Anda di halaman 1dari 6

JURNAL FILSAFAT ILMU

ONTOLOGI SEBAGAI KAJIAN


ILMU FILSAFAT
Oleh Ibnu Fazar
NIM : 06022681318013

Dosen Pembimbing
Prof Dr Waspodo
Dr Somakim,M.Pd

Program Magister Pendidikan Matematika


Fakultas Keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Sriwijaya
Jl. Padang Selasa No.524. Palembang. Sumatera Selatan

ONTOLOGI SEBAGAI KAJIAN ILMU FILSAFAT


Ibnu Fazar
Program Magister Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Sriwijaya
Abstrak: Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan
berasal dari Yunani yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada
menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia,
ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan
tertib dalam keharmonisan. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal,
menampilkan pemikiran semesta universal. Pada ontologi terdapat beberapa aliran
dipandang dari beberapa segi, meliputi segi jumlah (monoisme, dualism, pluralisme),
segi sifat (materialism, edialisme), segi proses (mekanisme, teleologi, vitalisme,
organisisme). Manfaat mempelajari ontologi untuk membantu untuk mengembangkan
dan mengkritisi berbagai bangunan sistem pemikiran yang ada, memecahkan masalah
pola relasi antar berbagai eksisten dan eksistensi, dan mengekplorasi secara
mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains
hingga etika.
Kata kunci: ontologi,filsafat,ilmu,aliran
Latar Belakang
Filsafat sebagi suatu disiplin
ilmu telah melahirkan tiga cabang
kajian. Ketiga cabang kajian itu ialah
teori
hakikat
(ontologi),
teori
pengetahuan (epistimologi), dan teori
nilai (aksiologi). Sebagai sebuah
disiplin ilmu, filsafat tentu juga akan
mengalami
dinamika
dan
perkembangan sesuai dengan dinamika
dan perkembangan ilmu-ilmu yang
lain, yang biasanya mengalami
percabangan.
Ontologi merupakan salah satu
kajian kefilsafatan yang paling kuno
dan berasal dari Yunani. Studi tersebut
membahas keberadaan sesuatu yang
bersifat konkret.Tokoh Yunani yang
memiliki pandangan yang bersifat
ontologis dikenal seperti Thales, Plato,
dan Aristoteles. Pada masanya,
kebanyakan orang belum membedakan
antara penampakan dengan kenyataan.
Thales
terkenal
sebagai
filsuf yang pernah sampai pada
kesimpulan bahwa air merupakan
substansi terdalam yang merupakan
asal mula segala sesuatu. Namun yang

lebih penting ialah pendiriannya bahwa


mungkin sekali segala sesuatu itu
berasal dari satu substansi belaka
(sehingga sesuatu itu tidak bisa
dianggap ada berdiri sendiri).Ontologi
terdiri
dari
dua
suku
kata,
yakni ontos dan logos . Ontos berarti
sesuatuyang berwujud (being ) dan
logos berarti ilmu.
Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari penulisan
makalah tentang ontologi ini adalah
untuk mengetahui tentang definisi
ontologi dan untuk menambah
pengetahuan mengenai teori nilai
keguanaan ilmu.
Ontologi yang merupakan salah
satu kajian filsafat ilmu mempunyai
beberapa manfaat, antara lain :
1. Membantu untuk mengembangkan
dan mengkritisi berbagai
bangunan sistem pemikiran yang
ada.
2. Membantu memecahkan masalah
pola relasi antar berbagai eksisten
dan eksistensi.

3. Dapat mengekplorasi secara


mendalam dan jauh pada berbagai
ranah keilmuan maupun masalah,
baik itu sains hingga etika.
Pengertian Ontologi
Ontologi adalah bidang pokok
filsafat yang mempersoalkan hakikat
keberadaan segala sesuatu yang ada
menurut tata hubungan sistematis
berdasarkan hukum sebab akibat yaitu
ada manusia, ada alam, dan ada kausa
prima dalam suatu hubungan yang
menyeluruh, teratur, dan tertib dalam
keharmonisan (Suparlan Suhartono,
2007).
Ontologi dapat pula diartikan
sebagai ilmu atau teori tentang wujud
hakikat yang ada. Obyek ilmu atau
keilmuan itu adalah dunia empirik,
dunia yang dapat dijangkau panca
indera.Dengan demikian, obyek ilmu
adalah pengalaman inderawi. Dengan
kata lain,ontologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang hakikat sesuatu
yang berwujud (yang ada) dengan
berdasarkan pada logika semata.
Pengertian ini didukung pula oleh
pernyataan Runes bahwa ontology is
the theory of being qua being ,
artinya ontologi adalah teori tentang
wujud. Obyek telaah ontologi adalah
yang ada. Studi tentang yang ada, pada
dataran studi filsafat pada umumnya
dilakukan oleh filsafat metafisika.
Istilah
ontologi
banyak
digunakan ketika kita membahas yang
ada
dalam
konteks
filsafat
ilmu.Ontologi membahas tentang yang
ada, yang tidak terikat oleh satu
perwujudan
tertentu.
Ontologi
membahas tentang yang ada yang
universal, menampilkan pemikiran
semesta universal. Ontologi berupaya
mencari inti yang termuat dalam setiap
kenyataan, atau dalam rumusan Lorens
Bagus; menjelaskan yang ada yang kita
lihat atau yang dapat ditangkap dengan
panca indera senantiasa berubah.karena
itu, ia bukanlah hakikat, tetapi hanya

bayangan, kopi atau gambaran dari


idea-ideanya.
Dengan kata lain, benda-benda
yang dapat ditangkap dengan panca
indera ini hanyalah khayal dan illusi
belaka. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa ontologi mengkaji
tentang the study of the nature of
existence and being in the abstract
atau the science of being and
universal order .
Argumen ontologis kedua
dimajukan
oleh
St.
Augustine
(354 430 M). Menurut Augustine,
manusia mengetahui dari pengalaman
hidupnya bahwa dalam alam ini ada
kebenaran. Namun, akal manusia
terkadang merasa bahwa ia mengetahui
apa yang benar, tetapi terkadang pula
merasa ragu-ragu bahwa apa yang
diketahui yaitu adalah suatu kebenaran.
Menurutnya, akal manusia mengetahui
bahwa diatasnya masih ada suatu
kebenaran tetap (kebenaran yang tidak
berubah-ubah),dan itulah yang menjadi
sumber dan cahaya bagi akal dalam
usahanya mengetahui apa yang benar.
Kebenaran tetap dan kekal itulah
kebenaran yang mutlak. Kebenaran
mutlak inilah oleh Augustine disebut
Tuhan.
Ontologi dapat mendekati
masalah hakikat kenyataan dari dua
macam sudut pandang. Orang dapat
mempertanyakan
kenyataan
itu
tunggal atau jamak ? yang demikian
ini merupakan pendekatan kuantitatif.
Atau orang dapat juga mengajukan
pertanyaan, Dalam babak terakhir
apakah
yang
merupakan
jenis
kenyataan itu? yang demikian itu
merupakan
pendekatan
secara
kualitatif.
Ontologi ini pantas dipelajari
bagi orang yang ingin memahami
secara menyeluruh tentang dunia ini
dan berguna bagi studi ilmu-ilmu
empiris
(misalnya
antropologi,
sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu
budaya, fisika, ilmu teknik dan

sebagainya). Ontologi sebagai cabang


filsafat yang membicarakan tentang
hakikat
benda
bertugas
untuk
memberikan jawaban atas pertanyaan
apa sebenarnya realitas benda itu?
apakah
sesuai
dengan
wujud
penampakannya atau tidak?.
Aliran-aliran Ontologi
Dari teori hakikat (ontologi) ini
kemudian muncullah beberapa aliran
dalam persoalan keberadaan, yaitu:
1. Keberadaan dipandang dari segi
jumlah (kuantitas)
Monoisme
Paham ini menganggap bahwa
hakikat yang asal dari seluruh
kenyataan itu hanyalah satu saja,
tidak mungkin dua. Haruslah satu
hakikat saja sebagai sumber yang
asal, baik yang asal berupa materi
ataupun berupa rohani. Tadak
mungkin ada hakikat masingmasing bebas dan berdiri sendiri.
Haruslah salah satunya merupakan
sumber yang pokok dan dominan
menentukan perkembangan yang
lainnya. Istilah monisme oleh
Thomas
Davidson
disebut
dengan Block Universe. Aliran yang
menyatakan bahwa hanya satu
keadaan fundamental. Kenyataan
tersebut dapat berupa jiwa, materi,
Tuhan atau substansi lainnya yang
tidak dapat diketahui.
Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa
benda terdiri dari dua macam
hakikat sebagai asal sumbernya,
yaitu hakikat materi dan hakikat
ruhani, benda dan ruh, jasad dan
spirit. Materi bukan muncul dari
ruh, dan ruh bukan muncul dari
benda. sama-sama hakikat. kedua
macam hakikat itu masing-masing
bebas dan berdiri sendiri, samasama azali dan abadi. Hubungan
keduanya menciptakan kehidupan
dalam alam ini. Umumnya manusia
tidak akan mengalami kesulitan

untuk menerima prinsip dualism ini,


karena setiap kenyataan lahir dapat
segera ditangkap oleh pancaindera
kita, sedangkan kenyataan batin
dapat segera diakui adanya oleh
akal dan perasaan hidup.
Pluralisme
Paham ini berpendapat bahwa
segenap macam bentuk merupakan
kenyataan. Pluralisme bertolak dari
keseluruhan dan mengakui bahwa
segenap
macam
bentuk
itu
semuanya
nyata.
Pluralisme
dalam Dictionary of Philosophy
and Religion dikatakan sebagai
paham yang menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersusun dari
banyak unsure, lebih dari satu atau
dua entitas. Tokoh aliran ini pada
masa
Yunani
Kuno
adalah
Anaxagoras dan Empedocles yang
menyatakan bahwa substansi yang
ada itu terbentuk dan terdiri dari 4
unsur, yaitu tanah, air, api dan
udara.
2. Keberadaan dipandang dari segi
sifat, menimbulkan beberapa
aliran, yaitu:
Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa
sumber yang asal itu adalah materi,
bukan rohani. Aliran ini sering juga
disebut
dengan
naturalisme.
Menurutnya bahwa zat mati
merupakan kenyataan dan satusatunya fakta. Yang ada hanyalah
materi, yang lainnya jiwa dan ruh
tidaklah merupakan suatu kenyataan
yang berdiri sendiri. Jiwa atau ruh
itu hanyalah merupakan akibat saja
dari proses gerakan kebenaran
dengan salah satu cara tertentu.
Idealisme
Sebagai lawan materialisme
adalah aliran idealisme yang
dinamakan
juga
dengan
spiritualisme. Idealisme berarti
serba cita, sedang spiritualisme
berarti serba ruh. Idealisme diambil
dari kata Idea, yaitu sesuatu yang

hadir dalam jiwa. Aliran ini


beranggapan
bahwa
hakikat
kenyataan yang beraneka ragam itu
semua berasal dari ruh (sukma) atau
sejenis dengannya, yaitu sesuatu
yang
tidak
berbentuk
dan
menempati ruang. Materi zat itu
hanyalah suatu jenis dari pada
penjelmaan rohani.
3. Keberadaan dipandang dari segi
proses, kejadian, atau perubahan.
Mekanisme
(serba mesin), menyatakan bahwa
semua gejala atau peristiwa dapat
dijelaskan
berdasarkan
asas
mekanik (mesin).
Teleologi

(serba tujuan), berpendirian bahwa


yang berlaku dalam kejadian alam
bukanlah kaidah sebab akibat tetapi
sejak semula memang ada sesuatu
kemauan atau kekuatan yang
mengarahkan alam ke suatu tujuan.
Vitalisme
memandang bahwa kehidupan tidak
dapat sepenuhnya dijelaskan secara
fisika, kimia, karena hakikatnya
berbeda dengan yang tak hidup.
Organisisme
(lawannya
mekanisme
dan
vitalisme). Menurut organisisme,
hidup adalah suatu struktur yang
dinamik, suatu kebulatan yang
memiliki
bagian-bagian
yang
heterogen, akan tetapi yang utama
adalah adanya sistem yang teratur.

Referensi
Ahmad Tafsir. 2006. filsafat ilmu. Bandung: Rosdakarya.
Baktiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Salam, Burhanudin. 1997. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta:
Rineka Cipta
Susano, A. 2011. Filsafat Ilmu Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis
Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta : PT. Bumiaksara.
Susriasumantri, Jujun S. 1987. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.
UGM, Tim Dosen Filsafat Ilmu. 2007. Filsafat Ilmu. Yogyakarta