Anda di halaman 1dari 22

HUMIDITY TINGGI PADA PENDINGIN HYDROGEN GENERATOR YANG DI

HASILKAN OLEH H2 PLANT

PROYEK AKHIR

Disusun Oleh
DENI SUBANDI
NIM 201271103

PROGRAM PENDIDIKAN AHLI MADYA DIPLOMA TIGA


TEKNIK ELEKTRO
JAKARTA, 2014

PENGESAHAN
Proyek Akhir dengan judul
HUMIDITY TINGGI PADA PENDINGIN HYDROGEN GENERATOR YANG DI
HASILKAN OLEH H2 PLANT

Disusun oleh :
DENI SUBANDI
NIM 2012-71-103

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pada Kurikulum


Pendidikan Ahli Madya Diploma Tiga Pada
SEKOLAH TINGGI TEKNIK PLN
TEKNIK ELEKTRO

ABSTRAK

Mengetahui,

Ir. Djoko Paryoto, MT


Ketua Jurusan Teknik Elektro

Jakarta, Januari 2015


Disetujui,

Dosen Pembimbing

Kebutuhan manusia akan kebutuhan listrik sudah tidak dapat diragukan lagi
pertumbuhan konsumsi listrik beserta perkembangan teknologi merupakn salah
satu penyebab utama penambahan pembangkit listrik di dunia. Salah satu
perusahaan penyedia energi listrik di Indonesia adalah PT.Pembangkitan Jawa Bali
Unit Bisnis Jasa Operasi dan Maintenance Indramayu yang menggunakan
pembangkit jenis PLTU.
Untuk memperoleh energi listrik yang optimal diperlukan sistem pemeliharaan
dan pengoperasian peralatan yang optimal pula. Hal tersebut terdapat salah
satunya adalah sistem pendinginan. Sistem pendinginan diperlukan agar peralatan,
seperti generator tetap dalam keadaan prima saat melakukan fungsinya. Sistem
pendinginan juga digunakan untuk mengurangi penurunan kualitas isolator,
kerugian tembaga dan penurunan life expectancy pada peralatan elektrik.
Hidrogen merupakan media pendingin yang terbaik diantara air, udara,
nitrogen bahkan helium. Untuk itu di PT.PJB UBJOM INDRAMAYU dibangun H2
plant sebagai system produksi gas hydrogen. Di dalam H2 plant terdapat generator
yang berfungsi sebagai pemisah hidrogen dan oksigen melalui proses elektrolisis.
Hasil proses yang H2 plant adalah gas hydrogen dengan purity >99,8% dengan
kadar dew point -500C sampai 600C, titik dew point sangat mempengaruhi humidity
hydrogen yang sangat berpotensi menimbulkan kerusakan pada generator.

Kata Kunci : Pendinginan Generator, Media pendingin, H2 Plant

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Penelitian


Listrik merupakan kebutuhan primer bagi manusia pada masa kini.
Secara tidak langsung manusia bergantung pada keberadaan listrik untuk
melakukan aktivitasnya. Hal inilah yang menambah kebutuhan listrik
berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk. Awalnya, industri
penyedia energi listrik hanya menggunakan konversi energi dari air terjun
untuk memenuhi kebutuhan listrik. Namun, peningkatan kebutuhan
manusia dan perkembangan teknologi ketenagalistrikan energi listrik
secara tidak langsung memaksa berbagai pengembangan pada unit
pembangkitan listrik. Saat ini, telah dibangun unit pembangkitan listrik
dengan berbagai macam jenis sumber energi antara lain PLTD, PLTA,
PLTU, PLTG, PLTGU, dan PLTP.
PT.PEMBANGKITAN JAWA BALI UBJOM Indramayu merupakan
salah satu perusahaan pembangkitan tenaga listrik yang berupa PLTU.
Disamping itu PLTU Indramayu mempunyai unit 3 x 330 MW. Proses
konversi energi pada PLTU itu sendiri menggunakan air demin yang telah
dimurnikan melalui MED (Multiple Effect Distillation) dan WTP (Water
Treatment

Plant)

kemudian

dipanaskan

melalui

boiler

sehingga

menghasilkan uap panas yang akan dipergunakan untuk memutar turbin


uap yang telah di kopel satu poros dengan generator sehingga
menghasilkan energi listrik.
Proyek tugas akhir ini akan lebih jauh lagi membahas tentang
pendingin peralatan, khususnya media pendingin generator pada PLTU.
generator tersebut akan mengalami kerusakan jika dioperasikan dengan
suhu yang tinggi, maka pada sistem generator akan mengalami shutdown

apabila sistem pendingin tidak berfungsi dengan baik. Sistem pendingin


generator menggunakan 2 media pendingin yaitu H 2 (Hidrogen) pada
system rotor cooling generator dan water (air) pada system stator cooling
generator. Hidrogen pada pendingin generator dihasilkan dari sebuah alat
yang disebut dengan H2 Plant (CNDQ-5/3.2). Bagian utama dari sistem ini
adalah hydrogen generator dan power supply. Keduanya bekerja dengan
input bahan berupa air murni dan tenaga listrik untuk proses elektrolisis.
Tidak hanya itu H2 plant juga terdiri dari feedwater, air pendingin, nitrogen,
dan pipa-pipa untuk mengalirkan gas hasil produksi dan untuk memisahkan
antara hydrogen dan oksigen.
Generator sangat bergantung pada kinerja generator hydrogen plant,
maka apabila terjadi kesalahan pada sistem akan berakibat fatal. Oleh
karena itu generator hydrogen membutuhkan perawatan rutin dan
perbaikan yang sangat tepat pada setiap permasalahan. Adapun
permasalahan yang timbul berdasarkan PKU ( Peta Kesehatan Unit) PLTU
Indramayu adalah tingginya humidity dari hasil produksi H2 plant,
permasalahan tersebut dapat berdampak buruk bagi rotor generator.
Resiko yang sangat besar dapat terjadi apabila permasalahan tersebut
belum teratasi. Penyebab dari humidity tinggi pada sistem H2 Plant akan di
1.2

bahas pada bab selanjutnya.


Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilakukan penelitian ini adalah antara lain:
1. Mengetahui sistem pendingin dari generator PLTU serta memahami
prinsip dasar H2 plant

2. Mengindentifikasi kerusakan atau kesalahan yang timbul pada H2 plant


yang menyebabkan tingginya humidity pada hidrogen
3. Mengindetifikasi dampak permasalahan dari H2 plant terhadap generator
PLTU
4. Mengindentifikasi resiko yang akan terjadi akibat kerusakan pada sistem
1.3

H2 plant
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah Antara lain:
1. Dapat memahami prinsip kerja h2 plant
2. Dapat mengatasi kerusakan pada H2 Plant yang disebabkan tingginya
humidity pada hydrogen
3. Dapat meminimalisir dampak dan resiko yang terjadi akibat tingginya

humidity pada hydrogen.


Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan diangkat oleh penulis Antara lain:
1. Bagaimana terjadinya proses produksi hydrogen pada H2 plant?
2. Kerusakan apa sajakah yang sering terjadi pada H2 plant?
3. Apa sajakah yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada H2 plant?
4. cara mengatasi permasalahan atau kerusakan pada h2 plant?
5. Kerusakan yang terjadi akibat tingginya humidity pada hydrogen?
1.5 Batasan Masalah
Agar permasalahan yang dibahas lebih spesifik dan pemecahannya

1.4

juga lebih tepat sesuai dengan perumusan masalah yang telah dipaparkan
diatas, maka dalam penyusunan proyek akhir ini penulis memilih batasanbatasan masalah yang akan di bahas untuk dicari pemecahannya, Antara
lain:
1. Apakah penyebab utama dari kegagalan pada sistem h2 plant yang
menyebabkan humidity pada hydrogen tinggi?
2. Berapakan batasan humidity dari hydrogen dan efek kerusakan yang
ditimbulkan jika humidity tinggi?
3. Bagaimanakah cara mengatasi tingginya humidity pada hydrogen agar
permasalahan tersebut tidak terulang kembali?
4. Bagaimanakah analisa kerusakan pada h2 plant yang menyebabkan
humidity tinggi?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Generator
Generator adalah sebuah alat yang mengubah energi mekanik
menjadi energi listrik dengan cara induksi elektromaganetik. Generator
merupakan salah satu peralatan berharga tinggi pada Pembangkitan Listrik.
Generator merupakan satu kesatuan part elektrik dan mekanik yang begitu
komplek, sehingga wajar harga dari generator hampir sepertiga dari harga
kesatuan nuit pembangkit. Oleh sebab itu betapa pentingnya maintenance
dan assessment yang dilakukan untuk menjaga dari kehandalan dari
kondisi generator itu sendiri.
Prinsip kerja dari generator adalah Hokum faraday menyatakan
apabila konduktor digerakkan maju mundur Antara kutub utara dan kutub
selatan maka akan timbul GGL (gaya gerak listrik). Berdasarkan hokum

faraday yang bertindak sebagai konduktor adalah stator sedangkan yang


bertindak sebagai medan magnet adalah rotor.
Kinstruksi dari generator adalah sebagai berikut:
1. Rotor
2. Stator

Gambar 7. Konstruksi generator


Rotor merupakan bagian generator yang berputar dimana terdapat
kutub magnet dengan belitan yang dialiri arus searah untuk menghasilkan
fluks yang akan memotong flux magnet stator sehingga menghasilkan gaya
gerak listrik.
Stator merupakan elemen diam yang terdiri dari rangka stator ,inti
stator dan belitan-belitan stator, inti stator terbuat dari bahan ferromagnetic
atau besi lunak disusun berlapis-lapis tempat terbentuknya fluks magnet.
Sedangkan belitan stator terbuat dari tembaga disusun dalam alur-alur,
belitan stator berfungsi tempat terbentuknya gaya gerak listrik.

2. Sistem Pendingin Generator


Operasi generator selama proses pembangkitan tidak hanya
menghasilkan energy listrik, hal ini juga menghasilkan panas di dalam

generator. Kenaikan temperature tidak dapat dihindari karena adanya arus


pusar (eddy current) merupakan efek dari proses konversi energy. Sistem
pendingin generator dibutuhkan untuk hal-hal sebagai berikut:
- Menyerap panas yang timbul didalam generator
- Melindungi isolasi. Hal ini diperlukan untuk melindungi kegagalan
isolasi pada belitan generator dari panas berlebih yang dihasilkan
-

dari rugi-rugi tembaga.


Menaikkan effisiensi generator karena output generator lebih besar

jika system pendingin generator baik.


2.1 Klasifikasi pendingin generator
2.1.1 Directly cooled winding
Pendinginan secara langsung pada belitan rotor atau stator dimana
didinginkan

pendingin

belitan

generator

hydrogen,

udara,

cairan).Pendingin tersebut mengalir dan bersentuhan langsung dengan


konduktor generator, sehingga panas yang dihasilkan dari dalam
bagian bagian dalam belitan dengan media pendingin tanpa mengalir
melalui dinding isolasi pentanahan (ground wall insulation).
2.1.2 Indirectly cooled winding
Pendinginan secara tidak langsung pada belitan rotor dan stator
adalah dimana panas yang dihasilkan dalam bagian utama dari belitan
mengalir melalui dinding isolasi pentanahan sebelum mencapai udara
media pendingin hydrogen atau air.

Dari penjelasan diatas dapat dilihat melalui gambar dibawah ini :

Gambar 8. Design pendnginan generator

2.2 Media Pendingin Generator


Media pendinginan pada generator menggunakan 3 media pendinginan

2.3

Antara lain :
- Hydrogen cooled
- Water cooled
- Air cooled
Kerugian Bila Tidak Ada Sistem Pendingin
Peralatan-peralatan yang terdapat pada PLTU membutuhkan
perawatan yang ekstra. Hal ini dikarenakan pada PLTU hampir semua
peralatan berhubungan dengan suhu tinggi, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Sehingga, diperlukan suatu sistem pendingin
agar suhu peralatan dapat tejaga dari kondisi overheating. Dalam
menjaga peralatan dari kondisi overheating, sistem pendingin peralatan
juga harus memiliki kemampuan yang tinggi dalam mempertahankan
keadaan konstan baik untuk tekanan maupun suhu. Dikarenakan,
keadaan yang tidak stabil dapat mengakibatkan peralatan otomatis shut
down. Apabila sistem pendingin tidak bekerja dengan baik, maka rugi-

rugi yang timbul akan semakin besar. Kerugian yang dapat ditimbulkan
oleh panas di dalam generator meliputi:
1. Penurunan kualitas isolator.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penurunan isolasi antara
lain kelembaban, vibrasi, keasaman, oksidasi, temperatur, dan
waktu. Faktor- faktor tersebut dapt mengakibatkan suatu isolasi
menjadi keras dan rapuh. Kondisi tersebut menyebabkan retaknya
isolator, dimana cracking tersebut dapat mengurangi kualitas isolator
dan bahkan menyebabkan gangguan hubung singkat.
2. Kerugian tembaga listrik.
Nilai tahanan suatu bahan bergantung pada hambatan jenisnya,
dapat dirumuskan :
R= l/A
dimana:
R = hambatan ()
= hambatan jenis (.m)
l = panjang (m)
A = luas penampang (m2)
Hambatan jenis suatu penghantar dipengaruhi oleh temperatur /
suhu pada bahan tersebut. Semakin tinggi temperatur, maka nilai
hambatan akan semakin besar. Hal ini dapat dirumuskan, sebagai
berikut:
= 0 (1+t)
dimana:
= hambatan jenis pada suhu t
0 = hambatan jenis pada 0oC
= koefisien resistansi temperatur pada 0C
t = temperatur
Dengan adanya peningkatan nilai tahanan, maka nilai rugi-rugi (I 2R)
akan semakin besar.
3. Kerugian gesekan (friction loss).

Operasi dalam generator dalam waktu yang lama dan kontinyu pada
ruang tertutup dapat menimbulkan kerugian gesekan. Biasanya, rugirugi gesekan terjadi pada bantalan-bantalan (bearing) sehingga
kondisi bearing tidak dalam kondisi yang optimal, seperti pada awal
operasi. Pemanasan atau peningkatan suhu akan mempermudah
bantalan tersebut aus.
4. Penurunan life expentancy pada peralatan elektrik.
Di luar kesalahan elektrik maupun mekanik, waktu hidup dari suatu
peralatan listrik dibatasi oleh temperatur dari isolasinya. Semakin

2.4

tinggi temperatur, maka life time peralatan listrik semakin pendek.


Hidrogen Sebagai Media Pendingin
Hidrogen memiliki keunggulan sebagai media pendingin dibandingkan
dengan udara dan air. Keunggulan utama dari hidrogen adalah karena
gas ini memiliki daya hantar panas yang lebih tinggi sehingga dapat
menyerap panas lebih banyak, selain itu gas ini mempunyai kerapatan
(berat jenis) yang jauh lebih kecil daripada udara dengan demikian akan
mengurangi

kerugian

gesekan.

Perbandingan

beberapa

media

pendingin seperti air, udara, nitrogen. Pada table dibawah ini :


JENIS

PANAS

KERAPATAN

DAYA

KOEFISIEN

PENDINGIN

JENIS

(DENSITY)

HANTAR

PEMINDAH

PANAS

PANAS

2.5

Udara

1,0

1,0

1,0

1,0

Nitrogen

1,0

0,966

1,08

1,03

CO2

1,27

0,64

0,64

1,13

Helium

5,25

0,4

6,4

1,18

HIdrogen

14,35

0,14

6,69

2,65

Minyak

2,09

848

5,45

21

Air

4,18

1000

2,1

50

Tabel 1.
Proses pendinginan generator oleh gas hydrogen
Pada pembahasan laporan kerja praktek ini, dibatasi hanya pada
pendinginan generator pada sisi Gas Turbine Generator (GTG) di blok 1
PLTGU Tambak Lorok, Semarang. Proses pendinginan generator
dengan menggunakan gas hidrogen sebagai media pendingin,
langsung mengenai bagian dalam generator / kontak langsung dengan
generator. Gas hidrogen masuk melewati sebuah valve ke body
generator yang kemudian disirkulasikan oleh fan yang ada di dalam
generator. Selama generator bekerja, dalam melakukan pendinginan,
suhu gas hidrogen akan meningkat.

Gambar 9. Sistem Ventilasi untuk Typical Hidrogen-Cooled Generator

Di dalam generator tersebut, terdapat pula hydrogen cooling yang


berfungsi untuk menjaga suhu gas hidrogen agar tetap dingin sehingga
dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Apabila tidak beroperasi,
gas hidrogen akan terus terjaga di dalam generator.
3. H2 plant
Pada PLTU Indramayu terdapat CNDQ-5/3.2 Generator pada H2
Plant. generator ini, terdapat dua bagian utama, yaitu hydrogen generator
dan power supply. Kedua alat tersebut (hydrogen generator dan power
supply) bekerja dengan masukan air murni dan tenaga listrik yang
kemudian digunakan untuk proses electrolysis.
Selain kedua komponen utama itu, H2 Plant juga dilengkapi alat-alat
pendukung seperti feedwater, air pendingin, nitrogen, dan pipa-pipa yang
digunakan untuk mengalirkan gas hasil produksi dan sebagai pemisah
antara gas hidrogen dan air.
Dua bagian utama dari H2 Plant, hydrogen generator dan power
supply, memiliki dua fungsi yang berbeda. Hydrogen generator merupakan
generator penghasil gas hidrogen, dimana di dalam alat ini terdapat
komponen-komponen mekanik, pipa-pipa, sistem kontrol dan instrumen
yang dibutuhkan dalam proses elektrolisis. Generator ini juga dilengkapi
kontrol panel yang dapat memperlihatkan kondisi proses dalam generator
dan data-data yang dibutuhkan oleh sistem. Sedangkan power supply
merupakan peralatan yang berfungsi sebagai penginput energi listrik ke
generator. Power supply mengubah inputan arus AC menjadi arus DC, yang
dibutuhkan dalam proses elektrolisis.
3.1 Proses elektrolis

Proses elektrolisis terjadi pada generator h2 plant dimana proses


tersebut menggunakan prinip dasar dari hokum faraday elektrolisis yang
menyatakan sebagai berikut:
Massa zat berubah pada elektroda pada saat elektrolisis berbanding
lurus dengan jumlah listrik yang ditransfer pada elektroda yang mengacu
pada jumlah muatan listrik,biasanya diukur dalam coulomb
Proses elektrolisis pada generator menggunakan air demin (murni)
yang dielektrolisis sehingga menimbulkan proses reduksi dan oksidasi
reaksi kimia yang dapat digambarkan sebagai berikut:

3.2

Gambar 10. Proses elektrolisis


Reaksinya :
Anoda
: 4 OH - 4e 2 H2O + O2
Katoda
: 4 H2O + 4e 2 H2 + 4 OH
Overall reaction : 2 H2O 2 H2 + O2
Siklus H2 plant
Siklus hydrogen plant dimulai dari air demin masuk ke dalam
generator hydrogen untuk melalui prooses elektrolisis pemisahan
hydrogen dengan oksigen, hasil generator kemudian diteruskan menuju
heat exchanger mendinginkan hasil elektrolisis dengan menggunakan
pendinginan demin water, output dari heat exchanger hydrogen maupun
oksigen masuk kedalam H2 dan O2 separator untuk dipisahkan
kandungan air yang masih terbawa sebelum masuk kedalam dryer guna
mandapatkan hydrogen dengan humidity yang rendah.

Gambar 11. Skema h2 plant

3.3 Spesifikasi Electrolysis Bath

Double polarity press filter type (anode middle, two ends with
cathode)

Hydrogen output: 5Nm3/h

Oxygen output: 2.5Nm3/h

D.C consumption: 4.6KWh/Nm3H2

Amount of chambers: 28

Total voltage: 30V

Total current: 820A

Electrolyte: 26-30% KOH water solution

Work temperature: 855

3.4 Prinsip kerja dryer hidrogen


dryer hidrogen plant adalah raw hidrogen hasil elektrolisis masuk
melalui upper port masuk kedalam vessel dryer dipanaskan dengan
menggunakan perubahan energi listrik menjadi energi panaa melalui
heater yang menggunakan prinsip kerja dari :
P= V.I = I2 R

Gambar 12. Dasar dryer Hidrogen plant

3.5 Spesifikasi dryer gas hidrogen

Type: CNDQ-5

Operation mode: auto

Regeneration mode: electrical heating

Working pressure: 0.5-3.2MPa

Product dew point: -50

Structure: assembling rack

Component: absorbing purer, cooler, craft pipes, valves and fittings


and local instruments.

Hydrogen treating amount: 5Nm3/h

System pressure reducing: <0.1MPa

Frame: carbon steel

Absorbing purer: 12Cr1MoV

The drier and two drying towers operation- regeneration switching is


according to the working time which is calculated by the real working
time.

Regeneration time: heating 4-6h.

Regeneration gas: raw gas regeneration ( no hydrogen emission)

Adsorption material: 13X molecule screen

Cooling water consumption: 0.3m3/h, temperature 33

Power: 220V 50HZ 4kW

explosive-proof grade: Zone 1 explosive proof

BAB III
METODE PROYEK AKHIR

3.1. Waktu dan Teknologi Pelaksanaan


1. Tempat
Kerja praktik ini dilaksanakan di PT. Pembangkitan Jawa Bali UBJOM
PLTU Indramayu.
2. Waktu
Kerja praktik dilaksanakan selama enam bulan, dimulai dari 2 Desember
2014 sampai dengan 29 Mei 2015
3.2. Aspek yang Dikaji
Aspek yang akan dipelajari selama kegiatan kerja praktik ini adalah
sebagaiberikut :
1. Aspek Umum
Aspek ini akan mempelajari mengenai bisnis proses pada bagian
Enjineering.

2. Aspek Khusus
Aspek yang dikaji yaitu humidity tinggi pada system h2 plant
3.3. Metodologi Pelaksanaan Kerja Praktik
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam pelaksanaan kerja
praktik adalah :
1. Metode Pengamatan Lapangan
Yaitu melakukan pengamatan dan pencatatan dengan terlibat langsung
ke obyek sehingga akan memperoleh data yang sistematis dan sesuai
dengan tujuan kerja praktek di PT. Pembangkitan Jawa Bali UBJOM
PLTU Indramayu.
2. Metode Wawancara
Yaitu pengumpulan informasi dan konsultasi secara lisan dengan teknisi
dan para ahli di bidang pembangkitan dan pembimbing di lapangan.
3. Metode Pengambilan Data
Yaitu pengambilan data yang dilakukan dengan pengumpulan data
tertulis untuk mengetahui dan menganalisa tingginya humidity pada h2
plant PLTU Indramayu.
4. Metode Studi Pustaka
Yaitu dengan melakukan pengumpulan literatur dari berbagai sumber
dan pendapat para ahli, serta mempelajarinya sebagai sumber data.

DAFTAR PUSTAKA

1. IEEE Std 67-1990 - Guide for Operation and Maintenance of Turbine


Generators.
2. Indramayu,PJB.2010.Operation Manual on Hydrogen Generation System.
3. http://en.m.wikipedia.org/wiki/faraday%27s_laws_of_electrolysis.

JADWAL PELAKSANAAN

NO

KEGIATAN

DESEMBER
2014
1

1
2
3

4
5
6
7
8

Magang
Memasukkan
Abstrak
Masukkan
Proposal
Proyek Akhir
Penentuan
Pembimbing
Proyek Akhir
Ujian Proposal
Proyek Akhir
Bimbingan
Awal Magang
& Proyek Akhir
Pembimbingan
Magang
Pembimbingan
Proyek Akhir

JANUARI
2015
1

FEBRUARI
2015
4

MARET
2015
1

APRIL 2015
4

MEI 2015
1

JUNI 2015
1