Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH ETIKA DAN KODE ETIK KESEHATAN

ABORSI

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 5
1.
2.
3.
4.
5.
6.

RAINI
(K1111
NURUL MUTMAINNA
(K1111
FADILA RIZKI
(K11113082)
ANDI FEBRYAN RAMADHANI (K1111
HASAN BASRI
ORIVIMIN

KESMAS-B

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini walaupun secara sederhana,
baik bentuknya maupun isinya.
Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas Etika dan Kode Etik Kesehatan yang
mungkin dapat membantu teman-teman dalam mempelajari hal-hal penting dalam pelajaran
Etika dan Kode Etik Kesehatan. Makalah ini dapat penulis selesaikan karena bantuan berbagai
pihak. Karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu penulis.
Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan makalah ini. Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
menbangun demi sempurnanya penelian ini. Penulis juga mengharap makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Makassar, 17 November 2014

Penulis
i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTA
.................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB I........................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN........................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................. 1
1.3 Tujuan................................................................................................................ 2
1.4 Manfaat
Penulisan
2
BAB II.......................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN............................................................................................................. 3
2.1. Pengertian SKM dan Prospek Kerjanya............................................................3
2.2. Distribusi tenaga SKM..................................................................................... 6
2.3 Kuantitas dan Kualitas tenaga SKM.................................................................7
2.4 Sistem Kompensasi SKM.................................................................................. 9
2.5 Masalah SKM di Indonesia...............................................................................9
2.6 Solusi ............................................................................................................ 10
BAB III....................................................................................................................... 12
PENUTUP.................................................................................................................. 12
3.1. Kesimpulan................................................................................................... 12
3.2. Saran............................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 13

Ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perempuan yang berkeinginan untuk menggugurkan kandungan atau abortus atau
aborsi sudah ada sejak zaman dulu. Sejak lebih dari 5.000 tahun yang lalu konon di Cina
kaum perempuan meminum air raksa jika ingin kehamilannya digugurkan. Di tahun1.500
SM perempuan Mesir menggunakan tahi buaya yang dimasukkan ke vagina untuk
menggugurkan kandungannya. Di Indonesia, di salah satu relief di Candi Borobudur, di
deretan paling bawah di gambarkan cara seorang dukun menggugurkan kandungan
dengan memijat perut pasiennya. Cara pengguguran kandungan yang menggunakan jamu
juga banyak dicoba orang sejak zaman dulu, sehingga ada jamu khusus yang disamar
dengan pelantur yang nampak cukup laku.
Secara umum dikatakan bahwa pengguguran (induced abortion) adalah
pengakhiran kehamilan sebelum janin dapat viable, yang pada umumnya disepakati
terjadi pada usia 28 minggu. Setelah lewat 28 minggu, pengakhiran kehamilan tidak lagi
dinamai abortus, tetapi pembunuhan janin (infanticide). International Medical Advisory
Panel (IMAP) dari International Planned Parenthood Federation (IPPF) beranggapan
bahwa pengakhiran sejak awal gestasi (sejak sel telur yang sudah dibuahi
terimplantasikan di dinding rahim) sebagai pengguguran kandungan.
Para penganut Katolik berpendapat bahwa pengguguran kandungan adalah
pengakhiran kehamilan sejak saat pembuahan. Sebagian ulama Islam berpendapat nahwa
pengguguran kandungan tidak diperbolehkan dari sejak pembuahan. Sebagian lain
berpendapat bahwa pengakhiran kehamilan sebelum janin berusia 120 hari (saat roh
ditiupkan oleh malaikat). Pendapat yang menyatakan bahwa kehidupan dimulai pada saat
janin berusia 120 hari didasarkan pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Buchari dan
Muslim yang menyatakan Tiap-tiap manusia terjadi di dalam perut ibunya dalam 40
hari, sesudah itu ia menjadi sesuatu yang melekat (janin) selama itu pula, kemudian
disuruh Allah malaikat meniupkan roh.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah Pengertian Aborsi/abortus?

b. Apa Jenis Abortus, Macam Abortus, Definisi, Tanda dan Gejala?


c. Apa penyebab timbulnya aborsi?
d. Apa akibat dari aborsi?
e. Bagaimana upaya penanganan dan pengendalian aborsi?
f. Bagaimana Etika dan Hukum tentang aborsi?
g. Serta bagaimana pandangan Kesmas untuk menyikapi masalah aborsi?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Mengetahui Pengertian Aborsi/abortus
b. Mengetahui Jenis Abortus, Macam Abortus, Definisi, Tanda dan Gejala
c. Mengetahui penyebab timbulnya aborsi
d. Mengetahui akibat yang ditimbulkan dari aborsi
e. Mengetahui upaya penanganan dan pengendalian aborsi
f. Mengetahui Etika dan Hukum tentang aborsi
g. Memahami pandangan Kesmas untuk menyikapi masalah aborsi
1.4 Manfaat Penulisan
a. Dapat dijadikan sebagai sumber informasi terkait pemahaman mengenai masalah Aborsi
di Indonesia
b. Dapat dijadikan sebagai proses pembelajaran di dalam penulisan ilmiah

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Aborsi/abortus

Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah


abortus. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum
diberi kesempatan untuk bertumbuh. Berakhirnya masa kehamilan sebelum anak dapat hidup di
dunia luar (Bagian Obgyn Unpad, 1999). Anak baru mungkin hidup di dunia luar kalau beratnya
telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. Pengeluaran atau ekstraksi janin
atau embrio yang berbobot 500 gram atau kurang dari ibunya yang kira kira berumur 20
sampai 22 minggu kehamilan (Hacker and Moore, 2001). Jadi Aborsi juga diartikan
mengeluarkaan atau membuang baik embrio atau fetus secara prematur (sebelum waktunya).
2.2 Jenis Abortus, Macam Abortus, Definisi, Tanda dan Gejala
2.2.1

Spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran) merupakan 20% dari semua

abortus.
Abortus spontan terdiri dari 7 macam, diantaranya :
a. Abortus imminens (keguguran mengancam) adalah Abortus ini baru mengancam
dan ada harapan untuk mempertahankan.
Tanda dan Gejala

Perdarahan per-vaginam sebelum minggu ke 20.


Kadang nyeri, terasa nyeri tumpul pada perut bagian bawah menyertai

perdarahan.
Nyeri terasa memilin karena kontraksi tidak ada atau sedikit sekali.
Tidak ditemukan kelainan pada serviks.
Serviks tertutup.
b. Abortus incipiens (keguguran berlangsung) adalah Abortus sudah berlangsung
dan tidak dapat dicegah lagi.
Tanda dan Gejala
Perdarahan per vaginam masif, kadang kadang keluar gumpalan darah.
Nyeri perut bagian bawah seperti kejang karena kontraksi rahim kuat.
Serviks sering melebar sebagian akibat kontraksi.
c. Abortus incomplete (keguguran tidak lengkap) adalah Sebagian dari buah
kehamilan telah dilahirkan tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih
tertinggal di rahim.
Tanda dan Gejala

Perdarahan per vaginam berlangsung terus walaupun jaringan telah keluar


Nyeri perut bawah mirip kejang.

Dilatasi serviks akibat masih adanya hasil konsepsi di dalam uterus yang

dianggap sebagai corpus allienum.


Keluarnya hasil konsepsi (seperti potongan kulit dan hati).
d. Abortus completus (keguguran lengkap) adalah Seluruh buah kehamilan telah
dilahirkan lengkap. Kontraksi rahim dan perdarahan mereda setelah hasil konsepsi
keluar.
Tanda dan Gejala
Serviks menutup.
Rahim lebih kecil dari periode yang ditunjukkan amenorea.
Gejala kehamilan tidak ada.
Uji kehamilan negatif.
e. Missed abortion (keguguran tertunda) adalah Missed abortion ialah keadaan
dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam rahim
selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati.
Tanda dan Gejala

Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorpsi air ketuban dan

macerasi janin.
Buah dada mengecil kembali.
Gejala kehamilan tidak ada, hanya amenorea terus berlangsung.
f. Abortus habitualis (keguguran berulang ulang) adalah abortus yang telah
berulang dan berturut turut terjadi sekurang kurangnya 3 kali berturut turut.
g. Abortus febrilis adalah Abortus incompletus atau abortus incipiens yang disertai
infeksi.
Tanda dan Gejala
Demam kadang kadang menggigil.
Lochea berbau busuk.
2.2.2 Abortus provocatus (disengaja, digugurkan) merupakan 80% dari semua
abortus.
Abortus provocatus terdiri dari 2 macam, diantaranya :
a. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeutics adalah Pengguguran
kehamilan dengan alat alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan
membawa maut bagi ibu, misal ibu berpenyakit berat. Indikasi pada ibu dengan
penyakit jantung (rheuma), hypertensi essensialis, carcinoma cerviks.
b. Abortus provocatus criminalis Adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan
medis yang syah dan dilarang oleh hukum.

2.3 Penyebab timbulnya aborsi


2.3.1

Kelainan telur
Kelainan telur menyebabkan kelainan pertumbuhan yang sedinikian rupa hingga

janin tidak mungkin hidup terus, misalnya karena faktor endogen seperti kelainan
chromosom (trisomi dan polyploidi).
2.3.2 Penyakit ibu
Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus, yaitu:
a. Infeksi akut yang berat: pneumonia, thypus dapat mneyebabkan abortus dan partus
prematurus.
b. Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau disfungsi kelenjar
gondok.
c. Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.
d. Gizi ibu yang kurang baik.
e. Kelainan alat kandungan:
Hypoplasia uteri.
- Tumor uterus
- Cerviks yang pendek
- Retroflexio uteri incarcerata
- Kelainan endometrium
f. Faktor psikologis ibu.

2.3.3 Faktor suami


Terdapat kelainan bentuk anomali kromosom pada kedua orang tua serta faktor
imunologik yang dapat memungkinkan hospes (ibu) mempertahankan produk asing
secara antigenetik (janin) tanpa terjadi penolakan.
2.3.4 Faktor lingkungan
Paparan dari lingkungan seperti kebiasaan merokok, minum minuman
beralkohol serta paparan faktor eksogen seperti virus, radiasi, zat kimia, memperbesar
peluang terjadinya abortus.
2.4 Akibat dari aborsi
Tindakan-tindakan Aborsi dapat mengakibatkan hal-hal yang negatif pada tubuh kita,
yang meliputi dimensi jasmani dan psikologis. Akibat-akibatnya yakni:
1. Segi Jasmani

Tindakan kuret pada Aborsi bisa menimbulkan efek-efek pendarahan atau infeksi,
dan apabila dikerjakan bukan oleh dokter ahlinya maka alat-alat kuret yang dipakai

mungkin tembus sampai ke perut dan dapat mendatangkan kematian.


Infeksi di rahim dapat menutup saluran tuba dan menyebabkan kemandulan.
Penyumbatan pembuluh darah yang terbuka oleh gelembung udara, karena banyak
pembuluh darah yang terbuka pada luka selaput lendir rahim dan gelembung udara
bisa masuk ikut beredar bersama aliran darah dan apabila tiba pada pembuluh darah
yang lebih kecil, yaitu pada jantung, paru-paru, otak atau ginjal, maka bisa

mengakibatkan kematian.
Perobekan dinding rahim oleh alat-alat yang dimasukkan ke dalamnya akan
mengakibatkan penumpukan darah dalam rongga perut yang makin lama makin

banyak yang menyebabkan kematian.


Penanganan Aborsi yang tidak steril bisa mengakibatkan keracunan yang membawa

kepada kematian.
- Menstruasi menjadi tidak teratur.
- Tubuh menjadi lemah dan sering keguguran
2. Segi Psikologis
- Pihak wanita: Setelah seorang wanita melakukan tindakan Aborsi ini, maka ia akan
tertindih perasaan bersalah yang dapat membahayakan jiwanya. Kalau tidak
secepatnya ditolong, maka ia akan mengalami depresi berat, frustrasi dan
-

kekosongan jiwa.
Pihak pria: Rasa tanggung jawab dari si pria yang menganjurkan Aborsi akan
berkurang, pandangannya tentang nilai hidup sangat rendah; penghargaannya

terhadap anugerah Allah menjadi merosot.


3. Segi Hukum
KUHP di Indonesia yang diberlakukan sejak 1918 tidak membenarkan tindakan Aborsi
dengan dalih apapun. Aborsi dianggap tindak pidana yang dapat dikenakan hukuman,
yang diatur dalam pasal 283, 299, 346 hingga 349 dan 535)
Selain hal yang disebutkan di atas, ada akibat yang lebih buruk dan biasa disebut
dengan PAS (Post Abortion Syndrome). Post Abortion Syndrome adalah istilah yang
dipakai untuk menggambarkan sekumpulan gejala fisik dan psikis yang terjadi paska
terjadinya aborsi. PAS merupakan gangguan stress dan traumatik yang biasanya terjadi
ketika seorang perempuan yang post-abortive tidak dapat menghadapi respon emosional
yang dihasilkan akibat trauma aborsi. PAS terjadi berbeda-beda pada setiap orang
tergantung berat atau tidaknya gejala yang terjadi, PAS dianggap telah berat ketika

kondisi seorang perempuan post-abortive sudah mengarah pada gejala yang dapat
mengganggu kelangsungan hidupnya ataupun keselamatan dirinya.
PAS dapat terjadi tidak lama setelah aborsi atau bisa saja baru muncul ke
permukaan beberapa bulan hingga bertahun-tahun kemudian. Banyak perempuan yang
takut untuk membicarakannya karena merasa malu telah melakukan aborsi. Hal inilah
yang kemudian membuat trauma tersebut terpendam di bawah alam sadar mereka hingga
mereka tidak menyadari bahwa hal tersebut dapat mempengaruhi mereka dalam berpikir,
berperilaku dan bahkan mempengaruhi kesehatan reproduksi mereka di kemudian hari.
Post Abortion Syndrome tidak hanya terjadi pada perempuan post-abortive,
namun juga pada laki-laki post-abortive, dalam arti pasangan perempuan post-abortive
yang juga berperan penting dalam membuat pilihan aborsi. Namun pada lelaki postabortive biasanya gejalanya ringan berupa gangguan emosi ringan seperti rasa malu,
perasaan bersalah, bersedih dan menyesal. Perempuan post-abortive bisa mengalami
gejala lebih berat karena mereka secara langsung baik itu fisik ataupun emosi langsung
berhubungan dengan trauma aborsi.
2.5 Upaya penanganan dan pengendalian aborsi
Membendung perilaku aborsi tidaklah semudah membalikkan kedua telapak
tangan. Hal ini diperlukan kerjasama lintas sektoral secara komprehensif dan berkelanjutan.
Tentu saja dimulai dari hal terkecil yang bersifat pencegahan hingga pertolongan pasca
aborsi. Upaya-upaya dan pelayanan tersebut dapat kita rangkum dalam penjelasan berikut
ini:
1. Memberikan edukasi seks di kalangan remaja. Hal ini dikarenakan masih banyaknya
para remaja kita yang mempelajari fungsi reproduksi para sudut kenikmatan nya saja
tanpa memandang efek-efek negatif di kemudian hari. Maka harapannya dengan
pemahaman yang tepat dan lengkap, maka remaja akan dapat membuat keputusan yang
tepat untuk menjaga kesucian dirinya masing-masing.
2. Menanamkan kembali nilai-nilai moral sosial dan juga keagamaan akan penting dan
mulianya untuk menjaga kehormatan diri. Kebanyakan, para remaja ini karena memang
semenjak kecil sudah dijauhkan oleh norma-norma yang mengatur hubungan antar lakilaki dan perempuan sedangkan media gencar mempromosikan tayangan-tayangan yang
berbau seksualitas dengan mengedepankan nafsu semata. Ditambah lagi akses pornografi
yang dapat dengan mudah didapatkan melalui internet via komputer maupun handphone.

3. Menguatkan kembali kontrol sosial di masyarakat. Tidak dipungkiri yang menjadikan


remaja bebas melakukan apa saja adalah karena semakin melemahnya kontrol sosial dari
lingkungan keluarga maupun masyarakat. Misalkan saja ada sepasang pelaku pacaran
yang diperbolehkan orang tuanya berdua-duaan di dalam kamar. Meskipun tidak terjadi
perzinahan di sana, namun itu dapat memicu untuk melakukan tindakan-tindakan yang
lebih untuk dilakukan pada lain kesempatan dan lain tempat. Begitu juga kontrol dari
masyarakat itu penting ketika melihat ada pasangan muda-mudi yang menginap di kamar
kostan dan bahkan terjadi berhari-hari. Hal ini sudah barang tentu dapat semakin
mendorong terjadinya penyimpangan perilaku dalam artian melakukan tindakantindakan yang seharusnya baru boleh dilakukan oleh pasangan suami isteri yang resmi.
4. Para pelaku yang telah melakukan aborsi juga tak dapat dipandang sebelah mata. Mereka
mempunyai hak untuk dapat kita tolong karena bisa saja hal telah mereka lakukan
tersebut adalah suatu kekhilafan yang tak ingin diulanginya lagi dengan konseling pada
penderita.
2.6 Etika dan Hukum tentang aborsi
Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi atau pengguguran janin
termasuk kejahatan, yang dikenal dengan istilah Abortus Provocatus Criminalis
Yang menerima hukuman adalah:
1. Ibu yang melakuakn aborsi
2. Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi
3. Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi
Beberapa pasal yang terkait adalah:
Pasal 229
1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya
supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena
pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.
2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib,

bidan atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.


3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani pencarian maka
dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu.
Pasal 341
Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan
atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam, karena
membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 342
Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan
bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian
merampas nyawa anaknya, diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan
rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 343
Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi orang lain yang
turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana.
Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau
menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas
tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
paling lama lima belas tahun.
Pasal 348
1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang
wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun enam bulan.

2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana


penjara paling lama tujuh tahun.
Pasal 349
Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut
pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang
diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat
ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam
mana kejahatan dilakukan.
2.7 Pandangan Kesmas untuk menyikapi masalah aborsi