Anda di halaman 1dari 3

Kaget Mendengar Berita Bangkrutnya Japan Air Lines

Oleh A. Hafied A. Gany


gany@hafied.org

Saya sangat kaget dan tidak percaya membaca komentar “stop press”
pada FB seorang kerabat saya yang tinggal di Surabaya, bahwa Perusahaan
Penerbangan Japan Air Lines (JAL) bangkrut, seperti di dengar beliau pada
warta berita di salah satu media TV, pada saat beliau sedang beselancar di
Internet. Saya mendadak seperti kehilangan sesuatu nostalgia Indah tentang
baiknya pelayanan JAL samapai-sampai pernah menilai emosional dalam hati
bahwa JAL merupakan penerbangan yang paling baik, aman dan pelayanannya
yang simpatik di planet bumi kita ini, meskipun baru belasan penerbangan lain
yang pernah saya coba sebagai perbandingan.
-----
Waktu itu, setiap kali ada kesempatan dan pilihan, pasti saya memilih
terbang dengan JAL, karena langsung bisa menenteramkan hati merasakan
bahwa penerbangan tersebut aman, bersih, dengan pelayanan yang baik dan
simpatik. Dengan perasaan kehilangan nostalgia indah tersebut, saya terpanggil
untuk menceriterakan bagaimana lesunya perasaan saya kehilangan
kesempatan memperoleh pelayanan JAL, dengan sedikit membandingkan
pelayanan penerbangan lain, termasuk Garuda, sebagai penerbangan yang
paling handal di tanah air kita.
-----
Di masa saya masih bertugas sebagai counterpart proyek Pemerintah
yang berbantuan Jepang pada Departemen tempat saya mengabdi selama 45
tahun, saya berkali-kali menggunakan penerbangan JAL, baik ke Jepang
maupun ke negara-negara tujuan lain di Asia, Amerika, Fasifik, Amerika Latin
dan Eropah, karena anjuran menggunakan penerbangan JAL oleh Sponsor
Jepang yang membiayai perjalanan saya. Pada berbagai kesempatan lainnya
setelah bidang kerja saya tidak lagi terkait secara langsung dengan sponsor
Pemerintah Jepang, saya berkesempatan menggunakan penerbangan lain,
termasuk tentunya Garuda yang merupakan keharusan bila menggunakan biaya
perjalanan Pemerintah, kecuali kalau route tujuan perjalanan tidak dilalui
Garuda. Dari kesempatan ini saya berkesempatan untuk merasakan bagaimana
perbandingan pelayanan menggunakan berbagai perusahan penerbangan, yang
kali ini saya akan saya tuturkan nostalgia saya terbang dengan JAL.
-----
Mungkin untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya,
penerbangan atas sponsor Pemerintah Jepang, waktu itu kami selalu difasilitasi
dengan penerbangan JAL menggunakan business Class, sehingga selalu saja
kami mendapatkan pelayanan yang berkesan baik. Pada suatu kesempatan lain,

1
saya mendapat tugas ke Eropah dengan menggunakan penerbangan Garuda,
yang saya rasakan cukup baik juga, di mana saat itu saya lebih banyak duduk di
kelas ekonomi. Dari berbagai penerbangan, saya sempat membandingkan
beberapa hal yang saya rasakan masih bisa ditingkatkan pelayanannya dari
penerbangan lain. Antaranya sikap Pramugari penerbangan yang perlu
menempatkan dirinya sebagai “pelayan” tanpa membeda-bedakan perlakuan
terhadap penumpang atas kelas, jender, umur maupun penampilan, ketimbang
menempatkn diri sebagai obyek yang menunggu pujian dari penumpang dengan
setiap saat menjaga penampilan dandanannya bagai ulah penggunaan kosmetik
oleh selebriti, dan seolah enggan melakukan pekerjaan pelayanan yang
dianggap merendahkan dirinya, misalnya membersihkan WC, mengangkat
piring, alat makan minum dan lap bekas pakai; ataupun melayani permintaan
penumpang dengan sikap serta tutur kata yang merendahkan penumpang yang
berpenampilan subyektif dinilainya tidak biasa; pemberian pelayanan istimewa
kepada orang asing dan sebagainya. Bahkan banyak yang berpenampilan gusar,
mahal senyum, menyuruh orang menutup tirai lapis jendela, menegur secara
kasar dan demonstratif penggunaan toilet untuk penumpang kelas yang lebih
tinggi dalam keadaan mendesak, menegur dengan gusar untuk menegakkan
sandaran kursi, pemakaian sabuk pengamanan dan sebagainya, yang memang
tidak salah, namun hendaknya tidak menegur penumpang seperti layaknya
petugas keamanan menegur orang yang melakukan pelanggaran.
-----
Berkaitan dengan perbandingan singkat mengenai sikap pramugasi yang
masih bisa ditingkatkan, saya sengaja memfokuskan uraian saya pada kasus
atau sikap crue dan pramugari-pramugari JAL yang menarik untuk dijadikan
contoh generalisasi. Pada suatu penerbangan non-stop dari Narita Tokyo ke
Jakarta, perhatian tertuju pada seorang Pramugari JAL yang saya nilai cantik
sekali. Mungkin karena saya pengaruh subjektif terpisah lama dengan sang isteri
selama dua bulan di Jepang atau mungkin terpengaruh oleh lantun kriteria Orang
Bugis dan hikayat Sastra Melayu dalam menilai kecantikan wanita antara lain:
mata bak bintang timur dengan bulu mata lentik, rambut bak mayang mengurai,
bibir bak delima merkah, dagu bak lebah bergantung, leher jenjang bak leher
anak kijang, hidung bak dasun tunggal, jari-jari seperti duri landak, badan
semampai, paha seperti paha belalang, belakang tumit tipis seolah nyaris rapat,
kulit sawo matang dan bening ibarat terlihat di leher tatkala meneguk kopi atau
minuman berwarna serta suara laksana bulu perindu. Semua kriteria yang
pernah saya dengar dari orang tua sewaktu kecil, nampaknya dimiliki pramugari
JAL yang satu ini. Belum lagi kepiawaiannya berbahasa Inggeris yang bila saya
tidak melihat mukanya, saya merasakan seperti berbicara wanita Inggeris di
Travalgar Square London – rupanya di masa sekolah, dia tinggal di London
bersama orang tuanya yang diplomat.
-----
Mungkin karena sedang emosional dengan pemenuhan hikayat kriteria
wanita yang belum pernah saya jumpai sebelumnya, saya merasa sangat
sayang melihat lengan gemulai dengan jari jemari yang lentik mulus, bersusah

2
paya mengangkat handbag saya yang tidak kurang 10kg beratnya ke atas
overhead compartment, dan tidak mau dibantu oleh saya. Beliau yang tetap ayu
walaupun dengan dandanan yang sangat minim, bolak balik melayani saya dan
penumpang lain, membuka botol minuman, menawarkan obat pening kepala
saat melihat saya mengurut pelipis dan tengkuk, menawarkan minuman, selimut
setiap kali lewat di samping saya, serta disaat senggang mengawani ngobror
ringan tentang peribadi dan kehidupan masyarakat Jepang. Dan yang sangat
mengesankan saya adalah spontanitas dan kesigapannya membungkuk berkali-
kali mengelap sepatu saya yang tidak sengaja terkena tumpahan soft drink,
dengan bibir yang tidak pernah lepas dari senyuman manisnya, yang pasti
membuat orang merasa sejuk dan simpati, juga perhatiannya menawarkan kartu
disembacation dan custom declaration dan meminjamkan ballpoint yang terselip
di dadanya tatkala mengetahui saya tidak punya alat tulis. Sewaktu penumpang
mau turun, si pramugari cantik, masih sempat berdiri mendekati saya
menyampaikan permintaan maaf atas tumpahan soft drink tadi dengan
menunduk berkali kali ala penghormatan kepada Tennoheika. Dalam hati saya
terbetik perasaan sangat sayang wanita cantik yang benar-benar berpostur
feminin sempurna tersebut (semustinya dia bekerja sebagai bintang film atau
permaisuri raja) malah mengerjakan pekerjaan pelayan seperti layaknya
pembantu Rumah Tangga di Indonesia. Hal ini lama sekali tertanam sangat
dalam pikiran saya sebagai nostalgia menumpang penerbangan JAL.
-----
Saya baru sadar dan sedikit kecewa dalam hati ketika bertemu kembali di
pintu keluar bandara, saya mencoba basa-basi menyapa sang pramugari (yang
sedang bersama kawannya menunggu bus jemputan) dengan lontaran senyum
laksana masih di pesawat, namun saya merasa sedikit lunglai karena sama
sekali dia tidak bereaksi, seperti layaknya tidak pernah berinteraksi sama sekali
sebelumnya. Saya mendadak sadar, bahwa saya saat itu sudah tidak berstatus
penumpang Penerbangan JAL lagi, dan sudah berada di luar domain pelayanan
sang pramugari. “Makanya, jangan sok akrab, celetuk kawan saya yang rupanya
memperhatikan tingkah laku saya terhadap pramugari cantik JAL tersebut sejak
naik di pesawat di Bandara Narita Tokyo. Saya betul-betul malu, tertangkap
basah sama teman saya yang tidak pernah saya sangka, dan berusaha
menghindar, nyelonong menjauhi seperti tukang copet yang ketahuan aksinya.
Di sepanjang perjalanan pulang dari bandara, pikiran saya hanya dipenuhi
dengan bayangan pelayanan yang saya peroleh sepanjang perjalanan dari
Narita ke Cengkareng. Saya berkesimpulan bahwa memang seharusnya
pelayanan diberikan oleh crue penerbangan dan pramugari dengan sebaik-
baiknya (allout) – tanpa pandang penampilan fisik, selama masih dalam kurun
waktu sebagai penumpang, dan tidak lebih dari itu. Walaupun sempat kesal
karena kegagalan berkomunikasi pasca penebangan, namun perlakuan
pelayanan prima yang banyak saya peroleh saat itu dan sesudahnya, jarang
saya peroleh di penerbangan lain. Saya sungguh kaget, dan sayang mendengar
bahwa perusahan penerbangan JAL mengalami kebangkrutan.
Jakarta, 21 Januari 2010.