Anda di halaman 1dari 7

TEKNIK RADIOGRAFI 4

LAPORAN TEKNIK PEMERIKSAAN MEDIA KONTRAS LYMPHOGRAFI

Oleh Kelompok 1
Anggota :
Dwian syifaul janan
Endah setya wardani
Fitri puspita dewi
Rahma noviani
Ridho alfianto
Risyah rubbyh
Sukma zuliano adi
Tangguh bayu
Wisnu arifin
Witdia astuti
Dika ulfi h
PRODI D-III TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI PURWOKERTO
JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI
POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah mengenai Teknik
Pemeriksaan Media Kontras Lymfografi. Laporan ini terdiri dari beberapa bagian yang akan
menerangkan secara jelas mengenai teknik pemeriksaan media kontras lymfografi.
Pada masa sekarang ini banyak sekali penelitian-penelitian yang menemukan hal-hal
baru yang membangun sarana prasarana kesehatan menjadi jauh lebih baik, dan banyak sekali
istilah-istilah yang harus diketahui oleh orang-orang yang terjun didalamnya maupun tidak agar
dapat memajukan ilmu kesehatan dan teknik kedokteran di Indonesia, salah satunya adalah
Teknik Pemeriksaan Media Kontras Lymfografi, yang memanfaatkan Media Kontras dalam
pemeriksaannya.
Akhir kata, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah
membantu penyelesaikan makalah ini sehingga dapat selesai tepat pada waktunya. Selain itu,
kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh narasumber yang tulisannya kami kutip
untuk melengkapi makalah ini.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pemeriksaan diagnostik radiologi telah menjadi bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama didalam penatalaksanaan klinis pasien di
dalam pelayanan kesehatan. Sejak ditemukannya sinar X oleh Roentgen pada tahun 1895
dan kemudian diproduksinya peralatan radiografi pertama untuk penggunaan diagnostik
klinis. Prinsip dasar dari radiografi tidak mengalami perubahan sama sekali, yaitu
memproduksi suatu gambar pada film reseptor dengan sumber radiasi dari suatu berkas
sinar-X yang mengalami absorbsi dan attenuasi.
Dewasa ini penggunaan pemeriksaan radiologi semakin meningkat. Begitu juga
dalam penggunaannya sebagai alat bantu diagnosa sekaligus terapi pada kelainan
kelainan pembuluh-pembuluh darah dan saraf . Berbagai kelainan baik kongential
maupun didapat dalam sistem ini dapat diperiksa dengan bantuan radiologi melalui
beberapa macam pemeriksaan yaitu, Foto Angiografi,discografi,myelografi , CT Scan,
sampai Nuclear Magnetic Resonance. Dengan macammacam pemeriksaan ini dapat
diketahui adanya abnormal pembuluh dan abnormal pada nodul.
Makalah ini akan mengkaji tentang pemahaman mengenai pemeriksaan
lymfografi terkait dengan penggunaannya sebagai alat bantu diagnosis penyakit pasien
berdarkan buku venita merill volume 3.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui adanya kelainan pada pembuluh limfe, dengan kemampuannya
menyerap media kontras.
2. Untuk mengetahui bagaimana teknik pemeriksaan limfografi
3. Untuk mengetahui cara pemasukan media kontras dalam pemeriksaan limfografi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PEMERIKSAAN MEDIA KONTRAS LYMPHOGRAFI


Lymphografi adalah bentuk aplikasi yang umum pada pemeriksaan radiologi pada
pembuluh darah getah bening dan nodul setelah mendapatkan gambaran opak dengan
menginjeksi media kontras berbahan minyak. Pembelajaran pada pembuluh darah getah
bening, yang dikenal dengan lymphadenografi, ditunjukkan 24 jam setelah pemasukan
media kontras. Pembuluh darah getah bening akan kosong dengan media kontras
didalamnya selama beberapa jam. Normalnya nodul menyerap media kontras selam 3-4
minggu. Abnormal nodul mungkin menyerap media kontras selama beberapa bulan,
sehingga lymphadenografi bisa dilakukan, sebagai indikasi, tanpa penyuntikan yang lebih
jauh.
Lymphhografi kini jarang dilakukan karena ada kemampuan imaging yang lebih
baik yaitu MRI dan CT Scan. Ini dilakukan ketika ingin menaksir pemeriksaan
lymfografi yang lebih luas. Limphografi juga bisa dilakukan untuk pasien dengan
indikasi obstruksi atau gangguan sistem limfatik lainnya.
Penyuntikan untuk limfografi mempunyai jalan masuk yang lebih mudah yaitu
melalui tangan atau kaki. (dengan kaki lebih sering digunakan). Untuk mendapatkan
gambaran opak pada pembuluh limfografi dan nodul, pembuluh darah harus diisolasi.
Pada umumnya, pembuluh darah lymfatik peripheral tidak bisa dengan mudah
diidentifikasi karena ukurannya terlalu kecil dan kekurangan warna.
Untuk Identifikasi, pada pembuluh limfatik pada dorsum kaki dan tangan,
celupan berwarna biru yang diabsorbsi dengan selektif oleh limfatik disuntikkan secara
sub kutan pada pertama kedua pada interdigiti sekitar 15 menit sebelum
pemeriksaan.Setelah jelas berwarna biru violet disuntikkan, urin dan kulit pasien
berwarna biru. Kondisi ini menghilang dalam beberapa jam.Irisan longitudinal dibuat
diaatas dorsum pada masing-masing tangan atau kaki untuk menempatkan pengisian
warna pembuluh darah. Needle ukuran 27 atau 30 digunakan untuk megkanulasi
pembuluhyang diisolasi. Media kontras oil iodine lalu dengan perlahan disuntikkan
kedalam pembuluh darah diatas 30 menit. ( Pada banyak prosedur meliputi pemasukan
materi asing, reaksi tak baik harus diantisipasi. Pasien harus diobservasi dengan cepat,
dan obat yang tepat serta peralatan resustasi harus berada pada jarak yang dekat).
Penyuntikkan intralimfatik biasanya diikutu oleh fluoroskopi. Setelah penyuntikan, jarum
dipindahkan dan luka dijahit.

Injeksi kaki memberikan visualisasi dari struktur limfatik ekstremitas bawah seperti
selangkangan, daerah iliopelvic-abdominoartic, dan duktus toraks. injeksi limfatik dari
privides visualisasi tangan ekstremitas atas dan aksila tersebut, infraklavikula, dan daerah
supraklavikula.
Untuk demonstrasi dari pembuluh getah bening, radiografi yang dibuat dalam satu
jam pertama setelah agen kontras disuntikkan. seri kedua radiografi dibuat 24 jam
kemudian untuk menunjukkan kelenjar getah bening. faktor eksposur digunakan untuk
studi lymphographic adalah sama dengan yang digunakan untuk studi tulang dari daerah
masing-masing. Tabel 25-2 merangkum paling commo proyeksi radiografi dan struktur
anatomi terkait divisualisasikan.
Prosedur radiologis intervensional dilakukan dalam sistem empedu termasuk drainase
empedu dan batu empedu penghapusan.untuk demonstrasi dari pembuluh getah bening,
radiografi yang dibuat dalam satu jam pertama setelah agen kontras disuntikkan. seri
kedua radiografi dibuat 24 jam kemudian untuk menunjukkan kelenjar getah bening.
faktor eksposur digunakan untuk studi lymphographic adalah sama dengan yang
digunakan untuk studi tulang dari daerah masing-masing.
B. PROYEKSI PEMERIKSAAN MEDIA KONTRAS LYMFOGRAFI

Bagian yang di injeksi

Kaki

Proyeksi
AP Abdomen
RPO dan LPO Abdomen
AP Thorax
Left Lateral Thorax
Bilateral AP Tibia
Bilateral AP Femur
AP Pelvis
AP dan Lateral

Tangan

Anatomi yang terlihat


Iliopelvic dan nodul limfe
Pembuluh pada rongga thorax
Pembuluh limfe ekstremitas
bawah
Nodul Limfe anguinal

Lengan Pembuluh darah limfe dan

(dipusatkan padaelbow joint)


nodul ekstremitas atas
AP dan Shoulder RPO/LPO Nodul aksilary pada aksila
45 derajat
Tabel 25-2

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Lymphografi adalah bentuk aplikasi yang umum pada pemeriksaan radiologi
pada pembuluh darah getah bening dan nodul setelah mendapatkan gambaran
opak dengan menginjeksi media kontras berbahan minyak.
2. Penyuntikan untuk limfografi mempunyai jalan masuk yang lebih mudah yaitu
melalui tangan atau kaki. (dengan kaki lebih sering digunakan).
3. Proyeksi yang biasa digunakan adalah :
B. SARAN
1. Jika ingin melihat pembuluh limfe daerah ekstremitas bawah maka
menggunakan pemasukkan melalui kaki sebaliknya,
2. Jika Ingin melihat pembuluh limfe bagian ekstremitas atas maka menggunaka
pemasukka melalui tangan.

DAFTAR PUSTAKA
Merril, Vinita.2007. Merrils Atlas of Radiographic Positioning and Procedure Volume
Three Edition 11th .Mosby Elsevier: USA