Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Agrisistem, Juni 2006, Vol 2 No.

1 ISSN 1858-4330

ANALISIS PENDAPATAN PETERNAK AYAM RAS PETELUR

Income analysis of race chicken layer farmer

Ismaya N.R. Parawansa1) dan Sutiono2)

1) Dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa


2) Alumni Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa

ABSTRAK

Kegiatan bertujuan untuk mengetahui pendapatan dan kelayakan usaha peternakan ayam

ras petelur H. Muh. Adil Nur di Desa Baji Pa�mai Kecamatan Cenrana Kabupaten
Maros.
Penelitian ini dilaksanakan dari Maret sampai Mei 2006, dengan menggunakan metode
survai. Hasil analisis pendapatan diperoleh pendapatan sebesar Rp 116.608.204,
selama 60
hari. Jumlah populasi ternak 15.929 ekor dengan jumlah penerimaan Rp 342.525.000
dan
total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 225.916.796, layak untuk dikembangkan
dimana
R/C Ratio adalah 1,5.

Kata kunci: Analisis pendapatan, ayam ras

ABSTRACT

The research aim to knowing the income and feasibility of effort poultry chicken
race
layer�s H. Muh. Adil Nur at Baji Pa'mai Village, Cenrana District, Maros Regency.
This
Research was executed from March until May 2006, using survay method. Result of
income analysis obtained income Rp 116.608.204, during 60 day. Sum of population

15.929 tail with the amount of income Rp 342.525.000 and total cost Rp
225.916.796,
suitable to be developed, where R/C Ratio is 1,5.
Keywords: Income analysis, race chicken

PENDAHULUAN

Misi pembangunan pertanian periode


2005 � 2009 adalah mewujudkan
pertanian yang profesional dan memiliki
integrasi moral yang tinggi; mendorong
pembangunan pertanian menuju pertanian
yang tangguh; berdaya saing,
berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan; mewujudkan ketahanan
pangan melalui peningkatan produksi
komoditi pertanian dan penganeka
ragaman konsumsi pangan; mendorong
peningkatan kontribusi sektor pertanian
terhadap perekonomian nasional melalui
peningkatan Pendapatan Domestik Bruto
(PDB), ekspor, penciptaan lapangan kerja,
penanggulangan kemiskinan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat;
memfasilitasi pelaku usaha melalui
pengembangan teknologi, pembangunan

sarana prasarana, pembiayaan, akses pasar


dan kebijakan pendukung lainnya;
memperjuangkan kepentingan dan
perlindungan terhadap petani dan
pertanian Indonesia dalam sistem
perdagangan nasional. (Apriantono,
2005).

Pembangunan sub sektor peternakan


merupakan bagian dari pembangunan
pertanian yang bertujuan untuk
menyediakan pangan hewani berupa
daging, susu, serta telur yang bernilai gizi
tinggi, meningkatkan pendapatan
peternak, meningkatkan devisa serta
memperluas kesempatan kerja di
pedesaan. Hal tersebut yang mendorong
pembangunan sub sektor peternakan
diperlukan, sehingga pada masa yang akan
datang diharapkan dapat memberikan
Jurnal Agrisistem, Juni 2006, Vol 2 No. 1

kontribusi yang nyata dalam


pembangunan bangsa.

Pembangunan sub sektor peternakan yang


berwawasan agribisnis merupakan upaya
sistematis dalam memainkan peranan
yang aktif dan positif di dalam
pembangunan nasional, untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi,
pemerataan dan stabilitasi nasional. Salah
satu peran penting dari sub sektor
peternakan dalam pembangunan adalah
dalam rangka mendorong pertumbuhan
dan dinamika ekonomi pedesaan.
Terdapat 3 (tiga) pendekatan yang akan
mewarnai pembangunan sub sektor
peternakan dalam era reformasi yaitu
pendekatan agribisnis, pendekatan
keterpaduan dan pendekatan sumberdaya
wilayah.

Menurut Anonim (2005), bahwa


Kabupaten Maros merupakan salah satu
kabupaten di Sulawesi Selatan dengan
populasi ternak ayam ras petelur yaitu

235.799 ekor dengan persentase 5,24 %


dari populasi ternak ayam ras petelur yang
ada di Sulawesi Selatan. Desa Baji Pa�mai
adalah salah satu desa di Kecamatan
Cenrana memberikan kontribusi cukup
besar terhadap pendapatan daerah melalui
restribusi ternak, khususnya usaha
peternakan ayam ras petelur, dimana
jumlah populasi ayam ras di daerah ini
mencapai 41.500 ekor.
Usaha ayam ras petelur di Desa Baji
Pa�mai Kecamatan Cenrana Kabupaten
Maros belum dikelola secara optimal
karena peternak dihadapkan pada
keterbatasan pengetahuan pengelolaan
biaya produksi. Sehubungan dengan hal
tersebut maka dipandang perlu adanya
analisis pendapatan yang harus dilakukan
oleh peternak disebabkan oleh hal-hal
sebagai berikut :

1.
Sebelum kegiatan usaha berlangsung,
analisis usaha dapat diberikan
ISSN 1858-4330

gambaran atau kepastian mengenai


untung atau ruginya suatu usaha.
2.
Pada saat kegiatan berlangsung,
analisis ini merupakan pedoman
dalam menjalankan usaha ternak ayam
petelur, dalam hal ini berfungsi
sebagai rencana kegiatan usaha.
3.
Setelah kegiatan berlangsung analisis
ini merupakan bagian dari evaluasi
kegiatan yang telah dilaksanakan.
Hasil analisis dari usaha ternak dapat
digunakan sebagai salah satu
pegangan atau catatan untuk kegiatan
usaha berikutnya.
Tujuan Penelitian

bertujuan untuk mengetahui pendapatan


dan kelayakan usaha peternakan ayam ras
petelur H. Muh. Adil Nur di Desa Baji
Pa�mai Kecamatan Cenrana Kabupaten
Maros.

METODE PELAKSANAAN

Penelitian ini dilaksanakan dari Maret


sampai Mei 2006 bertempat di Desa Baji
Pa�mai Kecamatan Cenrana Kabupaten
Maros. Penelitian ini bersifat deskriptif
dengan menggunakan metode survai.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang


digunakan dalam kegiatan ini adalah :

1.
Observasi lapangan yaitu melakukan
pengamatan langsung terhadap lokasi/
daerah yang menjadi objek lapangan.
2.
Melakukan wawancara dengan
peternak ayam ras petelur
3.
Mengadakan studi pustaka mengenai
pengelolaan ayam ras petelur pada
peternak dan analisis pendapatan
Sumber Data

1.
Data primer diperoleh dari peternak
dengan cara wawancara, langsung
responden, yaitu berpedoman pada
kuesioner (Lampiran 1) yang meliputi:
Jurnal Agrisistem, Juni 2006, Vol 2 No. 1

identitas responden, biaya usaha


ternak dan penerimaan yang diperoleh.

2.
Data sekunder merupakan data
pendukung diperoleh dari dinas
peternakan dan instansi serta lembaga
lainnnya yang ada hubungannya
dengan kajian.
Penentuan Responden

Penentuan responden dilakukan dengan


menunjuk langsung peternak ayam ras
petelur yang ada di Desa Baji Pa�mai
sebagai lokasi pengambilan data.

Analisis Data

Data yang diperoleh selanjutnya ditabulasi


dan dianalisis secara statistik deskriptif
kuantitatif. Analisis deskriptif kuantitatif
digunakan untuk melihat kelayakan usaha
ditinjau dari aspek ekonomi. Adapun
rumus yang digunakan dalam
menganalisis data dalam kajian ini adalah
sebagai berikut :

Analisis Pendapatan

Untuk menghitung pendapatan peternak


ayam ras petelur, maka digunakan rumus:

p
= TR -TC

p
= Total pendapatan peternak ayam
ras petelur.
TR = Total penerimaan dari penjualan
hasil ayam ras petelur.
TC = Total biaya yang dikeluarkan
peternak ayam ras petelur.

Analisis Kelayakan Usaha

Untuk mengetahui kelayakan suatu usaha


maka digunakan rumus R/C Ratio sebagai
berikut :

Total Penerimaan
R/C Ratio =
Total Biaya

ISSN 1858-4330
HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Penerimaan dan Pendapatan

a. Biaya Produksi
Dalam menjalankan suatu kegiatan usaha,
setiap orang harus mengeluarkan biaya.
Biaya inilah yang digunakan untuk
kelancaran suatu usaha yang dijalankan.
Biaya produksi terdiri dari biaya tetap dan
biaya variabel. Biaya tetap yang
dikeluarkan perusahaan dapat dilihat pada

Tabel 1.
Tabel 1. Besarnya Biaya Tetap yang
Dikeluarkan pada Usaha
Peternakan Ayam Ras Petelur
H. Muh. Adil Nur di Desa Baji
Pa�mai Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros

Nilai Penyusutan

Biaya Tetap

(Rp)
Penyusutan kandang 7.000.000
Penyusutan peralatan 646.913

kandang
Biaya tenaga kerja 9.600.000
Listrik 1.000.000
Sewa tanah 250.000
Pajak bumi dan 43.332

bangunan

Jumlah Biaya 18.540.245


Investasi

Sumber : Data Primer yang Telah Diolah,


2006

Sedangkan biaya variabel yang terdiri dari


DOC, pakan, obat/vitamin dan rak telur
yang dikeluarkan selama dua bulan dapat
dilihat pada Tabel 2.
Jurnal Agrisistem, Juni 2006, Vol 2 No. 1

Tabel 2.
Besarnya Biaya Variabel yang
Dikeluarkan pada Usaha
Peternakan Ayam Ras Petelur

H. Muh. Adil Nur di Desa


Baji Pa�mai Kecamatan
Cenrana Kabupaten Maros
Jumlah

Biaya Operasional

(Rp)

DOC
Pakan
Obat/Vitamin
Rak telur (Egg tray)
Biaya pengangkutan

telur dan pakan

7.111.111

182.927.940

2.337.500

9.000.000

6.000.000

Jumlah Biaya 201.376.551


Operasional

Sumber : Data Primer yang Telah Diolah,


2006

Tabel 3.
Total Biaya Produksi yang
Dikeluarkan pada Usaha
Peternakan Ayam Ras Petelur

H. Muh. Adil Nur di Desa


Baji Pa�mai Kecamatan
Cenrana Kabupaten Maros
Jumlah

Biaya Produksi

(Rp)
Biaya Tetap 18.540.245
Biaya Variabel 207.376.551

Total Biaya 225.916.796


ISSN 1858-4330

Sumber : Data Primer yang Telah Diolah,


2006

Perhitungan biaya variabel selama 60 hari


dapat dilihat secara terinci pada Lampiran
4 dan total biaya yang dikeluarkan dapat
dilihat pada Tabel 3.

b.
Analisis Penerimaan dan
Pendapatan Selama 60 Hari
Dalam usaha peternakan khususnya ayam
ras petelur diperlukan suatu analisis usaha
untuk mengetahui apakah usaha tersebut
menguntungkan (layak untuk
dikembangkan) atau sebaliknya. Analisis
pendapatan meliputi penerimaan total,
pendapatan kotor dan pendapatan bersih
sedangkan analisis usaha tani meliputi
komponen-komponen biaya variabel dan
biaya tetap. Hubungan antara penerimaan
total dengan total biaya dianalisis dengan
menggunakan analisis pendapatan. Untuk
menghitung analisis usaha, diperlukan
data yang akurat mengenai modal
produksi maupun jumlah penerimaan.

1.
Analisis Penerimaan
Analisis penerimaan usaha peternakan
ayam ras petelur H. Muh. Adil Nur yang
terdiri dari hasil penjualan telur dan
penjualan feses. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Analisis Penerimaan Usaha Peternakan Ayam Ras Petelur H. Muh Adil Nur di
Desa Baji Pa�mai Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros

Jenis Kegiatan Volume Harga Satuan


(Rp)
Jumlah Harga
(Rp)
Penjualan Telur 720.000 butir 450 324.000.000
Kotoran Ayam 7.410 karung 2.500 18.525.000
Total Penerimaan 342.525.000

Sumber : Data Primer yang Telah Diolah, 2006.


Jurnal Agrisistem, Juni 2006, Vol 2 No. 1

2.
Analisis Pendapatan
Pendapatan yang diterima adalah
penerimaan Rp 342.525.000 �
pengeluaran (total biaya) Rp 225.916.796
diperoleh Rp 116.608.204. Berdasarkan
hasil analisis ini sesuai dengan pendapat
Soekartawi (1995), bahwa pendapatan
adalah selisih antara penerimaan dengan
semua biaya-biaya yang dikeluarkan.
Dengan demikian, perhitungan
pendapatan dalam usaha ini adalah selisih
antara penerimaan dari penjualan telur dan
feses selama 60 hari dengan total biaya
yang dikeluarkan.

3.
Analisis Kelayakan Usaha
Untuk mengetahui layak tidaknya suatu
usaha didirikan, maka secara ekonomi
digunakan rumus R/C Ratio, yaitu dengan
cara membandingkan tingkat penerimaan
yang diperoleh dengan modal yang harus
dikeluarkan, layak tidaknya usaha
dihitung dengan standar R/C Ratio > 1.

Total
225.916.796
diperoleh.
342.525.000 dpenerimaan adalahmaka revenue per
an total biaya adalah
Rp
Rp
cost
R/C Ratio
Rp 342.525.000
=
Rp 225.916.796
= 1,5
Dengan total biaya sebesar Rp

225.916.796 dan penerimaan yang


diperoleh sebesar Rp 342.525.000 dengan
nilai R/C Rationya sebesar 1,5. Sesuai
dengan pendapat Wijaya dan Abdullah
(2003), bahwa setiap penambahan biaya
Rp 1,00 akan memperoleh penerimaan
Rp 1,5.
ISSN 1858-4330

KESIMPULAN

1.
Total pendapatan peternak yang
diperoleh dari usaha ayam ras petelur
selama 60 hari dengan populasi
15.929 ekor adalah Rp 123.884.122,
biaya tetap Rp 17.264.327 dan
biaya variabel Rp 201.376.551 serta
penerimaan Rp 342.525.000.
2.
Usaha peternakan ras petelur H. Muh.
Adil Nur layak untuk dikembangkan
dengan R/C Ratio 1,5. Artinya setiap
pengeluaran biaya Rp. 1,00 akan
diperoleh keuntungan sebesar Rp. 1,5
3.
Diharapkan adanya mitra kerja dengan
peternak berskala kecil ditingkatkan
agar peternakan ayam ras petelur dapat
berkembang.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2005. Biro Pusat Statistik, BPS


Sulawesi Selatan, Sulawesi Selatan

Apriantono, A. 2005. Visi dan Misi


Pengembangan Pertanian 2005 �
2009. [Diakses tanggal 29 Februari
2006 pada situs
www.deptan.go.id]

Soekartawi, 1995. Analisis Usaha Tani.


Universitas Indonesia Press,
Jakarta.

Widjaya, K. dan Abdullah, S. 2003.


Peluang Bisnis Ayam Ras dan
Buras. Penebar Swadaya, Jakarta.