Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Indonesia memiliki beragam sumber daya energi. Sumber daya energi
berupa minyak, gas, batubara, panas bumi, air, dan sebagainya digunakan dalam
berbagai aktivitas pembangunan baik secara langsung ataupun diekspor untuk
mendapatkan devisa. Sumber daya energi minyak dan gas adalah penyumbang
terbesar devisa hasil ekspor.
Kenaikan harga BBM

berbasis fosil pada tahun 2005 yang sempat

menyentuh angka dari 70 US per barel menjadi momentum penting untuk


pengembangan BBN( bahan bakar nabati) didalam negeri. Penyebab kenaikan
harga BBM tersebut salah satu satunya disebabkan oleh cadangan yang kian
menipis. Seefisien manusia menggunakan dan mengkonsumsi BBM fosil, suatu
saat pasti akan habis. BBN yang semula kurang di diperhatikan, dan akhirnya
memiliki posisi tawar yang baik. Bahkan banyak menyakini bahwa BBN bisa
dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan yang
makin demikian besar terhadap BBM fosil.
Banyak tumbuhan yang ada di Indonesia yang biasa diolah menjadi
biodiesel. Namun baru beberapa tumbuhan yang sudah dimanfaatkan seperti
kelapa sawit, kelapa, dan jarak. Beberapa Negara telah memanfaatkan biodiesel
adalah Ghana ( bahan baku kacang-kacangan) amerika serikat (biodiesel dari
minyak kedelai), Jerman (bahan baku kalona), serta Inggris dan prancis (bahan
baku dari bunga matahari). Seharusnya Indonesia lebih maju dan Berjaya
dibandingkan Negara lain karena Indonesia memiliki iklim, terutama sinar
matahari yang sangat mendukung pertumbuhan tanaman bahan baku green fuel.
Selain itu, banyak tumbuhan dapat diolah menjadi bahan bakar hayati
(Rama,2006).
Secara teoritik semua tumbuhan yang berbiji, batang atau akarnya
mengandung minyak bisa dijadikan biodiesel begitu juga dengan kulit buah

durian. Secara fisik buah durian berwarna biji durian berwarna putih kekuningkuningan, biji durian mengandung 51,1% air, 46,2% karbohidrat, 2,5% protein
dan 0,2% lemak. Selama ini bagian buah durian yang lebih umum dikonsumsi
adalah bagian salut buah atau dagingnya. Perentase berat bagian ini termasuk
rendah yaitu hanya 20-35 %. Hal ini berarti kulit (60-75%) dan biji (5-15%)
belum termanfaatkan secara maksimal (Astriani,Sri.2013). Umumnya kulit durian
menjadi limbah atau dibuang begitu saja.
Biodiesel adalah bioenergi atau bahan bakar nabati yang dibuat dari asam
lemak nabati baik minyak baru maupun bekas penggorengan dan melalui proses
penggorengan dan melului proses transesterifikasi, esterifikasi atau proses
esterifikasi-transesfikasi. Lemak digolongkan menjadi digolongkan menjadi dua
golongan yaitu lemak dan minyak dari tumbuhan-tumbuhan dan lemak dan
minyak dari hewan. Lemak hampir sebagian besar mengandung ester-ester yang
mempunyai komposisi yang sederhana. Hampir selalu asam-asam yang
membentuk lemak mempunyai jumlah atom C genap per-molekulnya, biasanya
antara C8 C28.
Biodisel berupa cairan berwarna kuning terang atau kunin gelap, dengan
titik didih tinggi dan tekanan uap rendah. Kepekatannya lebih rendah air yang
0.86 g/cm3 . Biodiesel yang memiliki kekentalan seperti solar (bahan bakar diesel
yang dihasilkan dari petroleum) dapat digunakan sebagai bakar alternative untuk
mesin diesel. Biodisel yang dikenal merupakan bahabn yang terbaru, tidak
beracun dan tidak mengiritasi kulit jika dibanding dengan sabun. Biodiesel secara
nyata dapat mengurangi pencemaran, mengurangi hidrokarbon yang tidak
terbakar, karbon monoksida, sulfat, polisiklik aromatic hidrokarbon dan hujan
asam.
Rama prihandana dan roy hendroko(2006) telah berhasil meneliti bahan
bakar dari biji jarak pagar..Berdasarkan latar belakang dan hasil penelitian yang
telah ada, maka peneliti termotivasi melakukan penelitian ini dengan judul
Sintesis Biodiesel Dari Limbah Kulit Durian Dengan Transesterifikasi.
Peneliti mensintesis minyak dari kulit durian dengan metode transeterifikasi
langsung dengan

katalis NaOH dalam methanol yang dianalisis dengan

menggunakan Gas Kromatografi (GC) dan melakukan parameter uji fisik seperti
densitas, viskositas, dan kadar asam lemak bebas.
1.2. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini yaitu.
1. Membuat biodiesel minyak dari kulit durian.
2. Memperoleh minyak kulit durian dengan ekstraksi menggunakan n-heksan.
3. Melakukan parameter uji fisik biodiesel kulit durian seperti densitas dan
viskositas dan kadar asam lemak bebas.
4. Menganalisis komponen biodiesel kulit durian dengan Gas Kromatografi (GC)
1.3.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan ruang lingkup penelitian diatas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana keefektifan penggunaan metode transesterifikasi langsung dengan
katalis NaOH dalam methanol untuk membuat biodiesel dari kulit durian.
2. Apakah komposisi minyak kulit durian kulit durian cukup memenuhi nilai
parameter standar syarat mutu biodiesel.
3. Bagaimana identifikasi asam lemak kulit durian dengan gas kromatografi (GC)
1.4. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui keefektifan penggunaan metode transesterifikasi langsung
dengan katalis NaOH dalam metanol untuk membuat Biodisel dari kulit
durian.
2. Menentukan komposisi asam lemak dari kulit durian dasar penafsiran
nilai-nilai parameter standar syarat mutu biodiesel.
3. Menidentifikasi asam lemak kulit durian dengan gas kromatografi (GC)

1.5. Manfaat Penelitian


Setelah penelitian ini dilakukan maka diharapkan memberi manfaat sebagai
berikut:
1. Sebagai informasi kepada pembaca tentang kemungkinan biodiesel dapat
dibuat dari kulit durian.
2. Sebagai dasar pengembangan dan pemanfaatan kulit durian sebagai bahan
bakar nabati yang ramah lingkungan.

3. Sebagai tambahan ilmu bagi peneliti dalam mengembangkan pengetahuan


dan pengalaman ilmiah dalam penelitian.
4. Dengan penelitian ini diharapkan dapat bermananfaat untuk memecahkan
masalah pencemaran lingkungan yang disebabkan limbah dari kulit durian

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Durian(Durio zibethinus Murr)
Durian adalah nama tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara,
sekaligus nama buahnya yang bisa dimakan. Nama ini diambil dari ciri khas kulit
buahnya yang keras dan berlekuk-lekuk tajam sehingga menyerupai duri. Sebutan

populernya adalah "raja dari segala buah" (King of Fruit), dan durian adalah buah
yang kontroversial. Meskipun banyak yang menyukainya, sebagian yang lain
tidak suka dengan aromanya. Buah durian dapat diperoleh pada beberapa daerah
yang mempunyai potensi akan adanya buah durian dimana kulit durian tersebut
menjadi salah satu limbah yang terbengkalai atau tidak dimanfaatkan, yang
sebenarnya banyak mengandung nilai tambah. Agar limbah ini dapat
dimanfaatkan sebagaimana sifat bahan tersebut dan digunakan dalam waktu yang
relatif lama, perlu diproses lebih lanjut, menjadi beberapa hasil yang bervariasi.
2.1.1.Manfaat Buah Durian
Manfaat durian selain sebagai makanan buah segar dan olahan lainnya,
terdapat manfaat dari bagian lainnya, yaitu: tanamannya sebagai pencegah erosi di
lahan-lahan yang miring, rumah tangga, kayu durian setaraf dengan kayu sengon
sebab kayunya cenderung lurus, bijinya yang memiliki kandungan pati cukup
tinggi, berpotensi sebagi alternatif pengganti makanan (dapat dibuat bubur yang
dicampur daging buahnya), kulit dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus,
dengan cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur.
Kulit durian yang sering dianggap limbah tidak dimanfaatkan untuk
sesuatu yang lebih besar manfaatnya seperti untuk pembuatan biodiesel. Durian
(Durio zibethinus Murr) merupakan salah satu tanaman hasil perkebunan yang
telah lama dikenal oleh masyarakat yang pada umumnya dimanfaatkan sebagai
buah saja. Sebagian sumber literatur menyebutkan tanaman durian adalah salah
satu jenis buah tropis asli Indonesia (Rukmana, 1996).
Sebelumnya durian hanya tanaman liar dan terpencar-pencar di hutan raya
"Malesia", yang sekarang ini meliputi daerah Malaysia, Sumatera dan
Kalimantan. Para ahli menafsirkan, dari daerah asal tersebut durian menyebar
hingga ke seluruh Indonesia, kemudian melalui Muangthai menyebar ke Birma,
India dan Pakistan. Adanya penyebaran sampai sejauh itu karena pola kehidupan
masyarakat saat itu tidak menetap. Hingga pada akhirnya para ahli
menyebarluaskan tanaman durian ini kepada masyarakat yang sudah hidup secara
menetap (Setiadi, 1999).

Tanaman durian di habitat aslinya tumbuh di hutan belantara yang


beriklim panas (tropis). Pengembangan budidaya tanaman durian yang paling baik
adalah di daerah dataran rendah sampai ketinggian 800 meter di atas permukaan
laut dan keadaan iklim basah, suhu udara antara 250-320C, kelembaban udara
(rH) sekitar 50-80%, dan intensitas cahaya matahari 45-50% (Rukmana, 1996).
Klasifikasi ilmiah tanaman durian dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1. Klasifikasi ilmiah tanaman durian
Klasifikasi Ilmiah Tanaman Durian
Kingdom
Divisi

Klasifikasi Ilmiah
Plantae (tumbuhan)
Spermatophyta
(tumbuhan

Sub Divisi
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

berbiji)
Angiospermae (berbiji tertutup)
Dicotyledonae (berkeping dua)
Malvaceae
Bombacaceae
Durio
Durio zibethinus Murr

Sumber: Rukmana (1996)


Buah khas daerah tropis ini termasuk ordo Malvaceae, family
Bombacaceae, dan genus Durio. Prof. Dr. A.J.G.H. Kostermans mencatat ada 27
spesies durian. Sejumlah 19 spesies ditemukan di Kalimantan, 11 di Semenanjung
Malaka, 7 di Sumatera dan 1 di Myanmar. Dari sekian banyak spesies itu, yang
bisa dimakan hanya tujuh. Spesies lain tidak bisa dikonsumsi karena berbagai
sebab; misalnya: rasa tidak enak, buah terlalu kecil, atau daging buah tidak ada.
Tujuh spesies durian yang bisa dimakan itu terdiri dari: Durio zibethinus (durian),
Durio kutejensis (lai), Durio oxleyanus (kerantongan), Durio dulcis (lahong),
Durio graveolens (labelak), Durio grandiflorus (durian monyet), serta Durio
testudinarium (durian kura-kura). Dari ketujuh spesies itu hanya Durio zibethinus
yang paling banyak dibudidayakan karena buahnya enak (Untung, 2008).

Buah durian berbentuk bulat, bulat panjang, atau variasi dari kedua bentuk
itu. Buah yang sudah matang panjangnya sekitar 30-45 cm dengan lebar 20-25
cm, beratnya sebagian besar berkisar antara 1,5-2,5 kg. Setiap buah berisi 5 juring
yang didalamnya terletak 1-5 biji yang diselimuti daging buah berwarna putih,
krem, kuning, atau kuning tua. Besar kecilnya ukuran biji, rasa, tekstur dan
ketebalan daging buah tergantung varietas (Untung, 2008).
Daging buah strukturnya tipis sampai tebal, berwarna putih, kuning atau
kemerah-merahan atau juga merah tembaga. Buah durian berwarna hijau sampai
kecoklatan, tertutup oleh duri-duri yang berbentuk piramid lebar, tajam dan
panjang 1 cm. Tiap pohon durian dapat menghasilkan buah antara 80-100 butir,
bahkan hingga 200 buah, terutama pada pohon durian berumur tua (Rukmana,
1996).
2.1.2. Manfaat Tanaman Durian
Manfaat tanaman durian selain buahnya sebagai makanan buah segar dan
olahan lainnya, juga terdapat manfaat dari bagian lainnya (AAK, 1997), yaitu:
1. Tanamannya sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring.
2. Batangnya untuk bahan bangunan/perkakas rumah tangga. Kayu durian setaraf
dengan

kayu sengon sebab kayunya cenderung lurus.

3. Bijinya yang memiliki kandungan pati cukup tinggi, berpotensi sebagai


alternatif pengganti makanan.
4. Kulit dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus, dengan cara dijemur sampai
kering dan dibakar sampai hancur, dapat juga digunakan untuk campuran
media tanaman di dalam pot, serta sebagai campuran bahan baku papan olahan
serta produk lainnya.
5. Bunga dan buah mentahnya dapat dijadikan makanan, antara lain dibuat sayur
2.1.3.Minyak Lemak Kulit Durian
Komposisi Asam Lemak Kulit Durian
Sifat Kimia Dan Sifat Fisika Minyak Kulit Durian

2.2. Biodiesel
Biodiesel adalah merupakan bahan bakar alternatif berbahan baku
minyaka nabati. Biodiesel dapat digunakan secara murni maupun dicampur dengn
petrodieesel. (Irene, Roweyna wenas, 2008) Secara kimia biodiesel termasuk
dalam golongan monoalkil ester dengan panjang rantai dengan panjang rantai
karbon antara 18-20 yang mengandung oksigen. Hal ini yang membedakannya
dengan petroleum diesel dengan petroleum diesel yang komponen utamanya
terdiri hanya hidrokarbon tanpa oksigen.
Biodiesel mempunyai sifat kimia dan fisika yang serupa dengan petroleum
diesel sehingga dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau dicampur
dengan petroleum diesel. Walaupun kandungan kalori biodiesel serupa dengan
petroleum diesel, tetapi karena biodiesel mengandung oksigen flash pointnya
( titik nyala) lebih tinggi sehingga tidak mudah terbakar. Disamping itu,biodiesel
tidak mengandung sulfur dan senyawa bensin yang karsigonik sehingga biodiesel
merupakan bahan bakar yang bersih dan lebih mudah ditangani dengan petroleum
diesel.
Penggunaan minyak nabati sebagai bahan bakar telah dikenal sejak awal
penciptaan mesin diesl . pada tahun 1911, Rudolph Diesel membuat mesin dengan
cara kerja berdasarkan berdasarkan pengapian- bertekanan ( mesin desel). Pada
saat itu tidak ada mesin khusus menjalankan mesin ini dan menggerakkannya ia
menggunakan minyak kacang tanah. Rudolph disel menyebutkan bahwa mesin
disel dapat menggerakkan oleh minyak nabati.pengalaman Rudolph diesel telah
mengilhami beberapa beberapa Negara maju di Eropa untuk mengkonversi
minyak nabati menjadi bentuk bionergi guna menggerarakkan kendaraan
bermotor. Dewasa ini diperkirakan 100.000 lebih kendaraan mqw

enggunakan

biodiesel di beberapa Negara Eropa, misalnya jerman dimana bioenergi telah


menjadi energi masa depan.
Bahan bakar diesel relatif mudah terbakar sendiri ( tanpa harus dipicu
dengan letikan api busi) jika disemprotkan kedalam udara panas bertenan udara
panas. SNI telah menetapkan titik nyala biodiesel lebih tinggi disbanding dengan
minyak solar fosilataupun biosolar. Dimana titik nyala adalah apabila suatu

minyak dipanaskan sampai mulai menguap membentuk gas. Gas tersebut menyala
apabila terkena dengan nyala api, sedang suhu nyala penyalaan sendiri ( self
ignited) tanpa terkena nyala api pada motor diesel terjadi pada suhu yang lebih
tinggi dari titik nyala.( Thay, Gan Kong.2010)
2.2.1. Pembuatan Biodiesel
Biodiesel dihasilkan melalui proses transesfikasi. Transesfikasi adalah
penggantian gugus alkohol ester dengan alcohol lain dalam suatu proses yang
menyerupai hidrolisis. Namun pada proses ini tidak menggunakan air tetapi
alcohol. Sebagai katalisisnya menggunakan NaOH dan KOH. Jenis alkohol yang
digunakan adalah methanol atau etanol. Methanol lebih umum digunakan karena
harganya lebih murah. Proses transesterifikasi merupakan reaksi kesetimbangan
sehingga diperlukan alcohol dalam jumlah berlebih untuk mendorok reaksi ke
kanan sehingga dihasilkan metil ester (biodiesel). Proses transterifikasi ini selain
menghasilkan biodiesel, hasil sampingnya adalah gliserin, gliserin dapat
digunakan sebagai pembuatan sabun, bahan baku sabun ini berperan sebagai
pelembab.
Salah satu tujuan transesterifikasi untuk menurunkan viskositas dan
meningkatkan daya pembakaran sehingga dapat digunakan sesuai dengan
standartd minyak diesel untuk kendaraan bermotor (Prihandana, Rama dan Roy
Hendroko.2006). Viskositas merupakan sifat intrinsik yang menunjukkan retensia
fluida terhadap aliran.

Selain itu yang mempengaruhi rendemen ester yang

dihasilkan pada reaksi ini adalah perbandingan molar antara trigiserida dan
alkohol, jenis katalis yang digunakan, suhu reaksi, waktu reaksi, kandungan air,
serta kandungan asam lemak bebas dalam bahan baku yang menghambat reaksi.
Faktor yang mempengaruhi kandungan ester dalam biodiesel diantaranya
kandungan gliserol, jenis alcohol yang digunakan pada reaksi transesterifikasi,
serta jumlah katalis sisa dan kandungan sabun. Dalam reaksi tersebut, waktu yang
dibutuhkan sekitar 2-3 jam pada tekanan atmosferik, temperatur harus dijaga 60700 C pada reaksi pertama dan tahap kedua 30-200 C pada tahap kedua. Hal ini
membutuhkan suplai energy (panas). Tambahan lagi untuk melangsungkan reaksi.

Mekanisme reaksi kimia yang terjadi pada pembuatan biodiesel adalah


sebagai berikut:
NaOH(l) + CH3OH

CH3Na(aq) + H2O(g)

Mekanisme reaksi pembuatan biodiesel

Kondisi proses produksi biodieel dengan menggunakan katalis basa


1. Reaksi berlangsung pada temperature dan tekanan yang rendah
2. Menghasilkan konversi yang tinggi (98%) dengan waktu reaksi dan
terjadinya reaksi dan terjadinya reaksi samping yang minimal.
3. Konversi langsung menjadi biodiesel tanpa tahap intermediate.
4. Tidak memerlukan kontruksi peralatan yang mahal.
Hal ini yang bias menjadikan biodiesel sebagai alternative pengganti minyak
diesel yang murah dan efisien dalam pembuatan dan pengembanganya.
2.2.2. Standar Mutu Biodiesel
Berikut adalah table yang berisikan parameter, batas nilai, dan metode uji
dari suatu biodiesel berdasarkan Standar Nasional Indonesia Untuk Biodiesel
Tabel. Standar Nasional Indonesia Untuk Biodiesel
No
1
2
3
4
5
6

Parameter
Massa jenis pada 15C
Viskositas kinematik pada 40C
Angka setana
Titik nyala
Titik kabut
Korosi lempeng tembaga (3 jam

pada 50C)
Residu karbon

Satuan
Kg/m3
mm2 /s
C
C

Nilai
850-890
2,3-6,0
Min 51
Min 100
Maks 18
Maks no.3

%-m

Metoda Uji
ASTM D 1298
ASTM D 445
ASTM D 613
ASTM D 93
ASTM D 2500
ASTM D 130
ASTM D 4530

Dalam sampel asli, atau

Maks, 0,05

8
9
10

Dalam 10% ampas destilasi


Air dan sediman
Temperature detilasi 90C
Abu tersulfatkan

%-v
C
%-m

Maks 0,30
Maks 0,05
Maks 360
Maks, 0,05

ASTM D-1266
ASTM D 1160
ASTM D 874

11

Belerang

Ppm-

Maks 100

ASTM D5453

12

Fosfor

m(mg/Kg)
Ppm-

Maks 10

ASTM D-1266
AQCS Ca 12-55

13
14

Angka asam
Gliserol bebas

m(mg/Kg)
Mg KOH/g
%-m

Maks, 0,8
Maks, 0,02

AQCS Ca 12-55
AQCS Ca 30-65

15

Gliserol total

%-m

Maks, 0,24

ASTM D-6584
AQCS Ca 30-65

%-m
%-m

Maks 96,5
Maks 115
Negatif

ASTM D-6584
Dihitung*
AQCS Cd 1-25
AQCS Cd 1-25

16
Kadar ester alkil
17
Angka iodium
18
Uji halphen
(Thay,Gan Kong,2010)

Nilai parameter kualitas seperti pada table diatas ditentukan oleh


komposisi lemak bahan mentah. Ini terjadi karena angka setana, angka iodium dan
titik kabut biodiesel pada hakekatnya merupakan jumlah netto dari sifat-sifat
bahan dasar dari ester metil asam-asam lemak yang relatif umum. Angka setana
menunjukkan kemampuan bahan bakar untuk menyala sendiri atau segera
terbakar. Semakin tinggi angka setana semakin terkendali pula proses
pembakaranya didalam ruang bakar nmotor diesel. Dengan kata lain, bahan bakar
dapat menyala pada temperature yang relative rendah. Selain itu nilai viskositas
harus berada dikisaran 2,3-6,0 mm, dimana nilai viskositas yang tinggi artinya
cairan tersebut cukup kental akan mengganggu kinerja injector pada mesin diesel.
2.2.3. Metil Ester Asam Lemak Sebagai Komponen Biodiesel
Metil ester asam lemak memiliki rumus molekul Cn H2(n-1) CO-OCH3
dengan nilai n yang umum adalah angka genap antara sampai dengan 24 dan nilai
r yang umum 0,1,2 atau 3. Beberapa metil ester asam lemak yang di kenal adalah
Angka pertama menyatakan jumlah atom karbon dalam asam, kedua
menyatakan jumlah ikatan rangkap dan bilangan dalam tanda kurung menyatakan
bilangan dalam tanda kurung menyatakan kedudukan dan struktur ikatan rangkap.
Nama
Metil stearat
Metil palmitat
Metil laurat
Metil oleat
Metil linoleat

Struktur
CH3(CH2)16COOH
CH3(CH2)14COOH
CH3(CH2)10COOH
CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH
CH3(CH2)4(CH=CHCH2)2(CH2)6COOH

Keterangan
18:0
16:0
12:0
18:1(9C)
18:2(9C:12C)

Metil

CH3CH2(CH=CHCH2)3(CH2)6COOH

18:3(9C,12C,15C)

linolenat
Matsjeh,sabirin.1994)
Kelebihan metil ester asam lemak dibanding asam-asam lemak lainnya:
1. Ester dapat diproduksi pada suhu reaksi yang rendah.
2. Gliserol yang dihasilkan dari metanolisis adalah bebas air
3. Pemurnian metil ester lebih mudah disbanding dengan lemak lainya
karena titik didihnya lebih rendah.
4. Metil ester dapat diproses dalam peralatan karbon steel dengan biaya lebih
rendah daripada asam lemak yang memerlukan peralatan stainless stell.
Metil ester asam lemak tak jenuh memiliki bilangan setana yang lebih
kecil dibanding metil ester asam lemak jenuh (r = 0). Meningkatnya jumlah ikatan
rangkap suatu metil ester asam lemak akan menyebabkan penurunan bilangan
setana. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk komponen biodiesel
lebih dikehendaki metil ester asam lemak jenuh.
Lemak dan minyak terdiri dari trigliserida campuran, yang merupakan
ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang, molekul gliserol berikatan
dengan radikal asam lemak yang berbeda. Minyak dan lemak (trigliserida) yang
diperoleh dari berbagai sumber mempunyai sifat fisika- kimia yang berbeda satu
sama lain, karena jumlah perbedaan jumlah dan jenis ester yang terdapat
didalamnya. Minyak nabati terdapat dalam buah-buahan, kacang-kacangan, bijibijian, akar tanaman dan sayur-sayuran(ketaren,2005)
Reaktivitas kimia dari trigliserida dicerminkan oleh reaktivitas ikatan ester
dan derajat ketidakjenuhan dari rantai hidrokarbon. Asam lemak bebas yang
terbentuk hanya terdapat dalam jumlah kecil dan sebagian besar terikat dalam
bentuk ester (trigliserida). Secara alamiah, asam lemak jenuh yang mengandung
atom karbon C1 C8 berwujud cair, sedangkan jika lebih besar dari C 8 akan
berwujud padat. Makin banyak jumlah ikatan rangkap pada suatu karbon tertentu,
maka titik cairnya semakin rendah dan titik didihnya makin tinggi.
2.2.4.Karakterisasi Biodiesel
Karakterisasi yang umum perlu diperlu diketahui untuk menilai kinerja
bahan bakar biodiesel antara lain:

a) Densitas
Densitas atau berat jenis menunjukkan berat per satuan volume.
Karakteristik ini berkaitan dengan nilai kalor dan daya yang dihasilkan oleh mesin
diesel adalah dengan metode ASTM D 1298 dan mempunyai satuan kilogram
permeter kubik (kg/m3).

b) Viskositas
Viskositas adalah suatu kekentalan dari suatu fluida yang dimana
kekentalan ini dapat menentukan aliran pada fluida tersebut. Ada dua jenis aliran
fluida yaitu aliran laminar dan aliran turbulen. Aliran laminar yaitu hubungan
antara viskositas dan jenis aliran, semakin besar viskositas yang dimiliki oleh
suatu fluida maka aliran yang mungkin terjadi pada fluida tersebut adalah laminar,
begitu juga sebaliknya.
Viskositas air dan minyak memiliki kerapatan yang hampir sama dengan
namun memiliki perilaku yang berbeda. Untuk mengkarakterkan sebuah fluida
tidak cukup dengan sifat-sifat fluida seperti berat jenis dan kerapatan sebuah
fluida namun dibutuhkan sebuah sifat tambahan seperti visikositas untuk
menggambarkan fluditas sebuah fluida. Viskositas merupakan ukuran besarnya
tahanan sebuah fluida terhadap gaya geser yang diterima. Fluida dimana tegangan
gesernya linear terhadap gaya geser atau viskositasnya tidak berubah disebut
fluida Newtonian. Fluida yang tegangan gesernya tidak linear dengan regangan
gesernya disebut fluida non-newtonian. Fluida yang bergantung pada waktu yakni
dimana fluida yang visikositasanya makin lama makin berkurang meskipun laju
gesernya tetap disebut fluida thiksofrofik contohnya tinta. Fluida yang makin
lama makin bertambah viskositasnya meskipun laju gesernya tetap disebut fluida
rheopektik contohnya gips. Viskositas fluida juga bergantung pada temperature,
untuk pada temperature tinggi maka viskositas berkurang karena pergerakan
ikatan molekul yang berpisah dengan molekul lainya sedangkan untuk gas saat
temperature tinggi maka viskositas akan bertambah.

Viskositas merupakan sifat fisik yang penting bagi bahan bakar mesin
diesel. Viskositas yang terlalu tinggi dapat mempersulit proses pembentukan butirbutir cairan/kabut saat penyemprotan/automisasi. Viskositas bahan bakar yang
terlalu rendah akan dapat mengakibatkan kebocoran pada pompa injeksi bahan
bakar. Kedua hal ini menimbulkan kerugian, sehingga salah satu persyaratan
bahan bakar mesin diesel adalah nilai viskositas standar bakar mesin diesel.

2.3.Transesterifikasi
Proses transesterifikasi merupakan

reaksi trigliserida dengan alcohol

(methanol atau etanol ) untuk membentuk metil ester dan gliserol menggunakan
katalis basa NaOH atau KOH. Transesterifikasi pada dasarnya terdiri dari 4
tahapan, yakni: (indartono,2006)
1. Pencampuran katalis alkalin (umumnya sodium hidroksida atau potassium
hidroksida) dengan alcohol (umumnya metanol). Alcohol diset pada rasio
molar antara alkohol terhadap minyak sebesar 9:1.
2. Pencampuran alcohol dengan alkalin dengan minyak didalam wadah yang
dijaga pada temperature tertentu (sekitar 40-60C) dan dilengkapi dengan
pengaduk (baik magnetic motor elektrik) dengan kecepatan konstan.
Reaksi metanolisis ini dilakukan sekitar 1-2 jam.
3. Setelah reaksi metanolisis berhenti, campuran akan mengakibatkan
separasi antara metil ester dan gliserol. Metil ester dipisahkan dari gliserol
dengan teknik separasi gravitasi.
4. Metil ester (biodiesel) kemudian dibersihkan menggunakan air distilat
untuk memisahkan zat-zat pengotorseperti methanol, sisa katalis alkalin,
gliserol dan sabun-sabun (soaps)
2.4.Kromatrografi Gas
Kromatrografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk
memisahkan campuran yang sangat rumit. Waktu yang dibutuhkan beragam,

mulai dari beberapa detik untuk campuran sederhana sampai berjam-jam untuk
campuran yang mengandung 500-1000 komponen. Komponen campuran dapat
diidentifikasikasikan dengan menggunakan waktu tambat (waktu retensi) yang
khas pada kondisi yang tepat.
Waktu retensi adalah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu
senyawa tertahan dalam kolom. Waktu retensi diukur dari jejak pencatat pada
kromatogram dan serupa dengan retensi dalam KCKT dan Rf falam KLT. Dalam
kromatografi gas, fase bergeraknya adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai
uap. Pemisahan tercapai dengan partisis sampel antara fase gas bergerak dan fase
diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat
pada zat padat peninjaunya (Khopkar,S.M,1990)

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.Lokasi dan Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium KIMIA FMIPA UNIMED dan
penggunaan GC (gas kromatografi) dipusat penelitian kelapa sawit (PPKS) dijalan
Brigjen Katamso No.51 Kampung Baru Medan. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Maret-April 2015.

3.2.Populasi dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah semua kulit durian yang ada di
sumatera utara. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah kulit durian
berjenis yang ada dikota medan.
3.3.

Alat dan Bahan

3.3.1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat soxhletasi, alat
destilasi, peralatan gelas (250 mL,dan 1000Ml, gelas erlemeyer 200 Ml,400ml,
dan 1000 Ml, gelas ukur, labu leher tiga ), heating mantel, neraca analitik, oven,
buret, piknometer, viscometer Ostwald, stopwatch,corong pisah 100ml,sentrifuse
dan alat GC.
3.3.2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak kulit


durian yang telah di ekstraksi, n-heksan pa, NaOH pa, klororofrrom pa,
phenolptalein,asam fospat.

3.4.
Pembuatan Larutan
3.4.1. Larutan NaOH N(0,1 M)
NaOH ditimbang sebanyak 0,4 gram bersama gelas kimia 50 mL, (yang
sudah diketahui masssanya) dengan cepat, lalu tuangkan ke dalam 25 mL
aquadess dan aduk hingga melarut, pindahkan kedalam labu ukur 100 mL.
lakukan pembilasan; encerkan larutan dengan aquades sampai volumenya 100
mL; tutup rapat dan homogenkan.
3.4.2. Larutan Na2S2O3 0,1 N(0,05 M )
Ditimbang Na2S2O3.5H2O sebanyak

6,20

gram;

larutkan

dengan

akuades(setelah didihkan) kemudian masukkan dalam labu ukur 500 mL


tambahkan lagi aquades sampai tanda batas: biarkan semalaman: ambil larutan
jernihnya.
3.4.3. Larutan Pati
Padatan pati ditimbang 1 gram, kemudian larutkan dalam gelas kimia
dengan 25 mL akuades. Pindahkan dalam gelas ukur 100 mL dan tambahkan
akuades sampai tanda batas.

3.5.Prosedur Kerja
3.5.1. Ekstraksi Pelarut Minyak Kulit Durian Dengan Metode Soxhetasi
1. Kulit durian dikeringkan dalam oven pada suhu 105 C selama 6 jam.
2. Kemudian kulit durian yang kering dihaluskan dengan blender dan
diekstraksi menggunakan pelarut n-heksan dengan metode soxhletasi
selama 4 jam.
3. Untuk memisahkan minyak dari n-heksan dilakukan proses destilasi pada
suhu 60-70 C sehingga akan diperoleh minyak yang bebas n-heksan.
Kemudian minyak ditimbang.
3.5.2. Proses Pembuatan Biodiesel Minyak Kulit Durian
Pemurnian Minyak
1. Perlakuan Pendahuluan (Degumming)
Kedalam minyak kulit durian diberi asam fostat sebanyak 0,2% dari berat
minyak. Kemudian dilakukan pengadukan konstan. Hingga warna menjadi
lebih hitam, lalu dipisah dengan menggunakan sentrifuse.
2. Netralisasi
Minyak hasil perlakukan degumming diberi NaOH 1% dari berat minyak.
Lalu diaduk sampai terbentuk sabun dengan pH netral, kemudian diberi air
panas sebanyak 10% dari berat minyak. Diaduk lalu dikeringkan dalam
oven.
Proses transesterifikasi dan pencucian biodiesel
1. Dimasukkan 100 g minyak kulit durian dan magnetic stirrer kedalam labu
leher dua yang dilengkapi dengan kondenser refluks dan thermometer.
Kemudian minyak dipanaskan pada suhu 55-60 C
2. Dilarutkan 1 g NaOH kedalam 25,5 ml methanol
3. Natrium metoksida kemudian dimasukkan kedalam labu transesterifikasi
yang berisi minyak kulit durian. Biarkan reaksi berjalan dengan suhu tetap
50-60 C selama 2 jam.
4. Isi labu transesterifikasi dipindahkan kedalam corong pisah 500 ml, labu
diamkan selama 24 jam.
5. Gliserol yang ada dilapisan bawah dipisahkan dari biodiesel.

6. Kedalam biodiesel ditambahkan air panas sebanyak 10 % dari berat


biodiesel kemudian dikocok hingga terbentuk campuran berwarna susu
dan biarkan tenang hingga air dan biodiesel memisah.
7. Biodiesel dapat dipisahkan dari lapisan air dan ukur pHnya.
3.5.3. Penentuan parameter kimia biodiesel
Penentuan Densitas Biodiesel
1. Piknometer kosong yang telah bersih dan kering ditimbang (Go)
2. Kemudian di isi dengan sampel biodiesel, lalu tutup kapiler dimasukkan
sampai tanda batas. Lalu ditimbang (G)
Maka harga densitas dapat dihitung dengan persamaan berikut:
D= G-Go + 0,0012
Vt
Dimana :
D = Densitas (g/cm3)
Go = berat piknometer kosong
G=berat piknometer dan sampel
Bilangan 0,0012 adalah koreksi terhadap udara
Penentuan viskositas biodiesel
1. Dimasukkan sampel kedalam viscometer Ostwald yang bersiih dan kering.
2. Sampel minyak kemudian dihisap melalui labu pengukur dari viscometer
sampai permukaan minyak lebih tinggi dari batas a. kemudian cairan
minyak dibiarkan turun.
3. Stop-watch dihidupkan saat minyak melewati batas a dan dimatikan saat
melewati batas b
4. Dilakukan perlakuan yang sama terhadap air.
Maka volume cairan yang mengalir memalui pipa persatuan waktu adalah: