Anda di halaman 1dari 2

Koral yang Baik untuk Campuran Beton

Posted on June 5, 2010 | 13 Comments


Rate This
Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U.
Praktisi HAKI (Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia)

Buat Anda yang sedang membangun rumah, pernakah Anda mencoba memilih koral
yang baik sebagai material campuran beton? Apakah Anda hanya tahu memesan sejumlah
koral yang telah diestimasi oleh tukang Anda? Tanpa ingin tahu lebih jauh tentang mana
yang lebih baik koral/krikil atau batu pecah? Ukuran butiran koral seperti apa yang akan
Anda pesan? Bentuk koral, kadungan kadar lumpur dan lain sebagainya.
Material seperti koral alias krikil, batu pecah dan pasir adalah meterial yang
digunakan sebagai bahan baku beton, bahan yang berasal dari batu ini disebut agregat.
Agregat mempunyai peranan sangat penting terhadap kualitas beton maupun harganya.
Biasanya 56-75% volume total beton terdiri dari volume agregat, oleh karena itu dengan

menggunakan komposisi semaksimal mungkin akan memperoleh harga beton yang lebih
murah dengan kualitas beton yang tetap memadai.
Berdasarkan distribusi kumpulan ukuran butirannya, agregat dapat dibedakan menjadi
agregat halus (pasir) dan agregat kasar (koral, misalnya). Agregat berfungsi sebagai bahan
pengisi, dan walaupun fungsinya hanya sebagai bahan pengisi, ini tidak berarti peranannya
dalam menentukan kekuatan beton lebih kecil daripada semen.
Sifat dan karakteristik Koral (agregat) sangat menentukan kualitas akhir beton yang
dikerjakan. Agregat dengan ukuran butiran yang lebih halus memerlukan semen lebih banyak
dibandingkan dengan menggunakan butiran yang lebih kasar dan berarti memerlukan
penggunaan semen yang lebih sedikit, sehingga berdampak terhadap pengurangan harga akhir
beton.
Koral dengan sifat kekerasan, kepadatan, dan keawetan tinggi akan menghasilkan
beton berkualitas lebih tinggi, sedangkan beton yang dubuat dengan sifat sebaliknya akan
menghasilkan beton berkualitas rendah. Koral dengan kekerasan, kepadatan, dan keawetan
tinggi mempunyai sifat kekekalan yang lebih baik.
Demikian juga koral yang mengalami pencemaran, baik oleh bahan organik ataupun
anorganik dapat mempengaruhi kualitas agregat sehingga memerlukan tinfdakan pencucian
terlebih dahulu sebelum digunakan.
Berikut ini kita lihat cara memilih koral yang baik sebagai bahan baku campuran beton. Koral
untuk beton sebagai hasil disintegrasi alami dari batuan-batuan berupa krikil alam, pada
umumnya yang dikatakan koral adalah batuan atau agregat yang ukuran butirannya lebih dari
5 mm. Koral yang baik harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori. Koral yang
mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-butor pipih tersebut
tidak melampaui 20% berat koral seluruhnya.
Koral yang baik harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh
cuaca, seoerti terik matahari dan hujan. Ingat. Koral yang baik tidak boleh mengandung
kadar lumpur melampai 1%, bila melebihi koral harus dicuci.
Koral yang baik harus terdiri dari beraneka ragam besarnya, agar bisa saling mengisi untuk
menghasilkan suatu campuran atau beton jadi yang padat. Bila dibawa ke Laboratorium
Beton, apabila diayak dengan susunan ayakan, maka koral harus memenuhi syarat-syarat
bebagai berikut. Sisa di atas ayakan 31,5 mm, harus minimum 0% berat. Sisa di atas ayakan 4
mm, harus berkisar 90% dan 98% berat. Dan Selisih antara sisa-sisa komulatif di atas dua
ayakan yang berurutan adalah maksimal 60% dan minimum 10% berat.
Berdasarkan uraian di atas terlihat betapa pentingnya peran agregat (Koral) dalam pekerjaan
beton, di samping peran bahan baku pembuat beton lainnya. Untuk itu diperlukan perhatian
sungguh-sungguh dalam menentukan pilihan jenis koral yang akan digunakan, agar sesuai
dengan sifat pekerjaan dan lingkungan di mana rtumah Anda didirikan. Tindakan ini
diperlukan agar beton yang dibuat memiliki kualitas tinggi dengan harga relatif lebih
murah.***