Anda di halaman 1dari 274

TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PENANGANAN AQUARIUM
IKAN HIAS

1. PENDAHULUAN
Sejalan dengan lajuna pembangunan Kota Jakarta, maka perkembangan
perikananpun mengalami peningkatan yang sangat pesat. Hal ini dimungkinkan
karena pada hakekatnya Kota Jakarta merupakan Wilayah konsumen yang
potensil, sehingga sangat mendukung dalam usaha pemasarannya.

Mengamati kegiatan usaha Perikanan khususnya ikan hias tentunya tak dapat
dipisahkan dengan sarana penunjang yang yang tak kalah pentingnya dengan
usaha ikan hias itu sendiri yaitu "AQUARIUM" karena betapun indahnya ikan
hias apabila tidak ditunjang dengan penampilan aquarium serta dekorasi yang
memadai, maka sesungguhnya nilai keindahan itu telah berkurang dan ini hanya
bisa dicapai melalui penanganan yang tekun dan kontinue.

Untuk mengembangkan usaha ikan hias diwilayah DKI Jakarta dilaksanakan


melalui Pusat Promosi Hasil-hasil Perikanan yang beralokasi di Jalan Sumenep,
Jakarta Pusat.

2. PERLENGKAPAN AQUARIUM
1) Aquarium dalam keadaan bersih dan tidak bocor

2) Tanaman hdiup secukupnya

3) Bahan-bahan dekorasi: pasir bersih (tidak mengandung lumpur), koraltex,


akar kayu dan batu karang

4) Pompa udara (aerator) sebagai alat penambah oksigen dalam air

5) Lampu neon ultra violet pada malam hari dapat menimbulkan rasa alami
yang mempesona

6) Filter yang dihubungkan dengan aerator berfungsi sebagai penyaring kotoran


dalam air

7) Peralatan lainnya: slang plastik, serokan dan pembersihkaca.

3. TEKNIS DEKORASI AQUARIUM

Hal. 1/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

1) Pasir dimasukkan kedalam aquarium lalu diatur/dipadat sambil diberi


percikan air secukupnya.

2) Kemudian tanaman air ditanam dengan cara dibenamkan kedalam pasir


(tanaman yang lebih tinggi diletakkan dibagian belakang)

3) Setelah diperkirakan siap untuk didekor, maka sebelum diisi air permukaan
tanaman dan pasir ditutup dengan kertas koran atau plastik. Hal ini dilakukan
dengan maksud agar tekanan air tidak merusak tanaman dan tidak
menimbulkan kekeruhan.

4) Air dalam aqurium ditunggu sampai kotorannya mengendap, lalu ikan


dimasukkan (diusahakan jenis ikan yang tidak saling memangsa)

5) Tahap selanjutnya aerator dipasang sesuai ukuran aquarium, tapi bila


tersedia banyak tanaman hidup, aerator cukup dipasang pada malam hari
saja

6) Aquarium diletakkan ditempat yang datang agar tekanan air merata dan
diusahakan jangan terlalu banyak terkena sinar matahari karena akan
mempercepat tumbuhnya lumut.

4. MAKANAN IKAN
1) Makanan ikan hias air tawar terdiri dari 2 macam yaitu: makanan alami
seperti kutu air (Moina) cacing rambut (Fubifek, Chironomus) dan lawa
nyamuk (cuk).

2) Makanana alami harus dibersihkan/dibilas terlebih dahulu dengan air bersih


sebelum di berikan pada ikan dan satu hari cukup 1 (satu) kali saja

3) Makanan buatan: wafer, tahu, darah ayam/kerbau/marus

4) Makanan buatan sebaiknya diberikan pada saat tidak ada makanan alami

5) Pemberian makanan diusahakan jangan sampai tersisa karena dapat


menimbulkan pembusukan/keracunan

5. PENUTUP
Ada beberapa manfaat yang dapat dipetik dari keindahan aquarium ikan hias
antara lain:
1) dapat mendidik rasa cinta alami

Hal. 2/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) merupakan hiburan yang dapat mengendorkan urat syaraf serta


menimbulkan rasa tentram di rumah
3) menambah keindahan ruangan dan tidak memerlukan tempat yang luas
4) merupakan usaha sambilan yang dapat menambah penghasilan keluarga
5) menjaga kelestarian sumber daya perikanan

6. SUMBER
Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta, 1996

7. KONTAK HUBUNGAN
Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Perikanan

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 3/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN BELUT


( Synbranchus )

1. SEJARAH SINGKAT
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat
memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka
memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di
rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut
mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan
menjadi salah satu komoditas ekspor.

2. SENTRA PERIKANAN
Sentra perikanan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong,
Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada
di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru
merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai
pos penampungan.

3. JENIS
Klasifikasi belut adalah sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Synbranchoidae

Hal. 1/ 6
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Famili : Synbranchidae
Genus : Synbranchus
Species : Synbranchus bengalensis Mc clell (belut rawa); Monopterus
albus Zuieuw (belut sawah); Macrotema caligans Cant (belut
kali/laut)

Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut
kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut
sawah.

4. MANFAAT
Manfaat dari budidaya belut adalah:
1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3) Sebagai obat penambah darah.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis
yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran
rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah
hujan tidak ada batasan yang spesifik.
2) Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan
tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun.
3) Suhu udara/temperatur optimal untukpertumbuhan belut yaitu berkisar antara
25-31 derajat C.
4) Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan
osigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm.
Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih
kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan
antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih
belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan
kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang
masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut

Hal. 2/ 6
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan


belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.

2) Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya


dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.

3) Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan


(ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut
remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam
belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100
ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya
tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran
3-50 cm.

4) Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan


dasar bak tidak perlu diplester.

5) Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada,
alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan
lainnya.

6) Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk


kandang, sekam padi dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong
untuk lapisan pertama diberi sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun
dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan
ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan
organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan
kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik
+ air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media
tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah.
Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam.

6.2. Penyiapan Bibit

1) Menyiapkan Bibit

a. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang
berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan
masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
b) Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit
diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
c. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan.
Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm
dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
d. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor
pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu
pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut

Hal. 3/ 6
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut
berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk
ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut
dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam
pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut
tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa
diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau
empat bulan.

2) Perlakuan dan Perawatan Bibit

Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih
selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin
agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik
lagi apabila di air yang mengalir.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

1) Pemupukan

Jerami yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang


subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik
utama.

2) Pemberian Pakan

Bila diperlukan bisa diberi makanan tambahan berupa cacing, kecoa, ulat
besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.

3) Pemberian Vaksinasi

4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak

Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam


agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

7. HAMA DAN PENYAKIT


7.1. Hama

1) Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu
kehidupan belut.
2) Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut
antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan
ikan gabus.

Hal. 4/ 6
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering


menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak
banyak diserang hama.

7.2. Penyakit

Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh


organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang
berukuran kecil.

8. PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :
1) Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
2) Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi
(besarnya/panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).

Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan


peralatan antara lain: bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing
atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.

9. PASCAPANEN
Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar,
penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar
belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga
mempunyai jaringan pemasaran yang luas.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada
tahun 1999 adalah sebagai berikut:

1) Biaya Produksi
a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,- Rp. 225.000,-
c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,- Rp. 45.000,-
d. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,-

2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,- Rp. 750.000,-

Hal. 5/ 6
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Keuntungan Rp. 422.000,-

4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Budidaya ikan belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran


mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan
ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka
akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.

11. DAFTAR PUSTAKA


1) Satwono, B. 1999. Budidaya Belut dan Tidar. Penerbit Penebar Swadaya
(Anggota IKAPI). Jakarta.
2) Ronni Hendrik S. 1999. Budidaya Belut. Penerbit Bhratara, Jakarta

12. KONTAK HUBUNGAN


Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Editor : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 6/ 6
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN IKAN BANDENG

1. PENDAHULUAN
Benih bandeng (nener) merupakan salah satu sarana produksi yang utama
dalam usaha budidaya bandeng di tambak. Perkembangan Teknologi budidaya
bandeng di tambakdirasakan sangat lambat dibandingkan dengan usaha
budidaya udang. Faktor ketersediaan benih merupakan salah satu kendala
dalam menigkatkan teknologi budidaya bandeng.

Selama ini produksi nener alam belum mampu untuk mencukupi kebutuhan
budidaya bandeng yang terus berkembang, oleh karena itu peranan usaha
pembenihan bandeng dalam upaya untuk mengatasi masalah kekurangan
nener tersebut menjadi sangat penting.

Tanpa mengabaikan arti penting dalam pelestarian alam, pengembangan


wilayah, penyediian dukungan terhadap pembangunan perikanan khususnya
dan pembangunan nasional umumnya, kegiatan pembenihan bandeng di
hatchery harus diarahkan untuk tidak menjadi penyaing bagi kegiatan
penangkapan nener di alam. Diharapkan produksi benih nener di hatchery
diarahkan untuk mengimbangi selisih antara permintaan yang terus meningkat
dan pasok penangkapan di alam yang diduga akan menurun.

2. PENGERTIAN
Teknologi produksi benih di hatchery telah tersedia dan dapat diterapkan baik
dalam suatu Hatchery Lengkap (HL) maupun Hatchery Sepenggal (HS) seperti
Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT). Produksi nener di hatchery sepenggal
dapat diandalkan. Karenaresiko kecil, biaya rendah dan hasil memadai.
Hatchery sepenggal sangat cocok dikembangkan di daerah miskin sebagai

Hal. 1/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

salah satu upaya penaggulangan kemiskinan bila dikaitkan dalam pola bapak
angkat dengan hatchery lengkap (HL). Dilain pihak, hatchery lengkap (HL)
dapat diandalkan sebagai produsen benih bandeng (nener) yang bermutu serta
tepat musim, jumlah dan harga.

Usaha pembenihan bandeng di hatchery dapat mengarahkan kegiatan


budidaya menjadi kegiatan yang mapan dan tidak terlalu dipengaruhi kondisi
alam serta tidak memanfaatkan sumber daya secara berlebihan. Dalam
siklusnya yang utuh, kegiatan budidaya bandeng yang mengandalkan benih
hatchery bahkan dapat mendukung kegiatan pelestarian sumberdaya baik
melalui penurunan terhadap penyian-nyian sumber daya benih species lain
yang biasa terjadi pada penangkapan nener di alam maupun melalui penebaran
di perairan pantai (restocking).

Disisi lain, perkembangan hatchery bandeng di kawasan pantai dapat dijadikan


titk tumbuh kegiatan ekonomi dalam rangka pengembangan wilayah dan
penyerapan tenaga kerja yang mengarah pada pembangunan berwawasan
lingkungan. Pada giliranya, tenaga yang terserap di hatchery itu sendiri selain
berlaku sebagai produsen juga berlaku sebagai kondumen bagi kebutuhan
kegiatan sehari-hari yang dapat mendorong kegiatan ekonomi masyarakat
sekitar hatchery.

3. PERSYARATAN LOKASI
Pemilihan tempat perbenihan bandeng harus mempertimbangkan aspek-aspek
yang berkaitan dengan lokasi.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persyaratan lokasi adalah sebagai


berikut.

1) Status tanah dalam kaitan dengan peraturan daerah dan jelas sebelum
hatchery dibangun.

2) Mampu menjamin ketrsediaan air dan pengairan yang memenuhi


persyaratan mutu yang ditentukan;
- Pergantian air minimal; 200 % per hari.
- Suhu air, 26,5-31,0 0C.
- PH; 6,5-8,5.
- Oksigen larut; 3,0-8,5 ppm.
- Alkalinitas 50-500ppm.
- Kecerahan 20-40 cm (cahaya matahari sampai ke dasar pelataran).
- Air terhindar dari polusi baik polusi bahan organik maupun an organik.

3) Sifat-sifat perairan pantai dalam kaitan dengan pasang surut dan pasang
arus perlu diketahui secara rinci.

Hal. 2/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4) Faktor-faktor biologis seperti kesuburan perairan, rantai makanan,


speciesdominan, keberadaan predator dan kompretitor, serta penyakit
endemik harus diperhatikan karena mampu mengakibatkan kegagalan
proses produksi.

4. SARANA DAN PRASARANA


1) Sarana Pokok

Fasilitas pokok yang dimanfaatkan secara langsung untuk kegiatan produksi


adalah bak penampungan air tawar dan air laut, laboratorium basah, bak
pemeliharaa larva, bak pemeliharaan induk dan inkubasi telur serta bak
pakan alami.

a. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut.

Bak penampungan air (reservoir) dibangun pada ketinggian sedemikian


rupa sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak
dan sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih).

Sistim pipa pemasukkan dan pembuangan air perlu dibangun pada bak
pemelihara induk, pemeliharaan larva, pemeliharan pakan alami,
laboratorium kering dan basah serta saran lain yang memerlukan air tawar
dan air laut serta udara (aerator).

Laboratorium basah sebaiknya dibangun berdekatan dengan bangunan


pemeliharaan larva dan banguna kultur murni plankton serta diatur
menghadap ke kultur masal plankton dan dilengkapi dengan sistim
pemipaan air tawar, air laut dan udara.

b. Bak Pemeliharaan Induk

Bak pemeliharaan induk berbentuk empat persegi panjang atau bulat


dengan kedalaman lebih dari 1 meter yang sudut-sudutnya dibuat
lengkung dan dapat diletakkan di luar ruangan langsung menerima
cahaya tanpa dinding.

c. Bak Pemeliharan Telur

Bak perawatan telur terbuat dari akuarium kaca atau serat kaca dengan
daya tampung lebih dari 2.000.000 butir telur pada kepadatan 10.000 butir
per liter.

Hal. 3/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

d. Bak Pemeliharaan Larva

Bak pemeliharaan larva yang berfungsi juga sebagai bak penetasan telur
dapat terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton, sebaiknya
berwarna agak gelap, berukuran (4x5x1,5) m3 dengan volume 1-10 ton
berbentuk bulat atau bujur sangkar yang sudut-sudutnya dibuat lengkung
dan diletakkan di dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding
balik. Untuk mengatasi penurunan suhu air pada malam hari, bak larva
diberi penutup berupa terval plastik untuk menyangga atap plastik, dapat
digunakan bentangan kayu/bambu.

Gambar 1. Bak Pemeliharaan Larva

Hal. 4/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

e. Bak Pemeliharaan Makanan Alami, Kultur Plankton Chlorella sp dan


Rotifera.

Bak kultur plankton chlorella sp disesuaikan dengan volume bak


pemeliharaan larva yang terbuat dari serat kaca maupun konstruksi beton
ditempatkan di luar ruangan yang dapat langsung mendapat cahaya
matahari. Bak perlu ditutup dengan plastik transparan pada bagian
atasnya agar cahaya juga bisa masuk ke dalam bak untuk melindungi dari
pengaruh air hujan.

Kedalamam bak kultur chlorella sp harus diperhitungkan sedemikian rupa


sehingga penetrasi cahaya matahari dapat dijamin mencapai dasar tangki.
Kedalaman air dalam tangki disarankan tidak melebihi 1 meter atau 0,6 m,
ukuran bak kultur plankton chlorella sp adalah (20 x 25 x 0,6)m3.

Bak kultur rotifera terbuat dari serat kaca maupun konstruksi baton yang
ditempatkan dalam bangunan beratap tembus cahaya tanpa dinding.
Perbandingan antara volume bak chlorella, rotifera dan larva sebaliknya
5:5:1.

2) Sarana Penunjang

Untuk menunjang perbenihan sarana yang diperlukan adalah laboratorium


pakan alami, ruang pompa,air blower, ruang packking, ruang genset,
bengkel, kendaraan roda dua dan roda empat serta gudang (ruang
pentimpanan barang-barang opersional) harus tersedia sesuai kebutuhan
dan memenuhi persyaratan dan ditata untuk menjamin kemudahan serta
keselamatan kerja.
a. Laboratorium pakan alami seperti laboratorium fytoplankton berguna
sebagai tempat kultur murni plankton yang ditempatkan pada lokasi dekat
hatchery yang memerlukan ruangan suhu rendah yakni 22~25 0C.
b. Laboratorium kering termasuk laboratorium kimia/mikrobialogi, sebaiknya
dibangun berdekatan dengan bak pemeliharaan larva berguna sebagai
bangunan stok kultur dan penyimpanan plankton dengan suhu sekitar
22~25 0C serta dalam ruangan.

Untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemasaran hasil dilengkapi dengan


fasilitas ruang pengepakan yang dilengpaki dengan sistimpemipaan air tawar
dan air laut, udara serta sarana lainnya seperti peti kedap air, kardus, bak
plastik, karet dan oksigen murni. Alat angkut roda dua dan empat yang
berfungsi untuk memperlancar pekerjaan dan pengangkutan hasil benih
harus tersedia tetap dalam keadaan baik dan siap pakai.

Untuk pembangkit tenaga listrik atau penyimpanan peralatan dilengkapi


dengan pasilitas ruang genset dan bengkel, ruang pompa air dan blower,
ruang pendingin dan gudang.

Hal. 5/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Sarana Pelengkap

Sarana pelengkap dalam kegiatan perbenihan terdiri dari ruang kantor,


perpustakaan, alat tulis menulis, mesin ketik, komputer, ruang serbaguna,
ruang makan, ruang pertemuan, tempat tinggal staf dan karyawan.

5. TEKNIK PEMELIHARAN
1) Persiapan Opersional.

a. Sarana yang digunakan memenuhi persyaratan higienis, siap dipakai


dan bebas cemaran. Bak-bak sebelum digunakan dibersihkan atau dicuci
dengan sabun detergen dan disikat lalu dikeringkan 2-3 hari.
Pembersihan bak dapat juga dilakukan dengan cara membasuh bagian
dalam bak kain yang dicelupkan ke dalam chlorine 150 ppm (150 mil
larutan chlorine 10% dalam 1 m3 air) dan didiamkan selama 1~2 jam dan
dinetralisir dengan larutan Natrium thiosulfat dengan dosis 40 ppm atau
desinfektan lain yi formalin 50 ppm. Menyiapkan suku cadang seperti
pompa, genset dan blower untuk mengantisipasi kerusakan pada saat
proses produksi.
b. Menyiapkan bahan makanan induk dan larva pupuk fytoplankton, bahan
kimia yang tersedia cukup sesuai jumlah dan persyaratan mutu untuk
tiap tahap pembenihan.
c. Menyiapkan tenaga pembenihan yang terampil, disiplin dan
berpengalaman dan mampu menguasai bidang kerjanya.

2) Pengadaan Induk.

a. Umur induk antara 4~5 tahun yang beratnya lebih dari 4 kg/ekor.
b. Pengangkutan induk jarak jauh menggunakan bak plastik. Atau serat
kaca dilengkapi aerasi dan diisi air bersalinitas rendah (10~15)ppt, serta
suhu 24~25 0C. Atau serat kaca dilengkapi aerasi dan diisi air
barsalinitas rendah (10~15) ppt, serta suhu 24~25 0C.
c. Kepadatan induk selama pengangkutan lebih dari 18 jam, 5~7 kg/m3 air.
Kedalaman air dalam bak sekitar 50 cm dan permukaan bak ditutup
untuk mereduksi penetrasi cahaya dan panas.
d. Aklimatisasi dengan salinitas sama dengan pada saat pengangkutan
atau sampai selaput mata yang tadinya keruh menjadi bening kembali.
Setelah selesai aklimatisasi salinitas segera dinaikan dengan cara
mengalirkan air laut dan mematikan pasok air tawar.

Hal. 6/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Pemeliharaan Induk

a. Induk berbobot 4~6 kg/ekor dipelihara pada kepadatan satu ekor per 2~4
m3 dalam bak berbentuk bundar yang dilengkapi aerasi sampai
kedalaman 2 meter.
b. Pergantian air 150 % per hari dan sisa makanan disiphon setiap 3 hari
sekali. Ukuran bak induk lebih besar dari 30 ton.
c. Pemberian pakan dengan kandungan protein sekitar 35 % dan lemak
6~8 % diberikan 2~3 % dari bobot bio per hari diberikan 2 kali per hari
yaitu pagi dan masa sore.
d. Salinitas 30~35 ppt, oksigen terlarut . 5 ppm, amoniak < 0,01 ppm, asam
belerang < 0,001 ppm, nirit < 1,0 ppm, pH; 7~85 suhu 27~33 0C.

4) Pemilihan Induk

a. Berat induk lebih dari 5 kg atau panjang antara 55~60 cm, bersisik
bersih, cerah dan tidak banyak terkelupas serta mampu berenang cepat.
b. Pemeriksaan jenis kelamin dilakukan dengan cara mem-bius ikan
dengan 2 phenoxyethanol dosis 200~300 ppm. Setelah ikan melemah
kanula dimasukan ke-lubang kelamin sedalam 20~40 cm tergantung dari
panjang ikan dan dihisap. Pemijahan (striping) dapat juga dilakukan
terutama untuk induk jantan.
c. Diameter telur yang diperoleh melalui kanulasi dapat digunakan untuk
menentukan tingkat kematangan gonad. Induk yang mengandung telur
berdiameter lebih dari 750 mikron sudah siap untuk dipijahkan.
d. Induk jantan yang siap dipijahkan adalah yang mengandung sperma
tingkat III yaitu pejantan yang mengeluarkan sperma cupuk banyak
sewaktu dipijat dari bagian perut kearah lubang kelamin.

5) Pematangan Gonad

a. Hormon dari luar dapat dilibatkan dalam proses metabolisme yang


berkaitan dengan kegiatan reproduksi dengan cara penyuntikan dan
implantasi menggunakan implanter khusus. Jenis hormon yang lazim
digunakan untuk mengacu pematangan gonad dan pemijahan bandeng
LHRH –a, 17 alpha methiltestoteron dan HCG.
b. Implantasi pelet hormon dilakukan setiap bulan pada pagi hari saat
pemantauan perkembangan gonad induk jantan maupun betina
dilakukan LHRH-a dan 17 alpha methiltestoteren masing-masing dengan
dosis 100~200 mikron per ekor (berat induk 3,5 sampai 7 kg).

6) Pemijahan Alami.

a. Ukuran bak induk 30-100 ton dengan kedalaman 1,5-3,0 meter


berbentuk bulat dilengkapi aerasi kuat menggunakan “diffuser” sampai
dasar bak serta ditutup dengan jaring.
b. Pergantian air minimal 150 % setiap hari.

Hal. 7/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Kepadatan tidak lebih dari satu induk per 2-4 m3 air.


d. Pemijahan umumnya pada malam hari. Induk jantan mengeluarkan
sperma dan induk betina mengeluarkan telur sehingga fertilisasi terjadi
secara eksternal.

7) Pemijahan Buatan.

a. Pemijahan buatan dilakukan melalui rangsangan hormonal. Hormon


berbentuk cair diberikan pada saat induk jantan dan betina sudah
matang gonad sedang hormon berbentuk padat diberikan setiap bulan
(implantasi).
b. Induk bandeng akan memijah setelah 2-15 kali implantasi tergantung dari
tingkat kematangan gonad. Hormonyang digunakan untuk implantasi
biasanya LHRH –a dan 17 alpha methyltestoterone pada dosis masing-
masing 100-200 mikron per ekor induk (> 4 Kg beratnya).
c. Pemijahan induk betina yang mengandung telur berdiameter lebih dari
750 mikron atau induk jantan yang mengandung sperma tingkat tiga
dapat dipercepat dengan penyuntikan hormon LHRH- a pada dosis
5.000-10.000IU per Kg berat tubuh.
d. Volume bak 10-20 kedalaman 1,5-3,0 meter berbentuk bulat terbuat dari
serat kaca atau beton ditutup dengan jaring dihindarkan dari kilasan
cahaya pada malam hari untuk mencegah induk meloncat keluar tangki.

8) Penanganan Telur.

a. Telur ikan bandeng yang dibuahi berwarna transparan, mengapung pada


salinitas > 30 ppt, sedang tidak dibuahi akan tenggelam dan berwarna
putih keruh.
b. Selama inkubasi, telur harus diaerasi yang cukup hingga telur pada
tingkat embrio. Sesaat sebelum telur dipindahkan aerasi dihentikan.
Selanjutnya telur yang mengapung dipindahkan secara hati-hati ke
dalam bak penetasan/perawatan larva. Kepadatan telur yang ideal dalam
bak penetasan antara 20-30 butir per liter.
c. Masa kritis telur terjadi antara 4-8 jam setelah pembuahan. Dalam
keadaan tersebut penanganan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk
menghindarkan benturan antar telur yang dapat mengakibatkan
menurunnya daya tetas telur. Pengangkatan telur pada fase ini belum
bisa dilakukan.
d. Setelah telur dipanen dilakukan desinfeksi telur yang menggunakan
larutan formalin 40 % selama 10-15 menit untuk menghindarkan telur
dari bakteri, penyakit dan parasit.

9) Pemeliharaan Larva.

a. Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran, suhu 27-310
C salinitas 30 ppt, pH 8 dan oksigen 5-7 ppm diisikan kedalam bak tidak

Hal. 8/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

kurang dari 100 cm yang sudah dipersiapkan dan dilengkapi sistem


aerasi dan batu aerasi dipasang dengan jarak antara 100 cm batu aerasi.
b. Larva umur 0-2 hari kebutuhan makananya masih dipenuhi oleh kuning
telur sebagai cadangan makanannya. Setelah hari kedua setelah
ditetaskan diberi pakan alami yaitu chlorella dan rotifera. Masa
pemeliharaan berlangsung 21-25 hari saat larva sudah berubah menjadi
nener.
c. Pada hari ke nol telur-telur yang tidak menetes, cangkang telur larva
yang baru menetas perlu disiphon sampai hari ke 8-10 larva dipelihara
pada kondisi air stagnan dan setelah hari ke 10 dilakukan pergantian air
10% meningkat secara bertahap sampai 100% menjelang panen.
d. Masa kritis dalam pemeliharaan larva biasanya terjadi mulai hari ke 3-4
sampai ke 7-8. Untuk mengurangi jumlah kematian larva, jumlah pakan
yang diberikan dan kualitas air pemeluharan perlu terus dipertahankan
pada kisaran optimal.
e. Nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12-
16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25
hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa.

10) Pemberian Makanan Alami

a. Menjelang umur 2-3 hari atau 60-72 jam setelah menetas, larva sudah
harus diberi rotifera (Brachionus plicatilis) sebagai makanan sedang air
media diperkaya chlorella sp sebagai makanan rotifera dan pengurai
metabolit.
b. Kepadatan rotifera pada awal pemberian 5-10 ind/ml dan meningkat
jumlahnya sampai 15-20 ind/ml mulai umur larva mencapai 10 hari.
Berdasarkan kepadatan larva 40 ekor/liter, jumlah chlorella : rotifer : larva
= 2.500.000: 250 : 1 pada awal pemeliharaan atau sebelum 10 hari
setelah menetas, atau = 5.000.000 : 500:1 mulai hari ke 10 setelah
menetas.
c. Pakan buatan (artificial feed) diberikan apabila jumlah rotifera tidak
mencukupi pada saat larva berumur lebih dari 10 hari (Lampiran VIII.2).
Sedangkan penambahan Naupli artemia tidak mutlak diberikan
tergantung dari kesediaan makanan alami yang ada.
d. Perbandingan yang baik antara pakan alami dan pakan buatan bagi larva
bandeng 1 : 1 dalam satuan jumlah partikel. Pakan buatan yang
diberikan sebaiknya berukuran sesuai dengan bukaan mulut larva pada
tiap tingkat umur dan mengandung protein sekitar 52%. Berupa. Pakan
buatan komersial yang biasa diberikan untuk larva udang dapat
digunakan sebagai pakan larva bandeng.

11) Budidaya Chlorella

Kepadatan chlorella yang dihasilkan harus mampu mendukung produksi


larva yang dikehendaki dalam kaitan dengan ratio volume yang digunakan
dan ketepatan waktu.

Hal. 9/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Wadah pemeliharaan chlorella skala kecil menggunakan botol kaca/plastik


yang tembus cahaya volume 3-10 liter yang berada dalam ruangan bersih
dengan suhu 23-25 0C, sedangkan untuk skala besar menggunkan wadah
serat kaca volume 0,5-20 ton dan diletakkan di luar ruangan sehingga
langsung dengan kepadatan ± 10 juta sel/m3.

Panen chlorella dilakukan dengan cara memompa, dialirkan ke tangki-


tangki pemeliharaan rotifera dan larva bandeng. Pompa yang digunakan
sebaiknya pompa benam (submersible) untuk menjamin aliran yang
sempurna. Pembuangan dan sebelumnya telah disiapkan wadah
penampungan serta saringan yang bermata jaring 60-70 mikron, berukuran
40x40x50 cm, di bawah aliran tersebut. Rotifer yang tertampung pada
saringan dipindahkan ke wadah lain dan dihitung kepadatanya per
milimeter.

12) Budidaya Rotifera.

Budidaya rotifera skala besar (HL) sebaiknya dilakukan dengan cara panen
harian yaitu sebagian hasil panen disisakan untuk bibit dalam budidaya
berikutnya (daily partial harvest). Sedangkan dilakukan dengan cara panen
penuh harian (batch harvest).

Kepadatan awal bibit (inokulum) sebaiknya lebih dari 30 individu/ml dan


jumlahnya disesuaikan dengan volume kultur, biasanya sepersepuluh dari
volume wadah.

Wadah pemeliharaan rotifer menggunakan tangki serat kaca volume 1-10


ton diletakkan terpisah jauh dari bak chrollela untuk mencegah
kemungkinan mencemari kultur chlorella dan sebaiknya beratap untuk
mengurangi intensitas cahaya matahari yang dapat mempercepat
pertumbuhan chlorella.

Keberhasilan budidaya rotifera berkaitan dengan ketersediaan chlorella


atau Tetraselmis yang merupakan makanannya. Sebaiknya perbandingan
jumlah chlorella dan rotifer berkisar 100.000 : 1 untuk mempertahankan
kepadatan rotifer 100 individu/ml. Pada kasus-kasus tertentu
perkembangan populasi rotifer dapat dipacu dengan penambahan air tawar
sampai 23 ppt. Apalagi jumlah chlorella tidak mencukupi dapat digunakan
ragi (yeast) pada dosis 30 mg/1.000.000 rotifer.

Panen rotifer dilakukan dengan cara membuka saluran pembuangan dan


sebelumnya telah disiapkan wadah penampungan serta jaringan yang
bermata jaring 60-70 mikro berukuran 40x40x50 cm, di bawah aliran
tersebut. Rotifer yang tertampung pada saringan dipindahkan ke wadah lain
dan dihitung kepadatannya per milimeter.

Hal. 10/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Pencatatan tentang perkembangan rotifer dilakukan secara teratur dan


berkala serta data hasil pengamatan dicatat untuk mengetahui
perkembangan populasi serta cermat dan untuk bahan pertimbangan
pemeliharaan berikutnya.

6. PANEN
1) Panen dan Distribusi Telur.

Dengan memanfaatkan arus air dalam tangki pemijahan, telur yang telah
dibuahi dapat dikumpulkan dalam bak penampungan telur berukuran
1x5,5x0,5 m yang dilengkapi saringan berukuran 40x40x50 cm, biasa disebut
egg collector, yang ditempatkan di bawah ujung luar saluran pembuangan.

Pemanenan telur dari bak penampungan dapat dilakukan dengan


menggunakan plankton net berukuran mata 200-300 mikron dengan cara
diserok. Telur yang terambil dipindahkan ke dalam akuarium volume 30-100
liter, diareasi selama 15-30 menit dan didesinfeksi dengan formalin 40 %
pada dosis 10 ppm selama 10-15 menit sebelum diseleksi.

Sortasi telur dilakukan dengan cara meningkatkan salinitas air sampai 40 ppt
dan menghentikan aerasi. Telur yang baik terapung atau melayang dan yang
tidak baik mengendap. Persentasi telur yang baik untuk pemeliharaan
selanjutnya harus lebih dari 50 %. Kalau persentasi yang baik kurang dari 50
%, sebaiknya telur dibuang.

Telur yang baik hasil sortasi dipindahkan kedalam pemeliharaan larva atau
dipersiapkan untuk didistribusikan ke konsumen yang memerlukan dan
masih berada pada jarak yang dapat dijangkau sebelum telur menetas ( ± 12
jam).

2) Distribusi Telur.

Pengangkutan telur dapat dilakukan secara tertutup menggunakan kantong


plastik berukuran 40x60 cm, dengan ketebalan 0,05 – 0,08 mm yang diisi air
dan oksigen murni dengan perbandingan volume 1:2 dan dipak dalam kotak
styrofoam. Makin lama transportasi dilakukan disarankan makin banyak
oksigen yang harus ditambahkan.

Kepadatan maksimal untuk lama angkut 8 – 16 jam pada suhu air antara 20
– 25 0C berkisar 7.500-10.000 butir/liter. Suhu air dapat dipertahankan tetap
rendah dengan cara menempatkan es dalam kotak di luar kantong plastik.
Pengangkutan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk mencegah telur
menetas selama transportasi.

Hal. 11/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Ditempat tujuan, sebelum kantong plastik pengangkut dibuka sebaiknya


dilakukan penyamaan suhu air lainnya. Apabila kondisi air dalam kantong
dan diluar kantong sama maka telur dapat segera dicurahkan ke luar.

3) Panen dan Distribusi Nener.

Pemanenen sebaiknya diawali dengan pengurangan volume air, dalam


tangki benih kemudian diikuti dengan menggunakan alat panen yang dapat
disesuaikan dengan ukuran nener, memenuhi persyaratan hygienis dan
ekonomis. Serok yang digunakan untuk memanen benih harus dibuat dari
bahan yang halus dan lunak berukuran mata jaring 0,05 mm (gambar XI.3)
supaya tidak melukai nener.

Nener tidak perlu diberi pakan sebelum dipanen untuk mencegah


penumpukan metabolit yang dapat menghasilkan amoniak dan mengurangi
oksigen terlarut secara nyata dalam wadah pengangkutan.

4) Panen dan Distribusi Induk.

Panen induk harus diperhatikan kondisi pasang surut air dalam kondisi air
surut volume air tambak dikurangi, kemudian diikuti penangkapan dengan
alat jaring yang disesuaikan ukuran induk, dilakukan oleh tenaga yang
terampil serta cermat. Seser / serok penangkap sebaiknya berukuran mata
jaring 1 cm agar tidak melukai induk.

Pemindahan induk dari tambak harus menggunakan kantong plastik yang


kuat, diberi oksigen serta suhu air dibuat rendah supaya induk tidak luka dan
mengurangi stress.

Pengangkutan induk dapat menggunakan kantong plastik, serat gelas ukuran


2 m3, oksigen murni selama distribusi.

Kepadatan induk dalam wadah 10 ekor/m3 tergantung lama transportasi.

Suhu rendah antara 25 – 27 0C dan salinitas rendah antara 10-15 ppt dapat
mengurangi metabolisme dan stress akibat transportasi.

Aklimatisasi induk setelah transportasi sangat dianjurkan untuk mempercepat


kondisi induk pulih kembali.

7. ANALISA USAHA
Contoh Analisa Usaha Penbenihan Lengkap Bandeng.
Modal yang Diperlukan (Data April 1993).

Hal. 12/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

1) Biaya Investasi.

a. Tanah 1 Ha @ Rp 35.000,- Rp. 35.000.000,-


b. Konstruksi :
- 4 Bak Induk Vol. 100 Ton @ Rp 15.000,- Rp. 600.000,-
- 20 Bak larva vol 5 ton @ Rp 750,- Rp. 15.000.000,-
- 4 Bak plankton vol 5 ton @ Rp 750,- Rp. 3.000.000,-
- 5 Bak plankton vol 20 ton @ Rp 2.000 Rp. 10.000.000,-
- 4 Bak rotifera vol 5 @ Rp 750 Rp. 3.000.000,-
- 20 Botol plankton vol 10 liter @ Rp 3.000,- Rp. 60.000,-
- Bak bius vol 1 ton @ Rp 400,- Rp. 400.000,-
- 2 Bak penampungan induk vol 3 ton @ Rp 750,- Rp. 1.500.000,-
- 1 set alat lab. (mikroskop,timbangan,Induce,implamenter dll) Rp. 15.000.000,-
- 1 unit Genset & Instalasi Rp. 25.000.000,-
- 1 unit Pompa & instalasi Rp. 15.000.000,-
- 1 unit Blower & instalasi Rp. 5.000.000,-
- 1 unit AC Rp. 3.000.000,-
Jumlah Biaya Investasi Rp. 206.000.000,-
c. Prasarana Pokok.
- Bangunan tempat pemeliharaan larva Rp. 20.000.000,-
- Lab. Plankton (alga) Rp. 5.000.000,-
- Rumah karyawan Rp. 25.000.000,-
- Ruang panen Rp. 10.000.000,-
- Ruang makan Rp. 10.000.000,-
- Kantor Rp. 5.000.000,-
- Rumah jaga Rp. 1.000.000,-
- Rumah genset dan blower Rp. 1.000.000,-
- Gudang Rp. 5.000.000,-
- Refrigerator/Freezer Rp. 1.000.000,-
Jumlah Biaya Sarana Pokok Rp. 83.000.000,-

Jumlah Biaya Investasi (a+b+c) Rp. 288.000.000,-

2) Biaya Operasional per tahun.

a. Biaya tetap.
- Biaya perawatan 5% dari investasi Rp. 14.448.000,-
- Penyusutan 10% dari investasi Rp. 31.645.000,-
- Bunga modal 15% tahun Rp. 43.344.000,-
- Ijin usaha Rp. 2.000.000,-
Jumlah biaya tetap Rp 106.000.000,-

b. Biaya tidak tetap.


- Pengadaan induk 50 ekor @ Rp. 300.000,- Rp. 15.000.000,-
- Pakan, induk 3%x5x50x360x1.000 Rp. 2.700.000,-
- Larva, pupuk Rp. 5.000.000,-
- Hormon, bius, alkohol, formalin Rp. 15.000.000,-

Hal. 13/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- BBM : solar; 10x4x360xRp.380 Rp. 32.000.000,-


- Olie ; 8x4x12xRp 4.000,- Rp. 1.536.000,-
- Gaji karyawan :
* tenaga ahli 1x12x500 Rp. 6.000.000,-
* pekerja 10x12x100 Rp. 12.000.000,-
- Biaya tak terduga Rp. 10.000.000,-
Jumlah biaya tidak tetap. Rp 100.068.000,-

Jumlah total biaya operasional/tahun (a + b) Rp. 205.505.000,-

3 Penerimaan per tahun.

a. Produksi telur : 20 induk selama 6 bulan (20x300.000x6 bulan) =


36.000.000 butir telur.
b. Tingkat kelangsungan hidup 20 %. 7.200.000 benih
c. Harga jual/ekor Rp.20,- Rp. 144.000.000,-
d. Jumlah penerimaan selama 1 tahun Rp 288.000.000,-

4) Analisa Biaya dan Manfaat

a. Penerimaan kotor (III-II) Rp. 82.495.000,-


b. Pajak 10% dari penerimaan kotor Rp. 8.249.500,-
c. Perputaran uang sebelum dipotong Pajak (IV,1 & II A2/ Penyusutan Rp. 114.140.000,-
d. Pendapatan bersih= (IV.3-IV.2) Rp. 105.890.500,-
e. Jangka waktu pengambilan modal Investasi =2,7 tahun
f. Imbangan penerimaan biaya (R/C ratio)= 3) : 2) 1,4
g. Biaya produksi per PL
Total Biaya operasional = 205.505.00= Rp 13,70
Pembelian induk 15.000.000

8. SUMBER
Pembenihan Bandeng, Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jenderal
Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 1994

Hal. 14/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

9. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 15/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

TEKNIK PENGELOLAAN
PENGGELONDONGAN BANDENG

1. PENDAHULUAN
Kegiatan penggelondongan nener merupakan mata rantai yang bertujuan salah
satunya adalah menekan mortalitas benih karenan pengelondongan nener
adalah masa awal pemeliharaan yang dianggap sebagai masa paling kritis.
Usaha penggelondongan nener bukan lagi sekedar usaha sambilan di samping
usaha pembesarannya tambak, melainkan sebagai usaha komersial yang harus
ditangani lebih serius dan hati-hati.

Oleh karena usaha penangkapan nener dari alam sulit dilakukan sedangkan
kebutuhan atau permintaan akan nener meningkat maka diharapkan teknik
pengelolaan penggelondongan dapat lebih dikembangkan. Salah satu metoda
dalam penggelondongan nener adalah penggelondongan di petakan tambak.
Usaha ini dilakukan dalam petakan tambak yang ukurannya relatif kecil (500 -
1.000 m2) atau dengan cara menyekat tambak dengan masa 3 minggu - 1
bulan.

Usaha penggelondongan telah banyak berkembang dibeberapa daerah di


Indonesia, antara lain di Jawa Timur, Jawa Tenah, Jawa Barat, Sulawesi
Selatan dan DI Aceh. Untuk itu diupayakan membahas teknik pengelolaan
penggelondongan pada tulisan ini. Tujuan tulisan ini adalah menginformasikan
kepada petani maupun pengusaha mengenai teknik mengelola
penggelondongan nener yang baik.

Hal. 1/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2. PEMILIHAN LOKASI
Pemilihan lokasi hendaknya memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1) Mempertimbangkan aspek-aspek yang berkaitan dengan lokasi seperti tata


ruang, sumber air dan pengairan. Diusahakan tidak begitu jauh dari pantai
agar suhu udara yang ada dapat mendukung keberhasilan usaha
pemeliharaan benih bandeng. Suhu air pada tambak berkisar antara 30 -
330C.

2) Jarak lokasi ideal dari sumber benih/nener maksimal 12 jam. Perjalanan


selama dalam pengangkutan konsumen tidak melebihi 12 jam.

3) Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan kegagalan usaha


penggelondongan bandeng adalah persaingan penggunaan lahan antar
sesama pengusaha tambak.

4) Sarana transportasi.
Kelancaran sarana angkutan terutama jalan, sangat memegang peranan
penting dalam usaha penggelondongan nener ini. Oleh sebab itu dipilih
lokasi yang sarana lalu lintasnya dapat menjamin mutu nener tetap baik.

5) Jaringan listrik.
Sarana yang diperhatikan dalam memilih lokasi adalah yang dekat dengan
jaringan listrik negara (PLN). Namun untuk usaha penggelondongan
bandeng kebutuhan listrik bisa diganti dengan alat-alat lain seperti genset.

3. SISTEM PETAK PENENERAN


1) Petakan untuk nener.

Petakan untuk nener pada umumnya dangkal, luasnya berkisar antara 500 -
1.000 m2. Letak petakan nener dekat dengan sumber air tawar maupun air
asin.

2) Petakan untuk gelondongan.

Petakan gelondongan mempunyai areal lebih besar (luas) dan lebih dalam
(1.000 - 2.000) m2. Hal ini digunakan untuk menampung gelondongan dari
petakan peneneran tempat untuk menumbuhkan gelondonan kecil (pre
fingerling) atau untuk penyimpanan dan menahan gelondongan besar (post
fingerling).

Hal. 2/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Petakan Aklimatisasi.

Petakan untuk aklimatisasi atau yang biasa disebut ipukan/baby box


merupakan petakan kecil yang terbuat dalam penggelondongan dan bersifat
hanya sementara. Ipukan ini dibatasi oleh pematang yang relatif kecil
(sempit dan rendah) dibangun berdekatan dengan saluran air, agar mutu
lebih baik dan memudahkan pengelolannya. Ukuran luasnya tergantung
kepada banyaknya nener yang akan ditebarkan (stock). Pada musim
kemarau temperatur udara dapat naik mencapai 330C, ipukan dapat
menampung 5.000 - 10.000 ekor per m2 selama 3 hari, meskipun dibawah
periode yang relatif tenang.

4) Tempat pengumpulan (tempat untuk panen)

Berupa petakan kecil untuk penangkapan atau kanal yang sempit atau
tempat untuk mengumpulkan gelondongan dalam waktu singkat. Ikan-ikan
dikumpulkan ke tempat pengumpulan dengan cara pengaturan aliran air, dari
air pada saat pasang atau air dari petakan lain yang telah disiapkan
sebelumnya.

Aerasi dapat diatur dengan aliran air dari tambak yang berdekatan atau dari
tambak yang lain, sehingga tidak terjadi efek yang merugikan karena
kekurangan oksigen, walaupun di dalam petakan tersebut padat dengan
ikan. Dalam petakan ini ikan-ikan tersebut mudah dijaring dan dipindahkan
ke petakan yang lain dengan cara mengunakan jaring untuk pemindahan
gelondongan. Hal ini dipermudah dengan sifat ikan bandeng yang senang
menentang arus.

Gambar 1. Letak Penggelondongan Komersial yang Lengkap.

Hal. 3/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Keterangan Gambar 1
A. Kanal utama
B. Kanal pembagi petakan
C. Petak penangkapan
D. Petak penggelondongan

5) Pintu dan gorong-gorong.

Petakan untuk nener, gelondongan dan penangkapan (pengumpulan)


dilengkapi dengan pintu-pintu atau gorong-gorong, yang dipasang rapi dan
diberi saringan. Yang terutama perlu diperhatikan ialah : petakan untuk
nener jangan sampai kemasukan telur-telur maupun larva predator misalnya
kakap, kerapu, belut dan lain sebagainya. Pada pintu perlu dipasang
saringan nylon yang halus atau bahan yang serupa. Bisa juga dipergunakan
saringan-saringan yang berbentuk kantong dari nylon yang halus, yang
dipasang pada ujung dari gorong-gorong selama persiapan petakan untuk
nener dan juga selama sepuluh hari pertama setelah penebaran nener.

4. PENGELOLAAN PETAKAN PENGELONDONGAN


1) Persiapan petakan untuk aklimatisasi

Beberapa hari sebelum penebaran nener bandeng, petakan aklimatisasi


dipersiapkan dengan baik, pematang dilapisi dengan tanah yang lunak,
dilengkapi dengan atap yang dibuat dari kisi-kisi bambu. Pada kaki bagian
dalam pematang peneneran sebaiknya diberi berm, guna memudahkan
petugas tambak berada atau bertugas lebih dekat dengan perbatasan air.
Berm mempunyai 2 (dua) macam kegunaan yaitu merupakan tempat untuk
pembetulan bocoran-bocoran pada pematang dan menahan longsoran-
longsoran tanah dari pematang.

Selanjutnya petakan dikeringkan dan perataan dasar petakan dikerjakan


denan kemiringan yang dibuat menuju arah pintu air selama tanah belum
keras (masih basah). Untuk perataan tanah dapat digunakan garu dari kayu,
dan dapat juga menggunakan papan yang agak panjang yang didorong oleh
dua atau tiga orang. Lubang bekas kaki ditutup, sebab kemungkinan dapat
dipakai tempat untuk sembunyi ikan-ikan liar atau telurnya yang dapat tahan
hidup selama pengeringan pada masa persiapan.

Hal. 4/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 2. Garu

Keterangan Gambar 2:
A. Papan garu
B. Tangkai dari kayu atau bambu

2) Kultur makanan alami

Makanan yang paling ideal bibit bandeng dan gelondongan adalah klekap,
yakni kumpulan diatome dasar, alga biru, inverterbrata tingkat rendah, 200
plankton, juga diperlukan untuk melengkapi nilai gizi makanan.

Gelondongan yang lebih besar dan berukuran panjang 80 mm, sudah dapat
memakan alga hijau benang atau lumut (chaetomorpha sp., Entormorpha
sp., dan Cladophora sp.).

3) Kultur klekap pada musim kemarau

Musim kemarau merupakan saat yang paling baik dan cocok untuk
menumbuhkan klekap sebagai makanan alami. Setelah petakan selesai
perataannya lalu dibiarkan kering sampai tanahnya retak-retak. Waktu
pengeringannya diperkirakan selama 2 - 3 minggu tergantung pada tenah
aslinya.

Keberhasilan atau kegagalan dalam menumbuhkan klekap yang baik dan


menahannya agar tetap menempel pada dasar tembak tergantung pada
derajat kekeringannya. Pengeringan yang tidak seimbang atau pengeringan

Hal. 5/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

yang kurang sempurna akan menghasilkan klekap yang mudah lepas dari
tanah dan akhirnya mengambang.

Bilamana terjadi sebaliknya, terlalu lama pengeringannya sehinga lapisan


permukaan tanah kekeringan, maka terjadi suatu kondisi yang sangat tidak
memungkinkan untuk pertumbuhan klekap. Pengeringan dianggap cukup
bilamana kandungan air dari lapisan tanah yang tebalnya sekitar 10 cm itu
kira-kira 18 - 20%. Suatu hal yang praktis untuk mengetahinya ialah dengan
jalan diatas tanah yang dikeringkan tersebut. Bilamana tanah tersebut cukup
kuat menahan orang sehingga hanya turun (tenggelam) sekitar 2 cm, berat
badan orang tersebut maka pengeringan tanah dianggap telah cukup.

Pupuk organik kemudian ditebarkan setelah tanah cukup mengeras.


Kwantitasnya tergantung kepada jumlah dari kemerosotan bahan organik
dalam tanah tambak yang akan dipupuk. Pada umumnya rata-rata tanah
memerlukan 500 - 1.000 kg bekatul atau bungkil jagung per hektar; 500 -
3.000 kg kotoran ternak untuk tiap hektar tambak. Pupuk anorganik segera
ditebarkan di tanah tambak, setelah tanah tambak tersebut digenangi air
pasang yang baru, sedalam kira-kira 10 cm dan pintu-pintu ditutup serta
diblok dengan tanah untuk menahan air tersebut. Beberapa petani tambak
menggunakan pupuk Urea atau Ammonium sulfate (ZA) sebanyak 50 kg
atau 100 kg per hektar untuk segera ditebarkan pada petak-petak agar lebih
mempercepat proses pembusukkan pupuk organik tersebut.

Air di dalam petakan dibiarkan menguap seluruhnya atau dialirkan keluar bila
sudah jernih sekali. Pada dasar petakan dikeringkan lagi seperti keadaan
pengeringan pertama sebelum ditebari pupuk organik. Pada akhirnya praktis
semua pupuk organik akan membusuk (mengurai).

Kegiatan berikutnya memasukkan air ke dalam petakan dengan cara hati-


hati, disaring melalui saringan halus yang berbentuk kantong dan diikatkan
pada pintu air kira-kira 10 cm dan sekali lagi petakan dipupuk dengan urea
sebanyak 45 kg ditambah 45 - 55 kg pupuk TSP untuk tiap hektar. Jikalau
klekap belum mulai tumbuh pada saat pengenangan air yang pertama, pada
saat ini akan mulai tumbuh dan menutupi semua permukaan dasar tambak.
Selanjutnya sedalaman di tambak secara bertahap sampai sekitar 20 cm dan
petakan siap untuk ditebari ikan (nener atau gelondongan bandeng).

4) Kultur klekap pada musim hujan.

Untuk menanggulangi pertumbuhan klekap pada musim hujan agak sulit.


Penurunan kadar garam menghalangi pertumbuhan dan kemungkinan
penyebab kerusakan total dari makanan bilamana terjadi perubahan
mendadak. Oleh karena itu waktu (saat) yang penting dalam
mempersiapkan peneneran pada musim hujan. Paling sedikit diperlukan
waktu 1 minggu yang cuacanya baik secara terus menerus jikalau ingin
mencapai keberhasilan.

Hal. 6/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Petakan dikeringkan, diratakan dan dibiarkan paling sedikit 3 hari, kemudian


air dimasukkan dan dipupuk dengan pupuk organik yang kuantitasnya sama
dengan yang biasa digunakan pada pemupukan anorganis yang kedua di
musim kemarau. Pada saat itu juga ditambahkan bekatul sebanyak 200
kg/Ha.

Perlu diketahui klekap yang tumbuh pada musim hujan ini tidak sebanyak
yang tumbuh di musim kemarau dan cenderung mudah lepas dari tanah
dasar petakan yang kemudian mengapung, yang akhirnya mengelompok di
sisi-sisi petakan akibat dihembus oleh angin. Dalam hal demikian, klekap
tidak dapat dimanfaatkan oleh ikan yang dipelihara.

5) Kultur plankton

Disini harus kita perhatikan upaya untuk menumbuhkan plankton agar


mencapai hasil yang memuaskan (sukses) diperlukan air yang dalam serta
rendah kadar garamnya, terutama selama musim hujan.

Mula-mula petakan dikerjakan dan dibiarkan untuk 2 - 3 hari, kemudian


segera diisi (digenangi) dengan air pasang yang baru. Pupuk organik yang
diberikan harus cukup yang biasanya terdiri dari kombinasi antara Urea atau
Amonium sulfate (ZA) sebagai N (nitrogen) dan Superfosfate (TSP) sebagai
sumber P2O5 (fosfate) ditambah bekatul yang digunakan untuk membuat air
menjadi hijau warnanya, yang sebagian besarnya adalah phytoplankton.

Pada umumnya petani tambak memulai dengan dosis 6 gram N, 6 - 9 gram


P2O5 dan 50 - 100 gram bekatul untuk setiap m3 air yang kemudian dinaikkan
dosisnya sampai didapatkan hasil yang diinginkan. Blooming phytoplankton
akan terjadi dalam 48 jam pada cuaca yang memungkinkan. Petakan siap
ditebari ikan jikalau suatu obyek yang putih berada dalam air hilang (lenyap)
dari pandangan pada kedalaman kurang lebih 30 cm.

5. PENEBARAN (PENANAMAN, STOCKING)


1) Persiapan petakan untuk aklimatisasi (ipukan).

Petakan untuk aklimatisasi (ipukan) perlu dibuat, atau bila telah ada perlu
disiapkan dengan baik. Pematangnya diplester (dilapisi) dengan tanah yang
lunak dan sekalian menutupi bocoran-bocoran. Atap diperlukan yang
biasanya dibuat dari kisi-kisi bambu (kere) untuk memberikan kesejukan kita
dapat memanfaatkan cabang-cabang dari pohon api-api yang baru dipotong,
seperti daun kelapa, daun nipah diletakkan di aasnya sebagai atap (dapat
digunakan daun nipah atau daun kelapa yang dibuat khusus untuk atap).
Ada juga yang ditancapkan pada keliling ipukan dapat, agar memberikan

Hal. 7/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

suasana kesejukan. Dengan cara demikian ipukan tidak menerima sinar


matahari lansung dan suhu menjadi rendah di dalamnya.

Untuk mengantisipasi adanya hujan turun, atap perlu dilapisi atau ditutup
dengan plastik (polyethelene sheet). Bila ipukan dibuat dengan 1 atau
dengan 2 pematang dari petakan sebagai sisinya, perlu adanya kanal
(saluran kecil) sepanjang berm untuk mengalirkan air hujan terutama dari
pematang petakan agar masuk ke petakan besar dan tidak masuk ke ipukan.
Semua pematang ipukan ditutupi dengan lembaran plastik. Air hujan
terutama yang mengalir dari pematang petakan dan masuk ke dalam ipukan
dapat menyebabkan kematian nener yang disimpan di ipukan dalam
keadaan padat.

Pada saat yang singkat sebelum nener datang semua air di dalam ipukan
dikuras keluar. Air tawar secukupnya dapat juga air sumur atau dari mata air
yang lain diisikan pada ipukan pelan-pelan, selanjutnya air dipasang yang
baru dilewatkan melalui saringan yang halus ditambahkan sampai kadar
garam mencapai 15 - 20 ppt. Air dibiarkan jernih, sedimen dibiarkan
mengendap dahulu dan semua kotoran-kotoran yang mengambang dibuang
(bisa juga diambili).

Gambar 3.

2) Penebaran Nener

Nener dibawa ke tambak dengan kantong plastik dan diberi oksigen.


Biasanya pada pengangkutan nener digunakan air yang kadar garamnya
antara 15 - 20 ppt. Hal inilah yang mengharuskan ipukan diisi air tawar agar

Hal. 8/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

kadar garam sesuai dengan air untuk pengangkutan nener. Pelepasan


nener biasanya dilaksanakan pada pagi atau sore hari, pada saat suhu udara
relatif lebih dingin (sejuk). Untuk mempermudah dalam aklimatisasi nener
terhadap suhu air maka kantong plastik dibiarkan mengambang di dalam
ipukan untuk satu atau dua jam lamanya sebelum dilepaskan. Dan di dalam
petakan penggelondongan diusahakan untuk kepadatan penebaran antara
40 - 50 ekor per m2.

Pelepasan nener secara langsung ke ipukan dapat juga dilakukan, akan


tetapi lebih aman kalau hal tersebut tidak dilakukan. Mula-mula nener
bersama airnya dituangkan ke dalam baskom plastik kemudian air dari
ipukan ditambahkan ke baskom sedikit demi sedikit sampai kira-kira sama
denan kondisinya dengan air ipukan itu sendiri. Setelah itu baskom secara
pelan-pelan dimiringkan dan dibiarkan nener itu berenang keluar. Pada
permukaan kolam nener akan berenang-renang di dekat permukaan air
tetapi setelah beradaptasi dan merasa segar lagi, mereka mulai makan
Benthic algae yang tipis di dasar. Untuk adaptasi nener sepenuhnya dalam
ipukan diperlukan waktu sekitar 12 jam.

Nener yang lemah kondisinya akan memerlukan waktu lebih lama untuk
adaptasi dan berenang-berenang di dekat permukaan air dalam ipukan.

Jika nener telah tampak aktif bergerak dan makan, maka pematang ipukan
dapat dipotong sedikit dan disisipkan saringan dengan bahan yang halus
ditempat tersebut. Pematang yang dipotong ini dipergunakan untuk
memudahkan pertukaran air di dalam maupun di luar ipukan ( biasanya
kadar garam air di luar ipukan lebih dari 40 ppt) dan dalam sekitar 12 jam
sesudahnya, kadar garam akan sama atau yang di dalam ipukan akan lebih
rendah sedikit dari pada garam di petakan luar ( di luar ipukan).

Bilamana nener tampak mulai berkumpul disekitar saringan atau berenang-


renang menentang arus yang melewati saringan, hal ini menunjukkan bahwa
nener ini telah cukup aklimatisasi terhadap kondisi garam dari petakan untuk
nener. Saringan telah dapat diambil dan nener dibiarkan berenang keluar.
Hal ini dikerjakan pada pagi hari atau sore hari ketika air di petakan rendah
suhunya.

Hal. 9/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 4.

Ipukan tidak diperlukan di saat musim hujan bila kadar garam di petakan
telah menjadi rendah. Nener dapat dilepaskan langsung ke dalam air
setelah cukup aklimatisasi di dalam baskom. Jikalau Nener Payus (Elops
sp.) belum terambil (belum diseleksi), nener hendaknya dilepaskan dalam
happa nylon (dengan ukuran mata jaring : 5 - 6 tiap cm) yang dipasang
dalam petakan. Nener Bandeng dapat lolos ke luar sedang di dalam happa
tertinggal Payus serta nener Bandeng yang agak besar sedikit ukurannya
dari mata happa nylon.

3) Pengaturan Air

Pada umumnya selama 7 - 10 hari sesudah pelepasan nener, tidak dilakukan


penggantian air. Selama itu nener tambah menjadi lebih besar dan perlu
adanya saringan di pintu yang dapat menahan nener keluar, akan tetapi
dapat memasukkan air ke dalam petakan. Penyegaran dapat dilakukan
dengan mengalirkan air ke luar kemudian diganti dengan air pasang yang
baru. Saringan perlu di cek setiap saat membuka pintu. Penutupan harus
dilakukan dengan hati-hati, terutama dalam pemasangan papan-papan pintu.

Petakan untuk Nener mempunyai dasar yang lebih tinggi dan rata bila
dibandingakn dengan petakan-petakan yang lain. Oleh karena itu perlu
adanya tindakan bila masih terjadi bocoran-bocoran pada waktu
pemasukkan air di saat pasang terakhir. Pilihan lain ialah perlu menyediakan
pompa air untuk pasang yang rendah bila tidak dapat mencapai petak
peneneran.

Nener tumbuh lebih cepat pada air yang berkadar garam agak rendah. Oleh
karena itu perlu pada musim kemarau dilakukan penyegaran dengan

Hal. 10/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

penggantian air. Penyegaran yang dilakukan pada musim hujan terutama


untuk menjaga (memelihara) klekap atau untuk memperbaiki kondisi air.
Jikalau plankton merupakan makanan utama diperlukan kadar garam yang
rendah dan sering ada hujan akan lebih bermanfaat.

4) Pakan

Pemberian makanan tambahan mengakibatkan bertambahnya input. Hal ini


hanya diberikan (dilaksanakan) jika makanan alami habis dan tidak ada
tempat yang layak atau yang siap untuk dipergunakan. Pengusaha
gelondongan bandeng melaksanakan penimbunan (penahanan)
gelondongan dengan memberikan makanan tambahan, karena itu
pengusaha tersebut berani menggunakan padat penebaran yang tinggi pada
tambaknya.

Beberapa macam mkanan tambahan yang sering digunakan ialah :


a. Katul yang halus hasil sisa penggilingan padi yang baru berbentuk tepung
atau dijadikan pellet.
b. Tepung gandum (terigu), berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
c. Bungkil jagung (bungkil dari lembaga jagung), berbentuk tepung atau
dijadikan pellet.
d. Bungkil kacang tanah, berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
e. Bungkil kelapa berbentuk tepung atau dijadikan pellet.
f. Roti yang basi atau telah lama.
g. Kotoran kandang ternak atau lebih baik kotoran ayam.

Penambahan makanan sebaiknya habis dimakan dalam jangka waktu dua


sampai tiga jam. Bilamana tidak maka air akan mengalami pencemaran.
Setidak-tidaknya makanan diberikan tiga kali setiap hari atau cukup dua kali
(pagi dan sore hari). Makanan dapat diberikan dengan cara ditaburkan atau
ditempelkan pada suatu tempat tertentu yang berada di dalam kolam (di
petakan).

Kondisi gelondongan yang kurang baik (kurus) perlu diperbaiki sebagai


persiapan untuk pemindahannya ke tambak lain. Gelondongan yang kurus
mudah sekali mengalami tekanan. Sisiknya mudah lepas walupun
diperlakukan biasa saja dan tempat yang tidak bersisik akan mudah
mengalami infeksi dari bakteri dan jamur.

6. HAMBATAN PENGELOLAAN
Dalam usaha pengelolaan tambak sering dijumpai hal-hal yang menghambat
kelancaran usaha, di antaranya adalah sebagai berikut :

1) Kondisi nener yang jelek pada saat penebaran.

Hal. 11/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Pedagang nener biasanya menampung dalam kondisi yang sangat padat


sambil menunggu pembeli. Selama musim nener, pedagang nener
mengumpulkan hasil penangkapan tiap hari kemudian ditampung dan
dikumpulkan sampai cukup banyak jumlahnya untuk memenuhi pesanan dari
pembeli yang datang pertama. Sering pula terjadi bahwa nener tidak diberi
makan untuk beberapa hari, yang mengakibatkan lapar dan lemah
menyebabkan kondisi nener menjadi lamban geraknya dan mudah mendapat
tekanan (stress) waktu dalam penghitungan.

Bila diangkut dalam kondisi yang berjejal dalam kantong plastik, suhu tinggi,
terjadi pertukaran zat-zat dalam tubuhnya, eksresi, tekanan oksigen dan
jalanan yang kasar dapat menambah kelelahan nener. Banyaknya
perlakuan di tambak dapat menambah makin lelah dan memberatkan situasi
dan tidak tahan terhadap kondisi dalam petakan yang sedikit kurang baik.

2) Aklimatisasi yang kurang cukup.

Dalam melepaskan nener ke petak peneneran diperlukan waktu yang cukup


untuk aklimatisasi, sehingga nener dapat menyesuaikan diri terhadap
keadaan atau kondisi lingkungan.

Penggantian air secara mendadak dengan perbedaan kadar garam atau


suhu yang besar dapat mengakibatkan yang kurang baik. Nener tidak cukup
waktu untuk menyesuaikan diri (adaptasi) terhadap kondisi lingkungan dan
akhirnya menjadi lemah, bahkan dapat menyebabkan kematian.

3) Bocoran-bocoran.

Sifat naluri yang senang menentang arus air menyebabkan nener mudah
lolos melalui bocoran yang ada di pematang. Dasar pintu saringan-saringan
dan papan-papan penutup pintu yang tidak betul pemasangannya
memungkinkan nener dan gelondongan kecil dapat lolos ke luar. Hal
tersebut memungkinkan pula masuknya ikan-ikan buas yang masih kecil
yang akhirnya dapat memangsa nener dalam petakan.

4) Terjerat

Alga benang, klekap yang lebar-lebar dan lepa dari dasar tambak, kantong-
kantong telur dari cacing-cacing Polychaeta merupakan benda-benda yang
dapat menyebabkan nener di tambak terjerat. Nener terjerat (terbelit) oleh
alga benang atau terjebak dalam gelembung telur-telur Polychaeta. Pada
petakan yang dangkal, selapis klekap yang lebar tiba-tiba mengambang ke
permukaan akibat terkumpulnya gelembung-gelembung oksigen dari hasil
asimilasi komponen tumbuh-tumbuhan dapat menyebabkan nener yang
sedang makan atau berenang di atasnya ikut terangkat ke permukaan dan
akhirnya akan mati karenan terdampar tidak dapat kembali ke air.

Hal. 12/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5) Keracunan

Oleh karena petakan untuk nener umumnya berukuran kecil, maka mudah
mengalami kontaminasi unsur-unsur yang beracun yang bersama air atau
dari sumber lain. Kematian secara besar-besaran kadang-kadang terjadi di
tambak yang mengalami air dari sungai yang mengalirkan sisaa-sisa dari
pabrik (sampah industri) dibuang. Hal tersebut juga sering terjadi pada
daerah-daerah yang dekat dengan daerah pertanian, terutama daerah sawah
yang sering menebari pestisida (untuk pemberantasan hama).

Kadang-kadang pematang tambak sendiri dapat menjadi asal (sumber)


material yang mempunyai daya racun yang tinggi. Banyak contoh kematian
total yang terjadi di peneneran begitu selesai hujan pertama yang lebat
setelah musim kemarau yang panjang. Kasus demikian juga sering terjadi di
tambak-tambak yang beru dibangun dari daerah rawa-rawa yang banyak
pohon bakaunya (mangrove).

Pematang dibuat dari tanah-tanah yang terdiri dari banyak akar-akaran yang
membusuk dan terkumpul bahan organik yang mengandung unsur racun
asam humus dan asam Sulfida (H2S) di lereng di atas pematang tersebut
digambarkan sebagai hasil penguapan dari pematang yang banyak
mengandung air (kadar air yang tinggi).

Senyawaan belerang dapat pula terbentuk dari pembusukkan akar yang


tampak di pematang-pematang. Tetesan air hujan mencucinya dan
membawanya masuk ke tambak karena terbatasnya areal di peneneran,
unsur yang dikehendaki tersebut segera menyebar sehingga menyebabkan
nener maupun gelondongan banyak yang mati karena keracunan.

6) Penanganan yang salah.

Pengeringan yang mendadak disebabkan penutupan pintu kurang sempurna


adalah yang sering menyebabkan banyak nener dan gelondongan yang
hilang atau mati. Saringan-saringan yang rusak, yang robek atau kesalahan
dalam pemasangannya adalah faktor penyebab hilangnya nener pula. Sifat
masa bodoh dari manusia (penjaga) tidak dapat dianggap sepi begitu saja.
Penjaga yang sangat lelah kadang-kadang mudah (cepat) jatuh tertidur,
sedang periode pengeringan atau pengisian peneneran berlangsung pada
malam hari di saat terjadi surut yang rendah atau pasang yang tinggi, karena
tertidur maka penjaga tidak dapat mengontrol keadaan deangan baik, yang
mengakibatkan lingkungan pematang yang rusak.

Hal. 13/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7. ANALISA USAHA PENGGELONDONGAN BANDENG


Dalam pemeliharaan nener bandeng untuk gelondongan diperlukan waktu
pemeliharaan selama lebih dari 21 hari, pada usia tersebut ukuran telah
mencapai gelondongan yaitu panjang 2 - 3 cm dan berat rata-rata 2 - 3 gram.
Dengan kepadatan tebar 40 - 50 ekor/m2 @ Rp.50,- per ekor maka
kelangsungan hidup nener untuk mencapai gelondongan adalah 75% - 90%.
Harga jual perekor untuk ukuran gelondongan tersebut adalah Rp. 100,-.
Usaha penggelondongan tersebut dapat dilaksanakan di tambak luas 0,5 HA (4
petakan). Dalam satu tahun diperhitungkan dapat memelihara bandeng
tersebut sebanyak 6 periode selanjutnya pada tebar 200.000 ekor dengan SR
80%.

Hal inilah yang dapat memberikan harapan untuk dikembang usahakan sebagai
salah satu komoditas dalam agribisnis. Sebagai gambaran tentang analisis
keuntungan dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini.

1) Biaya Investasi

No Penjelasan Jumlah (Rp)


1. Sewa 0,5 HA Tanah Tambak @ Rp. 500.000,- 250.000,-
2. Perbaikan Konstruksi Tambak (4 petak) 800.000,-
3. Pintu Air Empat Buah @ Rp. 125.000,- 500.000,-
4. Pompa Air Diesel 4'', 1 unit (Tahan 4 tahun) 2.000.000,-
5. Alat Panen, 1 set 500.000,-
Jumlah 4.050.000,-

2) Biaya Operasional

a. Biaya Tidak Tetap

No Uraian Jumlah (Rp)


1. Persiapan Tambak 300.000,-
2. Nener 200.000 ekor @ Rp. 50,- 10.000.000,-
3. Kapur 1.000 kg @ Rp. 100,- 100.000,-
4. Saponin 100 kg @ Rp. 1.000,- 100.000,-
5. Pupuk Urea dan TSP 100 kg @ Rp. 400,- 40.000,-
6. Pupuk Kandang 500 kg @ Rp. 100,- 50.000,-
7. Pakan Buatan 400 kg @ Rp. 800,- 320.000,-
8. Upah Penan dan buruh 300.000,-
9. Eksploitasi pompa air 50.000,-
Total 1 periode 11.260.000,-
Total 1 tahun, 6 kali pemeliharaan 67.560.000,-

Hal. 14/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

b. Biaya Tetap

No Uraian Biaya (Rp)


1. Upah tenaga tetap: 1 or, 1 th :12 x Rp. 150.000,- 1.800.000,-
2. Bunga 1 tahun :
Investasi 12 x 2% x Rp. 4.050.000,- 972.000,-
Modal kerja 12 x 2% x Rp. 11.260.000 2.702.000,-
3. Penyusutan (pompa) 1 tahun 500.000,-
4. Perawatan peralatan 1 tahun 200.000,-
Total 1 tahun 6.174.000,-

Total biaya tetap per musim Rp. 6.174.000,-/6 =Rp. 1.029.000,-

c. Total biaya operasional setahun (a + b) Rp. 73.734.000,-

Produksi dan hasil Penjualan (6 kali pemeliharaan).

Produksi Gelondongan

Periode Padat tebar Angka Produksi


Pemeliharaan (Ekor) Kehidupan (Ekor)
n (%)
1. 160.000 75 120.000
2. 160.000 75 120.000
3. 200.000 75 150.000
4. 200.000 80 160.000
5. 200.000 80 160.000
6. 200.000 80 160.000
Total 1 Tahun 1.120.000 870.000

Pendapatan

Produksi Harga jual Biaya Pendapatan


Per periode Per periode Per periode (Rp)
(Rp) (Rp)
I : 120.000 12.000.000,- 12.289.000,- - 289.000,-
II : 120.000 12.000.000,- 12.289.000,- - 289.000,-
III : 150.000 15.000.000,- 12.289.000,- + 2.711.000,-
IV : 160.000 16.000.000,- 12.289.000,- + 3.711.000,-
V : 160.000 16.000.000,- 12.289.000,- + 3.711.000,-
VI : 160.000 16.000.000,- 12.289.000,- + 3.711.000,-
Total 1 Tahun 87.000.000,- 73.734.000,- 13.266.000,-

Hal. 15/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

8. DAFTAR PUSTAKA
1) Lopez, Juan V., 1975. Bangos Nursery Operation in the Philippines. BFAR,
Intramuros, Manila (Mimeo, ZIPP).

2) Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, 1979. "Teknik


Pengelolaan Peneneran Bandeng".

3) Balai Budidaya Air Payau, Direktorat Jenderal Perikanan, 1995. "Kumpulan


Paper Materi Latihan Pembenihan Bandeng Skala Rumah Tangga".

4) Djajadiredja, R., dan Sutarjo, 1967. Intensifikasi Pemeliharaan Nener


Gelondongan. Salah Satu Usaha Mengatasi Kekurangan Benih, Laporan
No, 28, Lembaga Penelitian Perikanan Darat, Bogor, 1967.

5) Soesono S., 1988. Budidaya Ikan dan Udang Dalam Tambak, 1988. PT.
Gramedia.

6) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan


Pengembangan Perikanan Jakarta, 1993. "Pedoman Teknis Pembenihan
Ikan Bandeng".

9. SUMBER
Teknik Pengelolaan Penggelondongan Bandeng, Direktorat Bina Pembenihan,
Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 1996

10. KONTAK HUBUNGAN


Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 16/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN IKAN BERONANG


(Siganus spp)

1. PENDAHULUAN
1) Latar Belakang

Ikan baronang adalah salah satu jenis komoditas yang potensial untuk
dikembangkan mengingat harganya yang cukup mahal. Saat ini sudah
banyak masyarakat yang membudidaya-kannya dengan menggunakan benih
dari alam. Sejak tahun 1988 ikan baronang sudah dapat dibenihkan dengan
berbagai upaya baik secara alami maupun penggunaan hormon dan
stripping.

2) Persyaratan Lokasi

a. Sumber air laut bersih dan jernih sepanjang tahun.


b. Bebas dari pencemaran.
c. Dasar perairan laut berpasir atau berkarang.
d. Dekat dengan lokasi pemasaran/pemasok induk

2. TEKNIK PEMBENIHAN
1) Bahan

a. Induk ikan jantan dan betina perbandingannya 1 : 1.


b. Bak pemijahan.

Hal. 1/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Bak penetasan.
d. Bak pemeliharaan larva.

2) Seleksi Induk

Induk yang matang telur hasil pembesaran dalam kurungan apung


dipindahkan ke dalam bak-bak pemijahan dengan volume air + 3 m3.

3) Metoda Pemijahan

Metoda yang digunakan adalah pemijahan alami, pemijahan dengan


rangsangan rangsangan hormon dan pemijahan dengan stripping.

a. Pemijahan alami
Induk ikan baronang umumnya memijah pada bulan gelap, waktu memijah
sekitar petang menjelang malam atau dinihari menjelang subuh. Ikan
baronang memijah umumnya pada bulan Pebruari s/d September.

b. Pemijahan dengan hormon


Induk ikan yang sudah matang telur dirangsang untuk memijah dengan
suntikan hormon gonadotropin. Induk betina disuntik dengan 500 MU dan
induk jantan disuntik dengan 250 MU (mouse unit). Biasanya setelah 6 -8
jam ikan akan memijah.

c. Pemijahan dengan stripping


Stripping dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara kering dan cara
basah.

c.1. Cara kering


Sel telur hasil stripping dari induk betina dicampur dengan sperma
jantan, pencampuran dilakukan dengan bulu ayam/bulu bebek,
kemudian dibiarkan selama + 10 menit. Setelah itu dicuci dengan air
laut yang telah disaring dan disterilisasi, baru telur dipindahkan ke bak
penetasan.

c.2. Cara basah


Sel telur dan sperma hasil stripping dicampur dalam air laut yang telah
disterilisasi dan dibiarkan selama + 10 menit, kemudian dicuci dan
dipindahkan ke dalam bak penetasan.

Hal. 2/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

A. Pengambilan Sperma

B. Pengambilan telur
dengan cara stripping

C. Pencampuran sperma
dan telur

D. Diaduk dengan bulu


ayam/bebek

E. Pencucian telur

F. Pencucian dengan air


mengalir dalam plankton
net

Gambar 1. Pemijahan

4) Penetasan Telur

a. Persiapan
Bak penetasan disiapkan dengan dibersihkan menggunakan bahan kimia
chlorin dengan dosis 200 ppm. Kualitas air seperti oksigen, pH, salintas,
suhu, kecerahan, kandungan gas dan logam berat harus dijaga agar tidak
melebihi batas ambangnya.

b. Penetasan
Telur yang dibuahi akan menetas dalam waktu 22 - 24 jam pada suhu air
26 - 280 C. Telur yang tidak dibuahi akan tenggelam ke dasar bak.

5) Pemeliharaan Larva

Larva yang dirawat dengan seksama terutama sesudah kuning telurnya


habis. Pada tahap ini larva diberi pakan hidup alami berupa chlorella sp,
rotifera dan daging ikan yang dicincang.

Hal. 3/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Dari beberapa macam jenis jasad pakan tersebut tidak diberikan secara
bersamaan melainkan disusun menurut jadwal yang tertentu sesuai dengan
perkembangan larva.

Jenis Pakan Hari ke


10 20 30 40
- Larva bivalvia
- Rotifera
- Nauplii artemia
- Copepoda (Tigropus sp)
- Daging cincang
- Daging/udang/ikan

6) Pengelolaan Kualitas Air

Air laut untuk pemeliharaan larva adalah air laut yang sudah mengalami
beberapa saringan, pertama melalui saringan pasir kemudian saringan
millipore yang berdiameter 10 dan 15 mikron.

Pembersihan tangki harus dilakukan secara periodik dengan menggunakan


siphon (pipa plastik), larva telah berumur antara 7 - 20 hari, dasar tangki
harus dibersihkan setiap 2 hari sekali, bila larva berumur di atas 21 hari
pembersihan dasar tangki dilakukan setiap hari.

3. SUMBER
Booklet Jenis-Jenis Komoditi Laut Ekonomis Penting Pada Usaha Pembenihan,
Direktorat Bina Pembenihan, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta,
1996

4. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Bina Pembenihan, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 4/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN KAKAP PUTIH


(Lates Calcarifer)

1. PENDAHULUAN
Kakap Putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak
disukai masyarakat dan mempunyai niali ekonomis yang tinggi. Peningkatan
permintaan akan jenis ikan ini harus segera diimbangi dengan upaya budidaya.
Salah satu faktor yang cukup penting dalam melaksanakan budidaya adalah
"benih ikan". Ketersediaan benih dalam kualitas yang baik dan dengan
kuantitas yang cukup akan membawa kegiatan budidaya kakap putih berhasil.

2. TEKNIK PEMBENIHAN
Rancang bangun rencana pembenihan kakap putih dibuat sedemikian rupa,
sehingga semua fasilitas dan perlengkapan harus ditempatkan dengan tepat
untuk menunjang kelancaran kegiatan. Fasilitas yang diperlukan untuk
pembenihan kakap putih antara lain: kurungan apung untuk pemeliharaan
induk, bak pemijahan, bak penetasan telur, bak pemeliharaan larva, bak kultur
pakan alami/plankton dan penetasan artemia, bak penampungan air tawar/laut,
pompa dan blower beserta instalasinya serta sumber listrik.

Hal. 1/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3. METODA
Pemijahan induk kakap putih matang kelamin dapat dilakukan dengan 2 (dua)
metoda, yaitu:

1) Rangsangan Hormonal

Pemijahan dengan rangasangan hormonal dilakukan denga penyuntikan


hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan Puberogen. Penyuntikan
dilakukan secara intra muscular sebanyak 2 kali dengan selang waktu antara
penyuntikan pertama dan kedua 24 jam. Takaran hormon yang dipergunakan
adalah:
a. Penyuntikan I : 250 IU HCG + 50 RU Puberogen/kg induk
b. Penyuntikan II : 500 IU HCG + 100 RU Puberogen/kg induk

2) Manipulasi Lingkungan

Pemijahan ini dilakukan dengan cara manipulasi lingkungan di bak


pemeliharaan, sehingga seolah-olah mirip di alam. Perlakuan manipulasi
lingkungan yang diterapkan berupa penurunan dan penaikan kedalaman air
yang berakibat pula terhadap perubahan suhu dan kadar garam. Pemijahan
umumnya dilakukan menurut siklus peredaran bulan, yaitu pada waktu bulan
gelap atau bulan purnama. Perubahan-perubahan ini akan merangsang
terjadinya pemijahan. Pemijahan biasanya terjadi pada malam hari, antara
pukul 19.00 - 20.00 WIB.

4. PEMILIHAN INDUK MATANG KELAMIN


Induk kakap putih yang berukuran 3 - 4,5 kg/ekor dipelihara dalam kurungan
apung di laut untuk pematangan kelamin. Pakan yang diberikan berupa ikan
rucah segar dengan kandungan protein tinggi dan lemah rendah, disamping itu
diberikan pula vitamin E.

Penentuan kematangan kelamin induk jantan dilakukan dengan pengurutan


bagian perut ikan. Induk jantan yang telah matang kelamin akan mengeluarkan
sperma berwarna putih dan tidak encer.

Penentuan kematangan kelamin induk betina denga mengambil contoh telur


secara kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik bergaris tengah + 1,2 mm ke
dalam saluran telur pada kedalaman 6 - 7 cm. Telur yang telah matang
umumnya bergaris tengah 0,45 - 0,65 mm, bentuknya sperical dan tidak saling
menempel (terurai).

Hal. 2/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5. PENETASAN TELUR
Telur hasil pemijahan diseleksi; telur yang dibuahi dan berkualitas baik akan
mengapung dipermukaan air. Sebelum diteteskan, telur perlu direndam dalam
larutan Acriflavine 5 ppm selama 1 menit sebagai sebagai desinfektan.

Telur ditetaskan di bak penetasan yang sekaligus menjadi bak pemeliharaan


larva dengan padat penebaran 60.000 - 100.000 butir/m3; kadar garam 28 - 30
ppt dan suhu air 26 - 280C. Pada kondisi seperti ini, telur akan menetas dalam
waktu 17 - 18 jam dengan tingkat penetasan telur berkisar 80 - 90%.

6. PEMELIHARAAN LARVA
a. Padat Penebaran

Padat penebaran larva kakap putih tergantung dari umur larva (tabel 1).

Tabel 1. Padat Penebaran Larva Kakap Putih

No. Umur larva Minggu ke- Padat Penebaran (ekor/m3)


1 I 60.000 - 100.000
2 II 35.000 - 40.000
3 III 15.000 - 20.000
4 IV 6.000 - 10.000

2) Pakan

Jenis dan jumlah pakan yang diberikan untuk larva kakap putih disesuaikan
dengan umur larva (gambar 1).

Gambar 1. Skema Pemberian Jenis Pakan Larva Kakap Putih

Hal. 3/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Pengolahan Kualitas Air

Pengolahan air di bak pemeliharaan larva dilakukan dengan cara


penggantian air setiap hari, diusahakan kadar garam dan suhu air berkisar
antara 28 - 30 ppt dan 26 - 280C. Banyaknya air yang diganti disesuaikan
dengan umur larva (gambar 2).

Gambar 2. Skema penggantian air di bak pemeliharaan larva kakap

4) Penggolongan Ukuran

Penggolongan ukuran harus dilakukan untuk menghindari pemasangan


sesama larva akibat pertumbuhan yang tidak seragam. Penggolongan
ukuran dilkukan bilamana larva telah berumur 20 hari dan penggolongan
ukuran berikutnya dilakukan setiap 7 hari sekali.

7. PANEN BENIH
Benih kakap putih dapat dipanen setelah berumur 30 - 45 hari untuk dilakukan
pendederan (nursery) sebelum dipelilhara ditempat pembesaran. Pendederan
dapat dilakukan di kolam air laut maupun dengan kurungan apung di laut.

8. SUMBER
Booklet Jenis-jenis Komoditi Laut: Ekonomis Penting Pada Usaha Pembenihan,
Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta, 1996

Hal. 4/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

9. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 5/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN KAKAP PUTIH


(Lates calcariver, Bloch)
SKALA RUMAH TANGGA
(HSRT-Hatchery Skala Rumah Tangga)

1. PENDAHULUAN
Ikan kakap putih (Lates calcarifer, Bloch) merupakan jenis ikan yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
dalam negeri maupun luar negeri. Pada mulanya produksi kakap putih
diperoleh dari hasil sampingan dari budidaya di tambak, namun sekarang ikan
ini sudah khusus dibudidayakan pada kurungan apung di laut. Dewasa ini di
Bengkalis dan sekitarnya (kepulauan Riau) sudah berkembang dengan luas
areal potensial sebesar 340 Ha.

Permasalahan utama dalam budidaya adalah terbatasnya benih yang tersedia


baik dalam jumlah dan mutu secara terus menerus dan berkesinambungan.
Sebagai gambaran di muara sungai Batam (Kabupaten Bengkalis - Kep. Riau)
terdapat kurungan apung sebanyak 550 unit, setiap unit ditebarkan 1.000 ekor
benih ukuran gelondongan sehingga dibutuhkan 550.000 ekor benih ukuran
gelondongan atau 2.750.000 ekor benih umur D30. Dengan menggantungkan
benih dari alam tentu saja tidak memadai karena jumlah yang didapat sangat
terbatas, tingkat keseragamannya rendah dan kontinuitasnya tidak terjamin.
Pembenihan kakap putih skala besar yang dikelola oleh swasta sampai saat ini
belum ada, maka dari itu pembenihan kakap putih skala rumah tangga (HSRT-
Hatchery-Skala Rumah Tangga) perlu dikembangkan karena mempunyai
prospek yang cerah.

Pada prinsipnya HSRT udang dapat dikembangkan menjadi HSRT kakap putih
mengingat sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pembenihan kakap
putih tidak jauh berbeda dengan pembenihan udang. Dengan demikian apabila
dilakukan diversifikasi usaha untuk perkembangan dan kesinambungan

Hal. 1/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

budidaya komoditas yang bersangkutan juga untuk memberi keluwesan


berusaha sehingga modal yang sudah ditanam dapat terus berputar.

2. KRITERIA
Kriteria HSRT kakap putih yaitu :

1) Sebagai uasaha sampingan keluarga dengan memanfaatkan rumah menjadi


lokasi usaha dan anggota keluarga sebagai tenaga pelaksana (pekerja).

2) Peralatan yang digunakan mencerminkan kesederhanaan sehingga


memberikan kesan mudah diikuti baik dari segi investasi maupun
operasional.

3) Dalam operasionalnya dilakukan sedemikian rupa sehingga penggunaan


pompa air laut seminimal mungkin, sehingga dapat menghemat penggunaan
listrik yang pada gilirannya dapat menekan ongkos produksi.

4) Melaksanakan kegiatan usaha yang terbatas mesalnya pemeliharaan larva


dari telur hingga D20 s/d D25 atau D1/D2 hingga D20/D25.

5) Melaksanakan investasi relatif kecil sehingga mudah diikuti oleh masyarakat


luas.

6) Dengan kesederhanaan sarananya, sebagian input produksinya seperti telur


kakap putih, algae (fitoplankton) dan ritefer (zooplankton) bergantung pada
pembenihan lain.

7) Jumlah unit bak pemeliharaan larva per kepala keluarga disarankan lebih
kecil atau sama dengan tiga buah. Karena semakin besar jumlah bak
semakin banyak konsentrasi terpecah dan harus semakin lengkap sarana
yang dibutuhkan. Ukuran bak disesuaikan dengan kemampuan dan luas
lahan, disarankan ukuran bak minimal 10 m3.

3. MANFAAT
Usaha pembenihan kakap putih skala rumah tangga diharapkan dapat
memberikan manfaat antara lain :

1) Membantu memecahkan kesulitan petani kurung apung yang selalu


kekurangan benih pada waktu musim tanam.

Hal. 2/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Menyediakan kakap putih dengan harga yang lebih rendah dengan kualitas
yang baik sehingga meningkatkan daya saing kakap putih Indonesia di
pasaran internasional.

3) Memanfaatkan tanah pekarangan sekaligus meningkatkan pendapatan


keluarga, terutama yang bertempat tingga di daerah pantai.

4) Menciptakan lapangan kerja.

5) Mendukung program nasional "Meningkatkan Ekspor Non Migas" melaui


pengadaan salah satu komponen produksi dalam sistim budidaya kakap
putih.

6) Membantu penyediaan benih untuk petani ikan di kurung apung dengan


memberikan kesempatan dan mendidik mereka untuk menghasilkan benih
sendiri.

4. PERSYARATAN LOKASI
Keberhasilan dalam operasional pembenihan kakap putih sangat tergantung
pada lokasi yang tepat, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan
pemilihan lokasi adalah sebagai berikut :

1) Sumber Air Laut


Sumber air laut yang dipergunakan untuk pembenihan harus bersih dan
jernih sepanjang tahun, perubahan salinitas relatif kecil. Lokasi yang sesuai
biasanya di teluk yang terlindung dari gelombang/arus kuat dan terletak di
lingkungan pantai yang berkarang dan berpasir. Lokasi juga harus jauh dari
buangan sampah pertanian dan industri. Persyaratan teknis kimia dan fisika
yang memenuhi syarat adalah sebagai berikut :
- Salinitas : 28 - 35
- pH : 7,8 - 8,3
- Alkalinitas : 33 - 60 ppm
- Bahan organik : < 10 ppm
- Amoniak : < 2 ppm
- Nitrit : < 1 ppm
- Suhu : 30 - 330C
- Kejernihan : maksimum

2) Kemudahan
Lokasi harus terletak pada jarak kurang dari 3 jam perjalanan dari lokasi
induk matang telur, 12 jam dari lokasi pemasok telur/larva D1 dan tidak lebih
dari 12 jam perjalanan ke lokasi pemasaran.

Hal. 3/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Sumber Air Tawar


Air tawar dibutuhkan untuk menurunkan salinitas air laut yang diperlukan
sesuai dengan kebutuhan. Selain itu air tawar juga digunakan untuk
mencuci bak dan peralatan pembenihan lainnya agar tidak mudah berkarat.

4) Sumber Listrik
Pembenihan tidak dapat dioprasikan tanpa listrik. Listrik sangat penting
sebagai sumber tenaga untuk menjalankan peralatan pembenihan seperti
blower, pompa air dan sistim penunjang lainnya. Pemasangan generator
mutlak diperlukan terutama untuk daerah yang sering tejadi pemadaman
aliran listrik.

5) Topography
Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan
pasang laut. Lokasi tersebut juga harus terdiri dari tanah yang
padat/kompak. Walaupun pembenihan skala rumah tangga secara
keseluruhan berskala kecil, namun bak pemeliharaan larva tetap bertonase
besar sehingga tanah dasar haruslah dipilih yang cukup stabil, misalnya
menghindari bekas timbunan sampah agar kekuatan bak terjamin.

5. FASILITAS DAN DISAIN HSRT KAKAP PUTIH


1) Fasilitas

Fasilitas yang diperlukan dalam unit pembenihan kakap putih skala kecil
cukup sederhana yaitu pompa, bak penampungan air tawar dan air laut, bak
pakan alami, bak pemeliharaan larva dan bak penetasan artemia,
aerator/blower dan perlengkapannya serta peralatan lapangan sebagai
penunjangnya.

a. Pompa

Pompa diperlukan untuk mendapatkan air laut maupun air tawar. Apabila
air laut relatif bersih dapat langsung dipompakan ke bak penyaringan dan
disimpan dalam bak penampungan air.

Jika sumber air laut relatif keruh dan banyak mengandung partikel lumpur,
maka air laut di sedimentasikan dalam bak pengendapan, selanjutnya
bagian permukaan air yang relatif jernih di pompa ke bak penyairngan,
spesifikasi pomapa hendaknya dipilih dengan baik karena ukuran pompa
tergantung pada jumlah air yang diperlukan persatuan waktu, disarankan
untuk HSRT dengan kapasitas 3 bak pemeliharaan larva masing-masing
dengan kapasitas 10 m3 air, ukuran pompa 1,5 inci.

Hal. 4/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

b. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut

Bak penampungan air dibangun pada ketinggian sedemikian rupa


sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan
sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih). Bak terbuat dari
semen dan sebaiknya volume bak minimal sama dengan volume bak
pemeliharaan larva. Bila tidak ada bak penampungan khusus dapat
mengunakan bak pemeliharaan larva yang difungsikan sebagai bak
penampungan air, kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa
submarsibel.

c. Bak Pemeliharaan larva

Bak pemeliharaan larva dapat terbuat dari semen, fiber glass atau
konsstruksi kayu yang dilapisi plastik, masing-masing bahan mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Ukuran bak dapat dibuat sesuai dengan
kemampuan dan target produksi yang ingin dicapai, tetapi disarankan
kapasitas/volumenya minimal 10 m3 karena bak dengan volume yang
lebih kecil stabilitas suhunya kurang terjamin. Tinggi bak antara 1,2 - 1,5
m, bak yang terlalu tinggi akan meyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari.
Bentuk bak bisa bulat atau segi empat. Tergantung besarnya dana dan
selera. Yang harus diperhatikan dalam hal bentuk dan ukuran bak adalah
tidak menyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari juga memudahkan
sirkulasi air. Bak dengan bentuk bulat, saluran pembuangannya terletak
di tengah dengan dasar miring (kemiringan 5%) ke tengah (ke saluran
pembuangan). Pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak
untuk mengatur dan mengontrol ketinggian air (Gambar 1).

Gambar 1. Desain bak pemeliharaan larva bentuk bulat

Hal. 5/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Bak segi empat sebaiknya berbentuk memanjang untuk memudahkan


pergantian air dan pada sudut-sudutnya tidak boleh mempunyai sudut
mati (sudut yang tajam). Sudut yang tajam akan meyebabkan sirkulasi air
tidak sempurna sehingga sisa metabolit dan kotoran lain terkumpul pada
sudut bak, disamping itu sudut yang tajam juga akan menyulitkan dalam
pembersihan bak. Pada bak dalam bentuk segi empat saluran
pemasukan dan pembuangan air diletakkan pada sisi yang berlawanan,
pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak (pipa goyang) untuk
mengatur dan mengontrol ketinggian air. Dasar bak dibuat miring dengan
kemiringan 5% agar memudahkan dalam pembersihan bak. Selain itu
dinding dan dasar bak harus halus agar tidak mudah ditempeli kotoran,
jamur dan parasit serta tidak menyulitkan dalam pembersihan bak.

Gambar 2. Bak pembuangan

Untuk keperluan pemanenan benih, baik pada bak bentuk bulat maupun
bentuk segi empat pada ujung saluran pembuangannya dilengkapi
dengan bak berukuran kecil untuk menempung benih yang akan dipanen.
Bak pemeliharaan larva memerlukan penutup di atasnya untuk mencegah
masuknya kotoran dan benda asing yang tidak dikehendaki serta
melindungi bak pemeliharaan dari air hujan. Tutup bak dapat terbuat dari
plastik dan sebaiknya berwarna gelap untuk melindungi air/media
pemeliharaan larva dari penyinaran matahari yang berlebihan, sehingga
mencegah terjadinya blooming plankton pada medium air pemeliharaan
larva. Selain itu penutup bak juga dapat mencegah terjadinya fluktuasi
suhu yang terlalu tinggi serta dapat menaikkan suhu pada bak
pemeliharaan larva.

d. Bak Kultur Plankton

Plankton (fito dan zooplankton) mutlak diperlukan sebagai pakan bagi


pemeliharaan larva kakap putih yaitu saat larva mulai
mengambil/membutuhkan makanan dari lingkungannya karena cadangan
makanannya yang berupa kuning telur sudah habis. Selain sebagai

Hal. 6/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

pakan alami, fitoplankton juga berfungsi sebagai pengendali kualitas air


dan pakan bagi kultur zooplankton/rotifer.

Bak untuk kultur plankton dapat dibuat dengan konstruksi kayu yang
dilapisi plastik, karena volume yang dibutuhkan tidak terlalu besar.
Ukuran bak cukup 2 x 2 x 0,6 meter masing-masing 4 buah untuk kultur
fitoplankton dan 4 buah lagi untuk kultur zooplankton (masing-masing bak
kultur plankton termasuk bak cadangan). Jumlah dan ukuran bak kultur
plankton sebesar itu cukup untuk menyediakan pakan alami satu sikles
pemeliharaan (3 bak pemeliharaan larva dengan kapasitas 10 m3).

e. Bak Penetasan Artemia

Makanan alami lain yang dibutuhkan bagi kehidupan larva adalah Artemia
salina. Artemia yang beredar di pasaran umum adalah berupa cyste atau
telur, sehinga untuk memperoleh naupli artemia yang siap diberikan pada
larva sebagai makanan harus ditetaskan terlebih dahulu. Untuk
memperoleh naupli, cyste dapat langsung ditetaskan atau didekapsulasi
dahulu sebelum ditetaskan.

Bak penetasan artemia dapat terbuat dari fiber glass atau plastik
berbentuk kerucut yang pada bagian ujung kerucutnya dilengkapi stop
kran untuk pemanenan naupli artemia. Bentuk kerucut merupakan
alternatif terbaik karena hanya dengan satu batu aerasi di dasar kerucut
dapat mengaduk seluruh air di dalam bak penetasan secara merata,
sehinga cyste dapat menetas dengan baik karena tidak ada yang
mengendap atau melekat di dasar bak. Volume bak penetasan sebaiknya
minimal 25 - 30 liter untuk menetaskan cyste artemia sebanyak 150 - 200
gram.

f. Aerator

Larva memerlukan oksigen terlarut dalam air untuk proses metabolisme


dalam tubuhnya, selain itu gelembung udara yan dihasilkan oleh aerator
dapat mempercepat proses penguapan berbagai gas beracun dari
medium air pemeliharaan larva. Selain pertimbangan harga, aerator
sebaiknya bentuk dan ukurannya kecil, kekuatan tekanannya cukup besar
(sampai kedalaman 1 - 1,2 m) serta kebutuhan listriknya kecil.
Perlengkapan lain dari aerator adalah batu aerasi, slang aerasi dan
penatur aerasi untuk mengatur tekanan udara.

2) Peralatan Lapangan

Untuk menunjang pengelolaan pembenihan sehari-hari diperlukan beberapa


ember plastik, antara lain untuk menampung makanan sebelum diberikan ke
larva, ember panen untuk menampung dan menghitung benih serta ember
untuk menyaring air saat disiphon. Peralatan lain adalah gayung untuk

Hal. 7/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

menebarkan pakan, blender untuk mengaduk dan menghaluskan pakan


buatan bila diperlukan, saringan pakan (plankton net) berbagai ukuran sesuai
dengan lebar bukaan mulut larva serta slang air dari berbagai ukuran sesuai
kebutuhan.

3) Desain HSRT

Tata letak semua fasilitas HSRT harus diatur sedemikian rupa secara
matang dan menunjukan dimensi yang tepat sehinga lahan dan fasilitas yang
tersedia dapat digunakan seefisien mungkin, yang pada gilirannya dapat
memudahkan pekerjaan sehari-hari dan menekan biaya operasional. Salah
satu contoh tata letak fasilitas HSRT disarankan seperti dalam gambar 3.

Gambar 3. Disain HSRT

6. TEKNIK PEMELIHARAAN
1) Pemeliharaan Larva

Sebelum larva dipindahkan (kira-kira 1 - 2 hari sebelumnya), bak


pemeliharaan larva harus dicuci dengan air tawar dan disikat lalu dikeringkan
selama 1 - 2 hari. Membersihkan bak dapat juga dilakukan dengan cara
membilaskan larutan sodium hypokhlorine 150 ppm pada dinding bak,
selanjutnya dikeringkan selama 2 - 3 jam untuk menghilangkan chlorine yang
bersifat racun.

Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran dengan suhu 26
- 280C dan salinitas 29 - 32 ppt diisikan ke dalam bak dengan cara disaring
dengan penyaring pasir atau kain penyaring untuk menghindari kotoran yang
terbawa air laut. Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi sistim aerasi dan
batu aerasi yang diletakkan secara terpencar agar merata keseluruhan air di
dalam bak.

Hal. 8/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm,
melayang dipermukaan air dan berkelompok dekat aerasi. Umur 30 hari
larva ditempatkan di dalam bak yang terlindung dari pengaruh langsung sinar
matahari (semi out door tanks).

Padat penebaran awal dalam bak pemeliharaan adalah 70 - 80 larva/liter


volume air. Pada hari 8 - 15 tingkat kepadatan dikurangi menjadi 30 - 40
larva/liter, setelah hari ke 16 kepadatan larva diturunkan menjadi 20 - 30
larva/liter, karena pada umur ini larva sudah menunjukan perbedaan ukuran
dan sifat kanibalisme. Tingkat kepadatan larva pada masing-masing
tingkatan umur dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Padat Penebaran Larva Kakap Putih yang Dipelihara Sampai Umur 30
Hari.

Umur larva (hari) Jumlah larva/liter


1-7 70 - 80
8 -15 30 - 40
16 - 23 20 - 30

2) Pemberian Pakan Alami

Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain
sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan
pakan Rotifer. Padat penebaran untuk Tetraselmis adalah 8 - 10 x 1000
sel/ml sedangkan untuk Chlorella adalah 3 - 4 x 10.000 sel/ml.

Umur 2 hari, larva sudah mulai membuka mulut, pada saat ini hingga hari ke
7 ke dalam bak ditambahkan Rotifera (Brachionus plicatilis) dengan padat
penebaran 5-7 individu/ml. Pada hari ke 8 sampai hari ke 14 pemberian
Rotifera ditingkatkan jumlahnya menjadi 8 - 15 individu/ml.

Pada umur 15 hari larva mulai diberi pakan Artemia dengan kepadatan 11 - 2
individu/ml.

Setelah berumur 30 hari, dengan panjang badan 12 - 15 mm larva sudah


dapat memakan cacahan daging segar, adapun jenis dan jumlah pakan yang
diberikan pada larva kakap putih dapat dilihat pada tabel 2.

Hal. 9/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Tabel 2. Jenis dan jumlah pakan yang diberikan pada larva kakap putih.

Jenis Jumlah Umur Frekuensi


Pakan Pakan (hari) (kali/hari)
Alga bersel satu :
- Tetraselmis sp 8 - 10 - 1000 sel/ml 1 - 14 1
- Chlorella sp 3 - 4 x 10.000 sel/ml 1 - 14 1
Rotefera :
Bractionus sp 5 - 7 individu/ml 3-7 4
Nauplii Artemia 8 - 15 individu/ml 8 - 14 4
2 - 3 individu/ml 15 - 20 2-3
Cacahan daging ikan sesuai kebutuhan 20 >

3) Pengelolaan Air

Pengelolaan air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat
dengan tingkat keluluran hidup (survival rate) lebih tinggi. Dalam hal ini yang
terpenting adalah agar selalu mempertahankan lingkungan yang optimal
untuk pertumbuhan dan kehidupan larva. Disamping itu perubahan yang
bersifat mendadak atau lingkungan yang tidak mendukung akan
mengakibatkan kematian larva, untuk menekan tingkat kematian disamping
perlu diperhatikan masalah sanitasi dan pengaturan pakan yang seksama
perlu diperhatikan pengelolaan air yang baik.

Pada pemeliharaan larva kakap putih penggantian air dilakukan mulai pada
hari ke 13 sebanyak 10 - 20% hari sampai hari ke 14. Pada hari ke 15
sampai hari ke 25 penggantian air sebanyak 30 - 40%, dilakukan secara
penyiponan.

7. PENGGOLONGAN UKURAN (Grading)


Pemeliharaan larva kakap putih dalam lingkungan terbatas denan persaingan
pakan dan ruangan akan mengakibatkan pertumbuhan yang tidak merata.

Penggolongan ukuran (grading) dimaksudkan untuk mencegah saling


memakan sesama larva (kanibalisme), oleh karena ikan kakap putih
mempunyai sifat karnifor (ikan pemangsa). Sifat kanibal pada larva kakap putih
akan semakin kelihatan saat mulai makan artemia (± 10 hari).

Wadah yang digunakan untuk penggolongan ukuran terbuat dari plastik yang
dilubangi dinding-dindingnya dengan ukuran tertentu pula, ukuran lubang
bervareasi antara 2,5 - 10 mm.

Penggolongan ukuran dilakukan dengan cara memasukkan baskom plastik ke


dalam bak pemeliharaan di atas aerasi, agar ikan yang ukuran lebih kecil dari

Hal. 10/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

lubang dapat lolos dan larva yang lebih besar tidak dapat lolos, selanjutnya
larva yang ukurannya lebih besar dipisahkan dan dilakukan lagi pengolongan
ukuran dengan menggunakan baskom yang mempunyai lubang ukuran lebih
besar. Cara ini akan memisahkan ikan ke dalam beberapa ukuran tertentu dan
mempermudah pengelolaannya.

Penggolongan ukuran dilakukan dua kali yaitu penggolongan pertama pada hari
ke 10-14 dan penggolongan kedua pada hari ke 20 - 25. Ukuran lubang
bervareasi antara 2,5 - 10 mm.

8. PANEN
Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang
memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus
air keluar. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan
cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 - 20
cm, kemudian benih ditangkap dengan scopnet.

Agar larva kakap putih tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan
secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.

9. ANALISA USAHA
Produksi Kakap Putih D20/tahun 8 siklus fasilitas 3 bak @ 10 m3.

1) Pendapatan (SR 28%): 1.200.000 x 3 x 8 x Rp. 20,- Rp. 96.000.000,-

2) Biaya tetap
a. Biaya konstruksi
- 3 buah bak 10 ton@ Rp. 2.500.000,- Rp. 7.500.000,-
- 8 buah bak kultur plakton 2 ton @ Rp. 1.000.000,- Rp. 8.000.000,-
- 1 buah bak tandon 10 ton Rp. 3.000.000,-
Rp.18.000.000,-
- Penyusutan 10% Rp. 1.850.000,-
Rp. 20.350.000,-

b. Peralatan
- 3 buah vortex blower 80 watt Rp. 625.000,- Rp. 1.875.000,-
- 1 buah pompa air laut 1,5" Rp. 350.000,-
- 1 buah pompa DAB 3/4" Rp. 80.000,-
- Plankton net Rp. 100.000,-
- Peralatan kerja Rp. 500.000,-
Rp. 2.905.000,-
- Penyusutan 20% Rp. 581.000,-

Hal. 11/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Rp. 3.486.000,-
- Ijin usaha Rp. 500.000,-
Rp. 3.986.000,-
Rp. 24.336.000,-

3) Biaya Operasional
a. Telur 700.000 x 3 x 8 x Rp. 0,5 Rp. 2.520.000,-
b. 8 paket pupuk/bahan kimia Rp. 150.000,- Rp. 1.200.000,-
c. Pakan artemia 45 kg x 8 x Rp. 90.000,- Rp. 32.400.000,-
d. Listrik 12 x Rp. 50.000,- Rp. 600.000,-
e. Lain-lain Rp. 200.000,-
Rp. 36.920.000,-

4) Total biaya produksi


Biaya tetap + biaya operasional
Rp. 24.336.000,- + Rp. 36.920.000,- Rp. 61.256.000,-

5) Keuntungan operasional
Biaya - biaya operasional
Rp. 96.000.000,- Rp. 36.920.000,- Rp. 59.080.000,-

6) Keuntungan bersih
Pendapatan - biaya tetap - biaya operasional
Rp. 96.000.000,- Rp. 24.336.000,- Rp. 36.920.00,- Rp. 34.774.000,-

10. DAFTAR PUSTAKA


1) Anonim, 1995. Multi - Species Hatchery. Seafdec Asian Aquaculture Vol.
XVII No. 2, 1995.

2) Dit. Bina Sumber Hayati. Peta Sumber Perikanan Indonesia.

3) Mintardjo, K., H. Santoso, Suci Antoro, 1995. Teknologi Pembenihan Kakap


Putih (Lates calcarifer, Blosh), BBL - Lampung.

4) Mintardjo, K., 1993. Kakap Putih Komoditi Potensial Untuk Pengembangan


Agribisnis Desa Pantai, Buletin Budidaya Laut No. 7, 1993.

5) Mintardjo, K., H. Suci Antoro. Hidayat Adi Sarwono, 1996. Pengembangan


HSRT Multi Species Udang - Kakap Putih.

Hal. 12/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

11. SUMBER
Pembenihan Kakap Putih (Lates calcariver, Bloch) Skala Rumah Tangga
(HSRT - Hatchery Skala Rumah Tangga), Direktorat Bina Pembenihan,
Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 1996

12. KONTAK HUBUNGAN


Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 13/ 13
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN


(Epinephelus fuscoguttatus)

1. PENDAHULUAN
Ikan Kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan istilah "groupers" dan
merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik
dipasarkan domestik maupun padar internasional dan selain itu nilai jualnya
cukup tinggi. Eksport ikan kerapu melaju pesat sebesar 350% yaitu dari 19 ton
pada tahun 1987 menjadi 57 ton pada tahun 1988 (Deptan, 1990).

Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan


karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani
permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.

Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera


konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah
mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui
usaha budidaya.

Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun


dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena
keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan
benih alam yang sifatnya musiman. Namun sejak tahun 1993 ikan kerapu
macan (Epinephelus fuscoguttatus) sudah dapat dibenihkan, Balai Budidaya
Laut Lampung sebagai unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan,
telah melakukan upaya untuk menghasilkan benih melalui pembenihan buatan
manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon.

Hal. 1/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2. BIOLOGI
1) Klasifikasi

Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) digolongkan pada :


Class : Chondrichthyes
Sub class : Ellasmobranchii
Ordo : Percomorphi
Divisi : Perciformes
Famili : Serranidae
Genus : Epinephelus
Species : Epinepheus sp

2) Morfologi, habitat dan kebiasaan makan dan makanannya.

Ikan kerapu bentuk tubuhnya agak rendah, moncong panjang memipih dan
menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4
baris, terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam
pada bagian dorsal dan poterior. Habitat benih ikan kerapu macan adalah
pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp,
setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari
pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya
"mencaplok" satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai
ke dasar. Pakan yang paling disukai kenis krustaceae (rebon, dogol dan
krosok), selain itu jenis ikan-ikan (tembang, teri dan belanak).

3) Cara berkembang biak.

Di dalam tangki percobaan ikan betina yang telah dewasa bila akan memijah
mendekati jantan. Bila waktu memijah tiba, ikan jantan dan betina akan
berenang bersama-sama dipermukaan air. Pemijahan terjadi pada malam
hari, antara pukul 18.00 sampai pukul 22.00. jumlah telur yang dihasilkan
tergantung dari berat tubuh betina, contoh betina berat 8 kg dapat
menghasilkan telur 1.500.000 butir. Telur yang telah dibuahi bersifat "non
adhesive" yaitu telur yang satu tidak melekat pada telur yang lainnya.
Bentuk telur adalah bulat dan transparan dengan garis tengah sekitar 0,80 -
0,85 mm. Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi benih yang aktif
berenang. Benih inilah yang umum tertangkap oleh nelayan. Kelimpahan
benih ikan kerapu ini sepanjang tahun tidak sama. Kelimpahan yang paling
tinggi disekitar Teluk Banten terjadi pada bulan Februari sampai April.

Hal. 2/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3. TEKNIK PEMBENIHAN
1) Sarana Pembenihan

a. Induk sebanyak 5 ekor betina dan 2 ekor jantan. Induk jantan berukuran
panjang 77 - 78 cm dan berat 9,5 - 11 kg/ekor. Induk betina berukuran
panjang 60 - 70 cm dan berat 5,3 - 7,8 kg/ekor.
b. Pakan induk berupa ikan segar dari jenis selar, japuh dan jantan yang
kandungan proteinnya tinggi dan kandungan lemaknya rendah.
c. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.
d. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton.
e. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang
berukuran 4 x 1 x 1 m3 terbuat dari beton, berbentuk empat persegi
panjang.

2) Metoda

Metoda yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. Untuk merangsang


terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin
digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Teknik
pemijahan dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan
pemijahan ikan kerapu di alam, yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktor-
faktor lingkungan seperti suhu, kadar garam, kedalaman air dan lain-lain.
Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan; pada saat bulan terang atau
bulan gelap.

3) Pemeliharaan Induk

Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung
dengan padat penebaran induk 7,5 - 10 kg/m3. Pakan yang diberikan berupa
ikan rucah segar berkadar lemak rendah. Diluar pemijahan ikan, takaran
pakan yang diberikan sebesar 3 - 5% dari total berat badan ikan/hari,
sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Disamping itu
diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 - 15 mg/ekor/minggu.

4) Sex reversal

Kerapu termasuk ikan yang "hermaprodit protogyni", yaitu pada kehidupan


awal belum ditentukan jenis kelaminnya. Sel kelamin betina terbentuk
setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Sel kelamin
betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan
panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. Ada kenyataannya lebih
banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin
dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron.
Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap
minggu, diikuti dengan penambahan multivitamin.

Hal. 3/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Takaran yang diberikan adalah :


Hormon testosteron 2 mg/kg induk
Multivitamin 10 mg/kg induk

5) Seleksi Induk

Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui denan cara


mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar
warnan putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan
kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara
kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan,
kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat
kematangannya, garis tengah (diameter) telor diatas 450 mikron.

6) Pemijahan

a. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang


sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1,5 m dan salinitas
+ 32 ‰.

b. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara


menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Mulai jam
09.00 sampai jam 14.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40
cm dari dasar bak. Setelah jam 14.00 permukaan air dikembangkan ke
possisi semula (tinggi air 1,5 m). Perlakuan ini dilakukan terus menerus
sampai induk memijah secara alami.

c. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan


hormon Human Chorionic Gonadotropin (HGG) dan Puberogen untuk
merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon yang diberikan
adalah :
HGG 1.000 - 2.000 IU/kg induk
Puberogen 150 - 225 RU/kg induk

d. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai


malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam
22.00 - 24.00 WIB. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali bulan Juni -
September dan bulan Nopember - Januari.

e. Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan


dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva.

7) Penetasan telur

Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak
pemeliharaan larva, terbuat dari beton, berbentuk empat persegi panjang

Hal. 4/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

dengan ukuran 4 x 1 x 1 m3. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak


pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu dengan cara
dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 - 100
ppm.

Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat


sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar
garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan
dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 - 280C.

Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang
dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan).
Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 - 5 ppm acriflavin
untuk mencegah serang bakteri.

Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 - 60 butir/liter air media.


Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.000 -
100.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air.

Telur akan menetas dalam waktu 18 - 22 jam setelah pemijahan pada suhu
27 - 280C dan kadar garam 30 - 32 ‰.

Gambar 1. Grafik Prosentase Telur yang Dibuahi

Hal. 5/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4. PERKEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN LARVA


1) Perkembangan Larva

Larva yang baru menetas terlihat transparan, melayang-melayang dan


gerakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil globulenya. Larva
akan berubah bentuk menyerupai kerapu dewasa setelah berumur 31 hari.
(Gambar2)

Gambar 2. Perkembangan Bentuk Larva Ikan Kerapu

Hal. 6/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Adapun perkembangan larva kerapu dari umur 1 hari (D1) sampai umur 31
hari (D31) dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan larva ikan kerapu.

Hari ke Tahap Perkembangan Panjang (mm)


D1 Larva baru menetas transparan, melayang 1,89 - 2,11
dan tidak aktif.
D3 Timbul bintik hitam di kepala dan pangkal 2,14 - 2,44
perut.
D7-8 Timbul calon sirip punggung yang keras dan 7,98 - 8,96
panjang.
D9-11 Timbul calon sirip punggung yang keras dan 15,88 - 17,24
panjang.
D15-17 Duri memutih, bagian ujung agak kehitaman. 17,2 - 18,6
D23-26 Sebagian duri mengalami reformasi dan 20,31 - 22,64
patah, pada bagian ujung tumbuh sirip awal
lunak.
D29-31 Sebagian larva yang pertumbuhannya capat 22,40 - 23,42
telah berubah menjadi burayak (juvenil),
bentuk dan warnanya telah menyerupai ikan
dewasa.

Masa kritis kedua dijumpai pada waktu larva berumur 8 hari (D8) memasuki
umur 9 hari (D9), dimana pada saat itu mulai terjadi perubahan bentuk tubuh
yang sangat panjang dan spesifik, sampai pada hari ke 20 (D20) larva
berkembang dengan baik dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda
kematian, akan tetapi memasuki hari ke 22 (D22), 23 (D23) sebagian dari
larva baik yan masih kecil maupun yang sudah besar mulai nampak adanya
kematian. Diawali dengan adanya gerakan memutar (whirling) yang tidak
terkendali kemudian terbalik lalu mati.

Pada kasus tersebut diupayakan dengan cara merubah pakan Artemia


dengan kandungan W3 HUFA yang lebih tingi. Dari kasus ini tentunya dapat
diajukan suatu hepotesa sementara bahwa kurannya unsur tertentu pada
larva kerapu dalam waktu yang cukup lama akan mempengaruhi kondisi fisik
dan kelangsungan hidup larva.

2) Pemeliharaan Larva

Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa


kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah
menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar.

Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan
dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3

Hal. 7/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan


kepadatan antara 5.10 - 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva
berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga
mencapai kepadatan 5 - 10 ekor/ml plytoplankton 10 - 2.10 sel/ml media.

Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru
menetas dengan kepadatan 0,25 - 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan
naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan
peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 - 5 ekor/ml media.

Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan
Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang
diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan
akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari.

Skema jenis dan pemberian pakan larve kerapu dapat dilihat pada Gambar
3. Pemberian pakan dengan cincangan daging ikan mulai dicoba pada saat
metamorfosa larva sempurna menjadi benih ikan kerapu.

Gambar 3. Skema Jenis dan Pakan Pemberian Pakan Larve Ikan Kerapu

5. PENGELOLAAN KUALITAS AIR


Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan larva perlu
dijaga kualitas airnya dengan penambahan phytoplankton Chlorella, dengan
kepadatan 5.103 - 104 sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir pembusukkan
yang ditimbulkan oleh telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang
ditinggalkan. Pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada
hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak

Hal. 8/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kali pada
saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 - 10%. Penggantian air
dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air
yang perlu diganti juga semakin banyak.

Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak
20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40%.
Prosentase pengantian air selama pemeliharaan larve kerapu dapat dilihat
pada gambar 4.

Gambar 4. Prosentase Penggantian Air

6. DAFTAR PUSTAKA
1) Kisto Mintardjo dan Sigit B, "Pemijahan Ikan Kerapu (Epinephelus tauvina)
Dengan Manipulasi Lingkungan", Buletin Budidaya Laut No. 2, Balai
Budidaya Laut Lampung, Ditjen Perikanan, 1991.

2) Sigit Budileksono dan Yayan Sofyan, "Pemijahan Alami Ikan Kerapu Macan
(Epinephelus fuscoguttatus) di Bak Terkontrol", Buletin Budidaya, 1993.

3) Anonimus, "Teknologi Reproduksi Ikan Kerapu (Epinephelus sp)", Riset dan


Teknologi Balai Budidaya Laut Lampung, Ditjen Perikanan, 1993.

4) Sigit Budileksono, " Pembenihan Ikan Kerapu di Balai Budidaya Laut


Lampung", Ditjen Perikanan, 1995.

Hal. 9/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7. SUMBER
Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus), Direktorat Bina
Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta,
1996.

8. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 10/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN IKAN KERAPU MACAN


(Epinephelus fuscogutaftus)
PEMELIHARAAN LARVA

1. PENDAHULUAN
1) Latar belakang

Beberapa jenis ikan laut yang bernilai ekonomis telah banyak dibudidayakan
dalam kurungan apung. Salah satu jenis ikan yang dibudidayakan adalah
ikan kerapu (Epinephelus sp).

Ikan kerapu merupakan ikan ekonomis penting yang berpeluang baik dan
populer dipasarkan domestik dan luar negeri. Jenis-jenis ikan kerapu
tersebut diantaranya adalah kerapu lumpur, kerapu macan, kerapu malabar,
kerapu sunu, kerapu totol. Diantara jenis-jenis kerapu tersebut yang sudah
umum dan banyak dibudidayakan antara lain kerapu macan. Dengan
semakin banyaknya permintaan ikan kerapu untuk pasaran domestik dan
internasional, maka benih yang selama ini berasal dari alam akan sulit
dipenuhi sehingga perlu mulai dialihkan ke usaha pembenihan buatan.

Keberhasilan Balai Budidaya Laut dalam melaksanakan pemijahan ikan


kerapu merupakan langkah awal dalam mata rantai sistem budidaya, yang
antara lain meliputi pemeliharaan larva, pendederan dan selanjutnya sampai
ukuran konsumsi. Teknik pemeliharaan larva ini salah satu sistim rantai
budidaya yang penting bagi kelanjutan keberhasilan benih untuk
dibudidayakan. Keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh teknik
pemeliharaan larva, pola penyediaan pakan alami yang tepat untuk ukuran,
jumlah dan waktu.

2) Pemilihan Lokasi

a. Dasar perairan laut berpasir atau berkarang.


b. Bebas dari pencemaran.

Hal. 1/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Jernih sepanjang tahun.


d. Mudah komunikasi.

2. TEKNIK PEMBENIHAN
1) Bak Pemeliharaan Larva

a. Bak pemeliharaan, bak beton berbentuk 4 persegi panjang, ukuran 4 x 1 x


1 m3.
b. Bak pemeliharaan ini juga merupakan bak untuk penetasan telur.
c. Larutan chlorine (Na OCI) 50 ~ 100 ppn, untuk mensuci hamakan bak
pemeliharaan.
d. Larutan Natrium Thiosulfat untuk menetralkan dan menghilangkan bau
dari chlorine.
e. Air laut dimasukkan ke dalam bak satu hari sebelum larva dimasukkan,
kadar garam air laut 30 ~ 32‰ suhu air 27 ~ 280C.
f. Bak makanan alami.

2) Perkembangan Larva

Larva baru yang baru menetas terlihat transparan, melayang-layang dan


erakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil glonulenya. Larva
akan berubah bentuk menyerupai kerapu lumpur dewasa setelah berumur 31
hari.

Masa krisis pertama larva kerapu dialami pada waktu berumur 2 hari (D2)
memasuki umur 3 hari (D3), dimana pada saat itu kandungan kuning telur
telah mulai menipis dan terserap habis. Setelah cadangan pakan tersebut
habis, maka pemenuhan pakan yang sesuai dengan ukuran mulut dan nilai
gizi pakan mutlak diperlukan untuk menjamin kelangsungan hidup larva.

Masa krisis ini akan berlangsung sampai dengan hari ke 6 (D6), dikarenakan
terjadi perubahan cara hidup dari larva yang semula gerakannya aktif. Larva
harus aktif mencari makan dari luar karena kandungan kuning telur yang
merupakan cadangan pakan telah habis. Untuk pemberian pakan yang
sesuai baik jenis, maupun kandungan gizinya mutlak diperlukan. Larva yang
telah melewati umur 6 hari (D6) mempunyai peluang untuk hidup lebih besar,
karena hampir semua larva yang bertahan hidup telah mampu mencari
pakan yang tersedia disekelilingnya,

Masa krisis kedua dijumpai pada waktu larva berumur 8 hari (D8) memasuki
umur 9 hari (D9), dimana pada saat itu mulai terjadi perubahan bentuk tubuh
sangat panjang dan spesifik, sampai pada hari ke 20 (D20) larva
berkembang dengan baik dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda
kematian, akan tetapi memasuki hari ke 22 (D22), 23 (D23) sebagian dari

Hal. 2/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

larva baik yan masih kecil maupun yang sudah besar mulai nampak adanya
kematian. Diawali dengan adanya gerakan memutar (whirling) yang tidak
terkendali kemudian terbalik lalu mati.

3) Pemeliharaan Larva

Larva kerapu mempunyai kuning telur sebagai cadangan makanan sampai


larva berumur 2 hari.

Umur 3 hari kuning telur mulai terserap habis, perlu diberi pakan dari luar
berupa:
a. Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 - 3 ekor/ml
b. Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan 104 - 105 sel/ml.

Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari dengan penambahan


secara bertahap rotifera sampai kepadatan 5 ~ 10 ekor/ml plytoplankton 105 -
2.105 sel/ml media.

Umur 9 hari mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan
kepadatan 0,25 ~ 0,75 ekor/ml media, pakan diberikan sampai larva berumur
25 hari dengan peningkatan kepadatan mencapai 2 ~ 5 ekor/ml media.

Umur 17 hari larva dicoba diberi pakan artemia yang telah berumur 1 hari
kemudian secara bertahap diubah dari artemia berumur 1 hari ke artemia
setengah dewasa dan akhirnya artemia dewasa sampai larva berumur 50
hari.

Setelah larva berumur 29 - 31 hari berubah menjadi benih aktif, menyerupai


kerapu dewasa. Pada saat ini mulai dicoba pemberian pakan dengan
cincangan daging ikan.

Hal. 3/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 2. Skema Jenis dan Pemberian Pakan Larva Ikan Kerapu

4) Pengelolaan Kualitas Air

Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan larva


dengan penambahan phytoplankton Chlorella, dengan kepadatan 5.103-104
sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir pembusukkan yang ditimbulkan
oleh telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang ditinggalkan.
Pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada hari
pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak
menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kali
pada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 - 10%. Penggantian
air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume
air perlu diganti juga semakin banyak.

Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan
sebanyak 20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti
sebanyak 40%.

Hal. 4/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 4. Prosentase Penggantian Air

3. SUMBER
Brosur Pembenihan Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscogutaftus):
Pemeliharaan Larve, Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jenderal
Perikanan, Departemen Pertanian, 1996

4. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Bina Pembenihan, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen
Pertanian

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 5/ 5
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN LELE


( Clarias )

1. SEJARAH SINGKAT
Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan
kulit licin. Di Indonesia ikan lele mempunyai beberapa nama daerah, antara
lain: ikan kalang (Padang), ikan maut (Gayo, Aceh), ikan pintet (Kalimantan
Selatan), ikan keling (Makasar), ikan cepi (Bugis), ikan lele atau lindi (Jawa
Tengah). Sedang di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond
(Thailand), ikan keli (Malaysia), gura magura (Srilangka), ca tre trang (Jepang).
Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish.

Ikan lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin. Habitatnya di sungai
dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air.
Ikan lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam
hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat
gelap. Di alam ikan lele memijah pada musim penghujan.

2. SENTRA PERIKANAN
Ikan lele banyak ditemukan di benua Afrika dan Asia. Dibudidayakan di
Thailand, India, Philipina dan Indonesia. Di Thailand produksi ikan lele ± 970
kg/100m2/tahun. Di India (daerah Asam) produksinya rata-rata tiap 7 bulan
mencapai 1200 kg/Ha.

Hal. 1/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3. JENIS
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Djatmika et al (1986)
adalah:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias

Di Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dapat dikembangkan:


1) Clarias batrachus, dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera
Barat), ikan maut (Sumatera Utara), dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).
2) Clarias teysmani, dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat), Kalang putih
(Padang).
3) Clarias melanoderma, yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan),
wais (Jawa Tengah), wiru (Jawa Barat).
4) Clarias nieuhofi, yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera
Barat), kaleh (Kalimantan Selatan).
5) Clarias loiacanthus, yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat), ikan
penang (Kalimantan Timur).
6) Clarias gariepinus, yang dikenal sebagai lele Dumbo (Lele Domba), King cat
fish, berasal dari Afrika.

4. MANFAAT
1) Sebagai bahan makanan
2) Ikan lele dari jenis C. batrachus juga dapat dimanfaatkan sebagai ikan
pajangan atau ikan hias.
3) Ikan lele yang dipelihara di sawah dapat bermanfaat untuk memberantas
hama padi berupa serangga air, karena merupakan salah satu makanan
alami ikan lele.
4) Ikan lele juga dapat diramu dengan berbagai bahan obat lain untuk
mengobati penyakit asma, menstruasi (datang bulan) tidak teratur, hidung
berdarah, kencing darah dan lain-lain.

Hal. 2/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah
liat/lempung, tidak berporos, berlumpur dan subur. Lahan yang dapat
digunakan untuk budidaya lele dapat berupa: sawah, kecomberan, kolam
pekarangan, kolamkebun, dan blumbang.
2) Ikan lele hidup dengan baik di daerah dataran rendah sampai daerah yang
tingginya maksimal 700 m dpl.
3) Elevasi tanah dari permukaan sumber air dan kolam adalah 5-10%.
4) Lokasi untuk pembuatan kolam harus berhubungan langsung atau dekat
dengan sumber air dan tidak dekat dengan jalan raya.
5) Lokasi untuk pembuatan kolam hendaknya di tempat yang teduh, tetapi
tidak berada di bawah pohon yang daunnya mudah rontok.
6) Ikan lele dapat hidup pada suhu 200 C, dengan suhu optimal antara 25-280
C. Sedangkan untuk pertumbuhan larva diperlukan kisaran suhu antara 26-
300C dan untuk pemijahan 24-280 C.
7) Ikan lele dapat hidup dalam perairan agak tenang dan kedalamannya
cukup, sekalipun kondisi airnya jelek, keruh, kotor dan miskin zat O2.
8) Perairan tidak boleh tercemar oleh bahan kimia, limbah industri, merkuri,
atau mengandung kadar minyak atau bahan lainnya yang dapat mematikan
ikan.
9) Perairan yang banyak mengandung zat-zat yang dibutuhkan ikan dan
bahan makanan alami. Perairan tersebut bukan perairan yang rawan banjir.
10) Permukaan perairan tidak boleh tertutup rapat oleh sampah atau daun-
daunan hidup, seperti enceng gondok.
11) Mempunyai pH 6,5–9; kesadahan (derajat butiran kasar ) maksimal 100
ppm dan optimal 50 ppm; turbidity (kekeruhan) bukan lumpur antara 30–60
cm; kebutuhan O2 optimal pada range yang cukup lebar, dari 0,3 ppm untuk
yang dewasa sampai jenuh untuk burayak; dan kandungan CO2 kurang dari
12,8 mg/liter, amonium terikat 147,29-157,56 mg/liter.
12) Persyaratan untuk pemeliharaan ikan lele di keramba :
a. Sungai atau saluran irigasi tidak curam, mudah dikunjungi/dikontrol.
b. Dekat dengan rumah pemeliharaannya.
c. Lebar sungai atau saluran irigasi antara 3-5 meter.
d. Sungai atau saluran irigasi tidak berbatu-batu, sehingga keramba mudah
dipasang.
e. Kedalaman air 30-60 cm.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Dalam pembuatan kolam pemeliharaan ikan lele sebaiknya ukurannya tidak


terlalu luas. Hal ini untuk memudahkan pengontrolan dan pengawasan. Bentuk

Hal. 3/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

dan ukuran kolam pemeliharaan bervariasi, tergantung selera pemilik dan


lokasinya. Tetapi sebaiknya bagian dasar dan dinding kolam dibuat permanen.

Pada minggu ke 1-6 air harus dalam keadaan jernih kolam, bebas dari
pencemaran maupun fitoplankton. Ikan pada usia 7-9 minggu kejernihan airnya
harus dipertahankan. Pada minggu 10, air dalam batas-batas tertentu masih
diperbolehkan. Kekeruhan menunjukkan kadar bahan padat yang melayang
dalam air (plankton). Alat untuk mengukur kekeruhan air disebut secchi.
Prakiraan kekeruhan air berdasarkan usia lele (minggu) sesuai angka secchi :
- Usia 10-15 minggu, angka secchi = 30-50
- Usia 16-19 minggu, angka secchi = 30-40
- Usia 20-24 minggu, angka secchi = 30

6.2. Penyiapan Bibit

1) Menyiapkan Bibit

a. Pemilihan Induk
1. Ciri-ciri induk lele jantan:
- Kepalanya lebih kecil dari induk ikan lele betina.
- Warna kulit dada agak tua bila dibanding induk ikan lele betina.
- Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol, memanjang ke arah
belakang, terletak di belakang anus, dan warna kemerahan.
- Gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng
(depress).
- Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele
betina.
- Bila bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor
akan mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani).
- Kulit lebih halus dibanding induk ikan lele betina.
2. Ciri-ciri induk lele betina
- Kepalanya lebih besar dibanding induk lele jantan.
- Warna kulit dada agak terang.
- Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna
kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus.
- Gerakannya lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung.
- Perutnya lebih gembung dan lunak.
- Bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke
arah ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan
(ovum/telur).
3. Syarat induk lele yang baik:
- Kulitnya lebih kasar dibanding induk lele jantan.
- Induk lele diambil dari lele yang dipelihara dalam kolam sejak kecil
supaya terbiasa hidup di kolam.
- Berat badannya berkisar antara 100-200 gram, tergantung
kesuburan badan dengan ukuran panjang 20-5 cm.

Hal. 4/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Bentuk badan simetris, tidak bengkok, tidak cacat, tidak luka, dan
lincah.
- Umur induk jantan di atas tujuh bulan, sedangkan induk betina
berumur satu tahun.
- Frekuensi pemijahan bisa satu bula sekali, dan sepanjang hidupnya
bisa memijah lebih dari 15 kali dengan syarat apabila makanannya
mengandung cukup protein.
4. Ciri-ciri induk lele siap memijah adalah calon induk terlihat mulai
berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara yang jantan dan yang
betina. Induk tersebut segera ditangkap dan ditempatkan dalam kolam
tersendiri untuk dipijahkan.
5. Perawatan induk lele:
- Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan lele diberi
makanan yang berkadar protein tinggi seperti cincangan daging
bekicot, larva lalat/belatung, rayap atau makanan buatan (pellet).
Ikan lele membutuhkan pellet dengan kadar protein yang relatif
tinggi, yaitu ± 60%. Cacing sutra kurang baik untuk makanan induk
lele, karena kandungan lemaknya tinggi. Pemberian cacing sutra
harus dihentikan seminggu menjelang perkawinan atau pemijahan.
- Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan jumlah 5-10% dari
berat total ikan.
- Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan,
sedangkan induk jantan dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya.
Induk jantan baru bisa dipindahkan apabila anak-anak lele sudah
berumur 2 minggu.
- Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang
penyakit untuk segera diobati.
- Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran
tidak perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.

b. Pemijahan Tradisional
1. Pemijahan di Kolam Pemijahan

Kolam induk:
- Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan
dasar tanah.
- Luas bervariasi, minimal 50 m2.
- Kolam terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian
dalam (kubangan) 30 % dari luas kolam. Kubangan ada di bagian
tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm, berfungsi untuk
bersembunyi induk, bila kolam disurutkan airnya.
- Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30x30x25
cm3, dari tembok yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran dari
pipa paralon diamneter 1 inchi untuk keluarnya banih ke kolam
pendederan.

Hal. 5/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Setiap sarang peneluran mempunyai satu lubang yang dibuat dari


pipa paralon (PVC) ukuran ± 4 inchi untuk masuknya induk-induk
lele.
- Jarak antar sarang peneluran ± 1 m.
- Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk kandang (kotoran ayam)
sebanyak 500-750 gram/m2.
- Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan selama 4 hari.

Kolam Rotifera (cacing bersel tunggal):


- Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam induk berfungi untuk
menumbuhkan makanan alami ikan (rotifera).
- Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk dengan pipa paralon
untuk mengalirkan rotifera.
- Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk memenuhi persyaratan
tumbuhnya rotifera.
- Luas kolam ± 10 m2.

Pemijahan:
- Siapkan induk lele betina sebanyak 2 x jumlah sarang yang tersedia
dan induk jantan sebanyak jumlah sarang; atau satu pasang per
sarang; atau satu pasang per 2-4 m2 luas kolam (pilih salah satu).
- Masukkan induk yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi
selama 4 hari.
- Beri/masukkan makanan yang berprotein tinggi setiap hari seperti
cacing, ikan rucah, pellet dan semacamnya, dengan dosis (jumlah
berat makanan) 2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan .
- Biarkan sampai 10 hari.
- Setelah induk dalam kolam selama 10 hari, air dalam kolam
dinaikkan sampai 10-15 cm di atas lubang sarang peneluran atau
kedalaman air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan sampai 10
hari. Pada saat ini induk tak perlu diberi makan, dan diharapkan
selama 10 hari berikutnya induk telah memijah dan bertelur. Setelah
24 jam, telur telah menetas di sarang, terkumpullah benih lele. Induk
lele yang baik bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya baik dan
akan bertelur terus sampai umur 5 tahun.
- Benih lele dikeluarkan dari sarnag ke kolam pendederan dengan
cara: air kolam disurutkan sampai batas kubangan, lalu benih
dialirkan melalui pipa pengeluaran.
- Benih-benih lele yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan
diberi makanan secara intensif, ukuran benih 1-2 cm, dengan
kepadatan 60 -100 ekor/m2.
- Dari seekor induk lele dapat menghasilkan ± 2000 ekor benih lele.
Pemijahan induk lele biasanya terjadi pada sore hari atau malam
hari.

Hal. 6/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Berpasangan

Penyiapan bak pemijahan secara berpasangan:


- Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1 x 1 m atau 1 x 2
m dan tinggi 0,6 m.
- Di dalam bak dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25 x 40x30 cm tanpa
dasar sebagai sarang pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan
diberi tutup untuk melihat adanya telur dalam sarang. Bagian depan
kotak/sarang pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi
gelap.
- Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari tumpukan batu bata atau
ember plastik atau barang bekas lain yang memungkinkan.
- Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil untuk menempatkan
telur hasil pemijahan.
- Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan
formalin 40 % atau KMnO4 (dapat dibeli di apotik); kemudian bilas
lagi dengan air bersih dan keringkan.

Pemijahan:
- Tebarkan I (satu) pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air
setinggi ± 25 cm. Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran dilakukan
pada jam 14.00–16.00.
- Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan yang intensif. Setelah
± 10 hari, diharapkan sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan
dalam waktu 24 jam telur-telur telah menetas. Telur-telur yang baik
adalah yang berwarna kuning cerah.
- Beri makanan anak-anak lele yang masih kecil (stadium larva)
tersebut berupa kutu air atau anak nyamuk dan setelah agak besar
dapat diberi cacing dan telur rebus.

3. Pemijahan di Bak Pemijahan Secara Masal

Penyiapan bak pemijahan secara masal:


- Buat bak dari semen seluas 20 m2 atau 50 m2, ukuran 2x10 m2 atau
5x10 m2.
- Di luar bak, menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran
30x30x30 cm3, yang dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih
dari paralon (PVC) berdiameter 1 inchi. Setiap sarang dibuatkan satu
lubang dari paralon berdiameter 4 inchi.
- Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan kerikil untuk tempat
menempel telur hasil pemijahan.
- Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan dibilas dengan larutan
desinfektan atau formalin, lalu dibilas dengan air bersih; kemudian
keringkan.

Hal. 7/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Pemijahan:
- Tebarkan induk lele yang terpilih (matang telur) dalam bak
pembenihan sebanyak 2xjumlah sarang , induk jantan sama
banyaknya dengan induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-50
pasang untuk bak seluas 50 m2 (5x10 m2), setelah bak pembenihan
diairi setinggi 1 m.
- Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50-
60 cm, induk beri makan secara intensif.
- Sepuluh hari kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas
lubang sarang sehingga air dalam sarang mencapai ketinggian 20-25
cm.
- Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk berpasangan masuk
sarang pemijahan, memijah dan bertelur. Biarkan sampai ± 10 hari.
- Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi, dan diperkirakan telur-
telur dalam sarang pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele.
- Benih lele dikeluarkan melalui saluran pengeluaran benih untuk
didederkan di kolam pendederan.

c. Pemijahan Buatan
Cara ini disebut Induced Breeding atau hypophysasi yakni merangsang
ikan lele untuk kawin dengan cara memberikan suntikan berupa cairan
hormon ke dalam tubuh ikan. Hormon hipophysa berasal dari kelenjar
hipophysa, yaitu hormon gonadotropin. Fungsi hormon gonadotropin:
- Gametogenesis: memacu kematangan telur dan sperma, disebut
Follicel Stimulating Hormon. Setelah 12 jam penyuntikan, telur
mengalami ovulasi (keluarnya telur dari jaringan ikat indung telur).
Selama ovulasi, perut ikan betina akan membengkak sedikit demi
sedikit karena ovarium menyerap air. Saat itu merupakan saat yang
baik untuk melakukan pengurutan perut (stripping).
- Mendorong nafsu sex (libido)

2) Perlakuan dan Perawatan Bibit

a. Kolam untuk pendederan:


1. Bentuk kolam pada minggu 1-2, lebar 50 cm, panjang 200 cm, dan
tinggi 50 cm. Dinding kolam dibuat tegak lurus, halus, dan licin,
sehingga apabila bergesekan dengan tubuh benih lele tidak akan
melukai. Permukaan lantai agak miring menuju pembuangan air.
Kemiringan dibuat beda 3 cm di antara kedua ujung lantai, di mana
yang dekat tempat pemasukan air lebih tinggi. Pada lantai dipasang
pralon dengan diameter 3-5 cm dan panjang 10 m.
2. Kira-kira 10 cm dari pengeluaran air dipasang saringan yang dijepit
dengan 2 bingkai kayu tepat dengan permukaan dalam dinding kolam.
Di antara 2 bingkai dipasang selembar kasa nyamuk dari bahan plastik
berukuran mess 0,5-0,7 mm, kemudian dipaku.
3. Setiap kolam pendederan dipasang pipa pemasukan dan pipa air untuk
mengeringkan kolam. Pipa pengeluaran dihubungkan dengan pipa

Hal. 8/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

plastik yang dapat berfungsi untuk mengatur ketinggian air kolam. Pipa
plastik tersebut dikaitkan dengan suatu pengait sebagai gantungan.
4. Minggu ketiga, benih dipindahkan ke kolam pendederan yang lain.
Pengambilannya tidak boleh menggunakan jaring, tetapi dengan
mengatur ketinggian pipa plastik.
5. Kolam pendederan yang baru berukuran 100 x 200 x 50 cm, dengan
bentuk dan konstruksi sama dengan yang sebelumnya.

b. Penjarangan:
1. Penjarangan adalah mengurangi padat penebaran yang dilakukan
karena ikan lele berkembang ke arah lebih besar, sehingga volume
ratio antara lele dengan kolam tidak seimbang.
- Apabila tidak dilakukan penjarangan dapat mengakibatkan :
- Ikan berdesakan, sehingga tubuhnya akan luka.
- Terjadi perebutan ransum makanan dan suatu saat dapat memicu
mumculnya kanibalisme (ikan yang lebih kecil dimakan oleh ikan
yang lebih besar).
- Suasana kolam tidak sehat oleh menumpuknya CO2 dan NH3, dan
O2 kurang sekali sehingga pertumbuhan ikan lele terhambat.
2. Cara penjarangan pada benih ikan lele :
- Minggu 1-2, kepadatan tebar 5000 ekor/m2
- Minggu 3-4, kepadatan tebar 1125 ekor/m2
- Minggu 5-6, kepadatan tebar 525 ekor/m2

c. Pemberian pakan:
1. Hari pertama sampai ketiga, benih lele mendapat makanan dari
kantong kuning telur (yolk sac) yang dibawa sejak menetas.
2. Hari keempat sampai minggu kedua diberi makan zooplankton, yaitu
Daphnia dan Artemia yang mempunyai protein 60%. Makanan tersebut
diberikan dengan dosis 70% x biomassa setiap hari yang dibagi dalam
4 kali pemberian. Makanan ditebar disekitar tempat pemasukan air.
Kira-kira 2-3 hari sebelum pemberian pakan zooplankton berakhir,
benih lele harus dikenalkan dengan makanan dalam bentuk tepung
yang berkadar protein 50%. Sedikit dari tepung tersebut diberikan
kepada benih 10-15 menit sebelum pemberian zooplankton. Makanan
yang berupa teoung dapat terbuat dari campuran kuning telur, tepung
udang dan sedikit bubur nestum.
3. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.
4. Minggu keempat dan kelima diberi pakan sebanyak 32% x biomassa
setiap hari.
5. Minggu kelima diberi pakan sebanyak 21% x biomassa setiap hari.
6. Minggu ketiga diberi pakan sebanyak 43% x biomassa setiap hari.
7. Minggu keenam sudah bisa dicoba dengan pemberian pelet apung.

d. Pengepakan dan pengangkutan benih


1. Cara tertutup:

Hal. 9/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Kantong plastik yang kuat diisi air bersih dan benih dimasukkan
sedikit demi sedikit. Udara dalam plastik dikeluarkan. O2 dari tabung
dimasukkan ke dalam air sampai volume udara dalam plastik 1/3–1/4
bagian. Ujung plastik segera diikat rapat.
- Plastik berisi benih lele dimasukkan dalam kardus atau peti supaya
tidak mudah pecah.

2. Cara terbuka dilakukan bila jarak tidak terlalu jauh:


- Benih lele dilaparkan terlebih dahulu agar selama pengangkutan, air
tidak keruh oleh kotoran lele. (Untuk pengangkutan lebih dari 5 jam).
- Tempat lele diisi dengan air bersih, kemudian benih dimasukkan
sedikit demi sedikit. Jumlahnya tergantung ukurannya. Benih ukuran
10 cm dapat diangkut dengan kepadatan maksimal 10.000/m3 atau
10 ekor/liter. Setiap 4 jam, seluruh air diganti di tempat yang teduh.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

1) Pemupukan

a. Sebelum digunakan kolam dipupuk dulu. Pemupukan bermaksud untuk


menumbuhkan plankton hewani dan nabati yang menjadi makanan alami
bagi benih lele.
b. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang (kotoran ayam) dengan
dosis 500-700 gram/m2. Dapat pula ditambah urea 15 gram/m2, TSP 20
gram/m2, dan amonium nitrat 15 gram/m2. Selanjutnya dibiarkan selama 3
hari.
c. Kolam diisi kembali dengan air segar. Mula-mula 30-50 cm dan dibiarkan
selama satu minggu sampai warna air kolam berubah menjadi coklat atau
kehijauan yang menunjukkan mulai banyak jasad-jasad renik yang tumbuh
sebagai makanan alami lele.
d. Secara bertahap ketinggian air ditambah, sebelum benih lele ditebar.

2) Pemberian Pakan

a. Makanan Alami Ikan Lele


1. Makanan alamiah yang berupa Zooplankton, larva, cacing-cacing, dan
serangga air.
2. Makanan berupa fitoplankton adalah Gomphonema spp (gol. Diatome),
Anabaena spp (gol. Cyanophyta), Navicula spp (gol. Diatome),
ankistrodesmus spp (gol. Chlorophyta).
3. Ikan lele juga menyukai makanan busuk yang berprotein.
4. Ikan lele juga menyukai kotoran yang berasal dari kakus.

b. Makanan Tambahan
1. Pemeliharaan di kecomberan dapat diberi makanan tambahan berupa
sisa-sisa makanan keluarga, daun kubis, tulang ikan, tulang ayam yang
dihancurkan, usus ayam, dan bangkai.

Hal. 10/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2. Campuran dedak dan ikan rucah (9:1) atau campuran bekatul, jagung,
dan bekicot (2:1:1).

c. Makanan Buatan (Pellet)


1. Komposisi bahan (% berat): tepung ikan=27,00; bungkil kacang
kedele=20,00; tepung terigu=10,50; bungkil kacang tanah=18,00;
tepung kacang hijau=9,00; tepung darah=5,00; dedak=9,00;
vitamin=1,00; mineral=0,500;
2. Proses pembuatan:
Dengan cara menghaluskan bahan-bahan, dijadikan adonan seperti
pasta, dicetak dan dikeringkan sampai kadar airnya kurang dari 10%.
Penambahan lemak dapat diberikan dalam bentuk minyak yang
dilumurkan pada pellet sebelum diberikan kepada lele. Lumuran minyak
juga dapat memperlambat pellet tenggelam.
3. Cara pemberian pakan:
- Pellet mulai dikenalkan pada ikan lele saat umur 6 minggu dan
diberikan pada ikan lele 10-15 menit sebelum pemberian makanan
yang berbentuk tepung.
- Pada minggu 7 dan seterusnya sudah dapat langsung diberi
makanan yang berbentuk pellet.
- Hindarkan pemberian pakan pada saat terik matahari, karena suhu
tinggi dapat mengurangi nafsu makan lele.

3) Pemberian Vaksinasi

Cara-cara vaksinasi sebelum benih ditebarkan:


a. Untuk mencegah penyakit karena bakteri, sebelum ditebarkan, lele yang
berumur 2 minggu dimasukkan dulu ke dalam larutan formalin dengan
dosis 200 ppm selama 10-15 menit. Setelah divaksinasi lele tersebut akan
kebal selama 6 bulan.
b. Pencegahan penyakit karena bakteri juga dapat dilakukan dengan
menyutik dengan terramycin 1 cc untuk 1 kg induk.
c. Pencegahan penyakit karena jamur dapat dilakukan dengan merendam
lele dalam larutan Malachite Green Oxalate 2,5–3 ppm selama 30 menit.

4) Pemeliharaan Kolam/Tambak

a. Kolam diberi perlakuan pengapuran dengan dosis 25-200 gram/m2 untuk


memberantas hama dan bibit penyakit.
b. Air dalam kolam/bak dibersihkan 1 bulan sekali dengan cara mengganti
semua air kotor tersebut dengan air bersih yang telah diendapkan 2
malam.
c. Kolam yang telah terjangkiti penyakit harus segera dikeringkan dan
dilakukan pengapuran dengan dosis 200 gram/m2 selama satu minggu.
Tepung kapur (CaO) ditebarkan merata di dasar kolam, kemudian
dibiarkan kering lebih lanjut sampai tanah dasar kolam retak-retak.

Hal. 11/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7. HAMA DAN PENYAKIT


7.1. Hama dan Penyakit

a. Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu
kehidupan lele.
b. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele
antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan
gabus dan belut.
c. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering
menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak
banyak diserang hama.

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat


rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

1) Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas


hydrophylla
Bentuk bakteri ini seperti batang dengan polar flage (cambuk yang terletak di
ujung batang), dan cambuk ini digunakan untuk bergerak, berukuran 0,7–0,8
x 1–1,5 mikron. Gejala: iwarna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul
pendarahan, bernafas megap-megap di permukaan air. Pengendalian:
memelihara lingkungan perairan agar tetap bersih, termasuk kualitas air.
Pengobatan melalui makanan antara lain: (1) Terramycine dengan dosis 50
mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7–10 hari berturut-turut. (2) Sulphonamid
sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3–4 hari.

2) Penyakit Tuberculosis
Penyebab: bakteri Mycobacterium fortoitum). Gejala: tubuh ikan berwarna
gelap, perut bengkak (karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan
limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring,
bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air
dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan Terramycin dicampur dengan
makanan 5–7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5–15 hari.

3) Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.


Jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan
yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus
seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang
daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada
telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih
gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate
2,5–3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate
0,1–0,2 ppm selama 1 jam atau 5–10 ppm selama 15 menit.

Hal. 12/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4) Penyakit Bintik Putih dan Gatal/Trichodiniasis


Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang
amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius
multifilis. Gejala: (1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di
permukaan air; (2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan
insang; (3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding
kolam. Pengendalian: air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.
Pengobatan: dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada
campuran larutan Formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green
Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12–24 jam, kemudian ikan diberi air yang
segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari.

5) Penyakit Cacing Trematoda


Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Cacing
Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus
menyerang kulit dan sirip. Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka,
kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian: (1) direndam Formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit; (2)
Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam; (3) mencelupkan tubuh ikan ke dalam
larutan Kalium -Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ± 30 menit; (4)
memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit; (5) dapat juga memakai
larutan NH4OH 0,5% selama ± 10 menit.

6) Parasit Hirudinae
Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan. Gejala:
pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga
menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada
saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm.

7.2. Hama Kolam/Tambak

Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor


penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1) Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti
dengan yang suhunya lebih dingin.
2) Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3) Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4) Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.

Hal. 13/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

8. PANEN
8.1. Penangkapan

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemanenan:


1) Lele dipanen pada umur 6-8 bulan, kecuali bila dikehendaki, sewaktu-waktu
dapat dipanen. Berat rata-rata pada umur tersebut sekitar 200 gram/ekor.
2) Pada lele Dumbo, pemanenan dapat dilakukan pada masa pemeliharaan 3-4
bulan dengan berat 200-300 gram per ekornya. Apabila waktu pemeliharaan
ditambah 5-6 bulan akan mencapai berat 1-2 kg dengan panjang 60-70 cm.
3) Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya lele tidak terlalu
kepanasan.
4) Kolam dikeringkan sebagian saja dan ikan ditangkap dengan menggunakan
seser halus, tangan, lambit, tangguh atau jaring.
5) Bila penangkapan menggunakan pancing, biarkan lele lapar lebih dahulu.
6) Bila penangkapan menggunakan jaring, pemanenan dilakukan bersamaan
dengan pemberian pakan, sehingga lele mudah ditangkap.
7) Setelah dipanen, piaralah dulu lele tersebut di dalam tong/bak/hapa selama
1-2 hari tanpa diberi makan agar bau tanah dan bau amisnya hilang.
8) Lakukanlah penimbangan secepat mungkin dan cukup satu kali.

8.2. Pembersihan

Setelah ikan lele dipanen, kolam harus dibersihkan dengan cara:


1) Kolam dibersihkan dengan cara menyiramkan/memasukkan larutan kapur
sebanyak 20-200 gram/m2 pada dinding kolam sampai rata.
2) Penyiraman dilanjutkan dengan larutan formalin 40% atau larutan
permanganat kalikus (PK) dengan cara yang sama.
3) Kolam dibilas dengan air bersih dan dipanaskan atau dikeringkan dengan
sinar matahari langsung. Hal ini dilakukan untuk membunuh penyakit yang
ada di kolam.

9. PASCAPANEN
1) Setelah dipanen, lele dibersihkan dari lumpur dan isi perutnya. Sebelum
dibersihkan sebaiknya lele dimatikan terlebih dulu dengan memukul
kepalanya memakai muntu atau kayu.
2) Saat mengeluarkan kotoran, jangan sampai memecahkan empedu, karena
dapat menyebabkan daging terasa pahit.
3) Setelah isi perut dikeluarkan, ikan lele dapat dimanfaatkan untuk berbagai
ragam masakan.

Hal. 14/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


10.1. Analisis Usaha Budidaya

Analisis Usaha Pembenihan Ikan Lele Dumbo di Desa Bendosewu, Kecamatan


Talun, Kabupaten Blitar adalah sebagai berikut:

1) Biaya produksi
a. Lahan
- Tanah 123 m2 Rp. 123.000,-
- Kolam 9 buah Rp. 1.230.000,-
- Perawatan kolam Rp. 60.000,-
b. Bibit/benih
- betina 40 ekor @ Rp. 12.000,- Rp. 480.000,-
- jantan 10 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 100.000,-
c. Pakan
- Pakan benih Rp. 14.530.300,-
- Pakan induk Rp. 4.818.000,-
d. Obat-obatan Rp. 42.000,-
e. Peralatan
- pompa air3 bh @ Rp. 110.000,- Rp. 330.000,-
- diesel 1 bh @ Rp. 600.000,- Rp. 600.000,-
- sikat 1.bh @.Rp. 25.000,- Rp. 25.000,-
- jaring 1 bh @.Rp. 150.000,- Rp. 150.000,-
- bak 5 bh @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000,-
- timba 7 bh @.Rp. 3.000,- Rp. 21.000,-
- alat seleksi 6 bh @.Rp. 4.000,- Rp. 24.000,-
- ciruk 5 bh @. Rp. 1.500,- Rp. 7.500,-
- gayung 5 bh @. Rp.1.000,- Rp. 5.000,-
- selang Rp. 90.000,-
- paralon Rp. 70.000,-
- Perawatan alat Rp. 120.000,-
f. Tenaga kerja Rp. 420.000,-
g. Lain-lain Rp. 492.000,-
h. Biaya tak terduga 10% Rp. 2.522.800,-
Jumlah biaya produksi Rp. 5.045.600,-

2) Pendapatan Rp. 2.220.000,-

3) Keuntungan Rp. 7.174.400,-

4) Parameter kelayakan usaha 25%

Hal. 15/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5) BEP dalam unit (ekor)


- ukuran 1 1.138
- ukuran 2 325.049
- ukuran 3 65.010
- ukuran 4 6.501
- ukuran 5 11.377
- ukuran 6 260

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Budidaya ikan lele, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran


mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan
ikan lele semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka
akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.

11. DAFTAR PUSTAKA


1) Arifin, M.Z. 1991. Budidaya lele. Dohara prize. Semarang.
2) Djamiko, H., Rusdi, T. 1986. Lele. Budidaya, Hasil Olah dan Analisa Usaha.
C.V. Simplex. Jakarta.
3) Djatmika, D.H., Farlina, Sugiharti, E. 1986. Usaha Budidaya Ikan Lele. C.V.
Simplex. Jakarta.
4) Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penerbit
Swadaya. Jakarta.
5) Simanjutak, R.H. 1996. Pembudidayaan Ikan Lele Lokal dan Dumbo.
Bhratara. Jakarta.
6) Soetomo, M.H.A. 1987. Teknik Budidaya Ikan Lele Dumbo. Sinar Baru.
Bandung.
7) Susanto, H. 1987. Budidaya ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hal. 16/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

12. KONTAK HUBUNGAN


Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Editor : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 17/ 17
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN MAS


( Cyprinus carpio L ).

1. SEJARAH SINGKAT
Ikan mas merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan memanjang
pipih kesamping dan lunak. Ikan mas sudah dipelihara sejak tahun 475
sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dipelihara sekitar tahun
1920. Ikan mas yang terdapat di Indonesia merupakan merupakan ikan mas
yang dibawa dari Cina, Eropa, Taiwan dan Jepang. Ikan mas Punten dan
Majalaya merupakan hasil seleksi di Indonesia. Sampai saat ini sudah terdapat
10 ikan mas yang dapat diidentifikasi berdasarkan karakteristik morfologisnya.

2. SENTRA PERIKANAN
Budidaya ikan mas telah berkembang pesat di kolam biasa, di sawah, waduk,
sungai air deras, bahkan ada yang dipelihara dalam keramba di perairan
umum. Adapun sentra produksi ikan mas adalah: Ciamis, Sukabumi,
Tasikmalaya, Bogor, Garut, Bandung, Cianjur, Purwakarta

3. JENIS
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Anak kelas : Actinopterygii
Bangsa : Cypriniformes
Suku : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Jenis : Cyprinus carpio L.

Hal. 1/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri
dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan
kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik,
bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas
adalah sebagai berikut:
1) Ikan mas punten: sisik berwarna hijau gelap; potongan badan paling pendek;
bagian punggung tinggi melebar; mata agak menonjol; gerakannya gesit;
perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.
2) Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih
gelap; punggung tinggi; badannya relatif pendek; gerakannya lamban, bila
diberi makanan suka berenang di permukaan air; perbandingan panjang
badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.
3) Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda; badan relatif panjang; mata
pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit;
gerakannya lamban, lebih suka berada di permukaan air; perbandingan
panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.
4) Ikan mas taiwan: sisik berwarna hijau kekuning-kuningan; badan relatif
panjang; penampang punggung membulat; mata agak menonjol; gerakan
lebih gesit dan aktif; perbandingan panjang badan dengan tinggi badan
antara 3,5:1.
5) Ikan mas koi: bentuk badan bulat panjang dan bersisisk penuh; warna sisik
bermacam-macam seperti putih, kuning, merah menyala, atau kombinasi dari
warna-warna tersebut. Beberapa ras koi adalah long tail Indonesian carp,
long tail platinm nishikigoi, platinum nishikigoi, long tail shusui nishikigoi,
shusi nishikigoi, kohaku hishikigoi, lonh tail hishikigoi, taishusanshoku
nshikigoi dan long tail taishusanshoku nishikigoi.

Dari sekian banyak strain ikan mas, di Jawa Barat ikan mas punten kurang
berkembang karena diduga orang Jawa Barat lebih menyukai ikan mas yang
berbadan relatif panjang. Ikan mas majalaya termasuk jenis unggul yang
banyak dibudidayakan.

4. MANFAAT
1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2) Sebagai ikan hias.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar
dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.

Hal. 2/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Ikan mas dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian antara 150-1000 m dpl.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mas harus bersih, tidak terlalu keruh
dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5) Ikan mas dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai air
deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi
pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mas. Debit air untuk kolam air
tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air deras
debitnya 100 liter/menit/m3.
6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7) Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Kolam

Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

a. Kolam pemeliharaan induk


Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya.
Sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter
persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila
diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200
meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan
dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu
bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang
sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.

b. Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok.
Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan
dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa
untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18
m2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah
pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu
pemasukan bisa dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai
pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam
penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijahan dan seringkali
juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam

Hal. 3/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah


yang ada telurnya.

c. Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama
dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak.
Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan
dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran
dasar) dan di dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir
adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk
memudahkan penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah
pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air
sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.

2) Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mas


diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.

Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan


mas antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan
panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk
mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur
yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara
terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk
menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3) Persiapan Media

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk


pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk

Hal. 4/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram
dan 10 gram/meter persegi.

6.2. Pembibitan

1) Pemilihan Bibit dan Induk

Usaha pembenihan ikan mas dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu
secara tradisional, semi intensif dan secara intensif. Dengan semakin
meningkatnya teknologi budidaya ikan, khususnya teknologi pembenihan
maka telah dilaksanakan penggunaan induk-induk yang berkualitas baik.
Keberhasilan usaha pembenihan tidak lagi banyak bergantung pada kondisi
alam namun manusia telah banyak menemukan kemajuan diantaranya
pemijahan dengan hipofisisasi, peningkatan derajat pembuahan telur dengan
teknik pembunuhan buatan, penetasan telur secara terkontrol, pengendalian
kuantitas dan kualitas air, teknik kultur makanan alami dan pemurnian
kualitas induk ikan. Untuk peningkatan produksi benih perlu dilakukan
penyeleksian terhadap induk ikan mas.

Adapun ciri-ciri induk jantan dan induk betina unggul yang sudah matang
untuk dipijah adalah sebagai berikut:
a. Betina: umur antara 1,5-2 tahun dengan berat berkisar 2 kg/ekor; Jantan:
umur minimum 8 bulan dengan berat berkisar 0,5 kg/ekor.
b. Bentuk tubuh secar akeseluruhan mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor
mulus, sehat, sirip tidak cacat.
c. Tutup insan normal tidak tebal dan bila dibuka tidak terdapat bercak putih;
panjang kepala minimal 1/3 dari panjang badan; lensa mata tampak
jernih.
d. Sisik tersusun rapih, cerah tidak kusam.
e. Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang panmgkal ekor harus lebih
panjang dibandingkan lebar/tebal ekor.

Sedangkan ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
a) Betina
- Badan bagian perut besar, buncit dan lembek.
- Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan berwarna kuning.
b) Jantan
- Badan tampak langsing.
- Gerakan lincah dan gesit.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.

2) Sistim Pembenihan/Pemijahan

Saat ini dikenal dua macam sistim pemijahan pada budidaya ikan mas, yaitu:

Hal. 5/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

a. Sistim pemijahan tradisional


Dikenal beberapa cara melakukan pemijahan secara tradisional, yaitu:
- Cara sunda: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; (2) disediakan injuk untuk menepelkan
telur; (3) setelah proses pemijahan selesai, ijuk dipindah ke kolam
penetasan.
- Cara cimindi: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan; (2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk dijepit
bambu dan diletakkan dipojok kolam dan dibatasi pematang antara dari
tanah; (3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke
kolam lain; (4) tujuh hari setelah pemijahan ijuk ini dibuka kemudian
sekitar 2-3 minggu setelah itu dapat dipanen benih-benih ikan.
- Cara rancapaku: (1) luas kolam pemijahan 25-30 meter persegi, dasar
kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari,
induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan, batas pematang antara terbuat dari batu; (2) disediakan
rumput kering untuk menepelkan telur, rumput disebar merata di
seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang antara dari tanah;
(3) setelah proses pemijahan selesai induk tetap di kolam pemijahan.;
(4) setelah benih ikan kuat maka akan berpindah tempat melalui sela
bebatuan, setelah 3 minggu maka benih dapat dipanen.
- Cara sumatera: (1) luas kolam pemijahan 5 meter persegi, dasar kolam
sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari, induk
dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan merupakan kolam
penetasan; (2) disediakan injuk untuk menepelkan telur, ijuk ditebar di
permukaan air; (3) setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan
ke kolam lain; (4) setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam
pendederan.
- Cara dubish: (1) luas kolam pemijahan 25-50 meter persegi, dibuat parit
keliling dengan lebar 60 cm dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi
air pada pagi hari, induk dimasukan pada sore hari; kolam pemijahan
merupakan kolam penetasan; (2) sebagai media penempel telur
digunakan tanaman hidup seperti Cynodon dactylon setinggi 40 cm; (3)
setelah proses pemijahan selesai induk dipindahkan ke kolam lain; (4)
setelah benih berumur 5 hari lalu pindahkan ke kolam pendederan.
- Cara hofer: (1) sama seperti cara dubish hanya tidak ada parit dan
tanaman Cynodon dactylon dipasang di depan pintu pemasukan air.

b. Sistim kawin suntik


Pada sisitim ini induk baik jantan maupun betina yang matang bertelur
dirangsang untuk memijah setelah penyuntikan ekstrak kelenjar hyphofise
ke dalam tubuh ikan. Kelenjar hyphofise diperoleh dari kepala ikan donor
(berada dilekukan tulang tengkorak di bawah otak besar). Setelah
suntikan dilakukan dua kali, dalam tempo 6 jam induk akan terangsang

Hal. 6/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

melakukan pemijahan. Sistim ini memerlukan biaya yang tinggi, sarana


yang lengkap dan perawatan yang intensif.

3) Pembenihan/Pemijahan

Hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas:


a. Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas.
b. Air tidak terlalu keruh; kadar oksigen dalam air cukup; debit air cukup; dan
suhu berkisar 25 derajat C.
c. Diperlukan bahan penempel telur seperti ijuk atau tanaman air.
d. Jumlah induk yang disebar tergantung dari luas kolam, sebagai patokan
seekor induk berat 1 kg memerlukan kolam seluas 5 meter persegi.
e. Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pellet
diberikan secara teratur 2 kali sehari (pagi dan sore hari) dengan takaran
2-4% dari jumlah berat induk ikan.

4) Pemeliharaan Bibit/Pendederan

Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mas dilakukan setelah telur-telur


hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan
(luas 200-500 meter persegi) yang sudah siap menerima anak ikan dimana
kolam tersebut dikeringkan terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan
liar. Kolam diberi kapur dan dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan
pemberian pakan untuk bibit diseuaikan dengan ketentuan.

Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:


a. Tahap I: umur benih yang disebar sekitar 5-7 hari(ukuran1-1,5 cm); jumlah
benih yang disebar=100-200 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1
bulan; ukuran benih menjadi 2-3 cm.
b. Tahap II: umur benih setelah tahap I selesai; jumlah benih yang
disebar=50-75 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 3-5 cm.
c. Tahap III: umur benih setelah tahap II selesai; jumlah benih yang
disebar=25-50 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran
benih menjadi 5-8 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus
3-5% dari jumlah bobot benih.
d. Tahap IV: umur benih setelah tahap III selesai; jumlah benih yang
disebar=3-5 ekor/meter persegi; lama pemeliharaan 1 bulan; ukuran benih
menjadi 8-12 cm; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 3-5%
dari jumlah bobot benih.

5) Perlakuan dan Perawatan Bibit

Apabila benih belum mencapai ukuran 100 gram, maka benih diberi pakan
pelet 2 mm sebanyak 3 kali bobot total benih yang diberikan 4 kali sehari
selama 3 minggu.

Hal. 7/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun


monokultur.
a) Polikultur
1. ikan mas 50%, ikan tawes 20%, dan mujair 30%, atau
2. ikan mas 50%, ikan gurame 20% dan ikan mujair 30%.
b) Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan
dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk
jantan dan betina.

1) Pemupukan

Pemupukan dengan kotoran kandang (ayam) sebanyak 250-500 gram/m2,


TSP 10 gram/m2, Urea 10 gram/m2, kapur 25-100 gram/m2. Setelah itu kolam
diisi air 39\0-40 cm. Biarkan 5-7 hari. Dua hari setelah pengisian air, kolam
disemprot dengan insektisida organophosphat seperti Sumithion 60 EC,
Basudin 60 EC dengan dosis 2-4 ppm. Tujuannya untuk memberantas
serangga dan udang-udangan yang memangsa rotifera. Setelah 7 hari
kemudian, air ditinggikan sekitar 60 cm. Padat penebaran ikan tergantung
pemeliharaannya. Jika hanya mengandalkan pakan alami dan dedak, maka
padat penebaran adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan bila diberi pakan
pellet, maka penebaran adalah 300-400 ekor/m2 (benih lepas hapa).
Penebaran dilakukan pada pagi/sore hari saat suhu rendah.

2) Pemberian Pakan

Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan


buatan. Pakan yang berkualitas baik mengandung zat-zat makanan yang
cukup, yaitu protein yang mengandung asam amino esensial, karbohidrat,
lemak, vitamin dan mineral. Perawatan larva dalam hapa sekitar 4-5 hari.
Setelah larva tidak menempel pada kakaban (3-4 hari kemudian) kakaban
diangkat dan dibersihkan. Pemberian pakan untuk larva, 1 butir kuning telur
rebus untuk 100.000 ekor/hari. Caranya kuning telur dibuat suspensi (1/4 liter
air untuk 1 butir), kuning telur diremas dalam kain kemudian diberikan pada
benih, perawatan 5-7 hari.

3) Pemeliharaan Kolam/Tambak

Dalam hal pemeliharaan ikan mas yang tidak boleh terabaikan adalah
menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak
tercemari/teracuni oleh zat beracun.

Hal. 8/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7. HAMA DAN PENYAKIT


7.1. Hama

1) Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.

2) Ucrit (Larva cybister)


Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.

3) Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.

4) Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.

5) Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.

6) Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.

7) Ikan gabus
Memangsa ikan kecil. Pengendalian:pintu masukan air diberi saringan atau
dibuat bak filter.

8) Belut dan kepiting


Pengendalian: lakukan penangkapan.

7.2. Penyakit

1) Bintik merah (White spot)


Gejala: pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih,
pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan
badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah
serta sering muncul di permukaan air. Pengendalian: direndam dalam
larutan Methylene blue 1% (1 gram dalam 100 cc air) larutan ini diambil 2-4
cc dicampur 4 liter air selama 24 jam dan Direndam dalam garam dapur
NaCl selama 10 menit, dosis 1-3 gram/100 cc air.

Hal. 9/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Bengkak insang dan badan ( Myxosporesis)


Gejala: tutup insang selalu terbuka oleh bintik kemerahan, bagian punggung
terjadi pendarahan. Pengendalian; pengeringan kolam secara total, ditabur
kapur tohon 200 gram/m2, biarkan selama 1-2 minggu.

3) Cacing insang, sirip, kulit (Dactypogyrus dan girodactylogyrus)


Gejala: ikan tampak kurus, sisik kusam, sirip ekor kadang-kadang rontok,
ikan menggosok-gosokkan badannya pada benda keras disekitarnya, terjadi
pendarahan dan menebal pada insang. Pengendalian: (1) direndan dalam
larutan formalin 250 gram/m3 selama 15 menit dan direndam dalam
Methylene blue 3 gram/m3 selama 24 jam; (2) hindari penebaran ikan yang
berlebihan.

4) Kutu ikan (argulosis)


Gejala: benih dan induk menjadi kurus, karena dihisap darahnya. Bagian
kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage).
Pengendalian: (1) ikan yang terinfeksi direndan dalam garam dapur 20
gram/liter air selama 15 menit dan direndam larutan PK 10 ppm (10 ml/m3)
selama 30 menit; (2) dengan pengeringan kolam hingga retak-retak.

5) Jamur (Saprolegniasis)
Menyerang bagian kepala, tutup insang, sirip dan bagian yang lainnya.
Gejala: tubuh yang diserang tampak seperti kapas. Telur yang terserang
jamur, terlihat benang halus seperti kapas. Pengendalian: direndam dalam
larutan Malactile green oxalat (MGO) dosis 3 gram/m3 selama 30 menit; telur
yang terserang direndam dengan MGO 2-3 gram/m3 selama 1 jam.

6) Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan. Gejala: gerakan lamban; suka menggosok-gosokan
badan pada sisi kolam/aquarium. Pengendalian: rendam selam 15 menit
dalam larutan formalin 150-200 ppm.

7) Bakteri psedomonas flurescens


Penyakit yang sangat ganas. Gejala: pendarahan dan bobok pada kulit; sirip
ekor terkikis. Pengendalian: pemberian pakan yang dicampur
oxytetracycline 25-30 mg/kg ikan atau sulafamerazine 200mg/kg ikan selama
7 hari berturut-turut.

8) Bakteri aeromonas punctata


Penyakit yang sangat ganas. Gejala: warna badan suram, tidak cerah; kulit
kesat dan melepuh; cara bernafas mengap-mengap; kantong empedu
gembung; pendarahan dalam organ hati dan ginjal. Pengendalian:
penyuntikan chloramphenicol 10-15 mg/kg ikan atau streptomycin 80-100
mg/kg ikan; pakan dicampur terramicine 50 mg/kg ikan selama 7 hari
berturut-turut.

Hal. 10/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya


penyakit dan hama pada budidaya ikan mas:
1) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
2) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
3) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
4) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu
pintu pemasukan air.
5) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
6) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
7) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.

8. PANEN
8.1. Pemanenan Benih

Sebelum dilakukan pemanenan benih ikan, terlebih dahulu dipersiapkan alat-


alat tangkap dan sarana perlengkapannya. Beberapa alat tangkap dan sarana
yang disiapkan diantaranya keramba, ember biasa, ember lebar, seser halus
sebagai alat tangkap benih, jaring atau hapa sebagai penyimpanan benih
sementara, saringan yang digunakan untuk mengeluarkan air dari kolam agar
benih ikan tidak terbawa arus, dan bak-bak penampungan yang berisi air bersih
untuk penyimpanan benih hasil panen.

Panen benih ikan dimulai pagi-pagi, yaitu antara jam 04.00–05.00 pagi dan
sebaiknya berakhir tidak lebih dari jam 09.00 pagi. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari terik matahari yang dapat mengganggu benih ikan kesehatan
tersebut. Pemanenan dilakukan mula-mula dengan menyurutkan air kolam
pendederan sekitar pkul 04.00 atau 05.00 pagi secara perlahan-lahan agar ikan
tidak stres akibat tekanan air yang berubah secara mendadak. Setelah air surut
benih mulai ditangkap dengan seser halus atau jaring dan ditampung dalam
ember atau keramba.

Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panenan yang dapat
diperoleh dapat mencapai 70-80% dengan ukuran benih antara 8-12 cm.

8.2. Cara Perhitungan Benih

Untuk mengetahui benih ikan hasil panenan yang disimpan dalam bak
penyimpanan maka sebelum dijual, terlebih dahulu dihitung jumlahnya. Cara
menghitung benih umumnya dengan memakai takaran, yaitu dengan
menggunakan sendok untuk larva dan kebul, cawan untuk menghitung putihan,
dan dihitung per ekor untuk benih ukuran glondongan. Penghitungan benih
biasanya dengan cara:

Hal. 11/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

a) Penghitungan dengan sendok.


b) Penghitungan dengan mangkok.

8.3. Pembersihan

Pada umumnya, dasar kolam pendederan sudah dirancang miring dan ada
saluran di tengah kolam, selain itu pada dasar kolam tersebut ada bagian yang
lebih dalam dengan ukuran 1-2 meter persegi sehingga ketika air menyurut,
maka benih ikan akan mengumpul di bagian kolam yang dalam tersebut. Benih
ikan lalu ditangkap sampai habis dan tidak ada yang ketinggalan dalam kolam.
Benih ikan tersebut semuanya disimpan dalam bak-bak penampungan yang
telah disiapkan.

8.4. Pemanenan Hasil Pembesaran

Untuk menangkap/memanen ikan hasil pembesaran umumnya dilakukan panen


total. Umur ikan mas yang dipanen berkisar antara 3-4 bulan dengan berat
berkisar antara 400-600 gram/ekor. Panen total dilakukan dengan cara
mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm. Petak
pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 2 meter persegi di depan pintu
pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan ikan.
Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan
menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan
secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.

9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan mas dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.

1) Penanganan ikan hidup


Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

2) Penanganan ikan segar


Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.

Hal. 12/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak


dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.

3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah


sebagai berikut:
a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
b. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
dengan ukuran benihnya.
d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
- Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
- Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan.
Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m
dapat diisi 2 buah kantong plastik.

Hal. 13/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).
- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-
2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan
dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli
dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau
formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


10.1. Analisis Usaha Budidaya

Analisis budidaya ikan mas koki dengan luas lahan 70 m2 (kapasitas 1000 ekor)
selama 7 bulan pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat.

1) Biaya produksi
a. Sewa dan pembuatan kolam Rp. 1.500.000,-
b. Benih ikan 1.000 ekor, @ Rp.100,- Rp. 100.000,-
c. Pakan
- Cacing rambut 150 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 225.000,-
- Pelet udang 10 kg @ Rp. 9.500,- Rp. 95.000,-
- Tepung jagung 50 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 75.000,-
- Ganti air 7 bulan x 4 x2 @ Rp. 5.000,- Rp. 140.000,-
- Tenaga kerja 28 minggu @ Rp.10.000,- Rp. 280.000,-
- Obat-oabatan Rp. 10.000,-
d. Peralatan Rp. 50.000,-
e. Lain-lain Rp. 150.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 2.625.000,-

2) Pendapatan
a. Panen I (2 bulan) 400 ekor @ Rp.1.000,- Rp. 400.000,-
b. Panen II (4 bulan) 250 ekor @ Rp. 3.000,- Rp. 750.000,-
c. Panen III ( 2 bulan) 250 ekor @ Rp. 10.000,- Rp. 2.500.000,-
Jumlah pendapatan Rp. 3.650.000,-

Hal. 14/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Keuntungan dalam 7 bulan Rp. 1.025.000,-


a. Keuntungan per bulan Rp. 146.425,-

4) Parameter kelayakan usaha


B/C ratio 1,39

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,
danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi
alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia.
Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh
pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal
pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,
penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.

Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mas dan ikan air tawar
lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil
penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Apabila pasaran lokal ikan mas mengalami kelesuan, maka akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir
di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mas boleh dikatakan hampir tak
ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan
faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor
perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

11. DAFTAR PUSTAKA


1) DAMANA, Rahman. 1990. Pembenihan Ikan Mas Secara Intensif dalam
Sinar Tani. 2 ,Juni 1990 hal. 2
2) GUNAWAN. Mengenal Cara Pemijahan Ikan Mas dalam Sinar Tani. 27
Agustus 1988 hal. 5
3) RUKMANA, Rahmat. 1991. Budidaya Ikan Mas, Untungnya Bagai Menabung
Emas dalam Sinar Tani. 13 Februari 1991 hal. 5
4) RUKMANA, Rahmat. 1992. Prospek Usaha Ikan Mas Menggiurkan Dan
Menguntungkan dalam Suara Karya. 18 Februari 1992 hal. 7
5) SANTOSO, Budi. 1993. Petunjuk praktis : Budidaya ikan mas. Yogyakarta :
Kanisius.
6) SUMANTADINATA, Komar. 1981. Pengembangbiakan ikan-ikan peliharaan
di Indonesia. Jakarta : Sastra Hudaya.
7) SUSENO, Djoko. 1999. Pengelolaan usaha pembenihan ikan mas, cet. :7.
Jakarta : Penebar Swadaya.

Hal. 15/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

12. KONTAK HUBUNGAN


Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Editor : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 16/ 16
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN MUJAIR


( Tilapia mossambica )

1. SEJARAH SINGKAT
Ikan mujair merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih
dengan warna abu-abu, coklat atau hitam. Ikan ini berasal dari perairan Afrika
dan pertama kali di Indonesia ditemukan oleh bapak Mujair di muara sungai
Serang pantai selatan Blitar Jawa Timur pada tahun 1939. Ikan mujair
mempunyai toleransi yang besar terhadap kadar garam/salinit as. Jenis ikan ini
mempunyai kecepatan pertumbuhan yang relatif lebih cepat, tetapi setelah
dewasa percepatan pertumbuhannya akan menurun. Panjang total maksimum
yang dapat dicapai ikan mujair adalah 40 cm.

2. SENTRA PERIKANAN
Sentra perikanan terdapat didaerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera,
Kalimantan.

3. JENIS
Klasifikasi ikan mujair adalah sebagai berikut:
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Species : Oreochromis mossambicus

Hal. 1/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Adapun jenis ikan mujair yang dikenal antara lain: mujair biasa, mujair merah
(mujarah) atau jamerah dan mujair albino.

4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar
dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Ikan mujair dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian antara 150-1000 m dpl.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan mujair harus bersih, tidak terlalu keruh
dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5) Ikan mujair dapat berkembang pesat di kolam, sawah, kakaban, dan sungai
air deras. Kolam dengan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik
bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan mujair. Debit air untuk kolam
air tenang 8-15 liter/detik/ha, sedangkan untuk pembesaran di kolam air
deras debitnya 100 liter/menit/m3.
6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 7-8.
7) Suhu air yang baik berkisar antara 20-25 derajat C.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Kolam

Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan
mujair tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb).
Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan mujair
antara lain:
a. Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan
Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa
kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam
induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air
berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam
sebaiknya berpasir.

Hal. 2/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

b. Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan


Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam
antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama
pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu,
pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
c. Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan
membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:
- Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan
selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara
2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam.
Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab
benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi
gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua
atau langsung dijual kepada pera petani.
- Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih
gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.
Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.
Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10
ekor/meter persegi.
- Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan
kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
d. Kolam/tempat pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan

2) Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan mujair


diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (Kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.

Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan


mujair antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan
panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk
mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur
yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara
terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk
menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),

Hal. 3/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk


segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3) Persiapan Media

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk


pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk
buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram
dan 10 gram/meter persegi.

6.2. Pembibitan

Untuk menyiapkan bibit ikan mujair yang akan dipelihara, perlu diperhatikan
hal-hal penyiapan media pemeliharaan, pemilihan dan pemeliharaan induk,
penetasan dan persyaratan bibit, ciri-ciri bibit dan induk unggul.

1) Pemilihan Induk

Ciri-ciri induk bibit mujair yang unggul adalah sebagai berikut:


a. Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas
yang tinggi.
b. Pertumbuhannya sangat cepat.
c. Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
d. Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
e. Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
f. Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 100 gram lebih per
ekornya.

Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
a. Betina
- Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang
pengeluaran telur dan lubang urine.
- Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.
- Warna perut lebih putih.
- Warna dagu putih.
- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
b. Jantan
- Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang
sperma merangkap lubang urine.
- Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
- Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.

Hal. 4/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.


- Jika perut distriping mengeluarkan cairan.

2) Sistim Pembibitan

Pembibitan ikan mujair dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:


a. Sistim satu kolam
Pada sistim ini kolam pemijahan/pembenihan disatukan dengan kolam
pendederan/ pemeliharaan anak. Setelah dilakukan persiapan media
pembibitan, tebarkan induk jantan dan betina dengan perbandingan 1:2
atau 1:4 dengan jumlah kepadatan 2 pasang/10 meter persegi.
Pamanenan dilakukan setiap 2 minggu sekali.
b. Sistim dua kolam
Pada sistim ini proses pemijahan dan pendederan dilakukan pada kolam
terpisah, dengan perbandingan luas kolam pemijahan dengan kolam
pendederan adalah 1:2 atau 1:4. Dasar kolam pendederan harus lebih
rendah dari dasar kolam lainnya agar aliran air cukup deras mengalir dari
kolam pemijahan ke kolam pendederan. Pada pintu kedua kolam tersebut
dipasang saringan kasar agar hanya anak-anak ikan saja yang dapat
lewat. Jumlah dan kepadatan induk jantan dan betina yang disebarkan
sama dengan sistim satu kolam.
c. Sistim platform
Pada sistim ini kolam dibagi dalam 4 bagian, yaitu kolam pertama sebagai
tempat induk jantan dan betina bertemu atau tempat pemijahan. Kolam
kedua tempat induk betina dimana disekat oleh kisi atau krei bambu
dengan ukuran lubang-lubang sebesar badan induk betina sehingga
hanya induk betina yang dapat lolos ke kolam kedua ini. Kolam ketiga
merupakan temapt pelepasan larva dan temapat yang ke empat adalah
tempat pendederan. Persiapan media dan jumlah induk yang dilepas
sama dengan sistim yang pertama.

3) Pembenihan

Pemijahan dan penetasan ikan mujair berlangsung sepanjang tahun pada


kolam pemijahan dan tidak memerlukan lingkungan pemijahan secara
khusus. Hal yang perlu dilakukan adalah penyiapan media pemeliharaan
seperti pengerikan pengapuran dan pemupukan. Ketinggian air di kolam
dipertahankan sekitar 50 cm.

Untuk menambah tingkat produkivitas dan kesuburan, maka diberikan


makanan tambahan dengan komposisi sebagai berikut: tepung ikan 25%,
tepung kopra 10% dan dedak halus sebesar 65%. Komposisi ransum ini
digunakan dalam usaha budidaya ikan mujair secara komersial. Dapat juga
diberi makanan yang berupa pellet yang berkadar protein 20-30% dengan
dosis 2-3% dari berat populasi per hari, diberikan sebanyak 2 kali/hari yaitu
pada pagi dan sore hari.

Hal. 5/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Pemijahan akan terjadi setelah induk jantan membuat lubang sarang yang
berupa cekungan di dasar kolam dengan garis tengah sekitar 10-35 cm.
Begitu pembuatan sarang pemijahan selesai, segera berlangsung proses
pemijahan. Setelah proses pembuahan selesai, maka telur-telur hasil
pemijahan segera dikumpulkan oleh induk betina ke dalam mulutnya untuk
dierami hingga menetas. Pada saat tersebut induk betina tidak aktif makan
sehingga terlihat tubuhnya kurus. Telur akan menetas setelah 3-5 hari pada
suhu air sekitar 25-27 derajat C. Setelah sekitar 2 minggu sejak penetasan,
induk betina baru melepaskan anak-anaknya, karena telah mampu mencari
makanan sendiri.

4) Pemeliharaan Bibit

Pendederan atau pemeliharaan anak ikan mujair dilakukan setelah telur-telur


hasil pemijahan menetas. Kegiatan ini dilakukan pada kolam pendederan
yang sudah siap menerima anak ikan dimana kolam tersebut dikeringkan
terlebih dahulu serta dibersihkan dari ikan-ikan liar. Kolam diberi kapur dan
dipupuk sesuai ketentuan. Begitu pula dengan pemberian pakan untuk bibit
diseuaikan dengan ketentuan.

Jumlah penebaran dalam kolam pendederan tergantung dari ukuran benih


ikan. Benih ikan ukuran 1-3 cm, jumlah penebarannya sekitar 30-50
ekor/meter persegi, ukuran 3-5 cm jumlah penebarannya berkisar 5-10
ekor/meter persegi. Sedangkan anak ikan ukuran 5-8 cm jumlah
penebarannya 2-5 ekor/meter persegi. Untuk benih yang ukuran 5-8 cm ini,
sebaiknya dilakukan secara monoseks kultur, karena pada ukuran tersebut
benih ikan sudah dapat dibedakan yang berjenis kelamin jantan atau betina.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun


monokultur.
a) Polikultur
1. ikan mujair 50%, ikan tawes 20%, dan mas 30%, atau
2. ikan mujair 50%, ikan gurame 20% dan ikan mas 30%.
b) Monokultur
Pemeliharaan sistem ini merupakan pemeliharaan terbaik dibandingkan
dengan polikultur dan pada sistem ini dilakukan pemisahan antara induk
jantan dan betina.

Pembesaran ikan mujair pun dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa
berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa
dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang
diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih
ikan mujair. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat
menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-1,5 m dengan
kedalaman 60-75 cm.

Hal. 6/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

1) Pemupukan

Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan dan produktivitas kolam,


yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-
banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk
hijau dengan dosis 50–700 gram/m2

2) Pemberian Pakan

Apabila tingkat produkivitas dan kesuburan kolam sudah semakin berkurang,


maka bisa diberikan makanan tambahan dengan komposisi sebagai berikut:
tepung ikan 25%, tepung kopra 10% dan dedak halus sebesar 65%.
Komposisi ransum ini digunakan dalam usaha budidaya ikan munjair secara
komersial. Dapat juga diberi makanan yang berupa pellet yang berkadar
protein 20-30% dengan dosis 2-3% dari berat populasi per hari, diberikan
sebanyak dua kali per hari yaitu pada pagi dan sore hari.

Disamping itu juga kondisi pakan dalam perairan tersebut sesuai dengan
dosis atau ketentuan yang ada. Yaitu selain pakan dari media dasar juga
perlu diberi makanan tambahan berupa hancuran pellet atau remah dengan
dosis 10% dari berat populasi per hari. Pemberiannya 2-3 kali/hari.

3) Pemeliharaan Kolam/Tambak

Dalam hal pemeliharaan ikan mujair yang tidak boleh terabaikan adalah
menjaga kondisi perairan agar kualitas air cukup stabil dan bersih serta tidak
tercemari/teracuni oleh zat beracun.

7. HAMA DAN PENYAKIT


7.1. Hama

1) Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.

2) Ucrit (Larva cybister)


Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.

3) Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.

Hal. 7/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4) Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.

5) Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.

6) Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.

7.2. Penyakit

Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya


penyakit dan hama pada budidaya ikan mujair:
a) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
b) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
c) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
d) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu
pemasukan air.
e) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
f) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
g) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.

8. PANEN
Pemanenan ikan mujair dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen
sebagian.

1) Panen sebagian atau panen selektif

Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen
dipilih dengan ukuran tertentu (untuk pemanenan benih). Ukuran benih yang
akan dipanen (umur 1-1,5 bulan) tergantung dari permintaan konsumen,
umumnya digolongkan untuk ukuran: 1-3 cm; 3-5 cm dan 5-8 cm.
Pemanenan dilakukan dengan menggunakan waring yang di atasnya telah
ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih (biasanya terluka akibat
jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya dipisahkan dan diberi obat
dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm selama 1 jam.

Hal. 8/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Panen total

Umumnya panen total dilakukan untuk menangkap/memanen ikan hasil


pembesaran. Umumnya umur ikan mujair yang dipanen berkisar antara 5
bulan dengan berat berkisar antara 30-45 gram/ekor. Panen total dilakukan
dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian air tinggal 10-20 cm.
Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m persegi di depan
pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam penangkapan
ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas dengan
menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan
secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.

9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan mujair dapat dilakukan dengan cara
penanganan ikan hidup maupun ikan segar.

1) Penanganan ikan hidup


Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

2) Penanganan ikan segar


Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.

Hal. 9/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah


sebagai berikut:
1) Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan
penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air
sumur yang telah diaerasi semalam.
3) Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m
atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat
menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5
cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran
benihnya.
4) Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
a. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap
keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar
5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
b. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu
lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan
ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:1); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos
yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat
diisi 2 buah kantong plastik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
1) Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam
10 liter air bersih).
2) Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik
terjadi perlahan-lahan.
3) Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2
menit.
4) Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan

Hal. 10/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat


juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin
sebanyak 4% selama 3-5 menit.
5) Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


10.1 Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis usaha budidaya pembenihan ikan mujair selama 1 bulan


pada tahun 1999 di daerah Jawa Tengah adalah sebagai berikut:

1) Biaya produksi
a. Sewa kolam Rp. 120.000,-
b. Benih ikan mujair 4000 ekor, @ Rp.150,- Rp. 600.000,-
c. Pakan
- Dedak 8 karung @ Rp.800,- Rp. 6.400,-
d. Obat dan pupuk
- Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
- Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,- Rp. 18.000,-
- Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,- Rp. 36.000,-
e. Peralatan Rp. 96.000,-
f. Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7000,- Rp. 210.000,-
g. Biaya tak terduga 10% Rp. 111.440,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.225.840,-

2) Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.550,- Rp.1.870.000,-

3) Keuntungan Rp. 644.160,-

4) Parameter kelayakan usaha


a. B/C ratio 11,52

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,
danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi
alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia.
Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh
pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal
pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,
penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.

Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan mujair dan ikan air
tawar lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil

Hal. 11/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.


Apabila pasaran lokal ikan mujair mengalami kelesuan, maka akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir
di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan mujair boleh dikatakan hampir tak
ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan
faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor
perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

11. DAFTAR PUSTAKA


1) Sugiarti, Ir. 1988. Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila Penerbitan CV
Simpleks (Anggota IKAPI) Jakarta.
2) Rahardi, F. 1993. Kristiawati, Regina. Nazaruddin. Agribisnis Perikanan,
Penerbit Swadaya, Jakarta.

12. KONTAK HUBUNGAN


Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Editor : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 12/ 12
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN NILA


( Oreochromis niloticus )

1. SEJARAH SINGKAT
Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh
memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal
dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke
negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di
wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan nila disukai
oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan
kakap merah.

Bibit ikan didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian


Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah melalui masa penelitian dan
adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia.
Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui
Direktur Jenderal Perikanan.

2. SENTRA PERIKANAN
Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan di seluruh propinsi.

3. JENIS
Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut:
Kelas : Osteichthyes
Sub-kelas : Acanthoptherigii
Crdo : Percomorphi
Sub-ordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis

Hal. 1/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Spesies : Oreochromis niloticus.

Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila
albino.

4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.

5. PERSYARATAN LOKASI
a) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar
dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
b) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
c) Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
d) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan
tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat
pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya
plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau
kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan
plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan
air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang
disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak, angka
kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
e) Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang
dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air
arus deras.
f) Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5.
Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
g) Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C.
h) Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

1) Kolam

Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila
tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb).

Hal. 2/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila
antara lain:
a) Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan
Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa
kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam
induk hanya 2 ekor/m2. Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air
berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam
sebaiknya berpasir.
b) Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam
antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama
pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu,
pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
c) Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan
membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:
1. Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan
selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara
2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam.
Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab
benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi
gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua
atau langsung dijual kepada pera petani.
2. Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih
gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.
Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm.
Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10
ekor/meter persegi.
3. Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan
kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi.
d) Kolam/tempat pemberokan

Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa
berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran
hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang
sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan
pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam
dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1-
1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.

2) Peralatan

Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila


diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg),

Hal. 3/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.

Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan


nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan
diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan
ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan
jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat
melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau
kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari
alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk
menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap
ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet
(untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser
(gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).

3) Persiapan Media

Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk


pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb.
Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah
pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi,
diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing
dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk
buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram
dan 10 gram/meter persegi.

6.2. Pembibitan

1) Pemilihan Bibit dan Induk

Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:


a) Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas
yang tinggi.
b) Pertumbuhannya sangat cepat.
c) Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
d) Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
e) Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
f) Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram lebih per
ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan.

Hal. 4/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
a) Betina
1. Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang
pengeluaran telur dan lubang urine.
2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.
3. Warna perut lebih putih.
4. Warna dagu putih.
5. Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
b) Jantan
1. Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang
sperma merangkap lubang urine.
2. Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.
3. Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.
4. Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.
5. Jika perut distriping mengeluarkan cairan.

Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara liar. Akibatnya,
kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak
lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama agar
dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan.

Untuk mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode


kultur tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang
dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila
betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:
a) Secara manual (dipilih)
b) Sistem hibridisasi antarjenis tertentu
c) Merangsang perubahan seks dengan hormon
d) Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara.
1. Perendaman
2. Perlakuan hormon melalui pakan

2) Pembenihan dan Pemeliharaan Benih

Pada usaha pembenihan, kegiatan yang dilakukan adalah :


a) Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan burayak
(anak ikan).
b) Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih ikan yang
lebih besar.

Usaha pembenihan biasanya menghasilkan benih yang berbeda-beda


ukurannya. Hal ini berkaitan dengan lamanya pemeliharaan benih. Benih
ikan nila yang baru lepas dan mulut induknya disebut "benih kebul". Benih
yang berumur 2-3 minggu setelah menetas disebut benih kecil, yang disebut
juga putihan (Jawa Barat). Ukurannya 3-5 cm. Selanjutnya benih kecil
dipelihara di kolam lain atau di sawah. Setelah dipelihara selama 3-1 minggu

Hal. 5/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat 8-10 gram/ekor. Benih


ini disebut gelondongan kecil. Benih nila merah. Berumur 2-3 minggu,
ukurannya ± 5 cm. Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1-
1,5 bulan. Pada umur ini panjang benih telah mencapai 10-12 cm dengan
berat 15-20 gram. Benih ini disebut gelondongan besar.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

Dua minggu sebelum dan dipergunakan kolam harus dipersiapkan. Dasar


kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan
dicangkul sambil diratakan. Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai
teriadi kebocoran. Saluran air diperbaiki agar jalan air lancar. Dipasang
saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur
untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hamanya. Untuk mi
dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300 kg/ha (bila dipakai kapur panas,
Ca 0). Kalau dipakai kapur pertanian dosisnya 500-1.000 kg/ha. Pupuk
kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk
kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat
tersebar merata. Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah semuanya siap,
kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan dibiarkan 2-3 hari agar teriadi
mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-
100 cm. Kini kolam siap untuk ditebari induk ikan.

1) Pemupukan

Pemupukan dengan jenis pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), serta
kapur. Cara pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar
yang ditentukan oleh dinas perikanan daerah setempat, sesuai dengan
tingkat kesuburan di tiap daerah.

Beberapa hari sebelum penebaran benih ikan, kolam harus dipersiapkan


dahulu. Pematang dan pintu air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam
dicangkul dan diratakan.

Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100-150 kg/ha.


Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam menjadi 7,0-8,0 dan
juga dapat mencegah serangan penyakit. Selanjutnya kolam diberi pupuk
organik sebanyak 300-1.000 kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan
sebanyak 50 kg/ha. Urea dan TSP diberikan dengan dicampur terlebih
dahulu dan ditebarkan merata di dasar kolam.

Selesai pemupukan kalam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar
terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han
kelima air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari
semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan. Pada saat itu fitoplankton
mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi
kuning kehijauan. Di dasar kolam juga mulai banyak terdapat organisme

Hal. 6/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, anak-anak siput
dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, air kolam diatur sedalam 75-
100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada
saat makanan alami sudah mulai habis.

Pupuk susulan ini menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk
itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam
keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam, dua bush
di kin dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Sedangkan yang dua
keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut kolam.

Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam


kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil agar pupuk sedikit demi
sedikit. Kantong pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang
dipancangkan di dasar kolam. Posisi ng terendam tetapi tidak sampai ke
dasar kolam. Selain pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan
katul. pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau atau
sawah yang diberakan.

2) Pemberian Pakan

Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton,


maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik
nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan nila.
Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang
mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%.
Pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di
dalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan
taoge dan daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan
tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet sebagai pakan
induk kira-kira 3% berat biomassa per han. Agar diketahui berat bio massa
maka diambil sampel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya.
Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam
kolam. Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka berat
biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x 19.800 gram =
594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan pakan yang banyak
mengandung lemak seperti bungkil kacang dan bungkil kelapa tidak baik
untuk induk ikan. Apalagi kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak
halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. Bahan pakan seperti itu
juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam.

3) Pemeliharaan Kolam/Tambak

Sistem dan intensitas pemeliharaan ikan nila tergantung pada tempat


pemeliharaan dan input yang tersedia.Target produksi harus disesuaikan
dengan permintaan pasar. Biasanya konsumen menghendaki jumlah dan

Hal. 7/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

ukuran ikan yang berbeda-beda. Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat,
yaitu

a) Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)


- Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan ikan yang belum
berkembang. Input produksinya sangat sederhana. Biasanya dilakukan
di kolam air tawar. Dapat pula dilakukan di sawah. Pengairan
tergantung kepada musim hujan. Kolam yang digunakan biasanya
kolam pekarangan yang sempit. Hasil ikannya hanya untuk konsumsi
keluarga sendiri. Sistem pemeliharaannya secara polikultur. Sistem ini
telah dipopulerkan di wilayah desa miskin.
- Pemupukan tidak diterapkan secara khusus. Ikan diberi pakan berupa
bahan makanan yang terbuang, seperti sisa-sisa dapur limbah
pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.).
- Perkiraan pemanenan tidak tentu. Ikan yang sudah agak besar dapat
dipanen sewaktu-waktu. Hasil pemeliharaan sistem ekstensif sebenar
cukup lumayan, karena pemanenannya bertahap. Untuk kolam
herukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan benih ikan nila sebanyak 20 ruang
berukuran 30 ekor. Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan
kemudian beranak, demikian seterus. Total produksi sistem ini dapat
mencapai 1.000 kg/ha/tahun 2 bln. Penggantian air kolam
menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan seminggu sekali.

b) Sistem semi-Intensif (teknologi madya)


- Pemeliharaan semi-intensif dapat dilakukan di kolam, di tambak, di
sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini biasanya digunakan untuk
pendederan. Dalam sistem ini sudah dilakukan pemupukan dan
pemberian pakan tambahan yang teratur.
- Prasarana berupa saluran irigasi cukup baik sehingga kolam dapat
berproduksi 2-3 kali per tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat
dilakukan secara rutin. Pemeliharaan ikan di sawah hanya
membutuhkan waktu 2-2,5 bulan karena bersamaan dengan tanaman
padi atau sebagai penyelang. OIeh karena itu, hasil ikan dan sawah
ukurannya tak lebih dari 50 gr. Itu pun kalau benih yang dipelihara
sudah berupa benih gelondongan besar.
- Budi daya ikan nila secara semi-intensif di kolam dapat dilakukan
secara monokultur maupun secara polikultur. Pada monokultur
sebaiknya dipakai sistem tunggal kelamin. Hal mi karena nila jantan
lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina.
- Sistem semi-intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated),
artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain maupun
dengan industri rumah tangga. Misal usaha ternak kambing, itik dan
sebagainya. Kandang dibuat di atas kolam agar kotoran ternak menjadi
pupuk untuk kolam.
- Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya juga dapat dipelihara
bersama ikan nila. Limbah sayuran menjadi pupuk dan pakan

Hal. 8/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

tambahan bagi ikan. Sedangkan lumpur yang kotor dan kolam ikan
dapat menjadi pupuk bagi kebun sayuran.
- Usaha huler/penggilingan padi mempunyai hasil sampingan berupa
dedak dan katul. Oleh karena itu, sebaiknya dibangun kolam ikan di
dekat penggilingan tersebut.
- Hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan sistem integrated dapat
menghasilkan ikan sampai 5 ton atau lebih per 1 ha/tahun.

c) Sistem intensif (teknologi maju)


- Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem pemeliharaan ikan paling
modern. Produksi ikan tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengan
kebutuhan pasar.
- Pemeliharaan dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan
pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan sesering mungkin
sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap
hari sebanyak 20% atau bahkan lebih.
- Pada usaha intensif, benih ikan nita yang dipelihara harus tunggal dain
jantan saja. Pakan yang diberikan juga harus bermutu.
- Ransum hariannya 3% dan berat biomassa ikan per hari. makanan
sebaiknya berupa pelet yang berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%.

Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya sendiri dapat diamati


nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan yang diberikan knya habis dalam waktu 5
menit. Jika pakan tidak habis dalam waktu 5 menit berarti ikan mendapat
gangguan. Gangguan itu berupa serangan penyakit, perubahan kualitas air,
udara panas, terlalu sering diberi pakan.

7. HAMA DAN PENYAKIT


7.1. Hama

a) Bebeasan (Notonecta)
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan
minyak tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi.

b) Ucrit (Larva cybister)


Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit
diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam.

c) Kodok
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang
mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.

Hal. 9/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

d) Ular
Menyerang benih dan ikan kecil. Pengendalian: lakukan penangkapan;
pemagaran kolam.

e) Lingsang
Memakan ikan pada malam hari. Pengendalian:pasang jebakan berumpun.

f) Burung
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi
rumbai-rumbai atau tali penghalang.

7.2. Penyakit

a) Penyakit pada kulit


Gejala: pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh
berlendir. Pengendalian: (1) direndam dalam larutan PK (kalium
permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air,
pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. (2) direndam dalam
Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %.

b) Penyakit pada insang


Gejala: tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan.
Pengendalian: sama dengan di atas.

c) Penyakit pada organ dalam


Gejala: perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit. Pengendalian:
sama dengan di atas.

Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya


penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:
a) Pengeringan dasar kolam secara teratur setiap selesai panen.
b) Pemeliharaan ikan yang benar-benar bebas penyakit.
c) Hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.
d) Sistem pemasukan air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu
pemasukan air.
e) Pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.
f) Penanganan saat panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan
secara hati-hati dan benar.
g) Binatang seperti burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters)
sebagai pembawa penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.

Hal. 10/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

8. PANEN
Pemanenan ikan nila dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen
sebagian.
a) Panen total
Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian
air tinggal 10 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m
persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam
penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak
panas dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan
pemanenan secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan.

b) Panen sebagian atau panen selektif


Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen
dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan
waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak terpilih
(biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam sebaiknya
dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green 0,5-1,0 ppm
selama 1 jam.

9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan nila dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.

a) Penanganan ikan hidup


Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
1. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
2. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
3. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

b) Penanganan ikan segar


Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
1. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
2. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
3. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.

Hal. 11/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.

c) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah


sebagai berikut:
1) Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
3) Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
dengan ukuran benihnya.
4) Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
1. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
2. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan.
Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m
dapat diisi 2 buah kantong plastik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).

Hal. 12/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-
2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan
dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli
dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau
formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


10.1. Analisa Usaha Budidaya

Perkiraan analisis usaha budidaya ikan nila selama 1 bulan pada tahun 1999 di
daerah Jawa Barat adalah sebagai berikut:

a) Biaya produksi
1. Sewa kolam Rp. 120.000,-
2. Benih ikan nila 4000 ekor, @ Rp.200,- Rp. 800.000,-
3. Pakan
- Dedak 8 karung @ Rp.800,- Rp. 6.400,-
4. Obat dan pupuk
- Kotoran ayam 4 karung, @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,-
- Urea dan TSP 10 kg, @ Rp.1.800,- Rp. 18.000,-
- Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,- Rp. 36.000,-
5. Peralatan Rp. 100.000,-
6. Tenaga kerja 1 orang @ Rp. 7500,- Rp. 225.000,-
7. Biaya tak terduga 10% Rp. 133.340,-
Jumlah biaya produksi Rp.1.466.740,-

b) Pendapatan benih ikan 85%,4000 ekor @ Rp.700,- Rp.2.380.000,-

c) Keuntungan Rp. 913.260,-

d) Parameter kelayakan usaha


B/C ratio 1,62

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,
danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi
alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia.

Hal. 13/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh


pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal
pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,
penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.

Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan nila dan ikan air tawar
lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil
penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Apabila pasaran lokal ikan nila mengalami kelesuan, maka akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir
di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan nila boleh dikatakan hampir tak
ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan
faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor
perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

11. DAFTAR PUSTAKA


a) Sugiarto Ir, 1988, Teknik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. Penerbit CV.
Simplex (Anggota IKAPI)”.
b) Rahardi, F. 1993. Kristiawati, Regina. Nazaruddin. Agribisnis Perikanan,
Penerbit Swadaya, Jakarta.

12. KONTAK HUBUNGAN


Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Editor : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 14/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II Lantai 6 BPP Teknologi, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tlp. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN PATIN


( Pangasius pangasius )

1. SEJARAH SINGKAT
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang
berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin
dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual
yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan
diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup
responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan,
dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm. Sebagai
keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk
“membongsorkan“ tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan
kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan
ikan ini.

Ikan patin berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti
perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut
terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan
catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang
berfungsi sebagai peraba.

2. SENTRA PERIKANAN
Penangkaran ikan patin banyak terdapat di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa
Barat, Kalimantan.

Hal. 1/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3. JENIS
Klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut:
Ordo : Ostarioplaysi.
Subordo : Siluriodea.
Famili : Pangasidae.
Genus : Pangasius.
Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch.

Kerabat patin di Indonesia terdapat cukup banyak, diantaranya:


a) Pangasius polyuranodo (ikan juaro)
b) Pangasius macronema
c) Pangasius micronemus
d) Pangasius nasutus
e) Pangasius nieuwenhuisii

4. MANFAAT
1) Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
2) Sebagai ikan hias.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar
dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang
disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu
keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah
pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur,
maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin
atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
5) Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium
adalah antara 26–28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif
rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang
relatif stabil.
6) Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.

Hal. 2/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi
menjadi 2 kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kedua jenis kegiatan
ini umumnya belum populer dilakukan oleh masyarakat, karena umumnya
masih mengandalkan kegiatan penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan
lain-lain) untuk memenuhi kebutuhan akan ikan patin.

Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada


ukuran tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang
umumnya adalah benih selepas masa pendederan. Benih ikan patin dapat
diperoleh dari hasil tangkapan di perairan umum. Biasanya menjelang musim
kemarau pada pagi hari dengan menggunakan alat tangkap jala atau jaring.
Benih dapat juga dibeli dari Balai Pemeliharaan Air Tawar di Jawa Barat. Benih
dikumpulkan dalam suatu wadah, dan dirawat dengan hati-hati selama 2
minggu. Jika air dalam penampungan sudah kotor, harus segera diganti dengan
air bersih, dan usahakan terhindar dari sengatan matahari. Sebelum benih
ditebar, dipelihara dulu dalam jaring selama 1 bulan, selanjutnya dipindahkan
ke dalam hampang yang sudah disiapkan.

Secara garis besar usaha pembenihan ikan patin meliputi kegiatan-kegiatan


sebagai berikut:
a) Pemilihan calon induk siap pijah.
b) Persiapan hormon perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor,yaitu ikan
mas.
c) Kawin suntik (induce breeding).
d) Pengurutan (striping).
e) Penetasan telur.
f) Perawatan larva.
g) Pendederan.
h) Pemanenan.

Pada usaha budidaya yang semakin berkembang, tempat pembenihan dan


pembesaran sering kali dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan
benih dari tempat pembenihan ke tempat pembesaran memerlukan
penanganan khusus agar benih selamat. Keberhasilan transportasi benih ikan
biasanya sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik maupun kimia air, terutama
menyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2 , pH, dan suhu air.

6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam
dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2–5% sehingga
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.

Hal. 3/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

1) Kolam pemeliharaan induk


Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya. Sebagai
contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila
hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan
pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi
saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok
atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu
pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk
pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.

2) Kolam pemijahan
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas
kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk
kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk
dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18 m2 dengan 18 buah
ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring kearah pembuangan, untuk
menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa
dengan pralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran
kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama
dengan kolam pemijahan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan
kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk
dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.

3) Kolam pendederan
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan
pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama
dengan luas 25-500 m2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m2 per petak.
Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/ pembuangan dengan
pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan di
dekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat
berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan
penangkapan benih. dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak
tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu
dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.

6.2. Pembibitan

1) Menyiapkan Bibit

Bibit yang hendak dipijahkan bisa berasal dari hasil pemeliharaan dikolam
sejak kecil atau hasil tangkapan dialam ketika musim pemijahan tiba. Induk
yang ideal adalah dari kawanan patin dewasa hasil pembesaran dikolam
sehingga dapat dipilihkan induk yang benar-benar berkualitas baik.

Hal. 4/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Perlakuan dan Perawatan Bibit

Induk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus
di dalam sangkar terapung. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi
makanan khusus yang banyak mengandung protein. Upaya untuk
memperoleh induk matang telur yang pernah dilakukan oleh Sub Balai
Penelitian Perikanan Air Tawar Palembang adalah dengan memberikan
makanan berbentuk gumpalan (pasta) dari bahan-bahan pembuat makanan
ayam dengan komposisi tepung ikan 35%, dedak halus 30%, menir beras
25%, tepung kedelai 10%, serta vitamin dan mineral 0,5%.

Makanan diberikan lima hari dalam seminggu sebanyak 5% setiap hari


dengan pembagian pagi hari 2,5% dan sore hari 2,5%. Selain itu, diberikan
juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan induk. Langkah ini
dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad.

Ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan adalah
sebagai berikut :
a. Induk betina
- Umur tiga tahun.
- Ukuran 1,5–2 kg.
- Perut membesar ke arah anus.
- Perut terasa empuk dan halus bila di raba.
- Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
- Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
- kalau di sekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang
bentuknya bundar dan besarnya seragam.
b. Induk jantan
- Umur dua tahun.
- Ukuran 1,5–2 kg.
- Kulit perut lembek dan tipis.
- Bila diurut akankeluar cairan sperma berwarna putih.
- Kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium


berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur
bor yang telah diaerasi. Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per
akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium agar keperluan oksigen
untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu ruangan dan
suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk
menghemat dana.

Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena
masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur.
Pada hari ketiga, benih ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning
telur ayam yang direbus. Selanjutnya berangsur-angsur diganti dengan

Hal. 5/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa dikenal dengan
kutu air dan jentik nyamuk.

Pembesaran ikan patin dapat dilakukan di kolam, di jala apung, melalui


sistem pen dan dalam karamba.
a) Pembesaran ikan patin di kolam dapat dilakukan melalui sistem
monokultur maupun polikultur.
b) Pada pembesaran ikan patin di jala apung, hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah: lokasi pemeliharaan, bagaimana cara menggunakan jala apung,
bagaimana kondisi perairan dan kualitas airnya serta proses
pembesarannya.
c) Pada pembesaran ikan patin sistem pen, perlu diperhatikan: pemilihan
lokasi, kualitas air, bagaimana penerapan sistem tersebut, penebaran
benih, dan pemberian pakan serta pengontrolan dan pemanenannya.
d) Pada pembesaran ikan patin di karamba, perlu diperhatikan masalah:
pemilihan lokasi, penebaran benih, pemberian pakan tambahan,
pengontrolan dan pemanenan.

Hampang dapat terbuat dari jaring, karet, bambu atau ram kawat yang
dilengkapi dengan tiang atau tunggak yang ditancapkan ke dasar perairan.
Lokasi yang cocok untuk pemasangan hampang : kedalaman air ± 0,5-3 m
dengan fluktuasi kedalaman tidak lebih dari 50 cm, arus tidak terlalu deras,
tetapi cukup untuk sirkulasi air dalam hampang. Perairan tidak tercemar dan
dasarnya sedikit berlumpur. Terhindar dari gelombang dan angin yang
kencang serta terhindar dari hama, penyakit dan predator (pemangsa). Pada
perairan yang dasarnya berbatu, harus digunakan pemberat untuk
membantu mengencangkan jaring. Jarak antara tiang bambu/kayu sekitar
0,5-1 m.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

1) Pemupukan

Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan dan produktivitas kolam,


yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-
banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk
hijau dengan dosis 50–700 gram/m2

2) Pemberian Pakan

Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan
yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan
peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan
kenaikan berat badan ikan dalam hampang. Hal ini dapat diketahui dengan
cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang
dipelihara (smpel).

Hal. 6/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Pemeliharaan Kolam dan Tambak

Selama pemeliharaan, ikan dapat diberi makanan tambahan berupa pellet


setiap hari dan dapat pula diberikan ikan-ikan kecil/sisa (ikan rucah) ataupun
sisa dapur yang diberikan 3-4 hari sekali untuk perangsang nafsu makannya.

7. HAMA DAN PENYAKIT


7.1. Hama

Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang
antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga
terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan karamba.
Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan hama.
Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa
ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain
berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan
kecil yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin
dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen.

Untuk menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit)


sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau
merupakan markas tempat bersarangnya hama, karena itu sebaiknya semak
belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin.

Cara untuk menghindari dari serangan burung bangau (Lepto-tilus javanicus),


pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis), blekok (Ramphalcyon capensis
capensis) adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya dengan
lembararan jaring dan memasang kantong jaring tambahan di luar kantong
jaring budi daya. Mata jaring dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih
besar. Cara ini berfungsi ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin
juga tidak akan berlompatan keluar.

7.2. Penyakit

Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non-
infeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan
patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat
infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.

1) Penyakit akibat infeksi


Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit,
jamur, bakteri, dan virus. Produksi benih ikan patin secara masal masih
menemui beberapa kendala antara lain karena sering mendapat serangan
parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih patin yang

Hal. 7/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Dalam usaha pembesaran
patin belum ada laporan yang mengungkapkan secara lengkap serangan
penyakit pada ikan patin, untuk pencegahan, beberapa penyakit akibat
infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.

a. Penyakit parasit
Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa
protozoa dari jenis Ichthyoptirus multifilis Foquet. Pengendalian:
menggunakan metil biru atau methilene blue konsentrasi 1% (satu gram
metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air
yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan
dalam larutan selama 24 jam. Lakukan pengobatan berulang-ulang
selama tiga kali dengan selang waktu sehari.
b. Penyakit jamur
Penyakit jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan.
Penyakit ini biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan.
Penyebab penyakit jamur adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada
kondisi air yang jelek, kemungkinan patin terserang jamur lebih besar.
Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga
kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan patin. Ikan
yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya di pakai
adalah malachyt green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30
menit. Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan di ulang
sampai tiga hari berturut- turut.
c. Penyakit bakteri
Penyakit bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan patin. Bakteri yang
sering menyerang adalah Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan
yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama
di bagian dada, perut, dan pangkal sirip. Penyakit bakteri yang mungkin
menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang
ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas
sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah
menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah
harus segera dimusnahkan. Sementara yang terinfeks, tetapi belum
parah dapat dicoba dengan beberapa cara pengobatan. Antara lain: (1)
Dengan merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20
ppm selama 30–60 menit, (2) Merendam ikan dalam larutan nitrofuran 5-
10 ppm selama 12–24 jam, atau (3) merendam ikan dalam larutan
oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam.

2) Penyakit non-infeksi
Penyakit non-infeksi banyak diketemukan adalah keracunan dan kurang gizi.
Keracunan disebabkan oleh banyak faktor seperti pada pemberian pakan
yang berjamur dan berkuman atau karena pencemaran lingkungan perairan.
Gajala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan.
- Ikan akan lemah, berenang megap-megap dipermukaan air. Pada kasus
yang berbahaya, ikan berenang terbalik dan mati. Pada kasus kurang gizi,

Hal. 8/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

ikan tampak kurus dan kepala terlihat lebih besar, tidak seimbang dengan
ukuran tubuh, kurang lincah dan berkembang tidak normal.
- Kendala yang sering dihadapi adalah serangan parasit Ichthyoptirus
multifilis (white spot) mengakibatkan banyak benih mati, terutama benih
yang berumur 1-2 bulan.
- Penyakit ini dapat membunuh ikan dalam waktu singkat.
- Organisme ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombol sampai
ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik-bintik putih.
- Tempat yang disukai adalah di bawah selaput lendir sekaligus merusak
selaput lendir tersebut.

8. PANEN
8.1. Penangkapan

Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan


mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir
kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka
ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini
menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga
kematian ikan dapat dihindari.

8.2. Pembersihan

Ikan patin yang dipelihara dalam hampang dapat dipanen setelah 6 bulan.
Untuk melihat hasil yang diperoleh, dari benih yang ditebarkan pada waktu awal
dengan berat 8-12 gram/ekor, setelah 6 bulan dapat mencapai 600-700
gram/ekor. Pemungutan hasil dapat dilakukan dengan menggunakan jala
sebanyak 2-3 buah dan tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 2-3 orang. Ikan
yang ditangkap dimasukkan kedalam wadah yang telah disiapkan.

9. PASCAPANEN
Penanganan pascapanen ikan patin dapat dilakukan dengan cara penanganan
ikan hidup maupun ikan segar.

1) Penanganan ikan hidup

Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
C.
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.

Hal. 9/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

2) Penanganan ikan segar

Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.

3) Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah


sebagai berikut:
a. Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
b. Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama
dan penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan
air sumur yang telah diaerasi semalam.
c. Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1
m x 1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan
ukuran 3-5 cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan
dengan ukuran benihnya.
d. Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
1. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba.
Setiap keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk
mengangkut sekitar 5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
2. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan
waktu lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang

Hal. 10/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam


kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung
dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:1); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan.
Dos yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m
dapat diisi 2 buah kantong plastik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat


tujuan adalah sebagai berikut:
- Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin
dalam 10 liter air bersih).
- Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong
plastik terjadi perlahan-lahan.
- Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama
1-2 menit.
- Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak
pemberokan benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan
pengobatan dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut.
Selain tetrsikli dapat juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak
20 ppm atau formalin sebanyak 4% selama 3-5 menit.
- Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.

Pengemasan benih harus dapat menjamin keselamatan benih selama


pengangkutan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan benih
ikan patin yaitu:
- Sediakan kantong plastik sesuai kebutuhan. Setiap kantong dibuat
rangkap untuk menghindari kebocoran. Sediakan karet gelang untuk
simpul sederhana. Masing-masing kantong diisi air sumur yang telah
diaerasi selama 24 jam.
- Benih ikan yang telah dipuasakan selama 18 jam ditangkap dengan
serokan halus kemudian dimasukan kedalam kantong plastik tadi.
- Satu persatu kantong diisi dengan oksigen murni (perbandingan
air:oksigen = 1:2). Setelah itu segera diikat dengan karet gelang
rangkap.
- Kantong-kantong plastik berisi benih dimasukkan kedalam kardus.
- Lama pengangkutan. Benih ikan patin dapat diangkut selama 10 jam
dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 98,67%. Jika jarak yang
hendak ditempuh memerlukan waktu yang lama maka satu- satunya
cara untuk menjamin agar ikan tersebut selamat adalah dengan
mengurangi jumlah benih ikan di dalam setiap kantong plastik.
Berdasarkan penelitian terbukti bahwa benih patin masih aman
diangkut selama 14 jam dengan kapadatan 300 ekor per liter.

Hal. 11/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis usaha ikan patin pada tahun 1999 di daerah Jawa Barat
adalah sebagai berikut:

1) Biaya produksi
a. Kolam pemijahan 2 x 2 m Rp. 200.000,-
b Bibit /benih
- 2 ekor induk @ Rp. 150.000,- Rp. 300.000,-
- Ikan donor 5 Kg @ Rp. 10.000,- Rp. 50.000,-
c. Pakan/makanan (Artemia Salina) Rp. 80.000,-
d. Obat
- Alat suntik 0,5 cc (2 buah) @ Rp. 4000,- Rp. 8.000,-
- Pregnil Rp. 50.000,-
e. Alat
- Bangunan dan sumur Rp. 2.000.000,-
- Genzet Rp. 2.500.000,-
- Aerator Rp. 500.000,-
- Selang aquarium 50 m @ Rp 1000,- Rp. 50.000,-
- Kompor (4 unit) @ Rp. 25.000,- Rp. 100.000,-
- 100 unit aquarium: 40x80 cm @ Rp 35.000,- Rp. 3.500.000,-
f. Tenaga kerja
- Tenaga kerja tetap 14 hari, 2 orang @ Rp.20.000,- Rp. 560.000,-
g. Biaya tak terduga 10% Rp. 989.800,-
Jumlah biaya produksi Rp. 10.887.800,-

2) Biaya investasi rata-rata/aquarium Rp. 98.000,-

3) Presentase output terhadap investasi/aquarium 3,15 %

4) Analisis usaha untuk menutup investasi


a. Periode 1: 2 Minggu pertama
Benih @ Aquarium:100 ekor=100x100xRp.125,- Rp. 1.250.000,-
b. Periode II :
Pengeluaran Tetap/2 mingguan Rp. 480.000,-

Dari perhitungan di atas pada periode ke 14 atau sekitar 7 bulan, telah dapat
menutup investasi, Pada Produksi ke 15 ke atas sudah dapat memetik
keuntungan

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia yang terdiri dari sungai, rawa,
danau alam dan buatan seluas hampir mendekati 13 juta ha merupakan potensi

Hal. 12/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan di Indonesia.


Disamping itu banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh
pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal
pembenihan, penanganan penyakit dan hama dan penanganan pasca panen,
penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.

Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan patin dan ikan air tawar
lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil
penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Apabila pasaran lokal ikan patin mengalami kelesuan, maka akan sangat
berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat grosir
di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan patin boleh dikatakan hampir tak
ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi pendukung dan
faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal, maka sektor
perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang cerah.

11. DAFTAR PUSTAKA


1) Anonim (1995). Pembesaran Ikan Patin Dalam Hampang (Banjarbaru:
Lembar Informasi Pertanian.
2) Aida, Siti Nurul, dkk. (1992/1993). Pengaruh Pemberian Kapur Pada Mutu
Air dan Pertumbuhan Ikan Patin di Kolam Rawa Non Pasang Surut dalam
Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar.
3) Arifin, Zainal. (1987). “Pembenihan Ikan Patin (Pangasius pangasius)
Dengan Rangsangan Hormon” , Buletin Penelitian Perikanan Darat. 6 (1),
1987: 42 - 47.
4) Arifin, Zainal, Pengaruh Pakan Terhadap Pematangan Calon Induk
Ikan Patin (Pangasius pangasius) dalam Prosiding Seminar Hasil
Penelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993.
5) --------------, dkk. Perawatan Larva Ikan Patin (Pangasius pangasius)
dengan Lingkungan Air Yang Berbeda dalam Proseding Seminar Hasil
Penelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993.
6) --------------, dkk. Pemberian Pakan Berbeda Pada Pembesaran Ikan Patin
(Pangasius pangsius) Dalam Sangkar dalam Proseding Seminar Hasil
Penelitian Perikanan Air Tawar 1992/1993.
7) --------------, dan Asyari, Pembesaran Ikan Patin (Pangasius pangasius)
dalam Sangkar di Kolam dengan Kualitas Air yang Berbeda dalam
Proseding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992,
Balitkanwar, Bogor, 1992.
8) --------------, dan Asyari, Perawatan Larva Ikan Patin (Pangasius
pangasius) Dengan Sistem Resirkulasi dalam Proseding Seminar Hasil
Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992, Balitkanwar, Bogor, 1992.
9) --------------; Asyari (1992). Pendederan Benih Ikan Patin (Pangasius
pangasius) dalam Sangkar dalam Proseding Seminar Hasil Penelitian
Perikanan Air Tawar 1991/1992, Balitkanwar, Bogor, 1992.

Hal. 13/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

10) Susanto, Heru (1999). Budi Daya Ikan Patin. Jakarta: Penebar Swadaya,
1999 ).
11) Widiayati, Ani, dkk., Pegaruh Padat Tebar Induk Patin (Pangasius
pangasius ) Yang dipelihara di Karamba Jaring Apung dalam Proseding
Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1991/1992, Balitkanwar,
Bogor, 1992.

12. KONTAK HUBUNGAN


Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Editor : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 14/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBESARAN IKAN BAWAL AIR TAWAR


(Colossoma Macropomum)

Oleh: Inti Chobiyah

1. PENDAHULUAN
Usaha pembesaran dilakukan dengan maksud untuk memperoleh ikan ukuran
konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan bawal
dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen, baik secara
monokultur maupun polikultur. Bawal air tawar saat ini banyak diminati sebagai
ikan konsumsi dan cocok untuk dibudidayakan di Kabupaten Magelang.

Ikan Bawal mempunyai beberapa keistimewaan antara lain :


- Pertumbuhannya cukup cepat
- Nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya (OMNIVORA) yang
condong lebih banyak makan dedaunan
- Ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik
- Disamping itu rasa dagingnya pun cukup enak, hampir menyerupai daging
ikan Gurami

2. PERSIAPAN KOLAM
Kolam untuk pemeliharaan ikan bawal dipersiapkan seperti halnya ikan air
tawar lainnya. Persiapan kolam ini dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan
alami dalam jumlah yang cukup.

1) Mula-mula kolam dikeringkan sehingga tanah dasarnya benar-benar kering.


Tujuan pengeringan tanah dasar antara lain :
a. Membasmi ikan-ikan liar yang bersifat predator atau kompetitor (penyaing
makanan).
b. Mengurangi senyawa-senyawa asam sulfida (H2S) dan senyawa beracun
lainnya yang terbentuk selama kolam terendam.
c. Memungkinkan terjadinya pertukaran udara (aerasi) dipelataran kolam,
dalam proses ini gas-gas oksigen (02) mengisi celah-celah dan pori-pori
tanah.

2) Sambil menunggu tanah dasar kolam kering, pematang kolam diperbaiki dan
diperkuat untuk menutup kebocoran-kebocoran yang ada.

3) Setelah dasar kolam benar-benar kering dasar kolam perlu dikapur dengan
kapur tohor maupun dolomit dengan dosis 25 kg per 100 meter persegi. Hal

Hal. 1/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

ini untuk meningkatkan pH tanah, juga dapat untuk membunuh hama


maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan.

4) Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk. Ini dikarenakan makanan


ikan bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan.
Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 - 50 kg/100 m2
dan TSP 3 kg/100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar-benar
yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan.

5) Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan
dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedidit demi sedikit
sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80-120
cm tergantung kepadatan ikan. Jika warna air sudah hijau terang, baru benih
ikan ditebar (biasanya 7~10 hari setelah pemupukan).

3. PEMILIHAN DAN PENEBARAN BENIH.


1) Pemilihan benih.
a. Pemilihan benih mutlak penting, karena hanya dengan benih yang baik
ikan akan hidup dan tumbuh dengan baik.
b. Adapun ciri-ciri benih yang baik antara lain Sehat, Anggota tubuh lengkap,
Aktif bergerak, Ukuran seragam, tidak cacat, Tidak membawa penyakit,
jenis unggul.

2) Penebaran benih
Sebelum benih ditebar perlu diadaptasikan, dengan tujuan agar benih ikan
tidak dalam kondisi stress saat berada dalam kolam. Cara adaptasi : ikan
yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan
kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastik mengembun. Ini tandanya air
kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya, setelah itu dibuka
plastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam
plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya
benih ditebar/dilepaskan dalam kolam secara perlahan-lahan.

4. KUALITAS PAKAN DAN CARA PEMBERIAN


Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena
hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai
dergan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yanq
mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta
vitamin dan mineral. Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang
diberikan bisa berupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5
% berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian
pakan dapat ditebar secara langsung.

Hal. 2/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5. PEMUNGUTAN HASIL
Pemungutan hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan bawal
dipelihara 4-6 bulan, waktu tersebut ikan bawal telah mencapai ukuran kurang
lebih 500 gram/ekor, dengan kepadatan 4 ekor/m2. Biasanya alat yang
digunakan berupa waring bemata lebar. Ikan bawal hasil pemanenan sebaiknya
penampungannya dilakukan ditempat yang luas (tidak sempit) dan keadaan
airnya selalu mengalir.

6. SUMBER
Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang, Departemen Pertanian,
http://www.deptan.go.id, Maret 2001.

7. KONTAK HUBUNGAN
1) Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang, Jln. Sendangsono, KM. 0,5
Progowati Mungkid Magelang, 56511; Tel. (0293) 789455; Fax.(0293)
789455; bipp@magelang.wasantara.net.id

2) Departemen Pertanian RI, Kantor Pusat Departemen Pertanian - Jalan


Harsono RM No. 3, Ragunan - Pasar Minggu, Jakarta 12550 - Indonesia.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 3/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN BERONANG


(Siganus sp)

1. PENDAHULUAN
Dalam PJPT II, sub sektor perikanan semakin dituntut dalam mencukupi
kebutuhan protein hewani dari ikan. Selama ini produksi perikanan laut
sebagian besar masih tergantung dari hasil pemungutan/penangkapan dari
alam yang produksinya semakin menurun, dilain pihak dengan meningkatnya
laju pertumbuhan penduduk kebutuhan protein akan terus meningkat setiap
tahun. Oleh karena itu produksi perikanan perlu digali dari 2 (dua) sumber yaitu
penangkapan dan budidaya.

Salah satu komoditi ikan laut yang potensial dan sudah dapat dibudidayakan
adalah ikan beronang (Siganus sp). Dari hasil penelitian ternyata komoditi
beronang mempunyai nilai yang menguntungkan sebagai berikut:
a. Ikan beronang merupakan makanan yang enak dan gurih dan disukai banyak
orang sehingga pemasaran ikan ini cukup baik.
b. Ikan ini umumnya "primary herbivor" yaitu pemakan plankton nabati
tumbuhan dan juga memakan makanan buatan.
c. Selama musim-musim tertentu benih beronang dapat diperoleh dalam jumlah
banyak.
d. Ikan beronang mempunyai toleransi besar terhadap salinitas dan suhu.
e. Mempunyai daya adaptasi yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat.
f. Ikan ini sudah dapat dipijahkan di dalam laboratorium sehingga prospek
pembenihan dari hatchery cukup baik.
g. Ikan beronang mempunyai harga pasar yang cukup tinggi baik untuk
konsumsi dalam maupun luar negeri, terutama yang ada telurnya selama
tahun baru cina.
h. Teknologi pembesaran ikan beronang sudah dikuasai.

Hal. 1/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Mengingat budidaya ikan beronang relatif baru dikenal masyarakat, maka


petunjuk teknis ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi yang berminat
melakukan usaha budidaya beronang.

2. BIOLOGI
1) Diskripsi dan Taksonomi

Ikan beronang dikenal oleh masyarakat dengan nama yang berbeda-beda


satu sama lain seperti di Pulau Sribu dinamakan kea-kea, di Jawa Tengah
dengan nama biawas dan nelayan-nelayan di Pulau Maluku menamakan
dengan sebutan samadar.

Ikan beronang termasuk famili Siginidae dengan tanda-tanda khusus sebagai


berikut D XIII, 10 A VII, 9, P2 I, 3, 1, tubuhnya membujur dan memipih latural,
dilindungi oleh sisik-sisik yang kecil, mulut kecil posisinya terminal.
Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil. Punggungnya dilengkapi oleh
sebuah duri yang tajam mengarah ke depan antara neural pertama dan
biasanya tertanam di bawah kulit. Duri-duri ini dilengkapi dengan kelenjar
bisa/racun pada ujungnya.

Secara lengkap taksonomi ikan beronang adalah sebagai berikut.


Kelas:
- Dada : Percipformes
- Sub dada : Acanthuroidei
- Famili : Siganidae
- Genus : Siganus
- Species : Siganus spp.

2) Kebiasaan Makanan

Sesuai dengan morfologi dari gigi dan saluran pencernaannya yaitu mulutnya
kecil, mempunyai gigi seri pada masing-masing rahang, gigi geraham
berkembang sempurna, dinding lambung agak tebal, usus halusnya panjang
dan mempunyai permukaan yang luas, ikan beronang termasuk pemakan
tumbuh-tumbuhan, tetapi kalau dibudidayakan ikan beronang mampu
memakan makanan apa saja yang diberikan seperti pakan buatan.

3) Penyebaran

Penyebaran ikan beronang ini cukup luas, tetapi penyebaran setiap species
sangat terbatas seperti yang terdapat di LON LIPI daerah penyebaran setiap
species sebagai berikut:

Hal. 2/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

a. Siganus guttatus penyebarannya di :


Sumatera : Bengkulu, Padang Deli;
Jawa : P. Seribu, Cirebon, Balay, Surabaya;
Kalimantan : Balik Papan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo, Manado, Selayar;
Maluku : Seram, P. Obo, Ternate, Ambon, dsb.

b. Siganus canaculatus penyebarannya di :


Sumatera : Padang;
Jawa : Ujung Kulon, Teluk Banten, P. Seribu;
Maluku : Ternate, Bacan.

c. Siganus vulpinus penyebarannya di :


Kalimantan : Birabirahan;
Sulawesi : Masalembo, Ujung Pandang, Manado;
Maluku : Ternate, Kajoa, Ambon, Seram;
Irian : Manokwari.

d. Sirganus virgatus penyebarannya di :


Sumatera : Pariaman, Padang, Bangka, Belitung;
Jawa : P. Seribu, Bawean;
Kalimtan : Sundakan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo.

e. Siganus corallinus penyebarannya di :


Sumatera;
Jawa;
Nusa Tenggara;
Sulawesi;
Maluku.

f. Siganus chrysapilos penyebarannya di :


Jawa : P. Seribu;
Kalimantan : Sundakan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Manado, Slayar;
Nusa Tenggara : Sumbawa;
Maluku : P. Obi, Roti, Ambon dan sekitarnya.

g. Siganus spinus penyebarannya di :


Sumatera : Bengkulu, Padang, Tapak Tuan;
Jawa : P. Serinu, Pacitan, Karang Bolong, Prigi;
Sulawesi : Ujung Pandang. Bajo, Manado;
Nusa Tenggara, Timor;
Bali;
Maluku dan sekitarnya.

Hal. 3/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

h. Siganus vermiculatus penyebarannya di :


Sumatera : Bengkulu, Padang, Sibolga, Nias;
Jawa : P. Seribu, Semarang;
Kalimantan : Balik Papan dan Sundakan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bulukumba, Manado, Sangihe;
Maluku : Halmahera, Morotai, Ternate, Bacan, Ambon;
Nusa Tenggara, Timor.

i. Siganus puellus penyebarannya di :


Jawa : P. Seribu;
Sulawesi : Ujung Pandang;
Maluku dan sekitarnya.

j. Siganus javus penyebarannya di :


Sumatera : Deli, Sibolga, Bengkulu, Bangka, Belitung;
Jawa : Jakarta, Cirebon, Semarang, Jepara, Surabaya,
Pasuruan, madura;
Kalimantan : Stagen, Balik Papan;
Sulawesi : Ujung Pandang, Bajo.

k. Siganus lineatus penyebarannya di :


Maluku : Ternate, Morotai, Ambon dan sekitarnya.

3. TEKNOLOGI BUDAYA
1) Persyaratan Lokasi Budidaya

Untuk mencapai produksi jenis komoditas budidaya laut secara optimal


memerlukan kecermatan dalam penentuan lokasi budidaya yang akan
dikembangkan serta kecocokan metoda yang digunakan. Dalam hal ini,
pemilihan lokasi untuk budidaya ikan di laut harus akan mempertimbangkan
dari aspek teknis dan non teknis.

Dari segi aspek teknis hal-hal yang harus diperhatikan meliputi:


a. Perairan/lokasi yang dipilih harus terlindung dari pengaruh angin/musim
dan gelombang, hal ini untuk mengamankan/melindungi salinitas
budidaya.
b. Pergerakan air harus cukup baik dengan kecepatan arus antara 20 ~ 40
cm/detik, apabila kecepatan arus kurang mengakibatkan penyediaan air
kurang dan O2 yang di supplay juga akan berkurang dan sebaliknya
apabila kecepatan arus cukup besar pertumbuhan ikan akan terganggu
sebab energi yang didapatkan dari makanan banyak keluar untuk
melawan arus.
c. Lokasi harus bebas dari pengaruh pencemaran atau polusi baik limbah
industri maupun limbah rumah tangga.

Hal. 4/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

d. Lokasi juga harus bebas dari hama yang meliputi antara lain ikan-ikan
besar dan buas, binatang yang selain potensial dapat mengganggu
(predator).
e. Hal yang sangat penting lokasi harus memenuhi persyaratan kualitas air
yang baik untuk pertumbuhan ikan seperti :
- Kadar garam berkisar antara 27 ~ 32 ppt.
- Suhu air berkisar antara 28 ~ 320C.
- O2 (oksigen) berkisar antara 7 ~ 8 ppm.
- Nitrat 0,9 ~ 3,2 ppm dan phospat 0,2 ~ 0,5 ppm.
f. Untuk mempermudah kelancaran kegiatan yang berhubungan dengan
usaha budidaya yang meliputi sarana jalan, telpon, listrik, sumberdaya
manusia, pakan, pasar, ketersediaan bimbingan harus dalam jumlah yang
cukup memadai serta bahan-bahan untuk komoditi budidaya mudah
diperoleh.

Sedangkan aspek dari aspek non teknis harus memperhatikan sektor-sektor


yang berkaitan dengan kebijaksanaan penggunaan lahan dalam hubungan
dengan kepentingan sektor lain seperti pariwisata, pelayaran, dll.

2) Sarana produksi

Metoda budidaya ikan beronang di laut dapat dilakukan dengan metoda


Karamba Jaring Apung (KJA) yaitu wadah atau tempat budidaya ikan yang
terbuat dari bahan jaring yang digantungkan pada kerangka (rakit) di laut.

a. Desain Konstruksi Keramba Jaring Apung

Keramba Jaring Apung terdiri dari komponen rakit apung, kurungan,


pelampung dan jangkar. Cara pembuatan masing-masing komponen
tersebut adalah sebagai berikut:

- Rakit Apung

Pembuatan rakit apung dapat dilakukan di darat dengan terlebih dahulu


membuat kerangka sesuai dengan ukuran yaitu 8 x 8 m. Kerangka ini
berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan yang berbentuk segi
empat dan terbuat dari bahan bambu atau kayu.

Setiap unit kerangka dapat terdiri dari 2 atau 4 kurungan tetapi secara
ekonomi setiap unti dianjurkan sebanyak 4 (empat) buah kurungan.
Kerangka ditempatkan di lokasi budidaya dengan diberi jangkar
sebanyak 4 buah agar tetap pada tempatnya atau tidak terbawa arus.

Hal. 5/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 1. Kerangka Rakit

- Kurungan

Kurungan berfungsi sebagai wadah pemeliharaan ikan yang terbuat


dari bahan polyethilen (PE) D. 18 dengan lebar mata jaring antara 0,75
~ 1". Bentuk kurungan disesuaikan dengan bentuk kerangka rakit yaitu
empat persegi dengan ukuran 3 x 3 x 3 m3. Jaring apung yang telah
siap dibuat di pasang pada kerangka rakit dengan cara mengikat ke
empat sudut bagian atas pada setiap sudut kerangka. Pola pembuatan
kurungan dan cara pengikatan dapat dilihat pada gambar 2 dan gambar
3 dan agar kerangka jaring apung tetap terbentuk bujur sangkar, maka
pada sudut bagian bawah jaring diberi pemberat.

Gambar 2. Pola Pembuatan Kurungan Apung

Hal. 6/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 3. Cara Pengikatan Jaring

Gambar 4. Kurungan Telah Dipasang pada Rakit

- Pelampung

Untuk mengapungkan sarana budidaya termasuk rumah jaga


diperlukan pelampung. Pelampung dapat digunakan drum plastik
volume 200 liter. Dan untuk menahan rakit diperlukan pelampung
sebanyak 12 buah. Pelampung diikat dengan tali polyethelene (PE)
yang bergaris tengah 0,8 ~ 1,0 cm.

Gambar 5. Penempatan dan Pemasangan Pelampung Pada Kerangka Rakit

Hal. 7/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Jangkar

Jangkar berfungsi untuk menahan sarana budidaya agar tidak bergeser


dari tempatnya akibat pengaruh arus dan angin ataupun gelombang.
Setiap inti keramba jaring apung dipergunakan jangkar 4 buah yang
terbuat dari besi dengan berat 50 kg. Panjang tali jangkar biasanya 1,5
kali kedalaman perairan pada waktu pasang tinggi.

Gambar 6 Pengaturan dan Pemasangan Jangkar

b. Benih

- Persyaratan Benih

Benih yang digunakan untuk budidaya perlu diperhatikan dan diseleksi


benih yang betul-betul sehat. Benih yang sakit akan terhambat
pertumbuhannya dan lebih berbahaya lagi adalah penularannya ke ikan
di dalam wadah budidaya.

Berdasarkan pengamatan visual secara umum benih yang sehat antara


lain adalah :
* Bentuk badan normal/tidak cacat/tidak sakit;
* Gerakan ikan lincah;
* Mempunyai respon yang tinggi terhadap pakan yang diberikan.

- Penyediaan Benih

Sampai saat ini benih ikan beronang yang digunakan dalam usaha
budidaya berasal dari hasil penangkapan di alam. Benih ikan beronang
dapat diperoleh dalam jumlah besar pada saat musim puncak benih.

Hal. 8/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Untuk setiap jenis beronang musim puncaknya akan berlainan setiap


lokasi.

Penyediaan benih ikan beronang secara massal dari hatchery sampai


saat ini masih dalam pengkajian walaupun pemijahan untuk beberapa
jenis sudah berhasil dilakukan.

- Penanganan dan Transportasi Benih

Benih ikan beronan sangat peka terhadap perubahan lingkungan


seperti suhu dan salinitas, sehingga penanganan benih ikan beronang
sangat perlu dijaga hati-hati.

Pada saat pemindahan benih dari suatu wadah ke wadah lain harus
selalu diambil bersama airnya. Pemindahan benih dapat dilakukan
sehari setelah pengumpulan dan cukup memberikan istirahat bagi ikan
dan untuk perlakuan selanjutnya disarankan untuk menggunakan seser
yang tidak cekung untuk menghindarkan luka-luka di kulit akibat
persentuhan benih satu sama lain.

Pengangkutan benih ikan beronang untuk jarak dekat dapat digunakan


keramba dengan anyaman bambu yang halus dan diapungkan di air.
Keramba diseret perlahan-lahan menuju tempat budidaya. Dan untuk
jarak jauh dapat digunakan kantong-kantong plastik atau periuk-periuk
tanah.

Benih ikan beronang dengan perlakuan baik dan aklimasi yang cukup
dapat ditransportasi sampai maksimum 48 jam.

c. Pakan

- Persyaratan Pakan

Salah satu faktor yang sangat penting menentukan pertumbuhan ikan


yang dipelihara adalah faktor ketersediaan pakan yang cukup baik
kualitas maupun kuantitas sehingga harus diperhatikan sebaik-baiknya
yaitu harus memenuhi komposisi dan jumlah nutrient/zat makanan yang
dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan. Pakan yang diberikan sebaiknya
yang masih baru (pellet) dan segar (ikan rucah).

- Penanganan Pakan

Untuk menjaga kualitas pakan yang diberikan untuk budidaya ikan


beronang perlu diperhatikan penanganan terhadap pakan yang
digunakan. Hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan pakan
antara lain adalah tempat penyimpanan pakan harus bersih dan kering.

Hal. 9/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Teknologi Budidaya

a. Pola Produksi

Dalam usaha budidaya ikan laut pengaturan pola tanam perlu disesuaikan
dengan ketersediaan seperti (benih, pakan) dan pengaruh dari musim
serta ketersediaan pasar. Untuk itu dalam kegiatan budidaya ikan di laut
setiap lokasi akan berbeda sesuai dengan kondisi setempat.

Dalam pengaturan pola tanam yang berhubungan daya serap pasar


alternatif pola tanam adalah setiap KK adalah melakukan penanaman
pada 1 unit karamba jaring apung yang terdiri dari 4 buah jurungan dan
penebaran benih dapat dilakukan selang 3 hari - 1 minggu setiap KK atau
tergantung dari daya serap pasar.

b. Cara Penebaran Benih

Benih sebelum ditebarkan perlu diaklimasikan terlebih dulu, kemudian


secara perlahan-lahan ditebarkan ke dalam wadah budidaya. Penebaran
benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.

c. Cara Pemberian Pakan

Jenis pakan yang digunakan pada budidaya ikan beronang adalah pellet
kering dengan jumlah sebanyak 2% dari berat badan ikan setiap hari.
Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi, siang dan
sore hari.

Konversi pemberian pakan dengan menggunakan pellet biasanya 1 : 4


yang berarti untuk memperoleh berat ikan 1 kg dibutuhkan pellet
sebanyak 4 kg.

d. Penanganan Hasil

Panen ikan beronang dilakukan setelah masa pemeliharaan 4 ~ 6 bulan


setelah penebaran. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

- Panen sebagian, dilakukan dengan cara memanen ikan yang telah


berukuran tertentu tergantung kebutuhan pasar dengan menggunakan
serok/lampit/alat angkap.

- Panen seluruhnya, dilakukan dengan cara memanen hasil budidaya


sekaligus dengan cara menarik/mengangkat sebagian jaring ke arah
suatu sudut sehingga akan terkumpul pada suatu tempat dan kemudian
diambil dengan menggunakan serok/lambit/alat tangkap dengan

Hal. 10/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

berhati-hati agar ikan tidak mengalami luka/cacat. Panen sebaiknya


dilakukan pada saat udara sejuk.

4) Manajemen Budidaya

Permasalahan yang sering ditemui pada pemeliharaan ikan di laut dengan


jaring apung adalah pengotoran/penempelan oleh organisme penempel pada
sarana yang digunakan seperti kerangka, rakit, kurungan apung dan
pelampung. Penempelan organisme tersebut akan mengganggu pertukaran
air dan menyebabkan kurungan bertambah berat.

Untuk menanggulangi organisme penempel ini maka perlu dilakukan


pembersihan terutama kurungan secara periodik paling sedikit 1 bulan sekali
atau tergantung pada banyak sedikitnya organisme penempel. Sedangkan
untuk pembersihan kurungan dilakukan dengan menyikat atau dengan
menggunakan mesin semprot jaring.

5) Hama dan Penyakit

a. Hama

Hama yang sering mengganggu budidaya ikan beronang laut adalah


berupa hewan/binatang atau pengganggu lainnya seperti burung dan
lingsang. Hama dapat menyerang dan membuat kerusakan pada
kurungan ikan. Penanggulangan hama dapat dilakukan dengan cara
menutup bagian atas kurungan dengan jaring serta memagar/melingkari
kurungan. Selain itu gangguan karena pencurian oleh manusia perlu juga
diwaspadai.

b. Penyakit dan Pencegahannya

Untuk mengetahui jenis penyakit dan cara pencegahannya diperlukan


diagnosa gejala penyakit. Gejala penyakit untuk ikan yang dibudidayakan
dapat dilihat/diamati dengan tanda-tanda sebagai berikut :
- Ada kelainan tingkah laku : salah satu atau beberapa ikan keluar dari
kelompoknya dan cara berenangnya miring atau "driving" (ikan yang
berada di permukaan langsung menuju dasar dengan cepat). Gejala
demikian biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit, antara lian :
penyakit insang, penyakit sistem saraf otak, keracunan bahan kimia
logam berat, dan kekurangan vitamin.
- Ikan tidak mau makan : perhatikan sudah berapa lama keadaan ini
terjadi, penyebabnya adalah : penyakit diabetes (oxydized fatty),
kelebihan mineral yang berasal dari pakan dan kebosanan yang terjadi
karena persediaan pakan sedikit.
- Ada kelainan pada bentuk ikan : hal ini terjadi pada rangka ikan dan
permukaan tubuh ikan.

Hal. 11/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Mata tidak normal : disebabkan oleh bakteri dan parasit tremotoda


Giganea sp.

Untuk organ tubuh bagian dalam gejala penyakit dapat terjadi pada :
Insang : Hilang beberapa bagian, disebabkan kekurangan darah dan
keracunan, atau parasit yang berupa ciliata dan monogenik.
Otak : Terjadi pendarahan dan TBS, disebabkan oleh parasit
Myxosporadia, Giganea sp, Streptococcus sp, dan Nocardia
sp.
Jantung : Menjadi tebal dan membesar, disebabkan oleh bakteri klas
Mycospradia, membran jantung membesar karena diserang
bakteri Streptococcud spp.
Hati : Membesar atau mengecil, warna hijau/kuning, disebabkan
oleh perubahan kadar lemak (fatty change liver desease).
Jamur yang berasal dari pakan yang terkontaminasi dapat
menyebabkan hati mengalami pendarahan, keras, mudah
pecah.
Lambung : Menjadi kembung, luka dan berlobang, disebabkan oleh
parasit yang termasuk klas Cestoda.
Usus : Luka, pendarahan, keluar dari anus dan vibriosis,
disebabkan oleh parasit dalam klas Nematoda, Trematoda,
Cestoda dan Acanthocephala.
Limpa : Menjadi besar/kecil dan kekurangan darah, disebabkan oleh
adanya penyakit di bagian lain.
Otot : Warna tidak jelas/putih, terjadi pendarahan, disebabkan oleh
bakteri Nacordia sp atau serangan parasit Microsporidae.

c. Penanganan Ikan Sakit

Penanganan terhadap ikan sakit dapat dibagi atas dua langkah yaitu :
- Berdasarkan teknik budidaya :
Tindakan-tindakan yang dilakukan antara lain adalah :
* Menghentikan pemberian pakan pada ikan;
* Mengganti makanan dengan jenis lain;
* Mengkelompokkan ikan menjadi kelompok-kelompok yang
kepadatannya/ densitasnya rendah;
* Bila mungkin ikan-ikan dipanen, daripada menjadi wabah bagi ikan
yang lain.
- Berdasarkan terapi kimia :
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah :
* Memeriksa kepekaan dari masing-masing obat yang akan
digunakan;
* Memeriksa batas dosis yang aman untuk masing-masing obat agar
tidak terjadi "over dosis";
* Menjaga agar obat tidak terkontaminasi oleh bakteri;
* Memperhatikan keterangan yang dikeluarkan oleh pabrik obat
tersebut.

Hal. 12/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

d. Cara Pemberian Obat

Cara pemberian obat yang akan digunakan dapat ditentukan sendiri


dengan memperhatikan bentuk obat, jumlah ikan yang terkena penyakit,
kondisi dan sarana yang dimiliki di lapangan (tempat budidaya).

Ada beberapa cara pemberian obat yang dapat digunakan, yaitu :


- Ditenggelamkan dalam tempat budidaya;
- Disebarkan pada permukaan;
- Dicampurkan dalam pakan;
- Dengan cara injeksi.

Pada ikan beronang biasanya banyak kedapatan parasit jenis


monogenetik trematoda pada bagian insangnya, parasit ini dapat
dilepaskan dengan mengunakan "dipterex" (organoposfat, sinonim : Dylox,
Masoten, Neguvon) dengan dosis sebesar 30 ppm selama 8 - 16 m enit
dan 50 ppm selama 4 - 5 menit. Percobaan ini hasilnya positif, dengan
tingkat kematian ikan beronang sampai 0%.

Waktu dan dosis obat yang diberikan perlu diperhitungkan dengan hati-
hati agar tidak terjadi kelebihan dosis yang dapat mengakibatkan
kematian pada ikan. Oleh karena itu perlu diketahui berapa jumlah dosis
yang digunakan. Di bawah ini diberikan beberapa dosis yang mematikan
terhadap beberapa jenis ikan beronang.

Tabel 4. Dosis Dipterex yang mematikan terhadap beberapa jenis ikan beronang
(Tanaka dan Basyari, 1982).

No. Jenis Ikan Panjang Total Konsentrasi Waktu


Rata-rata (cm) Dipterex (ppm) (menit)
1. S. canaliculatus 3 30 39
2. S. canaliculatus 8-12 50 9
3. S. guttatus 3 30 49
4. S. guttatus 5-8 50 9
5. S. javus 3 50 4
6. S. javus 3 30 28
7. S. javus 9-11 50 9
8. S. javus 15 30 15

e. Pencegahan penyakit

Untuk mencegah agar ikan yang dibudidayakan tidak terkena penyakit


dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
- Menjaga kebersihan tempat budidaya;

Hal. 13/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Menjaga lingkungan/tidak tercemar oleh limbah industri dan bahan-


bahan kimia pertanian;
- Memeriksa jenis pakan yang akan diberikan dan hindarkan kontaminasi
jamur;
- Lakukan vaksinasi bagi ikan yang sehat.

4. DAFTAR PUSTAKA
1) Dana Kusumah, E., 1985, Beberapa Aspek Biologi Ikan Beronang (Siganus
spp) Workshop Budidaya Laut 28 Oktober - 1 Nopember 1985 di Lampung.
10 pp.
2) WASPADA, E, Hiroki, 1985. Percobaan Pemberian Pakan pada
Pemeliharaan Benih Ikan Beronang, Workshop Budidaya Laut 28 Oktober - 1
Nopember. 68 - 73 p.
3) Marto Sewajo, S., Burhanudin, Djamali, P. Sianipar. 1981. Ikan Beronang.
Biolobi , Potensi dan Pengelolaannya. LON - LIPI. 45 p.
4) Basyori, A., E. Dana Kusumah; Philip T. T, Pramu, S, Musthahal dan M. Isra.
Budidaya Ikan Beronang (Siganus spp). Direktorat Jenderal Perikanan
bekerjasama dengan IDRC, 39 p.
5) Informasi Teknologi, BBL.

5. SUMBER
Pedoman Teknis Budidaya Ikan Beronang, Direktorat Bina Produksi, Direktorat
Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta, 1997.

6. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Bina Produksi, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen
Pertanian, Jakarta.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 14/ 14
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMIJAHAN IKAN
DENGAN SISTEM CANGKRINGAN

1. PENDAHULUAN
Hypofisasi adalah suatu metoda untuk memeprcepat pematangan gonada
induk ikan agar berovulasi, yaitu dengan menyuntikan cairan kelenjar hypofisa
ikan donor ke dalam tubuh induk ikan yang akan dipijahkan. Sistem ini dikenal
dengan sistem pemijahan buatan, terutama untuk memijahkan jenis-jenis ikan
yang sulit berpijah (seperti: tawes, lele dumbo, grasscarp dll).

Akan tetapi di dalam sistem hypofisasi selalu diperlukan ikan donor (ikan mas)
yang harus dikorbankan untuk diambil kelenjar hypofisisnya. Oleh karena itu
untuk menghindarkan pengorbanan tersebut di BII Sentral Cangkringan telah
dikembangkan pemijahan ikan dengan "sistem cangkringan", yaitu cara
pemijahan dengan menggunakan ikan mas yang dipijahkan bersamaan di
dalam 1 (satu) bak dengan induk ikan lain yang sulit berpijah. Cara tersebut
digunakan untuk merangsang berpijahnya induk-induk ikan lain yang sulit
dipijahkan walaupun telah matang gonad.

Seperti telah diketahui bahwa ikan mas selain merupakan donor universal juga
dikenal sebagai ikan yang mudah berpijah. Oleh sebab itu dalam cara inipun
yang dipergunakan sebagai ikan donor adalah induk ikan mas.

Dengan "sistem cangkringan" ini, ikan mas tidak perlu dikorbankan, bahkan
selain induk ikan mas dapat dipergunakan untuk pemijahan beberapa kali, telur
yang dihasilkannya dapat ditetaskan sebagai hasil sampingan.

2. TEKNIK PEMIJAHAN
1) Tempat pemijahan dapat berupa kolam atau bak semen ukuran 10 x 5 1 m
yang pada bagian atasnya dipasang pipa yang dilubangi untuk mengalirkan
iar selama pemijahan berlangsung.

2) Tempat pemijahan harusdibersihkan dan dikeringkan.

3) Pada tempat pemijahan dipasang happa. Ukuran happa untuk pemijahan


ikan mas adalah 4 x 2 x 1 m; untuk ikan tawes adalah 2 x 1 x 1 m dan untuk
lele cukup 1 x 1 x 1 m.

Hal. 1/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4) Setelah pemasangan happa selesai, alirkan air ke tempat pemijahan hingga


tinggi air dalam happa kira-kira 20-30 cm.

5) Pilihlah induk ikan mas yang telah matang telur. Masukkan induk ke dalam
happa. Perbandingan induk jantan dan betina adalah 2:1.

6) Untuk jenis ikan yang telurnya mempunyai sifat melakat/menempel maka di


dalam happa harus dipasang kakaban.

7) Masukkan induk-induk ikan lele dumbo, grasscarp, mola dll yang telah
matang telur ke dalam happa. Perbandingan indukjantan dan betina
tergantung dari jenis ikannya. Untuk ikan tawes perbandingan induk jantan
dan betina adalah 2:3 dan untuk ikan lele adalah 1:1.

8) Kemudian air dialirkan melalui pipa yang terletak di atas kolam sehingga air
masuk dalam tempat pemijahan seperti air hujan.

Gambar 1. Tempat Pemijahan Ikan Sistem Imbas di BII Sentral Cangkringan

3. PROSES PEMIJAHAN
1) Jika induk yang dipilih benar-benar telah matangtelur, maka pada malam
harinya akan memijah.

2) Induk ikan mas akan memijah terlebih dahulu. Beberapa saat kemudian ikan
lain akan terangsang untuk berpijah.

4. PENETASAN TELUR
1) Untuk telur-telur yang sifatnya melekat, cukup dibiarkan menetas dalam
happa.

2) Sedangkan untuk telur yang tidak melekat dapat ditetaskan pada corong
penetasan.

3) Tergantung dari jenis ikannya, beberapa hari kemudian telur akan menetas.
Kemudian larva-larva tersebut dapat dipindahkan dalam tempat (bak)
pendederan.

Gambar 2. Corong Penetasan

Hal. 2/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 3. Cara Penetasan Telur Ikan Dengan Sistem Corong

5. PENUTUP
Pada umumnya jenis-jenis ikan liar atau yang baru saja dijinakkan dari alam
sulit dipijahkan. Bahkan beberapa jenis ikan, seperti tawas, yang sudah lama
dikenal sebagai ikan budidayapun kenyataannya relatif sulit dipijahkan.

Tetapi setelah cukup lama dipraktekkan di BII Sentral Cangkringan, ternyata


sistem imbas dapat dipergunakan untuk mengatasi hal tersebut di atas.
Beberapa jenis ikan yang dapat dipijahkan dengan sistem cangkringan antara
lain adalah : tawes, grascarp, lele dumbo, dll.

Gambar 4. Persiapan Bak Pemijahan

Gambar 5. Pemilihan Induk Ikan Lele Dumbo yang Siap Memijah

6. SUMBER
Brosur Pemijahan Ikan dengan Cara Cangkringan, Proyek Infis, Dinas
Perikanan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, 1989.

7. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 3/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN GURAME


(Osphronemus gouramy)

1. PENDAHULUAN
Gurame merupakan ikan yang memiliki pertumbuhan agak lambat namun
harganya relatif meningkat setiap saat. Untuk DKI Jakarta, jenis ikan ini cocok
karena tidak memerlukan air yang mengalir.

Untuk memberi petunjuk bagi masyarakat yang berminat di bawah ini diuraikan
tata cara budidayanya.

2. JENIS
Jenis ikan gurame yang dikenal masyarakat berdasarkan bentuknya ada 2
(dua) yaitu:
1) Gurame angsa (soang) : badan relatif panjang, sisik relatif lebar. Ukuran
yang bisa dicapainya berat 8 kg, panjang 65 cm.
2) Gurame Jepang : badan relatif pendek dan sisik lebih kecil. Ukuran yang
dicapai hanya 45 cm dengan berat kurang dari 4,5 kg.

Jika dilihat dari warnanya terdapat gurame hitam, putih dan belang.

3. MEMILIH INDUK
Induk yang dipakai sebaiknya mencapai umur 3 tahun.

Untuk membedakan induk jantan dan betina bisa dilihat dari ciri-ciri sebagai
berikut:

1) Induk betina
Ikan betina mempunyai dasar sirip dada yang gelap atau berwarna
kehitaman, warna dagu ikan betina keputih-putihan atau sedikit coklat, jika
diletakkan di lantai maka ikan betina tidak menunjukan reaksi apa-apa.
Sebaiknya sudah berumur 3~7 tahun.

2) Induk jantan
Ikan jantan mempunyai dasar sirip berwarna terang atau keputih-putihan,
mempunyai dagu yang berwarna kuning, lebih tebal daripada betina dan
menjulur. Induk jantan apabila diletakkan pada lantai atau tanah akan

Hal. 1/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

menunjukan reaksinya dengan cara mengangkat pangkal sirip ekornya ke


atas.

Selain mengetahui perbedaan induk jantan dan betina, perlu juga diketahui
demi keberhasilan pembenihan gurame ini.

Induk telah berumur 3~7 tahun. Berbeda dengan induk ikan tambakan, induk
ikan gurame ini semakin bertambah umurnya akan mengeluarkan telur semakin
banyak, perut akan membulat dan relatif penjang dengan warna badan terang.
Sisik-sisiknya usahakan tidak cacat/hilang dan masih dalam keadaan tersusun
rapi.

Induk betina yang cukup umur dan matang kelamin ditandai dengan perutnya
akan membesar ke belakang atau di dekat lubang dubur. Pada lubang anus
akan nampak putih kemerah-merahan. Dan apabila kita coba untuk meraba
perutnya akan teras lembek.

4. PEMIJAHAN
Pemasukan air dilakukan pagi-pagi sekali, sehingga menjelang jam 10.00
kolam telah berisi air setengahnya. Induk-induk yang telah lolos seleksi
dimasukkan dalam kolam dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.
Perbandingan jumlah antara induk jantan dan betina biasa 1 : 1 - 14. Dengan
harapan induk jantan paling sedikit bisa mengawini dua ekor induk betina dalam
satu tarikan.

Setelah dilepaskan dalam kolam pemijahan biasanya induk jantan tidak


otomatis langsung membuat sarang, tetapi terlebih dahulu berjalan-jalan,
berenang kesana-sini mengenal wilayahnya. Setelah 15 hari sejak dilepaskan,
induk jantan biasanya sudah langsung disibukkan oleh kegiatannya membuat
sarang.

Garis tengah sarang biasanya kurang lebih 30 cm, yang biasanya dikerjakan
oleh induk jantan ini selama seminggu (7 hari). Setelah sarang selesai dibuat,
induk jantan cepat-cepat mencari dan merayu induk betina untuk bersama-
sama memijah disarang. Induk betina ini akan menyemprotkan telur-telurnya
kedalam sarang melalui lubang sarang yang kecil, kemudian jantan akan
menyemprotkan spermanya, yang akhirnya terjadilah pembuahan didalam
istana ijuk ini. Tidak seperti halnya ikan mas yang pemijahannya hanya
beberapa jam saja, pemijahan ikan gurame ini biasanya berlangsung cukup
lama. Induk jantan bertugas menjaga sarang selama pemijahan berlangsung.
Setelah pemijahan selesai, biasanya giliran induk betina yang bertugas
menjaga keturunannya, dengan terlebih dulu menutup lubang sarang dengan
ijuk atau rumputan kering.

Hal. 2/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Dengan nalurinya sebagai orang tua yang baik, biasanya induk betina ini
menjaga anaknya dengan tak lupa mengipaskan siripnya terutama sirip ekor
kearah sarang. Gerakan sirip induk betina ini akan meningkatkan kandungan
oksigen terlarut dalam air. Air dengan kandungan oksigen yang cukup akan
membantu menetaskan telur-telur dalam sarang. Sebab seperti diketahui,
telurpun butuh oksigen dalam prosesnya menjadi benih ikan. Sementara
dengan kasih sayang induk betina menjaga keturunanya, induk jantan akan
kembali menyusun sarang dan memikat induk betina yang lainnya untuk
melanjutkan keturunannya.

Dari atas kolam kita bisa mengetahui induk-induk yang telah memijah tanpa
turun ke kolam dengan melihat adanya bau amis, dan terlihat adanya lapisan
minyak tepat di atas sarang pemijahan.

5. PENETASAN
Penetasan telur bisa dilakukan di paso, aquarium atau pun ember-ember
plastik. Cara memindahkan telur dari dalam sarang ke paso/aquarium
dilakukan dengan hati-hati tidak terlalu kasar untuk menghindari agar telur tidak
pecah. Sarang bahan dari ijuk yang ada 5 cm dibawah permukaan air dan
telah ditutup rapat, diangkat dengan cara dimasukkan kedalam ember yang
berisi 3/4 bagian ember. Sarang menghadap ke atas dan ditenggelamkan
kemudian perlahan-lahan tutup sarang dibuka, maka telur-telur akan keluar dan
mengambang dipermukaan air. Selanjutnya telur diangkat dengan mengunakan
piring kecil untuk dipindahkan ke pasoaquarium atau ember bak yang telah diisi
air bersih yan sudah diendapkan. Penggantian air dilakukan secara rutin agar
telur-telur menetas dengan sempurna dan telur yang tidak menetas segera
dikeluarkan.

Telur akan menetas dalam tempo 30 ~ 36 jam.

6. PENDEDERAN
Selama 5 hari benih-benih belum membutuhkan makanan tambahan, karena
masih mengisap kuning telur (yolk sack). Setelah lewat masa itu benih
membutuhkan makanan yang harus disuplai dari luar. Oleh karenya jika masih
belum ditebarkan di kolam harus diberi makan infusoria.

Jika benih hendak ditebarkan di kolam, kolam harus dikeringkan dan dipupuk
dengan pupuk kandang 1 kg/m2. Setelah seminggu benih ditebarkan, yaitu
ketika air kolam sudah berubah menjadi kehijau-hijauan. Benih gurame umur 7
hari dapat dipasarkan kepada para pendedar dengan system jual sarang
sehinga frekwensi pembenihan dapat ditingkatkan.

Hal. 3/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Padat tebar pendederan 50 ~ 100 ekor/m2, sementara kolam yang digunakan


berkisar 50.250 m2.

7. PENUTUP
Meskipun pemeliharaan gurame relatif membutuhkan waktu lama namun harga
jual yang tinggi tetap akan memberi keuntungan.

8. SUMBER
Dinas Perikanan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 1997

9. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 4/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PENGENALAN JENIS IKAN HIAS


(DISKUS, SEVERUM, RAINBOW, NIASA)

1. PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat DKI Jakarta khususnya
petani ikan/nelayan telah ditempuh berbagai cara diantaranya memanfaatkan
lahan pekarangan dengan usaha pemeliharaan ikan hias.

Jumlah ikan hias khususnya ikan hias air tawar yang susah dapat
dibudidayakan di Indonesia ada 91 jenis.

Dari ke 91 jenis ikan tersebut, ada beberapa jenis ikan hias tersebut yang
sangat potensial untuk dikembangakan karena selain dapat dipasarkan didalam
negeri juga dapat merupakan komoditas eksport.

Jenis-jenis ikan hias yang potensial tersebut antara lain ikan Diskus, Severum,
Rainbow, dan Niasa. Untuk lebih mengenal jenis ikan tersebut pada Bab
selanjutnya akan dikemukanan sifat dari ikan-ikan tersebut.

2. JENIS IKAN HIAS


1) Diskus

Ikan hias Diskus (Symhysodonodiscus) merupakan salah satu jenis ikan hias
air tawar yang berasal dari sungai Amazon (Brasil). Jenis ikan tersebut
mempunyai nilai ekonomis yang baik dan sangat disenangi di berbagai
negara. Di Indonesia ikan Diskus sudah dapat dibudidayakan dan sangat
potensil untuk dikembangkan karena selain dapat dipasarkan dipasaran
lokal, juga dapat merupakan komoditas ekspor.

Ciri khas dari ikan diskus ialah benetuk badannya tubuh pipih, bundar mirip
ikan bawal dengan warna dasar coklat kemerah-merahan. Ikan diskus dapat
dibudidayakan didalam Aquarium untuk sepasang diskus dapat ditempatkan
dalam aquarium berukuran sekitar 75 x 35 x 35 cm kwalitas yang diperlukan
untuk hidup dan berkembang ikan diskus yaitu di air yang jernih, temperatur
sekitar 28 - 300 C pH (derajat keasaman) 5 - 6 selain itu kandungan Oksigen
terlarutnya harus cukup tinggi yaitu + lebih besar dari 3 ppm (pxrt per
million).

Hal. 1/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Ikan Diskus sudah dapat dikembangbiakan setelah berumur antara 15 - 20


bulan. Adapun makanan yang umum dengan makan yaitu kutu air, cuk,
cacing (makanan buatan) yang ada dipasaran.

2) Severum

Ikan severum Cichlosoma severum adalah salah satu jenis ikan hias air
tawar yang berasal dari Amerika Serikat bagian Utara (S. Arhazone).
Tubuhnya pendek, gemuk dan gepeng dengan warna dasar tubuh bervariasi
yaitu coklat kekuningan, atau hitam kecoklatan. Jenis ikan ini juga
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Ikan Severum dapat dipelihara didalam aquarium atau bak semen kwalitas
air yang diperlukan untuk pemeliharaan ikan severum yaitu: PH. : 5,5 - 7,
temperatur air 21 - 250C. Ikan Severum sudah dapat dipijahkan setelah
berumur + tahun dengan ukuran 12 - 15 cm.

Induk jantan dari betina dapat dibedakan dari warna dan ukuran induk jantan
berwarna lebih cerah dengan induk yang lebih besar dari betina. Makanan
yang dapat diberikan jenis ikan ini antara lain: kutu air, cuk, cacing sutera dll.

3) Ikan Rainbow

Ikan Rainbow merupakan jenis ikan hias yang banyak diminati masyarakat
karena jenis ikan ini juga dapat merupakan komoditi eksport. Ada 2 jenis
rainbow yang cukup terkenal yaitu rainbow Irian (Melano Tacnia maccaulochi
dan Rainbow Anlanesi ogilby Telmatherina ladigesi ahl

Rainbow Irian warna dasarnya keperak-perakan dengan warna gelap metalik


sedangkan rainbow Sulawesi warna dasarnya kuning zaitun, dengan warna
bagian bawah kuning jenis ikan ini termasuk ikan bertelur dengan
menempelkan telur pada tanaman air.

Kwalitas air yang diperlukan untuk kehidupan jenis ikan ini yaitu temperatur
air 23 - 260C. Ph. air sebaiknya diatas 7. Jenis ikan ini dapt hidup dan
berkembang-biak dalam aquarium maupun bak semen. Ikan ini sudah dapat
memijah setelah berumur + 7 bulan dalam ukuran 5 - 7 cm.

Makanan yang biasa diberikan dalam pemeliharaan ikan ini yaitu kutu air,
cacing zambut atau cuk. Supaya ikan dapat tumbuh dengan baik selama
pemeliharaan bertelur, air harus klop memenuhi persyaratan dan dilakukan
penggantian air + 1 minggu 1 kali.

Hal. 2/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4) Ikan Niasa

Psedatropheus auratus Bonlenger atau nama Inggris Auratus. Di DKI jakarta


lebih dikenal dengan nama Niasa jenis ikan ini mempunyai tubuh memanjang
agak datar, warna dasar kuning keemasan cerah atau hitam pekat. Ikan
Niasa sangat agresif gerakannya sehingga harus hati-hati kalau akan
dicampur dengan jenis ikan lain.

Kwalitas air yang diperlukan untuk hidup dan berkembang ikan Niasa yaitu
pH = 7, temperatur 24 - 270C. Pemeliharaan dapat dilakukan didalam bak
semen atau aquarium. Ketinggian air yang diperlukan untuk pemijahan
sekitar 30 - 35 cm.

Ikan Niasa sudah dapat memijahkan dalam umur 7 bulan dengan ukuran
panjang tubuh : 7 cm. Induk jantan dan betina dapat dibedakan dari totol
kuning sirip anusnya.

Ikan jantan biasanya memiliki totol-totol in, sementara si betina tidak.


Makanan yang diberikan antara lain : Cuk, kutu air.

3. SUMBER
Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta, 1996

4. KONTAK HUBUNGAN
Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Perikanan

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 3/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN HIAS


LIVE BEARER

1. PENDAHULUAN
Ikan hias cukup dikenal oleh masyarakat sebagai hiasan aquarium.
Perkembangan ikan hias di Indonesia mengalami kemajuan yang terus
meningkat, terutama ikan hias air tawar asli Indonesia. Dari sekian banyak jenis
ikan hias, tidak semuanya telah dapat dibudidayakan. Dalam menternakkan
ikan hias harus diperhatikan bahwa masing-masing jenis mempunyai sifat dan
kebiasaan hidup yang berbeda-beda, misalnya dalam cara pemijahan, bertelur
ataupun menyusun sarangnya.

Cara perkembangbiakkan ikan hias ada beberapa macam:


1) Ikan-ikan hias yang beranak.
2) Ikan-ikan hias yang bertelur berserakan.
3) Ikan-ikan hias yang meletakkan telurnya pada suatu subtrat.
4) Ikan-ikan hias yang menetaskan telurnya dalam sarang busa.
5) Ikan-ikan yang mengeramkan telurnya di dalam mulut.

Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai cara-cara pemeliharaan ikan hias
yang beranak (live bearer), misalnya:

1) Ikan Guppy (Poecilia reticulata Guppy)


2) Ikan Molly (Poelicia latipinna Sailfin molly)
3) Ikan Platy (Xiphophorus maculatus Platy)
4) Ikan Sword tail (Xiphophorus helleri Sword tail)

2. CIRI-CIRI INDUK JANTAN DAN BETINA


1) Induk Jantan
a. Mempunyai gonopodium (berupa tonjolan dibelakang sirip perut) yang
merupakan modifikasi sirip anal yang berupa menjadi sirip yang panjang.
b. Tubuhnya rampaing.
c. Warnanya lebih cerah.
d. Sirip punggung lebih panjang.
e. Kepalanya besar.

2) Induk Betina
a. Dibelakang sirip perut tidak ada gonopodium, tetapi berupa sirip halus.
b. Tubuhnya gemuk
c. Warnanya kurang cerah.
d. Sirip punggung biasa.

Hal. 1/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

e. Kepalanya agak runcing.

3. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMELIHARAAN


1) Air yang diperlukan adalah ari yang cukup mengandung Oksigen (O2) dan
jernih.
2) Suhu air berkisar antara 15 ~ 270C.
3) pH yang disukai agak sedikit alkalis, yaitu berkisar 7 ~ 8.
4) Makanan yang diberikan dapat berupa makanan alami (cuk, cacing, kutu air)
dan makanan buatan, diberikan secukupnya.

4. TEKNIK PEMIJAHAN
1) Pemilihan indu. Pilihlah induk yang berukuran relatif besar, bentuk tubuh
yang mengembung serta mempunyai warna yang indah.

2) Induk-induk yang telah dipilih dimasukkan dalam satu bak untuk beberapa
pasang induk. Namun apabila menghendaki keturunan tertentu dapat pula
dilakukan dengan cara memisahkan dalam bak tersendiri sepasang-
sepasang.

3) Bak-bak pemijahan harus dikontrol setiap hari. Setelah lahir, anak-anak ikan
harus cepat-cepat diambil dan dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan
oleh induknya.

5. PERAWATAN BENIH
1) Anak-anak ikan yang baru lahir belum membutuhkan makanan, karena
masih mengandung kuning telur (yolk egg). Setelah 4 ~ 5 hari anak ikan baru
dapat diberi makanan berupa kutu air yang sudah disaring, atau kuning telur
yang telah direbus dan dihancurkan.

2) Setelah mencapai ukuran medium (2 ~ 3 cm) dapat diberikan makanan


cacing, kemudian setelah mencapai ukuran dewasa (5 ~ 7 cm) dapat diberi
makanan cuk.

3) Disamping makanan alami dapat pula diberi makanan tambahan berupa


cacing kering, agar-agar dll.

4) Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari, hendaknya jangan berlebihan,


karena dapat menyebabkan pembusukan yang dapat meerusak kualitas air.

Hal. 2/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5) Pergantian air. Air dalam bak atau aquarium jangan sampai kotor/keruh,
karena dapat menyebabkan kematian anak ikan. Kotoran dapat dibersihkan
setiap 2 ~ 3 hari sekali dengan cara disiphon, air yang terbuang pada waktu
penyiphonan sebanyak 10 ~20% dapat diganti dengan air yang baru.

6. PENUTUP
Budidaya ikan live bearer ini sangat mudah dan mempunyai tingkat
keberhasilan yang tinggi. Untuk satu pasang ikan dapat menghasilkan 50
sampai 100 ekar ikan untuk satu kali pemijahan, dengan harga perekor Rp. 25,-
sampai Rp. 75,-. Jenis ikan ini juga merupakan ikan hias yang dapat di eksport
misalnya: ikan Guppy. Dengan teknik pemeliharaan yang tepat dan ketekunan
yang tinggi akan didapat hasil dengan warna yang sangat indah.

7. SUMBER
Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jakarta, 1996

8. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 3/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PENUNTUN KEARAH MENTERNAKAN


IKAN HIAS JENIS TETRA

1. JENIS IKAN TETRA


Jenis-jenis ikan TETRA terkenal cukup indah. Bermacam-macam jenis tetra
yang dikenal di Indonesia seperti Green Tetra, Blue Tetra, Silver Tetra, Neon
Tetra & banyak lagi yang lain.

Pada tulisan ini diketengahkan jenis neon tetra yang berasal dari sungai
Amazon Amerika, dan telah berkembang biak di Indonesia.

Neon Tetra (Hyphessobryconnesi), ikan hias ini termasuk ke dalam kelompok


ikan hias yang paling menarik. Tubuhnya berjalur merah danbiru hijau
sepanjang tubuhnya dari insang sampai ekornya. Ikan hias ini mudah
dipelihara, kuat dan tidak gampang sakit/mati.

2. CARA MEMBIAKAN
Cara membiakkan ikan jenis ini masih cukup sulit dan memerlukan ketekunan
serta pengalaman yang lama. Adapun untuk membiakan ikan ini di perlukan
syarat-syarat tertentu antaralain:

1) Air harus steril dan bersifat asam (pH lebih kecil dari 6,4)
2) Senang pada tempat yang gelap.
3) Suhu sekitar 200C

Cara membedakan jantan dan betina adalah sebagai berikut:

Jantan Betina
Bentuk agak panjang Bulat pendek dan perut membesar
Garis neon lurus Garis agak bengkok

Cara membiakkannya:

1) Pisahkan induk-induk neon tetra.


2) Air hujan ditampung dan didiamkan sampai + 2 minggu.
3) Tempat yang dipergunakan untuk membiakkan, ikan tersebut dibersihkan
ter lebih dahulu dan dicuci dengan tawas.
4) Masukkan air hujan tersebut kedalam tempat pemijahan.
5) Tetesi dengan air rendaman kayu asam.
6) Didiamkan 2 ~ 3 hari.

Hal. 1/ 2
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7) Masukkan tanaman atau daun-daunan untuk meletakkan telur neon tetra


tersebut.
8) Masukkan induk tetra yang telah dipisahkan terlebih dahulu.
9) Tutuplah tempat tersebut dan berilah lubang cahaya sedikit agar supaya
dapat melihat gerak-gerik ikan tersebut.
10) Jika terlihat jantan dan betina saling berkejar-kejaran, maka + 3 hari
kemudian sudah terlihat telur-telur yang menempel pada daun atau akar
yang telah disediakan.
11) Pindahkan induknya dan ditutup dengan kain hitam hingga tidak ada
cahaya yang masuk.
12) Selama + 3 hari telur neon tetra tersebut menetas.
13) Anak ikan ini dapat diberi makanan infusoria yakni bakteri pembusuk pada
daun kubis/kol yang dibusukkan setetes demi tetes.
14) Setelah + 2 - 3 minggu penutup sudah boleh dibuka kembali.
15) Kemudian akan terlihat anak-anak ikan tetra.

Di daerah panas seperti Jakarta sebaiknya membiakkan Tetra ini dilakukan


dikamar mandi yang hawanya lembab dan dingin.

3. SUMBER
Dinas Perikanan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta, 1996

4. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan No. 8 - 9, Blok G
Lantai 21, Jakarta Pusat, Tel. 021 359363

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 2/ 2
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBESARAN IKAN KAKAP PUTIH


(Lates calcalifer, Bloch)
DI KERAMBA JARING APUNG

1. PENDAHULUAN
Indonesia memiliki potensi sumber daya perairan yang cukup besar untuk
usaha budidaya ikan, namun usaha budidaya ikan kakap belum banyak
berkembang, sedangkan di beberapa negara seperti: Malaysia, Thailand dan
Singapura, usaha budidaya ikan kakap dalam jaring apung (floating net cage) di
laut telah berkembang.

Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) atau lebih dikenal dengan nama
seabass/Baramundi merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis,
baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor.
Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari
penangkapan di laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di
hasilkan dari usah pemeliharaan (budidaya). Salah satu faktor selama ini yang
menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap di indonesia adalah
masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup.

Untuk mengatasi masalah benih, Balai Budidaya Laut Lampung bekerja sama
dengan FAO/UNDP melalui Seafarming Development Project INS/81/008
dalam upaya untuk memproduksi benih kakap putih secara massal. Pada bulan
April 1987 kakap putih telah berhasil dipijahkan ddengan rangsangan hormon,
namun demikian belum diikuti dengan keberhasilan dalam pemeliharaan larva.
Baru pada awal 1989 kakap putih dengan sukses telah dapat dipelihara
larvanya secara massal di hatchery Balai Budidaya Lampung.

Dalam upaya pengembangan budidaya ikan kakap putih di indonesia, telah


dikeluarkan Paket Teknologi Budidaya Kakap Putih di Karamba Jaring Apung

Hal. 1/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

melalui rekomendasi Ditjen Perikanan No. IK. 330/D2. 10876/93K, yang


dilanjutkan dengan Pembuatan Petunjuk Teknis Paket Teknologi.

2. BIOLOGI
Ikan kakap putih adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar
terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous
(dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang
menyebabkan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun air
tawar.

Pada beberapa daerah di Indonesia ikan kakap putih dikenal dengan beberapa
nama seperti: pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur),
dubit tekong (Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi).

Ikan kakap putih termasuk dalam famili Centroponidae, secara lengkap


taksonominya adalah sbb:
Phillum : Chordata
Sub phillum : Vertebrata
Klas : Pisces
Subclas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Famili : Centroponidae
Genus : Lates
Species : Lates calcarifer (Block)

Ciri-ciri morfologis antara lain adalah:


a. Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar.
b. Pada waktu masih burayak (umur 1 ~ 3 bulan) warnanya gelap dan setelah
menjadi gelondongan (umur 3 ~ 5 bulan) warnanya terang dengan bagian
punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah menjadi
keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.
c. Mata berwarna merah cemerlang.
d. Mulut lebar, sedikit serong dengan geligi halus.
e. Bagian atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi.
f. Sirip punggung berjari-jari keras 3 dan lemah 7 ~ 8. Sedangkan bentuk sirip
ekor bulat.

3. PEMILIHAN LOKASI
Sebelum kegiatan budidaya dilakukan terlebih dahulu diadakan pemilihan
lolkasi. Pemilihan lokasi yang tepat akan menentukan keberhasilan usaha
budidaya ikan kakap putih. Secara umum lokasi yang baik untuk kegiatan

Hal. 2/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

usaha budidya ikan di laut adalah daerah perairan teluk, lagoon dan perairan
pantai yang terletak diantara dua buah pulau (selat).

Beberapa persyaratan teknis yang harus di penuhi untuk lokasi budidaya ikan
kakap putih di laut adalah:
a. Perairan pantai/ laut yang terlindung dari angin dan gelombang
b. Kedalaman air yang baik untuk pertumbuhan ikan kakap putih berkisar
antara 5 ~ 7 meter.
c. Pergerakan air yang cukup baik dengan kecepatan arus 20-40 cm/detik.
d. Kadar garam 27 ~ 32 ppt, suhu air 28 ~ 30 0C dan oksigen terlarut 7 ~ 8 ppm
e. Benih mudah diperoleh.
f. Bebas dari pencemaran dan mudah dijangkau.
g. Tenaga kerja cukup tersedia dan terampil.

4. SARANA DAN ALAT BUDIDAYA


1) Sarana dan Alat

Pemeliharaan ikan kakap di laut umumnya dilakukan dalam keramba jaring


apung (floating net cage) dengan metoda operasional secara mono kultur.
Secara garis besar keramba jaring apung terdiri dari beberapa bagian yaitu:

a. Jaring
Jaring terbuat dari bahan:
- Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 1 ~ 1,25”, guna
untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar.
- Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m
- 1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2 jaring cadangan)

b. Kerangka/Rakit: Kerangkan berfungsi sebagai tempat peletakan


kurungan.
- Bahan: Bambu atau kayu
- Ukuran: 8 m x 8 m

c. Pelampung: Pelampung berpungsi untuk mengapungkan seluruh sarana


budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan
- Jenis: Drum (Volume 120 liter)
- Jumlah: 9 buah.

d. Jangkar: Agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya


akibat pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar.
- Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg).
- Jumlah : 4 buah
- Panjang tali : Minimal 1,5 kali ke dalam air

Hal. 3/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

e. Ukuran benih yang akan


Dipelihara: 50-75 gram/ekor

f. Pakan yang digunakan: ikan rucah

g. Perahu : Jukung

h. Peralatan lain : ember,serok ikan, keranjang, gunting dll.

2) Konstruksi wadah pemeliharaan

Gambar 1. Kerangka Rakit

Perakitan karamba jaring bisa dilakukan di darat dengan terlebih dahulu


dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang telah
ditentukan.

Keangkan ditempatkan di lokasi budidaya yang telah direntukan dan agar


tetap pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4 buah.

Jaring apung apa yang telah dibuat berbentuk bujur sangkar pada kerangka
rakit dengan cara mengikat keempat sudut kerangka. Cara pengikatan jaring
dapat dilihat pada gambar 2.

Hal. 4/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 2. Cara Mengikat Jaring

Untuk membuat jaring agar berbentuk bujur sangkar, maka pada sudut
bagian bawah jaring diberi pemberat seperti pada gambar 3 di bawah ini.

Gambar 3. Jaring Berbentuk Bujur Sangkar

Untuk dapat mengikat bambu/kayu dengan mudah dapat dilihat pada gambar
4.

Hal. 5/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 4. Pelampung Diikatkan pada Bambu/Kerangka Rakit

5. OPERASIONAL BUDIDAYA
1) Metode Pemeliharaan

Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-70 gram/ekor dari hasil
pendederan atau hatchery, selanjutnya dipelikara dalam kurungan yang telah
disiapkan. Penebaran benih ke dalam karamba/jaring apung dilakukan pada
kegiatan sore hari dengan adaptasi terlebih dahulu. Padat penebaran yang
ditetapkan adalah 50 ekor/m3 volume air.

Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari dengan
takaran pakan 8-10% botol total badan perhari. Jenis pakan yang diberikan
adalah ikan rucah (trash fish). Konversi pakan yang digunakan adlah 6:1
dalam arti untuk menghasilkan 1 kg daging diperlukan pakan 6 kg.

Selama periode pemeliharan yaitu 5-6 bulan, dilakukan pembersihan kotoran


yang menempel pada jaring, yang disebabkan oleh teritif, algae, kerang-
kerangan dll. Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan
menyebabkan kurungan bertambah berat.

Pembersihan kotoran dilakukan secara periodik paing sedikit 1 bulan sekali


dilakukan secara berkala atau bisa juga tergantung kepada banyak
sedikitnya organisme yang menempel.

Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa


ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan
algae tersebut. Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara
menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi.

Hal. 6/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Selain pengelolaan terhadap sarana /jaring, pengelolaan terhadap ikan


peliharaan juga termasuk kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan.
Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap ikan peliharaan secara berkala,
guna untuk menghindari sifat kanibalisme atau kerusakan fisik pada ikan.
Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak
seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan.

Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan


terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan,
perlu dihindari jangan sampai terjadi stress.

2) Panen

Lama pemeliharan mulai dari awal penebaran sampai mencapai ukuran ±


500 gram/ekor diperlikan waktu 5-6 bulan. Dengan tingkat kelulusan
hidup/survival rate sebesar 90% akan didapat produksi sebesar 2.250
kg/unit/periode budidaya.

Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat jaring keluar rakit,


kemudian dilakukan penyerokan.

3) Penyakit

Publikasi tentang penyakit yang menyerang ikan-ikan yang dibudidayakan di


laut seperti ikan kakap putih belum banyak dijumpai. Ikan kakap putih ini
termasuk diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang
virus, bakteri dan jamur. Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara
lain adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk
tubuh dll.

Tindakan yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:


a. menghentikan pemberian pakan terhadap ikan dan menggantinya dengan
jenis yang lain;
b. memisahkan ikan yang terserang penyakit, serta mengurangi kepadatan;
c. memberikan obat sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.

6. ANALISA USAHA 1 TAHUN (2 PERIODE BUDIDAYA)


1) Biaya Investasi
- Karamba jaring apung 1 unit Rp. 2.500.000,-
- Perahu jukung 1 unit Rp. 150.000,-
- Peralatan budidaya Rp. 300.000,-
Jumlah 1) Rp. 2.950.000,-

Hal. 7/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Biaya Operasional
- Benih 2 x 5.000 ekor x Rp 200,- Rp. 2.000.000,-
- Pakan 2 x 13.500 kg x Rp 250,- Rp. 6.750.000,-
- Tenaga kerja 2 orang x 1 x 6 buah x Rp. 75.000,- Rp. 900.000,-
Jumlah 2) Rp. 9.650.000,-

3) Jumlah biaya (1+2) Rp. 2.950.000 + Rp 9.650.000,- Rp. 12.600.000,-

4) Pendapatan 2 x 2.250 kg x Rp 4.000,- Rp. 18.000.000,-

5) Selisih pendapatan dan biaya total(4-3) Rp. 5.400.000,-

6) Penyusutan 50% x Rp 2.950.000,- Rp. 1.475.000,-

7) Laba sebelum pajak (5-6)

Catatan
1. Harga yang dipergunakan merupakan harga di Lampung tahun 1992/1993,
Perhitungan tidak menggunakan dana dari bank

7. DAFTAR PUSTAKA
1) Anomius. 1990. “Perkembangan Rekayasa Teknologi Pembenihan Kakap
Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Balai Budidaya Laut Lampung”, Ditjen
Perikanan, Lampung.

2) Anomius, 1992. Buletin Budidaya Laut seri 5 & 6. BBL Lampung, Ditjen
Perikanan, Lampung.

3) Anomius, 1990/1991. Usaha Penanggulangan Serangan Penyakit pada


Usaha Budidaya Laut/Rumput Laut, Ditjen Perikanan, Jakarta

4) Djamali, M. A., Hutomo Burhanuddin dkk, 1986 “Sumber daya ikan kakap
(Lates calcalifer) dan Bambangan (Lujtanus spp) di Indonesia”. LON LIPI,
Jakarta.

5) Hardjono, 1987. Biologi dan Budidaya Kakap Putih (Lates calcarifer) INFISH
Manual seri No. 47. Ditjen Perikanan-International Development Research
Centre. Jakarta.

Hal. 8/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

8. SUMBER

Paket Teknologi Pembesaran Ikan Kakap Putih ( Lates calcarifer, Bloch) di


Keramba Jaring Apung, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian,
1994.

9. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 9/ 9
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN HIAS MAS KOKI MUTIARA

1. PENDAHULUAN
Ikan koki mutiara merupakan jenis ikan mas yang mempunyai tubuh bulat
dengan kepala kecil dan ekor lebar. Ikan ini berasal dari daratan cina, namun di
Indonesia sudah lama dapat dibudidayakan.

Pemasaran ikan ini selain di dalam negeri juga merupakan jenis ikan yang di
eksport dan harganyapun cukup tinggi.

2. PEMIJAHAN
1) Pemilihan induk

a. Induk yang baik untuk dipijahkan sudah berumur + 8 bulan, dengan


ukuran minimum sebesar telur itik.

b. Pilih induk yang berkepala kecil dengan tubuh bulat, sisik utuh dan
tersusun rapih. Jika ikan sedang bergerak, ekor dan sirip akan kelihatan
tegak.

c. Untuk mendapatkan keturunan yang berwarna, maka calon induk yang


akan dipijahkan berwarna polos. Gunakan induk jantan berwarna putih
dan betina berwarna hitam atau hijau lumut atau sebaliknya.

2) Perbedaan jantan dan betina

Induk Jantan Induk Betina

Pada sirip dada terdapat bintik-bintik Pada sirip dada terdapat bintik-bintik
bulat menonjol dan jika diraba dan terasa halus jika diraba.
terasa kasar.
Induk yang telah matang jika diurut Jika diurut, keluar cairan kuning
pelan kerarah lubang genital akan bening. Pada induk yang telah
keluar cairan berwarna putih matang, perut terasa lembek dan
lubang genital kemerah-merahan.

Hal. 1/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Cara pemijahan

a. Bak/aquarium yang telah bersih diisi dengan air yang telah diendapkan +
24 jam, kemudian letakkan eceng gondok untuk melekatkan telurnya.

b. Pilihlah induk yang telah matang telur, masukkan kedalam bak pada sore
hari. Bila pemilihan induk dilakukan dengan cermat, biasanya keesokan
harinya telur sudah menempel pada akar eceng gondok.

c. Karena telur tidak perlu dierami, induk dapat segera dipindahkan ke kolam
penampungan induk, untuk menunggu sampai saat pemijahan berikutnya.
Jika perawatannya baik, maka 3 ~ 4 minggu kemudian induk sudah dapat
dipijahkan kembali.

3. PEMELIHARAAN BENIH
1) Setelah 2 ~ 3 hari telur akan menetas, sampai berumur 2 ~ 3 hari benih
belum diberi makan, karena masih mempunyai persediaan makanan pada
yolk sac-nya (kuning telur).

2) Pada hari ke 3 ~ 4 benih sudah dapat diberi makanan kutu air yang telah
disaring.

3) Setelah berumur + 15 hari benih mulai dicoba diberi cacing rambut


disamping masih diberi kutu air, sampai benih keseluruhannya mampu
memakan cacing rambut baru pemberian kutu air dihentikan.

4) Untuk telur yang ditetaskan di aquarium maka sebainya setelah benih


berumur + 1 minggu dipindahkan ke bak/kolam yang lebih luas.

5) Ketinggian air dalam bak 10 ~ 15 cm dengan pergantian air 5 ~ 7 hari sekali.


Setiap pergantian air gunakan air yang telah diendapkan lebih dahulu.

6) Untuk menghindari sinar matahari yang terlalu terik diperlukan beberapa


tanaman pelindung berupa eceng gondok.

4. PEMBESARAN
1) Pembesaran ikan dilakukan setelah benih berumur lebih dari 1 bulan sampai
induk.

2) Jenis koki mutiara ini memerlukan banyak sinar matahari, untuk itu tanaman
eceng gondok dapat dikurangi atau dihilangi.

Hal. 2/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Untuk tahap pertama pembesaran dapat ditebar + 1.000 ekor ikan dalam bak
berukuran 1,5 x 2 m. Kemudian penjarangan dapat dilakukan setiap 2
minggu dengan dibagi 2.

4) Pergantian air dapat dilakukan 3 ~ 5 hari sekali, juga dengan air yang telah
diendapkan.

5) Makanan yang diberikan berupa cacing rambut. Makanan diberikan pada


pagi hari secara adlibitum (secukupnya). Jika pada sore hari makanan masih
tersisa, segera diangkat/dibersihkan.

6) Setelah berumur 4 bulan ikan sudah merupakan calon induk. Untuk itu jantan
dan betina segera dipisahkan sampai berumur 8 bulan yang telah siap
dipijahkan. Untuk induk ikan sebaiknya makanan yang diberikan yaitu berupa
jentik nyamuk (cuk).

7) Sepasang induk dapat menghasilkan telur 2.000 s/d 3.000 butir untuk sekali
pemijahan.

5. PENUTUP
Ikan mas koki mutiara mempunyai nilai ekonimis tinggi. Untuk benih berumur 1
bulan harganya berkisar Rp. 30,- s/d Rp. 50,- sedangkan sepasang induk
berkisar Rp. 5.000,- s/d 10.000,-

Dengan cara pemeliharaan yang tepat disertai ketekunan dapat diharapkan


penghasilan yang lumayan.

6. SUMBER
Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jakarta, 1996

Hal. 3/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan DKI Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 4/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT


DI JARING APUNG

1. PENDAHULUAN
Budidaya ikan laut di jaring apung (floating cages) di Indonesia trgolong masih
baru. Perkembangan budidaya secara nyata baru terlihat pada sekitar tahun
1989 yang ditandai dengan keberhasilan UPT Perikanan melaksanakan
pemijahan / pembenihan sekaligus pembesaran ikan Kakap Putih (Lates
calcarifer, Bloch) di daerah Lampung untuk tujuan komersial.

Upaya pengembangan budidaa ikan laut, terutama dalam rangka menunjang


pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan perikanan Pelita VI nampak
cukup cerah karena disamping didukung oleh potensi sumberdaya yang cukup
besar tersebar di beberapa Propinsi seperti; Riau, Sumatera Selatan, Lampung,
Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan
Maluku, juga didukung oleh semakin berkembangnya pemasaran ikan laut ke
luar negeri (ekspor) maupun lokal. Berkaitan dengan upaya pengembangan
budidaya laut melalui pembuatan buku Petunjuk Teknis Budidaya ikan laut
merupakan sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan petani nelayan.

2. PERSYARATAN LOKASI
Ketepatan pemilihan lokasi adalah salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan usaha budidaya ikan laut. Karena laut yang dimanfaatkan sebagai
lahan budidaya merupakan wilayah yang penggunaannya melibatkan sektor
lain (Common property) seperti; perhubungan, pariwisata, dan lain-lain, maka
perhatian terhadap persyaratan lokasi tidak hanya terbatas pada faktor-faktor
yang berkaitan dengan kelayakan teknis budidaya melainkan juga faktor
kebijaksanaan pemanfaatannya dalam kaitan dengan kepentingan lintas sektor.

Dalam kaitan dengan hal tersebut, Departemen Pertanian telah mengeluarkan


Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Budidaya Laut (SK. Mentan No.
473/Kpts./Um/7/1982).

Agar pemilihan lokasi dapat memenuhi persyarataan teknis sekaligus terhindar


dari kemingkinan pengaruh penurunan daya dukung lingkungan akibat
pemanfaatan perairan di sekitarnya oleh kegiatan lain, maka lokasi yang dipilih
adalah yang memenuhi kriteria, sebagai berikut:

Hal. 1/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Tabel 1. Syarat-Syarat Lokasi Budidaya

NO. FAKTOR PERSYARATAN MENURUT KOMODITAS


Kerapu Kakap Putih Kakap Merah
1. Pengaruh angin dan Kecil Kecil Kecil
gelombang yang kuat
2. Kedalaman air dari 5-7 m pada surut 5-7 m pada 7-10 m pada
dasar kurung terendah surut terendah surut terendah
3. Pergerakan air/arus 20-40 cm/detik ±20-40 cm/det. ±20-40 cm/detik
4. Kadar garam 27-32 %0 27-32 %0 32-33 %0
5. Suhu Air Pengaruh 280C-300C 280C-300C 280C-300C
6. Polusi bebas bebas bebas
7. Pelayaran tdk menghambat tdk menghambat tdk menghambat
alur pelayaran alur pelayaran alur pelayaran

3. JENIS IKAN
Jenis-jenis ikan laut yang dapat dibudidayakan dipilih berdasarkan potensi
sumber daya yang ada jenis ikan yang sudah umum dibudidayakan serta
teknologinya yang sudah dikuasai/dihasilkan sendiri di Indonesia, guna untuk
menghindari resiko kegagalan yang besar.

Jenis-jenis ikan yang dimaksud adalah Kerapu Lumpur (Epinephalus tauvina),


Kakap Putih (Lates calcalifer, Bloch), Kakap Merah (Lutjanus malabaricus,
Bloch & Schaider).

Berikut di bawah ini disajikan biologi beberapa jenis ikan yang dapat
dibudidayakan secara praktis.

Hal. 2/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Tabel 2: Biologi Jenis-Jenis Ikan yang Dibudidayakan

NO. URAIAN Kerapu Kakap Putih Kakap Merah

1. Nama Lokal Kerapu Lumpur Kakap Putih Ikan Merah


Nama Asing Greasy grouper Seabass Red-Snapper
2. Silsilah:
Philum Chrodata Chrodata Chrodata
Sub Philum Vertebrata Vertebrata Vertebrata
Klas Pisces Pisces Pisces
Sub Klas Teleostei Teleostei Teleostei
Ordo Percomorphi Percomorphi Percomorphi
Famili Sarranidae Centropornidae Lutjanidae
Genus Epinephelus Lates Lutjanus
Species E. tauvina L. carcarifer Bloch L. malabaricus
Bloch & Scheider
3. Ciri-ciri Badan memanjang Badan memanjang Badan memanjang
Morphologi gepeng. Termasuk jenis gepeng, batang sirip melebar, gepeng
Kerapu besar. ekor lebar kepala cembung
Prapenutup insang Burayak umur 3-5 Bag. Bawah penutup
bulat, bergerigi dan bulan warnanya gelap. insang bergerigi
agak basar pada ujung Glondongan warnanya Gigi-gigi pada
bawah terang dg punggung rahang tersusun
Gigi-gigi pada rahang coklat kebiruan dan dalam ban-ban, ada
berderet dalam 2 baris. berubah keabu-abuan. gigi taring pd bag.
Jari-jari Sirip keras, sirip Sirip abu-abu gelap Terluar rahang atas
dubur 3 dan 8 lemah Mata merah Sirip punggung
Sirip Punggung berjari cemerlang, mulut lebar berjari-jari keras 11
keras 11 dan 15-16 dengan gerigi halus dan lemah 14 Sirip
lemah Bag. Atas penutup dubur berjari-jari
insang terdapat keras 3, lemah 8-9
Terdapat 3 duri pada lubang kuping Termasuk ikan buas,
penutup insang yang bergerigig makannya ikan kecil
ditengah terbesar Sirip punggung berjari dan invetebrata
Termasuk ikan buas dan keras sebanyak 7-9 dasar. Hidup
predator dan jari lemah 10-11 menyendiri di daerah
Hidup perairan pantai , Sirip dubur berjari pantai sampai
lepas pantai, menyendiri lemah 7-8 kedalaman 60 m.
Soliter Sirip dubur berbentuk Dapat mencapai
Dapat mencapai bulat panjang 45-60 cm.
panjang 150 cm Warna bag. Atas
umumnya 50-70 cm kemerahan/merah
Warna dasar sawo kuningan Bag.
matang, agak keputihan Bawah merah
bagian bawahnya. keputihan. Ban-ban
Terdapat 4-6 ban warna kuning kecil diselingi
gelap melintang badan. warna merah pd bag.
Totol-totol warna merah Punggung diatas
sawo di seluruh badan . garis rusuk.

Hal. 3/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 1. Ikan Kerapu Lumpur (Epinephalus tauvina)

Gambar 2. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch)

Gambar 3. Ikan Tambangan (Lutjanus johni)

Hal. 4/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4. PERSIAPAN SARANA BUDIDAYA


1) Kerangka/rakit

Kerangka berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan, dapat terbuat dari


bahab bambu, kayu, besi bercat anti karat atau paralon. Bahan yang
dianjurkan adalah bahan yang relatif murah dan mudah didapati di lokasi
budidaya.

Bentuk dan ukuran rakit bervariasi tergantung dari ukuran yang digunakan.
Setiap unit kerangka biasanya terdiri atas 4 (empat) buah kurungan.

Gambar 4. Disain Konstruksi Kurungan Apung

2) Pelampung

Pelampung berfungsi untuk melampungkan seluruh saran budidaya


termasuk rumah jaga dan benda atau barang lain yang diperlukan untuk
kepentingan pengelolaan.

Bahan pelampung dapat berupa drum plastik/besi atau styrofoam


(pelampung strofoam). Ukuran dan jumlah pelampung yang digunakan
disesuaikan dengan besarnya beban. Sebagai contoh untuk menahan satu
unit kerangka yang terdiri dari empat buah kurungan yang masing-masing
berukuran (3x3x3) m3 diperlukan pelampung drum plastik/drum besi volume
200 liter sebanyak 9 buah, atau 11 buah dengan perhitungan 2 buah, untuk
menahan beban lain (10/4x9) buah ditambah 2 buah untuk menahan beban
tambahan. Pelampung diikat dengan tali polyethyline (PE) yang bergaris
tengah 0,8-1,0 cm. Penempatan pelampung pada kerangka dapat dilihat
pada gambar 5.

Hal. 5/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 5. Penempatan dan Pemasangan Pelampung pada Kerangka/Rakit

3) Kurungan

Kurungan atau wadah untuk memelihara ikan, disarankan terbuat dari bahan
polyethline (PE) karena bahan ini disamping tahan terhadap pengaruh
lingkungan juga harganya relatif murah jika dibandingkan dengan bahan-
bahan lainnya. Bentuk kurungan bujur sangkar dengan ukuran (3x3x3)m3.

Ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibudidayakan.


Untuk ukuran ikan dengan panjang kurang dari 10 cm lebar mata yang
digunakan adalah 8 mm (5/16 inchi). Jika panjang ikan berkisar antara 10-15
cm lebar mata jaring digunakan adalah 25 mm (1 inch), sedangkan untuk
ikan dengan ukuran panjang 15-40 cm atau lebih digunakan lebar mata
jaring ukuran 25-50 mm (1-2 inch).

Pemasangan kurungan pada kerangka dilakukan dengan cara mengikat


ujung tali ris atas pada sudut rakit. Agar kurungan membentuk kubus/kotak
digunakan pemberat yang diikatkan pada keempat sudut tali ris bawah.

Selanjutnya pemberat diikatkan ke kerangka untuk mempermudah pekerjaan


pengangkatan/penggantian kurungan (lihat gambar 4) untuk mencegah
kemungkinan lolosnya ikan atau mencegah serangan hewan pemangsa,
pada bagian atas kurungan sebaiknya diberi tutup dari bahan jaring.

Hal. 6/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 6. Penempatan dan Pemasangan Kurungan

4) Jangkar

Agar seluruh saran budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh
arus angin maupun gelombang, digunakan jangkar. Jangkar dapat terbuat
dari beton atau besi.

Setiap unit kurungan jaring apung menggunakan 4 buah jangkar dengan


berat antara 25-50 kg. Panjang tali jangkar biasanya 1,5 kali kedalaman
perairan pada waktu pasang tinggi

Gambar 7. Pengaturan dan Pemasangan Jangkar

5. RANCANGAN TATA LETAK KERANGKA JARING APUNG


Pengaturan penempatan kerangka jaring apung harus mengacu kepada
peraturan yang telah dikeluarkan, dalam hal ini Kepres No. 23 Tahun 1982
tentang Pengembangan Budidaya laut di Perairan Indonesia serta Petunjuk
Pelaksanaannya yang telah dikeluarkan Departemen Pertanian melalui SK.
Mentan No. 473/Kpts/7/UM/7/1982.

Hal. 7/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Berdasarkan petunjuk pelaksanaan tersebut, pihak yang berwenang


melaksanakan pengatuaran penempatan kurungan jaring apung adalah
Pemerintah Daerah setempat, dalam hal ini yang bertindak senagai Instansi
Teknis adalah Dinas Perikanan setempat.

Penempatan kerangka jaring apung diperairan disarankan tidak lebih dari 10


(sepuluh) buah dalam satu rangkaian. Hal ini ditujukan untuk mencegah
terjadinya penumpukan/pengendapan sisa makanan atau kotoran ikan serta
limbah lainnya akibat terhambatnya arus, juga untuk memudahkan pengelolaan
sarana dan ikan peliharaan. Disamping itu, sedapat mungkin penempatan
kerangka mengacu kepada Rancangan Tata Ruang Satuan Pemukiman
(RTSP) untuk memperoleh rancangan menyeluruh yang efisien, memiliki
aksessibilitas yang tinggi serta aman bagi pelaksanaan kegiatan budidaya.

Gambar 8. Rancangan Tata Letak Kerangka Kurungan Jaring Apung

6. PENGELOLAAN KELOMPOK USAHA BERSAMA


1) Pengaturan Pola Tanam

Usaha budidaya laut dengan skala besar selalu dihadapkan dengan kendala
baik pada saat memuai kegiatan dan pengelolaan maupun pemanenan dan
pemasaran hasil. Bentuk kendala dan permasalahan yang ditemui antara lain
berupa sulitnya memenuhi kebutuhan dan penampungan benih, saprodi dan
tenaga kerja serta pelemparan hasil ke pasar. Untuk itu dalam pelaksanaan
kegiatan budidaya skala besar perlu diterapkan pola tanam tertentu.
Alternatif pola tanam yang akan diterapkan oleh setiap KK adalah melakukan

Hal. 8/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

penanaman pada 1 unit kurungan jaring apung yang terdiri dari 4 buah
kurungan pada setiap minggu.

2) Pemasaran Hasil

Pemasaran hasil dari usaha budidaya yang dilakukan petani/nelayan


merupakan tanggung jawab Perusahaan Inti. Pelaksanaan budidaya
(petani/nelayan) bersama Perusahaan Inti menentukan kesepakatan harga
jual hasil panen baik untuk lokal maupun untuk ekspor.

7. PENGELOLAAN SARANA DAN IKAN PELIHARAAN


1) Pengelolaan Sarana

Sarana budidaya berupa kerangka/rakit, kurungan apung, pelampung dan


lain-lain harus mendapat perawatan secara berkala. Kendala yang biasa
terjadi pada budidaya jaring apung ini adalah pengotoran/penempelan oleh
organisme penempel ini seperti teritip , algae, kerang-kerangan dan lain-lain
dapat terjadi pada semua sarana budidaya yang terendam dalam air.

Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan


menyebabkan kurungan bertambah berat. Untuk menanggulangi organisme
penempel ini , dilakukan pembersihan jaring secara periodik paling sedikit 1
bulan sekali atau tergantung pada banyak sedikitnya organisme yang
menempel.

Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa


ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan
algae tersebut. Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara
menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi.

2) Pengelolaan Ikan

Kegiatan pengelolaan ikan yang dipelihara dikurungan adalah mengontrol


dan mengawasi ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari
terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan
dalam mendapatkan makanan.

Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan


itu terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan,
perlu diperhatikan dan diusahakan jangan sampai terjadi stress (keteganan)
dan kerusakan fisik pada ikan.

Hal. 9/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

8. OPERASIONAL BUDIDAYA
1) Benih

Pemenuhan kebutuhan benih apabila belum dapat dipenuhi dari hasil


pembenihan yang ada, bisa dilakukan dengan cara menangkap dari perairan
di sekitar lokasi budidaya dan untuk itu dapat digunakan alat tangkap seperti
bubu, pukat pantai, sudu atau jala.

Benih alam umumnya memiliki ukuran yang tidak seragam oleh karena itu
kegiatan penggolongan ukuran (grading) perlu dilakukan. Selain itu proses
aklimatisasi/penyesuaian iklim sebelum ikan dibudidayakan perlu dilakukan
untuk menghindarkan kematian akibat pengaruh lingkungan/habitat yang
baru.

Hal. 10/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 9. Macam-Macam Alat Tangkap Benih

2) Pendederan

Yang dimaksud dengan pendederan adalah kegiatan pemeliharaan benih


sampai uuran tertentu hingga siap untuk dipelihara dikurungan pembesaran.
Lamanya pendederan tergantung dari ukuran awal, tingkat kepadatan dari
benih yang dipelihara. Sebagai contoh, untuk benih ikan Kakap putih yang
berukuran kurang dari 10 cm dengan padat penebaran 100-150 cm
diperlukan waktu satu bulan pada kurungan pendederan yang memiliki lebar
mata8 mm (5/16 inch). Selanjutnya dipindahkan ke kurungan pendederan

Hal. 11/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

yang memiliki lebar mata 25 mm (1 Inch) dengan kepadatan 40-60 ek/m2


selama 2-3 bulan.

3) Pembesaran

Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-75 gram/ekor dengan panjang
15 cm atau lebih dari hasil pendederan, selanjutnya dipelihara dalam
kurungan pembesaran yang memiliki lebar mata jaring 25-50 mm (1-2 inchi)
dengan kepadatan 15-25 ek/m3 dan waktu pemeliharaan dikurungan
pembesaran berkisar antara 6-8 bulan.

4) Pakan

Pakan adalah salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan


moralitas ikan yang dipelihara. Oleh kjarena itu masalah kuantitas dan
kualitas dari pakan yang diberikan layak dipenuhi.

Ikan rucah (Trash fish) adalah jenis pakan yang biasa diberikan untuk jenis-
jenis ikan laut buas (carnivora) Dalam hal ini ikan Kerapu dan ikan Kakap
yang dipelihara dikurungan apung.

Jumlah pakan yang diberikan tergantung dari ukuran ikan yang


dibudidayakan. Pada tahap pendederan diberikan pakan sebanyak 8-10%
dari total berat badan/hari, sedangkan pada saat pembesaran diberikan
pakan sebanyak 3-5% dari total berat badan/hari.Rasio konversi pakan
(Food Convertion Ratio) yang akan diperoleh adalah 5:1 yang berarti untuk
mendapatkan penambahan berat 1 kg daging ikan diperlukan pakan
sebanyak 5 kg.

Frekuensi pemberian pakan tergantung pada ukuran ikan. Untuk larva dan
glondongan (juvenil), frekuensi pakan yang diberikan adalah 3-4 kali/hari.
Waktu pemberian pakan adalah pada siang hari.

9. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT


Sejalan dengan perkembangan usaha budidaya ikan di laut, muncul pula
beberapa masalah yang dapat menggangu bahkan menghambat
perkembangan usaha tersebut misalnya hama dan penyakit ikan.

1) Hama

Hama yang menyerang pada usaha budidaya ikan laut lebih banyak
disebabkan oleh hewan pemangsa atau pengganggu lainnya. Hama dapat
menyerang apabila kerusakan pada sistem jaring-jaring yang dipergunakan
sebagai kurungan pemeliharaan ilan. Kerusakan tersebut mengakibatkan

Hal. 12/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

masuknya hewan penggangu atau pemangsa lainnya seperi burung dan


lingsang. Walaupun akibat yang ditimbulkan sangat terbatas atau relatif kecil,
namun hal tersebut tidak boleh diabaikan begitu saja. Termasuk kerugian
akibat adanya pencurian yang dilakukan oleh manusia.

2) Penyakit

Secara umum penyakit dapat diartikan sebagai gangguan dalam fungsi atau
struktur suatu organ atau bagian tubuh. Penyakit timbul dikarenakan satu
atau berbagai sebab baik berasal dari lingkungan maupun dari tubuh ikan itu
sendiri.

Hal-hal yang menyebabkan ikan terserang penyakit adalah:


- Cara perawatan yang kurang baik
- Makanan tidak cukup (giji dan jumlah)
- Kekurangan zat asam
- Perubahan suhu dan sifat-sifat air yang mendadak.

Gejala ikan yang terserang penyakit antara lain: kelainan tingkah laku,
kurang nafsu makan, kelainan bentuk ikan, kelainan pada permukaan tubuh
iakn, Penyakit insang, anus tidak normal, mata tidak normal dll.

Penyakit dapat dibagi menjadi 2 golongan bila dilihat dari penyebabnya.

a. Penyakit non Parasiter: adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor-


faktor kimia dan fisika air yang tida cocok bagi ikan seperti: perubahan
salinitas air secara mendadak, polusi dan lain sebagainnya. Selain dari itu
bisa juga disebabkan oleh kekurangan makanan dan gizi yang buruk,
serta stress akibat penanganan yang kurang baik.

b. Penyakit Parasiter: Penyakit yang biasa menyerang ikan budidaya laut


adalah:
- Golongan virus
- Golongan bakteri
- Golongan crustacea
- Golongan cacing
- Golongan Protozoa
- Golongan jamur

Penanganan terhadap ikan sakit dapat dibagi atas 2 langkah yaitu:


a. Berdasarkan teknis budidaya:
Tindakan-tindakan yang dilakukan antara lain:
- menghentikan pemberian pakan terhadap ikan
- mengganti pakan dengan jenis yang lain
- memisah-misahkan ikan tersebut dalam beberapa komponen, sehingga
densitasnya menjadi rendah.
b. Berdasarkan terapi kimia:

Hal. 13/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tahap ini adalah:


- memeriksa sensifitas dari masing-masing obat yang diberikan pada
ikan.
- memperhatikan batas dari dosis masing-masing obat.
- Tidak memberikan obat sembarangan kepada ikan yang sakit.

Cara pemberian obat:


a. Ditenggelamkan dalam tempat budidaya.
b. Disebarkan pada permukaan air
c. Dicampurkan dalam pakan
d. Dengan cara disuntikan

10. PANEN
Panen dilakukan dan disesuaikan dengan ukuran ikan yang dikehendaki atau
permintaan pasar. Untuk mencapai ukuran 600-800 gram per ekor dibutuhkan
waktu pemeliharaan selama 6-8 bulan dengan survival rate 80-90%. Panen
dilakukan secara total di dalam satu kurungan, bisa juga dilakukan secara
persial tergantung dari ukuran panen yang dikehendaki.

11. DAFTAR PUSTAKA


1) Aji Nugroho. Murdjani M, dan Notowinarto, 1989 Budidaya Ikan Kerapu di
Kurungan Apung, INFIS manual seri 104. Ditjen Perikanan dan IDRC,
Jakarta.

2) Anonim, 1989. Paket Teknologi Budidaya Laut, Seri Budidaya Kakap Putih,
Ditjen Perikanan, Dit Bina Produksi, Jakarta.

3) Anonim, 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Dalam Jaring Terapung,


Ditjen Perikanan, Jakarta.

4) Anonim, 1990/1991, Usaha Penanggulangan Serangan Penyakit Pada


Usaha Budidaya Laut no. 5, BBL Lampung, Ditjen Perikanan.

5) Djamali, A Hutomo, M. Burhanuddin dan S. Martosewojo, 1986, Sumberdaya


Ikan Kakap (Lates calcarifer) dan Bambangan (Lutjanus spp) di Indonesia,
Seri Sumber Daya Alam No. 130. Lon LIPI. Jakarta.

12. SUMBER
Petunjuk Teknis Budidaya Ikan Laut di Jaring Apung, Direktorat Jenderal
Perikanan, Departemen Pertanian, 1994

Hal. 14/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

13. KONTAK HUBUNGAN


Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 15/ 15
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN HIAS MANFISH


(Pterophyllum scalare)

1. PENDAHULUAN
Ikan manfish (Angle Fish) berasal dari Amerika Selatan, tetapi telah banyak
dibudidayakan di Indonesia.

Ikan manfish disebut Angle Fish (Ikan Bidadari), karena bentuk dan warnanya
menarik serta gerakkannya yang tenang.

Secara umum budidaya ikan manfish tidak membutuhkan lahan yang luas,
bahkan dapat dilakukan dalam aquarium atau paso dari tanah, sehingga tidak
membutuhkan investasi besar untuk budidayanya.

2. PEMIJAHAN
1) Perbedaan induk jantan dan betina

INDUK JANTAN INDUK BETINA

- Ukuran relatif lebih besar dari induk - Mempunyai ukuran relatif lebih kecil
betina pada umur yang sama dari induk jantan
- Dilihat dari atas perut pipih atau - Perut terlihat besar dan menonjol
ramping - Kepala lebih kecil
- Bentuk kepala agak besar - Antara mulut ke sirip punggung
- Antara mulut dan sirip punggung membentuk garis lurus, kadang-
berbentuk cembung. dang menonjol sedikit.

2) Pemilihan Induk

a. Induk yang baik untuk dipijahkan adalah yang telah berumur lebih dari 6
bulan, dengan panjang induk jantan + 7,5 cm dan induk betina + 5 cm
b. Untuk penentuan pasangan secara cermat, yaitu dengan cara
menyiapkan induk-induk yang telah matang telur dalam satu bak (2 x 2)
meter persegi dengan ketinggian air + 30 cm. Umumnya ikan manfish
akan memilih pasangannya masing-masing. Hal ini dapat terlihat pada
malam hari, ikan yang telah berpasangan akan memisahkan diri dari
kelompoknya. Ikan yang telah berpasangan ini segera diangkat untuk
dipijahkan.

Hal. 1/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Cara Pemijahan

a. Tempat pemijahan dapat berupa aquarium, bak atau paso dari tanah, diisi
air yang telah diendapkan setinggi 30 - 60 cm
b. Siapkan substrat dapat berupa daun pisang, seng plastik, kaca, keramik
atau genteng dengan lebar + 10 cm dan panjang + 20 cm
c. Substrat diletakkan secara miring atau terlentang
d. Sebelum terjadi pemijahan, induk jantan akan membersihkan substrat
dengan mulutnya
e. Setelah terjadi pemijahan, telur akan menempel pada substrat. Untuk satu
kali pemijahan telur dapt berjumlah 2.000 ~ 3.000 butir
f. Selama pemijahan induk akan diberi makan kutu air dan cuk.

3. PEMELIHARAAN BENIH
Setelah induk memijah, penetasan telur dapat segera dilakukan. Penetasan
telur ada beberapa cara:
a. Substrat yang telah ditempeli telur diangkat, untuk dipindahkan kedalam
aquarium penetasan. Pada waktu mengangkat substrat diusahakan agar
telur senantiasa terendam air, untuk itu dapat digunakan baskom atau wadah
lain yang dimasukkan ke tempat pemijahan
b. Cara kedua yaitu telur ditetaskan dalam tempat pemijahan. Setelah menetas
(2 ~ 3 hari) benih yang masih menempel pada substrat dapat dipindahkan ke
aquarium. Pemindahan benih dilakukan dengan cara yang sama (a)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan benih:


a. Aquarium tempat menetaskan telur maupun pemeliharaan benih sebelumnya
harus di persiapkan dahulu, yaitu dengan mengisi air yang telah diendapkan
+ 10 cm, kemudian bubuhkan methyline blue beberapa tetes, untuk
mencegah kematian telur karena serangan jamur. Selanjutnya beri tambahan
oksigen dengan menggunakan pompa udara.
b. Telur dan benih yang masih menempel pada substrat tidak perlu diberi
makan
c. Setelah lepas dari substrat (3 ~ 4 hari) dapat diberikan makanan berupa
rotifera atau kutu air yang disaring, selama 5 ~ 7 hari.
d. Selanjutnya benih diberi kutu air tanpa di saring
e. Setelah seminggu diberi kutu air, benih muali dicoba diberi cacing rambut.

4. PEMBESARAN
1) Setelah benih memakan cacing rambut, perlu dilakukan penjarangan di
aquarium yang lebih besar

Hal. 2/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Pada 1,5 bulan dapat ditebar sebanyak + 1.000 ekor benih pada bak tembok
berukuran (1,5 x 2) meter persegi dengan tinggi air 15 s.d. 20 cm

3) Selanjutnya penjarangan dilakukan 2 minggu sekali dengan membagi dua,


sehingga tiap kolam diisi 100 ekor

4) Pada keadaan terbatas kepadatan lebih dari 100 ekor, asal ketinggian air
ditambah serta diberi pompa udara

5) Pembersihan kotoran dilakukan setiap hari dengan menyiphon dan air


sebagaimana semula.

5. PENUTUP
1) Karena bentuk dan warnanya yang menarik, serta gerakan yang tenang,
sehingga minat masyarakat terhadap ikan manfish (Angle Fish) cukup besar)

2) Harga ikan Manfish pun cukup tinggi, sehingga pembudidayaannya dapat


dijadikan sebagai usaha sambilan yang dapat menambah penghasilan
keluarga.

6. SUMBER
Dinas Perikanan, DKI Jakarta, Jakarta.

7. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan, DKI Jakarta, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 3/ 3
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMELIHARAAN IKAN
DENGAN SISTEM MINA PADI

1. PENDAHULUAN
Tujuan Pembangunan Nasional diantaranya adalah meningkatkan pendapatan
petani. Salah satu caranya ialah dengan meningkatkan efisiensi penggunaan
lahan, seperti dengan menerapkan teknologi mina padi pada lahan
persawahan.

Sistem pemeliharaan mina padi adalah ikan dipelihara bersama 30 hari dan
benih ikan mencapai ukuran 30-40 ekor/kg dari waktu tanamn hingga
penyiangan pertama atau kedua.

2. TUJUAN
Tujuan sistim mina padi adalah untuk:
1) Mendukung peningkatan produksivitas lahan.
2) Meningkatan pendapatan petani.
3) Meningkatan kualitas makanan bagi penduduk pedesaan.

3. PERSYARATAN
1) Petakan sawah mempunyai pematang keliling yang kuat, dapat menahan air
dan tidak bocor. Lebar pematang 30-50 cm dan tingginya 40-50 cm.

2) Saluran pemasukan dan pengeluaran dilengkapidengan saringan (kawat,


bambu dan lainnya).

3) Bentuk parit atau kemalir dan lebarnya disesuaikan dengan luas petakan
sawah, yaitu 2-3 %. Dalam kemalir adalah 20-30 cm. Berbagai bentuk
kemalir adalah sebagai berikut:

Hal. 1/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 1. Bentuk Kemalir

4) Penanaman padi aturannya disesuaikan dengan ketentuan 10 (sepuluh)


unsur paket teknologi, yaitu:

a. Pengelolaan tanah meliputi: penggenangan, perbaikan pematang,


pembabadan jerami, pembajakan dan pencangkulan serta pemerataan
permukaan tanah.
b. Tataguna air yang sesuai dengan jumlah dan waktu kebutuhan tanaman
dan diatur secara bergiliran.
c. Menggunakan benih berlabel biru dan memilih yang tahan terhadap
genangan.
d. Pemupukan berimbang, dimana dosis per hektar adalah UREA (200 kg),
TSP (100 kg), KCL (75 kg), dan ZA(100 kg).
e. Pengendalian hama secara terpadu tanpa membahayakan bagi
kehidupan ikan.
f. Pengaturan jarak tanam, pada musim hujan adalah 30 x 15 cm dan 22 x
22 cm untuk musim kemarau. Tiap rumpun padi terdiri dari 3 batang.
g. Pengaturan pola tanam bertujuan untuk memotong siklus hidup hama.
h. Pergiliran varietas padi yang ditanam.
i. Penen dan pascapanen yang meliputi waktu panen, cara panen,
perontokan, pembersihan, pengeringan dan penyimpanan.
j. Penggunaan pupuk pelengkap cair atau zat pengatur tumbuh.

5) Penanaman ikan.

a. Jenis ikan yang paling umum dipelihara adalah ikan mas.


b. Penebaran ikan dilakukan lebih kurang 4 hari setelah penanaman padi.

Hal. 2/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Padat penebaran ikan adalah :


- ukuran (2-3) cm sebanyak 2-3 ekor/m2,
- ukuran (3-5) cm sebanyak 1-2 ekor/m2.
d. Pemberian makanan tambahan dapat berupa dedak sebanyak 2-4
kg/ha/hari.

4. PRODUKSI
Produksi ikan yang dapat dicapai setelah 30-40 hari pada masa pemeliharaan
adalah:
1) Benih (2-3) cm dengan derajat kelangsungan hidup (RS) 50-65 % ukuran
yang dicapai (3-5) cm.
2) Benih (3-5) cm, SR nya 60-70 % dan ukuran yang dicapai (5-8) cm.

5. HASIL PENANAMAN IKAN


Keuntungan yang diperoleh berasal dari penanaman padi dan juga dari
penanaman ikan. Keuntungan yang dilakukansatu kali musim tanam padi per
ha adalah sebagai berikut:

1) Biaya pengeluaran
a. Benih ikan 6 pinggan @ Rp. 4000,- Rp. 24.000,-
b. Pakan dedak 100 kg @ Rp. 125,- Rp. 12.500,-
Jumlah Rp. 36.500,-

2) Pendapatan
a. Produksi ikan 70 kg @ Rp. Rp. 2000,- Rp. 140.000,-

3) Keuntungan bersih Rp. 103.500,-

Keterangan:
1 pinggan = 3000 ekor
1 kg = 166 ekor (ukuran (3-5) cm dengan SR 65 %.

6. SUMBER
Brosur Pemeliharaan Ikan dengan Sistem Mina Padi, Departemen Pertanian,
Direktorat Jenderal Perikanan, Balai Budidaya Air Tawar, Sukabumi- Indonesia,
1995

Hal. 3/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7. KONTAK HUBUNGAN
Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perikanan, Balai Budidaya Air
Tawar, Jl. Salabintana No. 17 Kotak pos 67, Sukabumi 43101, Tel. 0266 81211,
81240.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 4/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA IKAN HIAS OSCAR


(Astronatus Ocellatus)

1. PENDAHULUAN
Ikan Oscar merupakan jenis ikan air tawar yang berasal dari sungai Amazone,
Panama, Rio-Paraguay dan Tio-Negro Amerika Selatan, serta sudapat
dikembang-biakan di Indonesia.

Ikan Oscar mempunyai bentuk dan warna yang menarik. Warna badannya
kehitam-hitaman dengan batikan berwarna kuning kemerah-merahan. Tidak
seperti ikan hias lain, ikan oscar memerlukan perlakuan sedikit khusus pada
cara perkembangbiakannya, sehingga ikan Oscar ini termasuk ikan yang
mahal.

II. PEMIJAHAN
1) Pemilihan Induk

a. Induk yang baik untuk dipijahkan sudah berumur 1,5 tahun sampai 2
tahun dengan panjang badan 15 cm dan tinggi badan 10 cm serta
berwarna cerah.

b. Seleksi induk dimulai saat ikan Oscar masih remaja (5 ~ 6 bulan), dengan
cara mencampurkan 5 ekor jantan dan 5 ekor betina. Ikan Oscar remaja
ini akan mencari pasangannya sendiri-sendiri. Setelah saling berpasangan
maka kita pisahkan di bak tersendiri sampai menjadi induk.

2) Perbedaan Induk Jantan dan Betina

Induk Jantan Induk Betina

- panjang badan relatif lebih - induk yang telah matang


panjang perutnya gendut
- alat kelamin lebih menonjol - lubang kelamin lebih besar

3) Cara Pemijahan

a. Bak perkawinan terbuat dari semen yang berukuran 1 1/2 x 1 x 0,5m3, diisi
air yang telah diendapkan selama 12 ~ 24 jam setinggi 30 ~ 40 cm.

Hal. 1/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

b. Jika bak perkawinannya luas, dapat disekat.

c. Sepasang induk Oscar yang telah matang telur dimasukkan ke dalam bak.

d. Pada setiap kolom diberi batu ceper yang berwarna gelap dan di atasnya
ditutup sebagian besar agar suasana kolom menjadi teduh.

e. Oscar mengadakan pemijahan siang dan sore hari langsung dibuahi oleh
pejantan.

f. Telur yang berada di atas batu ceper tersebut yang telah dibuahi
diangakat dimasukkan ke dalam aquarium untuk ditetaskan. Aquarium
berukuran 70 x 40 x 40 cm3 diisi air setinggi 10 cm, untuk telur sepasang
induk.

g. Ke dalam aquarium diberi udara (aerasi) dengan kekuatan lemah.

h. Selesai 3 hari biasanya telur-telur mulai menetas.

i. Air diberi campuran emalin atau methylene blue.

3. PEMELIHARAAN BENIH
1) Benih ikan ini sampai berumur 4 hari belum perlu diberi makan, karena
masih mempunyai persediaan makanan pada yolk sacknya (kuning telur).

2) Pada hari ke 5 benih diberi makanan Rotifera. Pemberian makanan ini tidak
boleh terlambat karena ikan Oscar bersifat kanibal (memangsa sesamanya).

3) Pada hari ke 10 sudah bisa diberi kutu ari yang telah disaring.

4) Setelah berumur 2 minggu benih mulai diberi kutu air tanpa disaring dan
mulai dicoba cacing rambut.

5) Benih sudah dapat dipindahkan ke bak/kolam yang lebih luas setelah


berumur 25 hari.

4. PEMBESARAN
1) Pembesaran ikan dilakukan setelah benih berumur 25 hari.

2) Benih yang dihasilkan kira-kira 1000 s/d 3000 ekor untuk satu kali
penetasan.

Hal. 2/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Bak yang digunakan berukuran 2 x 1 x 1 m3, dan diisi air setinggi 20 - 25 cm.

4) Untuk pertama kali pembesaran dapat ditebar kurang lebih 300 ekor ikan.

5) Untuk mengurangi teriknya matahari pada siang hari, di dalam bak diberi
tanaman air seperti eceng gondok dan Hidrilla Verticilata. Untuk mencegah
masuknya air hujan terlalu banyak, pada bagian atas bak ditutup sebagian
dengan seng plastik.

6) Penjerangan dilakukan setelah benih berada di bak selama sebulan dengan


jumlah menjadi 200 ekor

7) Makanan yang diberikan berupa cacng rambut.

8) Setelah ikan berumur 5 ~ 6 bulan, ikan sudah dapat diseleksi untuk dijadikan
induk, makanan yang diberikan diganti dengan udang kali yang masih
segar/hidup, bisa juga diberi udang rebon yang masih segar.

9) Sepasang induk dapat menghasilkan telur 1000 s/d 4000 butir untuk sekali
pemijahan.

5. PENUTUP
Untuk mendapatkan warna yang indah pada ikan Oscar, pemberian makanan
harus mengandung zat kapur (chitine) dimulai sejak kecil, seperti kutu air
(Moina), Rotifera, cacing rambut, Artemia, udang rebon atau udang kali.

Ikan Oscar mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi; untuk ikan yang
berumur 4 bulan (berukuran kurang lebih 6 cm) harganya Rp. 500,00 per ekor,
sedangkan induk Oscar bisa mencapai harga Rp. 50.000,00 per pasang.

Dengan menekuni cara pemeliharaan ikan Oscar ini, dapat menambah


penghasil keluarga.

6. SUMBER
Dinas Perikanan DKI Jakarta, 1996

Hal. 3/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

7. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan DKI Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 4/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN IKAN TAWES


(Puntius Javanicus. Blkr)

1. PENDAHULUAN
Penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah cukup dan kontinyu merupakan
faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan konsumsi.

Usaha pembenihan banyak dilakukan di Kabupaten Magelang, seperti di Desa


Paremono Kecamatan Mungkid oleh karena didukung ketersediaan air cukup
baik musim kemarau maupun penghujan. Disamping itu usaha pembenihan
dirasa lebih rnenguntungkan karena waktu yang digunakan relatif singkat
kurang lebih 3 minggu - 1 bulan, serta pemasarannya pun mudah.

Pembenihan ikan tawes ada beberapa cara yaitu pembenihan ikan di kolam,
pembenihan di sawah dan pembenihan di hapa. Pengalaman Pembenihan Ikan
Tawes di kolam yang dilakukan oleh MARZANI KTNA Paremono Mungkid
ternyata cukup menggembirakan.

1. PEMILIHAN INDUK
1) Untuk mendapatkan benih yang berkualitas dan jumlah yang banyak dalam
pembenihan Tawes perlu dipilih induk yang baik dengan ciri-ciri :
a. Letak lubang dubur terletak relatif lebih dekat ke pangkal ekor
b. Kepala relatif lebih kecil dan meruncing
c. Sisik-sisiknya besar dan teratur
d. Pangkal ekor lebar dan kokoh

2) Pada umumnya ikan tawes jantan mulai dipijahkan pada umur kurang lebih 1
tahun, dan induk tawes betina pada umur kurang lebih 1,5 tahun. Untuk
mengetahui bahwa induk ikan tawes telah matang kelamin dan siap untuk
dipijahkan dengan tanda-tanda sebagai berikut :
a. Induk betina
- Perutnya mengembang kearah genetal (pelepasan) bila diraba lebih
lembek
- Lubang dubur berwarna agak kemerah-merahan
- Tutup insang bila diraba lebih licin
- Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan kehitam-
hitaman.
b. lnduk jantan
- Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan berwarna
keputih-putihan (sperma)
- Tutup insang bila diraba terasa kasar

Hal. 1/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2. PERSIAPAN KOLAM
1) Kolam pemijahan ikan tawes sekaligus merupakan kolam penetasan dan
kolam pendederan. Sebelum dipergunakan untuk pemijahan, kolam
dikeringkan.

2) Perbaikan pematang dan dasar kolam dibuat saluran memanjang


(caren/kamalir) dari pemasukan air kearah pengeluaran air dengan lebar 40
cm dan dalamnya 20-30 cm.

3. PELEPASAN INDUK
1) Induk ikan tawes yang telah terpilih untuk dipijahkan kemudian diberok,
pemberokan dengan penempatan induk jantan dan betina secara terpisah
selama 4-5 hari

2) Setelah diberok kemudian induk ikan dimasukkan ke kolam pemijahan yang


telah dipersiapkan

3) Pemasukan induk ke kolam pada saat air mencapai kurang lebih 20 cm

4) Jumlah induk yang dilepas induk betina 25 ekor dan induk jantan 50 ekor

5) Pada sore hari kurang lebih pukul 16.00 air yang masuk ke kolam diperbesar
sehingga aliran air lebih deras.

6) Biasanya induk ikan tawes memijah pada pukul 19.00-22.00

7) Induk yang akan memijah biasanya pada siang hari sudah mulai berkejar-
kejaran di sekitar tempat pemasukan air.

4. PENETASAN TELUR
1) Setelah induk ikan tawes bertelur, air yang masuk ke kolam diperkecil agar
telur-telur tidak terbawa arus, penetasan dilakukan di kolam pemijahan juga

2) Pagi hari diperiksa bila ada telur-telur yang rnenumpuk di sekitar kolam atau
bagian lahan yang dangkal disebarkan dengan mengayun-ayunkan sapu lidi
di dasar kolam

3) Telur ikan tawes biasanya menetas semua setelah 2-3 hari

4) Dari ikan hasil penetasan dipelihara di kolam tersebut selama kurang lebih
21 hari.

Hal. 2/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5. PEMUNGUTAN HASIL BENIH IKAN


1) Panen dilakukan pada pagi hari

2) Menyurutkan/mengeringkan kolam

3) Setelah benih berada dikamalir/dicaren, benih ditangkap dengan


menggunakan waring atau seser

4) Benih ditampung di hapa yang telah ditempatkan di saluran air mengalir


dengan aliran air tidak deras

5) Benih lersebut selanjutnya dipelihara lagi di kolam pendederan atau dijual.

6. PENDEDERAN
1) Mula-mula kolam dikeringkan selama 2-3 hari

2) Perbaikan pematang, pembuatan caren/saluran

3) Dasar kolam diolah dicangkul, kemudian dipupuk dengan Urea & SP 36 1 0


gr/m2 dan pupuk kandang 1 - 1,5 kg/m2 tergantung kesuburannya.

4) Setelah kolam dipupuk kemudian diairi setinggi 2-3 cm dan dibiarkan 2-3 hari
kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman 50 cm

5) Kemudian benih ditebar di kolam pendederan dengan padat tebar 10-20


ekor/m2

6) Pemeliharaan dilakukan kurang lebih 3 minggu - 1 bulan.

7) Selanjutnya dapat dipanen dan hasil benih dapat dijual atau ditebar lagi di
kolam pendederan II.

7. SUMBER
Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang; Departemen Pertanian,
http://www.deptan.go.id, Maret 2001

Hal. 3/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

8. KONTAK HUBUNGAN
1) Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang; Jln. Sendangsono, KM. 0,5
Progowati Mungkid Magelang, 56511; Tel. (0293) 789455; Fax.(0293)
789455; bipp@magelang.wasantara.net.id

2) Departemen Pertanian RI, Kantor Pusat Departemen Pertanian - Jalan


Harsono RM No. 3, Ragunan - Pasar Minggu, Jakarta 12550 - Indonesia

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 4/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

SAPONIN UNTUK PEMBASMI HAMA UDANG

1. PENDAHULUAN
Saponin adalah glikosida, yaitu metabolit sekunder yang banyak terdapat di
alam, terdiri dari gugus gula yang berikatan dengan aglikon atau sapogenin.
Senyawa ini bersifat racun bagi binatang berdarah dingin. Oleh karena itu
dapat digunakan untuk pembasmi hama tertentu.

Dengan berkembangnya tambak udang di Indonesia, saponin biji teh


menunjukan peranannya yang cukup penting sebagai pembasmi hama udang.
Kandungan sapotin pada biji the adalah 20 % (crude).

2. SIFAT-SIFAT SAPONIN
1) Berasa pahit.
2) Berbusa dalam air.
3) Mempunyai sifat detergen yang baik.
4) Beracun bagi binatang berdarah dingin.
5) Mempunyai aktivitas haemolisis, merusak sel darah merah.
6) Tidak beracun bagi binatang berdarah panas.
7) Mempunyai sifat anti eksudatif.
8) Mempunyai sifat anti inflamatori
9) Mempunyai aplikasi yang baik dalam preparasi film fotografi.

3. PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI
Berdasarkan sifat-sifat tersebut, senyawa saponin mempunyai kegunaan yang
sangat luas, antara lain:
1) Pembasmi hama udang.
2) Sebagai detergen pada industri tekstil.
3) Pembentuk busa pada alat pemadam kebakaran.
4) Pembentuk busa pada sampo.
5) Dalam industri farmasi.
6) Dalam fotografi.

4. SUMBER
Brosur Saponin untuk Pembasmi Hama Udang, Pusat Penelitian Perkebunan
Gambung, Bandung, 1990.

Hal. 1/ 2
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 1. Pemanfaatan Biji The

5. KONTAK HUBUNGAN
Pusat Penelitian Perkebunan Gambung, Kotak Pos 148, Bandung 40001.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 2/ 2
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

PEMBENIHAN TERIPANG PUTIH


(Holothuria scabra)

1. PENDAHULUAN
Teripang atau juga disebut suaal, merupakan salah satu jenis komoditi laut
yang bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai prospek yang baik dipasaran
domestik maupun internasional. Budidaya teripang telah lama dilakukan oleh
masyarakat kita khususnya di daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara
(Kolaka), Lampung dan Riau, benih yang dibudidayakan masih berasal dari
alam.

Dengan semakin banyaknya permintaan akan teripang, maka benih sebagai


sumber produksi akan sulit dipenuhi dari alam serta penyediaannya tidak dapat
kontinyu.

Upaya dalam mengatasi penyediaan benih adalah dengan usaha memijahkan


teripang sehingga kebutuhan akan benih dapat tercukupi.

Pada tahun 1992 Balai Budidaya Laut Lampung telah berhasil melaksanakan
pemijahan teripang putih (Holothuria scabra). Teripang terdiri dari 5 jenis
teripang putih (Holothuria scabrai) merupakan jenis yang bernilai komersial.

2. METODA PEMBENIHAN TERIPANG


1) Sarana Pembenihan

Sarana yang diperlukan untuk pembenihan teripang terdiri dari beberapa


buah bak sebagai tempat penampungan induk pemeliharaan larva, kultur
larva dan kultur plankton. Bak-bak ini sebaiknya dibuat dengan beton, namun
demikian dapat pula dibuat dari kayu yang dilapisi plastik. Beberapa sarana
lain yang diperlukan adalah sebagai berikut.

Hal. 1/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

a. Saringan pasir untuk menyaring air laut agar betul-betul bersih.


b. Bak penampungan air yang dilengakapi dengan saringan pasir. Ukuran
bak disesuaikan dengan kebutuhan air laut untuk penggantian air pada
seluruh unit pembenihan. Penempatan bak diatur supaya gravitasi bisa
menyalurkan air dari satu bak ke bak lainnya.
c. Pipa penyalur air yang dilengkapi dengan beberapa saringan berbagai
ukuran 1,5 - 2 mikron.
d. Bak penampungan induk dengan kapasitas 1,5 ton air berjumlah 2 atau 3
buah dengan kedalaman sekitar 50 cm.
e. Bak pemliharaan larva berjumlah 10 - 15 buah dengan ukuran (1 x 2 x
0,5)m3.
f. Bak pemeliharaan juvenil berjumlah 8 - 10 buah dengan ukuran (2 x 4 x
0,6)m3.
g. Bak plankton berjumlah 3 - 5 buah dengan ukuran ( 2 x 4 x 0,75)m3.

2) Pemeliharaan dan Seleksi Induk

Induk teripang yang akan digunakan biasanya diperoleh dari tangkapan


alam. Pengumpulan calon induk teripang dari laut dapat dilakukan dengan
penyelaman pada siang hari. Apabila dilakukan pada malam hari, harus
dibantu dengan alat penerang berupa obor atau lampu patromak. Dengan
cara ini, induk teripang dapat diambil langsung dengan tangan. Pada
perairan yang agak dalam, induk teripang dapat diambil dari atas perahu
dengan bantuan alat semacam tombak bermata dua yang tumpul.

Gambar 1. Skema Hatchery (Panti Benih)

Hal. 2/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Keterangan gambar 1:

A. Saringan pasir
B. Bak penampungan air (volume 1 ton).
C. Pipa penyuplai air.
D. Saringan bertingkat.
E. Bak induk (volume 3 ton).
F. Bak pemijahan (volume 1,5 ton).
G. Bak pemeliharaan larva.
H. Bak pemeliharaan juvenil.
I. Bak plankton.

Gambar 2. Alat Penangkap Induk Teripang

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih induk teripang yang baik
adalah:
a. Tubuh tidak cacat.
b. Ukuran besar dengan berat 400 gr dan panjang tubuh minimal 20 cm.
c. Berkulit tebal.

Umumnya berat tubuh teripang berpengaruh langsung atau berkolerasi


terhadap berat gonad dan indeks kematangan gonad serta fekunditas.
Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan dengan
wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung ditempatkan
pada palka perahu. Untuk pengumpulan/pengankutan calon induk pada
siang hari sebaliknya wadah penampungan atau palka ditutup rumput laut
atau ilalang laut untuk menghindarkan calon induk dari sinar matahari secara
langsung. Pengangkutan induk dari tempat pengumpulan dapat dilakukan
dengan wadah, seperti ember plastik yang berisi air laut atau langsung
ditempatkan pada palka perahu.

Induk yang telah di seleksi dipelihara dalam kurungan tancap di laut atau di
kolam air laut atau langsung dipelihara di dalam bak induk dengan
kepadatan 5 - 10 ekor/m2. Bak induk umumnya terbuat dari beton berbentuk
empat persegi panjang dan berkapasitas 1,5 - 2 ton air.

Hal. 3/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Khusus untuk pemeliharaan di kolam air laut, kedalaman diusahakan antara


75 - 100 cm, selain itu diusahakan selalu ada penggantian air agar stabilitas
suhu dan salinitas tetap terjaga. Persediaan pakan juga harus terjamin dan
perlu adanya pakan tambahan.

Pakan alami teripang dapat berupa plankton, detritus, sisa-sisa bahan


organik atau sisa-sisa endapan di dasar laut yang ada disekitar lingkungan
kolam pemeliharaan. Pakan tambahan berfungsi untuk menambah
kesuburan perairan pada umumnya berupa campuran kotoran hewan dan
dedak halus dengan perbandingan 1 : 1. Pakan diberikan sebanyak 0,2 - 0,5
kg/m2/2 minggu dengan cara ditempatkan dalam karung goni yang
berlubang-lubang sehingga keluar sedikit demi sedikit. Setiap satu kantong
goni biasanya dapat diisi 10 - 15 kg pakan tambahan yang dapat mencukupi
luasan 30 - 50 kg pakan tambahan yang dapat mencukupi luasan 30 - 50 m2.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan induk di
bak pemijahan adalah sebagai berikut:
a. Kualitas air tetap terjaga, bila perlu dilakukan penggantian air setengah
atau sepertiga dari volume, sehari dua kali, pagi dan sore.
b. Kotoran yang ada di dalam bak harus segera dibersihkan.
c. Pakan tambahan diberikan secukupnya
d. Kebiasaan atau kesukaan induk harus dipantau secara kontinyu.

3) Metoda Pemijahan

Pemijahan teripang dapat dilakukan dengan beberapa cara; secara alami


dengan pembedahan, perangsangan dengan temperatur dan perangsangan
dengan penyemprotan air.

a. Pemijahan alami

Setelah mengalami matang gonad penuh, induk teripang yang dipelihara


di bak pemijahan biasanya akan memijah secara alami tanpa adanya
rangsangan buatan. Pemijahan akan terjadi pada malam hari antara pukul
22.00 - 23.00.

Induk jantan akan mengeluarkan sperma terlebih dahulu yang akan


merangsang induk betina untuk mengeluarkan telur. Kurun waktu
pemijahan biasanya berlangsung antara 20 - 60 menit. Setelah induk
betina selesai bertelur, segera induk dipindahkan ke tempat lain.

b. Pemijahan dengan Pembedahan

Metode pembedahan dapat dilakukan dengan cara menggunting bagian


bawah teripang mulai dari anus hingga kedepan. Dalam pembelahan

Hal. 4/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

gonad ini apabila didapatkan kantong telur, berarti teripang tersebut


jantan. Gonad jantan (tesis) juga dipotong menjadi beberapa bagian
sehingga sperma keluar dan ditampung di dalam wadah lain yang berisi
air laut. Kemudian secara pelan-pelan wadah yang berisi sperma
dituangkan kedalam wadah yang berisi telur sambil diaduk secara
perlahan, lalu didiamkan. Sehingga terjaddi pembuahan. Telur yang
terbuahi akan mengendap didasar bak selanjutnya dipanen dengan
saringan dan dipindahkan ketempat pemeliharaan larva.

c. Perangsangan dengan Temperatur

Prinsip pemijahan dengan perangsangan temperatur ini adalah


mengupayakan agar temperatur air naik 3 - 5 0C dari temperatur air asal,
dalam waktu selama + 30 - 60 menit suhu air dinaikkan dengan cara
penambahan air panas atau menggunakan alat pemanas (heater) atau
dijemur terik matahari.

Induk teripang ditempatkan didalam keranjang plastik yang diletakkan


beberapa sentimeter di bawah permukaan air. Perlakuan ini dilakukan
pada siang hari. Pada sore harinya induk dimasukkan ke bak pemijahan
dan selanjutnya induk teripang akan memperlihatkan perilaku pemijahan
yang ditandai dengan tubuh menggeliat dan muncul dipermukaan sambil
bertumpu di dinding bak.

Induk jantan akan mengeluarkan sperma yang berwarna putih dan terlihat
seperti asap di dalam air, selanga waktu setengah hingga dua jam
berikutnya induk betina akan mengeluarkan telurnya.

Cara ini memberikan hasil lebih baik yakni denga tingkat penetasan
mencapai 90 - 95%.

d. Perangsangan dengan Penyemprotan Air

Setelah induk dipelihara selama 2 - 4 hari pada bak pemeliharaan, maka


induk diberikan perlakuan pada sore hari biasanya dimulai pada pukul
1700. Pertama-tama induk teripang yang akan dipijahkan dikeluarkan dari
bak dan diletakkan ditempat yang kering selama 0,5 - 1 jam.

Semprotan air laut yang bertekanan tinggi selama 5 - 10 menit, lalu induk
dimasukkan kembali kedalam bak pemijahan. Sekitar 1,5 - 2 jam
kemudian induk akan mulai menggerakkan badannya ke dinding.
Biasanya induk jantan akan memijah yang kemudian disusul induk-induk
betina 30 menit kemudian. Prosentase keberhasilan cara ini mencapai 95
- 100%.

Hal. 5/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

e. Pemeliharaan Larva

Telur-telur teripang berbentuk bulat berwarna putih bening berukuran 177


mikron, setelah fertilisasi telur-telur ini mengalami pembelahan sel menjadi
2 sel, 4 sel, 8 sel hingga multi sel.

Gambar 3. Perkembangan Embrio dan Larva Teripang

Keterangan gambar 3:
1. Pembelahan.
2. Pembelahan dari 8 sel dan 16 sel.
3. Banyak sel.
4. Tingkat blastula.
5. Tingkat grastula.
6. Auricularia.
7. Doliolaria.
8. Pentacula.

Ukuran rata-rata sel tersebut sekitar 194 mikron, selang 10 - 12 jam


kemudian akan membentuk stadium gastrula yang berukuran antara
390,50 - 402, 35 mikron. Setelah lebih dari 32 jam, telur akan menetas

Hal. 6/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

menjadi larva dan membentuk stadium auricularia yang terbagi menjadi


stadium awal, tengah dan akhir.

Ukuran larva teripang pada stadium ini rata-rata antara 812,50 - 987,10
mikron. Pada stadium ini larva mulai diberi plankton jenis Dunaliella sp,
Phaeodactylum sp, dan Chaeoceros sp sebanyak 40 - 60 x 103.

Selama stadium auricularia awal sampai menjelang stadium akhir, larva


lebih banyak hidup dipermukaan air. Kepadatan larva yang dikehendaki
selama stadium ini kira-kira 300 - 700 ekor per liter. Jika kepadatan terlalu
tinggi, larva akan bergerombol menjadi satu, berbentuk bola, dan berada
di dasar bak. Bila dibiarkan, larva ini akan mati. Sepuluh hari kemudian,
larva berkembang membentuk stadium doliolaria. Pada stadium ini larva
berbentuk lup, mempunyai sabuk dan dua tantakel yang menjulur ke luar.
Larva dengan ukuran antara 614,78 - 645,70 mikron ini dapat bergerak
cepat ke depan. Badan bagian belakang berbentuk cincin datar. Pada
setiap sudut terdapat lima kelompok cilia (bulu getar). Stadium auricularlia
dan doliolaria bersifat planktonis.

Selang tiga belas hari kemudian doliolaria berubah ke stadium


pentaculata. Larva berwarna coklat kekuningan dengan panjang antara
1000 - 1200 mikron. Badan berbentuk tubuler dengan lima buah tentakel
pada pangkal bagian depan dan sebuah kaki tabung pendek pada
pangkal belakang, kurang lebih delapan belas hari, kaki tabung dan
tentakel terlihat lebih jelas dan dapat bintil-bintil dipermukaan kulitnya.

Larva pada stadium pentacula mempunyai kebiasaan berada di pinggiran


bak bagian bawah dan sedikit menyukai di bawah permukaan air. Selintas
selama pemeliharaan diusahakan antara 32 - 34 per mil dan suhu antara
27 - 290C. Segera setelah larva berada di dasar laut, diberi makanan
berupa suspensi rumput laut jenis Sargassum dn Ulva.

4) Pemeliharaan Tingkat Juvenil

Saat mencapai tingkat doliolaria atau umur 10 - 12 hari dengan ukuran


panjang tubuh 4 - 5 mm, maka tempatkan kolektor (tempat untuk menempel)
yang berbentuk kisi-kisi miring terbuat dari screen net 250 mikron atau plastik
berukuran 60 x 60 x 70 cm, berfungsi sebagai tempat perlekatan.

Sebaiknya kolektor yang dipasang telah ditempeli diatome (lumut) sehingga


pada saat juvenil menempel, pakan yang dibutuhkan telah tersedia. Lima
belas hari setelah menempel pada kolektor, juvenil dapat dilihat dengan mata
dan dihitung. Kepadatan yang baik antara 5 - 10 ekor tiap kolektro, atau
kepadatan optimum dalam satu bak pemeliharaan adalah 200 - 500 ekor/m2.
Cara ini dilakukan terus menerus sampai benih tersebut berusia 1,5 - 2
bulan. Pada saat tersebut ukuran benih teripang telah mencapai ukuran
antara 1,5 - 2 cm.

Hal. 7/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3. SUMBER
Booklet Jenis-Jenis Komoditi Laut Ekonomis Penting pada Usaha Pembenihan,
Direktorat Bina Pembenihan, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta,
1996

4. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Bina Pembenihan, Dirjen Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 8/ 8
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA TIRAM

1. PENDAHULUAN
Tiram tersebar luas, beberapa jenis diantaranya telah berhasil dibudidayakan.
Mereka terdiri dari marga Ostrea yang berbentuk ceper dan marga Crassostrea
yang berbentuk seperti piala.

Di Malaysia sedikitnya ada dua jenis dari marga Crassostrea yaitu C. cucullatus
dan C. rivalaris.

2. CARA PEMBUDIDAYAAN
Dalam budidaya tiram terdapat dua kegiatan utama, yaitu:
1) Pengumpulan spat
2) Pembesaran

1) Pengumpulan spat

Sampai sekarang spat tiram masih diperoleh dari alam. Di Amerika Serikat
dan di Inggris sedang diadakan percobaan pemijahan tiram secara buatan di
Balai Pembenihan. Sarana yang digunakan untuk mengumpulkan spat tiram
dari alat yang disebut kolektor.

a. Pemilihan lokasi

Lokasi untuk menempatkan kolektor tentu saja harus di ladang-ladang


induk tiram, utamanya pada waktu induk-induk tiram itu sedang atau

Hal. 1/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

sehabis berpijah. Dicari lokasi yang terlindung agar kolektor-kolektornya


tidak rusak atau hanyut karena amukan angin atau gelombang.
Kedalaman pemasangan kolektor yang dapat ditempeli spat tiram sangat
bervariasi, mulai dari kolektor yang paling ideal adalah diperoleh dari
pengalaman.

b. Waktu pemasangan

Metoda pengumpulan apapun yang digunakan dalam budidaya tiram


sangat tergantung pada ketepatan waktu pemasangan kolektor. Saat
yang paling baik pemasangan kolektor sangat bervariasi, diantaranya
tergantung pada jenis, lokasi dan fluktuasi tahunan dari suhu, kadar
garam, pasang surut dan lain sebagainya.

Di Malaysia, tiram berpijah sepanjang tahun dengan puncak pada awal


musim hujan. Jumlah spat yang paling banyak diperoleh 2 ~ 3 minggu
setelah datangnya turun hujan yang tiba-tiba dan lebat, dan berakhir
beberapa hari kemudian. Sebaiknya pemasangan kolektor dilakukan
pada musim spat, agar tidak didahului menempelnya teritip, lumpur atau
kotoran lainnya.

Salah satu cara untuk mengetahui musim spat adalah dengan jalan
pengambilan contoh air dengan jaring plankton. Burayak tiram yang
berukuran panjang 0,25 ~ 0,50 mm dapat dikenali pada umbonya yang
miring (Gambar 1).

Gambar 1. Burayak Tiram Berukuran 0,25-0,50 mm.

Cara lainnya dapat juga dilakukan dengan jalan memeriksa induk-induk


tiram yang sedang hamil selama beberapa hari. Jika sebagian besar dari
mereka sudah kempis perutnya, maka berarti mereka sudah memijah dan
kolektor-kolektor bisa segera dipasangkan. Tetapi cara yang terakhir ini
masih diragukan kecermatannya, karena kerapkali para burayak mati atau
hanyut beberapa hari setelah pemijahan.

Hal. 2/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Metoda pengumpulan spat

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis kolektor adalah
bahwa kolektor tersebut dapat ditempeli spat sebanyak-banyaknya, murah
dan mudah penanganannya. Berikut ini diutarakan beberapa metoda
pengumpulan spat.

- Kolektor tancap
Salah satu cara pengumpulan spat yang paling bersahaja adalah
dengan jalan menancapkan bambu-bambu atau kayu-kayu (misalnya
kayu bakau atau nibung) di ladang tiram. Kolektor disusun sekerap
mungkin dan diatur berbanjar yang jarak antara banjarnya dapat dilalui
oleh perahu.

- Metoda rak
Sebagai kolektornya digunakan genteng atau asbes bergelombang
atau bilah kayu yang diter. Kolektor disisip-sisipkan pada rak.

Gambar 2. Kolektor Asbes Bergelombang dengan Metoda Rak

-. Kolektor gantung
Kolektor digantung pada rakit atau pada palang cagak silang.

* Metoda rakit
Rakit terbuat dari batang-batang bambu atau kayu dengan tong
plastik atau drum sebagai penyangganya.

Hal. 3/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 3. Rakit untuk Penggantungan Kolektor-kolektor

* Metoda palang cagak-silang


Bahan cagak terbuat dari dua batang bambu atau kayu yang
ditancapkan di dasar laut secara silang, kemudian dipasang palang
bambu atau kayu di antara kedua cagak-silang tersebut.

Gambar 4. Palang Cagak Silang untuk Penggantungan Kolektor-kolektor

Kolektor-kolektor bisa terbuat dari genting, asbes, bilah-bilah bambu


atau kayu, atau wadah telur ayam/itik bekas.

Untuk memudahkan menempelnya spat, maka sebaiknya kolektor-


kolektor dilapisi adonan kapur-pasir-semen. Dengan dilapisi adonan ini
utamanya kolektor yang terbuat dari wadah telur yang lembek dan
mudah hancur terendam air itu akan menjadi lebih kuat. Perbandingan
adonan adalah dua bagian pasir halus (ditapis dengan ayakan tembaga
nomor 16 bermata 1,003 mm), dua bagian semen dan satu bagian
kapur. Adonan diberi air secukupnya sampai kental seperti sup,
kemudian kolektor-kolektor dicelupkan ke dalamnya lalu dianginkan
sampai kering.

Hal. 4/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Pemasangan kolektor dari wadah telur diatur sebagai berikut :


beberapa lapis wadah telur dibungkus dalam jaring kemudian
digantungkan pada rakit atau pada palang cagak-silang dengan
kedalaman yang berbeda-beda untuk tidak berhimpitan dan dapat
ditempeli spat pada lapisan air yang berlainan.

Gambar 5. Kolektor dari Wadah Telur yang Dibungkus dalam Jaring

Bilah-bilah bambu atau kayu, lembaran asbes atau genting di buat


empat persegi dengan ukuran tertentu, kemudian diikat beruntun
dengan tali sisal, injuk, nylon atau dengan jenis tali lainnya.

Gambar 6. Kolektor Gantung yang Diikat dengan Tali

Hal. 5/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Pembesaran

Setelah spat-spat mencapai ukuran 20 mm atau lebih, mereka dilepas dari


kolektor, kemudian dipindahkan ke lokasi lain untuk dibesarkan. Di bawah ini
diutarakan beberapa metoda pembesaran.

a. Metoda cagak
Pada lazimnya metoda cagak ini digunakan di perairan yang dangkal.
Cagak yang terbuat dari batang-batang bambu atau kayu ditancap-
tancapkan di dasar laut. Spat-spat tiram melekat pada cagak-cagak
tersebut. Tiram-tiram yang sudah matang telur berangsur-angsur
dipindahkan untuk mencegah terlampau berdesakkan.

b. Metoda dulang
Dulang terbuat dari kawat ram tahan karat bermata 12,7 mm. Sebagai
kerangkanya terbuat dari kayu. Metoda dulang ini biasanya digunakan di
perairan yang dangkal dengan dasar pasir (Gambar 7).

Gambar 7. Metoda Dulang

c. Metoda rakit
Pada umumnya metoda rakit ini digunakan di perairan dengan kedalaman
5 meter ke atas pada waktu air surut. Lokasi perairan untuk metoda rakit
ini harus terlindung dari amukan angin dan gelombang. Spat-spat tiram
dimasukkan dalam sangkar jaring atau dulang plastik, kemudian
digantungkan pada rakit. Bentuk rakit sama dengan bentuk rakit untuk
pengumpulan spat.

3. HAMA
Beberapa musuh tiram diantaranya terdiri dari bintang laut, siput, beberapa
jenis cacing, kerang hijau, teritip dan lain sebagainya.

Hal. 6/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

1) Bintang Laut

Bintang laut dapat dikendalikan dengan jalan membuang atau menubanya.


Bintang-bintang laut dibuang dengan tongkat berujung runcing pada waktu
air sedang surut. Pada ladang budidaya yang dalam, bintang-bintang laut
dibuang dengan mengunakan sapu lawe. Sesuai dengan namanya, sapu
bintang laut ini terbuat dari lawe yang diikatkan secara berderet pada
sebatang kawat sepanjang 2 kaki (± 60 cm). Sapu ditarik secara perlahan di
dasar laut, kemudian bintang-bintang lautnya yang tersapu dinaikkan ke atas
(selang 10 menit) untuk dibuang atau dibunuh.

Gambar 8. Sapu Bintang Laut

Bintang laut dapat dibunuh dalam air panas atau dalam larutan garam pekat.
Bila bintang lautnya banyak dapat dimusnahkan dengan jalan menebarkan
kapur sebanyak ± 227 kg/are di dasar laut.

2) Siput Pengebor

Beberapa jenis siput, seperti jenis Thais sp dapat mengebor cangkang-


cangkang tiram sehingga tiram-tiramnya mati. Cara yang paling sederhana
untuk mencegah ganguan jenis siput ini adalah dengan jalan memilih ladang
budidaya yang bebas dari mereka.

Hal. 7/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Gambar 9. Siput Pengebor Jenis thais sp.

3) Cacing Lepuh

Cacing lepuh lumpur jenis Polydora sp. yang hidup pada bagian dalam
cangkang tiram dapat mengakibatkan lepuh-lepuh berwarna hitam pada
permukaan bagian dalam cangkang tiram. Cacing lepuh dapat dimusnahkan
dengan jalan merendam tiram-tiramnya dalam larutan garam pekat.

4) Kerang Hijau

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan saingan utama bagi tiram dalam hal
makanan dan tempat hidup. Karena ulah kerang hijau, mutu tiram menjadi
rendah dan bahkan membunuhnya. Oleh karena itu sebelum
pembudidayaan tiram dilakukan terlebih dahulu memusnahkan kerang-
kerang hijaunya.

5) Teritip

Teritip (Balanus sp.) sering mengotori cangkang tiram bagian luar.


Sebagaimana halnya dengan kerang hijau, teritipun merupakan saingan
berat bagi tiram dalam hal makanan dan tempat hidup, serta sangat
mengurangi produktivitas spat-spat tiram yang dapat melekat pada kolektor
karena sudah didahului oleh teritip.

Pengotoran kolektor tiram oleh teritip dapat ditanggulangi sampai pada


tingkat tertentu dengan jalan pengamatan burayak tiram dalam contoh-
contoh plankton untuk mengetahui musim puncak spatnya. Jika
pemasangan kolektor terlalu dini, maka dengan cepat sekali kolektor tersebut
dipenuhi oleh teritip. Bilamana memungkinkan sebaiknya memilih lokasi
budidaya tiram di daerah perairan yang populasi teritipnya tidak begitu padat.

6) Cacing Tabung

Jenis cacing ini (pomatoceros sp.) berbentuk tabung berkapur putih dan
hidup melekat pada cangkang tiram bagian luar, sehingga selain cangkang
tiramnya kotor, juga bersaing dalam perolehan makanan.

Hal. 8/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

4. PANEN
Tiram sudah dapat dipanen setelah mencapai ukuran 100 mm. Untuk
mencapai ukuran ini diperlukan waktu pemeliharaan selfma 12 ~ 18 bulan
semenjak masa pengumpulan spat. Atau apabila jeroan dagingnya sudah
berwarna putih susu yang mengandung glikogen.

Jika tiram-tiram itu untuk disimpan agak lama sebainya disejukkan pada suhu
10C atau 340F.

5. KESEHATAN MASYARAKAT
Salah satu masalah pada tiram ini adalah bahwa binatang ini mudah
terkontaminasi oleh bakteri, karena ternyata tiram tahan terhadap pencemaran
yang mengandung bakteri patogenis yang berasal dari buangan industri
maupun dari buangan rumah tangga. Oleh karena itu, sebaiknya usaha
budidaya tiram dilakukan di perairan yang masih belum tercemar.

Bakteri yang terdapat dalam tiram dapat dibasmi dengan jalan merebusnya
selama 2 ~ 3 menit. Jika tiram-tiram yang sudah terkena polusi hendak
dipasarkan hidup-hidup, bakterinya dapat dilenyapkan dengan cara merendam
tiram-tiramnya dalam air bersih bebas hama selama 2 ~ 4 hari. Tiram-tiram
dapat juga disuci hamakan dalam air bebas bakteri yang telah diperlakukan
dengan sinar ultra violet, khlorin atau ozon.

6. DAFTAR PUSTAKA
1) Galtsoff, P.S. (1964). The American Oyster. Fish. Bull. Fish Wildl. Serv.,
64. 480pp.

2) Medoof, J.C. (1961). Oyster Farming in the Maritimes. Fish. Res. Bd. Can.
Bull. No. 131.

3) Okada, H. (1963). Report on Oyster Culture Experiments in Malaysia (1960-


1963). Published by Bahagian Perikanan, Kementrian Pertanian dan
Pembangunan Luar Bandar.

7. SUMBER
Budidaya Tiram, Judul asli: Oyster Culture, oleh P.S. Choo, Fisheries Research
Institute Glugor, Penang, Malaysia. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia

Hal. 9/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

oleh Drs. T. Asikin - Direktorat Jenderal Perikanan bekerjasama dengan


International Development Research Centre, 1985.

8. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 10/ 10
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

KEADAAN BUDIDAYA TIRAM DI MALAYSIA


SAAT INI

1. KEADAAN BUDIDAYA
Lembaga Penelitian Perikanan Penang di Semenanjung Malaysia masih
sedang melakukan percobaan budidaya tiram dengan metoda rakit. Percobaan
ini terutama ditujukan pada budidaya tiram ceper (Ostrea folium) di Pulau
Langkawi, Kedah, dengan menggunakan jaring dan tali polietilena sebagai
kolektornya. Juga sedang dikembangkan oleh nelayan di Muar River, Johor,
budidaya Crassostrea belcheri dengan metoda budidaya di dasar dengan
cangkang-cangkang tiram sebagai kolektornya.

Beberapa masalah yang menghambat perkembangan budidaya tiram di


Semenanjung Malaysia adalah terjadinya pengendapan lumpur, pengotoran
oleh organisme lain dan pengsaan oleh bintang laut dan kepiting.

Di Serawak, percobaan budidaya tiram dilakukan oleh Departemen perikanan.


Metoda budidaya yang digunakan adalah :
a. Metoda rakit
b. Metoda tancap dan rak
c. Kombinasi metoda tancap, rak dengan metoda rakit.

Masalah utama yang mempengaruhi budidaya tiram di Serawak adalah :


a. Terbatasnya persediaan spat.
b. Sulitnya memperoleh lokasi budidaya yang cocok.

Hanya Crassostrea cuculata yang dapat mencapai ukuran rata-rata 45 mm


dalam setahunnya, sedangkan yang lainnya berukuran terlalu kecil bagi tujuan
budidaya. Walaupun Serawak memiliki hutan bakau luas di sepanjang garis
pantainya, tetapi sulit untuk memperoleh lokasi yang terlindung untuk kegiatan
budidaya. Disamping itu perbedaan pasang surutnya terlalu tinggi (5,5 meter)
sehingga tidak menguntungkan bagi usaha budidaya.

Di Sabah sedang diintrodusir teknik budidaya tiram dengan metoda rak, rakit
dan dulang. Salah satu masalah dalam pengembangan metoda budidaya
tersebut adalah tingginya biaya produksi. Kini tengah dilakukan penelitian agar
biaya produksi bisa lebih rendah sehingga usaha budidaya dapat
menguntungkan.

Hal. 1/ 2
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2. DAFTAR PUSTAKA
1) Davy, F.B. and Graham, M. (1982). Bivalve Culture in Asia and the Pacifik :
Proceedings of a workshop held in Singapore, 16-19 February 1982. Ottawa,
Ontario, IDRC, 90 p.

3. SUMBER
Judul asli : Oyster Culture, Oleh P.S. Choo, Fisheries Research Institute
Glugor, Penang, Malaysia. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Drs.
T. Asikin - Direktorat Jenderal Perikanan bekerjasama dengan International
Development Research Centre.

4. KONTAK HUBUNGAN
Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian

Jakarta, Maret 2001

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 2/ 2
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA TIRAM MUTIARA

1. PENDAHULUAN
Mutira semula hanya diperoleh dari tiram mutiara yang hidup alami di laut.
Berkat kemajuan teknologi saat ini, mutiara sudah dapat dibudidayakan,
walaupun sebagian besar teknologinya masih didominasi atau dikuasai oleh
bangsa lain.

Balai Budidaya Laut, Lampung selalu berupaya untuk mengejar ketinggalan


teknologi budidaya mutiara tersebut, karena menyadari betapa besar potensi
mutiara di negara kita. Keberhasilan Balai Budidaya Laut membudidayakan
mutiara merupakan langkah baru yang menunjukan bahwa teknologi itu dapat
dilakukan oleh bangsa Indonesia.

Di negara kita tiram mutiara yang banyak dibudidayakan adalah jenis Pinctada
maxima (Goldlip Pearl Oyster). Jenis ini banyak ditemukan di perairan
Indonesia Bagian Timur (Maluku, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara
Barat).

2. PEMILIHAN LOKASI
1) Lokasi terlindung dari angin dan gelombang yang besar.
2) Perairan subur, kaya akan makanan alami.
3) Kecerahan cukup tinggi.
4) Cukup tersedia induk/benih tiram mutiara.
5) Dasar perairan pasir karang dan kedalaman air 15 ~ 25 m.
6) Kadar garam 30 ~ 34 ppt dan suhu 25 ~ 280C.
7) Bebas pencemaran.

Hal. 1/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3. PEMASANGAN INTI
1) Pemasangan inti mutiara bulat
- Tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya ditempatkan dalam
penjepit dengan posisi bagian anterior menghadap ke pemasang inti.
- Inti mutiara bulat dibuat dari cangkang kerang air tawar dengan diameter
bervariasi antara 6 ~ 12 mm.
- Setelah posisi organ bagian dalam terlihat jelas, dibuat sayatan mulai dari
pangkal kaki menuju gonad dengan hati-hati.
- Dengan graft carrier masukkan graft tissue (potongan mantel) ke dalam
torehan yang dibuat.
- Masukkan inti dengan nucleus carrier secara hati-hati sejalur dengan
masuknya mantel. Penempatannya harus bersinggungan dengan mantel.
- Pemasangan inti selesai, tiram mutiara dipelihara dalam keranjang
pemeliharaan.

2) Pemasangan inti mutiara setengah bulat (blister)


- Tiram mutiara yang telah terbuka cangkangnya diletakkan dalam penjepit
dengan posisi bagian ventral menghadap arah pemasang inti.
- Inti mutiara blister bentuknya setengah bundar, jantung atau tetes air;
terbuat dari bahan plastik. Diameter inti mutiara blister berkisar 1 ~ 2 cm.
- Sibakkan mantel yang menutupi cangkang dengan spatula, sehingga
cangkang bagian dalam (nacre) terlihat jelas.

1. Gonad
2. Hati
3. Perut
4. Kaki
5. Inti
6. Mantel
7. Otot adductor
8. Otot retractor

Gambar 1. Pemasangan Inti Mutiara Bulat

Hal. 2/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Tempatkan inti mutiara blister yang telah diberi lem/perekat dengan alat
blister carrier pada posisi yang dikehendaki; minimal 3 mm di atas otot
adducator.
- Setelah cangkang bagian atas telah diisi inti mutiara blister, kemudian
tiram mutiara dibalik untuk pemasangan inti cangkang yang satunya.
Diusahakan pemasangan inti ini tidak saling bersinggungan bila cangkang
menutup. Satu ekor tiram mutiara dapat dipasangi inti mutiara blister
sebanyak 8 ~ 12 buah, dimana setiap belahan cangkang dipasangi 4 ~ 6
buah.
- Pemasangan inti mutiara blister selesai, tiram mutiara dipelihara dalam
keranjang pemeliharaan di laut.

4. PEMELIHARAAN
1) Tiram mutiara yang dipasangi inti mutiara bulat perlu dilakukan pengaturan
posisi pada waktu awal pemeliharaan, agar inti tidak dimuntahkan keluar.
Disamping itu tempat dimasukkan inti pada saat operasi harus tetap berada
dibagian atas.

2) Pemeriksaan inti dengan sinar-X dilakukan setelah tiram mutiara dipelihara


selama 2 ~ 3 bulan, dengan maksud untuk mengetahui apabila inti yang
dipasang dimuntahkan atau tetap pada tempatnya.

3) Pembersihan cangkang tiram mutiara dan keranjang pemeliharaannya harus


dilakukan secara berkala; tergantung dari kecepatan/kelimpahan organisme
penempel.

Gambar 2. Pemasangan Inti Mutiara Blister

Hal. 3/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5. PANEN
Mutiara bulat dapat dipanen setelah dipelihara 1,5 ~ 2,5 tahun sejak
pemasangan inti, sedangkan mutiara blister dapat dipanen setelah 9 ~ 12
bulan.

6. SUMBER
Brosur Budidaya Tiram Mutiara, Balai Budidaya Laut, Direktorat Jendral
Perikanan, Departemen Pertanian, Lampung.

7. KONTAK HUBUNGAN
Balai Budidaya Laut, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian,
Lampung

Jakarta, Maret 2000

Disadur oleh : Tarwiyah

KEMBALI KE MENU

Hal. 4/ 4
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

BUDIDAYA UDANG WINDU


( Palaemonidae / Penaeidae )

1. SEJARAH SINGKAT
Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13
(5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar
yang disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran
sebagian besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri
dari udang air tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat
pantai. Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga
Palaemonidae, sehingga para ahli sering menyebutnya sebagai kelompok
udang palaemonid. Udang laut, terutama dari keluarga Penaeidae, yang bisa
disebut udang penaeid oleh para ahli.

Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang
bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas.
Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata-rata naik 11,5% per tahun.
Walaupun masih banyak kendala, namun hingga saat ini negara produsen
udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan.

2. SENTRA PERIKANAN
Daerah penyebaran benih udang windu antara lain: Sulawesi Selatan
(Jeneponto, Tamanroya, Nassara, Suppa), Jawa Tengah (Sluke, Lasem), dan

Hal. 1/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Jawa Timur (Banyuwangi, Situbondo, Tuban, Bangkalan, dan Sumenep), Aceh,


Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan lain-lain.

3. JENIS
Klasifikasi udang adalah sebagai berikut:
Klas : Crustacea (binatang berkulit keras)
Sub-klas : Malacostraca (udang-udangan tingkat tinggi)
Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda (binatang berkaki sepuluh)
Sub-ordo : Natantia (kaki digunakan untuk berenang)
Famili : Palaemonidae, Penaeidae

4. MANFAAT
!) Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi, yaitu
21%, dan rendah kolesterol, karena kandungan lemaknya hanya 0,2%.
Kandungan vitaminnya dalam 100 gram bahan adalah vitamin A 60 SI/100;
dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah
zat kapur dan fosfor, masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram
bahan.
2) Udang dapat diolah dengan beberapa cara, seperti beku, kering, kaleng,
terasi, krupuk, dll.
3) Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala)
dapat dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.
4) Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang,
sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
5) Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju
sudah dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi,
tekstil, kertas, pangan, dll.
6) Chitosan yang terdapat dalam kepala udang dapat dimanfaatkan dalam
industri kain, karena tahan api dan dapat menambah kekuatan zat pewarna
dengan sifatnya yang tidak mudah larut dalam air.

5. PERSYARATAN LOKASI
1) Lokasi yang cocok untuk tambak udang adalah pada daerah sepanjang
pantai (beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28
derajat C.
2) Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat
berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah
dipadatkan dan tidak pecah-pecah.

Hal. 2/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

3) Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir,
dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak boleh porous
(ngrokos).
4) Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar
tergantung jenis udang yang dipelihara. Daerah yang paling cocok untuk
pertambakan adalah daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 2-3
meter.
5) Parameter fisik: suhu/temperatur=26-30 derajat C; kadar garam/salinitas=0-
35 permil dan optimal=10-30 permil; kecerahan air=25-30 cm (diukur dengan
secchi disk)
6) Parameter kimia: pH=7,5-8,5; DO=4-8 mg/liter; Amonia (NH3) < 0,1 mg/liter;
H2S< 0,1 mg/liter; Nitrat (NO3-)=200 mg/liter; Nitrit (NO3-)=0,5 mg/liter;
Mercuri (Hg)=0-0,002 mg/liter; Tembaga (Cu)=0-0,02 mg/liter; Seng (Zn)=0-
0,02 mg/liter; Krom Heksavalen (Cr)=0-0,05 mg/liter; Kadmiun (Cd)=0-0,01
mg/liter; Timbal (Pb)=0-0,03 mg/liter; Arsen (Ar)=0-1 mg/liter; Selenium
(Se)=0-0,05 mg/liter; Sianida (CN)=0-0,02 mg/liter; Sulfida (S)=0-0,002
mg/liter; Flourida (F)=0-1,5 mg/liter; dan Klorin bebas (Cl2)=0-0,003 mg/liter

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

Syarat konstruksi tambak:


1) Tahan terhadap damparan ombak besar, angin kencang dan banjir. Jarak
minimum pertambakan dari pantai adalah 50 meter atau minimum 50 meter
dari bantara sungai.
2) Lingkungan tambak beserta airnya harus cukup baik untuk kehidupan udang
sehingga dapat tumbuh normal sejak ditebarkan sampai dipanen.
2) Tanggul harus padat dan kuat tidak bocor atau merembes serta tahan
terhadap erosi air.
3) Desain tambak harus sesuai dan mudah untuk operasi sehari-hari, sehingga
menghemat tenaga.
4) Sesuai dengan daya dukung lahan yang tersedia.
5) Menjaga kebersihan dan kesehatan hasil produksinya.
6) Saluran pemasuk air terpisah dengan pembuangan air.

Teknik pembuatan tambak dibagi dalam tiga sistem yang disesuaikan dengan
letak, biaya, dan operasi pelaksanaannya, yaitu tambak ekstensif, semi intensif,
dan intensif.

1) Tambak Ekstensif atau Tradisional


a. Dibangun di lahan pasang surut, yang umumnya berupa rawa-rawa
bakau, atau rawa-rawa pasang surut bersemak dan rerumputan.
b. Bentuk dan ukuran petakan tambak tidak teratur.
c. Luasnya antara 3-10 ha per petak.

Hal. 3/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

d. Setiap petak mempunyai saluran keliling (caren) yang lebarnya 5-10 m di


sepanjang keliling petakan sebelah dalam. Di bagian tengah juga dibuat
caren dari sudut ke sudut (diagonal). Kedalaman caren 30-50 cm lebih
dalam dari bagian sekitarnya yang disebut pelataran. Bagian pelataran
hanya dapat berisi sedalam 30-40 cm saja.
e. Di tengah petakan dibuat petakan yang lebih kecil dan dangkal untuk
mengipur nener yang baru datang selama 1 bulan.
f. Selain itu ada beberapa tipe tambak tradisional, misalnya tipe corong dan
tipe taman yang dikembangkan di Sidoarjo, Jawa Timur.
g. Pada tambak ini tidak ada pemupukan.

2) Tambak Semi Intensif


a. Bentuk petakan umumnya empat persegi panjang dengan luas 1-3
ha/petakan.
b. Tiap petakan mempunyai pintu pemasukan (inlet) dan pintu pengeluaran
(outlet) yang terpisah untuk keperluan penggantian air, penyiapan kolam
sebelum ditebari benih, dan pemanenan.
c. Suatu caren diagonal dengan lebar 5-10 m menyerong dari pintu (pipa)
inlet ke arah pintu (pipa) outlet. Dasar caren miring ke arah outlet untuk
memudahkan pengeringan air dan pengumpulan udang pada waktu
panen.
d. Kedalaman caren selisih 30-50 cm dari pelataran.
e. Kedalaman air di pelataran hanya 40-50 cm.
f. Ada juga petani tambak yang membuat caren di sekeliling pelataran.

3) Tambak Intensif
a. Petakan berukuan 0,2-0,5 ha/petak, supaya pengelolaan air dan
pengawasannya lebih mudah.
b. Kolam/petak pemeliharaan dapat dibuat dari beton seluruhnya atau dari
tanah seperti biasa. Atau dinding dari tembok, sedangkan dasar masih
tanah.
c. Biasanya berbentuk bujur sangkar dengan pintu pembuangan di tengah
dan pintu panen model monik di pematang saluran buangan. Bentuk dan
konstruksinya menyerupai tambak semi intensif bujur sangkar.
d. Lantai dasar dipadatkan sampai keras, dilapisi oleh pasir/kerikil. Tanggul
biasanya dari tembok, sedang air laut dan air tawar dicampur dalam bak
pencampur sebelum masuk dalam tambak.
e. Pipa pembuangan air hujan atau kotoran yang terbawa angin, dipasang
mati di sudut petak.
f. Diberi aerasi untuk menambah kadar O2 dalam air.
g. Penggantian air yang sangat sering dimungkinkan oleh penggunaan
pompa.

Hal. 4/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Adapun prasarana yang diperlukan dalam budidaya udang tambak meliputi:

1) Petakan Tambak
a. Sebaiknya dibuat dalam bentuk unit. Setiap satu unit tambak
pengairannya berasal dari satu pintu besar, yaitu pintu air utama atau
laban. Satu unit tambak terdiri dari tiga macam petakan: petak
pendederan, petak glondongan (buyaran) dan petak pembesaran dengan
perbandingan luas 1:9:90.
b. Selain itu, juga ada petakan pembagi air, yang merupakan bagian yang
terdalam. Dari petak pembagi, masing-masing petakan menerima bagian
air untuk pengisiannya. Setiap petakan harus mempunyai pintu air sendiri,
yang dinamakan pintu petakan, pintu sekunder, atau tokoan. Petakan
yang berbentuk seperti saluran disebut juga saluran pembagi air.
c. Setiap petakan terdiri dari caren dan pelataran.

2) Pematang/Tanggul
a. Ada dua macam pematang, yaitu pematang utama dan pematang antara.
b. Pematang utama merupakan pematang keliling unit, yang melindungi unit
yang bersangkutan dari pengaruh luar. Tingginya 0,5 m di atas
permukaan air pasang tertinggi. Lebar bagian atasnya sekitar 2 m. Sisi
luar dibuat miring dengan kemiringan 1:1,5. Sedangkan untuk sisi
pematang bagian dalam kemiringannya 1:1.
c. Pematang antara merupakan pematang yang membatasi petakan yang
satu dengan yang lain dalam satu unit.
d. Ukurannya tergantung keadaan setempat, misalnya: tinggi 1-2 m, lebar
bagian atas 0,5-1,5. Sisi-sisinya dibuat miring dengan kemiringan 1:1.
Pematang dibuat dengan menggali saluran keliling yang jaraknya dari
pematang 1 m. Jarak tersebut biasa disebut berm.

3) Saluran dan Pintu Air


a. Saluran air harus cukup lebar dan dalam, tergantung keadaan setempat,
lebarnya berkisar antara 3-10 m dan dalamnya kalau memungkinkan
sejajar dengan permukaan air surut terrendah. Sepanjang tepiannya
ditanami pohon bakau sebagai pelindung.
b. Ada dua macam pintu air, yaitu pintu air utama (laban) dan pintu air
sekunder (tokoan/pintu air petakan).
c. Pintu air berfungsi sebagai saluran keluar masuknya air dari dan ke dalam
tambak yang termasuk dalam satu unit.
d. Lebar mulut pintu utama antara 0,8-1,2 m, tinggi dan panjang disesuaikan
dengan tinggi dan lebar pematang. Dasarnya lebih rendah dari dasar
saluran keliling,serta sejajar dengan dasar saluran pemasukan air.
e. Bahan pembuatannya antara lain: pasangan semen, atau bahan kayu
(kayu besi, kayu jati, kayu kelapa, kayu siwalan, dll)
f. Setiap pintu dilengkapi dengan dua deretan papan penutup dan di
antaranya diisi tanah yang disebut lemahan.
g. Pintu air dilengkapi dengan saringan, yaitu saringan luar yang menghadap
ke saluran air dan saringan dalam yang menghadap ke petakan tambak.

Hal. 5/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Saringan terbuat dari kere bambu, dan untuk saringan dalam dilapisi
plastik atau ijuk.

4) Pelindung:
a. Sebagai bahan pelindung pada pemeliharaan udang di tambak, dapat
dipasang rumpon yang terbuat dari ranting kayu atau dari daun-daun
kelapa kering. Pohon peneduh di sepanjang pematang juga dapat
digunakan sebagai pelindung.
b. Rumpon dipasang dengan jarak 6-15 m di tambak. Rumpon berfungsi
juga untuk mencegah hanyutnya kelekap atau lumut, sehingga menumpuk
pada salah satu sudut karena tiupan angin.

5) Pemasangan kincir:
a. Kincir biasanya dipasang setelah pemeliharaan 1,5-2 bulan, karena udang
sudah cukup kuat terhadap pengadukan air.
b. Kincir dipasang 3-4 unit/ha. Daya kelarutan O2 ke dalam air dengan
pemutaran kincir itu mencapai 75-90%.

6.2. Pembibitan

1) Menyiapkan Benih (Benur)

Benur/benih udang bisa didapat dari tempat pembenihan (Hatchery) atau


dari alam.

Di alam terdapat dua macam golongan benih udang windu (benur) menurut
ukurannya, yaitu :
a. Benih yang masih halus, yang disebut post larva.
Terdapat di tepi-tepi pantai. Hidupnya bersifat pelagis, yaitu berenang
dekat permukaan air. Warnanya coklat kemerahan. Panjang 9-15 mm.
Cucuk kepala lurus atau sedikit melengkung seperti huruf S dengan
bentuk keseluruhan seperti jet. Ekornya membentang seperti kipas.
b. Benih yang sudah besar atau benih kasar yang disebut juvenil.
Biasanya telah memasuki muara sungai atau terusan. Hidupnya bersifat
benthis, yaitu suka berdiam dekat dasar perairan atau kadang menempel
pada benda yang terendam air. Sungutnya berbelang-belang selang-
seling coklat dan putih atau putih dan hijau kebiruan. Badannya berwarna
biru kehijauan atau kecoklatan sampai kehitaman. Pangkal kaki renang
berbelang-belang kuning biru.

Cara Penangkapan Benur:


a. Benih yang halus ditangkap dengan menggunakan alat belabar dan seser.
- Belabar adalah rangkaian memanjang dari ikatan-ikatan daun pisang
kering, rumput-rumputan, merang, atau pun bahan-bahan lainnya.
- Kegiatan penangkapan dilakukan apabila air pasang.
- Belabar dipasang tegak lurus pantai, dikaitkan pada dua buah patok,
sehingga terayun-ayun di permukaan air pasang.

Hal. 6/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Atau hanya diikatkan pada patok di salah satu ujungnya, sedang ujung
yang lain ditarik oleh si penyeser sambil dilingkarkan mendekati ujung
yang terikat. Setelah lingkaran cukup kecil, penyeseran dilakukan di
sekitar belabar.
b. Benih kasar ditangkapi dengan alat seser pula dengan cara langsung
diseser atau dengan alat bantu rumpon-rumpon yang dibuat dari ranting
pohon yang ditancapkan ke dasar perairan. Penyeseran dilakukan di
sekitar rumpon.

Pembenihan secara alami dilakukan dengan cara mengalirkan air laut ke


dalam tambak. Biasanya dilakukan oleh petambak tradisional.

Benih udang/benur yang didapat dari pembibitan haruslah benur yang


bermutu baik. Adapun sifat dan ciri benur yang bermutu baik yang didapat
dari tempat pembibitan adalah:
a. Umur dan ukuran benur harus seragam.
b. Bila dikejutkan benur sehat akan melentik.
c. Benur berwarna tidak pucat.
d. Badan benur tidak bengkok dan tidak cacat.

2) Perlakuan dan Perawatan Benih

a. Cara pemeliharaan dengan sistem kolam terpisah


Pemeliharaan larva yang baik adalah dengan sistem kolam terpisah, yaitu
kolam diatomae, kolam induk, dan kolam larva dipisahkan.
- Kolam Diatomae
Diatomae untuk makanan larva udang yang merupakan hasil
pemupukan adalah spesies Chaetoceros, Skeletonema dan
Tetraselmis di dalam kolam volume 1000-2000 liter.
Spesies diatomae yang agak besar diberikan kepada larva periode
mysis, walaupun lebih menyukai zooplankton.
- Kolam Induk
Kolam yang berukuran 500 liter ini berisi induk udang yang
mengandung telur yang diperoleh dari laut/nelayan. Telur biasanya
keluar pada malam hari. Telur yang sudah dibuahi dan sudah menetas
menjadi nauplius, dipindahkan.
- Kolam Larva
Kolam larva berukuran 2.000-80.000 liter. Artemia/zooplankton diambil
dari kolam diatomae dan diberikan kepada larva udang mysis dan post
larva (PL5-PL6).
Artemia kering dan udang kering diberikan kepada larva periode zoa
sampai (PL6). Larva periode PL5-PL6 dipindah ke petak buyaran
dengan kepadatan 32-1000 ekor/m2, yang setiap kalidiberi makan
artemia atau makanan buatan, kemudian PL20-PL30 benur dapat dijual
atau ditebar ke dalam tambak.

Hal. 7/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

b. Cara Pengipukan/pendederan benur di petak pengipukan


- Petak pendederan benur merupakan sebagian dari petak pembesaran
udang (± 10% dari luas petak pembesaran) yang terletak di salah satu
sudutnya dengan kedalaman 30-50 cm, suhu 26-31derajat C dan kadar
garam 5-25 permil.
- Petak terbuat dari daun kelapa atau daun nipah, agar benur yang masih
lemah terlindung dari terik matahari atau hujan.
- Benih yang baru datang, diaklitimasikan dulu. Benih dimasukkan dalam
bak plastik atau bak kayu yang diisi air yang kadar garam dan suhunya
hampir sama dengan keadaan selama pengangkutan. Kemudian
secara berangsur-angsur air tersebut dikeluarkan dan diganti dengan
air dari petak pendederan.
- Kepadatan pada petak Ini 1000-3000 ekor. Pakan yang diberikan
berupa campuran telur ayam rebus dan daging udang atau ikan yang
dihaluskan.
- Pakan tambahan berupa pellet udang yang dihaluskan. Pemberian
pelet dilakukan sebanyak 10-20 % kali jumlah berat benih udang per
hari dan diberikan pada sore hari. Berat benih halus ± 0,003 gram dan
berat benih kasar ± 0,5-0,8 g.
- Pellet dapat terbuat dari tepung rebon 40%, dedak halus 20 %, bungkil
kelapa 20 %, dan tepung kanji 20%.
- Pakan yang diperlukan: secangkir pakan untuk petak pengipukan
/pendederan seluas 100 m2 atau untuk 100.000 ekor benur dan
diberikan 3-4 kali sehari.

c. Cara Pengipukan di dalam Hapa


- Hapa adalah kotak yang dibuat dari jaring nilon dengan mata jaring 3-5
mm agar benur tidak dapat lolos.
- Hapa dipasang terendam dan tidak menyentuh dasar tambak di dalam
petak-petak tambak yang pergantian airnya mudah dilakukan, dengan
cara mengikatnya pada tiang-tiang yang ditancamkan di dasar petak
tambak itu. Beberapa buah hapa dapat dipasang berderet-deret pada
suatu petak tambak.
- Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kehendak, misalnya panjang 4-
6 m, lebar 1-1,5 m, tinggi 0,5-1 m.
- Kepadatan benur di dalam hapa 500-1000 ekor/m2.
- Pakan benur dapat berupa kelekap atau lumut-lumut dari petakan
tambak di sekitarnya. Dapat juga diberi pakan buatan berupa pelet
udang yang dihancurkan dulu menjadi serbuk.
- Lama pemeliharaan benur dalam ipukan 2-4 minggu, sampai
panjangnya 3-5 cm dengan persentase hidup 70-90%.
- Jaring sebagai dinding hapa harus dibersihkan seminggu sekali.
- Hapa sangat berguna bagi petani tambak, yaitu untuk tempat aklitimasi
benur, atau sewaktu-waktu dipergunakan menampung ikan atau udang
yang dikehendaki agar tetap hidup.

Hal. 8/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

d. Cara pengangkutan:
Pengangkutan menggunakan kantong plastik:
- Kantong plastik yang berukuran panjang 40 cm, lebar 35 cm, dan tebal
0,008 mm, diisi air 1/3 bagian dan diisi benih 1000 ekor.
- Kantong plastik diberi zat asam sampai menggelembung dan diikat
dengan tali.
- Kantong plastik tersebut dimasukkan dalam kotak kardus yang diberi
styrofore foam sebagai penahan panas dan kantong plastik kecil yang
berisi pecahan-pecahan es kecil yang jumlahnya 10% dari berat airnya.
- Benih dapat diangkut pada suhu 27-30 derajat C selama 10 jam
perjalanan dengan angka kematian 10-20%.
Pengangkutan dengan menggunakan jerigen plastik:
- Jerigen yang digunakan yang berukuran 20 liter.
- Jerigen diisi air setengah bagiannya dan sebagian lagi diisi zat asam
bertekanan lebih.
- Jumlah benih yang dapat diangkut antara 500-700 ekor/liter. Selama 6-
8 jam perjalanan, angka kematiannya sekitar 6%.
- Dalam perjalanan jerigen harus ditidurkan, agar permukaannya menjadi
luas, sehingga benurnya tidak bertumpuk.
- Untuk menurunkan suhunya bisa menggunakan es batu.

e. Waktu Penebaran Benur


Sebaiknya benur ditebar di tambak pada waktu yang teduh.

6.3. Pemeliharaan Pembesaran

1) Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan makanan alami, yaitu:


kelekap, lumut, plankton, dan bentos. Cara pemupukan:
a. Untuk pertumbuhan kelekap
- Tanah yang sudah rata dan dikeringkan ditaburi dengan dedak kasar
sebanyak 500 kg/ha.
- Kemudian ditaburi pupuk kandang (kotoran ayam, kerbau, kuda, dll),
atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
- Tambak diairi sampai 5-10 cm, dibiarkan tergenang dan menguap
sampai kering.
- Setelah itu tambak diairi lagi sampai 5-10 cm, dan ditaburi pupuk
kandang atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
- Pada saat itu ditambahkan pula pupuk anorganik, yaitu urea 75 kg/ha
dan TSP (Triple Super Phosphate) 75 kg/ha.
- Sesudah 5 hari kemudian, kelekap mulai tumbuh. Air dapat ditinggikan
lagi secara berangsur-angsur, hingga dalamnya 40 cm di atas
pelataran. Dan benih udang dapat dilepaskan.
- Selama pemeliharaan, diadakan pemupukan susulan sebanyak 1-2 kali
sebulan dengan menggunakan urea 10-25 kg/ha dan TSP 5-15 kg/ha.

Hal. 9/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

b. Untuk pertumbuhan lumut


- Tanah yang telah dikeringkan, diisi air untuk melembabkannya,
kemudian ditanami bibit lumut yang ditancapkan ke dalam lumpur.
- Air dimasukkan hingga setinggi 20 cm, kemudian dipupuk dengan urea
14 kg/ha dan TSP 8 kg/ha.
- Air ditinggikan sampai 40 cm setelah satu minggu.
- Mulai minggu kedua, setiap seminggu dipupuk lagi dengan urea dan
TSP, masing-masing 10 takaran sebelumnya.
- Lumut yang kurang pupuk akan berwarna kekuningan, sedangkan yang
dipupuk akan berwarna hijau rumput yang segar. Lumut yang terlalu
lebat akan berbahaya bagi udang, oleh karena itu lumut hanya
digunakan untuk pemeliharaan udang yang dicampur dengan ikan yang
lain.

c. Untuk pertumbuhan Diatomae


- Jumlah pupuk nitrogen (N) dan pupuk fosfor (P) menghendaki
perbandingan sekitar 30:1. Apabila perbandingannya mendekati 1:1,
yang tumbuh adalah Dinoflagellata.
- Sebagai sumber N, pupuk yang mengandung nitrat lebih baik daripada
pupuk yang mengandung amonium, karena dapat terlarut lebih lama
dalam air.
- Contoh pupuk:
* Urea-CO(NH2)2: prosentase N=46,6.
* Amonium sulfat-ZA-(NH4)2SO4: prosentase N=21.
* Amonium chlorida-NH4Cl: prosentase N=25
* Amonium nitrat-NH4NO3: prosentase N=37
* Kalsium nitrat-Ca(NO3)2: prosentase N=17
* Double superphosphate-Ca(H2PO4): prosentase P=26
* Triple superphosphate-P2O5: prosentase P=39
- Pemupukan diulangi sebanyak beberapa kali, sedikit demi sedikit setiap
7-10 hari sekali.
- Pemupukan pertama, digunakan 0,95 ppm N dan 0,11 ppm P. Apabila
luas tambak 1 ha dan tinggi air rata-rata 60 cm, membutuhkan 75-150
kg pupuk urea dan 25-50 kg TSP.
- Pertumbuhan plankton diamati dengan secci disc. Pertumbuhan cukup
bila pada kedalaman 30 cm, secci disc sudah kelihatan.
- Takaran pupuk dikurangi bila secci disc tidak terlihat pada kedalaman
25 cm. Sedangkan apabila secci disc tidak kelihatan pada kedalaman
35 cm, maka takaran pupuk perlu ditambah.

2) Pemberian Pakan

Makanan untuk tiap periode kehidupan udang berbeda-beda. Makanan


udang yang dapat digunakan dalam budidaya terdiri dari:

a. Makanan alami:
- Burayak tingkat nauplius, makanan dari cadangan isi kantong telurnya.

Hal. 10/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Burayak tingkat zoea, makanannya plankton nabati, yaitu Diatomaeae


(Skeletonema, Navicula, Amphora, dll) dan Dinoflagellata (Tetraselmis,
dll).
- Burayak tingkat mysis, makanannya plankton hewani, Protozoa,
Rotifera, (Branchionus), anak tritip (Balanus), anak kutu air (Copepoda),
dll.
- Burayak tingkat post larva (PL), dan udang muda (juvenil), selain
makanan di atas juga makan Diatomaee dan Cyanophyceae yang
tumbuh di dasar perairan (bentos), anak tiram, anak tritip, anak udanng-
udangan (Crustacea) lainnya, cacing annelida dan juga detritus (sisa
hewan dan tumbuhan yang membususk).
- Udang dewasa, makanannya daging binatang lunak atau Mollusca
(kerang, tiram, siput), cacing Annelida, yaitut cacing Pollychaeta,
udang-udangan, anak serangga (Chironomus), dll.
- Dalam usaha budidaya, udang dapat makan makanan alami yang
tumbuh di tambak, yaitu kelekap, lumut, plankton, dan bentos.

b. Makanan Tambahan
Makanan tambahan biasanya dibutuhkan setelah masa pemeliharaan 3
bulan. Makanan tambahan tersebut dapat berupa:
- Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah.
- Dedak halus dicampur cincangan ikan rucah, ketam, siput, dan udang-
udangan.
- Kulit kerbau atau sisa pemotongan ternak yang lain. Kulit kerbau
dipotong-potong 2,5 cm2, kemudian ditusuk sate.
- Sisa-sisa pemotongan katak.
- Bekicot yang telah dipecahkan kulitnya.
- Makanan anak ayam.
- Daging kerang dan remis.
- Trisipan dari tambak yang dikumpulkan dan dipech kulitnya.

c. Makanan Buatan (Pelet):


- Tepung kepala udang atau tepung ikan 20 %.
- Dedak halus 40 %.
- Tepung bungkil kelapa 20 %.
- Tepung kanji 19 %.
- Pfizer premix A atau Azuamix 1 %.
Cara pembuatan:
- Tepung kanji diencerkan dengan air secukupnya, lalu dipanaskan
sampai mengental.
- Bahan-bahan yang dicampurkan dengan kanji diaduk-aduk dan
diremas-remas sampai merata.
- Setelah merata, dibentuk bulat-bulat dan digiling dengan alat penggiling
daging. Hasil gilingan dijemur sampai kering, kemudian diremas-remas
sampai patah-patah sepanjang rata-rata 1-2 cm.

Hal. 11/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

Takaran Ransum Udang dan Cara Pemberian Pakan:

a. Udang diberi pakan 4-6 x sehari sedikit demi sedikit.

b. Jumlah pakan yang diberikan kepada benur 15-20% dari berat tubuhnya
per hari.

c. Jumlah pakan udang dewasa sekitar 5-10% berat tubuhnya/ hari.

d. Pemberian pakan dilakukan pada sore hari lebih baik.

3) Pemeliharaan Kolam/Tambak

a. Penggantian Air. Pembuangan air sebaiknya melalui bagian bawah,


karena bagian ini yang kondisinya paling buruk. Tapi apabila air tambak
tertutup air hujan yang tawar, pembuangannya melalui lapisan atas,
sedangkan pemasukannya melalui bagian bawah.
b. Pengadukan secara mekanis (belum biasa dilakukan). Dengan
pengadukan, air dapat memperoleh tambahan zat asam, atau
tercampurnya air asin dan air tawar. Pengadukan dapat menggunakan
mesin pengaduk, mesin perahu tempel, atau kincir angin.
c. Penambahan bahan kimia (belum biasa dilakukan). Kekurangan zat asam,
dapat ditambah dengan Kalium Permanganat (PK/KMnO4). Takaran 5-10
ppm (5-10 gram/1 ton air), masih belum mampu membunuh udang. Kapur
bakar sebanyak 200 kg/ha dapat juga untuk mengatasi O2.
d. Penambahan volume air. Bila suhu air tinggi, penambahan jumlah volume
air dapat dikurangi. Perlu diberi pelindung.
e. Menghentikan pemupukan dan pemberian pakan. Pemupukan dan
pemberian pakan dihentikan apabila udang nampak menderita dan
tambak dalam kondisi buruk.
f. Singkirkan ikan dan ganggang yang mati dengan menggunakan alat
penyerok.
g. Penambahan pemberian pakan. Udang diberi tambahan pakan apabila
menunjukkan gejala kekurangan makan, sampai pertumbuhan makanan
alami normal kembali.

Perbaikan teknis yang diperlukan:


a. Perbaikan saluran irigasi tambak untuk memungkinkan petakan-petakan
tambak memperoleh air yang cukup kualitas dan dan kuantitasnya,
selama masa pemeliharaan.
b. Pompanisasi, bagi tambak-tambak di daerah yang perbedaan pasang
surutnya rendah (kurang dari 1 m), yang setiap waktu diperlukan
pergantian air ke dalam atau keluar tambak.
c. Perbaikan konstruksi tambak, yang meliputi konstruksi tanggul, pintu air
saringan masuk ke dalam tambak agar tambak tidak mudah bocor, dan
tanggul tidak longsor.

Hal. 12/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

d. Perbaikan manajemen budidaya yang meliputi: cara pemupukan, padat


penebaran yang optimal, pemberian pakan, cara pengelolaan air dan cara
pemantauan terhadap pertumbuhan dan kesehatan udang.

7. HAMA DAN PENYAKIT


7.1. Hama

1) Lumut
Lumut yang pertumbuhannya berlebihan. Pengendalian: dapat dengan
memelihara bandeng yang berukuran 8-12 cm sebanyak 200 ekor/ha.

2) Bangsa ketam
Membuat lubang di pematang, sehingga dapat mengakibatkan bocoran-
bocoran.

3) Udang tanah (Thalassina anomala),


Membuat lubang di pematang.

4) Hewan-hewan penggerek kayu pintu air


Merusak pematang, merusak tanah dasar, dan merusak pintu air seperti
remis penggerek (Teredo navalis), dan lain-lain.

5) Tritip (Balanus sp.) dan tiram (Crassostrea sp.)


Menempel pada bangunan-bangunan pintu air.

Pengendalian hama bangsa ketam, udang tanah, hewan-hewan penggerek


kayu pintu air sama dengan pengendalian lumut.

Golongan pemangsa (predator), dapat memangsa udang secara langsung,


termasuk golongan buas, antara lain:

1) Ikan-ikan buas, seperti payus (Elops hawaiensis), kerong-kerong (Tehrapon


tehraps), kakap (Lates calcarifer), keting (Macrones micracanthus), kuro
(Polynemus sp.), dan lain-lain.

2) Ketam-ketaman, antara lain adalah kepiting (Scylla serrata).

3) Bangsa burung, seperti blekok (Ardeola ralloides speciosa), cangak (Ardea


cinera rectirostris), pecuk cagakan (Phalacrocorax carbo sinensis), pecuk ulo
(Anhinga rufa melanogaster), dan lain-lain.

4) Bangsa ular, seperti ular air atau ular kadut (Cerberus rhynchops, Fordonia
leucobalia, dan Chersidrus granulatus).

Hal. 13/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

5) Wingsang, wregul, sero, atau otter (Amblonyx cinerea dan Lutrogale


perspicillata).

Golongan penyaing (kompetitor) adalah hewan yang menyaingi udang dalam


hidupnya, baik mengenai pangan maupun papan.

1) Bangsa siput, seperti trisipan (Cerithidea cingulata), congcong (Telescopium


telescopium).

2) Ikan liar, seperti mujair (Tilapia mosambica), belanak (Mugil spp), rekrek
(Ambassis gymnocephalus), pernet (Aplocheilus javanicus), dan lain-lain.

3) Ketam-ketaman, seperti Saesarma sp. dan Uca sp.

4) Udang, yaitu udang kecil-kecil terutama jenis Cardina denticulata, dan lain-
lain.

Pengendalian:

1) Ikan-ikan buas dapat diberantas dengan bungkil biji teh yang mengandung
racun saponin.
a. Bungkil biji teh adalah ampas yang dihasilkan dari biji teh yang diperas
minyaknya dan banyak diproduksi di Cina.
b. Kadar saponin dalam tiap bungkil biji teh tidak sama, tetapi biasanya
dengan 150-200 kg bungkil biji teh per Ha tambak sudah cukup efektif
mematikan ikan liar/buas tanpa mematikan udang yang dipelihara.
c. Daya racun saponin terhadap ikan 50 kali lebih besar daripada terhadap
udang.
d. Daya racun saponin akan hilang sendiri dalam waktu 2-3 hari di dalam air.
Setelah diracun dengan bungkil biji teh, air tambak tidak perlu dibuang,
sebab residu bungkil itu dapat menambah kesuburan tambaknya.
e. Daya racun saponin berkurang apabila digunakan pada air dengan kadar
garam rendah. Tambak dengan kedalaman 1 meter dan kadar garam air
tambak > 15 permil, bungkil biji teh yang digunakan cukup 120 kg/Ha saja,
sedangkan kalau lebih rendah harus 200 kg/Ha. Untuk penghematan air
tambak dapat diturunkan sampai 1/3-nya, sehingga bungkil yang diberikan
hanya 1/3 yang seharusnya. Setelah 6 jam air tambak dinaikkan lagi,
sehingga kadar saponin menjadi lebih encer.
f. Penggunaan bungkil ini akan lebih efektif pada siang hari, pukul 12.00
atau 13.00.
g. Sebelum digunakan bungkil ditumbuk dulu menjadi tepung, kemudian
direndam dalam air selama beberapa jam atau semalam. Setelah itu air
tersebut dipercik-percikan ke seluruh tambak. Sementara menabur
bungkil, kincir dalam tambak diputar agar saponin teraduk merata.

Hal. 14/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Rotenon dari akar deris (tuba).


a. Akar deris dari alam mengandung 5-8 %o rotenon. Akar yang masih kecil
lebih banyak mengandung rotenon.Zat ini dapat membunuh ikan pada
kadar 1-4 ppm, tetapi batas yang mematikan udang tidak jauh berbeda.
b. Dalam air berkadar garam rendah, daya racunnya lebih baik/lebih kuat
daripada yang berkadar garam tinggi.
c. Sebelum digunakan, akar tuba dipotong kecil-kecil, kemudian direndam
dalam dalam air selama 24 jam. Setelah itu akar ditumbuk sampai lumat,
dimasukkan ke dalam air sambil diremas-remas sampai air berwarna putih
susu.
d. Dosis yang diperlukan adalah 4-6 kg/Ha tambak, apabila kedalaman air 8
cm. Daya racun rotenon sudah hilang setelah 4 hari.

3) Ikan liar, ikan buas, dan siput dapat juga diberantas dengan nikotin pada
takaran 12-15 kg/Ha atau sisa-sisa tembakau dengan takaran antara 200-
400 kg/Ha.
a. Sisa-sisa tembakau ditebarkan di tambak sesudah tanah dasar
dikeringkan dan kemudian diairi lagi setinggi ± 10 cm.
b. Setelah ditebarkan, dibiarkan selama 2-3 hari, agar racun nikotinnya dapat
membunuh hama. Sementara itu airnya dibiarkan sampai habis menguap
selama 7 hari.
c. Setelah itu tambak diairi lagi tanpa dicuci dulu, sebab sisa tembakau
sudah tidak beracun lagi dan dapat berfungsi sebagai pupuk.

4) Brestan-60 dapat digunakan untuk memberantas hama, terutama trisipan.


a. Brestan-60 adalah semacam bahan kimia yang berupa bubuk berwarna
krem dan hampir tidak berbau. Bahan aktifnya adalah trifenil asetat stanan
sebanyak 60%.
b. Takaran yang dibutuhkan adalah 1 kg/Ha, apabila kedalaman air 16-20
cm dan kadar garamnya 28-40%. Makin dalam airnya dan makin rendah
kadar garamnya, takaran yang dibutuhkan makin banyak.
c. Daya racunnya lebih baik pada waktu terik matahari.
d. Cara penggunaan:
- Air dalam petakan disurutkan sampai ± 10 cm. Pintu air dan tempat
yang bocor ditutup.
- Bubuk Brestan-60 yang telah ditakar dilarutkan dalam air secukupnya,
kemudian dipercik-percikkan ke permukaan air.
- Air dibiarkan menggenang selama 4-10 hari, agar siputnya mati semua.
- Setelah itu tambak dicuci 2-3 kali, dengan memasukkan dan
mengeluarkan air pada waktu pasang dan surut.

5) Sevin dicampur dengan cincangan daging ikan, kemudian dibentuk bulatan,


dapat digunakan sebagai umpan untuk meracuni kepiting.
Karbid (Kalsium karbida) dimasukkan ke dalam lubang kepiting, disiram air
dan kemudian. Gas asetilen yang timbul akan membunuh kepiting.
Abu sekam yang dimasukkan ke dalam lubang kepiting, akan melekat pada
insang dan dapat mematikan.

Hal. 15/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

6) Usaha untuk mengusir burung adalah dengan memasang pancang-pancang


bambu atau kayu di petakan tambakan.

7) Cara memberantas udang renik (wereng tambak): menggunakan Sumithion


dengan dosis 0,002 mg/liter pada hari pertama dan ditambah 0,003 mg/liter
pada hari kedua. Kadar yang dapat mematikan udang adalah 0,008 mg/liter.
Selalu memeriksa lokasi baik siang maupun malam.

7.2. Penyakit asal virus.

1) Monodon Baculo Virus (MBV)


Keberadanya tidak perlu dikhawatirkan, karena tidak berpengaruh terhadap
kehidupan udang. Penyebab: kondisi stres saat pemindahan post larva ke
kolam pembesaran.

2) Infectious Hypodermal Haematopoietic Necrosis Virus (IHHNV)


Gejala: (1) udang berenang tidak normal, yaitu sangat perlahan-lahan,
muncul ke permukaan dan mengambang dengan perut di ata; (2) bila alat
geraknya (pleopod dan Periopod) berhenti bergerak, udang akan tenggelam
di bawah kolam; (3) udang akan mati dalam waktu 4-12 jam sejak mulai
timbulnya gejala tersebut. Udang penderita banyak yang mati pada saat
moulting; (4) pada kondisi yang akut, kulitnya akan terlihat keputih-putihan
dan tubuhnya berwarna putih keruh; (5) permukaan tubuhnya akan ditumbuhi
oleh diatomae, bakteri atau parasit jamur; (6) pada kulit luar terlihat nekrosis
pada kutikula, syaraf, antena, dan pada mukosa usus depan dan tengah.
Pengendalian: perbaikan kualitas air.

3) Hepatopancreatic Parvo-like Virus


Gejala: terutama menyerang hepatopankreas, sehingga dalam pemeriksaan
hepatopankreasnya secara mikroskopik terlihat degenerasi dan adanya
inklusion bodies dalam se-sel organ tersebut. Pengendalian: perbaikan
kualitas air.

4) Cytoplamic Reo-like Virus


Gejala: (1) udang berkumpul di tepi kolam dan berenang di permukaan air;
(2) kematian udang di mulai pada hari 7-9 setelah penebaran benih
(stocking) di kolam post larva umur 18 hari. Pengendalian: belum diketahui
secara pasti, yang penting adalah perbaikan kualitas air.

5) Ricketsiae
Gejala: (1) udang berenang di pinggir kolam dalam keadaan lemah; (2)
udang berwarna lebih gelap, tak ada nafsu makan, pada beberapa udang
terlihat benjolan-benjolan kecil keputih-putihan pada dinding usus bagian
tengah (mid gut); (3) adanya koloni riketsia, peradangan dan pembengkakan
jaringan ikat; (4) kematian udang mulai terjadi pada minggu ke-7 atau 9
setelah penebaran benih (post larva hari ke-15-25). Angka kematian naik

Hal. 16/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

pada hari ke-5 sampai 7, sejak mulai terjadi kematian, kemudian menurun
sampai tak ada kematian. Tiga hari kemudian kematian timbul lagi, begitu
seterusnya sampai udang dipanen. Pengendalian: menggunakan antibiotik
(oksitetrasiklin, sulfasoxasol, dan nitrofurazon) dicampur makanan dapat
mengurangi angka kematian, tetapi bila konsentrasi antibiotik menurun,
kematian akan timbul lagi.

7.3. Penyakit asal Bakteri

1) Bakteri nekrosis
Penyebab: (1) bakteri dari genus Vibrio; (2) merupakan infeksi sekunder dari
infeksi pertama yang disebabkan oleh luka, erosi bahan kimia atau lainnya.
Gejala: (1) muncul beberapa nekrosis (berwarna kecoklatan) di beberapa
tempat (multilokal), yaitu pada antena, uropod, pleopod, dan beberapa alat
tambahan lainnya; (2) usus penderita kosong, karena tidak ada nafsu makan.
Pengendalian: Pemberian antibiotik dalam kolam pembenihan, miaslnya
furanace 1 mg/l, oksitetrasiklin 60-250 mg/l dan erytromycin 1 mg/l; (2)
Pengeringan, pembersihan dan disinfeksi dalam kolam pembenihan, serta
menjaga kebersihan alat-alat yang digunakan; (3) pemeliharaan kualias air
dan sanitasi yang baik.

2) Bakteri Septikemia
Penyebab: (1) Vibrio alginolictus, V. parahaemolyticus, Aeromonas sp., dan
Pseudomonas sp.; (2) merupakan infeksi sekunder dari infeksi pertama yan
disebabkan defisiensi vitamin C, toxin, luka dan karena stres yang berat.
Gejala: (1) menyerang larva dan post larva; (2) terdapat sel-sel bakteri yang
aktif dalam haemolymph (sistem darah udang). Pengendalian: (1)
pemberian antibiotik dalam kolam pembenihan, misalnya furanace 1 mg/l,
oksitetrasiklin 60-250 mg/l dan erytromycin 1 mg/l; (2) pemeliharaan kualias
air dan sanitasi yang baik.

7.4. Penyakit asal Parasit

Dapat menyebabkan penurunan berat badan, penurunan kualitas, kepekaan


terhadap infeksi virus/bakteri dan beberapa parasit dapat menyebabkan
kemandulan (Bopyrid).

1) Parasit cacing
Cacing Cestoda, yaitu
- Polypochepalus sp., bentuk cyste dari cacing ini terdapat dalam jaringan
ikat di sepanjang syaraf bagian ventral.
- Parachristianella monomegacantha, berparasit dalam jaringan inter-
tubuler hepatopankreas.
Cacing Trematoda: Opecoeloides sp., yang ditemukan pada dinding
proventriculus dan usus.
Cacing Nematoda: Contracaecum sp., menyerang hepatopankreas udang
yang hidup secara alamiah.

Hal. 17/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

2) Parasit Isopoda
Dapat menghambat perkembangan alat reproduksi udang. Parasit ini
menempel di daerah branchial insang (persambung antara insang dengan
tubuh udang), sehingga menghambat perkembangan gonad (sel telur) pada
udang.

7.5. Penyakit asal Jamur

Menyerang udang periode larva dan post larva yang dapat mati dalam waktu 24
jam. Penyebab: (1) Jamur Phycomycetes yang termasuk genus Lagenedium
dan Sirolpidium; (2) penyebarannya terjadi pada waktu pemberian pakan.
Pengendalian: (1) pemberian malachite green (0,006-0,1 mg/l) atau trifuralin
(0,01 pp,) 3-6 kali sehari akan mencegah penyebaran jamur ke larva yang
sehat; (2) jalan filtrasi air laut untuk pembenihan; (3) pencucian telur udang
berkali-kali dengan air laut yang bersih atau air laut yang diberi malachite green
atau trifuralin, karena dapat menghilangkan zoospora dari jamur.

8. PANEN
Udang yang siap panen adalah udang yang telah berumur 5-6 bulan masa
pemeliharaan. Dengan syarat mutu yang baik, yaitu:
1) ukurannya besar
2) kulitnya keras, bersih, licin, bersinar dan badan tidak cacat
3) masih dalam keadaan hidup dan segar.

8.1. Penangkapan

1) Penangkapan sebagian
a. Dengan menggunakan Prayang, yang terbuat dari bambu, yang terdiri dari
dua bagian, yaitu kere sebagai pengarah dan perangkap berbentuk
jantung sebagai tempat jebakan. Prayang dipasang di tepi tambak,
dengan kerenya melintang tegak lurus pematang dan perangkapnya
berada di ujung kere. Pemasangan prayang dilakukan malam hari pada
waktu ada pasang besar dan di atasnya diberi lampu untuk menarik
perhatian udang. Lubang prayang dibuat 4 cm, sehingga yang
terperangkap hanya udang besar saja. Pada lubang mulut dipasang tali
nilon atau kawat yang melintang dengan jarak masing-masing sekitar 4
cm.
b. Dengan menggunakan jala lempar. Penangkapan dilakukan malam hari.
Air tambak dikurangi sebagian untuk memudahkan penangkapan.
Penangkapan dilakukan dengan masuk ke dalam tambak. Penangkapan
dengan jala dapat dilakukan apabila ukuran udang dalam tambak tersebut
seragam.

Hal. 18/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

c. Dengan menggunakan tangan kosong. Dilakukan pada siang hari, karena


udang biasanya berdiam diri di dalam lumpur.

2) Penangkapan total
a. Penangkapan total dapat dilakukan dengan mengeringkan tambak.
Pengeringan tambak dapat dilakukan dengan pompa air atau apabila tidak
ada harus memperhatikan pasang surut air laut. Malam/dini hari
menjelang penangkapan, air dikeluarkan dari petak tambak perlahan-
lahan waktu air surut. Pada tambak semi intensif, air disurutkan sampai
caren, sehingga kedalaman air 10-20 cm.
b. Dengan menggunakan seser besar yang mulutnya direndam di lumpur
dasar tambak/caren, lalu didorong sambil mengangkatnya jika
diperkirakan sudah banyak udang yang masuk dalam seser. Dan cara
tersebut dilakukan berulang-ulang.
c. Dengan menggunakan jala, biasanya dilakukan banyak orang.
d. Dengan menggunakan kerei atau jaring yang lebarnya sesuai dengan
lebar caren. Lumpur dasar tempat udang bersembunyi didorong beramai-
ramai oleh beberapa orang yang memegangi kerei atau jaring itu, menuju
ke depan pintu air. Di depan pintu air udang dicegat dengan kerei lainnya.
Udang terkumpul di kubangan dekat pintu ai, sehingga dengan mudah
ditangkap.
e. Dengan memasang jaring penadah yang cukup luas atau panjang di
saluran pembuangan air. Pintu air dibuka dan diatur agar air mengalir
perlaha-lahan, sehingga udang tidak banyak tertinggal bersembunyi
dalam lumpur. Udang akan keluar bersama air dan tertadah dalam jaring
yang terpasang dan dengan mudah ditangkapi dengan seser.
f. Dengan menggunakan jaring (trawl) listrik. Jaring ini berbentuk dua buah
kerucut. Badan kantung mempunyai bukaan persegi panjang. Mulut
kantung yang di bawah di pasang pemberat agar dapat tenggelam di
lumpur. Bagian atas mulut jaring diberi pelampung agar mengambang di
permukaan air. Bagian bibir bawah mulut jaring dipasang kawat yang
dapat dialiri listrik berkekuatan 3-12 volt. Listrik yang mengaliri kawat di
dasar mulut jaring akan mengejutkan udang yang terkena, lalu udang
akan meloncat dan masuk ke dalam jaring.

8.2. Pembersihan

Udang yang telah ditangkap dikumpulkan dan dibersihkan sampai bersih.


Kemudian udang ditimbang dan dipilih menurut kualitas ukuran yang sama dan
tidak cacat.

9. PASCAPANEN
Beberapa hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam penanganan pasca
panen:

Hal. 19/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

1) Alat-alat yang digunakan harus bersih.


2) Penanganan harus cepat, cermat, dan hati-hati.
3) Hindarkan terkena sinar matahari langsung.
4) Cucilah udang dari kotoran dan lumpur dengan air bersih.
5) Masukkan ke dalam keranjang, ember, atau tong, dan siram dengan air
bersih.
6) Selalu menggunakan es batu untuk mendinginkan dan mengawetkan udang.
7) Selain didinginkan, dapat juga direndam dalam larutan NaCl 100 ppm untuk
mengawetkan udang pada temperatur kamar dan untuk membunuh bakteri
pembusuk (Salmonella, Vibrio, Staphylococcus).
8) Kelompokan menurut jenis dan ukurannya.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis usaha pembesaran Udang Galah di Desa Tangkil Kecamatan


Caringin Kabupaten Bogor. Selama 2 musim (1 tahun) pada tahun 1999 adalah
sebagai berikut:

1) Biaya Produksi
a Lahan
- Sewa lahan 2 tahun Rp. 3.200.000,-
- Pengolahan lahan Rp. 125.000,-
b. Bibit
- Benur 60.000 ekor Rp. 16,- Rp. 960.000,-
c. Pakan
- UG 801 86,40 kg @ Rp 2.600,- Rp. 224.460,-
- UG 802 590,40 Kg Rp. 2.400,- Rp. 1.416.960,-
- UG 803 1.882,57 kg Rp. 2.300,- Rp. 4.329.900,-
d. Obat-obatan dan pupuk
- BCK 4 liter @ Rp. 12.500,- Rp 50.000,-
- Sanponin 40 kg @ Rp 1500,- Rp. 60.000,-
- Urea 10 kg @ Rp 2000,- Rp. 20.000,-
- KCL 10 kg @ Rp 2.500,- RP. 25.000,-
- Pupuk kandang 20 kg @ Rp 500,- Rp. 10.000,-
- Kapur 100 kg @ Rp. 1000,- Rp. 100.000,-
e. Alat
- Timbangan 1 Unit @ Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
- pH Pen 1 Unit @ Rp. 50.000,- Rp. 50.000,-
- Jala/Jaring 2 Unit @ Rp. 25000,- Rp. 50.000,-
- Cangkul 3 Unit @ Rp. 6.000,- Rp. 18.000,-
- Skoop 1 Unit @ Rp. 6.000,- Rp. 6.000,-
- Serok 3 Unit @ Rp. 4.500,- Rp. 13.500,-
- Plastik 20 meter @ Rp. 2.000,- Rp. 40.000,-

Hal. 20/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

- Saringan 10 meter @ Rp. 2.500,- Rp. 25.000,-


- Ember Plastik 3 unit @ Rp. 5.000,- Rp. 15.000,-
- Keranjang 5 unit @ Rp. 5.500,- Rp. 16.500,-
f. Tenaga kerja
- Tenaga Tetap 12 MM @ Rp 250.000,- Rp. 1.500.000,-
- Tenaga Tak Tetap 10 OH @ Rp 8.000,00 Rp. 80.000,-

g. Lain-lain
- Rekening Listrik 6 bulan @ Rp 15.000,- Rp. 90.000,-
- Transportasi Rp. 20.000,-
h. Biaya tak terduga 10% Rp. 1.254.532,-
Jumlah biaya produksi Rp 12.545.320,-

2) Pendapatan 2 musim/th:1912,3 kg @ Rp 19.000,- Rp.34.463.700,-

3) Keuntungan per tahun/2 musim Rp.21.918.380,-


Keuntungan per musim (6 bulan) Rp. 4.686.530,-

4) Parameter kelayakan
a. B/C ratio per musim 1,37
b. Atas dasar Unit :BEP = FC/P-V 206,4 kg
c. Atas dasar Sales : BEP = FC/1-(VC/R) Rp 3.688.540,-

10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Sampai saat ini udang merupakan komoditi budidaya yang mempunyai prospek
cukup baik, baik untuk komsumsi dalam negeri maupun komsumsi luar negeri.
Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya permintaan ekspor untuk udang.

11. DAFTAR PUSTAKA


1) Brahmono. 1994. Limbah Udang Untuk Pembuatan Tepung. Dalam
Kumpulan Kliping Udang II. Trubus.
2) Darmono. 1991. Budidaya Udang Penaeus . Kanisius. Yogyakarta.
3) Hanadi, S. 1992. Pengolahan Udang Beku. Karya Anda. Surabaya.
4) Heruwati, E.S. dan Rahayu, S. 1994. Penanganan dan Pengelolaan Pasca
Panen Udang unutuk Meningkatkan Mutu dan Mendapatkan Nilai Tambah.
Dalam Kumpulan Kliping Udang II. Trubus.
5) Mudjiman, A. 1987. Budidaya Udang Galah. Penebar Swadaya. Jakarta.
6) __________ . 1988. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya. Jakarta.
7) __________ . 1994. Udang yang Bikin Sehat. Dalam Kumpulan Kliping
Udang II. Trubus.
8) Murtidjo, B.A. 1992. Budidaya Udang Windu Sistem Monokultur. Kanisius.
Yogyakarta.

Hal. 21/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id
TTG BUDIDAYA PERIKANAN

9) Purnomo. 1994. Limbah Udang Potensial untuk Industri. Dalam Kumpulan


Kliping Udang II. Trubus.
10) Suyanto, S.R. dan Mudjiman, A. 1999. Budidaya Udang Windu. Penebar
Swadaya. Jakarta.

12. KONTAK HUBUNGAN


Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829

Jakarta, Maret 2000

Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas


Editor : Kemal Prihatman

KEMBALI KE MENU

Hal. 22/ 22
Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Gedung II BPP Teknologi Lantai 6, Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta 10340
Tel. 021 316 9166~69, Fax. 021 316 1952, http://www.ristek.go.id