Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM JARINGAN KOMPUTER

DYNAMIC ROUTING
Dosen Pengampu : Eko Marpanaji, M.Pd

DISUSUN OLEH :
1. Suciani Fitri Lestari
2. Dewi Wulandari

12502241023
12502244004

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
LAPORAN PRAKTIKUM JARINGAN KOMPUTER
Semester
Dynamic Routing
4 x 50 Menit

5
Pertemuan 5

Revisi : 01

Tgl : 8 Desember 2014

Hal 1 dari

A. Tujuan
1. Mampu menjelaskan tentang konsep dynamic routing dalam jaringan.
2. Mampu mengkonfigurasi dynamic routing dalam jaringan lokal.
B. Studi Kasus Praktikum

Gambar 1. Topologi jaringan praktikum


Penyelesaian studi kasus di atas menggunakan teknik Dynamic Routing
protocol RIPv2 dengan algoritma Distance Vector.
Tabel 1. Routing Router A
No.
1
2
3
4
5

Destination
192.168.1.0
192.168.2.0
192.168.3.0
192.168.4.0
192.168.5.0

Netmask
/24
/24
/24
/24
/24

Gateway
192.168.2.253
192.168.2.253
192.168.3.253

Interface
Fa0/1
Fa0/0
Fa0/0
Fa0/0
Fa0/0

Status
DC
DC
IC
IC
IC

Netmask Gateway
/24
192.168.2.254
/24
-

Interface
Fa0/0
Fa0/0

Status
IC
DC

Tabel 2. Routing Router B


No.
1
2

Destination
192.168.1.0
192.168.2.0

3
4
5

192.168.3.0
192.168.4.0
192.168.5.0

/24
/24
/24

192.168.3.253

Fa0/1
Eth0/0/0
Fa0/0

DC
DC
IC

Netmask
/24
/24
/24
/24
/24

Gateway
192.168.2.254
192.168.3.254
192.168.3.254
-

Interface
Fa0/0
Fa0/1
Fa0/0
Eth0/0/0
Fa0/1

Status
IC
IC
DC
IC
DC

Tabel 3. Routing Router C


No.
1
2
3
4
5

Destination
192.168.1.0
192.168.2.0
192.168.3.0
192.168.4.0
192.168.5.0

Konfigurasi Router A

Konfigurasi IP Address PC0

Konfigurasi IP Address PC1

Konfigurasi Router B

Konfigurasi IP Address PC4

Konfigurasi IP Address PC5

Konfigurasi Router C

Konfigurasi IP Address PC2

Konfigurasi IP Address PC3

Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol RIPv2 pada Router A


Melihat table routing awal

Konfigurasi router A dengan protocol RIPv2

Pengecekan table routing akhir

Setelah pengecekan ulang table routing A tidak terjadi perubahan informasi.


Hal tersebut dikarenakan pada protocol RIPv2 menyediakan prefix routing dan
dapat mengirimkan informasi subnetmask bersama dengan update-update dari
5

table routing yang lainnya. Sehingga pada konfigurasi router A, belum ada
tambahan informasi karena belum ada update informasi dari router yang lain.
Jadi, setelah dilakukan konfigurasi router B dan C maka akan ada penambahan
informasi pada router A.
Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol RIPv2 pada Router B
Melihat table routing awal

Konfigurasi router B dengan protocol RIPv2

Pengecekan table routing akhir

Setelah pengecekan table routing B terjadi penambahan informasi dengan


label R (RIP) yang artinya informasi tersebut merupakan informasi indirect
connection dengan protokol RIP. Hal tersebut terjadi karena router B telah
mendapat update informasi dari router A.
Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol RIPv2 pada Router C
Melihat table routing awal
6

Konfigurasi router C dengan protocol RIPv2

Pengecekan table routing akhir

Setelah pengecekan table routing C terjadi 3 penambahan informasi dengan


label R (RIP) yang artinya informasi tersebut merupakan informasi indirect
connection. Hal tersebut terjadi karena router C telah mendapat update
informasi dari router A dan B.

Hasil Table Routing A setelah Router B dan Router C dikonfigurasi.

Hasil Table Routing B setelah Router C dikonfigurasi.

Pengecekan hasil konfigurasi


PC0 PC5

PC4 PC2

Hasil pengecekan dengan perintah ping untuk semua PC client dapat


terkoneksi.
Perbedaan dan persamaan RIPv1 dan RIPv2 adalah :
-

RIPv1 dan RIPv2 sama-sama merupakan bagian dari Distance Vector yang

mencari hop terpendek atau router terbaik


RIPv1 dan RIPv2 berbeda :
RIPv1 menggunakan classfull routing yang berarti semua alat di jaringan
harus menggunakan subnetmask yang sama karena RIPv1 tidak dapat
mengirimkan update informasi subnetmask di dalamnya. Sedangkan,
RIPv2 menggunakan classless routing dimana RIPv2 menyediakan sesuatu

yang disebut prefix routing dan dapat mengirim informasi subnetmask


bersama dengan update-update dari routing.
C. Studi Kasus Tugas
1. Dynamic Routing protocol EIGRP

Konfigurasi Router A
1. Double klik Router A kemudian pilih CLI
2. Setting IP Address Router A (fa0/0, fa0/1, dan et0/0/0)

Konfigurasi IP Address PC0

Konfigurasi IP Address PC1

Konfigurasi Router B

10

Konfigurasi IP Address PC4

Konfigurasi IP Address PC5

Konfigurasi Router C

11

Konfigurasi IP Address PC2

Konfigurasi IP Address PC3

Konfigurasi Router D

12

Konfigurasi IP Address PC6

Konfigurasi IP Address PC7

Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol EIGRP pada Router A


Melihat table routing awal sebelum ditambah dengan protokol EIGRP

Konfigurasi router A dengan protocol EIGRP


13

Pengecekan table routing akhir setelah ditambah protokol EIGRP

Pada pengecekan setelah penambahan protokol EIGRP, hasilnya samadengan


pengecekan awal karena Router A belum mendapat update informasi dari
router yang lain.
Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol EIGRP pada Router B
Melihat table routing awal sebelum ditambah protokol EIGRP

Konfigurasi router B dengan protocol EIGRP

Pengecekan table routing akhir setelah penambahan protokol EIGRP

Setelah pengecekan table routing B terjadi penambahan informasi dengan


label D (EIGRP) yang merupakan indirect connection. Hal tersebut terjadi
karena router B telah mendapat update informasi dari router A.
14

Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol EIGRP pada Router C


Melihat table routing awal sebelum penambahan protokol EIGRP

Konfigurasi router C dengan protocol EIGRP

Pengecekan table routing akhir

Setelah pengecekan table routing C terjadi 3 penambahan informasi dengan


label D (EIGRP) yang artinya informasi tersebut merupakan informasi indirect
connection. Hal tersebut terjadi karena router C telah mendapat update
informasi dari router A dan B.
Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol EIGRP pada Router D
Melihat table routing awal sebelum penambahan protokol EIGRP

15

Konfigurasi router C dengan protocol EIGRP

Pengecekan table routing akhir setelah penambahan EIGRP

Setelah pengecekan table routing C terjadi 3 penambahan informasi dengan


label D (EIGRP) yang artinya informasi tersebut merupakan informasi indirect
connection. Hal tersebut terjadi karena router D telah mendapat update
informasi dari router A, B, dan C.
Hasil Table Routing A setelah Router B, Router C, dan Router D
dikonfigurasi.

Hasil Table Routing B setelah Router C dan Router D dikonfigurasi.

16

Hasil Table Routing C setelah Router D dikonfigurasi

Pengecekan hasil konfigurasi


PC4 PC2

PC0 PC7

17

Hasil pengecekan dengan perintah ping untuk semua PC client dapat


terkoneksi. Maka protokol EIGRP berhasil digunakan.

2. Dynamic Routing protocol OSPF

Konfigurasi Router A

18

Konfigurasi IP Address PC0

Konfigurasi IP Address PC1

Konfigurasi Router B

Konfigurasi IP Address PC4

19

Konfigurasi IP Address PC5

Konfigurasi Router C

Konfigurasi IP Address PC2

20

Konfigurasi IP Address PC3

Konfigurasi Router D

Konfigurasi IP Address PC6

21

Konfigurasi IP Address PC7

Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol OSPF pada Router A


Melihat table routing awal sebelum penambahan protokol OSPF

Konfigurasi router A dengan protocol OSPF

Pengecekan table routing akhir setelah penambahan protokol OSPF

Pada pengecekan setelah penambahan protokol EIGRP, hasilnya samadengan


pengecekan awal karena Router A belum mendapat update informasi dari
router yang lain.
Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol OSPF pada Router B
Melihat table routing awal sebelum penambahan protokol OSPF
22

Konfigurasi router B dengan protocol OSPF

Pengecekan table routing akhir setelah penambahan OSPF

Setelah pengecekan table routing B terjadi penambahan informasi dengan


label O (OSPF) yang artinya informasi tersebut merupakan informasi indirect
connection. Hal tersebut terjadi karena router B telah mendapat update
informasi dari router A.
Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol OSPF pada Router C
Melihat table routing awal sebelum penambahan protokol OSPF

Konfigurasi router C dengan protocol OSPF

23

Pengecekan table routing akhir setelah penambahan protokol OSPF

Setelah pengecekan table routing C terjadi 3 penambahan informasi dengan


label O (OSPF) yang artinya informasi tersebut merupakan informasi indirect
connection. Hal tersebut terjadi karena router C telah mendapat update
informasi dari router A dan B.
Konfigurasi Dynamic Routing menggunakan protocol OSPF pada Router D
Melihat table routing awal sebelum penambahan protokol

Konfigurasi router C dengan protocol OSPF

24

Pengecekan table routing akhir setelah penambahan OSPF

Setelah pengecekan table routing C terjadi 3 penambahan informasi dengan


label O (OSPF). Hal tersebut terjadi karena router D telah mendapat update
informasi dari router A, B, dan C.
Hasil Table Routing A setelah Router B, Router C, dan Router D
dikonfigurasi.

Hasil Table Routing B setelah Router C dan Router D dikonfigurasi.

25

Hasil Table Routing C setelah Router D dikonfigurasi

Pada pengecekan akhir untuk router A, B, dan C setelah protokol OSPF


ditambahkan sampai router D, hasilnya berbeda dari update sebelumnya
karena protokol OSPF memiliki kemampuan untuk mengupdate informasi
terkait dengantable routing.

Pengecekan hasil konfigurasi


PC1 PC6

PC0 PC2

26

Setelah pengecekan dengan perintah ping, didapatkan hasil bahwa pada saat
awal atau setelah ditambahkan informasi ke seluruh router, terdapat beberapa
komputer yang tidak dapat tersambung yaitu PC 3 dan PC 4 dengan PC 6 dan
PC 7. Hal tersebut dikarenakan pada protokol OSFP full update informasi
router memerlukan waktu beberapa saat. Setelah itu, baru semua komputer
dapat tersambung semua.
Perbedaan dan persamaan EIGRP dan OSPF adalah :
-

EIGRP dan OSPF memiliki kesamaan yaitu sama-sama termasuk dynamic


routing protokol dengan algoritmaLink State.

EIGRP dan OSPF memiliki perbedaan yaitu :


EIGRP
Merupakan algoritma kombinasi

OSPF
Merupakan algoritma Link State

Distance Vector dan Link State


Menggunakan cost load balancing

routing protokol

yang tidak sama

Tidak mempunyai batasan hop


Hierarki routing menggunakan

Menggunakan algoritma DUAL

konsep area
Jika terjadi perubahan pada

(Diffusing Update Algorithm)

internetwork hanya akan dikirim

dalam menentukan jalur tercepat

partial update. Full update akan


dikirm pada interval waktu 30
(default)
27

Mendukung multiple protokol


network (IP, IPX, dll)
Mudah dalam konfigurasi
networknya seperti RIP
Untuk menerapkan router EIGRP
ke suatu network address
digunakan perintah sebagai berikut:
Router(config-router)#network
<network_address>

mendukungVLSM dan CIDR


Lebih sulit karena konfigurasinya
lebih rumit
Untuk menerapkan router OSPF ke
suatu network address digunakan
perintah sebagai berikut:
Router(config-router)#network
<address> <wildcard_mask>
area<area>

D. Kesimpulan
1. Dynamic routing digunakan untuk menangani kelemahan static routing
yang tidak dapat mencari jalur alternatif ketika jalur pengiriman putus
sehingga data tidak dapat terkirim.
2. Dynamic routing dibagi menjadi 2 kategori yaitu Distance vector dan
Link state.
3. Routing Information Protocol (RIP) merupakan routing protocol
sederhana dan termasuk jenis Distance Vector. RIP menggunakan
jumlah lompatan (hop count) untuk menentukan cara terbaik ke sebuah
network remote, yaitu jumlah router yang harus dilalui oleh paketpaket untuk mencapai alamat tujuannya.
4. Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) merupakan
protocol Distance Vector karena router-router yang menjalankan
EIGRP tidak mengetahui topologi network secara menyeluruh seperti
Link State. Kelebihan adalah mudah dikonfigurasi seperti RIP,
mendukung multiple protokol nerwork, dapat melakukan unequal load
balancing.
5. Open Shortest Path First (OSPF) merupakan sebuah protocol standar

terbuka yang telah diimplementasikan oleh sejumlah vendor jaringan,


hanya mendukung routing IP saja. Kelebihan OSPF adalah waktu yang
diperlukan untuk konvergen lebih cepat dan cocok digunakan dalam

28

jaringan besar. Sedangkan kekurangannya adalah membutuhkan basis


data yang besar dan lebih rumit.

29