Anda di halaman 1dari 3

Ki Hadjar, Juli 1913, dan Pendidikan Anti-Kolonialisme

Posted on Juli 5, 2011


3
Bulan Juli menyimpan cerita tersendiri bagi Ki Hadjar
Dewantara. Pertama karena Perguruan Tamansiswa lahir
pada 3 Juli 1924, dan sebelumnya, Juli 1913 ia berani
memprotes keras pemerintah kolonial Hindia Belanda
atas rencana perayaan besar-besaran 100 tahun
kemerdekaan Belanda dari Perancis di masa Napoleon.
Rencananya perayaan itu tidak hanya melibatkan para
pembesar saja, melainkan rakyat golongan pribumi juga
akan dilibatkan, hanya saja pelibatannya adalah dalam
bentuk memberi derma yang dipungut secara paksa.
Waktu itu Ki Hadjar Dewantara masih menggunakan
nama Soewardi Soerjaningrat. Tulisan protesnya yang
setajam pisau berjudul Als i keens Nederlander was atau
Andaikata aku seorang Belanda dimuat di surat kabar De Expres, Bandung, dengan oplah 5000
eksemplar. Pada akhir tulisan, Soewardi menyatakan:
Andaikata akoe seorang Belanda, akoe tidak akan merajakan perajaan itoe di dalam negeri jang sedang
kami djadjah. Pertama, kami harus memberikan kemerdekaan kepada rakjat jang kami djadjah, kemoedian
baroe memperingati kemerdekaan kami sendiri[1]
Sebelumnya, atas prakarsa Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, pada bulan Juli 1913 itu pula didirikan suatu
Indlandsche Comite tot Hardenking van Nederlands Honderdjarige Vrijheid, atau suatu Panitia Peringatan
100 tahun Kemerdekaan negeri Belanda di Bandung. Penitia ini disebut dan memang kemudian lebih
familiar disebut juga sebagai Comite Boemi Poetra yang diketuai oleh Drp. Tjipto Mangoenkoesoemo,
sedangkan jabatan sebagai sekretaris atau penulis dan bendahara diserahkan pada Seowardi.
Pada bulan April, ketika Soewardi pergi ke Buitenzorg atau Bogor sekarang, ia melihat dengan mata kepala
sendiri bagiamana Asisten Residen dengan bantuan pegawai pribumi menerima derma untuk acara
perayaan kemerdekaan Belanda tersebut. Saat itu juga Soewardi protes keras yang menyatakan tidak setuju
dengan adanya pungutan terhadap golongan pribumi, hal inilah yang menjadikan pemerintah kolonial
Belanda melabeliComite Boemi Poetra sebagai gerakan pengacau.
Aksi itu adalah aksi-aksi awal dari tiga sekawan, Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Surjaningrat dan
Douwes Dekker dalam Comite Boemi Poetra. Namun Douwes Dekker tidak ikut serta karena ia sedang ke
negeri Belanda untuk kepentingan Indische Partij. Waktu itu mereka mengirim surat permohonan pada
pemerintah kolonial agar Indische Partij dapat diakui sebagai Badan Hukum, namun dengan keputusan
pemerintah kolonial tertanggal 4 Maret 1913 permohonan mereka ditolak, alasannya adalah: perkumpulan
tersebut berbau politik dan dianggap dapat mengganggu keamanan umum. Saat itu juga, tepatnya pada 5
Maret 1913, anggaran dasarnya Indische Partij diubah, yakni menyatakan sebagai organisasi yang
ditekankan pada bergerak dalam bidang sosial, namun pemerintah kolonial tetap menolaknya. Itulah
alasannya Douwes Dekker berangkat ke Belanda, ia berniat mengajukan kasus tersebut ke sidang Parlemen
di sana.[2]
Siapa Douwes Dekker? Ia adalah yang mendirikan Indische Partij pada 6 September 1912. Nama
lengkapnya adalah Ernes Franois Eugene Douwes Dekker, seorang Indo yang berjiwa nasionalis tinggi.
Bapaknya lahir di Amsterdam dengan darah campuran Fries, Perancis dan mungkin juga

Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, dan Soewardi Soerjaningrat


Portugis, sedangkan Ibunya lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, dengan darah campuran Jerman, Polandia
dan Jawa. Agaknya darah Jawa dan lintasan kehidupannya di Jawa itulah yang lebih kuat memengaruhinya
dalam menyokong dan menggerakkan perjuangan kemerdekaan golongan pribumi.
Keberpihakannya pada kaum tertindas sudah terlihat sejak muda. Pada 1901 misalnya, ia pernah ke Afrika
Selatan membantu gerakan petani Transvaal pimpinan Paul Krger yang menyatakan perang kemerdekaan

terhadap Inggris yang menjajahnya. Waktu itu Douwes Dekker berumur 20-an tahun, karena
keterlibataannya itu ia dicopot kewarganegaraannya sebagai warga negara Belanda, tentu hal itu justru
membuat ia bangga, ia sendiri bahkan merasa bahwa dirinya bukan Belanda, ia mengaku sebagai orang
Hindia. Karena jasanya dalam membantu perjuangan kaum petani di Afrika Selatan maka ketika Paul
Krger menjabat sebagai Presiden Republik Transvaal Afrika Selatan, Duwes Dekker dianugerahi gelar
dan bintang The Boers fighting man.[3]
Kembali pada peristiwa Juli 1913, Douwes Dekker adalah yang juga melontarkan penentangannya
terhadap rencana pesta perayaan kemerdekaan tersebut selain Soewardi. Ia menulis artikel berjudul Wij
zullen niet mee yang artinya Kami tidak akan turut. Ujarnya:
Mengapa kamoe tidak merajakan pesta itoe di dalam kamar bolah dengan pantes-pantes, di tempat
sendirian, di mana kamoe dapat menoem-minoem soepaja moedah akan berminoem atas kehormatan tanah
ajermoe? Tentoe kamoe ta akan mendengar setjara bentjih daripada kami dalam perajaan itoe, kerna kami
tida haroes toeroet pesta, tentoe kamoe tida akan mendengar setjara salah seorang dari medan kami, jang
soeka berpidato, seperti kehendak saja akan nantang pada kamoe orang, yang memboeat pesta sematjam
itoe. Kalau ada begitoe tiadalah begitoe. Sjoekoerlah sekarang soedah banjak orang, jang djadi besar di
dalam sekolah saja, jani sekolah kemerdekaan. Ja, Toewan-toewan commisie, mengapakah kamoe tidak
bersoeka-soeka di medan kamoe empoenya kaoem sendiri?[4]
Sebuah nasionalisme yang mungkin di masa sekarang dapat ditemukan pada diri orang Indo seperti Frans
Magnis Suseno dan lainnyayang kita tidak tahu banyak orang-orang semacam itu sekarang. Lalu apa
yang terjadi pada Soewardi setelah tulisannya yang keras menampar muka para pembesar Belanda waktu
itu? Comite Boemi Poetra segera dipanggil menghadap Mr. Monsanto yang menjabat sebagai Hakim
Pendadilan atau Officier van Justitie. Ia didatangkan khusus dari Batavia ke Bandung untuk memeriksa
kasus Soewardi. Akhirnya dengan Soewardi secara terus terang mengaku sebagai penulis artikel itu, ia
dinyatakan bersalah melanggar undang-undang percetakan pasal 26 yang menyatakan Mengadu domba
antar golongan yang ada di dalam negeri Soewardi terang menyangkal, ia bertanya apa maksud dari
mengadu domba, menghasut dan lainnya yang dituduhkan padanya. Ia menyatakan bahwa apa yang ia tulis
justru tiada lain adalah sebagaimana yang dirasakan oleh golongan pribumi pada umumnya.[5]
Pengadilan itu juga menyeret Tjipto Mangoenkoesoemo, dikiranya bahwa dialah yang menulis atau
setidaknya menekan atau mempengaruhi Soewardi dalam menulis artikelnya itu. Namun Soewardi tegas
menyangkal itu. Tjipto Mangoenkoesoemo memang sudah dicurigai sejak awal, karena ia telah dikenal
sebagai seorang organisatoris tangguh yang waktu itu masih langka berasal dari kalangan cendekiawan
pribumi. Oleh karena itu, Soewardi tidak tinggal diam, pada 28 Juli 1913 masih di harian De Expres, ia
menulis Een voor allen, maar ook allen voor een atau Satu untuk semua, semua untuk satu. Pada akhir
tulisan ia mengajak golongan pribumi untuk siap sedia dalam menghadapi segala kemungkinan.
Kita haroes mempoenjai kekoeatan dan kepribadian dalam
menghadapi perdjoeangan nasional ini. Djika tidak, maka selamanja
saudara-saudara akan tetap menjadi boedak! Lepaskan diri dari
perboedakan ini![6]
Saya tidak mempunyai intrepretasi yang muluk-muluk kecuali
menangkap pesan eksplisit bahwa gerak politik Soewardi sejak mula
adalah politik perlawanan terhadap kolonialisme. Dan tiada lain dari
Tamansiswa yang ia dirikan adalah bentuk dan daya upayanya
membangun gerakan pendidikan anti-kolonialisme, anti-perbudakan,
anti-penindasan, anti-imperialisme. Semua tentu sepakat bahwa
pilihan Soewardi pada dunia pendidikan sudah pasti jelas dasar
ideologisnya bahwa pendidikan adalah sarana utama dalam meraih
kemerdekaan melalui jalan pencerdasan kehidupan bangsa. Namun hal
menarik yang dapat diungkap adalah ketika Soewardi dan istrinya
dibuang di negeri Belanda karena tulisannya pada Juli 1913 itu.
Irna H.N. Hadi Soewito mengutip B.S. Dewantara (1979) bahwa ada satu sifat yang menjadikan Soewardi
kurang tepat berkecimpuang dalam perjuangan politik, yakni karena ia sering naik darah karena tidak dapat
mengendalikan perasaan. Soetartinah, istri Soewardi, kemudian menyarankan agar sang suami
mempertimbangkan untuk mencari senjata lain dan merubah taktik perjuangannya.[7] Di pembuangannya
itu Soewardi kemudian mengikuti Pendidikan Sekolah Guru yang disebut Lager Onderwijs hingga
mendapatkan ijazah, sedangkan istrinya, Soetartinah mengikuti kursus Pendidikan Guru Frbel dan
kemudian mengajar di Frbel School (sekolah taman kanak-kanak) di Weimar.
Soewardi kemudian mempelajari banyak buku-buku referensi utama pendidikan waktu itu yang menarik
baginya. Akhirnya ia berkenalan dengan pemikiran tokoh-tokoh seperti Montessori, seorang pendidik dari

Italia yang menyatakan bahwa orangtua dan guru tidak dibenarkan memaksakan kehendaknya pada anakanak. Anak-anak tersebut memiliki kodratnya sendiri dan dapat mendidik diri sendiri sesuai dengan
lingkungannya masing-masing. Jadi, tugas pendidik adalah mengarahkannya saja. Soewardi pun tertarik
dengan pemikiran Rabindranath Tagore. Ketiga tokoh itulah, Frbel, Montessori dan Tagore, yang agaknya
banyak dirujuk oleh Soewardi, mereka dianggap sebagai pembongkar konsep pendidikan lama dan
membangun mazhab baru pendidikan, yakni mazhab yang sesuai dengan kondisi bangsa Hindia
(Nusantara) waktu itu.
Oleh Soewardi, semboyannya kemudian adalah Kembali kepada yang bersifat nasional, yang secara
simbolik diwujudkan dalam penggunaan bahasa Ibu. Soewardi menguraikan itu dalam kesempatan
Koloniaal Onderwijs Congres (Kongres Pengajaran Kolonial) pada Agustus 1916, di Den Haag. Ia
merujuk pada penggunaan bahasa Melayu, selain mudah dipelajari (mungkin karena tidak seperti bahasa
Jawa yang bertingkat-tingkat), bahasa Melayu waktu itu juga sudah menjadi bahasa harian yang
dipahami oleh sebagian besar lapisan masyarakat Hindia Belanda. Di sini terlihat bahwa, konsep
pendidikan Frbel, Montessori dan Tagore yang tidak bernuansa anti-kolonial, kemudian diberi warna dan
ruh oleh Soewardi menjadi radikal dengan ruh anti-kolonial dan tujuannya adalah untuk kemerdekaan
tentu dalam arti luas.[8]
Soewardi dengan demikian adalah yang meracik sendiri konsep pendidikannya dari lintasan hidup dan
pengetahuannya sendiri, ia membangun teori pedagogi dan pendidikannya sendiri, mengambil semangat
Frbel, Montessori dan Tagore, kemudian ia kontekstualisasikan, ia benturkan dengan realitas sosial
kolonialisme di Hindia Belanda waktu itu, termasuk realitas budaya dan nilai-nilai lokal yang dapat ia
ramu dengan apik dalam konsep pendidikannya, Tamansiswa. Jadilah Tamansiswa sebagai situs dan pusat
kebudayaan, pusat pergerakan dan perlawanan terhadap kolonialisme. [ ]
NB: Data dan informasi dari tulisan singkat ini sekadar menulis kembali dari yang ada dalam buku Dra.
Irna H.N. Hadi Soewito yang berjudul Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan, terbitan Balai Pustaka
tahun 1991. Saya dapatkan di lapak bukunya Bang Jose Rizal (Taman Ismail Marzuqi, TIM), Cikini,
semalam (malam minggu, 2 Juli 2011) sebelum pentas Ludruk Kartolo Mbalelo, yang kebetulan
ditayangkan melalui layar tancap secara live juga di halaman Teater Kecil, karena tiket sudah habis.
Sialnya, saya juga nggak kebagian Lontong Balap dan Pecel Madiun, ludes diserbu arek2!!! Parah..!!
Qiqiqiqi ^_^
End Notes:
[1] Lihat Irna H.N. Hadi Soewito, Soewardi Soerjaningrat: Dalam Pengasingan. Jakarta: Balai Pustaka,
1991, p. 28-29, dikutip dari E.F.E. Douwes Dekker, et al., Mijmeringen van Indis over Hollands
Feesttervierderij in de Kolonie, 1913, p. 32.
[2] Ibid., pp. 26-27.
[3] Ibid., p. 21.
[4] Ibid., p. 24. Istilah kamar bolah merujuk pada sebuah gedung tempat orang-orang Belanda bersantai
menghabiskan waktu senggangnya. Kebanyakan dari mereka bermain biljart (bilyar) atau bola sodok, ada
pula yang sekadar ngobrol sambil minum-minum saja. Di tempat itu pula mereka sering berdansa dari
petang hari sampai subuh. Kamar bolah ini juga disebut sebagai Sociteit atau sekarang familiar disebut
sebagai Bar atau klab malam (night club). Lihat paragraph terakhir dan catatan kaki pada p. 23.
[5] Ibid., p. 30.
[6] Ibid., pp. 33-34.
[7] Ibid., p. 97, merujuk pada B.S. Dewantara, Nyi Hajar Dewantara dalam Kisah dan Data, 1979, pp.
102-103.
[8] Irna H.N. Hadi Soewito, Ibid., pp. 98-101.

Anda mungkin juga menyukai