Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanakkanak dan masa dewasa, yang dimulai pada saat terjadinya kematangan
seksual yaitu antara usia 10 atau 11 tahun sampai dengan 20 tahun,
yaitu menjelang masa dewasa muda. Remaja tidak mempunyai tempat
yang jelas, yaitu bahwa mereka tidak termasuk golongan anak-anak
tetapi tidak juga termasuk golongan orang dewasa (Marheni, 2004).
Pada masa remaja ini mereka sudah mulai senang mencari
tahu informasi tentang seks dan mitos seks baik dari teman sekolah,
keluarga atau dari sumber lainnya (Pangkahila, 2004).
Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual
sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang
dengan lawan jenis. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja tidak
mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan. Karena
meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada
dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai
informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil
mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan
seluk beluk seksual dari orang tuanya (Dewi, 2012).
Usia anak-anak memang usia serba ingin tahu, tidak malu
bertanya dan tidak sungkan pada orang tua. Rata-rata usia akil baligh anak
Indonesia biasanya 10-13 tahun, dimana kaum perempuan biasanya mulai
datang bulan dan kaum laki-laki sudah mulai dikhitan. Maka pada sekitar
usia ini pula orang tua sudah dapat memberikan pendidikan seks. Akan
tetapi masih ada kalangan yang menganggap bahwa pendidikan seks itu
tabu,

memalukan,

bahkan

mampu

membuat

anak

bangkit

hasrat

seksualnya, dan berakibat buruk (Magdalena, 2010)


Saat ini pemahaman masyarakat tentang seksualitas masih amat
kurang. Kurangnya pemahaman ini amat jelas yaitu dengan adanya
berbagai ketidaktahuan yang ada di masyarakat tentang seksualitas yang
seharusnya

dipahaminya.

Sebagian

dari

masyarakat

masih

amat

mempercayai pada mitos-mitos seksual dan justru mitos-mitos inilah yang


merupakan

salah

satu

pemahaman

yang

salah

tentang

seksual.

Pemahaman tentang perilaku seksual remaja merupakan salah satu


pemahaman yang penting diketahui sebab masa remaja merupakan masa
peralihan dari perilaku seksual anak-anak menjadi perilaku seksual dewasa

(Pangkahila, 2004).
Selama ini, pendidikan seks untuk anak usia dini dianggap
tabu dikalangan masyarakat. Orang tua beranggapan bahwa pendidikan
seks belum pantas diberikan pada anak kecil. Padahal dengan
pendidikan seks yang diberikan sejak dini sangat berpengaruh dalam
kehidupan anak ketika mereka memasuki masa remaja. Apalagi anakanak sekarang lebih kritis, dari segi pertanyaan dan tingkah laku karena
pada masa ini anak-anak memiliki rasa keingintahuan yang besar
(Djiwandono, 2001).
Kurangnya pemahaman tentang perilaku seksual pada masa
remaja amat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarganya,
sebab pada masa ini remaja mengalami perkembangan yang penting
yaitu kognitif, emosi, sosial, dan seksual. Kurangnya pemahaman ini
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : adat istiadat, budaya,
agama, dan kurangnya informasi dari sumber yang benar. Kurangnya
pemahaman ini dapat mengakibatkan berbagai dampak yang justru amat
merugikan kelompok remaja dan keluarganya. Dilaporkan bahwa 80%
laki-laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama
masa pubertas dan 20% dari mereka mempunyai empat atau lebih
pasangan (Pangkahila, 2004).
Maraknya berita tentang

perkosaan

pada

anak-anak,

pelecehan seksual terhadap remaja, bahkan juga pelacuran di bawah


usia. Anak-anak hingga usia remaja selalu dijadikan target empuk para
predator seks. Bahkan angkanya terus meningkat seiring dengan kian
padatnya populasi, serta media yang beragam. Ada banyak faktor yang
jauh lebih berperan dibandingkan media, misalnya pola asuh orang tua,
lingkungan sekitar, penanaman moral dan etika pada anak itu sendiri,
dan banyak lagi (Magdalena, 2010).

Sebuah fakta mengejutkan dikutip dari VIVAnews.com belum


lama ini disibak bahwa 1 dari 4 remaja Indonesia melakukan seks bebas.
Riset yang dilakukan Kotex Bodylife Knowledge di enam negara
(Singapura, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, India) di Asia, pada
1800 responden usia 16-24 tahun ini pun menghasilkan fakta yang
mncengangkan. Diantaranya, ditemukan fakta bahwa dari seluruh
responden di Asia khususnya di Asia selatan, hanya 3 % dari mereka
yang dapat menjawab seluruh pertanyaan seputar pengetahuan
tubuhnya dengan benar. Sementara, 8 dari 10 responden perempuan
tidak mengetahui jumlah lubang pada organ intimnya (Magdalena, 2010).
Data dari Yayasan Kusuma Buana (YKB) tahun 1993
menyebutkan, 30 % remaja di 12 kota besar sudah melakukan hubungan
seks sebelum menikah. Data PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia) tahun 1997, menyebutkan bahwa di Lampung 75 % remaja
sudah berhubungan seks dan pada tahun 2005 di Medan, remaja sudah
berhubungan seks. Data Komnas Perlindungan Anak dari Januari-Juni
2008 di 33 provinsi, 97 % remaja SMP dan SMA pernah menonton film
porno, 93,7 % remaja usia SMP dan SMA pernah berciuman, melakukan
rangsangan genital dan oral seks, 62,7 % remaja putri tidak perawan dan
21,2 % remaja melakukan aborsi. Marketing Manager Feminine Care PT
Kimberly-Clark Indonesia Andy Iskandar dalam acara I Know Campaign
Koteks di Jakarta Theater (18/1/2010) menyatakan,
Bahkan di era globalisasi ini ditemukan sebesar 70% dari perempuan
masih percaya pada mitos yang berlaku. Contohnya, 21 % percaya,
wanita bisa kehilangan keperawanannya karena mengayuh sepeda
(Magdalena, 2010)
Salah satu bentuk perilaku yang mempunyai risiko tinggi dan
menjadi masalah masa remaja adalah perilaku yang berkaitan dengan seks
pra nikah. Angka statistik tentang deviasi (penyimpangan) perilaku seks pra
nikah anak remaja dari tahun ke tahun semakin besar. Era tahun 1970,
penelitian mengenai perilaku seks pra nikah menunjukkan angka 7-9%.
Dekade tahun 1980, angka tersebut meningkat menjadi 12-15%. Berikutnya
tahun 1990 meningkat lagi menjadi 20%.

Di era sekarang ini, Pusat Studi Kriminologi Universitas Islam


Indonesia di Yogyakarta menemukan 26,35% dari 846 peristiwa pernikahan
telah

melakukan

hubungan

seksual

pra

nikah

dimana

50%

nya

menyebabkan kehamilan. Di Kabupaten Kulon Progo berdasarkan pantauan


Dinas Kesehatan tahun 2006, sekitar 44% calon pengantin baru yang
melakukan tes kehamilan telah diketahui positif hamil.
Data nasional survei keluarga tahun 1982 sebanyak 65%
perempuan muda menggunakan kontrasepsi yang tidak efektif atau tanpa
kontrasepsi sewaktu melakukan hubungan seks pertama, kejadian tersebut
menurun menjadi 41% pada tahun 1988. 6 Penelitian oleh Pusat Ekologi
Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI tahun 1990 terhadap
siswa-siswa SMA di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor
utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks
pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film (54,3% di
Jakarta dan 49,2% di Yogyakarta). Adapun motivasi utama melakukan
senggama adalah suka sama suka (76% di Jakarta dan 75,6% di
Yogyakarta), pengaruh teman, kebutuhan biologis 14-18% dan merasa
kurang taat pada nilai agama sebanyak 20-26% (Dhamayanti, 2013).
Dari hasil survei tingkat pernikahan dan kehamilan di usia 15-19
tahun di Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami peningkatan. Dari 24 per
seribu wanita (Survei Dasar Kesehatan Indonesia 2007) menjadi 32 per
seribu wanita (Survei Dasar Kesehatan Indonesia 2012). Namun Ada
kecenderungan pernikahan muda ini justru terjadi di perkotaan akibat hamil
duluan. Menurut Kepala BKKBN DIY Tjondrorini memang di desa-desa
masih ada semacam budaya untuk menikahkan anak di usia muda. Namun
dengan meningkatnya pendidikan, misalnya sekolah sampai SMA hal itu
akan menunda usia perkawinan muda. Selain itu meningkatnya pernikahan
usia muda usia 15-19 tahun di DIY justru terjadi di perkotaan. Hal ini
disinyalir akibat Informasi Teknologi mengakibatkan mereka hamil dulu.
(http://www.republika.co.id, 2014)
Berdasarkan data yang diambil dari dinas pendidikan Daerah
Istimewa Yogyakarta tahun 2013, di Kota Yogyakarta terdapat 176 Sekolah
Dasar antara lain 90 SD negeri dan sisanya yaitu 86 merupakan SD swasta.
Di kota sendiri terdapat 14 Kecamatan.

"Pendidikan seks tidak selalu mengenai hubungan pasangan


suami istri, tapi juga mencakup hal-hal lain seperti pemberian pemahaman
tentang perkembangan fisik dan hormonal seorang anak serta memahami
berbagai batasan sosial yang ada di masyarakat," ujar Dra Dini Oktaufik dari
yayasan ISADD (Intervention Service for Autism and Developmental Delay)
Indonesia dalam acara Tanya Jawab Seputar Autisme di Financial Hall
Graha Niaga, Jakarta, Sabtu (3/4/2010).
Jika pendidikan seks tidak diberikan sejak dini, maka nantinya
bisa menjadi masalah baik dari sisi eksternal atau internal si anak, seperti
mungkin saja anak jadi memiliki kebiasaan memegang kemaluan sendiri,
suka menyentuh bagian privat orang lain, tidak siap menghadapi menstruasi,
masturbasi atau mimpi basah yang dapat mempengaruhi emosinya dan juga
tidak

dapat

menjaga

kebersihan

daerah

kemaluannya.

"Karena itu pendidikan seks menjadi sangat penting dan sebaiknya sudah
dimulai sejak anak berusia 3 tahun. Tapi tentu saja si anak juga harus
diberikan pelatihan mengenai kepatuhan, pengertian mengenai pemahaman
perubahan fisik dan hormonal yang terjadi serta mencermati perilaku seks,"
ujar

Dini

yang

menjadi

praktisi

terapi

perilaku.

Dini menambahkan dalam memberikan pendidikan seks pada anak


sebaiknya anak mengenali bagian tubuh dirinya sendiri dan jangan pernah
mengeksplor tubuh orang lain. Selain itu, orangtua harus waspada dalam
memberikan

pemahaman

mengenai

perubahan

fisik

yang

terjadi.

Sedangkan dalam memberikan pemahaman mengenai perubahan hormonal


bisa melalui cerita yang mudah dimengerti, karena hormon tidak dapat
terlihat secara visual.
Vera Farah Bararah - detikHealth
Sabtu, 03/04/2010 16:22 WIB Pentingnya Pendidikan Seks Pada Anak Kebutuhan Khusus

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,


maka peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
Bagaimana gambaran pengetahuan seksual anak kelas 5 SD
di..tahun 2015?.

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan seksual pada anak
kelas 5 SD di .
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya gambaran pengetahuan seksual pada anak kelas 5
SD di ..
b. Diketahuinya perbandingan pengetahuan seksual antara siswa
perempuan dan laki-laki di SD.

D. Ruang Lingkup Penelitian


1. Lingkup profesi
Penelitian ini merupakan penelitian dalam ruang lingkup Ilmu
Keperawatan khususnya termasuk dalam ruang lingkup Mata Ajar
Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Anak.
2. Lingkup masalah
Permasalahan yang menjadi objek penelitian ini dibatasi pada anak
kelas 5 SD dengan usia 10-12 tahun di SD..
3. Lingkup lokasi
Penelitian ini

dilaksanakan

di

SD..,

Kecamatan..,

Kota

Yogyakarta.
4. Lingkup waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan

E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian

ini

diharapkan

dapat

digunakan

untuk

mengembangkan keilmuan dan menambah wawasan pengetahuan


yang berkaitan dengan ilmu keperawatan khususnya keperawatan

komunitas

dan

keperawatan

anak

yang

berkaitan

dengan

pengetahuan seksual anak.


2. Manfaat praktis
a. Manfaat bagi instansi terkait : SD
Memberikan gambaran mengenai pengetahuan tentang seksual
pada anak kelas 5 SD di SD. Pihak sekolah diharapkan dapat
melakukan proses bimbingan dan konseling sebagai upaya
meningkatkan pemahaman terhadap bahaya perilaku seks bebas
bagi siswa-siswanya.
b. Bagi Institusi Pendidikan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Menambah bahan bacaan dan dokumentasi mengenai penelitian
keperawatan

yang

ada

di

perpustakaan

serta

dapat

mengembangkan pengetahuan tentang riset keperawatan.


c. Bagi peneliti lain
Menambah informasi untuk penelitian selanjutnya yang terkait
dengan pengetahuan anak tentang pendidikan seksual.

F. Keaslian Penelitian
Sebatas pengamatan

peneliti,

penelitian

mengenai

gambaran

pengetahuan seksual anak SD kelas 5 di belum pernah dilakukan.


Penelitian yang serupa :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Wening Ardiani yang berjudul
Gambaran Pengetahuan Remaja tentang Seks Bebas Di SMK
Muhammadiyah Kretek Bantul Yogyakarta Tahun 2014 dengan
sampel 81 remaja berumur 16-19 tahun. Jenis penelitian deskriptif.
Hasil penelitian didapatkan remaja yang mempunyai pengetahuan
baik tentang seks bebas sebanyak 59 orang (73%), remaja yang
mengetahui pengertian tentang seks bebas mayoritas baik yaitu 80
orang (99%), remaja yang mengenal bentuk-bentuk seks bebas
sebagian besar baik sebanyak 30 orang (37%), remaja yang
mengetahui faktor yang mendorong seks bebas rata-rata baik yaitu
67 orang (83%), dan remaja yang mengetahui dampak seks bebas
rata-rata memiliki kategori pengetahuan baik yaitu 54 orang (67%)
Persamaan

penelitian

yaitu

jenis

penelitian

deskriptif,

teknik

pengambilan sampel peneliti menggunakan teknik stratified random

sampling, dan metode yang digunakan yaitu survei. Sedangkan


perbedaannya adalah pada:
a. Subjek penelitian, peneliti memilih remaja yang masih duduk di
kelas 5 Sekolah Dasar
b. Tempat penelitian, peneliti memilih tempat di.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Robi Siti Nurjanah yang berjudul
Gambaran Sikap Orang Tua tentang Pendidikan Seksual Bagi
Remaja Usia SMP di Desa Bumirejo Kecamatan Lendah Kabupaten
Kulon Progo Tahun 2014 dengan sampel penelitian adalah orang tua
yang memiliki anak remaja usia 10-19 tahun. Jenis peneitian
deskriptif kuantitatif dengan teknik sampling yang digunakan yaitu
teknik snowball sampling. Persamaan penelitian yaitu jenis penelitian
deskriptif dan mengenai pendidikan seksualitas pada remaja.
Sedangkan perbedaannya adalah pada :
a. Subjek penelitian, peneliti memilih remaja yang masih duduk di
kelas 5 Sekolah Dasar
b. Jenis penelitian deskriptif kualitatif
c. Peneliti menggunakan teknik pengambilan sampel dengan teknik
stratified random sampling