Anda di halaman 1dari 8

RingkasanKajian

OKTOBER 2012

UNICEF INDONESIA

Pendidikan & Perkembangan


Anak Usia Dini
Hubungan penting

endidikan merupakan hal yang sangat penting


bagi kesejahteraan anak dan berkontribusi
terhadap penurunan kemiskinan dan
ketidaksetaraan. Tingkat pendidikan ibu yang lebih
tinggi mempromosikan perilaku sehat dan perilaku
pencarian pengobatan (health-seeking) sehingga
terkait dengan kemungkinan penurunan kematian
anak sebelum ulang tahun kelima mereka, dan dengan
penurunan resiko kematian ibu. Anak-anak muda
yang siap untuk bersekolah akan lebih siap untuk
belajar, lebih mungkin untuk tetap bersekolah dan
lebih mungkin untuk berhasil, dengan kemampuan
penghasilan yang lebih tinggi di masa yang akan
datang. Pengetahuan orang muda tentang kesehatan
reproduksi dapat membantu mengurangi resiko HIV
dan IMS (infeksi menular seksual).
Kesiapan bersekolah merupakan strategi yang
telah terbukti untuk meningkatkan pembangunan
ekonomi dan sosial sebuah masyarakat. Berbagai
studi menunjukkan manfaat dan pengembalian
investasi dari kesiapan bersekolah, terkait dengan
penurunan biaya pendidikan, peningkatan
produktivitas dan pendapatan manusia, dan manfaat
bagi masyarakat. Program-program pendidikan
dan perkembangan anak usia dini (PAUD) yang
efektif dapat menurunkan biaya pendidikan
melalui peningkatan efisiensi internal pendidikan
dasar: sedikit anak mengulang kelas. Setiap kelas

unite for children

tambahan yang dicapai di sekolah memberikan


pendapatan akhir yang lebih tinggi. Orang yang dapat
memperoleh lebih banyak akan mampu memberikan
kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan
ekonomi suatu negara. Secara keseluruhan, manfaat
program PAUD bagi masyarakat lebih besar daripada
biaya-biaya tersebut sebesar lima sampai tujuh kali.
Kesiapan bersekolah harus dimasukkan dalam
perkembangan anak secara holistik, yang
meliputi keterampilan dan pengetahuan verbal
dan intelektual, kemampuan sosial, serta status
kesehatan dan gizi. Studi menunjukkan bahwa
kinerja pendidikan yang buruk, penurunan lama
pendidikan dan penurunan pendapatan ketika
dewasa semuanya dapat dikaitkan dengan anakanak muda yang bertubuh pendek (stunting). Oleh
karena itu, anak-anak memperoleh manfaat terbesar
jika program-program PAUD bersifat holistik,
yang mengintegrasikan intervensi psikososial
dan kesiapan bersekolah dengan intervensi
kesehatan dan gizi. Perkembangan holistik sangat
penting bagi kesiapan anak untuk bersekolah dan
kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam
lingkungan belajar yang berbeda. Hubungan yang
kuat antara perkembangan holistik anak dan
kesiapan bersekolah menekankan pentingnya
program-program PAUD terpadu multi-sektoral,
yang menyatukan kesehatan, gizi, pendidikan dan
perlindungan, yang menjamin semua anak tentang
awal yang kuat untuk hidup.

kolah

masa
entang
rangi

ang
gunan
rbagai
n

tan
anfaat
n dan
ektif

n
elas
n
g dapat
erikan
han
manfaat
aripada
kali.

lam

bal
atus
a
a

akOleh
rbesar
ng

atan
g bagi
uan
belajar

ekolah

psikologis setelah masa kritis ini juga efektif.

daripadaperbedaan perkotaan/perdesaan (Gambar


3). Ada perbedaan kecil atau tidak ada perbedaan
untuk APM sekolah dasar. Di tingkat sekolah
menengah pertama, perbedaan gender sedikit
berpihak pada anak perempuan OKTOBER
(2 persen), 2012
sedangkandi tingkat SMA, perbedaan gender sedikit
berpihak padaanak laki-laki (6 persen).

Pendidikan: kemajuan dan


kesenjangan
ringkasan KAJIAN

Indonesia telah mengalami kemajuan luar biasa


dalam pencapaian Tujuan Pembangunan
Papua
Papua
gorontalo
gorontalo
sulawesi
Utara
north sulawesi
Papua
Barat
West Papua
sulsel
south sulawesi
Bangka
BangkaBelitung
Belitung
nTT
East nusa Tenggara
sulteng
Central sulawesi
sulawesi
Barat
West sulawesi
Maluku Utara
north Maluku
kalimantan
East kalimantan
Timur
south sumatra
sumsel
riau islands
kepulauan
riau
DkiJakarta
Jakarta
Dki
Banten
Banten
inDOnEsia
inDOnEsia
West kalimantan
kalbar
DiYogyakarta
Yogyakarta
Di
Maluku
Maluku
south kalimantan
kalsel
WestBarat
Java
Jawa
sulteng
southeast sulawesi
nTB
West nusa Tenggara
Lampung
Lampung
sumatera
Utara
north sumatra
sumatera
Barat
West sumatra
BBali
ali
Bengkulu
Bengkulu
Jambi
Jambi
Jawa Timur
East Java
Jawa Tengah
Central Java
riau
riau
kalteng
Central kalimantan
aceh
aceh

60%

94.8

gambar
angka
Figure 1.1.Primary

Gambar
1.murni
partisipasi
net enrolment
sekolah
dasar,
Angka
partisipasi
ratios, by
menurut
provinsi,
province.
age 7-12
murni
sekolah
Usia
7-12
tahun.
years.
Source:
dasar,
menurut
Sumber:
Susenas Susenas
2010.
2010
provinsi,
Usia
7-12 tahun.
Sumber: Susenas 2010

gambar 2. angka
partisipasi
murni
sLTP,
Gambar
2. secondary
Angka
Figure
2. Junior
menurut
provinsi
. SLTP,
partisipasi
murni
net
enrolment
ratios,
by
Sumber: Susenas 2010
province.
age provinsi.
13-15 years.
menurut

Papua
PapuaPapua
Barat
nTT
West Papua

80%

100%

Pendidikan: Kemajuan
dan kesenjangan

Sebagi
mening
sekolah
Kira-kir
meneng
sekolah
meneng

Angka
tertingg
lebih re
mening
tahun a
pendidi
persen
mening
(misaln

Kualita
perludi
Dari 65
Pengka
Indones
dalam k
dikaji (m
100%

Source: Susenas 2010.

B.
East nusaBangka
Tenggara

Sumber: Susenas 2010

gorontalo
Bangka
Belitung

Intervensi yang dimulai dari perawatan selama


Milenium (MDG) dalam hal pendidikan dasar
masa kehamilan dan gizi ibu sampai dengan
universal dan kesetaraan gender. Angka partisipasi
pertumbuhan
anak usia
dua angka
tahun bertahan
dapat
murni (APM) Sekolah
Dasar,
memberikan
dampak
terbesar
terhadap
masalah
Sekolah Dasar, dan angkaliterasi di Indonesiadi
anak
Anak-anak
bertubuh
pendek
antarapendek.
orang-orang
muda yang
usia 15-24
tahun
lebih dari
90 persen.mempunyai
Indonesia telah
mencapaiyang
kesetaraan
(stunted)
kemungkinan
lebih
genderuntuk
untuktumbuh
literasi perempuan,
pendidikan
dasar
besar
menjadi orang
dewasa yang
dan
menengah
pertama,
dan
hampir
telah
mencapai
kurang berpendidikan, lebih miskin dan kurang
target kesetaraan gender untuk pendidikan
sehat.
Intervensi
untuk pendidikan
mendukungtinggi,
perkembangan
menengah
atas. Untuk
angka
psikologis
setelah
masa
kritis
ini
juga
efektif.
kehadiran anak perempuanterhadapangka
kehadiran
anak laki-laki sebesar 96 persen pada tahun 2010.

Kotak 1. Angka Partisipasi Murni


kotak 1. angka Partisipasi Murni

Di
tingkat
perlu
mendapatkan
perhatian

Di tingkatprovinsi,
provinsi,Papua
Papua
perlu
mendapatkan
khusus,
karena
Papua
memiliki
APM
sekolah
dasar
perhatian khusus, karena Papua memiliki APM
terendah
1).
sekolah (Gambar
dasar terendah
(Gambar 1).
pertama
adalah
68 persen
APM
APMsekolah
sekolahmenengah
menengah
pertama
adalah
68 persen
secara
menurut
data
survei,
tetapi
75 persen
secaranasional
nasional
menurut
data
survei,
tetapi
75
menurut
data Kementerian
PendidikanPendidikan
dan Kebudayaan.
persen menurut
data Kementerian
dan
Beberapa
provinsi
kawasan
timur jauh
di bawah
rata-rata
Kebudayaan.
Beberapa
provinsi
kawasan
timur
jauh
nasional
(Gambar
2). nasional (Gambar 2).
di bawah
rata-rata
atas,
data
survei
Di
Ditingkat
tingkatsekolah
sekolahmenengah
menengah
atas,
data
survei
menunjukkan
APM
sebesar
46
persen
untuk
anakanak
usia
menunjukkan APM sebesar 46 persen untuk
16-18
tahun yang
sedangkan
data Kementerian
usia 16-18
tahunterdaftar,
yang terdaftar,
sedangkan
data
menunjukkan
sebesar 56APM
persen.
Provinsi-provinsi
KementerianAPM
menunjukkan
sebesar
56 persen.
dengan
kinerja terburuk
sebagian
terdapat
di
Provinsi-provinsi
dengan
kinerjabesar
terburuk
sebagian
kawasan
timur
Indonesia.
besar terdapat di kawasan timur Indonesia.
dan
perkotaan
meningkat karena
Kesenjangan
Kesenjanganperdesaan
perdesaan
dan
perkotaan
anak-anak
bertambah
tua dan naik
ke kelas tua
berikutnya,
meningkatkarena
anak-anak
bertambah
dan naik
yang
berpihak
pada anak-anak
perkotaan
ke kelas
berikutnya,
yang berpihak
pada anak-anak
perkotaan (Gambar 3).

sebelu
geogra
besar d

sulbar
gorontalo

90%
80%

kalbar
West sulawesi
Banten
West kalimantan

70%

sulteng
Banten
kalsel
Central sulawesi

60%

kalteng
south kalimantan
sulsel
Central kalimantan

50%

Maluku
Utara
south
sulawesi

northsumsel
Maluku

40%

Jambi
south sumatra
sulut
Jambi

30%

sultra
north sulawesi
inDOnEsia
southeast
sulawesi

20%

Bali
inDOnEsia

67.7

sumbar
Bali

10%

Jawa
Barat
West
sumatra
Lampung
West
Java

ndonesia telah mengalami kemajuan luar


biasa dalam pencapaian Tujuan Pembangunan
Milenium (MDG) dalam hal pendidikan dasar
universal dan kesetaraan gender. Angka partisipasi
murni (APM) Sekolah Dasar, angka bertahan Sekolah
Dasar, dan angka literasi di Indonesia di antara
orang-orang muda usia 15-24 tahun lebih dari 90
persen. Indonesia telah mencapai kesetaraan gender
untuk literasi perempuan, pendidikan dasar dan
menengah pertama, dan hampir telah mencapai
target kesetaraan gender untuk pendidikan menengah
atas. Untuk pendidikan tinggi, angka kehadiran anak
perempuan terhadap angka kehadiran anak laki-laki
sebesar 96 persen pada tahun 2010.

0%

JawaLampung
Tengah
Jawa Timur
Central
Java
Bengkulu
East Java
riau
Bengkulu

r nTB
iau
Maluku
West nusa Tenggara
Dki Jakarta
Maluku
kaltim
Dki Jakarta
kepri
East kalimantan

100%

sumut
riau islands

90%

Di Yogyakarta
north
sumatra
aceh
Di Yogyakarta

80%

aceh

0%

20%

40%

60%

80%

100%

Perbedaan geografis untuk APM masih terlihat jelas,


khususnya di tingkat menengah. Analisa partisipasi
sekolah berikut menggunakan data Susenas 2010,
yang menunjukkan beberapa perbedaan dengan data
administrasi (Kotak 1).

70%
60%
50%
40%
30%

20%
10%

0%

an

edikit

sen

an
auh

sen.
an

naik
nak

LTP,
ondary
, by
years.

besar dari disparitas gender(Kotak 2).


Sebagian besar anak yang tidakbersekolah
meninggalkan sekolah selama masa transisi dari
sekolah
dasar ke
sekolah menengah pertama.
OKTOBER
2012
Kira-kira 20 persen mendaftarkan di sekolah
menengah pertama. Sebaliknya, 85 persen lulusan
sekolah menengah pertama melanjutkan ke sekolah
menengah atas.
Perbedaan gender secara umum lebih rendah
daripada
perbedaan
perkotaan/perdesaan
Angka
putus
sekolah
pada pendidikan dasar
tertinggi
adalah
di kelas 1 SD
persen)
dan
(Gambar 3).
Ada perbedaan
kecil(3,7
atau
tidak ada
lebih
rendah
untuk
kelas-kelas
berikutnya,
tetapi
perbedaan untuk APM sekolah dasar. Di tingkat
meningkat
lagi
di
kelas
6
SD(Gambar
6).
Untuk
sekolah menengah pertama, perbedaan gender
tahun ajaran yang sama, angka putus sekolah untuk
sedikit berpihak pada anak perempuan (2 persen),
pendidikan menengah pertama relatif rendah (1,8
sedangkandi
tingkat
SMA, perbedaan
gender
sedikit
persen
di seluruh
Indonesia).
Akan tetapi,
angka
ini
berpihak pada
anak laki-laki
(6 persen).
meningkat
di beberapa
provinsi
kawasan timur
(misalnya sekitar 6 persen di Nusa Tenggara Timur).
Secara keseluruhan, pola partisipasi sekolah
Kualitas
pendidikan
dan menengah
menegaskan
perlunyadasar
percepatan
aksi di daerahperludiperhatikan
di
semua
tingkat
provinsi.
daerah perdesaan dan kawasan timurdan
Indonesia
Dari
65
negara
yang
dikaji
oleh
Program
OECD
untuk
pada semua tingkat, khususnya Papua.
Pengkajian Siswa Internasional pada tahun 2009,
Indonesia menduduki peringkat di antara 13 negara
Hasil sensus
2010terakhir
menunjukkan
angka
yangyang
lebih
dalam
kelompok
untuk tiga
kategori
tinggi(membaca,
pada anak matematika
tidak bersekolah
daripengetahuan).
perkiraan
dikaji
dan ilmu
100%

Gambar
3. Angka
gambar
3. angka
partisipasi
Figure
3. net
enrolment
ratios, by
partisipasi
murni,
murni,
menurut
jenis
kelamin
sex
& residence
&
tempat
tinggal.
menurut
jenis kelamin
Source: Susenas 2010.
Susenas 2010
&Sumber:
tempat
tinggal.

90%

Sumber: Susenas 2010

80%

Perempuan
Female
Laki-laki
Male

ringkasan KAJIAN

sebelumnya (9.3 juta), dengan disparitas geografis


dan perkotaan-perdesaan yang lebih besar dari
disparitas gender (Kotak 2).
Sebagian besar anak yang tidak bersekolah
meninggalkan sekolah selama masa transisi dari
sekolah dasar ke sekolah menengah pertama.
Kira-kira 20 persen mendaftarkan di sekolah
menengah pertama. Sebaliknya, 85 persen lulusan
sekolah menengah pertama melanjutkan ke sekolah
menengah atas.
Angka putus sekolah pada pendidikan dasar
tertinggi adalah di kelas 1 SD (3,7 persen) dan
lebih rendah untuk kelas-kelas berikutnya, tetapi
meningkat lagi di kelas 6 SD (Gambar 6). Untuk
tahun ajaran yang sama, angka putus sekolah untuk
pendidikan menengah pertama relatif rendah (1,8
persen di seluruh Indonesia). Akan tetapi, angka
ini meningkat di beberapa provinsi kawasan timur
(misalnya sekitar 6 persen di Nusa Tenggara Timur).

Desa
Rural

70%

Kota
Urban

60%

Kualitas pendidikan dasar dan menengah perlu


diperhatikan di semua tingkat dan provinsi. Dari
65 negara yang dikaji oleh Program OECD untuk
Pengkajian Siswa Internasional pada tahun 2009,
Indonesia menduduki peringkat di antara 13 negara
dalam kelompok terakhir untuk tiga kategori yang
dikaji (membaca, matematika dan ilmu pengetahuan).

50%
40%
30%
20%

PAUD: Keragaman & disparitas

10%

sD
Primary

1.4 m

100%

JuniorsLTP
secondary

90%

Tidak
Out
of bersekolah
school

80%

50%
80%

20%
50%

3.5 m
26.3 m

age 7-12
years

age 13-15
years

age 16-18
years
6.5 m

age 5-6 years

Figure 4. Children in
Bersekolah
muda
school
and out ketika
of school
attended
younger
sekarang when
in million
and tidak
in bersekolah
now out of school
percentage, by age group.
Source: Census 2010. Note: Of
the 3.47 million "in school" in
the 5-6 years age group, 2.48
million or 71% are in various
pre-school programmes
Figure 4.toChildren
in The
according
Susenas 2010.
rest
appear
to be
in of
primary
school
and
out
school
school.
in million and in

percentage, by age group.

3.5 m

10%
0%

11.2 m

0%
30% age 5-6 years

Tidak
Out
of bersekolah
school
Bersekolah
ketika muda
sekarang when
tidak bersekolah
attended
younger
now out of school

inBersekolah
school

6.5 m

10%
40%

20%

5.8 m
11.2 m

5.8 m

30%
60%

26.3 m

5.6 m

100%

40%
70%

2.1 m

60%
90%

1.4 m

Bersekolah
in
school

5.6 m

70%
100%

seniorsLTa
secondary

2.1 m

0%

age 7-12
years

age 13-15
years

age 16-18
years

Source: Census 2010. Note: Of


the 3.47 million "in school" in
the 5-6 years age group, 2.48
million or 71% are in various
pre-school programmes
according to Susenas 2010. The
rest appear to be in primary
school.

ndonesia memiliki pelayanan Perkembangan


Anak Usia Dini (PAUD) yang beragam. Pelayananpelayanan ini mulai dari pra-sekolah dan TK formal
yang melayani anak-anak usia 4-6 tahun sampai
kelompok bermain non-formal dan pusat penitipan
anak, yang melayani anak-anak usia 2 sampai 6 tahun
yang tidak terlayani oleh program formal. Pelayanan
berbasis masyarakat seperti Posyandu (Pos Pelayanan
Terpadu) difokuskan terutama pada kesehatan dan
gizi, dan Bina Keluarga Balita (BKB), program berbasis
masyarakat lannya, difokuskan pada pendidikan
orang tua bagi para ibu dari anak-anak muda, yang
i
dipusatkan padakotak
Pos PAUD
. Hasil
program pada
1. angka
Partisipasi
Murni
umumnya
positif.
Studi
tentang
kesiapan
bersekolah

Di tingkat provinsi, Papua perlu mendapatkan


di enam kabupaten
di Indonesia
menunjukkan
perhatian khusus,
karena
Papua memiliki APM
sekolah dasar terendah
(Gambar
1).
bahwa program-program
PAUD telah
membantu

APM
sekolah
menengah
pertama
adalah
68 persen
mengembangkan kompetensi psikososial dan
kognitif

secara nasional menurut data survei, tetapi 75


persen menurut data Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Beberapa provinsi kawasan timur jauh
3
di bawah rata-rata nasional (Gambar 2).
Di tingkat sekolah menengah atas, data survei
menunjukkan APM sebesar 46 persen untuk anak
usia 16-18 tahun yang terdaftar, sedangkan data

kotak 2. anak-anak Tidak Bersekolah

Lebih dari3,5 jutaanakusia7-15tahuntidak


bersekolahdi Indonesiapada tahun 2010. Dari
jumlahini, 1,4 jutaanak adalah usiasekolah
dasardan2,1 jutausia sekolahmenengah pertama,
ringkasan
KAJIAN
dengan
jumlah anak
perempuan dananak laki-laki
yang diperkirakan sama. Jika anak-anakusia
sekolahmenengah atasjugadihitung, 9,3 jutaanak
tidak bersekolah. Sebagian besaranak yang tidak
bersekolah ini memiliki
beberapapengalamanbersekolah(Gambar
4).
Kotak 2. Anak-anak Tidak Bersekolah
Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Baratmemiliki
42persenanak
yang
di tidak
Lebih dari 3,5
jutatidak
anakbersekolah
usia 7-15 tahun
Indonesiadalamkelompok
sampai
15tahun.
bersekolah di Indonesiausia7
pada tahun
2010.
Dari jumlah
Jawaini,
Baratsendiri
memiliki21persen
tidak
1,4 juta anak
adalah usia sekolahanak
dasaryang
dan 2,1
bersekolah
Indonesia
dalampertama,
kelompok
usia jumlah
ini.
juta usiadisekolah
menengah
dengan
Dalamhal
prosentase,
beberapa
provinsi
kawasan
anak perempuan
dan
anak laki-laki
yang di
diperkirakan
timurlebih
sama.tinggi.
Jika anak-anak usia sekolah menengah atas
Perbedaangender
di juta
antaraanak-anak
yang tidak
juga dihitung, 9,3
anak tidak bersekolah.
Sebagian
bersekolah
berbeda-beda
menurut tingkat
besar anak
yang tidak bersekolah
ini memiliki
beberapa pengalaman
bersekolah
(Gambar 4).
danprovinsi(Gambar
5). Untuk
usia7-12tahun,
Jawa
Tengah,
Jawa Timur
dantidak
Jawabersekolahlebih
Barat memiliki
proporsi
anak
perempuan
yang
42 persen anak yang
tidakproporsi
bersekolah
di Indonesia
besardibandingkan
dengan
anak
laki-laki.
kelompok usia
7 sampai 15
tahun. Jawa Barat
Untukdalam
kelompokusia
13-15tahun,
proporsianak
lakisendiri memiliki
21 persen
anak yang tidak
bersekolah
lakiyangtidak
bersekolah
10persenlebih
tinggi
di Indonesia
usia ini. Dalam hal
daripada
proporsidalam
anakkelompok
perempuan.
prosentase,
beberapa
provinsi
di kawasan
timur
Proporsianak yangtidak bersekolahlebih
besardi
lebih
tinggi.
daerah perkotaandaripada didaerah perdesaan:
Perbedaan gender
di antara di
anak-anak
yang tidak
masing-masing
6dan 4persen
antaraanak-anak
bersekolahperdesaanusia7-12tahun,
berbeda-beda menurut tingkat
dan
perkotaandan
masingprovinsi (Gambar 5). Untuk usia 7-12 tahun, proporsi
masing 18dan 14persen di antaraanak-anak
anak perempuan yang tidak bersekolah lebih besar
perkotaandan
perdesaanusia13-15tahun.

dibandingkan dengan proporsi anak laki-laki. Untuk


kelompok usia 13-15 tahun, proporsi anak laki-laki
yang tidak bersekolah 10 persen lebih tinggi daripada
proporsi anak perempuan.
Anak-anak
yang anak
menggunakan
pelayanan
pra-di
Proporsi
yang tidak bersekolah
lebih besar
sekolah/PAUD
terlambat,
besar
daerah relatif
perkotaan
daripada di sebagian
daerah perdesaan:
6 dan Susenas
4 persen di 2010
antara anak-anak
pada usiamasing-masing
5-6 tahun.Data
perkotaan
dan
perdesaan
usia
7-12
tahun,
menunjukkan bahwa 19 persen anak usia
3-4masingtahun
masing 18 dan 14 persen di antara anak-anak
terdaftar dalam program PAUD, dibandingkan
perkotaan dan perdesaan usia 13 -15 tahun.

dengan
27 persen
anak usia
5-6 tahun.
Akses
dan kualitas
pelayanan
PAUD sangatlah
tidak seimbang. Kira-kira 62 persen anakusia 3
an
6 tahun belum pernah berpartisipasi dalam
anan- 1Pos sampai
Pendidikan Anak Usia Dini: pusat berbagai program
Gambar pendidikan
5. Perbedaan gender
*usia dini atau pra-sekolah.
program
anak
pendidikan pada
anak anak-anak
usia dini yang
(PAUD)
tidaknon-formal, yang digabungkan
Pada
tahun
proporsi
dengan
Posyandu
dan
BKB nasional
bersekolah
di 2009,
tingkat
dananak perkotaan yang

2
m

arakat
bagi
pada
itif.

provinsi. Nilai perbedaan gender


Figure
5.
gender
differentials*
di tingkat
nasional
dan provinsi
gambar
5. Perbedaan
gender
*pada in
out-of-school
children
at each
ditunjukkan
di atas
setiap
bar.
anak-anak
yang tidak
bersekolah
di
level,
&
province
National
tingkatnational
nasional
provinsi. .Nilai
33dan
provinsi.

and
provincial
values
in gender
differential
perbedaan
gender
di tingkat
nasional
Sumber:
Susenas
2010
are
each bar.
33 setiap
danindicated
provinsi above
ditunjukkan
di atas
provinces.
Source:
Susenas
2010. 2010
bar. 33 provinsi
.Sumber:
Susenas

ak
dak

pada anak perempuan

Usia5-6 tahun

18 provinces

national: 115%
31 provinces

105%

national: 98%

age 5-6 years


2 provinces

angka anak perempuan


tidak
bersekolah
*Out-of-school
rate for
girls
divideddibagi
by
dengan angka anak laki-laki tidak bersekolah
out-of-school
rate for boys

OKTOBER 2012


Gambar 6. Angka putus sekolah
angka
putus
sekolah
untuk
sekolah
dasar, 2010Figure 6.
Drop
out
rates
in primary
school,
2010-2011.
Source:
gambar
untuk
sekolah
dasar,
2010-2011.
Ministry of Education
and Culture
2011.Sumber:
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan

Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
4.00%
3.50%
3.00%

2.50%
2.00%
1.50%
1.00%

0.50%
0.00%

grade
kelas 11

grade
kelas 22

grade
kelas 33

grade
kelas 44

grade
kelas 55

grade
kelas 66

mengikuti beberapa bentuk program PAUD dua kali


lipat dari proporsi anak perdesaan. Sedangkan
beberapa kota seperti Yogyakarta mampu
untuk mempersiapkan
bersekolah,
dengan
memberikan
pelayanananak-anak
PAUDkepada
60 persen
atau
melibatkan
anak-anak
dalam
program-program
lebih anak usia 3-6 tahun. Indonesia memiliki fasilitas
tersebut minimal
setengah
tahun.
PAUDyang
relatif satu
sedikit.
Situasi
ini sebagian
menjelaskan mengapa orang tua cenderung untuk
menyekolahkan
mereka
lebih awal:
Anak-anak yanganak-anak
menggunakan
pelayanan
pra- kirakira
72 persen anak
enam tahun
telahbesar
terdaftar
sekolah/PAUD
relatifusia
terlambat,
sebagian
dipada
Kelas
1sekolah
dasar.
usia 5-6 tahun. Data Susenas 2010 menunjukkan
bahwa 19 persen anak usia 3-4 tahun terdaftar dalam
program PAUD, dibandingkan dengan 27 persen anak
usia 5-6 tahun.

Hambatan

Aksessekolah
dan kualitas
pelayanan
PAUD
sangatlah
tidak
Biaya
merupakan
salah
satu
hambatan
yang
menghalangi
anak-anak
untuk
seimbang.
Kira-kira 62
persen anak
usiamengakses
3 sampai 6
dan
menyelesaikan
pendidikan. dalam
Termasuk
tahun
belum pernah berpartisipasi
program
transportasi,
biaya
menyekolahkan
anak
sekolah
pendidikan anak usia dini atau pra-sekolah.kePada
dasar
kira-kira
setengah
atau
lebih
dari
pendapatan
tahun 2009, proporsi anak perkotaan yang mengikuti
rumah tangga bagi mereka yang berada di bawah
beberapa bentuk program PAUD dua kali lipat dari
proporsi anak perdesaan. Sedangkan beberapa kota 3
seperti Yogyakarta mampu memberikan pelayanan
PAUD kepada 60 persen atau lebih anak usia 3-6
tahun. Indonesia memiliki fasilitas PAUD yang relatif
sedikit. Situasi ini sebagian menjelaskan mengapa
orang tua cenderung untuk menyekolahkan anak-anak
mereka lebih awal: kira-kira 72 persen anak usia enam
tahun telah terdaftar di Kelas 1 sekolah dasar.

60%
29 provinces

4 provinces

Usia7-12
tahun
age
7-12 years

76%

national:90%

141%

ognitif

ma,
aki

Lebih besar
laki-lakidari
Greater
%%ofanak
boys
than girls

15 provinces

139%
age 13-15 years

dari pada anak laki-laki

national:102%

124%
Usia16-18
16-18years
tahun
age

Lebih besar
peremp
Greater
%%ofanak
girls
thanuan
boys

2 provinces

94%

2 provinces

96%
31 provinces

angka anak perempuan


tidak
bersekolah
*Out-of-school
rate for
girls
divideddibagi
by
dengan angka anak laki-laki tidak bersekolah
out-of-school
rate for boys

gambar
angkaout
putus
sekolah
untuk
sekolah
dasar, 2010Figure 6. Drop
rates
in primary
school,
2010-2011.
Source:

Hambatan

iaya sekolah merupakan salah satu hambatan


yang menghalangi anak-anak untuk mengakses
dan menyelesaikan pendidikan. Termasuk
transportasi, biaya menyekolahkan anak ke sekolah
dasar kira-kira setengah atau lebih dari pendapatan
rumah tangga bagi mereka yang berada di bawah
garis kemiskinan nasional. Seragam mencapai sampai

OKTOBER 2012

sepertiga dari total biaya untuk sekolah dasar di


perdesaan. Biaya untuk berbagai jenis mencapai 20
persen dari pengeluaran pendidikan rumah tangga,
dan lebih tinggi untuk sekolah dasar di perkotaan.
Ketika anak masuk sekolah menengah pertama,
pengeluaran pendidikan rumah tangga mengalami
peningkatan, dengan biaya transportasi yang
meningkat sebesar tiga kali. Bahkan jika orang tua
mampu membayar biaya-biaya tersebut, tekanan sosial
untuk melakukan penyesuaian (penampilan pakaian,
kepemilikan dan display barang-barang konsumen,
dll) dapat mengakibatkan anak putus sekolah.
Orang tua juga percaya bahwa pengembalian untuk
pendidikan menengah relatif rendah, dibandingkan
dengan biaya tambahan yang dikeluarkan.
Rendahnya kualitas pendidikan berawal dari proses
belajar dan mengajar. Hanya 27 persen guru sekolah
dasar yang memenuhi syarat. Proporsi ini meningkat
sampai 76 dan 84 persen masing-masing di tingkat
sekolah menengah pertama dan sekolah menengah
atas. Upaya-upaya untuk meningkatkan kualifikasi
guru dimulai pada tahun 2006 dengan sertifikasi
guru pra-jabatan (in-service) dan guru dalam jabatan
(in-service). Pada bulan Desember 2011, kira-kira 1,2
juta guru telah memperoleh sertifikasi, dari 2,9 juta,
termasuk mereka yang berasal dari sekolah-sekolah
agama di bawah Kemeterian Agama. Akan tetapi, studi
terakhir menunjukkan bahwa sertifikasi dan kualifikasi
formal guru belum menimbulkan dampak terhadap
kinerja siswa. Sertifikasi guru saja sepertinya tidak
cukup untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan
kata lain, penyampaian pengajaran, keterampilan
mengajar di kelas dan pedagogis sepertinya lebih
penting. Oleh karena itu, guru perlu disertifikasi ulang
dan dikaji di bidang ini secara berkala. Salah satu
dampak peningkatan mutu dan sertifikasi guru telah
meningkatkan gaji guru dua kali lipat dan menjadikan
profesi guru lebih menarik bagi para calon yang
memenuhi syarat. Hal ini sendiri penting.
Ketidakhadiran dan penurunan motivasi guru
merupakan suatu hambatan, terutama di daerahdaerah terpencil. Sebuah studi menunjukkan minimal
37 dan 26 persen guru absen dari sekolah pada saat
survei tersebut dilakukan masing-masing di Papua
dan Papua Barat. Ketidakhadiran tertinggi terjadi di
daerah-daerah terpencil. Kondisi hidup, kesulitan
transportasi, keterlambatan pembayaran gaji, tidak
adanya tanggung jawab di antara para guru dan

ringkasan KAJIAN

rendahnya kapasitas otoritas sekolah setempat untuk


memantau kinerja dan perilaku guru semuanya
berkontribusi terhadap penurunan motivasi dan
ketidakhadiran guru. Untuk mengatasi masalah ini,
pemerintah telah menetapkan sistem insentif bagi
para guru yang bekerja di daerah-daerah terpencil,
termasuk tunjangan keuangan.
Kemiskinan, disertai dengan rendahnya tingkat
pendidikan keluarga, dapat mendorong anak
tidak bersekolah dan menjadi pekerja anak.
Indonesia memiliki sekitar empat juta anak yang
menjadi pekerja anak. Hampir dua pertiga anak yang
tidak bersekolah terlibat dalam beberapa kegiatan
produktif. Seperempat anak yang tidak bersekolah
dalam kelompok usia 10-14 tahun memiliki lama
pendidikan kurang dari empat tahun, yang berarti
mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa yang
buta huruf. Angka-angka ini menunjukkan pentingnya
pengembangan dan percepatan upaya-upaya dalam
memberikan kesempatan pendidikan yang kedua dan
pelayanan-pelayanan lain yang meningkatkan pilihan
hidup anak-anak. Survei perbandingan tahun 2009
dan 2004 menunjukkan bahwa pekerja anak belum
mengalami penurunan.
Anak-anak yang bekerja memiliki kemungkinan 30
persen lebih rendah untuk bersekolah dibandingkan
dengan anak-anak yang tidak bekerja. Di Indonesia,
pekerja anak pada umumnya merupakan fenomena
perdesaan dan pertanian. Akan tetapi, bekerja
tidak harus menghilangkan kesempatan anak untuk
memperoleh pendidikan formal. Kira-kira 87 persen
anak yang bekerja (usia 7-14 tahun) juga bersekolah,
tetapi tertinggal dari teman-teman mereka yang tidak
bekerja dalam hal kemajuan kelas.
Kualitas pelayanan PAUD perlu ditingkatkan.
Tidak ada kerangka peraturan untuk kualitas
pemantauan. Jumlah dan kualitas staff tidak
memadai, dan distribusi terpusat di kota-kota.
Pelatihan persiapan staff sangat singkat dan insentif
keuangan terbatas.
Kendala-kendala kelembagaan dan kendala lainnya
merupakan hambatan untuk melaksanakan
program PAUD secara menyeluruh dan terpadu.
Kerja sama di antara berbagai lembaga pemerintah
di tingkat kabupaten tidak optimal, sehingga sulit
untuk melakukan pendekatan secara terpadu.
5

ringkasan KAJIAN

Pemerintah daerah dan masyarakat seringkali tidak


mengetahui pentingnya pemberian pelayanan PAUD
yang mengintegrasikan simulasi psikososial dan
pembelajaran dini dengan intervensi kesehatan,
kebersihan dan gizi. Pada tahun 2010, hanya 12
persen pelayanan PAUD bagi anak-anak uisa 3 sampai
6 tahun mampu melakukan pendekatan terpadu.
Prasekolah dan taman kanak-kanak yang mengajarkan
membaca dan menulis secara umum sangat menonjol.

Peluang untuk
melakukan tindakan

emangku kepentingan (stakeholder) di bidang


pendidikan perlu mempromosikan pendidikan
untuk seluruh anak di masyarakat, dan tidak
hanya bagi mereka yang telah bersekolah. Banyak
daerah di Indonesia sekarang ini sedang menerapkan
praktek-praktek yang baik terkait dengan Manajemen
Berbasis Sekolah, yang bertujuan untuk mengupayakan
sekolah agar bertanggung jawab kepada masyarakat
untuk memberikan pelayanan pendidikan yang
berkualitas baik. Akan tetapi, pendekatan manajemen
berbasis sekolah-perlu digabungkan dengan
mekanisme berbasis masyarakat yang secara terusmenerus memantau kehadiran anak-anak di sekolah,
memastikan perkembangan mereka ke tingkat
pendidikan yang lebih tinggi, dan mengidentifikasi
anak-anak yang tidak bersekolah atau mereka yang
beresiko tidak bersekolah, sehingga dapat dilakukan
tindakan secara tepat.
Sistem informasi berbasis masyarakat yang kuat
dan mekanisme tindak lanjut sangat diperlukan
untuk memantau status bersekolah anak. Kurangnya
data yang memadai untuk menentukan rencana
dan sasaran merupakan salah satu hambatan
terbesar terhadap peningkatan akses ke pendidikan,
khususnya bagi anak-anak yang kurang beruntung.
Pemerintah setempat hanya memiliki data tentang
anak-anak yang bersekolah, tetapi bukan data tentang
anak-anak yang tidak bersekolah. Untuk melengkapi
sistem berbasis sekolah dengan sistem informasi
berbasis masyarakat, sekolah dan masyarakat perlu
bekerja sama untuk mengidentifikasi anak-anak
beresiko dan mereka yang telah putus sekolah, dan
melakukan tindakan yang tepat, seperti penyediaan
transportasi bagi anak-anak dari desa-desa terpencil.
Contoh-contoh inovatif sistem informasi berbasis
6

OKTOBER 2012

masyarakat sudah ada, misalnya, di Kabupaten


Polewali-Mandar, Sulawesi Barat. Sistem tersebut
memerlukan investasi yang relatif kecil dari anggaran
kabupaten tetapi hasilnya akan sangat bermanfaat.
Program bantuan sosial perlu menetapkan sasaran
pada anak-anak dan remaja yang tidak bersekolah.
Bantuan Siswa Miskin (BSM) memberikan beasiswa
kepada para siswa miskin, dan Bantuan Operasional
Sekolah (BOS) memberikan dana operasional sekolah.
Kedua program ini berbasis sekolah dan belum secara
efektif menjangkau anak-anak yang tidak bersekolah.
Mekanisme yang lebih baik untuk menjangkau anakanak tersebut harus ditetapkan di tingkat pusat atau
daerah, sehingga anak-anak yang tidak bersekolah
dapat kembali bersekolah dan mendapatkan manfaat
dari bantuan sosial berbasis sekolah. Misalnya,
pemerintah daerah dapat mendanai program kembali
bersekolah dari anggaran kabupaten (APBD). Perlu
diperhatikan juga bahwa program bantuan tunai
bersyarat seperti PKHii tidak mengatasi masalah
transisi dari sekolah menengah pertama ke sekolah
menengah atas.
Kesempatan dan bentuk-bentuk alternatif
pendidikan harus dipromosikan dengan
memperhatikan kualitas dan relevansi. Hal ini
meliputi pendidikan kecakapan hidup untuk
membekali remaja dengan pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan untuk menangani
resiko, mengurangi kerentanan dan meningkatkan
peluang pasar tenaga kerja.
Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas guru
harus difokuskan pada pemahaman guru tentang
mata pelajaran, sertifikasi ulang, penilaian berkala
dan pelatihan keterampilan pedagogis. Selama ini,
penekanan diberikan pada peningkatan kualifikasi
bukan pada kompetensi. Anggaran untuk pelatihan
dalam jabatan (in-service) perlu ditingkatkan.
Kualitas guru juga diperlukan untuk meningkatkan
akses ke pendidikan dasar. Misalnya, guru-guru
tidak mendapatkan pelatihan yang memadai
untuk kelas-kelas awal sekolah dasar. Di bawah
pendekatan sekolah Satu Atap, para guru harus
memiliki kemampuan untuk mengajar baik di tingkat
sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama.
Di sekolah-sekolah kecil, pengajaran multi kelas
memerlukan keterampilan khusus, yang sering kali
tidak dimiliki oleh para guru.

OKTOBER 2012

Dalam rangka meningkatkan pendidikan di daerahdaerah yang tertinggal, diperlukan adaptasi kebijakan
dan strategi pendidikan dengan konteks sosial dan
budaya setempat. Tingginya pengulangan di kelaskelas awal sekolah dasar di provinsi-provinsi tertentu
antara lain disebabkan oleh anak-anak yang lebih
terbiasa dengan bahasa daerah mereka, bukan bahasa
nasional Indonesia. Muncul pula masalah tentang
bagaimana mencerminkan budaya Indonesia yang
kaya dan beragam dalam kurikulum. Masalah ketiga
adalah rendahnya prioritas pada pendidikan dalam
budaya-budaya tertentu, seperti masyarakat konservatif
di Jawa yang mendukung pernikahan dini anak-anak
perempuan dan memberikan preferensi pendidikan
kepada anak laki-laki. Persediaan, distribusi dan
manajemen guru, terutama di daerah-daerah terpencil,
mengabaikan semua masalah ini. Inisiatif-inisiatif
seperti kompetisi, peningkatan pengawasan, dan
tunjangan berbasis kinerja atau penghargaan non-uang
dapat menjadi cara-cara efektif untuk meningkatkan
motivasi guru dan mengurangi ketidakhadiran.
Banyaknya program dan pemangku kepentingan
PAUD memerlukan koordinasi kebijakan yang
kuat. Kabupaten harus mematuhi kebijakan dan
prinsip nasional untuk PAUD yang Terpadu dan
Holistik. Advokasi perlu dfokuskan pada hubungan
penting antara hasil PAUD dan pendidikan, dan pada
pentingnya penggabungan gizi dengan intervensi
psikososial.
Diperlukan investasi yang lebih banyak untuk PAUD,
sehingga anak-anak dari kelompok termiskin dapat
memperoleh manfaat dari program-program PAUD
holistik dan terpadu. Indonesia telah meningkatkan
pengeluaran pendidikan secara mengesankan.
Pengeluaran pendidikan pada tahun 2011 sebesar
seperlima pengeluaran pemerintah dan 3 persen
dari PDB. Akan tetapi, investasi 2009 dalam PAUD
hanya sebesar 2,1 persen dari anggaran pendidikan,
dibandingkan dengan standar internasional sebesar
4 sampai 5 persen.
Sebagai bagian dari skema program perlindungan
sosial Indonesia, program PAUD di kabupatenkabupaten termiskin harus mendapatkan subsidi bagi
setiap anak yang terdaftar. Pada umumnya, program
PAUD tidak memiliki atau kekurangan dana dalam
masyarakat miskin. Akan tetapi, anak-anak dalam
masyarakat termiskin ini adalah anak-anak yang akan

ringkasan KAJIAN

memperoleh manfaat terbesar dari pelayanan PAUD,


sehingga mengurangi dampak kemiskinan terhadap
perkembangan anak. Oleh karena itu, Pemerintah pusat
dan daerah harus mendukung PAUD dalam masyarakat
termiskin ini. Persyaratannya adalah bahwa subsidi
tersebut hanya diberikan untuk program menyeluruh
dengan intervensi gizi, kesiapan bersekolah dan
intervensi psikososial.
PAUD terpadu di tingkat masyarakat memerlukan
peningkatan pelayanan-pelayanan yang ada seperti
Posyandu dan Bina Keluarga Berencana (BKB) /
Pos PAUD. Masyarakat telah memiliki pelayanan
berbasis posyandu untuk intervensi kesehatan dan
gizi dengan sasaran anak-anak, dan BKB/Pos PAUD
untuk pendidikan anak usia dini dan pendidikan
orang tua. Pada kenyataannya, para relawan yang
memberikan kedua pelayanan ini mungkin sama,
tetapi mereka memainkan peran yang berbeda pada
waktu yang tidak sama, sehingga memudahkan untuk
mengintegrasikan komponen gizi dan psikososial di
tingkat masyarakat.
PAUD harus diimplementasikan sebagai sebuah
rangkaian kesatuan sampai dengan anak berusia
delapan tahun. Dinas kabupaten yang memberikan
pelatihan kepada para relawan (Dinas Kesehatan,
keluarga berencana daerah, dan Dinas Pendidikan)
harus bekerja sama untuk memastikan pelatihan
terpadu dan penentuan sasaran yang tepat dari
berbagai intervensi, dan untuk memastikan
kelancaran transisi dari PAUD ke sekolah dasar. Oleh
karena itu, isu-isu terkait tentang pembelajaran awal,
bahasa pengajaran, persiapan guru pra-sekolah
dan mereka yang mengajar kelas-kelas awal perlu
ditangani secara tepat.
Kabupaten perlu merevitalisasi dan memotivasi
para kader dan relawan masyarakat, karena sifat
kerelawanan itu sendiri tidak berkesinambungan
dalam jangka panjang. Mekanisme inovatif untuk
mendorong para relawan telah berhasil di kabupatenkabupaten tertentu seperti Mamuju di Sulawesi Barat,
dimana pelatihan relawan tentang kegiatan-kegiatan
yang dapat menghasilkan pendapatan digabungkan
dengan dukungan pemerintah kabupaten bagi
mekanisme kredit. Langkah pemerintah untuk
mendaftar relawan yang memenuhi syarat sebagai
pekerja kontrak tingkat kabupaten memberikan
insentif penting.
7

ringkasan KAJIAN

OKTOBER 2012

Sumber
Al-Samarrai, S. (2012): Social Assistance for Education in
Indonesia. Powerpoint presentation. Jakarta: World Bank
Barnett, S.W. (1985): Benefit-cost analysis of the
Perry Preschool Program and its policy implications.
Educational evaluation and policy analysis. 7: 333-342
Barnett, S.W. (1995): Long-term effects of early
childhood programs on cognitive school outcomes The
future of children. 5: 25-50
Bowman, B., Donovan, M.S. & Burns, M.S. (2001): Eager
to Learn: Educating our pre-schoolers. Washington,
D.C.: National Research Council, Committee on Early
Childhood Pedagogy

Pelto, G., Dickin, K. and Engle, P. (1999). A critical link:


Interventions for physical growth and psychological
development. Geneva: World Health Organization
Sardjunani, N. (2009) Sustainable Policies For ECD: The
Role of ECD Cost and Financing Research in Forming
National Policy (Indonesian Experience). Asia-Pacific
Early Childhood Policy Review Seminar. Singapore, 1-2
December 2009
Shrimpton, R., Victora, C.G., de Onis, M., Lima, R.C.,
Blssner, M. and Clugston, G. (2001): Worldwide
timing of growth faltering: implications for nutritional
interventions. Pediatrics 107: E75
SMERU (2009): Teacher certification and remote area
allowance programmes: can they increase the quality of
education? SMERU Newsletter 28, January-April 2009.

BPS - Statistics Indonesia and ILO (2010): Working


Children in Indonesia 2009 (based on the National
Labour Force Survey (SAKERNAS) and Indonesia Child
Labour Survey, 2009). Jakarta: BPS and ILO

UCW, 2012: Understanding childrens work and youth


employment outcomes in Indonesia. Understanding
Childrens Work (UCW) Programme Country Report
Series, June 2012, Rome.

BPS (2012): Petumbuhan Eknomi Indonesia Available


from http://www.bps.go.id/brs_file/pdb_banner1.pdf

UNCEN, UNICEF, UNIPA & SMERU (2012): Penelitian


tentang Ketidakhadiran Guru di Sekolah Dasar di Papua
dan Papua Barat. Jakarta: UNICEF

BPS-Statistics Indonesia (2010): Susenas 2009: National


Socio-Economic Survey. Jakarta: BPS
BPS-Statistics Indonesia (2011): Susenas 2010: National
Socio-Economic Survey. Jakarta: BPS
BPS-Statistics Indonesia and Macro International (2008): Indonesia
Demographic and Health Survey (IDHS 2007). Calverton,
Maryland, USA: Macro International and Jakarta: BPS.
Consultative Group on Early Childhood Care and
Development, 2008: Funding the Future: Strategies
for early childhood investment, costing and financing.
Editors: L. Prpich, L. Curtis & L. Zimanyi. Coordinators
Notebook, vol. 30, Toronto: Thistle Printing
Irwanto, Pandia, W.S.S., Widyawati, Y., and Irwan, A.Y.S.
(2011): School Readiness Evaluation. Jakarta: UNICEF &
Atma Jaya Indonesia Catholic University
Ministry of Finance (2012): Undang-Undang Republik
Indonesia No 10 Tahun 2010 APBN 2011. Available from
http://www.anggaran.depkeu.go.id/peraturan/UU%20
10%20-%202010%20-%20APBN%202011.pdf
Ministry of National Education and Culture:
administrative and school census data, 2010-11
OECD (2010): PISA 2009 Results: Executive
Summary. Programme for International Student
Assessment (PISA). Available from: http://www.oecd.org/
pisa/pisaproducts/

UNESCO Institute for Statistics and UNICEF (2012): Global


Initiative on Out of School Children, Indonesia Country
Study. Jakarta: UNICEF and UNESCO, March 2012.
UNICEF (2012): School Readiness and Transitions: Child
Friendly Schools Manual. New York: UNICEF, August 2012
Victora CG, de Onis M, Hallal PC, Blssner M, Shrimpton
R. (2010): Worldwide timing of growth faltering:
revisiting implications for interventions. Pediatrics.
125(3):e473-80.
Victora, C.G., Adair, L., Fall, C., Hallal, P.C., Martorell,
R., Richter, L. and Sachdev, H.S. (2008): Maternal
and child undernutrition: consequences for adult
health and human capital. Maternal and Child
Undernutrition 2, Lancet 371: 340-357

Waldegrave, C. & Waldegrave, K. (2009):


Healthy Families, Young Minds and Developing
Brains: Enabling All Children to Reach
Their Potential. The Families Commissions
Research Fund Report No. 2/09. May 2009

Pos Pendidikan Anak Usia Dini: Early Childhood Education Post,
a centre for a variety of non-formal early childhood education/ECD
programmes, combined with Posyandu and BKB.
ii PKH: Program Keluarga Harapan, program bantuan tunai bersyarat.
i

Ini adalah salah satu dari serangkaian Ringkasan Kajian yang dikembangkan oleh UNICEF Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi jakarta@unicef.org atau klik www.unicef.or.id