Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Antipsikotik adalah antagonis dopamine yang menyekat reseptor dopamine
dalam berbagai jaras di otak. Antipsikotik merupakan pengobatan yang terbaik untuk
mengobati skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Antipsikotik umumnya terbagi
menjadi dua golongan, yaitu antipsikotik tipikal dan atipikal.1
Mekanisme kerja obat antipsikotik tipikal adalah memblokade dopamine pada
reseptor pasca-sinaptik neuron di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonists), sedangkan obat antipsikotik
atipikal disamping memblokade dopamine D2 reseptor, juga memblokade serotonin 5
HT2A reseptor (serotonin-dopamin antagonists)2. Neurotransmitter dopamine
berperan pada perilaku dan kognisi, pergerakan volunteer, motivasi, mood,
perhatian, dan proses belajar, sedangkan neurotransmitter serotonin sendiri
berpengaruh terhadap kecemasan, nafsu makan, kognisi, proses belajar,
memori, mood, mual, tidur, termoregulasi5.
Ciri terpenting dari obat antipsikotik yaitu berguna mengatasi
agresivitas, hiperaktifitas, dan labilitas emosional pada pasien psikotik, dosis
besar tidak menyebabkan koma yang dalam ataupun anesthesia, namun dapat
menimbulkan gejala ekstrapiramidal yang reversible atau irreversible, dan
tidak ada kecenderungan untuk menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis 4.
Pada tahun 1950, telah ditemukan obat antipsikotik generasi kedua, clozapine,
dan diperkenalkan secara klinis pada tahun 1970-an. Antipsikotik atipikal yang sering
disebut juga antipsikotik generasi kedua memiliki efek samping neurologis yang lebih
sedikit dan dapat menanggulangi kasus psikotik yang refrakter atau yang intolerance3.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANTIPSIKOTIK
Sekelompok bermacam-macam obat yang menghambat reseptor dopamine
tipe 2 (D2) sering disebut sebagai antipsikotik. Indikasi utama untuk pemakaian obat
adalah terapi skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Kelas obat antipsikotik
adalah termasuk chlorpromazine, thioridazine, fluphenazine dan haloperidol.
Antipsikotik digunakan secara klinis ketika Chlorpromazine telah disintetis di
Perancis. Satu obat antipsikotik baru yaitu risperidone, telah dikenalkan di Amerika
serikat. Walaupun risperidone adalah antagonis reseptor D 2 yang poten, ia memiliki
ciri farmakologis tambahan yang memberikan keuntungan terapeutik dan
memperbaiki profil efek samping, dibandingkan dengan antagonis reseptor dopamine
yang tersedia sebelumnya.1,4
Antipsikotik dan antagonis reseptor dopamine tidak sepenuhnya sama.
Clozapine adalah suatu antipsikotik yang efektif tetapi berbeda dengan semua obat
karena memiliki aktivitas pada reseptor D2 yang kecil. Obat-obat ini dinamakan
sebagai neuroleptik. Istilah neuroleptik menekankan efek neurologis dan motorik dari
sebagian besar obat.4
2.2. ANTIPSIKOTIK ATIPIKAL
Antipsikotik atipikal atau antipsikotik generasi II (APG II), sering disebut
juga sebagai Serotonin Dopamin Antagosis (SDA). APG II mempunyai mekanisme
kerja melalui interaksi antar serotonin dan dopamin pada ke 4 jalur dopamin di otak.
Hal ini yang menyebabkan efek samping ekstrapiramidal lebih rendah dan sangat
efektif untuk mengatasi gejala negatif. Perbedaan antara APG I danAPG II adalah
APG I hanya dapat memblok reseptor D2 sedangkan APG II umumnya memblok
secara bersamaan reseptor serotonin (5HT2A) dan reseptor dopamin (D2), namun ada
beberapa obat dapat menghambat reseptor D1-D5, alpha1-adrenergik, muskarinik, dan

histaminergik. APG II yang dikenal saat ini adalah clozapine, risperidone, olanzapine,
quetiapine, zotepine, ziprasidone, aripiprazole. Saat ini antipsikotik ziprasidone
belum tersedia di Indonesia.1,2,5
2.3. MEKANISME KERJA
Kerja obat antipsikotik generasi kedua pada dopamin pathways:1,4
1.Mesokortikal Pathways
Jalur ini mengirimkan dopamine dari midbrain ventral tegmental menuju ke
korteks limbic. Jalur ini berperan dalam pengendalian emosi dan fungsi kognitif.
Kerja antipsikotik pada jalur ini sebagai antagonis 5HT2 A tidak hanya akan
menyebabkan berkurangnya blokade terhadap reseptor antagonis D2 tetapi juga
menyebabkan terjadinya aktivitas dopamin pathways sehingga terjadi keseimbangan
antara serotonin dan dopamin. APG II lebih berpengaruh banyak dalam memblok
reseptor 5HT2A dengan demikian meningkatkan pelepasan dopamin dan dopamin
yang dilepas lebih banyak daripada yang dihambat di jalur mesokortikal. Hal ini
menyebabkan berkurangnya gejala negatif maka tidak terjadi lagi penurunan dopamin
di jalur mesokortikal dan gejala negatif yang ada dapat diperbaiki. APG II dapat
memperbaiki gejala negatif jauh lebih baik dibandingkan APG I karena di jalur
mesokortikal reseptor 5HT2A jumlahnya lebih banyak dari reseptor D2 , dan APG II
lebih banyak berkaitan dan memblok reseptor 5HT2A dan sedikti memblok reseptor
D2 akibatnya dopamin yang dilepas jumlahnya lebih banyak, karena itu defisit
dopamin di jalur mesokortikal berkurang sehingga menyebabkan perbaikan gejala
negatif skizofrenia.
2.Mesolimbik Pathways
Jalur ini mengirimkan dopamine dari batang otak ke area limbic. Jalur ini
berperan dalam perilaku, seperti sensasi kesenangan, dan berperan dalam
perkembangan gejala positif. APG II di jalur mesolimbik, antagonis 5HT2 A tidak
dominan daripada antagonis D2 di jalur tersebut, jadi antagonis 5HT2A tidak dapat
mempengaruhi blokade reseptor D2 di mesolimbik, sehingga blokade reseptor D2
lebih dominan. Hal ini yang menyababkan APG II dapat memperbaiki gejala positif

skizofrenia. Pada keadaan normal serotonin akan menghambat pelepasan dari


dopamine.
3.Tuberoinfundibular Pathways
Jalur ini berasal dari hipotalamus dan berakhir pada hipofisis anterior. Jalur ini
berfungsi untuk mengontrol sekresi prolaktin. APG II di jalur tuberoinfundibular,
antagonis reseptor 5HT2A lebih dominan dari antagonis reseptor D2. Hubungan antara
neurotransmiter serotonin dan dopamin sifatnya antagonis dalam kontrol sekresi
prolaktin dari hipofisis. Dopamin akan menghambat pengelepasan prolaktin,
sedangkan serotonin menigkatkan pelepasan prolaktin. Pemberian APG II dalam
dosis terapi akan menghambat reseptor 5HT2A sehingga menyebabkan pelepasan
dopamin meningkat. Ini mengakibatkan pelepasan prolaktin menurun sehingga tidak
terjadi hiperprolaktinemia.
4. Nigrostriatal Pathways
Serotonin berperan dalam mengatur pelepasan dopamin, kehadiran serotonin
pada jalur nigrostriatal dapat menghambat pelepasan dopamin, sedangkan di jalur
dopamin mesolimbik, serotonin memiliki pengaruh yang kecil bahkan tidak ada sama
sekali. Dengan kata lain, ketika reseptor 5-HT2A diblokir, dopamin dilepaskan dalam
jalur nigrostriatal tapi tidak dikeluarkan di jalur dopamin mesolimbik.
Dalam jalur nigrostriatal, reaksi ini dapat membalikkan beberapa blokade D 2
dengan antipsikotik atipikal melalui sebuah proses yang disebut disinhibisi. Ketika
reseptor serotonin diblokir di jalur ini, dopamin meningkat. Dengan munculnya
dopamin kemudian terjadilah proses "disinhibited" dan langsung mengisi reseptor D 2,
mencegah blokade oleh agen antipsikotik. Dengan kurangnya blokade D2 di jalur
nigrostriatal, efek samping motorik berkurang. Hal itu dapat terjadi karena jalur ini
berasal dari substansia nigra yang berakhir di ganglia basalis, dan berfungsi sebagai
control dari pergerakan.
2.4. JENIS-JENIS ANTIPSIKOTIK ATIPIKAL
Berikut adalah jenis-jenis obat antipsikotik atipikal atau Antipsikotik Generasi Kedua
(APG II) menurut golongannya:4

Benzamide: Sulpiride
Dibenzodiazepine: Clozapine, Olanzapine, Quetiapine
Benzisoxazole: Risperidone

Antipsikotik Generasi Kedua (APG II) yang digunakan sebagai :5

First line: risperidon, olanzapine, quetiapine, ziprasidone, aripiprazole


Second line: clozapine

Indikasi pengobatan dari obat antipsikotik atipikal antara lain :8

Sindrom psikosis fungsional, misalnya : skizofrenia, psikosis paranoid


Sindrom psikosis organik, misalnya : demensia, intoksikasi alkohol
Indikasi spesifik, misalnya : efektif untuk menurunkan gejala negatif skizofrenia
dan terapi pasien skizofrenia yang tidak berespons dengan obat antipsikotik
tipikal

2.4.1. Beberapa obat antipsikotik atipikal


a. CLOZAPINE
Merupakan APG II yang pertama dikenal, kurang menyebabkan timbulnya
efek samping ekstrapiramidal, tidak menyebabkan terjadinya tardive dyskinesia dan
tidak terjadi peningkatan dari prolaktin. Clozapine merupakan gold standard pada
pasien yang telah resisten dengan obat antipsikotik lainnya. Profil farmakoligiknya
atipikal bila dibandingkan dengan antipsikotik lain. Dibandingkan terhadap
antipsikotaik lain, clozapine menunjukkan efek dopaminergik rendah, tetapi dapat
mempengaruhi fungsi dopamin neuron pada sistem mesolimbik-mesokortikal otak,
yang berhubungan dengan fungsi emosional dan mental yang lebih tinggi, yang
berbeda dari dopamin neuron di daerah nigrostriatal (daerah gerak) dan
tuberoinfundibular (daerah neuroendokrin).7
Clozapine efektif untuk menggontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia
baik yang positif (iritabilitias) maupun yang negatif (social disinterest dan
incompetence, personal neatness). Efek yang bermanfaat terlihat dalam waktu 2
minggu, diikuti perbaikan secara bertahap pada minggu-minggu berikutnya. Obat ini
berguna untuk pasien yang refrakter dan terganggu berat selama pengobatan. Selain
itu, karena resiko efek samping ekstrapiramidal yang sangat rendah, obat ini cocok

untuk pasien yang menunjukkan gejala ekstrapiramidal yang berat bila diberikan
antipsikosis yang lain. Namun, karena clozapin memiliki efek resiko agranulositosis
yang lebih tinggi dibandingkan antipsikosis yang lain, maka pengunaannya di batasi
hanya pada pasien yang resisten atau tidak dapat mentoleransi antipsikosis lain.
Pasien yang diberi clozapine perlu dipantau sel darah putihnya setiap minggu.4,6,7
Secara farmakokinetik, clozapine di absorpsi secara cepat dan sempurna pada
pemberian per oral. Kadar puncak plasma tercapai pada kira-kira 1,6 jam setelah
pemberian obat. Clozapine secara ekstensif diikat protein plasma (>95%), obat ini
dimetabolisme hampir sempurna sebelum dieksresi lewat urin dan tinja (30% melalui
kantong empedu dan 50% melaui urine), dengan waktu paruh rata-rata 11,8 jam
sehingga pemberiannya dianjurkan 2 kali dalam sehari.5,6 Distribusi dari clozapine
dibandingkan obat antipsikotik lainnya lebih rendah. Umunya afinitas dari clozapine
rendah pada reseptor D2 dan tinggi pada reseptor 5HT2A sehingga cenderung tidak
menyebabkan terjadinya efek samping ekstrapiramidal. Pada reseptor D4 afinitasnya
lebih tinggi 10 kali lipat dibandingkan antipsikotik lainnya,dimana reseptor D 4
terdapat pada daerah korteks dan sedikit pada daerah srtiatal. Hal ini lah yang
membedakan clozapine dengan APG I.5
Dosis :1,2

Hari 1 : 1 2 x 12,5 mg.


Berikutnya ditingkatkan 25 50 mg / hari hingga 300 450 mg / hari

dengan pemberian terbagi.


Dosis maksimal 600 mg / hari.
Sediaan yang ada di pasaran tablet 25 mg dan 100 mg

Efek samping :1.2

Granulositopeni, agranulositosis, trombositopeni, eosinofilia, leukositosis,

leukemia.
Ngantuk, lesu, lemah, tidur, sakit kepala, bingung, gelisah, agitasi,

delirium.
Mulut kering atau hipersalivasi, penglihata kabur, takikardi, postural

hipotensi,hipertensi.
Dsb.

Kontra indikasi :1.2

Ada riwayat toksik/hipersensitif.


Gangguan fungsi Sumsum tulang.
Epilepsi yang tidak terkontrol.
Psikosis alkoholik dan psikosis toksik lainnya.
Intoksikasi obat.
Koma.
Kollaps sirkulasi.
Depresi SSP.
Ganguan jantung dan ginjal berat.
Gangguan hati.

b. RISPERIDONE
Risperidone merupakan obat APG II yang kedua diterima oleh FDA (Food
and Drug Administration) sebagai antipsikotik setelah clozapine. Rumus kimianya
adalah benzisoxazole derivative. Absorpsi risperidone di usus tidak di pengaruhi oleh
makanan dan efek terapeutiknya terjadi dalam dosis rendah, pada dosis tinggi dapat
terjadi efek ekstrapiramidal. Pemakaian risperidone yang teratur dapat mencegah
terjadinya kekambuhan dan menurunkan jumlah dan lama perawatan sehingga baik
digunakan dalam dosis pemeliharaan.
Risperidone dapat memperbaiki skizofrenia yang gagal diterapi dengan APG I
tetapi hasil pengobatannya tidak sebaik clozapine. Obat ini juga dapat memperbaiki
fungsi kognitif tidak hanya pada skizofrenia tetapi juga pada penderita demensia
misalnya demensia tipe Alzheimer.
Metabolisme risperidone sebagian besar terjadi di hati oleh enzim CYP 2D6
menjadi 9-hydroxyrisperidone dan sebagian kecil oleh enzim CYP 3A4. Hydroxy
risperidone mempunyai potensi afinitas terhadap reseptor dopamin yang setara
dengan risperidone. Eksresi terutama melalui urin. Metabolisme risperidone dihambat
oleh antidepresan fluoxetine dan paroxetine, karena antidepresan ini menghambat
kerja dari enzim CYP 2D6 dan CYP 3A4 sehingga pada pemberian bersama
antidepresan ini, maka dosis risperidone harus dikurangi untuk meminimalkan
timbulnya efek samping dan toksik. Metabolisme obat ini dipercepat bila diberikan

bersamaan carbamazepin, karena menginduksi CYP 3A4 sehingga perlu peningkatan


dosis risperidone pada pemberiaan bersama carbamazepin disebabkan konsentrasi
risperidone di dalam plasma rendah.4,5
Indikasi : 1,4

Skizofrenia akut dan kronik dengan gejala positif dan negatif.


Gejala afektif pada skizofrenia (skizoafektif).

Dosis :1,4

Hari 1 : 1 mg, hari 2 : 2mg, hari 3 : 3 mg.


Dosis optimal - 4 mg / hari dengan 2 x pemberian.
Pada orang tua, gangguan liver atau ginjal dimulai dengan 0,5 mg,

ditingkatkan sp 1 2 mg dengan 2 x pemberian.


Umunya perbaikan mulai terlihat dalam 8 minggu dari pengobatan awal,

jika belum terlihat respon perlu penilaian ulang.


Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam setelah pemberian
oral.

Efek samping:1,4

Sindrom ekstra piramidal


Peningkatan prolaktin (ditandai dengan gangguan menstruasi, galaktorea,

disfungsi seksual)
Sindroma neuroleptik malignan
Peningkatan berat badan
Sedasi
Pusing
Konstipasi
Takikardi

c. OLANZAPINE
Merupakan derivat dari clozapine dan dikelompokkan dalam golongan
Thienobenzodiazepine. Absorpsi tidak dipengaruhi oleh makanan. Plasma puncak
olanzapine dicapai dalam waktu 5-6 jam setalah pemberian oral, sedangkan pada
pemberian intramuskular dapat dicapai setelah 15-45 menit dengn waktu paruh 30
jam (antara 21-54 jam sehingga pemberian cukup 1 kali sehari).

Olanzapine merupakan antagonis monoaminergik selektif yang mempunyai


afinitas yang kuat terhadap reseptor dopamin (D1-D4), serotonin (5HT2A/2c), Histamin
(H1) dan 1 adrenergik. Afinitas sedang dengan reseptor kolinergik muskarinik (M 1-5)
dan serotonin(5HT3). Berikatan lemah dengan reseptor GABA A, benzodiazepin dan
adrenergik. Metabolisme olanzapine di sitokrom P450 CYP 1A2 dan 2D6.
Metabolisme akan meningkat pada penderita yang merokok dan menurun bila
diberikan bersama dengan antidepresan fluvoxamine atau antibiotik ciprofloxacin.
Afinitas lemah pada sitokrom P450 hati sehingga pengaruhnya terhadap metabolisme
obat lain rendah dan pengaruh obat lain minimal terhadap konsentrasi olanzapine.1,4,6,7
Eliminasi waktu paruh dari olanzapine memanjang pada penderita usia lanjut.
Cleareance 30% lebih rendah pada wanita dibanding pria, hal ini menyebabkan
terjadinya perbedaan efektivitas dan efek samping antar wanita dan pria. Sehingga
perlu modifikasi dosis yang lebih rendah pada wanita. Cleareance olanzapine
meningkat sekitar 40% pada perokok dibandingkan yang tidak merokok, sehingga
perlu penyesuaian dosis yang lebih tinggi pada penderita yang merokok.5
Indikasi :1,2

Skizofrenia atau psikosis lain dengan gejala positif dan negatif.


Episode manik moderat dan severe.
Pencegahan kekambuhan gangguan bipolar.

Dosis :1,2

Untuk skizofrenia mulai dengan dosis 10 mg 1 x sehari.


Untuk episode manik mulai dengan dosis 15 mg 1 x sehari.
Untuk pecegahan kekambuhan gangguan bipolar 10 mg / hari.

Efek samping:1,2

Penigkatan berat badan


Somnolen
Hipotensi ortostatik berkaitan dengan blokade reseptor 1
EPS dan kejang rendah
Insiden tardive dyskinesia rendah

d. QUETIAPINE

Struktur kimia yang mirip dengan clozapine, masuk dalam kelompok


dibenzothiazepine derivates. Absorpsinya berlangsung cepat setelah pemberian oral,
konsentrasi plasma puncak dicapai dalam waktu 1,5 jam setelah pemberian.
Metabolisme terjadi di hati, pada jalur sulfoxidation dan oksidasi menjadi metabolit
tidak aktif dan waktu paruhnya 6 jam.5
Quetiapine merupakan antagonis reseptor serotonin (5HT1A dan 5HT2A),
reseptor dopamin (D1 dan D2), reseptor histamin (H1), reseptor adrenergik 1 dan 2.
Afinitasnya lemah pada reseptor muskarinik (M1) dan reseptor benzodiazepin.
Cleareance quetiapine menurun 40% pada penderita usia lanjut, sehinga perlu
penyesuaian dosis yang lebih rendah dan menurun 30% pada penderita yang
mengalami gangguan fungsi hati. Cleareance quetiapine meningkat apabila
pemberiannya dilakukan bersamaan dengan antiepileptik fenitoin, barbiturat,
carbamazepin dan anti jamur ketokonazole.5
Quetiapine dapat memperbaiki gejala positif, negatif, kognitif dan mood.
Dapat juga memperbaiki pasien yang resisten dengan antipsikotik generasi pertama
tetapi hasilnya tidak sebaik apabila di terapi dengan clozapine. Pemberian pada
pasien pertama kali mendapat quetiapine perlu dilakukan titrasi dosis untuk
mencegah terjadinya synkope dan hipotensi postural. Dimulai dengan dosis 50 mg
per hari selama 4 hari, kemudian dinaikkan menjadi 100 mg selama 4 hari, kemudian
dinaikkan lagi menjadi 300 mg. Setelah itu dicari dosis efektif antara 300-450
mg/hari. Efek samping obat ini yang sering adalah somnolen, hipotensi postural,
pusing, peningkatan berat badan, takikardi, dan hipertensi.6
e. ZIPRASIDONE
APG II dengan struktur kimia yang baru, obai ini belum tersedia di Indonesia.
Ziprasidone merupakan antipsikotik dengan efek antagonsis antara reseptor 5HT2 A
dan D2. Berinteraksi juga denga reseptor 5HT2C, 5HT1D dan 5HT1A, afinitasnya pada
reseptor ini sama atau lebih besar dari afinitas pada reseptor D 2. Afinitas sedang pada
reseptor histamin dan 1. Ziprasidone tidak bekerja pada muskarinik (M1).1,5

10

Ziprasidone juga antipsikotik yang mempunyai mekanisme kerja yang unik


karena menghambat pengambilan kembali (reuptake) neurotransmiter serotonin dan
norepineprine di sinaps. Obat ini efektif digunakan untuk gejala negatif dan penderita
yang refrakter dengan antipsikotik. Obat ini aman diberikan pada penderita usia
lanjut.4
Absorpsi ziprasidone akan meningkat dengan adanya makan, tetapi tidak
dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, gangguan fungsi hati atau ginjal. Konsentrasi
plasma puncak dicapai dalam waktu 2-6 jam setelah pemberian oral dengan waktu
paruh obat rata-rata 5-10 jam,sehingga pemberiannya 2 kali sehari. Metabolsime
ziprasidone melalui hati, sebagian besar pada isoenzim CYP 3A4 dan sebagian kecil
di CYP 1A2. Mekanisme kerja farmakologik diperkirakan pro-serotonergik dan pronoradregenik sehingga diprediksi dapat bekerja sebagai antidepresan dan ansiolitik.
Efikasi dari ziprasidone terjadi pada dosis 80-160 mg/hari, untuk pengobatan
terhadap gejala positif, negatif, dan depresif pada pasien skizofrenia.5
Dosis intial yang aman diberikan tanpa dosis titrasi adalah sebesar 40 mg
perhari. Pemberiannya akan semakin efektif bila bersamaan dengan makanan. Dosis
pemeliharaan berkisar antara 40-60 mg per hari.5
Terjadinya efek samping EPS rendah dan tidak terjadi peningkatan kadar
prolaktin. Efek samping yang dijumpai selama uji klinis adalah somnolen (14%),
peningkatan berat badan (10%), gangguan pernafasan (8%), EPS (5%), dan bercakbercak merah di kulit (4%). Peningkatan berat badan sangat kecil atau dapat
dikatakan tidak ada, karena bekerja sangat lemah pada reseptor AH 1 walaupun
bekerja juga sebagai antagonis pada reseptor 5HT2 c. Ziprasidone tidak menyebabkan
gangguan jantung.4
f. ARIPIPRAZOLE
Merupakan antipsikotik generasi baru, yang bersifat partial agonis pada
reseptor D2 dan reseptor serptonin 5HT1A serta antagonis pada reseptor serotonin
5HT2A. Aripiprazole bekerja sebagai dopamin sistem stabilizer artinya menghasilkan
signal transmisi dopamine yang sama pada keadaan hiper atau hipo-dopaminergik

11

karena pada keadaan

hiperdopaminergik aripiprazole afinitasnya lebih kuat dari

dopamin akan mengeser secara kompetitif neurotransmiter dopamin dan berikatan


dengan reseptor dopamin. Pada keadaan hipodopaminergik maka aripiprazole dapat
menggantikan peran neurotransmiter dopamin dan akan berikatan dengan reseptor
dopamin.1,4
Aripiprazole dimetabolisme di hati melaui isoenzim P450 pada CYP 2D6 dan
CYP 3A4, menjadi dehydro-aripiprazole. Afinitas dari hasil metabolisme ini mirip
dengan aripiprazole pada reseptor D2 dan berada di plasma sebesar 40% dari
keseluruhan aripiprazole. Waktu paruh berkisar antara 75-94 jam sehingga pemberian
cukup 1 kali sehari. Absorpsi aripiprazole mencapai konsentrasi plasma puncak dalam
waktu 3-5 jam setelah pemberian oral. Aripiprazole sebaiknya diberikan sesudah
makan, terutama pada pasien yang mempunyai keluhan dispepsia, mual dan muntah.2
Indikasi :5.6

Skizofrenia.

Dosis :5,6

10 atau 15 mg 1 x sehari.

Efek samping :5,6

Sakit kepala.
Mual, muntah.
Konstipasi.
Ansietas, insomnia, somnolens.
Akhatisia.

2.5. EFEK SAMPING


1. Gejala ekstrapiramidal
Gejala ekstrapiramidal timbul akibat blokade reseptor dopamine 2 (D 2) di
basal ganglia (putamen, nukleuskaudatus, substansia nigra, nukleus subthalamikus,
dan globus palidus). Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan mekanisme dopaminergik
dan kolinergik sehingga sistem ekstrapiramidal terganggu. Paling sering disebabkan
antipsikotik tipikal potensi tinggi.6

12

Gejala ini dibagi dalam beberapa kategori, yaitu:1,6


a. Reaksi Distonia Akut (ADR)
Terjadi spasme atau kontraksi involunter akut dari satu atau lebih kelompok
otot skelet. Kelompok otot yang paling sering terlibat adalah otot wajah, leher, lidah
atau otot ekstraokuler, bermanifestasi sebagai tortikolis, disastria bicara, krisis
okulogirik dan sikap badan yang tidak biasa. Reaksi distonia akut sering sekali terjadi
dalam satu atau dua hari setelah pengobatan antipsikosis dimulai, tetapi dapat terjadi
kapan saja. Keadaan ini terjadi pada kira -kira 10%,lebih lazim pada pria muda, dan
lebih sering dengan neuroleptik dosis tinggi yang berpotensi tinggi, seperti
haloperidol dan flufenazine. Reaksi distonia akut dapat menjadi penyebab utama dari
ketidakpatuhan pemakaian obat.
b. Akatisia
Akatisia merupakan gejala ekstrapiramidal yang paling sering terjadi akibat
antipsikotik. Kemungkinan terjadi pada sebagian besar pasien terutama pada populasi
pasien yang lebih muda. Terdiri dari perasaan dalam yang gelisah, gugup ,keinginan
untuk tetap bergerak dan sulit tidur . Akatisia dapat menyebabkan eksaserbasi gejala
psikotik akibat perasaan tidak nyaman yang ekstrim. Hal ini menjadi salah satu
penyebab ketidakpatuhan pengobatan.

c. Sindrom Parkinson
Merupakan gejala ekstrapiramidal yang dapat dimulai berjam-jam setelah
dosis pertama antipsikotik atau dimulai secara berangsur-angsur setelah pengobatan
bertahun-tahun. Manifestasinya meliputi gaya berjalan membungkuk, hilangnya
ayunan lengan, akinesia, tremor dan rigiditas. Akinesia menyebabkan penurunan
spontanitas, apati dan kesukaran untuk memulai aktifitas normal. Terkadang, gejala
ini dikelirukan dengan gejala negatif skizofrenia.
d. Tardive Diskinesia
Manifestasi gejala ini berupa gerakan dalam bentuk koreoatetoid abnormal,
gerakan otot abnormal, involunter, mioklonus, balistik, atau seperti tic. Ini merupakan

13

efek yang tidak dikehendaki dari obat antipsikotik. Hal ini disebabkan defisiensi
kolinergik yang relatif akibat supersensitif reseptor dopamine di putamen kaudatus.
Prevalensi tardive diskinesia diperkirakan terjadi 20-40% pada pasien yang berobat
lama. Sebagian kasus sangat ringan dan hanya sekitar 5% pasien memperlihatkan
gerakan berat nyata. Faktor predisposisi meliputi umur lanjut, jenis kelamin wanita,
dan pengobatan berdosis tinggi atau jangka panjang.
2. Neuroleptic Malignant1,4,5,6
Neuroleptic malignant adalah suatu sindrom yang terjadi akibat komplikasi
serius dari penggunaan obat antipsikotik. Sindrom ini merupakan reaksi idiosinkratik
yang tidak tergantung pada kadar awal obat dalam darah. Sindrom tersebut dapat
terjadi pada dosis tunggal antipsikotik (phenotiazine, thioxanthene, atau neuroleptikal
atipikal). Biasanya berkembang dalam 4 minggu pertama setelah dimulainya
pengobatan. SNM sebagian besar berkembang dalam 24-72 jam setelah pemberian
antipsikotik atau perubahan dosis (biasanya karena peningkatan). Sindrom
neuroleptik maligna dapat menunjukkan gambaran klinis yang luas, dari ringan
sampai dengan berat. Gejala disregulasi otonom mencakup demam, diaphoresis,
tachipneu, takikardi dan tekanan darah meningkat atau labil. Gejala ekstrapiramidal
meliputi rigiditas, disfagia, tremor pada waktu tidur, distonia dan diskinesia. Tremor
dan aktivitas motorik berlebihan dapat mencerminkan agitasi psikomotorik. Konfusi,
koma, mutisme, inkotinensia dan delirium mencerminkan terjadinya perubahan
tingkat kesadaran.
3. Peningkatan berat badan6
Paling sering karena pengobatan antipsikotik atipikal. Nafsu makan yang
meningkat

erat kaitannya

dengan blokade reseptor alpha1-adrenergic dan

Histaminergic.
4. Peningkatan prolactin6
Blokade reseptor dopamine 2 (D2) di hipotalamus menyebabkan berkurangnya
pembentukan prolactin releasing factor. Akibatnya, faktor inhibitor prolaktin ke
hipofisis berkurang sehingga terjadi peningkatan kadar prolaktin. Pada perempuan
didapati sekresi payudara, sedangkan pada pria didapati ginekomasti.

14

5. Efek blokade reseptor kolinergik 1,6

Pandangan kabur
Mulut kering (kecuali clozapin yang meningkatkan salivasi)
Penurunan kontraksi smooth muscle sehingga terjadi konstipasi dan retensi
urin.

6. Efek blokade reseptor adrenergik:1,6

Hipotensi ortostatik

BAB III
KESIMPULAN
Antipsikotik merupakan antagonis dopamin yang bekerja menghambat
reseptor dopamin dalam berbagai jaras di otak. Pada antipsikotik atipikal, selain
menghambat reseptor D2, agen ini juga memblokir reseptor 5-HT2 A, dan memiliki
lebih sedikit efek motorik seperti EPS daripada antipsikotik tipikal pada dosis standar.
Secara teoritis, efek motorik seperti EPS bisa menjadi akibat dari blokade
reseptor 5-HT2A selain reseptor D2. Serotonin mengatur pelepasan dopamin,
kehadiran serotonin dalam beberapa jalur dopamin, seperti jalur nigrostriatal,
menghambat pelepasan dopamin, sedangkan di jalur dopamin mesolimbik, serotonin
memiliki pengaruh yang kecil bahkan tidak ada sama sekali. Dengan kata lain, ketika

15

5-HT2A reseptor diblokir, dopamin dilepaskan dalam jalur dopamin nigrostriatal tapi
tidak dikeluarkan di jalur dopamin mesolimbik. Dalam jalur nigrostriatal, reaksi ini
dapat mengurangi beberapa blokade D2 oleh antipsikotik atipikal melalui sebuah
proses yang disebut disinhibisi. Ketika reseptor serotonin diblokir di jalur ini,
dopamin meningkat.Dengan munculnya dopamin kemudian terjadilah "disinhibited"
dan langsung mengisi reseptor D2, mencegah blokade oleh agen antipsikotik. Dengan
kurangnya blokade D2 di jalur nigrostriatal, efek samping motorik berkurang.
Hal tersebutlah yang membedakan antipsikotik atipikal dengan antipsikotik
tipikal. Adapun antipsikotik atipikal, seperti clozapin, risperidone, olanzapin,
quetiapine, dan aripriprazole, memiliki efek klinis yang lebih besar daripada
antipsikotik kelas lain dengan efek samping ekstrapiramidal yang minimal.

DAFTAR PUSTAKA
1

Suryakusumah L. 2010. Antipsikotik. HYPERLINK Available at:


www.scribd.com/doc/67978888/obat-antipsikotik2. diakses 23 September
2012.

Maslim R. 2007. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik-Edisi


III. Nuh Jaya: Jakarta.

Loebis dan Syamsir. 2008. Psikofarmaka, Terapi Kejang Listrik, Dan


Psikoterapi. Departemen Psikiatri FK-USU.

Anonymouse. 2010. Obat Antipsikotik. HYPERLINK Available at:


www.artikelkedokteran.com/865/obat-antipsikotik.html. diakses 24 September
2012.

16

Magdalena AM, Adisti. Pratama FJ. 2011. Obat Antipsikotik. HYPERLINK


Available at: www.scribd.com/doc/96671720/ANTIPSIKOTIK. diakses 24
September 2012.

Rosdiana A. 2011. Obat Antipsikotik Atipikal. HYPERLINK Available at:


www.scribd.com/doc/101217141/printapda-refarat-lapkas. diakses 24
September 2012.

Kaplan HI, Sadock BJ. 1998. Kaplan and Saddocks Synopsis of Psychiatry:
BehavioralScience/ Clinical Psychiatry. 8th ed. Maryland: William &
Wilkins.

Katzung BG. 2001. Basic & Clinical Pharmacology. 8th ed. New York: McGrawHill.

17