Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Penyakit tubercolusis atau yang sering disebut TBC adalah infeksi menular yang
disebabkan oleh bakteri mycobacterium tubercolusi). Bakteri ini berbentuk batang
dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA).
Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri
Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan
pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri
ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak
menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan
dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab
itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru,
otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain,
meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
Gejala klasik infeksi TB aktif yaitu batuk kronis dengan bercak darah sputum
atau dahak, demam, berkeringat di malam hari, danberat badan turun. (dahulu TB
disebut penyakit "konsumsi" karena orang-orang yang terinfeksi biasanya mengalami
kemerosotan berat badan.) Infeksi pada organ lain menimbulkan gejala yang
bermacam-macam. Diagnosis TB aktif bergantung pada hasilradiologi (biasanya
melalui sinar-X dada) serta pemeriksaan mikroskopis dan pembuatan kultur
mikrobiologis cairan tubuh. Sementara itu, diagnosis TB laten bergantung pada tes
tuberkulin kulit/tuberculin skin test (TST) dan tes darah. Pengobatan sulit dilakukan
dan memerlukan pemberian banyak macam antibiotik dalam jangka waktu lama.
Orang-orang yang melakukan kontak juga harus menjalani tes penapisan dan diobati
bila perlu. Resistensi antibiotik merupakan masalah yang bertambah besar pada
infeksi tuberkulosis resisten multi-obat (TB MDR). Untuk mencegah TB, semua
orang

harus

menjalani

tes

penapisan

mendapatkan vaksinasi basil CalmetteGurin.


1

penyakit

tersebut

dan

Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan
waktu yang lama untuk mengobatinya, disamping rasa bosan karena harus minum
obat dalam waktu yang lama seseorang penderita kadang-kadang juga berhenti
minum obat sebelum massa pengobatan belum selesai hal ini dikarenakan penderita
belum memahami bahwa obat harus ditelan seluruhnya dalam waktu yang telah
ditentukan, serta pengetahuan yang kurang tentang penyakit sehingga akan
mempengaruhi kepatuhan untuk berobat secara tuntas.
Para ahli percaya bahwa sepertiga populasi dunia telah terinfeksi oleh M.
tuberculosis, dan infeksi baru terjadi dengan kecepatan satu orang per satu detik. Pada
tahun 2007, diperkirakan ada 13,7 juta kasus kronis yang aktif di tingkat global. Pada
tahun 2010, diperkirakan terjadi pertambahan kasus baru sebanyak 8.8 juta kasus, dan
1,5 juta kematian yang mayoritas terjadi di negara berkembang. Angka mutlak kasus
Tuberkulosis mulai menurun semenjak tahun 2006, sementara kasus baru mulai
menurun sejak tahun 2002. Tuberkulosis tidak tersebar secara merata di seluruh
dunia. Dari populasi di berbagai negara di Asia dan Afrika yang melakukan tes
tuberkulin, 80%-nya menunjukkan hasil positif, sementara di Amerika Serikat, hanya
510%

saja

yang

menunjukkan

hasil

positif.

Masyarakat

di dunia

berkembang semakin banyak yang menderita Tuberkulosis karena kekebalan tubuh


mereka yang lemah. Biasanya, mereka mengidap Tuberkulosis akibat terinfeksi
virus HIV dan berkembang menjadi AIDS. Pada tahun 1990-an Indonesia berada
pada peringkat-3 dunia penderita TB, tetapi keadaan telah membaik dan pada tahun
2013 menjadi peringkat-5 dunia.
Berhasil atau tidaknya pengobatan tuberculosis tergantung pada pengetahuan
pasien, keadaan sosial ekonomi serta dukungan dari keluarga. Tidak ada upaya dari
diri sendiri atau motivasi dari keluarga yang kurang memberikan dukungan untuk
berobat secara tuntas akan mempengaruhi kepatuhan pasien untuk mengkonsunsi obat
(Dr.Indan Enjang, 2002). Apabila ini dibiarkan dampak yang akan muncul jika
penderita berhenti minum obat adalah munculnya kuman tubercolusis yang resisten
terhadap obat, jika ini terus terjadi dan kuman tersebut terus menyebar pengendalian
2

obat tubercolusis akan semakin sulit dilaksanakan dan meningkatnya angka kematian
terus bertambah akibat penyakit tubercolusis.
Tujuan pengobatan pada penderita tubercolusis bukanlah sekedar memberikan
obat saja, akan tetapi pengawasan serta memberikan pengetauan tentang penyakit ini
untuk itu hendaknya petugas kesehatan memberikan penyuluhan kepada penderita
dan

keluarganya

agar

pengetauan

mereka

mengetahui

resiko-resiko

dan

meningkatkan kepatuhan untuk berobat secara tuntas. Dalam program DOTS ini
diupayakan agar penderita yang telah menerima obat atau resep untuk selanjutnya
tetap membeli atau mengambil obat, minum obat secara teratur, kembali control
untuk menilai hasil pengobatan.
I.2. Rumusan Masalah
Adakah hubungan pengetahuan tuberculosis paru dengan tingkat
kepatuhan berobat pasien tuberculosis paru?
I.3. Tujuan Penulisan
Mengetahui hubungan pengetahuan penyakit tuberculosis dengan tingkat
kepatuhan berobat pasien tuberculosis.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Instansi Pelayanan Kesehatan
Meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat khususnya penderita tubercolusis,
sehingga akan meningkatkan kualitas asuahan keperawatan dan kualitas hidup
penderita serta memberi masukan kepada petugas kesehatan tentang pentingnya
penyuluhan

penyakit

tubercolusis

kepada

masyarakat

khususnya

penderita

tubercolusis.
1.4.2. Bagi Pasien
Memberikan pengetahuan tentang penyakit tuberculosis dalam meningkatkan
kepatuhan berobat pasien tuberculosis.
I.4.3. Bagi Tenaga Medis
Sebagai sumbangan ilmu pengetahuan tentang tubercolusis paru.

I.4.4. Bagi Peneliti Selanjutnya


Sebagai masukan data dan sumbangan pemikiran perkembangan pengetahuan untuk
peneliti selanjutnya.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1. Konsep Pengetahuan
II.1.1 Definisi
Berasal dari kata tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengideraan
terhadap sesuatu obyek tertentu, pengideraan terjadi melalui panca indra manusia.
Tetapi sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari atau melalui mata dan
telinga (Notoatmojo,2003).
Roger (1974) yang dikutip oleh notoatmodjo (2003) mengemukakan bahwa sebelum
orang mengadopsi perilaku baru dalam diri seseorang akan terjadi proses yang
berturut-turut yaitu :
1. awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
2.
3.

stimulus (objek) terlebih dahulu.


Interest, yaitu orang tertarik pada stimulus.
Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi

dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5. Adaption, subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran
dan sikapnya terhadap stimulus.
II.1.2. Sumber Pengetahuan
1. Tradisi
Tradisi adalah suatu dasar pengetahuan dimana setiap orang tidak dianjurkan
untuk memulai mencoba memecahkan masalah. Tradisi merupakan kendala
dalam kebutuhan manusia karena beberapa tradisi begitu melekat sehingga
validitas, manfaat dan kebenarannya tidak pernah dicoba dan diteliti.
2. Autoritas
Ketergantungan terhadap suatu autoritas tidak dapat dihindarkan karena kita
tidak dapat secara automatis menjadi seseorang ahli dalam mengatasi setiap
permasalahan yang dihadapi.
3. Pengalaman
Dalam memecahkan suatu permasalahan dapat berdasarkan pengalaman
sebelumnya, dan ini merupakan pendekatan yang penting dan bermanfaat.
5

4. Trial and Error


Kadang kita dalam menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita
dalam menggunakan alternative pemecahan melalui coba dan salah
5. Alasan yang logis
Dalam menyelesaikan suatu masalah berdasarkan proses penelitian yang logis.
Pemikiran ini merupakan komponen yang penting dalam pendekatan ilmiah
akan tetapi alasan rasional sangat terbatas.
6. Metode ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan yang paling tepat untuk mencari suatu
kebenaran, karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis,
serta dalam mengumpulkan dan menganalisa datanya didasarkan pada prinsip
validitas dan reliabilitas (Nursalam, 2000).
II.1.3. Komponen pengetahuan
1. Tahu
Pengetahuan berkenan dengan bahan yang dipelajari sebelumnya disebut juga
istilah recal (mengingat lagi) namun apa yang yang telah diketahui hanya
sekedar informasi yang diingat saja. Oleh sebab itu ini merupakan tongkat
pengetahuan yang rendah.
2. Pemahaman
Adalah kemampuan mengetahui arti sesuatu bahan yang tekah dipakai
dipelajari seperti menafsirkan. Menjelaskan dan meringkas tentang sesuatu
kemampuan. Ini lebih tinggi dari pengetahuan.
3. Penerapan
Adalah kemampuan menggunakan suatu bahan yang telah dipelajari dalam
sesuatu yang baru atau konkrit.
4. Analisa
Adalah suatu komponen untuk menjabarkan materi atau suatu bahan obyek
kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam stuktur organisasi
tersebut dan masih ada kaitannya sama lain.
5. Sintesa
Kemampuan untuk menghimpun bagian dalam keseluruhan seperti merugikan
tema rencana atau melihat hubungan abstrak dan sebagian fakta
6. Evaluasi

Adalah berkenan dengan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk


membantu penelitian terhadap sesuatu berdasarkan maksud atau kriteria
tertentu (Notoatmodjo,2003).
II.1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
1. Faktor Eksternal
a. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dibesarkan mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap kita. Apa bila dalam suatu wilayah
mempunyai budaya untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan maka
sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu
menjaga kebersihan lingkungan maka sangatlah mungkin berpengaruh
dalam pembentukan sikap pribadi seseorang (Syaifudin A, 2003).
b. Informasi
Informasi adalah keseluruhan makna dapat diartikan

sebagai

pemberitahuan sesering adanya informasi baru bagi terbentuknya sikap


terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestis dibawa oleh informasi tersebut
pendidikan ini biasanya digunakan.
2. Faktor internal
1. Pendidikan
Pendidikan adalah setiap usaha pengaruh pelindung dan bantuan yang
diberikan kepada anak yang tertuju pada kedewasaan GBHN Indonesia
tentang menngidentifikasi lain bahwa pendidikan diri dalam dan dari luar
sekolah dan berlangsung seumur hidup (Notoadmodjo, 2003).
2. Pengalaman
Pengalaman adalah sesuatu pengalaman sama sekali terbentuk apabila
pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi
penghayatan. Pengalaman akan lebih mendalam dan lama membekas
(Syaifudin A, 2005).
3. Usia
Usia individu terhitung mulai dilakukan sampai berulang tahun (Elizabeth
B Houspitalisasi, 1995) semakin cukup umur tingkat kematangan dan
kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari
7

segi kepercayaan masyarakat seseorang yang telah dewasa akan lebih


percaya dari pada seseorang yang belum cukup tinggi kedewasaanya. Hal
ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan dijiwainya (Hurlock,
1998) makin tua seseorang makin kondusif dalam mengunakan koping
masalah yang dihadapi.
4. Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau
pencarian. Masyarakat yang sibuk dengan kegiatan atau pekerjaan seharihari akan mempunyai waktu yang lebih sedikit untuk memperoleh
informasi.
5. Pendapatan
Pendapatan sesuatu yang didapatkan dan sebelumnya belum ada.
pendapatan erat sekali dengan status kesehatan.
6. Informasi
Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang. Bila seseorang memperoleh banyak informasi
maka ia cenderung mempunyai pengetahuan lebih luas.
II.1.5. Kriteria Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan seseorang dapat diketahui dengan dipersentasikan tetapi berupa
prosentasi lalu ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat kualitatif, yaitu :
1. baik

: hasil persentasi 76-100%

2. cukup : hasil persentasi 56-75%


3. kurang : hasil persentasi < 0 (Arikunto ,2006).
II.2. Konsep Kepatuhan
II.2.1. Pengertian Kepatuhan
Pengertian kepatuhan menurut sockett yang dikutip oleh neil niven (2000)
bahwa kepatuhan pasien sebagai sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan
ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan. Orang mematuhi perintah dari
orang

yangmempunyai

kekuasaan

bukan

hal

yang

mengherankan

karena

ketidakpatuhan sering kali diikuti dengan beberapa bentuk hukuman. Meskipun


demikian, yang menarik adalah pengaruh dari orang yang tidak mempunyai
kekuasaan dalam membuat orang mematuhi perintahnya dan sampai sejauh mana
kesediaan orang untuk mematuhinya.
II.2.2. Tingkat Kepatuhan
Derajat ketidakpatuhan bervariasi sesuai dengan apakah pengobatan tersebut
kuratif atau preventif, jangka panjang atau jangka pendek. Sackett and Snow yang
dikutip oleh Niven (2000) menemukan bahwa ketaatan terhadap 10 hari jadwal
pengobatan sejumlah 70- adalah pencegahan. Kegagalan untuk mengikuti program
jangka panjang, yang bukan dalam kondisi akut, dimana derajat ketidakpatuhannya
rata-rata 50% dan derajat tersebut bertambah buruk sesuai waktu.
II.2.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Ketidakpatuhan
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan menurut Niven (2000)
antara lain adalah:
1.

Pemahaman tentang intruksi


Tidak seorangpun dapat mematuhi intruksi jika dia salah paham tentang
intruksi yang diberikan. Kadang hal ini disebabkan oleh kegagalan profesional
kesehatan dalam memberikan informasi yang lengkap, penggunaan istilah
medis dan memberikan instruksi yang harus diingat oleh pasien.

2.

Kualitas interaksi
Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dan pasien merupakan bagian
yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan. Hal ini bisa dilaksanakan
dengan bersikap ramah dan memberikan informasi dengan singkat dan jelas.
3. Isolasi sosial dan keluarga
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dan menentukan
keyakinan dan nilai kesehatan individu dan dapat juga menentukan tentang
program pengobatan yang dapat mereka terima.
4. Motivasi
Motivasi dapat diperoleh dari diri sendiri, keluarga, teman, petugas kesehatan
dan lingkungan sekitarnya.
9

5. Pengetahuan
Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang semakin besar kemungkinan
untuk patuh pada suatu program pengobatan.
II.2.4. Cara Mengurangi Ketidakpatuhan
Dinicola dan Dimatteo yang dikutip oleh niven (2000) mengusulkan beberapa
rencana untuk mengatasi ketidakpatuhan pasien, antara lain:
1. Mengembangkan tujuan kepatuhan
Peryataan-peryataan juga dapat meningkatkan kepatuhan seseorang, kontrak
tertulis juga dapat meningkatkan keputuhan, tetapi kontrak kemungkinan
dapat menjadi tidak efektif dalam kurun waktu yang lama.
2. Mengembangkan perilaku sehat dan mempertahankanya
Perilaku sehat dapat dipengaruhi oleh kebiasaan. Oleh karena itu perlu
dikembangkan suatu strategi yang bukan hanya mengubah perilaku, tetapi
juga untuk mempertahankan perubahan tersebut.
3. Pengontrolan perilaku
Pengontrolan perilaku seringkali tidak cukup untuk mengubah perilaku itu
sendiri. Suatu program secara total dapat dihancurkan sendiri oleh pasien
dengan mengunakan peryataan pertahanan.
4. Dukungan social
Keluarga dan teman dapat membantu mengurangi kecemasan yang
disebabkan oleh penyakit tertentu, mereka dapat menghilangkan godaan pada
ketidaktaatan, dan mereka seringkali dapat menjadi kelompok pendukung
untuk mencapai kepatuhan.
5. Dukungan dari profesional kesehatan
Dukungan dari profesional kesehatan merupakan faktor lain yang dapat
mempengaruhi perilaku kepatuhan. Dukungan mereka berguna terutama saat
pasien menghadapi bahwa perilaku sehat yang baru tersebut merupakan hal
penting. Begitu juga mereka dapat mempengaruhi perilaku pasien dengan cara
menyampaikan antusias mereka terhadap tindakan tertentu dari pasien, dan
secara terus-menerus memberikan penghargaan yang positif bagi pasien yang
telah mampu beradaptasi dengan program pengobatannya.
10

6.

Pendidikan pasien
Pendidikan pasien dapat meningkatkan pendidikan, sepanjang bahwa
pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang aktif seperti penggunaan

buku dan kaset secara mandiri.


7. Modifikasi faktor-faktor lingkungan social
Modifikasi faktor-faktor lingkungan sosial berarti membangun hubungan
sosial dari keluarga dan teman-teman. Kelompok-kelompok pendukung dapat
dibentuk untuk membentuk kepatuhan terhadap program-program pengobatan
seperti berhenti merokok dan menurunkan konsumsi alkhohol.
8. Meningkatkan interaksi profesi kesehatan dengan pesien
Meningkatkan interaksi profesi kesehatan dengan pesien adalah suatu hal
penting untuk memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh
informasi tentang diagnosis. Pasien membutuhkan penjelasan kondisinya saat
ini, apa penyebabnya dan apa yang dapat mereka lakukan dengan kondisi
seperti itu.
9. Perubahan model terapi
Program-program pengobatan dapat dibuat sesederhana mungkin, dan pasien
terlibat aktif dalam perbuatan program tersebut. Dengan cara ini komponenkomponen sederhana dalam program pengobatan dapat diperkuat, untuk
selanjutnya dapat mematuhi komponen-komponen yang lebih kompleks.
II.2.5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien menurut Niven (2000) adalah
sebagai berikut :
1. Keadaan penyakit
Pasien yang menderita penyakit kronis (tuberculosis paru) cenderung paling
tidak patuh. Ini terutama karena harus menggunakan obat dalam jangka waktu
lama dimana gejala yang terasa hanya dalam waktu singkat.
2. Keadaan pasien
Kepatuhan pasien menurun pada usia tinggi yang hidup sendiri (tidak ada
yang mendorong). Tingkat ekonomi lemah, orang-orang dengan pengetahuan
dan pendidikan rendah, dimana faktor budaya atau bahasa menjadi
penghalang komunikasi antara petugas kesehatan dengan pesien.

11

3. Petugas kesehatan
Kepatuhan pasien akan dipengaruhi oleh sikap petugas kesehatan dalam
melayani pasiennya. Petugas yang bersifat merendah, pasien kurang yakin
terhadap terapi yang diputuskan, ada hambatan dalam komunikasi karena
faktor budaya, bahasa dan waktu yang disediakan.
4. Pengobatan
Kepatuhan pasien akan berkurang apabila obat yang diberikan dalam jangka
waktu lama. Bentuk dan keberhasilan kemasan yang terlalu sederhana dimana
obat mudah pecah dan terkontaminasi oleh kotoran juga dapat menurunkan
kepatuhan pasien untuk minum obat.
5. Struktur pelayanan
Semakin sulit tempat pelayanan kesehatan dicapai, semakin berkurang
kepatuhan pasien.
II.3. Konsep Tuberculosis Paru
II.3.1. Definisi Tuberculosis Paru
Tuberculosis paru adalah penyakit akibat infeksi kuman mycobakterium
tubercolosis sistemis sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh, dengan
lokasi terbanyak diparu yang biasanya merupakan infeksi primer. Tuberculosis
merupakan bakteri kronik dan ditandai oleh pembentukan granuloma pada jaringan
yang terinfeksi dan hipersensivitas yang diperantarai sel (Cell Madiated
Hipersensivity) (Mansjoer A., 2000).
II.3.2. Gejala Tuberculosis Paru
1. Demam
Dimulai dengan demam subfebris seperti influenza. Terkadang panas
mencapai 40-41*C. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh
penderita dan berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk
(Soeparman,1990)
2. Batuk darah
Batuk darah terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan
membuang produk-produk radang keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk
kering (non produktif) kemudian setelah terjadi peradangan menjadi produktif

12

hal ini berlangsung 3 minggu atau lebih. Keadaan lanjut adalah terjadinya
batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Yang merupakan
tanda adanya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding
kavitas. Kematian dapat terjadi karena penyumbatan bekuan darah pada
saluran nafas (Soeparman, 1990).
3. Sesak nafas
Sesak nafas ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana ilfiltrasinya
sudah setengah bagian paru (Depkes RI, 2002).
4. Nyeri dada
Terjadi bila ilfiltrasinya radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan
pleuritis (Depkes RI, 2002).
5. Malaise (Badan lemah)
Penyakit tuberculosis paru adalah penyakit radang yang bersifat menahan nyer
otot dan keringat dimalam hari. Gejala-gejala tersebut makin lama makin
berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur (Soeparman, 1990)
II.3.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Tubercolusis
1. Harus ada sumber infeksi
Sumber infeksi dapat berasal dari penderita tubercolusis dengan BTA positif
yang ditularkan melalui droplet. Baik itu melalui penggunaan alat makan
secara bergantian tanpa dicuci terlebih dahulu ataupun pada waktu penderita
batuk atau bersin.
2. Jumlah basil sebagai penyebab infeksi harus cukup
Semakin banyak jumlah basil yang terhirup, maka semakin besar
kemungkinan seseorang untuk mengidap penyakit tubercolusis.
3. Virulensi yang tinggi dari basil tubercolusis
Apabila tingkat keaktifan kuman tinggi maka akan semakin cepat berkembang
biak didalam tubuh. Selain itu akan semakin cepat pula massa inkubasinya.
4. Daya tahan tubuh yang menurun
Daya tahan tubuh yang menurun memungkinkan basil berkembang biak dan
keadaan ini menyebabkan timbulnya penyakit tubercolusis baru.
II.3.4. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kultur sputum

13

Pemekriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukanya kuman


BTA, diagnosa tubercolusis paru sudah dapat dipastikan. Kriteria sputum BTA
positif adalah bila ditemukanya sekurang-kurangya 3 batang kuman BTA pada
satu sediaan dan sedikitnya dua dari tiga kali pemekrisaan specimen BTA
hasilnya nyatakan positif (Soeparman, 1990).
2. Foto thorak
Menunjukan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi
sembuh primer atau efusi cairan. Adanya perluasan kuman tubercolusis paru
ditunjukan dengan adanya rongga atau area fibrosa (Doenges, 2002).
3. Tes tuberkulin (Mantoux)
Reaksi positif area durasi 10mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah
injeksi intradermal antigen menunjukan massa lalu dan adanya antibodi, tetapi
tidak secara berarti menunjukan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien
yang

secara

klinik

sakit

berarti

bahwa

infeksi

disebabkan

oleh

mikrobakterium yang berbeda (Doenges, 2002).


4. Pemekrisaan darah
Pada waktu kuman tubercolusis mulai aktif jumlah leukosit sedikit meninggi
dan jumlah limfotsit masih dibawah normal. Laju endap darah mulai
meningkat. Bila sakit mulai sembuh jumlah leukosit kembali normal dan
jumlah limfosit masih tetap tinggi. Laju endap darah mulai turun kearah
normal lagi (Soeparman, 1990).
5. Pemekrisaan fungsi paru
Terjadi penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio
udara residu dan kapasitas paru total. Saturasi oksigen terjadi penurunan
sekunder terhadap infiltrasi parenkim paru, kehilangan jaringan paru ketika
tubercolusis paru kronis sudah meluas. (Doenges, 2002).
II.3.5. Cara Penularan
1. Percikan ludah (droplet infection)
Pada saat penderita tubercolusis batuk akan mengeluarkan droplet dengan
ukuran mikroskopis yang bervariatif. Ketika pertikel tersebut berada di udara,
air akan menguap dari permukaannya sehingga menurunkan volume dan

14

menaikan konsetrasi kumannya. Partikel inilah yang disebut dengan droplet


(Crofton, 2002)
2. Inhalasi debu yang mengandung basil tubercolusa (air bone infection)
Seseorang yang melakukan kontak erat dalam waktu yang lama dengan
penderita tubercolusis paru akan mudah tertular karena menginhalasi udara
yang telah terkontaminasi kuman tubercolusis (Depkes RI, 2002)
II.3.6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keteraturan Minum Obat
1. Keadaan sosial ekonomi
Makin buruk keadaan sosial ekonomi masyarakat sehingga makin jelek pula
gizi dan hygiene lingkungannya yang akan menyebabkan rendahnya daya
tahan tubuh mereka sehingga memudahkan terjadinya penyakit. Seandainya
mendapat penyakit selain mempersulit penyembuhan juga memudahkan
kambuhnya TBC yang sudah ada.
2. Kesadaran
Pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama (minimal 2 tahun terbentuk)
sebab anti TBC barulah bersifat tuberculostotica bersifat tubercuicocido.
Kadang-kadang walaupun penyakitmya agak berat sipenderita tidak merasa
sakit sehingga tidak mencari pengobatan menurut hasil penyelikan WHO 50%
penderita TBC menunjukan gejala apa-apa orang ini telah berbahaya lagi
sebagai sumber penular karena bebas bercampur dengan masyarakat.
3. Pengetahuan
Makin rendah pengetahuan penderita tentang bahaya penyakit TBC untuk
dirinya keluarga dan masyarakat disekitarnya maka besar pulalah bahaya
sipenderita sebagai penularan baik dirumah maupun ditempat kerjanya. Untuk
keluarga dan orang-orang disekitarnya, sebaiknya pengetahuan yang baik
tentang penyakit ini akan menolong masyarakat dalam menghindarinya
(Dr.indan entjang, 2000).

II.3.7. Tingkat Kepatuhan Pengobatan Tuberculosis


Niven (2000) berpendapat bahwa tingkat kepatuhan pengobatan tuberculosis paru
adalah sebagai berikut :
15

1. Minum obat sesuai petunjuk


Obat yang diminum sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan oleh petugas
kesehatan meliputi dosis, jumlah, jenis dan waktu minum obat.
2. Jadwal mengambil obat
Pengambilan obat tidak boleh terlambat. Apabila penderita telah minum obat
dikhawatirkan akan terjadi resistesi obat.
3. Lama pengobatan
Lama pengobatan akan mempengaruhi terhadap kepatuhan penderita untuk
berobat. Pengobatan pada tuberculosis sendiri minimal dilakukan selama 6
bulan.
4. Macam-macam obat
Banyaknya macam-macam obat tuberculosis membuat penderita menjadi
jenuh untuk berobat. Jika kurangnya pengetahuan atau motivasi maka
semakin besar kemingkinan akan putus obat.
II.4. Konsep Pengobatan Tubercolusis Paru
II.4.1. Aktivitas obat
1. Aktivitas bakteresid
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh
(metabolismenya masih aktif). Aktivitas bakteresid biasanya diukur dari
kecepatan membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan
akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan permulaan pengobatan).
2. Aktivitas sterilisasi
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat
(metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi di undur dari angka
kekambuhan setelah pengobatan dihentikan (Soeparman dan Sarwono, 1999).
II.4.2. Jenis Obat
Pengobatan dengan strategi DOTS (Direct Obseved Treadment Short Course)
dipermudah dengan pengadaan obat yang telah dipadukan sesuai dengan kategori
tersendiri :
1.

Obat primer (obat anti tubercolusis tingkat satu)


a. Isoniasid (H)

16

Dikenal dengan INH, bersifat bakteresid, dapat membunuh 90% populasi


dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap
kuman dalam keadaan metabolisme aktif, yaitu pada saat kuman sedang
berkembang. Dosis harian yang dianjurkan adalah 5 mg\kg BB, sedangkan
untuk pengobatan intermiten 3kali seminggu dengan dosis 10 mg\kg BB.
b. Rifampisin (R)
Bersifat bakteresid, dapat membubuh kuman yang persisten (dortmant)
yang tidak dapat dibunuh oleh Isonasid. Dosis 10 mg\kg BB diberikan
sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.
c. Pirazinamid (Z)
Bersifat bakteresid, dapat membunuh kuman yang berada didalam sel
dengan suasana asam. Dosis harian yang dianjurkan 25 mg\kg BB,
sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan
dosis 35 mg\kg BB.
d. Streptomisin (S)
Bersifat bakteresid, dengan dosis harian yang dianjurkan 15 mg\kg BB,
sedangkan pengobatan untuk intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis
yang sama. Penderita berumur sampai 60 tahun dosisnya 0,75 gr\hari,
sedangkan untuk umur sampai 60 tahun lebih dosisnya 0,50 gr\hari.
e. Ethambutol (E)
Bersifat sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang dianjurkan 15 mg\kg
Bbsedangkan untuk pengobatan untuk intermiten 3 kali seminggu
digunakan dosis 30 mg\kg BB.
2. Obat sekunder (Anti tubercolusis acid) (Soeparman, 1990).
a. Kanamisin
b. PAS (Para Amina Salictylic Acid)
c. Tiasetason
d. Etionamid
e. Protionamid
f. Sikloserin
g. Viomisin
h. Kapreomisin
i. Amikosin
j. Oflokasin
k. Siproflokasin
l. Norfloksasin
17

m. Klofazimn
II.4.3. Efek Samping Obat
1. Efek samping berat
Yaitu efek samping yang dapat menyebabkan sakit serius. Dalam kasus ini
maka pemberian OAT harus dihentikan dan penderita harus dirujuk ke Unit
Pelayanan Kesehatan (UPK) spesialistik.
2. Efek samping ringan
Yaitu hanya menyebabkan sedikit perasaan yang tidak enak. Gejala-gejala ini
sering dapat ditanggulangi dengan obat-obat simtomatik atau obat sederhana,
tetapi kadang-kadang menetap untuk beberapa waktu selama pengobatan.
Dalam hal ini pemberian OAT dapat diteruskan.
II.4.4. Tahap Pengobatan
1. Tahap intensif (Initial phase), selama 1-3 bulan dengan memberikan 4-5
macam obat anti tubercolusis per hari dengan tujuan :
a. Mencegah keluhan dan mencegah efek samping lebih lanjut.
b. Mencegah timbulnya resistensi obat.
Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi
langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT,
terutama rifampisin salama 2 bulan. Bila pengobatan tahap intensif ini
diberikan secara tepat, biasanya penderita menular jadi tidak menular dalam
kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita tubercolusis paru BTA
positif menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pengawasan
ketat pada tahap intensif sangat penting untuk mencegah terjadinya kekebalan
obat.
2. Tahap lanjutan (Continuation phase), selama 4-6 bulan dengan hanya
memberikan 2 macam obat, 3 kali seminggu dengan tujuan :
a. Menghilangkan bakteri yang tersisa (efek sterilisasi).
b. Mencegah kekambuhan (relaps)
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam
jangka waktu yang lebih lama yaitu selama 4-6 bulan. Tahap lanjutan penting
untuk membunuh kuman persisten untuk mencegah terjadinya kekambuhan.
II.4.5. Evaluasi Pengobatan

18

1. Klinis biasanya pasien dikontrol dalam 1 minggu pertama, selanjutnya setiap


2minggu selama tahap intensif dan seterusnya sekali sebulan sampai akhir
pengobatan. Secara klinis hendaknya terdapat perbaikan keluhan pasien
seperti batuk-batuk berkurang, batuk darah hilang, nafsu makan bertambah
dan berat badan bertambah.
2. Bakteriologis
Biasanya setelah 2-3 minggu pengobatan sputum BTA mulai menjadi
negative. Pemekrisaan kontrol sputum dilakukan sekali sebulan. Bagi pasien
BTA positif setelah tahap intensif akan mendapatkan pengobatan ulang. Bila
sudah negative, sputum diperiksa tiga kali berturut-turut dan harus di kontrol
agar tidak terjadi silent bacterial shedding yaitu terdapat sputum BTA
positif tanpa disertai keluhan-keluhan tubercolusis yang relevan pada kasuskasus 3 kali pemeriksaan (3 bulan), berarti pasien mulai kambuh.
3. Radiologis
Evaluasi radiologi juga diperlukan untuk melihat kemajuan terapi. Dengan
pemekrisaan radiologi dapat dilihat keadaan tubercolusis parunya atau adanya
penyakit lain yang menyertainya. Karena perubahan gambar radiologi tidak
secepat perubahan bakteriologis, evaluasi foto dada dilakukan setiap 3 bulan
sekali. Pemantauan kemajuan pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan
dengan pemekrisaan dahak sewaktu-pagi-sewaktu (SPS), pemekrisaan bisa
dikatakan negatife jika hasil kedua specimen negative, sedangkan bisa
dikatakan positif bila salah satu atau kedua specimen positif. Pemekrisaan
ulang dahak dilakukan pada akhir tahap intensif, sebulan sebelum akhir
pengobatan dan 1 minggu sebelum akhir pengobatan (bulan ke 6).
II.4.6. Hasil Pengobatan
1. Sembuh
Penderita dikatakan sembuh bila telah menyelesaikan pengobatan secara
lengkap dan pemeriksaan dahak 2 kali selama pengobatan negative.
2. Pengobatan lengkap
Adalah penderita yang telah menyelesaikan pengobatan lengkap tapi tidak ada
hasil pemekrisaan dahak negative.

19

3. Meninggal
Adanya penderita yang dalam massa penggobatan diketahui meninggal karena
sebab apapun.
4. Pindah
Adanya penderita yang pindah berobat ke daerah atau kabupaten\kota lain.
5.
Default
Penderita yang tidak control atau terlambat mengambil obat 2 minggu
berturut-turut atau lebih sebelum massa pengobatanya selesai.
6. Gagal
Penderita BTA positif yang hasil pemekriksaan dahaknya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ada hubungan pengetahuan tuberculosis paru dengan tingkat kepatuhan berobat
pasien tuberculosis paru karena semakin tinggi tingkat pengetahuan pasien mengenai
tuberculosis paru, maka semakin besar kemungkinan untuk patuh pada suatu program
pengobatan.
3.2 Saran
3.2.1 Saran bagi tenaga medis
Tenaga medis diharapkan untuk memberikan dukungan ke pasien guna
meningkatkan kesadaran pasien dalam berperilaku sehat. Meningkatkan interaksi
dengan pasien merupakan suatu hal penting untuk memberikan umpan balik dari
pasien setelah memperoleh informasi tentang diagnosis. Pasien membutuhkan
penjelasan kondisinya saat ini, apa penyebabnya dan apa yang dapat mereka lakukan
dengan kondisi seperti itu.
3.2.2 Saran bagi pasien tuberculosis paru
Pasien tuberculosis paru diharapkan untuk lebih aktif mencari informasi melalui
buku dan kaset secara mandiri.

20