Anda di halaman 1dari 9

Pengertiam klausa

Klausa ialah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas
subjek dan predikat dan sering kali mengikutsertakan objek, pelengkap, dan keterangan. Posisi
objek, pelengkap, ataupun keterangan disini bersifat manasuka.
Contoh:
Saat negara-negara lain sudah menjadi negara berkembang, Negara kita baru
melakukan proses menuju negara berkembang.
Kalimat diatas terdiri dari beberapa klausa, yaitu:
Saat negara-negara lain menjadi (S-P);
negara berkembang (O-Pel);
negara kita baru melakukan (S-P);
proses menuju negara berkembang (P-O).
Dalam kalimat tertentu klausa terdiri dari 2 bagian, yaitu : klausa induk dan klausa subordinatif
(anak kalimat).
Contoh:
Dia menulis surat ketika kedua orangtuanya sudah pergi.
Keterangan:
Dia menulis surat (klausa induk)
ketika kedua orangtuanya sudah pergi. (klausa anak)
jenis jenis klausa

Klausa dapat diklasifikasikan berdasarkan empat hal, yaitu (1) kelengkapan unsur
internalnya: klausa lengkap dan klausa tak lengkap, (2) adatidaknya kata yang menegatifkan P:
klausa negative dan klausa positif, (3) kategori primer predikatnya: klausa verbal dan klausa
nonverbal, (4) dan kemungkinan kemandiriannya untuk menjadi sebuah kalimat: klausa mandiri,
klausa tergabung.
a. Klausa Lengkap dan Klausa Tak Lengkap
Berdasarkan kelengkapan unsur internalnya, klausa dibedakan menjadi dua yaitu, klausa
lengkap dan klausa tak lengkap. Klausa lengkap ialah klausa yang memiliki unsur internal
lengkap, yaitu S dan P. Klausa lengkap ini berdasarkan struktur internalnya, dibedakan lagi
menjadi dua yaitu klausa susun biasa dan klausa lengkap susun balik.

Klausa lengkap susun biasa ialah klausa lengkap yang S-nya terletak di depan P. adapun
klausa lengkap susun balik atau klausa lengkap inversi ialah klausa lengkap yang S-nya berada
di belakang P, misalnya :
(2) Tulisan Hendi sangat berbobot.
Klausa (2) disebut klausa lengkap susun biasa karena S-nya yaitu tulisan Hendi berada di
depan P, sangat berbobot.
Klausa tak lenngkap atau dalam istilah Verhaar (1999:279) klausa buntung merupakan
klausa yang unsure internalnya tidak lengkap karena di dalamnya tidak terdapat unsur S dan
hanya terdapat unsur P, baik disertai maupun tidak disertai unsur P, Pel, dan Ket. Misalnya :
(3) terpaksa berhenti bekerja di perusahaan itu
Klausa (3) bisa berubah menjadi klausa lengkap jika di sebelah kirinya ditambah S,
misalnya ditambah frasa istri saya sehingga menjadi (3) Istri saya terpaksa berhenti bekerja di
perusahaan itu.
b. Klausa Negatif dan Klausa Positif
Berdasarkan ada tidaknya kata negatif pada P, klausa dapat dibagi menjadi dua golongan,
yaitu klausa negatif dan klausa positif. Klausa negatif ialah klausa yang di dalamnya terdapat
kata negative, yang menegasikan P.menurut Ramlan (1987: 137), yang termasuk kata negatif,
yang menegasikan P ialah tidak, tak, tiada, bukan, dan belum. Berikut ini adalah contoh klausa
negative :
(4) Deni tidak mengurus kenaikan pangkatnya.
Klausa (4) merupakan klausa negatif karena terdapat kata tidak yang menegasikan
mengurus.
c.

KLausa Verbal dan Klausa Nonverbal


Berdasarkan kategori primer kata atau frasa yang menduduki fungsi P pada
konstruksinya, klausa dibedakan atas klausa verbal dan klausa nonverbal. Klausa verbal ialah
klausa yang P-nya terdiri atas kata atau frasa golongan V. dilihat dari golongan verbanya klausa
verbal dibagi lagi menjadi klausa verbal intransitif dan klausa verbal transitif. Klausa verbal
transitif ialah klausa yang mengandung verba transitif, dan klausa verbal intransitif ialah klausa
yang mengandung verba intransitif.

Contoh klausa verbal intransitif ialah sebagai berikut :


(5) Taufik Hidayat tampil tidak maksimal di Jepang.
(6) Pengidap AIDS bertambah.
Klausa verbal transitif, dilihat dari wujud ketransitifan P-nya dapat dibedakan menjadi (1)
klausa aktif, (2) klausa pasif, (3) klausa reflektif, dan (4) klausa resiprokal (Ramlan, 1987: 145149). Klausa aktif ialah klausa yang P-nya berupa verba transitif aktif. Klausa pasif ialah klausa
yang P-nya berupa verba transitif pasif. Klausa reflektif ialah klausa yang P-nya berupa verba
transitif reflektif, yaitu verba yang menyatakan perbuatan yang mengenai pelaku perbuatan
itu sendiri. Pada umumnya verba itu berprefiks meng- yang diikuti kata diri. Adapun klausa
resiprokal adalah klausa yang P-nya berupa verba transitif resiprokal, yaitu verba yang
menyatakan kesalingan.
Klausa nonverbal ialah klausa yang berpredikat selain verba. Klausa nonverbal masih
bisa dibedakan lagi menjadi (1) klausa nominal, (2) klausa adjektival, (3) klausa preposisional,
(4) klausa numeral, dan (5) klausa adverbial. Contoh:
(7) Yang kita bela kebenaran
(8) Budi pekertinya mulia
(9) Aku bagai nelayan yang kehilangan arah
(10)

Yang dikorupsi 300 juta rupiah

(11)

Kedatangannya kemarin sore

d. Klausa Mandiri dan Klausa Tergabung


Klausa mandiri merupakan klausa yang kehadirannya dapat berdiri sendiri. Klausa
mandiri berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal. Misalnya :
(12)

Merokok dapat menyebabkan kanker


Klausa tergabung

a) Klausa Mandiri
Klausa mandiri atau klausa bebas merupakan klausa yan kehadirannya dapat berdiri sendiri.
Klausa mandiri berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal. Misalnya:
Merokok dapat menyebabkan kanker
Nirina sedang belajar
b) Klausa Tergabung

Klausa tergabung atau klausa terikat adalah klausa yang kehadirannya untuk menjadi sebuah
kalimat plural tergabung dengan klausa lainnya. Dalam kalimat plural, klausa tergabung dapat
berupa klausa koordinatif, atau klausa subordinatif. Contoh:
(1) Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan
janin.
(2a) Nirina sedang belajar ketika terjadi gempa itu.
(2b) Karena baru pulang sesudah tugasnya selesai, Sri tidak dapat menghadiri rapat.
Jika dicermati, konstruksi (1) berbeda dengan konstruksi (2). Dalam konatruksi (1) terdapat
klausa-klausa tergabung secara koordinatif, sedangkan dalam konstruksi (2) terdapat klausaklausa tergabung secara subordinatif.
Klausa Koordinatif
Klausa koordinatif dapat dijumpai dalam kalimat plural atau majemuk setara. Dalam kalimat
plural atau majemuk setara, semua klausanya berupa klausa koordinatif. Klausa tersebut
dinamakan klausa koordinatif karena secara gramatik dihubungka secara koordinatif oleh
penghubung-penghubung koordinatif dan, atau, tetapi, lagi pula, lalu, namun, sebaliknya,
malahan, dan lain-lain.
Klausa koordinatif terdiri atas (1) koordinasi netral, (2) koordinasi kontrastif, (3) koordinasi
alternatif, (4) koordinasi konsekutif, yang berturut-turut dapat dilihat dalam contoh-contoh
kalimat berikut.
(1) Saya menulis artikel itu, menyunting, dan mengirimkannya ke media massa
(2) Mencari ilmu itu sulit, tetapi mengamalkannyajauh lebih sulit
(3) Saudara mau bekerja atau melanjutkan studi ke jenjang S-2?
(3) Harga sepeda motor itu relative mahal, jadi perlu diangsur.
Klausa Subordinatif
Klausa subordinatif dapat dijumpai dalam kalimat plural bertingkat. Jadi, dalam kalimat plural
bertingkat selain terdapat klausa atasan yang biasa dikenal dengan klausa induk, Klausa inti, atau
klausa matriks terdapat pula klausa bawahan atau klausa sematan atau klausa subordinatif.
Klausa bawahan dapat dibedakan lagi menjadi klausa berbatasan dan klausa terkandung.
Klausa berbatasan, merupakan klausa bawahan yang tidak wajib hadir dalam kalimat plural.
Klausa berbatasan dapat dibedakan menjadi enam tipe yaitu klausa-klausa berbatasan:
(1) final, contoh

Irfan rajin mengaji agar tidak menyesal dalam kehidupan setelah mati.
(2) kausal, contoh
Rombogan Suciwati merasa kecewa karena tidak diperkenankan menjenguk Presiden Soeharto
(3) kondisional, contoh
Jika diundang, ia mau datang.
(4) konsekutif, contoh
Pendapatannya kecil, sehingga sampai sekarang belum mampu membeli mobil.
(5) konsesif, contoh
Orang itu tetap rendah hati meskipun telah menyandang banyak prestasi.
(6) temporal, contoh
Rui Costa, playmaker asal Portugal datang ke La Viola setelah tiga musim memperkuat Benfica.
Dalam contoh-contoh tersebut, klausa yang dimulai dengan konjungsi subordinatif seperti agar,
karena, jika, sehingga, meskipun, dan setelah-lah yang berturut-turut dinamakan sebagai klausa
berbatasan.
Klausa terkandung, merupakan klausa bawahan yang kehadirannya bersifat wajib. Berdasarkan
fungsinya dalam kalimat plural bertingkat, klausa terkandung dapat dikelompokkan menjadi
klausa pewatas atau klausa modifikasi dan klausa pemerlengkap.
Klausa pewatas
Klausa pewatas atau klausa pewatasan ialah klausa subordinatif yang kehadirannya berfungsi
mewatasi atau mempertegas makna kata atau frasa yang diikutinya. Contohnya ialah beberapa
klausa dari sejumlah klausa dalam kalimat plural berikut:
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan
tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.
Rombongan Suciwati tidak diperkenankan menjenguk mantan presiden Soeharto yang sedang
berbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Klausa Pemerlengkap
Klausa pemerlengkap atau klausa pemerlengkapan merupakan klausa yang berfungsi melengkapi
(atau menerangkan spesifikasi hubungan yang terkandung dalam) verba matriks. Klausa
pemerlengkap dibedakan lagi menjadi: (1) klausa pemerlengkap preposisional, (2) klausa
pemerlengkap eventif, (3) klausa pemerlengkap perbuatan.

Klausa pemerlengkap dikatakan bersifat preposisional karena klausa tersebut biasanya


berpenanda kata bahwa yang menyatakan suatu proposisi. Contoh:
Dokter berkata, ASI sangat baik untuk anak.
Dokter berkata bahwa ASI sangat baik untuk anak.
Berita bahwa mahasiswa Unnes juara I dalam LKTIM bidang sosial, tingkat wilayah B, pada
tanggal 22-23 Mei 2006 menjadi sorotan media kampus.
Klausa eventif meliputi klausa yang menyatakan peristiwa dan klausa yang menyatakan proses.
Misalnya ialah klausa yang dimulai dengan kata peristiwa dan proses pada kalimat-kalimat
berikut.
Peristiwa Joko mengundurkan diri (Peristiwa pengunduran diri Joko) dari pekerjannya sudah
terduga sebelumnya.
Proses orang menyusun sebuah artikel (Proses penyusunan sebuah artikel) hanya diketahui oleh
para penulis.
Adapun klausa perbuatan dapat dibedakan lagi menjadi klausa perbuatan yang dilakukan, klausa
perbuatan yang tidak dilakukan, dan klausa perbuatan yang mungkin dilakukan.
Klausa perbuatan yang dilakukan dapat ditandai oleh verba melihat, menyaksikan, mengetahui,
berhasil, berhenti, dan mulai. Misalnya:
Saya melihat (perbuatan) Zahra mendorong Ela
Zahra mendorong Ela
Prof. Dr. Fathur Rokhman mulai meneliti masalah itu pada tahun yang lalu
Prof. Dr. Fathur Rokhman meneliti masalah itu
Klausa perbuatan yang tidak dilakukan dapat ditandai oleh verba mencegah, menolak, gagal, dan
lupa. Misalnya:
Ayah mencegah kami membawa uang saku ke sekolah
Kami tidak membawa uang saku ke sekolah
Imron gagal mengikuti lomba
Imron tidak mengikuti lomba
Adapun klausa perbuatan yang mungkin dilakukan dapat ditandai oleh verba bermaksud,
berniat, bertekad, merencanakan, menganjurkan, dan menyarankan. Misalnya:
Farah bermaksud memohon izin untuk tidak datang ke kampus

Farah memohon izin; Farah tidak memohon izin


Samdum mengajak Dian pergi ke Mal Ciputra
Dian pergi ke Mal Ciputra; Dian tidak pergi ke Mal Ciputra

SUMBER:
Baehaqie, Imam. 2008. Sintaksis Teori dan Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Verhaar. 2006. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
FUNGSI FUMGSI KLAUSA

1. Klausa yang menduduki fungsi subjek


Subjek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nomina yang menandai apa yang
dinyatakan oleh pembicara (penulis).
Di dalam bahasa Indonesia, subjek biasanya mendahului predikat, seperti:
- berenang itu menyehatkan
Klausa tersebut bisa dibilang klausa ini karena terdiri atas subjek (berenang itu)
serta predikat (menyehatkan)
- Berenang itu ternyata dapat turut menyehatkan fisik dan mental.
2. Klausa yang menduduki fungsi objek
Objek adalah bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nomina yang
melengkapi verba transitif.
Objek dapat dibagi menjadi dua, yaitu objek langsung dan objek tidak langsung.
Objek langsung adalah objek langsung dikenai perbuatan yang disebutkan dalam
predikat verbal; objek tak langsung adalah objek yang menjadi penerima atau yang
diuntungkan oleh perbuatan yang terdapat dalam predikat verbal.

Contoh objek langsung:


- bibi sedang menanak nasi
- ibu membawa minuman

Nasi pada contoh di atas merupakan objek bagi verba menanak dan minuman menjadi objek bagi
membawa.
Contoh objek tak langsung:
- Bibi sedang menanankkan nasi untuk kita semua.
- Ibu membawakan minuman untuk ayah.
Kata kita semua dalam kalimat di atas merupakan objek taklangsung bagi verba menanakkan,
sedangkan untuk ayah adalah objek taklangsung bagi verba membawakan.
3. Klausa keterangan
Klausa keterangan adalah klausa yang menjadi bagian luar inti, yang berfungsi meluaskan atau
membatasi makna subjek atau makna predikat. Contohnya:
- keterangan akibat : penjahat itu dihukum mati.
- keterangan sebab : karena sakit, ia tidak jadi ikut.
- keterangan jumlah : bagai pinang dibelah dua.
- keterangan alat : dinaikkan dengan mesin pengangkat.
- keterangan cara : diterima dengan baik.
- keterangan kualitas : berlari bagai kilat.
- keterangan modalitas : tidak mungkin itu terjadi.
- keterangan pewatas : keterangan lebih lanjut.
- keterangan subjek : guru yang baik.
- keterangan syarat : tolonglah kalau kau bisa
- keterangan objek : menjadi pengusaha yang jujur
- keterangan tujuan : bekerja untuk hidup
- keterangan tempat : datang dari barat

- keterangan waktu : ditunggu sampai besok pagi


- Keterangan perlawanan: meskipun lambat, selesai juga dikerjakannya
4. Klausa pelengkap
Klausa pelengkap adalah klausa yang terdiri atas nomina, frasa nomina, adjektiva
yang merupakan bagian dari predikat verbal, seperti:
- persoalan itu dianggap penting

- paman berdagang kain


- negara kita berdasarkan pancasila
Kata-kata yang dicetak miring berfungsi sebagai pelengkap.