Anda di halaman 1dari 6

Botol aqua dalam pembuatannya memerlukan proses

manufaktur dan terjadi dalam beberapa tahap, botol aqua yang


ditunjukkan pada gambar soal merupakan jenis botol plastik
yang terbentuk oleh poliester polyethylene terephthalate (PET)
karena PET itu sendiri memiliki sifat-sifat yang diperlukan
dalam pembuatan botol plastik aqua seperti
kuat tarik,
ketahanan kimia, kejernihan dan stabilitas termal selain itu ada
beberapa sifat PET unggul lainnya yang digemari oleh
konsumen seperti aman, ringan, tahan hancur, dapat ditutup
kembali dan dapat didaur ulang. Resin PET dapat diperoleh
melalui 2 cara yaitu proses esterifikasi langsung asam tereftalat
(terephtalic acid, TPA) dan ethylene glycol (EG) dengan katalis
antimony trioxide (Sb2O3) dan juga ester exchange antara
dimethylterepthalate (DMT) dengan ethylene glycol (EG), akan
tetapi lebih disarankan memakai esterifikasi langsung karena
pertimbangan berikut

Proses

Parameter

Ester exchange

Esterifikasi langsung

Bahan baku

DMT dan EG

TPA dan EG

Konversi

90 - 95 %

95 - 99 %

Waktu reaksi

4 - 6 Jam

4 - 8 Jam

Tahap Persiapan Bahan Baku


terephtalic acid (TPA) yang berbentuk bubuk akan dialirkan ke
tangki pencampuran bersamaan dengan ethylene glycol yang
berasal dari tangki penyimpanan maupun hasil recycle proses,
proses pencampuran ini dilakukan dengan menggunakan
pengaduk dan berlangsung selama 30 menit pada temperatur
80oC serta tekanan 1 atm, campuran yang nanti dihasilkan
adalah slurry.
Tahap Reaksi

Reaksi pembentukan bis hydroxyethyl terephthalate


(BHET)
Slurry yang dihasilkan dari tangki pencampuran dialirkan ke
reaktor esterifikasiSetelah itu katalis antimony trioxide (Sb2O3)
dicampurkan bersama dengan slurry di dalam reaktor tersebut.
Dalam proses esterifikasi langsung ini akan terbentuk gugus
isomer dari reaksi TPA dan EG dengan konversi terephtalic acid
90% dan hasil yang diperoleh adalah bis hydroxyethyl
terephthalate (BHET), air (H2O), dan TPA yang tidak bereaksi.
Di reaktor tersebut reaksi berjalan secara endotermis.
Reaksi reaktor esterifikasi ini berlangsung pada temperatur
250oC dan tekanan 1 atm selama 100 menit. Reaksi yang
terjadi pada reaktor esterifikasi adalah

O
C O

O
C OH

+2
C

OH
O

CH2OH

CH2CH2OH

CH2OH

O
O

CH2CH2OH

2 H 2O
air

bis hydroxyethyl
terephthalate (BHET)

Uap air dan ethylene glycol yang keluar dari reaktor esterifikasi
mempunyai temperatur 250oC dialirkan ke partial condenser
untuk mengkondensasikan uap yang telah terbentuk, setelah
itu uap dan cairan yang dihasilkan partial condenser dengan
suhu 160oC akan dialirkan ke knock out drum untuk dipisahkan,
cairan yang dipisahkan tersebut akan dialirkan lagi menuju
cooler agar temperaturnya turun menjadi 80 oC yang nantinya

akan dialirkan kembali ke tangki pencampuran. Sedangkat bis


hydroxyethyl terephthalate (BHET) yang terbentuk, TPA yang
tidak bereaksi dan katalis dialirkan dari bagian bawah reaktor
esterifikasi untuk dialirkan lagi menuju reaktor prepolimerisasi
Proses Prepolimerisasi
Proses prepolimerisasi berlangsung di dalam reaktor
prepolimerisasi yang dilengkapi dengan pengaduk pada suhu
270oC dan tekanan 1 atm dengan konversi BHET sebesar 95%.
Proses ini menghasilkan monomer dengan derajat polimerisasi
20 (prepolimer), ethylene glycol dan bis hydroxyethyl
terephthalate yang tidak bereaksi, dimana reaksi yang
berlangsung adalah
O
C O CH2CH2OH

HOCH2CH2 O

C O

CH2CH2 OH
20

20

Prepolimer

C O CH2CH2OH
O

19

CH2OH
CH2OH

Setelah itu, uap ethylene glycol dan air yang tidak bereaksi
dialirkan menuju knock out drum dan monomer dari hasil reaksi
tersebut akan dialirkan menuju reaktor polikondensasi
Proses Polikondensasi

Proses ini berlangsung pada suhu 290oC dan tekanan sebesar


0,00197 atm (tekanan ini didapat dari hasil vakum tekanan 1
atm menggunakan steam ejector) dengan konversi prepolimer
CH2pada
OH
sebesar 99% Odan derajat Opolimerisasi yang diharapkan
C
C O CH2CH2 OH
HOCH2CH2 O
4
proses ini adalah 100. Reaksi yang terjadi pada proses
ini
CH2OH
20
adalah

Prepolimer

HOCH2CH2 O

PET

+
O

CH2CH2 OH
100

EG

Uap ethylene glycol yang tidak bereaksi akan terhisap oleh


aliran steam yang dihasilkan steam ejector, setelah itu akan
dikondensasikan dengan menggunakan kondenser, setelah itu
ethylene glycol akan didinginkan dengan cooler dan akhirnya
akan direcycle ke tangki pencampuran.
Tahap Pemisahan Produk
Cairan kental PET yang didapatkan dari hasil polikondensasi
dialirkan ke filter press untuk dipisahkan dari katalis Sb 2O3 .
Selanjutnya PET akan diturunkan temperaturnya dari 290 oC
menjadi 60oC dengan menggunakan cooler. Setelah didinginkan
PET akan dimasukkan ke crystallizer untuk mengkristalkan PET.
Setelah proses tersebut PET kristal dan mother liquor (larutan
yang tersisa setelah proses kristalisasi) akan dialirkan menuju
centrifuge untuk dipisahkan. mother liquor yang terpisah akan
dialirkan ke mother liquor tank dan PET kristal akan menuju
pelletizer untuk membentuk PET kristal menjadi pelet dengan
ukuran 3mm yang biasa disebut sebagai resin
Proses Injection Molding
Setelah resin (pelet) PET didapatkan proses manufaktur botol
plastik dapat segera dimulai, proses yang digunakan dalam
pembuatan botol plastik adalah stretch blow molding, namun
mula-mula diperlukan bakalan (preform) yang diperoleh melalui
proses injection molding, tahap pertama yang dilakukan adalah
dengan memasukkan resin PET ke dalam tabung pengisi
terlebih dahulu, setelah itu resin PET akan didorong masuk ke
dalam tabung pemanasan dengan menggunakan ulir
pendorong sehingga resin PET akan berubah bentuknya
menjadi cair, setelah itu resin PET yang sudah dalam bentuk
cair akan diinjeksikan ke melalui sebuah nosel ke dalam
cetakan yang sudah tertutup, dalam proses ini tekanan

dipertahankan sampai produk membeku, setelah itu cetakan


dibuka dan didorong keluar lalu nanti ditutup kembali, sampai
saat ini bakalan (preform) sudah didapatkan dan siap untuk
memasuki tahap selanjutnya yaitu stretch blow molding.

Proses Stretch Blow Molding


Pada tahap stretch blow molding, bakalan (preform) ditekan ke
dalam mesin blow molding menggunakan batangan logam dan
dipanaskan di atas suhu transisi gelasnya, setelah itu cetakan
mesin stretch blow molding akan segera menutup, pada tahap
selanjutnya udara bertekanan tinggi (5-25 bar) ditiup melalui
batangan logam yang berfungsi sebagai stretching sehingga
bakalan berubah bentuk menyentuh dasar cetakan, lalu pada
tahap selanjutnya tekanan udara kemudian dinaikkan hingga
40 bar, sehingga bakalan menggelembung mengikuti bentuk
cetakannya, setelah proses ini selesai cetakan akan terbuka
dan produk sudah dapat dilepas dari cetakan.

http://ejurnal.its.ac.id/index.php/sains_seni/article/download/1437/233

(diakses pada hari

Kamis, 27 November 2014 pukul 05.12 WIB)


http://www.thomasnet.com/articles/materials-handling/plastic-bottlemanufacturing (diakses pada hari Selasa, 25 November 2014 pukul 21.02

WIB)
http://www.napcor.com/PET/whatispet.html (diakses pada hari Selasa, 25

November 2014 pukul 21.03 WIB)


Caldicott, R.J., 1999. The Basic Soft Stretch Blow Molding PET
Containers.Plastic Eng, 35, 3538.

Sofyan, Bondan, 2010, Pengantar Material Teknik, Salemba Teknika,


Jakarta, 122-125.
http://tripolyta.com/UserFiles/200912150129520.BukuSaku-Catatan5Teknologi%20Proses%20Injection%20Molding.pdf (diakses pada hari Rabu,
26 November 2014 pukul 06.27 WIB)
http://www.apitco.org/Profiles/Profiles%20PRS/PET%20Bottles.pdf (diakses
pada hari Selasa, 25 November 2014 pukul 21.02 WIB)
http://www.exopackaging.in/wp-content/themes/pet-bottle/images/PETPlastic-Bottle-manufacturing-process-flowchart-large.jpg (diakses pada
hari Rabu, 26 November 2014 pukul 04.16 WIB)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/11728/1/09E00038.pdf
(diakses pada hari Kamis, 27 November 2014 pukul 01.19 WIB)