostana L.) on mortality of Aedes aegypti L. instar III. This research used
Completely Randomized Design (CRD) with 7 treatments and 4 replications. The
treatments consisted of Garcinia mangostana L. peel ethanol extract using
concentration 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm, 1500 ppm, positive control
(abate) and negative control (aquades). The data which was generated from the
result of this research were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and
Probit analysis. The result of this research showed that ethanol extract of
Garcinia mangostana L. peel can cause mortality for Aedes aegypti L. larval
which F-value 869,167 (p<0,05). The results of probit analysis showed that value
of LC50 on Garcinia mangostana L. peel ethanol extract was 204,668 ppm. The
conclusion of this research is ethanol extract of Garcinia mangostana L. peel
influenced the mortality of Aedes aegypti L. larval and can be active as
larvacidal.
Keywords: Garcinia mangostana L., Aedes aegypti L., Larvacidal

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara
yang memiliki keanekaragaman
hayati terbesar ke-2 di dunia setelah
Brazil, termasuk tumbuhan yang
dapat digunakan sebagai larvasida
nabati, salah satunya adalah tanaman
manggis.
Manggis
(Garcinia
mangostana L.) adalah sejenis pohon
hijau di daerah tropis yang dapat
tumbuh hingga ketinggian 7 sampai
25 meter, buahnya berwarna merah
keunguan ketika matang. Tumbuhan
ini pertama kali di temukan di
Indonesia dan Malaysia kemudian
penyebarannya hingga Myanmar,
Kamboja, Thailand dan Filipina. (1)
Kulit manggis yang merupakan
limbah industri makanan selama ini
dibuang
ternyata
mengandung
banyak manfaat, di antaranya sebagai
insektisida, antioksidan, antialergi,
antitumor, antibakteri dan antiviral.
Berdasarkan analisa fitokimia dan
biokimia didapatkan bahwa kulit
manggis (Garcinia mangostana L.)
mengandung senyawa metabolit
sekunder
golongan
alkaloid,
triterpenoid, saponin, flavonoid,
tanin dan polifenol. Senyawa ini
diduga dapat berfungsi sebagai
larvasida. (2)
Demam Berdarah Dengue
(DBD) banyak ditemukan di daerah
tropis dan sub-tropis. Penyakit ini
pertama kali ditemukan di Filipina
pada tahun 1953 kemudian menyebar
ke negara lain seperti Thailand,
Vietnam, Malaysia dan Indonesia.(3)
Kasus DBD pertama kali dilaporkan
di Surabaya pada tahun 1968 di
Indonesia. Sebanyak 58 orang

terinfeksi dan 24 orang di antaranya


meninggal dunia (Angka Kematian :
41,3%). Sejak saat itu penyakit DBD
menyebar luas ke seluruh pelosok
Indonesia. Sementara itu, terhitung
sejak tahun 1968 hingga tahun 2009,
World Health Organization (WHO)
mencatat negara Indonesia sebagai
negara dengan kasus DBD tertinggi
di Asia Tenggara. Sejak tahun 1968
telah terjadi peningkatan persebaran
jumlah provinsi dan kabupaten/kota
yang endemis DBD, dari 2 provinsi
dan 2 kota, menjadi 32 (97%) dan
382 (77%) kabupaten/kota pada
tahun 2009. Peningkatan jumlah
kasus DBD pada tahun 1968 hanya
58 kasus menjadi 158.912 kasus
pada tahun 2009. Insidensi DBD
pada tahun 2009 adalah 35,36 per
100.000 penduduk di Aceh.(3) Dinas
Kesehatan Aceh mencatat terjadi
peningkatan tahun 2011 dengan
insidensi
56,40
per
100.000
(4)
penduduk.
Sampai saat ini masih belum
ditemukan obat spesifik untuk
mengatasi penyakit DBD, prinsip
terapi utama adalah terapi suportif,
berupa pengendalian lingkungan,
pengendalian genetik, pengendalian
biologi/hayati, dan pengendalian
kimia.(5)
Pengendalian
kimia
merupakan pengendalian paling
efektif
dengan
menggunakan
larvasida sintetis namun sering
menimbulkan spesies yang resisten
dan
menganggu
keseimbangan
lingkungan karena residunya tidak
dapat
terurai
langsung
di
(6)
lingkungan.
Insektisida standar
yang digunakan adalah insektisida

organik sintetik berupa insektisida


organofosfor
dengan
metode
pengasapan fogging atau penaburan
bubuk abate pada penampungan air.
Namun insektisida organofosfor ini
dapat menimbulkan efek yang
merugikan. Manusia dapat menderita
keracunan
akibat
insektisida
organofosfor yang umumnya gejala
akan timbul secara akut, mulai dari
keluhan ringan seperti hiperhidrosis
dan gangguan bernapas hingga
keluhan berat seperti gagal nafas dan
koma. Selain itu terjadi pula
resistensi pada vektor yang berarti
vektor telah mampu bertahan
terhadap
pengaruh
insektisida
dengan dosis yang biasa.(7) Oleh
karena itu perlu studi alternatif lain
dalam menghentikan vektor penyakit
ini,
salah
satunya
dengan
penggunaan insektisida organik yang
berasal
dari
tumbuh-tumbuhan.
Komposisi
kimiawi
tumbuhan
ditentukan oleh komposisi kimia
tanah. Oleh sebab itu penelitian ini
perlu dilakukan di Aceh.
Berdasarkan latar belakang di
atas, maka penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui efek larvasida dari
ekstrak kulit manggis (Garcinia
mangostana L.) terhadap larva Aedes
aegypti L.
METODE PENELITIAN
Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimen laboratorium dengan
Rancangan Acak Lengkap (RAL).
Penelitian ini dibagi dalam 7
kelompok, yaitu 5 kelompok
perlakuan dan 2 kelompok kontrol.

Setiap
kelompok
dilakukan
pengulangan sebanyak 4 kali.
Sampel
Sampel yang digunakan adalah larva
Aedes aegypti L. instar III. Pemilihan
instar III sebagai sampel karena
ukurannya lebih besar dari instar I
dan instar II sehingga lebih mudah
dalam perhitungan. Instar III
memiliki ketahanan fisik yang kuat
terhadap faktor mekanik, memiliki
waktu yang cukup lama menjadi
pupa dan sudah memiliki struktur
anatomi yang jelas. Jumlah sampel
yang digunakan adalah sebanyak 280
larva.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah
vacum rotary evaporator, kertas
saring, botol maserasi, batang
pengaduk,
ovitrap,
wadah
pemeliharan larva, gelas cup, gelas
ukur, timbangan digital, refrigerator,
test plate, dan tabung reaksi.
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kulit manggis,
ekstrak etanol kulit manggis, larva
Aedes aegypti L. instar III, aquades,
hati ayam rebus yang digerus, abate,
H2SO4 2 N, FeCl2, HCl 0,5 M, etanol
80%, amoniak, kloroform, pereaksi
Liebermann-Burchard,
reagen
Mayer, reagen Dragendorf, reagen
Wagner, n- heksana dan serbuk Mg
0,5 mg.
Esktraksi Kulit Manggis
Serbuk simplisia kulit manggis
sebanyak 500 g di Pasar Tungkop
daerah Darussalam, Banda Aceh.
Kulit
manggis
dibersihkan,
dikeringkan dan dipotong kecil-kecil.
Kemudian sampel di maserasi
dengan pelarut etanol sebanyak 1,5 L

selama tiga hari. Ekstrak yang


diperoleh lalu dipekatkan dengan
vacum rotary evaporator pada suhu
50oC sampai diperoleh ekstrak yang
kental.
Uji Fitokimia
Uji fitokimia dilakukan untuk
mengetahui metabolit sekunder yang
terdapat pada kulit manggis. Uji
yang dilakukan adalah uji alkaloid,
uji tanin, uji flavonoid, uji steroid, uji
triterpenoid, dan uji saponin.
Variasi Konsentrasi Ekstrak Kulit
Manggis

Uji Larvasida
Dari jumlah 280 ekor larva Aedes
aegypti L. dimasukkan sebanyak 10
ekor ke tiap 100 ml larutan ekstrak
kulit manggis dengan konsentrasi
berbeda, larutan abate, dan aquades.
Pada tiap pengulangan ekstrak etanol
kulit manggis dibuat dengan
konsentrasi 100, 200, 500, 1000, dan
1500 ppm. Setiap konsentrasi dibuat
ulangan sebanyak empat kali.
Penelitian ini menggunakan aquades
sebagai kontrol negatif dan bubuk
abate sebagai kontrol positif.
Parameter Penelitian

Ekstrak etanol kulit manggis


sebanyak 4 g diencerkan dengan
aquades hingga volumenya 1 L maka
didapatkan konsentrasi 4.000 ppm
dengan
perhitungan
menurut
Harborne sebagai berikut:(18)

4000
A ppm (mg/L) = = 1 =
4000 ppm
Ekstrak kulit manggis 4.000
ppm kemudian diencerkan dengan
aquades dalam gelas uji menjadi 4
konsentrasi, yaitu 1500 ppm, 1000
ppm,
500
ppm,
200
ppm
menggunakan rumus pengenceran.
Rumus pengenceran yang digunakan
menurut Setyani, yaitu(15)
C1 . V1 = C2 . V2
Keterangan:
C1 = konsentrasi ekstrak awal
C2 = konsentrasi
ekstrak
yang
diinginkan
V1 = volume yang dicari
V2 = volume yang diinginkan

Parameter yang diamati dalam


penelitian
ini
adalah
jumlah
kematian larva Aedes aegypti L.
instar III setelah pemberian ekstrak
etanol kulit manggis (Garcinia
mangostana L.) dengan berbagai
konsentrasi dalam ppm dan kematian
larva pada kelompok kontrol.
Kematian larva ditandai dengan larva
yang tidak bergerak di dasar gelas uji
dan tidak memiliki respon terhadap
rangsangan.
Analisis data
Pengumpulan data penelitian
ini adalah dengan mengamati dan
mencatat jumlah kematian larva
Aedes aegypti L. akibat pemberian
ekstrak etanol kulit manggis dengan
berbagai konsentrasi berbeda setiap
jam dalam 24 jam. Data yang telah
terkumpul kemudian diolah dengan
tahapan
coding,
editing
dan
tabulating, lalu disajikan dalam
bentuk tabel.
Data kematian larva setelah
diberi perlakuan dengan beberapa
konsentrasi ekstrak kulit manggis
dianalisis dengan analisis probit
untuk menentukan nilai LC50 dan

untuk melihat apakah ada pengaruh


ekstrak etanol kulit manggis terhadap
kematian larva Aedes aegypti L.
dilakukan analysis of Variance
(ANOVA)
satu
arah
dengan
menggunakan program SPSS 17 dan
dilanjutkan dengan uji Duncan pada
taraf 5%.

HASIL PENELITIAN
Hasil esktraksi yang didapatkan dari 500 g serbuk simplisia kulit manggis
segar adalah sebanyak 24 g. Data hasil uji larvasida dilakukan analisis probit dan
didapatkan nilai LC50 adalah 204,668 ppm dan LC90 adalah 443,033 ppm. Hasil
pengujian larvasida juga dilakukan analisis menggunakan Analysis of Variance
(ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf 5%.
Tabel 4.1 Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Etanol Kulit Manggis (Garcinia
mangostana L.)
No
1

Senyawa
Kimia
Alkaloid
Mayer
Wagner
Dragendorf
Steroid

Hasil
+
+
+
+

Hasil Pengamatan
Terdapat endapan berwarna putih
Terdapat endapan coklat
Terdapat endapan merah
Terjadi perubahan warna menjadi hijau

Triterpenoid

Tidak terdapat warna merah

Saponin

Berbusa + 30 menit

Flavanoid

Terdapat warna kuning jingga

Tanin

Terdapat endapan hijau kehitaman

5
6

Tabel 4.2 Hasil Uji Larvasida Ekstrak Etanol Kulit Manggis (Garcinia
mangostana L.) terhadap Larva Aedes aegypti L.
Mortalitas
(%)
I

Ulangan
Perlakuan

Jenis

Jumlah
I

II

III

IV

Kp

Abate+aquades

10

10

10

Kp

Abate+aquades

10

Kn

Aquades

Kn

Aquades

P1

1500 ppm

10

10

10

P1

1500 ppm

10

P2

1000 ppm

10

10

10

P2

1000 ppm

10

P3

500

ppm

P3

500

ppm

P4

200

ppm

P4

200

ppm

P5

100

ppm

P5

100

ppm

Tabel 4.3 Hasil Analisis Anova Kematian Larva Aedes aegypti L. Akibat
Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.)
Sumber
Keragaman
Perlakuan

Derajat
Bebas
6

Jumlah
Kuadrat
372,500

Kuadrat
Tengah
62,083
0,071

Galat

21

1,500

Total

27

374,000

F hitung
869,167**

F Tabel
0,05
2,57 Perlakuan
Galat
Total

Keterangan :
** = berbeda sangat nyata

Tabel 4.4 Rata rata Kematian Larva Aedes aegypti L. pada Berbagai
Perlakuan
Perlakuan

konsentrasi

Rata-rata kematian larva

KP

Aquades + abate 10 mg

10, 00a

P1

Ekstrak kulit manggis

1500 ppm

10, 00a

P2

Ekstrak kulit manggis

1000 ppm

10, 00a

P3

Ekstrak kulit manggis

500 ppm

8, 75b

P4

Ekstrak kulit manggis

200 ppm

7, 00c

P5

Ekstrak kulit manggis

100 ppm

3, 25d

KN

aquades

0, 00e

PEMBAHASAN
Proses
ekstraksi
kulit
manggis
pada
penelitian
ini
dilakukan selama + 10 hari mulai
dari pengeringan sampel hingga
evaporasi. Pelarut yang digunakan
adalah etanol 96% karena sifatnya
yang dapat melarutkan hampir semua
zat, baik yang bersifat polar maupun
non polar. Etanol mudah menembus
membran sel tumbuhan untuk
menarik senyawa aktif dalam intra
sel.(40) Sebanyak 500g serbuk
simplisia kulit manggis dimaserasi
selama 3 hari. Selanjutnya pelarut
dipisahkan
dari
larutan
dan
dipekatkan menggunakan rotary
evaporator. Rotary evaporator dapat
mendidihkan cairan pada suhu jauh
di bawah titik didihnya dan memutar
dengan kecepatan 188 rpm sehingga
larutan dan pelarutnya terpisah.
Etanol lebih mudah diuapkan dengan
rotary evaporator sehingga tidak
memerlukan waktu yang lama untuk
mendapatkan ekstrak yang kental.(2)
Hasil uji fitokimia ekstrak
etanol kulit manggis menunjukkan
bahwa kulit manggis mengandung
senyawa metabolit sekunder berupa
alkaloid, steroid, saponin, flavanoid
dan tanin. Hasil ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh
Obolsky bahwa ekstrak kulit
manggis memiliki kandungan kimia
berupa alkaloid, steroid, triterpenoid,
saponin, flavanoid dan tanin.(2)
Namun pada uji fitokimia yang telah

dilakukan, uji triterpenoid negatif.


Hal ini sejalan dengan pernyataan
Kreis bahwa perbedaan struktur
tanah, kelembaban, suhu serta
cahaya mempengaruhi kandungan
kimia tumbuhan.(35)
Uji larvasida ekstrak kulit
manggis Garcinia mangostana L.)
terhadap larva Aedes aegypti L.
instar III dilakukan dalam suhu 27 30C dengan kelembaban 72%.
Kondisi suhu dan kelembapan udara
tempat perindukan cukup sehingga
memenuhi
syarat
untuk
perkembangan dan pertumbuhan
larva.(19) Berdasarkan penelitian yang
telah dilakukan, ekstrak etanol kulit
manggis memiliki aktivitas larvasida
terhadap Aedes aegypti L. yang dapat
dilihat pada Tabel 4.2. Walaupun
rata - rata persentase yang
ditunjukkan pada perlakuan kontrol
positif dan ekstrak etanol kulit
manggis 1500 ppm adalah sama,
namun kontrol positif tetap lebih
efektif
karena
jangka
waktu
kematian larva akibat pemberian
abate lebih cepat.
Penelitian ini menggunakan 2
kelompok kontrol yaitu kontrol
positif (KP) dan kontrol negatif
(KN). KP berupa aquades + abate
sedangkan KN berupa aquades.
Respon mortalitas larva pada kontrol
positif sudah mencapai 100% pada 2
jam setelah perlakuan. Kematian
larva yang lebih cepat dari kelompok
perlakuan ekstrak kulit manggis
1500
ppm
disebabkan
oleh
kandungan
organofosfat
yang
terdapat dalam abate. Insektida
organofosfat merupakan racun saraf

yang bekerja dengan menghambat


kolinestrase
(ChE)
yang
mengakibatkan kelumpuhan dan
kematian pada larva.(30) Respon
mortalitas pada kontrol negatif
adalah 0%. Berarti aquades tidak
berpengaruh terhadap kematian
larva. Persentase kematian larva 0%
menunjukkan larva uji hanya
pengaruhi oleh pemberian ekstrak.
Nilai LC50 yang diperoleh
dari analisis probit pada data hasil uji
larvasida adalah 204,668 ppm,
seperti yang terlihat pada Lampiran
7. Hal ini menunjukkan bahwa
ekstrak kulit manggis memiliki efek
larvasida terhadap larva Aedes
aegypti L.
Kematian larva Aedes aegypti
L. diduga disebabkan oleh senyawa
metabolit sekunder yang terdapat
dalam ekstrak kulit manggis
(Garcinia mangostana L.) berupa
alkaloid, steroid, saponin, flavanoid,
dan tanin. Kulit manggis memiliki
senyawa -mangosteen yang terbukti
memiliki sifat antikanker dan
antioksidan namun hingga saat ini
belum
ada
literatur
yang
membuktikan senyawa ini berefek
terhadap larvasida.(15,16,32)
Alkaloid dalam kulit manggis
(Garcinia
mangostana
L.)
menimbulkan rasa pahit yang tinggi
sehingga akan mengganggu proses
pengambilan makanan oleh larva dan
menganggu
sistem
pernafasan
maupun sistem saraf larva melalui
aksi toksik.(35)
Saponin dapat mengikat sterol
bebas dalam tubuh larva. Sterol
bebas tersebut berperan sebagai
prekursor hormon edikson, yaitu
hormon yang berperan dalam proses
pergantian kulit larva. Saponin dapat
melisis lapisan lilin (kutikula) pada
permukaan luar tubuh larva, lisisnya

lapisan ini menyebabkan terjadinya


peningkatan penguapan, sehingga
larva akan mati karena kehilangan
cairan.
Saponin
juga
dapat
menurunkan tegangan permukaan
saluran pencernaan larva sehingga
saluran pencernaan larva menjadi
korosif, saponin dapat masuk ke
dalam saluran pernafasan serangga
sehingga
menggangu
proses
pernafasan larva.(35)
Steroid merupakan molekul
besar yang memiliki struktur kimia
yang
hampir
sama
dengan
(18)
triterpenoid.
Steroid
dapat
menyebabkan kematian larva karena
senyawa ini berperan sebagai
toksikan. Steroid bersifat toksik
karena pada konsentrasi rendah saja
mampu merusak dinding traktus
digestivus larva. (35)
Flavonoid merupakan senyawa
yang bersifat antifeedant terhadap
larva. Senyawa antifeedant tidak
membunuh atau mengusir organisme
sasarannya,
tetapi
menghambat
selera makan larva. Selain itu,
flavonoid juga bekerja sebagai
inhibitor kuat pernafasan larva
sehingga mengakibatkan kematian
pada larva. (31)
Tanin dapat menekan aktivitas
enzim protease dan amilase pada
saluran pencernaan larva sehingga
kemampuan
serangga
untuk
mencerna makanan menurun. Tanin
dapat mengikat protein pada saluran
cerna serangga yang diperlukan
untuk proses pertumbuhan, sehingga
proses penyerapan protein dalam
sistem
pencernaan
menjadi
terganggu. Respon larva pada
senyawa ini adalah menurunnya laju
pertumbuhan dan gangguan nutrisi.
Pengamatan morfologi tubuh
larva Aedes aegypti L. dilakukan
untuk
melihat
perubahan

perubahan yang terjadi pada tubuh

larva Aedes aegypti L. sebelum dan


sesudah pemberian ekstrak kulit
manggis (Garcinia mangostana L.).
Pergerakan larva sangat aktif
sebelum pemberian ekstrak kulit
manggis. Secara mikroskopik terlihat
tubuh larva Aedes aegypti L.
berwarna hitam pekat segar, caput,
siphon dan saluran pencernaan
terlihat normal pada gambar 4.2.
Pada
pemberian
abate,
pergerakan larva semakin menurun,
pergerakan yang menurun diduga
diakibatkan
oleh
kandungan
organofosfat pada abate yang bersifat
neurotoksik. Secara mikroskopis
terlihat
bahwa
warna
caput
kehitaman, tubuh larva memucat,
siphon memucat dan saluran
pencernaan menghitam pada gambar
4.3. Bentuk perubahan morfologi
tersebut diduga diakibatkan oleh
insektisida organofosfat pada abate.
Insektisida
organofosfat
menghambat kolinestrase(ChE) pada
larva
sehingga
mengakibatkan
kelumpuhan menyeluruh pada semua
organ larva.(30)
Pada pemberian ekstrak kulit
manggis, pergerakan larva semakin
menurun. Pergerakan larva yang
menurun diduga diakibatkan oleh
alkaloid yang bersifat neurotoksik
sehingga mengganggu sistem saraf
dan sistem pernafasan. Secara
mikroskopik terlihat bahwa warna
caput kehitaman, tubuh larva
memucat, siphon menghitam, serta
saluran
pencernaan
terlihat
menghitam pada gambar 4.4. Caput
menghitam diduga diakibatkan oleh
alkaloid yang bersifat neurotoksik
dengan mengganggu sistem saraf
larva. Tubuh larva memucat diduga
diakibatkan oleh saponin yang dapat
melisis lapisan lilin (kutikula) pada
tubuh larva sehingga larva mati
karena kekurangan cairan. Siphon

menghitam diduga diakibatkan oleh


flavanoid, alkaloid dan saponin
karena flavanoid bersifat inhibitor
kuat pernafasan larva, alkaloid dapat
mengganggu sistem pernafasan
larva, saponin dapat masuk ke sistem
pernafasan
larva
sehingga
mengganggu proses pernafasan
larva.
Saluran
pencernaan
menghitam diduga diakibatkan oleh
steroid, tanin dan saponin karena
steroid dengan konsentrasi rendah
saja dapat merusak dinding traktus
digestivus
larva,
tanin
dapat
menganggu proses pencernaan larva,
dan saponin dapat menurunkan
tegangan
permukaan
saluran
pencernaan larva sehingga saluran
pencernaan
larva
menjadi
korosif.(18,31,35)
KESIMPULAN
1. Ekstrak kulit manggis (Garcinia
mangostana

L.)

berpengaruh

terhadap kematian larva Aedes


aegypti L. instar III
2. Ekstrak

etanol

kulit

manggis

efektif sebagai larvasida terhadap


larva Aedes aegypti L. dengan
LC50 sebesar 204,668 ppm
SARAN
Perlu dilakukan penelitian
lebih lanjut tentang isolasi dan
karakterisasi senyawa aktif larvasida
kulit manggis (Garcinia mangostana
L.) terhadap larva Aedes aegypti L.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Hartono SB. Mengobati Kanker


Dengan Manggis. Yogyakarta:
Second Hope; 2011. 2 p.

2.

Obolskiy
D,
Pischel
I,
Siriwatanametanon N, Heinrich
M. Garcinia mangostana L.: a
phytochemical
and
pharmacological
review.
Phytotherapy research : PTR.
2009;23(8):1047-65.

3.

4.

5.

Kementrian Kesehatan Republik


Indonesia. Informasi Umum
Berkala Dengue 2011. In: Dinas
Kesehatan, editor. Indonesia:
Pusat Data dan Surveilans
Epidemiologi; 2011. p. 1-3.
Dinas Kesehatan Aceh. Data
Informasi Kesehatan Aceh 2012.
In: Dinas Kesehatan Republik
Indonesia, editor. Indonesia:
Departemen Kesehatan RI;
2012. p. 20-1.
Suhendro, Nainggolan L, Chen
K, Pohan HT. Demam Berdarah
Dengue. In: Sudoyo, editor.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
3. IV ed. Jakarta: Internal
Publishing Pusat Penerbitan
Ilmu Penyakit Dalam; 2009. p.
2773-9.

6.

Adriani R. Usaha Pengendalian


Pencemaran Lingkungan Akibat
Penggunaan Peptisida Pertanian.
Jurnal Kesehatan Lingkungan.
2006;3(1):95-106.

7.

Agoes R. Nyamuk Sebagai


Vektor
Penyakit
Demam
Berdarah Dengue(DBD). In:
Natadisastra
D,
editor.
Parasitologi Kedokteran Ditinjau
dari
Organ
Tubuh
yang
Diserang. Jakarta: EGC; 2009. p.
315-9.

8.

Cronquist A. An Integrated
System of Classification of
Flowering Plants.
The New
York Botanical Garden. New
York: Columbia University
Press; 1981. p. 337.

9.

Ong HC. Buah:


Khasiat
Makanan dan Ubatan. Kuala
Lumpur: Utusan Publications;
2004. 103 p.

10. Osman
MB,
Mangosteen:
Mangostana.
University of
2006. 10 p.

Milan
AR.
Garcinia
Chichester:
Southampton;

11. International Plant


Genetic
Resources Institute. Descriptors
for
Mangosteen
(Garcinia
Mangostana). Rome: IPGRI;
2003. 6-11 p.
12. Wiebel J, Chacko EK, Downton
WJS, Ludders P. Influence of
irradiance on photosynthesis,
morphology and growth of
mangosteen
(Garcinia
mangostana L.) seedlings. Tree
Physiology. 1994;14(3):263-74.
13. Lim TK. Garcinia Mangostana.
In: Fruits, editor. Edible
Medicinal and Non-Medicinal
Plants. 2. New York: Springer
Science and Business Media;
2012. p. 83-108.
14. Holistic
Health
Solution.
Khasiat Fantastis Kulit Manggis.
In: HHS, editor. Jakarta:
Grasindo; 2011. p. 15-26.
15. Setyani A. Uji Aktivitas
Antijamur -mangostin Hasil
Isolasi Kulit Buah Manggis
(Garcinia
mangostana
L)
Terhadap
Massaezia
sp.
Surakarta: S.N; 2010. 9-13 p.
16. Chen LG, Yang LL, Wang CC.
Anti-inflammatory activity of

mangostins
from
Garcinia
mangostana. Food and chemical
toxicology : an international
journal published for the British
Industrial Biological Research
Association. 2008;46(2):688-93.
17. Chaverri JP, Rodriguez NC,
Ibarra
MO,
Rojas
JMP.
Medicinal
properties
of
mangosteen
(Garcinia
mangostana).
Food
and
Chemical
Toxicology.
2008;46:3232-323.
18. Harborne JB. Metode Fitokimia:
Penuntun
Cara
Modern
Menganalisa
Tumbuhan.
Bandung: ITB; 1987. p. 43-88.
19. Soegijanto S. Demam Berdarah
Dengue. 2nd ed. Surabaya:
Airlangga University Press;
2006. 3-4 p.
20. Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin
PK, Sungkar S. Vektor Penyakit
Virus, Riketsia, Spiroketa, dan
Bakteri. In: Saleha, editor. Buku
Ajar Parasitologi Kedokteran.
IV ed. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2008. p. 265-7.
21. Ginanjar G. Demam Berdarah.
Yogyakarta: Mizan Publika;
2008. p. 10-9
22. Astuti LS. Klasifikasi Hewan:
Penamaan,
Ciri,
dan
Pengelompokannya.
Jakarta:
Kawan Pustaka; 2007. 56-60 p.
23. Howell P, Collins FH. Center for
Disease Control Public Health
Image Library, Adult yellow
fever mosquito, Aedes aegypti
(Linnaeus), showing the white
lyre shape on the dorsal side
of the thorax. In: Zettel C,
Kaufman P, editors. Yellow
fever mosquito Aedes aegypti
(Linnaeus) (Insecta: Diptera:

Culicidae). Florida: University


of Florida; 2012. p. 3.
24. Soedarto. Parasitologi Klinik.
Surabaya: Airlangga University
Press; 2008. 63-5 p.
25. Centers for Deases Control and
Prevention. Mosquito LifeCycle. Divission of VectorBorne Infectious Disease; 2012.
35 p.
26. World Health Organization.
Panduan Lengkap Pencegahan
Pengendalian
Dengue
dan
Deman
Berdarah
Dengue.
Jakarta: EGC; 2005. 21-3 p.
27. Brown HW. Dasar Parasitologi
Klinis. Jakarta: PT Gramedia;
1979. 102-6 p.
28. Sembel
DT.
Entomologi
Kedokteran. Yogyakarta: ANDI;
2009. 125-30 p.
29. World Health Organization.
Dengue:
Guidelines
for
Diagnosis,
Treatment,
Prevention and Control. France:
World Health Organization;
2009. 14-20 p.
30. Agoes
R.
Pemberantasan
Arthropoda dan Pengendalian
Vektor. In: Natadisastra D,
editor. Parasitologi Kedokteran
Ditinjau dari Organ Tubuh yang
Diserang. Jakarta: EGC; 2009. p.
353-6.
31. Andersen M, Markham K.
Flavonoid:
Chemistry,
Biochemistry, and Applications.
USA: CRC Press; 2006. 5-6 p.
32. Yu L, Zhao M, Yang B, Zhao Q,
Jiang Y. Phenolics from hull of
Garcinia mangostana fruit and
their antioxidant activities. Food
Chem. 2007;104:17681.

33. Suksamrarn S, Suwannapoch N,


Ratananukul P, Aroonlerk N,
Suksamrarn A. Xanthones from
the green fruit hulls of Garcinia
mangostana. Journal of natural
products. 2002;65(5):761-3.
34. Chairungsrilerd N, Takeuchi K,
Ohizumi Y, Nozoe S, Ohta T.
Mangostanol, a prenyl xanthone
from Garcinia mangostana.
Phytochemistry. 1996;43:1099
102.
35. Kreis
W,
Mller
UF.
Biochemistry of Sterols, Cardiac
Glycosides,
Brassinosteroids,
Phytoecdysteroids and Steroid
Saponins.
Wink M Annual
Plant Reviews: Biochemistry of
Plant Secondary Metabolism.
40. 2nd ed. USA: Blackwell
Pubishing 2010. p. 304-48.
36. Dahlan SM. Membuat Proposal
Penelitian Bidang Kedokteran
dan Kesehatan. 3rd ed. Jakarta:
Sagung Seto; 2012. p. 21-38.
37. Hanafiah
KA.
Rancangan
Percobaan: Teori dan Aplikasi.
3rd ed. Jakarta: Rahawali Press;
2010. 44-6 p.
38. Federer WT. Statistical Design
and Analysis for Intercropping
Experiments.
New
York:
Springer; 1999. 30-3 p.
39. Abbot WS. A Method of
Computing the Effectiveness of
An Insecticide. Guidelines for
Laboratory and Field Testing of
Mosquito
Larvacides.
18.
Geneva: WHO; 1925. p. 265-7.
40. Tiwari P, Kumar B, Kaur M,
Kaur G, Kaur H. Phytochemical
Screening and Extraction: A
Review.
Internationale
Pharmaceutica
Sciencia.
2011;1(1):98-104.

Anda mungkin juga menyukai