Anda di halaman 1dari 28

Master Plan

Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

BAB II
Metodologi Pelaksanaan

II.1.

PENGERTIAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP


1. Sumberdaya alam
Sumberdaya (resources) dapat diartikan sebagai segala
sumber yang tersedia dan potensial untuk dapat didayagunakan.
Sumberdaya alam (natural resources) adalah semua unsur tata
lingkungan biofisik yang dengan nyata atau potensial dapat
memenuhi kebutuhan manusia, atau dengan kata lain sumberdaya
alam merupakan semua bahan yang ditemukan manusia di alam yang
dapat dipakai atau dapat didayagunakan untuk memenuhi segala
kepentingan hidup manusia (UUKSDA Nomor 5 tahun 1990).
Sumberdaya Alam (Natural Resources) adalah semua unsur tata
lingkungan biofisik yang dengan nyata atau potensial dapat
memenuhi kebutuhan manusia, atau dengan kata lain sumberdaya
alam merupakan semua bahan yang ditemukan manusia dalam alam,
yang dapat dipakai untuk memenuhi segala kepentingan hidupnya
(Katili,

1983).

Berdasarkan

kemampuan

dan

pemulihannnya,

sumberdaya alam dapat dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-1

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

(a)

yang dapat dipulihkan atau diperbaharui (renewable resources);

(b)

yang tidak dapat diperbaharui (non renewable resources); dan

(c)

yang terus menerus dapat dimanfaatkan dan tidak dapat habis


(continuous resources).
Tingkat keberadaan sumberdaya alam dipengaruhi oleh

berbagai kendala, yaitu:


(a)

penyebaran secara geografis yang tidak merata;

(b)

ketergantungan antara sumberdaya alam (lahan, hutan, air dan


mineral) dalam satu kesatuan ekosistem; dan

(c)

keberadaan sumberdaya alam sebagai komponen dari suatu


ekosistem dalam lingkungan hidup yang mensuplai bahan
mentah, diolah menjadi bahan baku dan akhirnya menghasilkan
produk atau barang jadi, tetapi juga menghasilkan limbah.

Sumberdaya alam berdasarkan komponennya dapat dibagi


menjadi 4 (empat), yaitu: sumberdaya lahan, air, hutan dan mineral.
Sumberdaya Lahan
Sumberdaya lahan (land resources) merupakan potensi ruang yang
mengandung unsur-unsur lingkungan fisik, kimia, dan biologis, yang
saling berinteraksi terhadap potensi tata guna lahan. Lahan
merupakan perpaduan dari berbagai unsur atau komponen bentang

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-2

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

lahan, geologis, tanah, hidrologis, iklim, flora dan fauna, serta alokasi
penggunaannya. Lahan dapat dialokasikan ke dalam berbagai
peruntukan, yaitu:
(a)

ruang untuk tempat tinggal ( fisik-ekologis);

(b)

media atau tempat pertumbuhan tanaman (fisik, kimia dan


biologis);

(c)

wadah bahan atau galian bahan mineral (fisik dan kimia).

Mengingat fungsi lahan yang serba guna, yang pengurusannya


dikerjakan oleh berbagai instansi sektoral yang ada di pemerintahan,
maka dalam pengaturan pemanfaatan dan pengelolaannya harus
terpadu secara serasi antar sektor dan antar kepentingan.
Untuk mengkualifikasikan lahan, maka dapat digunakan berbagai
satuan ukuran, yaitu:
(a)

Lahan sebagai tempat yang berdimensi ruang dapat dukur


dengan satuan isi atau volume;

(b)

Lahan sebagai media pertumbuhan tanaman dapat diukur


dengan berdasarkan tingkat kesuburan atau produktivitasnya;

(c)

Lahan sebagai tempat penghasil tanah, batuan, mineral (logam


dan non logam), dapat diukur dengan satuan berat dan volume;
serta

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-3

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

(d)

Lahan untuk keperluan serba guna dapat diukur dengan tingkat


atau kelas kemampuan dan kesesuaiannya.

Sumberdaya Air
Yang dimaksud dengan sumberdaya air (water resources) adalah
semua air yang terdapat di dalam dan/atau berasal dari sumbersumber air, baik yang ada di atas maupun di bawah permukaan tanah
(dalam pengertian ini tidak termasuk air yang terdapat di laut) (UU
No.11 tahun 1974). Sumber air dapat digolongkan menjadi 3 (tiga),
yaitu: air permukaan, seperti: sungai, danau, waduk dan rawa;
airtanah termasuk mataair dan air udara (curah hujan). Aspek-aspek
penting yang terkait dengan sumberdaya air adalah kualitas air,
potensi ketersediaan atau cadangan dan kebutuhan air.
Kualitas air sangat dipengaruhi oleh lokasi, keadaan fisik dan
penggunaan lahan suatu wilayah. Kualitas airtanah dipengaruhi oleh
jenis dan ketebalan akuifer pada wilayah tersebut dan adanya
kesempatan air permukaan meresap ke dalam tanah, sedang
keberadaan air di darat yang mencakup jumlah dan kualitasnya
sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik bumi beserta ekosistem yang
ada secara alamiah. Sumber utama air berasal dari air hujan. Air
mempunyai daya regenerasi, karena selalu dalam kondisi sirkulasi

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-4

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

atau mengalami daur (siklus) hidrologi dan terbagi secara merata


menurut kondisi geografis dan iklim.
Inventarisasi potensi sumberdaya air dan pemanfaatannnya pada
umumnya merupakan pengumpulan data mengenai jumlah air,
kualitas, lokasi dan waktu tersedianya sumberdaya air tersebut, serta
kuantitas penggunaannya bagi kebutuhan manusia, seperti: untuk
keperluan

domestik,

industri,

pertanian

atau

perikanan

dan

sebagainya.
Sumberdaya Mineral
Sumberdaya mineral (mineral resources) adalah semua cadangan
bahan galian yang dijumpai di bumi dan yang dapat dipakai bagi
kebutuhan hidup manusia. Mineral adalah zat padat yang sebagian
besar terdiri atas kristal (hablur) yang ada di kerak bumi, bersifat
homogen, sifat fisik dan kimianya merupakan persenyawaan anorganik asli, serta mempunyai susunan kimia yang tetap dan
bertindak sebagai bahan pembentuk batuan. Bahan galian adalah
unsur-unsur kimia, mineral-mineral, bijih-bijih atau segala macam
batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan-endapan
alam.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1980, bahan galian di
Indonesia dibagi 3 (tiga) golongan, yaitu bahan galian golongan A

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-5

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

(strategis), bahan galian golongan B (vital), dan bahan galian


golongan (C) yang tidak termasuk ke dalam kedua golongan
sebelumnya.
Beberapa sifat dari sumberdaya mineral yang perlu diperhatikan
sebagai faktor pembatas di dalam pengelolaannya, antara lain:
(a)

mineral

merupakan

sumberdaya

alam

yang

tidak

dapat

diperbaharui (non-renewable resources); dan


(b)

ketersediaan sumberdaya mineral sangat ditentukan oleh nilai


ekonomi mineral dan teknologi serta pengelolaannya.

Sumberdaya Hutan
Menurut Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Pokok-pokok
Kehutanan, yang dimaksud dengan hutan (forest) adalah suatu
lapangan pertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan
merupakan

persekutuan

hidup

alam

hayati

beserta

fisik

lingkungannnya, dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan.


Peranan sumberdaya hutan di dalam lingkup pembangunan daerah
merupakan produsen alam yang menghasilkan produk ganda yaitu
barang dan jasa. Jenis barang yang dihasilkan oleh sumberdaya
hutan, adalah:
(a)

komoditi berbagai jenis kayu;

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-6

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

(b)

komoditi hasil hutan non kayu, seperti: kulit, daun, bunga, buah,
satwa liar, rotan, dan sebagainya.

Sementara dalam aspek jasa, hutan merupakan sarana bagi pengatur


tata air, pencegah erosi dan banjir, penstabil iklim dan sebagainya.

2. Lingkungan hidup
Menurut UULH Nomor 23 tahun 1997, lingkungan hidup adalah
kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan dan makhluk
hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi
kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya. Lingkungan hidup merupakan hal utama yang
harus diperhatikan dalam pembangunan berkelanjutan, sehingga
kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup dalam pembangunan
berwawasan lingkungan mempunyai tekanan terbesar.
Menurut UULH No.23 tahun 1997, lingkungan hidup tersusun
atas 3 (tiga) komponen, yaitu:
(1)

Lingkungan abiotik (fisik), yaitu lingkungan hidup yang terdiri


atas benda-benda mati, seperti: udara, air, batuan dan tanah;
yang dapat dikelompokkan ke dalam sumberdaya alam.

(2)

Lingkungan biotik (hayati), yaitu lingkungan hidup yang terdiri


atas benda-benda hidup di sekitar manusia, seperti: hewan

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-7

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

(fauna) dan tumbuhan (flora); yang dapat dikelompokkan ke


dalam sumberdaya hayati.
(3)

Lingkungan kultur (sosial, ekonomi, budaya), yaitu lingkungan


hidup yang menenkan pada manusia dan perilakunya, yang
secara

langsung

maupun

tidak

langsung

mempengaruhi

keberlang-sungan kehidupan secara keseluruhan; yang dapat


dikelompokkan ke dalam sumberdaya manusia.
Ketiga komponen lingkungan hidup di atas merupakan satu kesatuan
yang utuh, saling terkait, tergantung dan saling mempengaruhi satu
sama lain, sehingga gangguan atau perubahan terhadap satu
komponen akan berpengaruh terhadap keberadaan komponen yang
lain. Oleh karenanya dalam pengelolaan lingkungan hidup harus
memperhatikan ketiga komponen tersebut.
Pokok-pokok pengelolaan lingkungan hidup meliputi: prinsip
dasar pengelolaan lingkungan dan sasaran jangka panjang. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup merupakan
upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang
meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan,
pemeliharaanm

pemulihan,

pengawasan

dan

pengendalian

lingkungan hidup (UULH Nomor 23 tahun 1997). Untuk dapat


mengelola lingkungan hidup dengan segenap sumberdaya yang ada,

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-8

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

maka

dilakukan

pembangunan

berkelanjutan

berwawasan

lingkungan, yaitu upaya sadar dan terencana yang memadukan


lingkungan

hidup

termasuk

sumberdaya,

ke

dalam

proses

pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu


generasi masa kini dan generasi masa yang akan datang. Untuk
menciptakan

terlaksananya

pembangunan

berkelanjutan

yang

berwawasan lingkungan, program awal yang dapat ditempuh


berkaitan dengan masalah lingkungan dan sumberdaya alam adalah
inventarisasi dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

II.2.

RUMUSAN MASALAH
Sebagai suatu ekosistem, bentanglahan memiliki beberapa fungsi,
yaitu: (a) fungsi keruangan, produksi dan habitat; (b) fungsi hidrologi yang
mengatur siklus hidrologi; (c) fungsi ekosistem sendiri yang merupakan
keterpaduan sistem yang terbentuk oleh berbagai komponen lingkungan.
Beberapa hal yang menjadi masalah dalam pengelolaan sumberdaya
alam dan lingkungan dengan basis ekosistem bentanglahan, antara lain:
(a)

batas

ekosistem

administrasi,

yang

tidak

menimbulkan

berkesesuaian

kesulitan

dalam

dengan
koordinasi

batas
dan

sinkronisasi program pengeloaan sumberdaya alam dan lingkungan;

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-9

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

(b)

pemanfaatan

sumberdaya

lahan

yang

tidak

sesuai

dengan

kemampuan lahan dan tataruang wilayah, dapat menyebabkan


terjadinya bahaya erosi dan longsor lahan, simpanan air berkurang,
dan

meningkatkan

masalah

yang

limpasan

lebih

lanjut

permukaan,
berupa

serta

menimbulkan

sedimentasi,

banjir

dan

kekeringan;
(c)

jumlah dan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat akan


diikuti

dengan

peningkatan

kebutuhan

papan

dan

pangan,

kebutuhan air dan kebutuhan energi, meningkatnya limbah,


perubahan penggunaan lahan, dan eksploitasi sumberdaya alam
berlebihan;
(d)

perilaku masyarakat yang kurang ramah terhadap lingkungan akan


menimbulkan terjadi degradasi lingkungan yang disebabkan oleh
karena masyarakat memandang tubuh perairan sebagai tempat
pembuangan limbah, yang diperparah lagi dengan pemanfaatan
sumberdaya alam yang melampaui daya dukungnya;

(e)

pembangunan industri disamping meningkatkan kesejahteraan


masyarakat kota dan daerah pedesaan, dapat berdampak negatif
pula berupa pencemaran lingkungan, baik pencemaran udara, tanah
maupun lingkungan perairan;

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-10

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

(f)

masalah kelembagaan dan koordinasi yang menangani pengelolaan


sumberdaya

alam dan

disebabkan

karena

beragam,

intensif,

pengelolalaan

lingkungan

pemanfaatan
dan

belum

sumberdaya

yang

belum

sumberdaya
adanya

alam

forum

secara

baik,

yang

alam

sangat

atau

badan

terpadu,

padahal

sumberdaya alam bersifat lintas wilayah administrasi; dan


(g)

belum tersedianya basisdata pengelolaan sumberdaya alam dan


lingkungan

hidup

yang

mengintegrasikan

antara

teknologi

Penginderaan Jauh (Remote Sensing) dengan Sistem Informasi


Geografis yang lebih akurat.
Seperti telah diungkapkan, bahwa di dalam ekosistem bentang
lahan tersebut terdapat berbagai masalah lingkungan, seperti: tekanan
penduduk, degradasi lingkungan, kerusakan oleh bencana, dan aset
dalam lingkungan yang perlu dilestarikan seperti bendungan, jaringan
irigasi, industri dan sebagainya. Oleh karena itu pembangunan di
berbagai sektor sebaiknya didukung oleh kelestarian lingkungan hidup
yang dikelola secara bersama antar stakeholder, yang berpedoman pada
rencana induk (grand design) pengelolaan sumberdaya alam dan
lingkungan hidup.
Mengingat

banyaknya

permasalahan

dalam

pengelolaan

sumberdaya alam dan lingkungan, maka aspek permasalahan sudah

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-11

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

sepantasnya menjadi dasar utama bagi pertimbangan dan pengambilan


kebijakan

pengelolaan

lingkungan

hidup

secara

terpadu

dan

berkesinambungan. Beberapa aspek penting yang dapat dijadikan dasar


bagi upaya pengendalian sumberdaya alam dan lingkungan hidup di
Kabupaten Donggala adalah:
(a)

koordinasi antar sektor dalam pengelolaan lingkungan masih lemah,


akibat terjadinya benturan pemanfaatan sumberdaya alam oleh
setiap stakeholder, yang masing-masing mempunyai peran dan
fungsi sendiri-sendiri secara terpisah;

(b)

adanya ketimpangan pemanfaatan lahan saat ini dengan tingkat


kesesuaian atau kemampuan lahannya, konversi lahan hutan ke
bentuk penggunaan lainnya, dan perubahan penggunaan lahan
pertanian

menjadi

lahan-lahan

permukiman,

menyebabkan

meningkatnya laju aliran permukaan yang pada akhirnya dapat


meningkatkan frekuensi kejadian banjir kota;
(c)

berbagai aktivitas penduduk yang belum banyak mengerti akan arti


pentingnya menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan,
seperti: penambangan bahan galian C di wilayah perbukitan yang
tidak diikuti dengan reklamasi lahan, penambangan pasir putih di
wilayah pesisir, perusakan terumbu karang dan penangkapan satwa
pesisir, penangkapan burung-burung langka, pembukaan hutan,

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-12

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

pemanfaatan sumber daya air yang tidak diimbangi dengan upaya


menjaga

kelestariannya,

dan

masih

banyak

lagi

aktivitas

masyarakat atau bahkan pihak swasta yang dapat mengancam


keberadaan dan kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan
sekitar;
(d)

adanya

ketimpangan

permukiman,
lingkungan

pertumbuhan

dan

perkembangan

jalur transportasi, komunikasi, dan


lainnya,

antara

satu

wilayah

infrastruktur

dengan

wilayah

pengembangan lainnya, apabila tidak segera dipahami dan


ditindaklanjuti, maka akan menimbulkan gejolak sosial yang
berdampak lebih serius terhadap keberlanjutan pembangunan; dan
(e)

aksesibilitas yang semakin berkembang dan arus transportasi yang


lancar pada daerah-daerah, menyebabkan industri dan permukiman
tumbuh sangat cepat, yang berdampak pula pada meningkatnya
kebutuhan air bersih dan meningkatkan pula limbah padat maupun
cair, sehingga kuantitas atau ketersediaan dan kualitas lingkungan
pada umumnya cenderung akan mengalami penurunan.
Berdasarkan pada berbagai permasalahan yang telah dan akan

terjadi di Kabupaten Donggala, maka perlu segera untuk ditangani.


Langkah awal yang harus ditempuh adalah merumuskan suatu strategi
pemecahan masalah, yang dituangkan dalam bentuk rencana induk

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-13

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

pengendalian sumberdaya alam dan lingkungan, untuk setiap satuan


ekosistem

bentanglahan

yang

ada

sebagai

satuan

wilayah

pengembangan. Prinsip dasar pengendalian ekosistem bentang lahan


merujuk pada prinsip-prinsip dasar pengendalian lingkungan secara
terpadu,

meliputi:

pengeandalian

sumberdaya

lahan,

air,

udara,

keanekaragaman hayati (hutan), mineral, dan sumberdaya manusia,


pada setiap wilayah.
Kegiatan

pengendalian,

meliputi:

perencanaan,

penataan,

penetapan, pemanfaatan, pelestarian, dan pemantauan (7P). Pola


pengendalian pada masa dahulu cenderung partial, topdown dan project
oriented, sehingga dalam era otonomi daerah ini terdapat perubahan
paradigma pembangunan, sehingga pengendalian sumberdaya alam dan
lingkungan semestinya dilakukan secara terpadu, bottom up, programme
oriented, dan menerapkan pendekatan partisipasi masyarakat dengan
mengutamakan ekonomi kerakyatan.
Selanjutnya ada beberapa isu lingkungan yang akhir-akhir ini
menjadi masalah utama di Kabupaten Donggala yaitu :
1.

Degradasi hutan;

2.

Banjir dan tanah longsor;

3.

Penyusutan mangrove;

4.

Abrasi pantai;

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-14

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

5.

perubahan lingkungan akibat pertambangan galian C;

6.

Gempa dan tsunami;

7.

Pembuangan sampah tidak pada tempatnya.

Gambar 2.1. Kondisi kerusakan lingkungan Kabupaten Donggala


(Sumber : data olahan 2008)

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-15

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

II.3.

PENDEKATAN KAJIAN
Pendekatan perencanaan dalam pengendalian sumber daya alam
dan lingkungan hidup, terdiri atas 3 (tiga) pendekatan, yaitu:
a. Pendekatan sebab, yang ditujukan untuk mengetahui penyebab
terjadinya kerusakan sumberdaya alam atau degradasi lingkungan.
Perlu dilakukan identifikasi masalah dari berbagai komponen
lingkungan, yaitu: udara, lahan, air, mineral, hayati, kependudukan,
sosial budaya, sosial ekonomi, kesehatan masyarakat, hukum dan
kelembagaan, pada setiap satuan ekosistem.
b. Pendekatan kewilayahan, bahwa penyelesaian masalah didekati
dengan aspek kewilayahan, tidak lagi per obyek atau per proyek
kegiatan. Kewilayahan sedapat mungkin mengarah ke pola kesatuan
ekosistem bentanglahan atau fisiografi yang termasuk dalam satuan
wilayah pengembangan.
c. Pendekatan

keterpaduan

program,

yang

diarahkan

untuk

mengintegrasikan kebijaksanaan, persepsi terhadap suatu masalah


dan keterpaduan alternatif program pengelolaan sumberdaya alam
dan lingkungan. Keterpaduan program dicapai dengan cara kegiatan
partisipatif mulai dari penggalangan dukungan, penyahihan informasi,
identifikasi masalah dan penetapan program-program kebijakan.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-16

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

Mengingat bahwa master plan pengendalian sumber daya alam


dan lingkungan hidup berkaitan dengan bentang lahan yang mempunyai
fungsi ruang, habitat, dan produksi; sistem hidrologi; dan kesatuan
ekosistem; maka pendekatan Master Plan Pengendalian Sumber Daya
Alam dan Lingkungan Hidup disusun atas dasar pertimbangan
komponen-komponen:
a. lahan, mencakup: rencana tata ruang wilayah, daerah rawan

bencana, penggunaan lahan saat kini, dan lahan kritis;


b. hidrologi atau air, mencakup: curah hujan, udara, air sungai, dan

pantai;
c. hutan dan keaneragaman hayati;
d. mineral potensi tambang dan usaha penambangan;
e. kependudukan dari aspek demografi, sosial-ekonomi, sosial udaya,

dan kesehatan masyarakat;


f.

kepastian hukum dan kelembagaan;

g. penyusunan

rencana

induk

melibatkan

stakeholders

dengan

paradigma baru, baik di tingkat masyarakat, swasta atau pemegang


modal, pemerintah daerah maupun pelaksana teknis program.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-17

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

Identifikasi Masalah
Ekosistem

Kondisi Lingkungan
Wilayah Pengembangan

Sektoral

Kebijakan & Aturan

Pengguna Lahan

Aspek Regional

Ekosistem Bentanglahan
Organisasi
Informal
Program yang telah /
pernah dilaksanakan
Daftar Masalah

Formulasi
Pengendalian
SDA dan LH

Konsep: Pendekatan
Perencanaan

Rekomendasi
Penanganan Masalah dan Pemulihan
Kualitas Lingkungan

Strategi Pengendalian SDA dan Lingkungan


Hidup

USER
Institusi / Masyarakat / PEMDA

Gambar 2.2. : Skema pendekatan kajian

II.4.

PERSIAPAN KERJA
Pencapaian hasil kegiatan secara optimal, sangat ditentukan pada
kesiapan tim pelaksana kegiatan. Untuk itu perlu dilakukan beberapa
langkah persiapan dalam beberapa hal yang berkaitan dengan
pelaksanaan kegiatan penyusunan Master Plan Pengendalian Sumber

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-18

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala. Persiapanpersiapan yang akan dilakukan adalah meliputi persiapan terhadap :
1. Tim Kerja.
Sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, maka tim kerja akan
terdiri dari tenaga-tenaga profesional yang berpengalaman dalam bidang
kerja sejenis dan dibantu beberapa asisten tenaga ahli dan tenaga
pendukung. Secara struktural masing-masing anggota tim mempunyai
tugas dan tanggung jawab sesuai dengan bidangnya masing-masing dan
dipimpin oleh seorang pimpinan tim yang bertanggung jawab

atas

keseluruhan pelaksanaan pekerjaan teknis baik di lapangan ataupun di


studio. Tim pelaksana akan dikordinir oleh Ketua Tim yang berwenang
penuh dan bertanggung jawab dengan pelaksanaan pekerjaan dan akan
mengontrol/mengendalikan

pelaksanaan

pekerjaan

agar

berjalan

sebagaimana mestinya sesuai rencana dan sekaligus menangani hal-hal


yang non teknis.
Untuk memaksimalkan kinerja dari tim pelaksana, maka perlu
dilakukan koordinasi-koordinasi rutin, sehingga semua informasi dan
data-data mengenai pelaksanaan kegiatan akan bisa diterima dan
dipahami dengan baik oleh semua anggota tim pelaksana. Koordinasi
kerja dikategorikan dalam koordinasi ekstern dan koordinasi intern,
dimana koordinasi ekstern adalah hubungan Tim Kerja dengan pihak-

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-19

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

pihak luar yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, sedangkan


koordinasi kerja intern merupakan koordinasi kerja didalam struktur
organisasi Tim Kerja.
A. Koordinasi Kerja Intern
Adalah koordinasi antara bagian-bagian dalam Tim Kerja yang
menangani
keterkaitan

pekerjaan
satu

sama

penyusunan,
lain.

Hal

dimana
ini

akan

mempunyai
memudahkan

pelaksanaan pekerjaan karena antar bagian mengetahui tugasnya


masing masing.
B. Koordinasi Kerja Ekstern
Adalah koordinasi antara Tim Kerja dengan unsur - unsur
eksternal yang terlibat dalam proses pekerjaan ini. Koordinasi
kerja ini dimaksudkan agar semua permasalahan yang bersifat
teknis maupun administratif dapat segera diatasi, sehingga tidak
mengganggu jalannya pekerjaan. Hal ini disebabkan semua unsurunsur yang tersebut diatas masing-masing saling terkait satu sama
lain.
Selain itu, sebelum pelaksanaan kegiatan dimulai, maka perlu
dilakukan proses pemahaman terhadap kegiatan yang akan dilaksanakan
terlebih dahulu. Sehingga seluruh anggota tim pelaksana akan memiliki
pemahaman yang seragam. Diharapkan dari pemahaman ini akan timbul

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-20

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

kinerja yang baik dan maksimal dari setiap anggota tim sesuai dengan
bidang kerja masing-masing.
2. Administrasi
Persiapan

administrasi

yang

dimaksud

adalah

persiapan

administrasi guna kelancaran pekerjaan seperti surat survey dari pemberi


kerja/penguna kegiatan, persiapan pembuatan blangko dan tabel untuk
kelancaran pelaksanaan survey dan pengumpulan data serta penyediaan
peta peta untuk memperlancar kegiatan dilapangan.
3. Fasilitas dan Akomodasi
Kelancaran pelaksanaan pekerjaan baik di lapangan maupun di
studio sangat ditentukan oleh ketersediaan fasilitas dan akomodasi.
Peran manajerial proyek dari Ketua Tim sangat dibutuhkan disini untuk
memantau kebutuhan tim kerja utamanya menyangkut fasilitas kerja dan
akomodasi.
Fasilitas akan disiapkan lebih awal sebelum pelaksanaan
pekerjaan dimulai guna menghindari kemungkinan fasilitas yang tidak
berfungsi baik agar segera diganti atau diperbaiki, utamanya peralatan
untuk pekerjaan survey. Kebutuhan akomodasi akan diusahakan
konsultan agar siap setiap saat dalam mendukung kelancaran pekerjaan
baik di lapangan atau di studio.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-21

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

4. Rencana Kerja.
Rencana kerja merupakan pedoman dalam pencapaian target
pekerjaan, untuk itu sebelum pelaksanaan pekerjaan, tim kerja perlu
menyusun secara rinci kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selama
pelaksanaan pekerjaan termasuk penjadwalan masing-masing kegiatan
tersebut. Rencana kerja ini perlu disesuaikan dengan jangka waktu
pelaksanaan yang tersedia. Berdasarkan jangka waktu ini tim kerja akan
menjadwalkan
termasuk

masing-masing

tenaga

kerja.

kegiatan

yang

Penjadwalan

akan

dilaksanakan

masing-masing

kegiatan

disesuaikan dengan tingkat kesulitan dalam pelaksanaannya nanti.


5. Penajaman Rencana Kerja
Penajaman rencana kerja yang dimaksud adalah menyusun
rencana kerja yang lebih rinci berkaitan dengan segala kegiatan yang
akan

dilakukan

dalam

pelaksanaan

penyusunan

Master

Plan

Pengendalian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kabupaten


Donggala.
6. Koordinasi Dengan Pemberi Tugas
Koordinasi

dengan

pemberi

tugas

pada

tahap

persiapan

dimaksudkan agar didapat kata sepakat dan untuk melakukan penyatuan


pemikiran berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-22

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

II.5.

PENGUMPULAN DATA
Data adalah komponen terpenting dari pelaksanaan kegiatan ini,
karena data merupakan inti dari produk yang akan dihasilkan dari
pelaksanaan kegiatan ini. Untuk menghasilkan hasil kegiatan yang
berkualitas, maka diperlukan kualitas data yang baik, tepat dan terkini.
Proses menghasilkan data akan melalui beberapa tahapan. Alur proses
untuk menghasilkan data jadi yang disajikan dalam dokumen dan laporan
adalah sebagai berikut :
ALUR PROSES DATA
MULAI

DOKUMEN
KAK

PEMAHAMAN
TERHADAP KAK

INVENTARISASI
DATA-DATA YANG
DIPERLUKAN

DAFTAR DATA
YANG HARUS
DIAMBIL

DATA PRIMER

PEMISAHAN JENIS-JENIS
DATA YANG HARUS
DIAMBIL

DATA
SEKUNDER

PENGAMBILAN
DATA PRIMER

PENGAMBILAN
DATA
SEKUNDER

DATA
PRIMER

DATA
SEKUNDER

SUMBER DATA
SEKUNDER SEPERTI
LITERATUR, BUKU, HASIL
PENELITIAN DLL

PENGOLAHAN
DATA

PENYAJIAN
DATA YANG
TELAH DIOLAH

DOKUMEN
MASTER PLAN

SELESAI

Gambar 2.3. : Alur proses data

Secara umum, data-data yang akan diambil akan digolongkan ke


dalam 2 kelompok besar, yaitu :
a. Data sekunder;

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-23

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen-dokumen,


literatur, hasil penelitian, hasil survei ataupun hasil kajian yang telah
dihasilkan sebelumnya.
b. Data primer.
Data primer adalah data yang diperoleh melalui proses pengambilan
data secara langsung di lokasi kegiatan melalui beberapa metode
yang ada seperti wawancara, pendataan langsung, survei dan
metode-metode lainnya yang sesuai.

1. Metodologi Pengumpulan Data Sekunder


Pengumpulan data sekunder awal adalah pengumpulan data yang
berkaitan dengan kegiatan penyusunan Master Plan Pengendalian
Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala. Metode
yang dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder adalah melalui studi
literatur terhadap studi atau hasil kajian yang telah ada sebelumnya
seperti data pada BPS, Instansi terkait dan data data lain yang
mendukung dalam pelaksanaan pekerjaan ini.
Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan ini, maka
telah disusun perencanaan untuk bekerjasama dengan beberapa Instansi
untuk dapat mendapatkan data-data sekunder yang diperlukan dalam

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-24

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

pelaksanaan kegiatan. Instansi-instansi yang dimaksud adalah sebagai


berikut :
a. Bapedalda Kabupaten Donggala;
b. Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Donggala;
c. Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Donggala;
d. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten
Donggala;
e. Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Donggala.
Dari masing-masing Instansi diatas, akan dikumpulkan data-data
sekunder sesuai dengan jenis-jenis data yang dibutuhkan.

2. Metodologi Pengumpulan Data Primer


Keberadaan data primer mutlak diperlukan, agar pelaksanaan
kegiatan dapat menghasilkan sebuah dokumen dengan kandungan data
yang tepat dan terkini. Metode-metode yang akan dilakukan untuk
mendapatkan data primer adalah :
a. Survei;
b. Observasi;
c. Wawancara.
Untuk

keperluan

survei,

observasi

dan

wawancara,

akan

diperlukan peralatan dan perlengkapan pendukung. Peralatan dan

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-25

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

perlengkapan pendukung yang diperlukan akan didata terlbih dahulu,


sehingga segala keperluan tersebut dapat disediakan.

3. Metodologi Pengumpulan Data Khusus


Beberapa jenis data harus diambil secara khusus, dengan teknik
khusus. Untuk keperluan pembuatan peta diperlukan titik-titik koordinat
yang diambil dari lapangan/lokasi kegiatan. Pengambilan data koordinat
ini dilakukan dengan menggunakan alat GPS (Geographic Position
System).

II.6.

METODOLOGI PENGOLAHAN DATA


Metode pengolahan data yang dipakai dalam pelaksanaan
penyusunan Master Plan Pengendalian Sumber Daya Alam dan
Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala ada beberapa model. Adapun
secara lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1. Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah metoda yang digunakan untuk
mendapatkan gambaran terhadap sesuatu. Gambaran yang dimaksud
adalah terhadap data-data yang berkaitan dengan penyusunan
Master Plan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kabupaten
Donggala.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-26

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

2. Metode Komparatif
Metode komparatif dapat disebut juga metode perbandingan,
penggunaan metode ini biasanya akan lebih tepat digunakan setelah
dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap suatu kegiatan dan dapat
dilihat adanya perbandingan dalam penanganan permasalahan
sesudah dan sebelum adanya perbaikan atau penerapan peraturan.
3. Metode Analisis Kuantitatif
Metode analisis kuantitatif dalam hal ini adalah Metode
Pembobotan yaitu metoda yang akan dilakukan untuk penentuan
ranking atau peringkat.

Dengan melalui beberapa penilaian dan

kesesuaian terhadap standar kriteria diharapkan didapat :


1) Kelompok / lokasi yang paling membutuhkan penanganan
permasalahan;
2) Peringkat dari permasalahan yang paling harus disegerakan
dalam penanganan;
3) Peringkat pola kegiatan yang paling efektif dan memungkinkan
untuk diterapkan;
4) Peringkat pola operasional yang paling cocok untuk diterapkan;
5) Dan permasalahan yang lainnya.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-27

Master Plan
Pengendalian Sumber Daya Alam & Lingkungan Hidup Kabupaten Donggala

4. Penggambaran Peta
Salah satu produk yang akan dihasilkan dari kegiatan ini
adalah peta. Setelah data-data yang diperlukan berhasil dikumpulkan,
maka salah satu proses pengolahan data yang akan dilakukan adalah
pembuatan peta. Pembuatan peta akan dilakukan dengan sistem
komputerisasi dengan menggunakan program (software) khusus
untuk membuat peta.
Selanjutnya peta yang dihasilkan akan ditata (layout) dengan
ukuran kertas tertentu dan selanjutnya peta yang telah ditata bisa
dicetak untuk dilampirkan ke dalam buku laporan.

II.7.

METODOLOGI PENYAJIAN HASIL KERJA


Hasil pelaksanaan pekerjaan akan berwujud sebuah dokumen
yang berisi data-data, gambar, foto dan juga peta. Penyajian hasil kerja
akan menggunakan format yang telah ditetapkan.
Bentuk-bentuk penyajian data di dalam dokumen dapat berupa
pemaparan, tabel, gambar, foto dan peta. Bentuk penyajian di dalam
dokumen tentu saja disesuaikan dengan jenis data yang ditampilkan,
jumlah dan jenis laporan untuk menyajikan hasil pekerjaan akan
mengikuti ketentuan yang ada di dalam Kerangka Acuan Kerja yang telah
ditetapkan.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Donggala T.A. 2008

II-28