Anda di halaman 1dari 4

Defek Atrium Septal (ASD, Atrial Septal Defect)

Oleh Agustina Melviani, 1206218852


Insidens
Defek Septum Atrium (DSA) merupakan bentuk penyakit jantung bawaan pada anak
terbanyak kedua setelah defek septum ventrikel dengan prevalensi sekitar 8 % sampai dengan
10% dengan 80% diantaranya merupakan DSA sekundum. Estimasi terjadinya insiden DSA
sekitar 56 per 100.000 kelahiran (Allen, Driscoll, Shaddy, & Feltes, 2013).
Pengertian
Menurut CDC (2013), DSA merupakan kelainan pada jantung semenjak dari
seorang bayi lahir dimana terdapat lubang di dinding (septum) yang membagi ruang atrium
kiri dan atrium kanan jantung. Sebuah lubang dapat bervariasi dalam ukuran dan mungkin
akan menutup sendiri atau membutuhkan pembedahan.Defek Septum Atrium (ASD, Atrial
Septal Defect) adalah suatu lubang pada dinding (septum) yang memisahkan jantung bagian
atas (atrium kiri dan atrium kanan). ASD adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang
(defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fusi
septum interatrial semasa janin .
Defek septum atrial atau Atrial Septal Defect (ASD) adalah adanya lubang
abnormal antara atrium kanan dan atrium kiri (Corwin, 2009). ASD juga
merupan gangguan septum atau sekat antara rongga atrium kanan dan kiri atau lubang
abnormal pada sekat yang memisahkan kedua belah atrium sehingga terjadi pengaliran darah
dari atrium kiri yang bertekanan tinggi kedalam atrium kanan yang bertekanan rendah.
Septum tersebut tidak menutup secara sempurna dan membuat aliran darah atrium kiri dan
kanan bercampur.

Klsifikasi
Berdasarkan lokasi lubang, dikelompokkan dalam 3 tipe, yaitu:
1. ASD sekundum, bila lubang terletak pada daerah fosa ovalis dan sering disertai
dengan aneurisma fosa ovalis.
2. ASD primum, bila lubang terletak di daerah ostium primum, yang mana ini
termasuk salah satu bentuk Atrio-Ventricular Septal Defect (AVSD).
3.

Sinus Venosus Defect (SVD) bila lubang terletak di daerah sinus venosus dekat
muara vena (pembuluh darah balik) kava superior atau inferior.

ASD diklasifikasikan menjadi:


1. ASD sederhana dengan defek pada septum dan disekitar fossa ovalis
(dikenal dengan DSA sekundum), defek pada tepi bawah septum (DSA
primum) dan defek disekitar muara VCS (defek sinus venosus) yang
seringkali disertai anomali parsialdrainase vena pulmonalis.
2. ASD kompleks yang merupakan bentuk dari defek endocardial cushion yang
sekarang dikenal sebagai defek septum atrioventrikular (DSAV) atau AV canal.
Defek septum atrium sekundum adalah kelainan yang dimana terdapat lubang
patologis di tempat fossa ovalis. Akibatnya terjadi pirau dari atrium kiri ke
atrium kanan, dengan beban volume di atrium dan di ventrikel kanan.

Etiologi
ASD merupakan suatu kelainan jantung bawaan. Dalam keadaan normal, pada
peredaran darah janin terdapat suatu lubang diantara atrium kiri dan kanan sehingga darah
tidak perlu melewati paru-paru. Pada saat bayi lahir, lubang ini biasanya menutup. Jika
lubang ini tetap terbuka, darah terus mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan (shunt).
Penyebab dari tidak menutupnya lubang pada septum atrium ini tidak diketahui.
Jantung membentuk selama 8 minggu pertama perkembangan janin. Ini dimulai
sebagai tabung hampa, kemudian partisi dalam tabung mengembangkan yang akhirnya
menjadi septa (atau dinding) membagi sisi kanan jantung dari kiri. Defek septum atrium
terjadi ketika proses partisi tidak terjadi sepenuhnya, meninggalkan sebuah lubang di
septum atrium.
Beberapa cacat jantung bawaan mungkin memiliki link genetik, baik yang terjadi
karena cacat pada gen, kelainan kromosom, atau paparan lingkungan, menyebabkan
masalah jantung lebih sering terjadi dalam keluarga tertentu (Tikkanen & Heinonen,
1992). Defek septum atrium kebanyakan terjadi secara sporadis (secara kebetulan), tanpa
alasan yang jelas bagi perkembangan mereka. Faktor-faktor penyebab tersebut
diantaranya (Mayo Clinic, 2011):
1.

Faktor Prenatal
a. Ibu menderita infeksi Rubella
b. Ibu alkoholisme
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun
d. Ibu menderita IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
e. Ibu meminum obat-obatan penenang

2.

Faktor genetik
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
b. Ayah atau ibu menderita PJB
c.

Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down

d.

Lahir dengan kelainan bawaan lain

Referensi
Allen, Hugh D [et al.]. (2013). Moss & Adams Heart Disease in Infants, Children, and
Adoloscents: Including The Fetus and Young Adult. 8th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins
Center for Disease Control and Prevention. (2013). Congenital Heart Defects: Facts about
Atrial

Septal

Defect.

Retrieved

from

http://www.cdc.gov/ncbddd/heartdefects/atrialseptaldefect.html
Corwin, Elizabeth J. ( 2009). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC
Mayo Clinic. (2011). Diseases and Conditions Atrial Septal Defect (ASD). Retrieved from
http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atrial-septal-defect/basics/riskfactors/con-20027034
Tikkanen, J. & Heinonen, O. P. (1992). Risk Factors for Atrial Septal Defect. Eur. J.
Epidemiod. 1992, p. 509-515
Widyantoro, Bambang. (2006). Penyakit Jantung Bawaan. Diakses dari http://www.io.ppijepang.org/article.php?id=157