Anda di halaman 1dari 18

Laboratorium Ilmu Kesehatan Jiwa

Refleksi Kasus

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

Ekstra Piramidal Sindrom

Oleh

Fitria Rimadhanty S
0808015002
Pembimbing

dr. Denny Jeffry Rotinusulu, Sp. KJ


Dibawakan Dalam Rangka Kepaniteraan Klinik
Pada Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa
Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman
2013

LAPORAN KASUS
0

Dipresentasikan pada Kegiatan Kepaniteraan Klinik Laboratorium Ilmu


Kesehatan Jiwa. Pasien masuk ke IGD RSJ AHM tanggal 15 Maret 2013.
Pemeriksaan dilakukan pada Hari Senin, 25 Maret 2013 pukul 10.15 WITA di
ruang Belibis RSJD Atma Husada Mahakam Samarinda. Sumber Anamnesa :
autoanamnesa dan heteroanamnesa

RIWAYAT PSIKIATRI

A. Identitas Pasien
Nama

: Bapak Y

Umur

: 45 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Status perkawinan

:-

Pendidikan

:-

Pekerjaan

: Gelandangan

Pasien dibawa ke IGD RS Atma Husada Mahakam Samarinda diantar oleh Satpol
PP Balikpapan.
B. Keluhan Utama
Pasien telanjang, keluyuran di jalan, bicara melantur
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Autoanamnesis
Pasien sulit ditanya, pasien hanya diam dan bingung.
Heteroanamnesis
Menurut pengakuan petugas Dinsos, pasien telanjang, keluyuran di jalan, bicara
melantur, putus obat

D. Riwayat Medis dan Psikiatrik Lain


1
1

Gangguan Mental dan Emosi

Pasien pernah dirawat 3x di RSJ Atma Husada Mahakam pada tahun 2004,
2011 dan 2012

Gangguan Psikosomatik

Kondisi Medis

Gangguan Neurologi

E. Riwayat Keluarga
Riwayat Keluarga
Menurut pengakuan satpol PP, pasien mempunyai saudara perempuan yang
mengidap penyakit gangguan jiwa.
Genogram

STATUS PSIKIATRI

Kesan Umum

: tidak rapi, gelisah, tidak kooperatif

Kontak

: verbal (-), visual (-)

Kesadaran

: compos mentis, atensi (-), orientasi sulit dievaluasi

Emosi / Afek

: labil, afek (asosiasi longgar)

Proses Berpikir

: sulit dievaluasi

Intelegensi

: sulit dievaluasi

Persepsi

: sulit dievaluasi

Psikomotor

: DBN

Kemauan

: ADL diarahkan

STATUS FISIK

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis, GCS E4 Vx M6

Tekanan Darah

: 100/90 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

RR

: 20 x/menit

Sistem Kardiovaskular

: tidak didapatkan kelainan

Sistem Respiratorik

: tidak didapatkan kelainan

Sistem Gastrointestinal

: tidak didapatkan kelainan

Sistem Urogenital

: tidak didapatkan kelainan

Status Neurologikus
Panca Indera

: tidak didapatkan kelainan

Tanda Meningeal

: tidak didapatkan kelainan

Tekanan Intrakranial

: tidak didapatkan kelainan

Mata
Gerakan

: normal

Pupil

: isokor

Diplopia

: tidak ditemukan

Visus

: tidak dilakukan pemeriksaan

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN


Diagnosis Multi Aksial

Aksis I

: Skizofrenia

Aksis II

: Tidak ada diagnosis

Aksis III

: Tidak ada diagnosis

Aksis IV

: Tidak ada diagnosis

Aksis V

: GAF Scale 60-51

Pemeriksaan Penunjang

Penatalaksanaan Psikoterapi
1. Memberi penatalaksanaan kepada pasien untuk mengurangi gejala psikosis
pasien
Penatalaksanaan Farmakologi
1. Haldol 5mg 2x1
2. Tab Diazepam 2x5mg
\

PROGNOSIS
Dubia at bonam
Tanggal 16 Maret 2013
TD 140/80
Kesan Umum

: tidak rapi, tenang, kooperatif

Kontak

: verbal (+) menurun, visual (+)menurun

Kesadaran

: compos mentis, atensi (+), orientasi sulit dievaluasi

Emosi / Afek

: labil, afek (asosiasi longgar)

Proses Berpikir

: sulit dievaluasi

Intelegensi

: sulit dievaluasi

Persepsi

: sulit dievaluasi

Psikomotor

: meningkat

Kemauan

: ADL diarahkan

Penatalaksanaan
Haldol 2x5mg
THD 2x5mg
CPZ 0-0-100mg
Tanggal 18 Maret 2013
Kesan Umum

: tidak rapi, tenang, kooperatif, gerakan tardiv (+)

Kontak

: verbal (+) << menurun, visual (+)menurun

Kesadaran

: compos mentis, atensi (+), orientasi sulit dievaluasi

Emosi / Afek

: sulit dievaluasi

Proses Berpikir

: sulit dievaluasi

Intelegensi

: sulit dievaluasi

Persepsi

: sulit dievaluasi

Psikomotor

: hiperaktif

Kemauan

: ADL diarahkan

Penatalaksanaan
Terapi lanjut > konsul dokter spesialis
Penatalaksanaan dokter spesialis
THD 2x5mg
Vit C 2x1
Diazepam 2x5mg
Stop antipsikotik
Tanggal 20 Maret 2013
TD 90/80
Kesan Umum

: tidak rapi, tenang, kooperatif, gerakan tardiv


diskinesia (+)

Kontak

: verbal (-), visual (+)menurun

Kesadaran

: compos mentis, atensi (+), orientasi sulit dievaluasi

Emosi / Afek

: sulit dievaluasi

Proses Berpikir

: sulit dievaluasi

Intelegensi

: sulit dievaluasi

Persepsi

: sulit dievaluasi

Psikomotor

: hiperaktif

Kemauan

: ADL diarahkan

Penatalaksanaan
THD 2x5mg
Vit C 2x1
Diazepam 5mg 0-0-1
Tanggal 25 Maret 2013
TD 100/60 HR 80x/mnt
Kesan Umum

: rapi, tenang, kooperatif, gerakan tardiv diskinesia


(+)

Kontak

: verbal (-), visual (+)menurun

Kesadaran

: compos mentis, atensi (+), orientasi sulit dievaluasi

Emosi / Afek

: sulit dievaluasi

Proses Berpikir

: sulit dievaluasi

Intelegensi

: sulit dievaluasi

Persepsi

: sulit dievaluasi

Psikomotor

: hiperaktif

Kemauan

: ADL dibantu

Penatalaksanaan
THD 2x5mg
Vit C 2x1
Diazepam 5mg 0-0-1
Depacote 2x250mg

FORMULASI

PSIKODINAMIK

Pasien datang ke IGD RSKD Atma Husada Mahakam Samarinda pada


Hari Selasa, 15 Maret 2013 pukul 18.30 WITA dibawa oleh pihak satpol PP
dengan keperluan untuk mengamankan pasien yang mengamuk di jalan.
Sebelumnya, pasien memiliki riwayat skizofrenia dan pernah masuk RSJ
sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 2004, 2011, dan 2012. Pasien mengalami putus
obat dan menjadi gelandangan di Balikpapan. Setelah datang ke IGD, pasien di
rawat dan mulai mengalami gejala tremor pada tanggal 16 Maret 2013 saat di
follow-up. Lalu pasien dipindah ke ruang Belibis. Pada tanggal 18 Maret 2013,
pasien menunjukkan gejala tradiv diskinesia dan dikonsulkan ke dokter spesialis.

TINJAUAN PUSTAKA

Susunan Ekstrapiramidal
Susunan ekstrapiramidal terdiri atas korpus striatum ,globus palidus, intiinti talamik, nukleus subtalamikus, subtansia nigra, formatio retikularis batang
otak,serebelum berikut dengan korteks motorik tambahan, yaitu area 4, area 6 dan
area 8. komponen-komponen tersebut dihubungkan satu dengan yang lain oleh
akson masing-masing komponen itu. Dengan demikian terdapat lintasan yang
melingkar yang dikenal sebagai sirkuit. Oleh karena korpus striatum merupakan
penerima tunggal dari serabut-serabut segenap neokorteks, maka lintasan sirkuit
tersebut dinamakan sirkuit striatal yang terdiri dari sirkuit striatal utama
(principal) dan 3 sirkuit striatal penunjang (aksesori).
Sirkuit striatal prinsipal tersusun dari tiga mata rantai, yaitu (a) hubungan
segenap neokorteks dengan korpus striatum serta globus palidus, (b) hubungan
korpus striatum/globus palidus dengan thalamus dan (c) hubungan thalamus
dengan korteks area 4 dan 6. Data yang tiba diseluruh neokorteks seolah-olah
diserahkan kepada korpus striatum/globus paidus/thalamus untuk diproses dan
hasil pengolahan itu merupakan bahan feedback bagi korteks motorik dan korteks
motorik tambahan. Oleh karena komponen-komponen susunan ekstrapiramidal
7

lainnya menyusun sirkuit yang pada hakekatnya mengumpani sirkuit striata


utama, maka sirkuit-sirkuit itu disebut sirkuit striatal asesorik.
Sirkuit striatal asesorik ke-1 merupakan sirkuit yang menghubungkan
stratum-globus palidus-talamus-striatum. Sirkuit-striatal asesorik ke-2 adalah
lintasan yang melingkari globus palidus-korpus subtalamikum-globus palidus.
Dan akhirnya sirkuit asesorik ke-3, yang dibentuk oleh hubungan yang melingkari
striatum-subtansia nigra-striatum.

Patofisiologi Sindrom Ekstrapiramidal


Umumnya semua neuroleptik menyebabkan beberapa derajat disfungsi
ekstrapiramidal dikarenakan inhibisi transimisi dopaminergik di ganglia basalis.
Beberapa neuroleptik (contoh haloperidol, fluphenazine) merupaka inhibitor
dopamine ganglia basalis yang lebih poten, dan sebagai akibatnya menyebabkan
efek samping EPS yang lebih menonjol.

Gejala Ektrapiramidal (EPS)


Istilah gejala ekstrapiramidal (EPS) mengacu pada suatu kelompok atau
reaksi yang ditimbulkan oleh penggunaan jangka pendek atau panjang dari
medikasi antipsikotik. Istilah ini mungkin dibuat karena banyak gejala
bermanifestasikan sebagai gerakan otot skelet, spasme atau rigitas, tetapi gejalagejala itu diluar kendali traktus kortikospinal (piramidal). Namun, nama ini agak
menyesatkan karena beberapa gejala (contohnya akatisia) kemungkinan sama
sekali tidak merupakan masalah motorik. Beberapa gejala ekstrapiramidal dapat
ditemukan bersamaan pada seorang pasien dan saling menutupi satu dengan yang
lainnya. Gejala Ektrapiramidal merupakan efek samping yang sering terjadi pada
pemberian obat antipsikotik. Antipsikotik adalah obat yang digunakan untuk
mengobati kelainan psikotik seperti skizofrenia dan gangguan skizoafektif.
Gejala ekstrapiramidal sering di bagi dalam beberapa kategori yaitu reaksi
distonia akut, tardiv diskinesia, akatisia, dan parkinsonism (Sindrom Parkinson).

a) Reaksi Distonia Akut (ADR)


Keadaan ini merupakan spasme atau kontraksi involunter, akut dari
satu atau lebih kelompok otot skelet yang lazimnya timbul dalam beberapa
menit. Kelompok otot yang paling sering terlibat adalah otot wajah, leher,
lidah atau otot ekstraokuler, bermanifestasi sebagai tortikolis, disastria
bicara, krisis okulogirik dan sikap badan yang tidak biasa. Suatu ADR
lazimnya mengganggu sekali bagi pasien. Dapat nyeri atau bahkan dapat
mengancam kehidupan dengan gejala-gejala seperti distonia laring atau
diafragmatik. Reaksi distonia akut sering sekali terjadi dalam satu atau dua
hari setelah pengobatan dimulai, tetapi dapat terjadi kapan saja. Keadaan
ini terjadi pada kira-kira 10% pasien, lebih lazim pada pria muda, dan
lebih sering dengan neuroleptik dosis tinggi yang berpotensi lebih tinggi,
seperti haloperidol dan flufenazine. Reaksi distonia akut dapat merupakan
penyebab

utama

dari

ketidakpatuhan

dengan

neuroleptik

karena

pandangan pasien mengenai medikasi secara permanent dapat memudar


oleh suatu reaksi distonik yang menyusahkan.
Kriteria diagnostik dan riset untuk distonia akut akibat neuroleptik
menurut DSM- IV adalah sebagai berikut : Posisi abnormal atau spasme
otot kepala, leher, anggota gerak, atau batang tubuh yang berkembang
dalam beberapa hari setelah memulai atau menaikkan dosis medikasi
neuroleptik (atau setelah menurunkan medikasi yang digunakan untuk
mengobati gejala ekstrapiramidal).
A. Satu (atau lebih) tanda atau gejala berikut yang berkembang
berhubungan dengan medikasi neuroleptik :

Posisi abnormal kepala dan leher dalam hubungannya dengan


tubuh (misalnya tortikolis)

Spasme otot rahang (trismus, menganga, seringai)

Gangguan menelan (disfagia), bicara, atau bernafas (spasme


laring-faring, disfonia)

Penebalan atau bicara cadel karena lidah hipertonik atau


membesar (disartria, makroglosia)

Penonjolan lidah atau disfungsi lidah


Mata deviasi ke atas, ke bawah, ke arah samping (krisis
okulorigik)

Posisi abnormal anggota gerak distal atau batang tubuh

B. Tanda atau gejala dalam kriteria A berkembang dalam tujuh hari


setelah memulai atau dengan cepat menaikkan dosis medikasi
neuroleptik, atau menurunkan medikasi yang digunakan untuk
mengobati (atau mencegah) gejala ekstrapiramidal akut (misalnya
obat antikolinergik)
C. Gejala dalam kriteria A tidak diterangkan lebih baik oleh gangguan
mental (misalnya gejala katatonik pada skizofrenia). Tanda-tanda
bahwa gejala lebih baik diterangkan oleh gangguan mental dapat
berupa berikut : gejala mendahului pemaparan dengan medikasi
neuroleptik atau tidak sesuai dengan pola intervensi farmakologis
(misalnya tidak ada perbaikan setelah menurunkan neuroleptik atau
pemberian antikolinergik)
D. Gejala dalam kriteria A bukan karena zat nonneuroleptik atau
kondisi neurologis atau medis umum. Tanda-tanda bahwa gejala
adalah karena kondisi medis umum dapat berupa berikut : gejala
mendahului pemaparan dengan medikasi neuroleptik, terdapat
tanda neurologis fokal yang tidak dapat diterangkan, atau gejala
berkembang tanpa adanya perubahan medikasi.
b) Akatisia
Sejauh ini EPS ini merupakan yang paling sering terjadi. Kemungkinan
terjadi pada sebagian besar pasien yang diobati dengan medikasi
neuroleptik, terutama pada populasi pasien lebih muda. Terdiri dari
perasaan dalam yang gelisah, gugup atau suatu keinginan untuk tetap
bergerak. Juga telah dilaporkan sebagai rasa gatal pada otot. Pasien dapat
10

mengeluh karena anxietas atau kesukaran tidur yang dapat disalah


tafsirkan sebagai gejala psikotik yang memburuk. Sebaliknya, akatisia
dapat menyebabkan eksaserbasi gejala psikotik akibat perasaan tidak
nyaman yang ekstrim. Agitasi, pemacuan yang nyata, atau manifestasi
fisik lain dari akatisisa hanya dapat ditemukan pada kasus yang berat.
Juga, akinesis yang ditemukan pada parkinsonisme yang ditimbulkan
neuroleptik dapat menutupi setiap gejala objektif akatisia. Akatisia sering
timbul segera setelah memulai medikasi neuroleptikdan pasien sudah pada
tempatnya mengkaitkan perasaan tidak nyaman. Yang dirasakan ini dengan
medikasi sehingga menimbulkan masalah ketidakpatuhan pasien.

c) Sindrom Parkinson
Merupakan EPS lain yang agak lazim yang dapat dimulai berjam-jam
setelah dosis pertama neuroleptik atau dimulai secara berangsur-angsur
setelah pengobatan bertahun-tahun. Manifestasinya meliputi berikut :
Akinesia : yang meliputi wajah topeng, kejedaan dari gerakan spontan,
penurunan ayunan lengan pada saat berjalan, penurunan kedipan, dan
penurunan mengunyahyang dapat menimbulkan pengeluaran air liur. Pada
bentuk yang yang lebih ringan, akinesia hanya terbukti sebagai suatu
status perilaku dengan jeda bicara, penurunan spontanitas, apati dan
kesukaran untuk memulai aktifitas normal, kesemuanya dapat dikelirukan
dengan gejala negative skizofrenia.
Tremor : khususnya saat istiraha, secara klasik dari tipe penggulung pil.
Tremor dapat mengenai rahang yang kadang-kadang disebut sebagai
sindrom kelinci. Keadaan ini dapat dikelirukan dengan diskenisia tardiv,
tapi dapat dibedakan melalui karakter lebih ritmik, kecerendungan untuk
mengenai rahang daripada lidah dan responya terhadap medikasi
antikolinergik.
Gaya berjalan membungkuk : menyeret kaki dengan putaran huruf en
cetak dan hilangnya ayunan lengan.
Kekuan otot : terutama dari tipe cogwheeling

d) Tardive Diskinesia
11

Dari namanya sudah dapat diketahui merupakan sindrom yang


terjadi lambat dalam bentuk gerakan koreoatetoid abnormal, gerakan otot
abnormal, involunter, menghentak, balistik, atau seperti tik. Ini merupakan
efek yang tidak dikehendaki dari obat antipsikotik . hal ini disebabkan
defisiensi kolinergik yang relatif akibat supersensitif reseptor dopamine di
puntamen kaudatus. Wanita tua yang diobati jangka panjang mudah
mendapatkan gangguan tersebut walaupun dapat terjadi di perbagai tingkat
umur pria ataupun wanita. Prevalensi bervariasi tetapi tardive diskinesia
diperkirakan terjadi 20-40% pasien yang berobat lama. Tetapi sebagian
kasus sangat ringan dan hanya sekitar 5% pasien memperlihatkan gerakan
berat nyata. Namun, kasus-kasus berat sangat melemahkan sekali, yaitu
mempengaruhi berjalan, berbicara, bernapas, dan makan. Factor
predisposisi dapat meliputi umur lanjut, jenis kelamin wanita, dan
pengobatan berdosis tinggi atau jangka panjang. Pasien dengan gangguan
afektif atau organikjuga lebih berkemungkinan untuk mengalami
diskinesia tardive. Gejala hilang dengan tidur, dapat hilang timbul dengan
berjalannya

waktu

dan

umumnya

memburuk

dengan

penarikan

neuroleptik. Diagnosis banding jika mempertimbangkan diskinesia tardive


meliputi penyakit Hutington, Khorea Sindenham, diskinesia spontan, tik
dan diskinesia yang ditimbulkan obat (contohnya levodopa, stimulant dan
lain-lain). Perlu dicatat bahwa diskinesia tardive yang diduga disebabkan
oleh kesupersensitivitasan reseptor dopamine pasca sinaptik akibat
blockade kronik dapat ditemukan bersama dengan sindrom Parkinson yang
diduga disebabkan karena aktifitas dopaminergik yang tidak mencukupi.
Pengenalan awal perlu karena kasus lanjut sulit di obati. Banyak terapi
yang diajukan tetapi evaluasinya sulit karena perjalanan penyakit sangat
beragam dan kadang-kadang terbatas. Diskinesia tardive dini atau ringan
mudah terlewatkan dan beberapa merasa bahwa evaluasi sistemik, Skala
Gerakan Involunter Abnormal (AIMS) harus dicatat setiap enam bulan
untuk pasien yang mendapatkan pengobatan neuroleptik jangka panjang.
Obat Antipsikosis yang Mempunyai Efek Samping Gejala Ekstrapiramidal

12

Obat antispikosis dengan efek samping gejala ekstrapiramidalnya sebagai


berikut :
Antipsikosis
Chlorpromazine
Thioridazine
Perphenazine
trifluoperazine
Fluphenazine
Haloperidol
Pimozide
Clozapine
Zotepine
Sulpride
Risperidon
Quetapine
Olanzapine
Aripiprazole

Dosis (mg/hr)

Gej. ekstrapiramidal

150-1600
100-900
8-48
5-60
5-60
2-100
2-6
25-100
75-100
200-1600
2-9
50-400
10-20
10-20

++
+
+++
+++
+++
++++
++
+
+
+
+
+
+

Pemilihan obat antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang


dominan dan efek samping obat.

Penanganan Gejala Ektrapiramidal (EPS)


Pedoman umum :
1. Gejala ekstrapiramidal dapat sangat menekan sehingga banyak ahli
menganjurkan terapi profilaktik. Gejala ini penting terutama pada pasien
dengan riwayat EPS atau para pasien yang mendapat neuroleptik poten
dosis tinggi.
2. Medikasi anti-EPS mempunyai efek sampingnya sendiri yang dapat
menyebabkan

komplians

yang

buruk.

Antikolinergik

umumnya

menyebabkan mulut kering, penglihatan kabur, gangguan ingatan,


konstipasi dan retensi urine. Amantadin dapat mengeksaserbasi gejala
psikotik.

13

3. Umumnya disarankan bahwa suatu usaha dilakukan setiap enam bulan


untuk menarik medikasi anti-EPS pasien dengan pengawasan seksama
terhadap kembalinya gejala.
Efek samping yang irreversible : tardive dyskinesia (gerakan berulang
involunter pada : lidah, wajah, mulut/rahang dan anggota gerak, dimana waktu
tidur menghilang). Bila terjadi, dapat dilakukan penghentian obat anti-psikosis
secara perlahan-lahan. Obat pengganti yang baik adalah clozapine 50-100mg/h.
Obat anti-psikosis yang kuat (haloperidol) sering menimbulkan gejala
EPS. Tindakan mengatasi dengan tablet Trihexyphenidyl 3-4x3mg/hari, sulfas
atropine 0.5-0.75 mg(im).
Pedoman Khusus :
a. Reaksi Distonia Akut (ADR)
Medikasi antikolinergik merupakan terapi ADR bentuk primer dan
praterapi dengan salah satu obat-obat ini biasanya mencegah terjadinya
penyakit. Paduan obat yang umum meliputi benztropin (Congentin) 0,5-2
mg dua kali sehari (BID) sampai tiga kali sehari (TID) atau
triheksiphenidil (Artane) 2-5 mg TID. Benztropin mungkin lebih efektif
daripada triheksiphenidil pada pengobatan ADR dan pada beberapa
penyalah guna obat triheksiphenidil karena rasa melayang yang mereka
dapat daripadanya. Seorang pasien yang ditemukan dengan ADR berat,
akut harus diobati dengan cepat dan secara agresif. Bila dilakukan jalur
intravena (IV) dapat diberikan benztropin 1 mg dengan dorongan IV.
Umumnya lebih praktis untuk memberikan difenhidramin (Benadryl) 50
mg intramuskuler (IM) atau bila obat ini tidak tersedia gunakan benztropin
2 mg IM. Remisi ADR dramatis terjadi dalam waktu 5 menit.
b. Akatisia
Pengobatan akatisia mungkin sangat sulit dan sering kali memerlukan
banyak eksperimen. Agen yang paling umum dipakai adalah antikolinergik
dan amantadin (Symmetrel); obat ini dapat juga dipakai bersama.
Penelitian terakhir bahwa propanolol (Inderal) sangat efektif dan

14

benzodiazepine, khususnya klonazepam (klonopin) dan lorazepam


(Ativan) mungkin sangat membantu.
c. Sindrom Parkinson
Aliran utama pengobatan sindrom Parkinson terinduksi neuroleptik terdiri
atas agen antikolinergik. Amantadin juga sering digunakan . Levodopa
yang dipakai pada pengobatan penyakit Parkinson idiopatik umumnya
tidak efektif akibat efek sampingnya yang berat.
d. Tardive Diskinesia
Pencegahan melalui pemakaian medikasi neuroleptik yang bijaksana
merupakan pengobatan sindrom ini yang lebih disukai. Ketika ditemukan
pergerakan involunter dapat berkurang dengan peningkatan dosis medikasi
antipsikotik tetapi ini hanya mengeksaserbasi masalah yang mendasarinya.
Setelah permulaan memburuk, pergerakan paling involunter akan
menghilang atau sangat berkurang, tetapi keadaan ini memerlukan waktu
sampai dua tahun. Benzodiazepine dapat mengurangi pergerakan
involunter pada banyak pasien, kemungkinan melalui mekanisme asam
gamma-aminobutirat-ergik. Baclofen (lioresal) dan propanolol dapat juga
membantu pada beberapa kasus. Reserpin (serpasil) dapat juga
digambarkan sebagai efektif tetapi depresi dan hipotensi merupakan efek
samping yang umum. Lesitin lemak kaya kolin sangat bermanfaat menurut
beberapa peneliti, tetapi kegunaannya masih diperdebatkan. Pengurangan
dosis umumnya merupakan perjalanan kerja terbaik bagi pasien yang
tampaknya mengalami diskinesia tardive tetapi masih memerlukan
pengobatan.

Penghentian

pengobatan

dapat

memacu

timbulnya

dekompensasi yang berat, sementara pengobatan pada dosis efektif


terendah dapat mempertahankan pasien sementara meminimumkan risiko,
tetapi kita harus pasti terhadap dokumen yang diperlukan untuk
penghentian pengobatan.

PEMBAHASAN

15

Pada pasien, diketahui terdapat riwayat skizofrenia selama 9 tahun, sejak


tahun 2004, dimana pasien memiliki seorang kakak perempuan yang mengidap
gangguan jiwa. Pada bulan Juni tahun 2004, pasien masuk RSKD AHM dengan
diagnosis pasien adalah Skizofrenia Residual. Lalu masuk lagi pada bulan
November 2011 dengan diagnosis psikotik gelandangan dengan retardasi mental
dan pulang dijemput dinsos Balikpapan pada bulan Februari tahun 2012. Lalu
pada bulan September tahun 2012, pasien kembali ke RSKD AHM dengan
diagnosis Skizofrenia. Pada bulan Maret tanggal 15 tahun 2013, pasien kembali
masuk ke RSKD AHM Samarinda dengan diagnosis skizofrenia.
Disaat pasien sampai di IGD RSKD AHM pada tanggal 15 Maret 2013,
pasien tidak kooperatif selama proses pemeriksaan. Emosi pasien labil, dan tidak
peduli

dengan

sekitar. Setelah

didiagnosis

sebagai

skizofrenia,

pasien

ditatalaksana dengan Haldol 5mg 2x1 dan Diazepam tab 5mg 2x1.
Pada tanggal 16 Maret 2013, saat follop up pasien, pasien lebih tenang dan
kooperatif serta sempat menyebutkan nama pasien. Namun pada pemeriksaan
didapatkan

tremor

pada

kedua

tangan

pasien.

Pasien

lalu

diberikan

penatalaksanaan Haldol 2x5mg, THD 2x5mg dan CPZ 0-0-100mg serta


dipindahkan ke ruang belibis.
Pada tanggal 18 Maret, pasien mulai menunjukkan gerakan-gerakan
involunter pada wajah, mulut dan anggota gerak sehingga dokter jaga
mengonsulkan kondisi pasien kepada dokter spesialis. Saran penatalaksanaan oleh
dokter spesialis adalah THD 2x5mg, Vitamin C 2x1, Diazepam 2x5mg dan stop
obat antipsikotik.
Pada tanggal 20 Maret 2013, pasien masih tetap menunjukkan gerakan
tardiv diskinesia. Penatalaksanaan yang diberikan adalah THD 2x5mg, Vitamin C
2x1, Diazepam 5mg 0-0-1.
Kondisi pasien pada tanggal 25 Maret 2013, pasien tenang dan tetap
menunjukkan gerakan-gerakan involunter.

PENUTUP
Telah dilaporkan kasus seseorang wanita berusia 28 tahun datang ke poli
Rumah Sakit Jiwa Atma Husada Mahakam tanggal 19 Maret 2013 dengan
16

diagnosis axis I Skizofrenia Paranoid dan Gangguan Mental dan Perilaku karena
zat psikoaktif serta axis II masalah keluarga. Axis V pasien menunjukkan nilai
GAF 70-61.

DAFTAR PUSTAKA
1. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Pedoman
Diagnosis

Gangguan Jiwa di Indonesia III (PPDGJ III), catakan

pertama,.Jakarta, 1993;105-11, 131-34.


2. World Health Organization, The ICD-10 Classification of Mental and
Behavioural Disorders, Clinical Descriptions and Diagnostic Guidelines,
Geneva. 1992; 86-90, 105-7.
3. Kaplan and Sadocks, Synopsis of Psychiatry, 8th ed.; 456-89, 508-11.
4. World

Health

Organization,

Schizophrenia,

General

Information

in

Management of Mental Disorders, 2nd ed.;318-22.

17

Anda mungkin juga menyukai