Anda di halaman 1dari 4

Motif Ingin Tahu

Generasi psikologi awal yakin bahwa jika organisme telah memuaskan motifmotif tertentu, ia lebih mneyukai keadaan yang tenang. Namun ternyata keyakinan
ini keliru. Manusia dan hewan termotivasi untuk mencari stimulasi, hal ini guna
mengeksplorasi secara aktif lingkungan habitat mereka, kendatipun aktivitas
tersebut tidak memuaskan kebutuhan tubuh. Dapat disimpulkan terdapat kelas
motif ketiga, yakni keingintahuan.

Eksplorasi dan Manipulasi


Pada

dasarnya

kita

memiliki

dorongan

bawaan

bahwa

kita

senang

memanipulasi dan menyelidiki objek-objek. Kita memberikan bayi kerincingan


(giring-giring) dan mainan-mainan lain karena kita tahu bahwa mereka senang
menggenggam dan mengguncang.
Begitu juga dengan kera. Jika diletakkan alat-alat mekanis di dalam kurungan
atau kandangnya, makan mereka akan berusaha membongkarnya, dan pada
akhirnya mereka menjadi terampil karena latihan.
Kedua contoh diatas dilakukan oleh bayi dan kera tanpa ada imbalan yang
jelas selain kepuasan memanipulasi bedna-benda tersebut. Namun, jika kera diberi
makan setiap ia membongkar sebuah teka teki dari alat mekanis tadi, maka ia
kehilangan minatnya terhadap manipulasi dan memandang alat itu sebagai cara
mendapatkan makanan. (Harlow, Harlow, & Meyer, 1950)
Di lain waktu, manipulasi digunakan untuk tujuan penyelidikan. Sebagai
contoh Piaget, melakukan observasi terhadap pertumbuhan perilaku manipulasi
pada bayi yang berusia 5-11 bulan. Perilaku penyelidikan terhadap manipulasi itu
adalah tipikal dari anak yang sedang tumbuh dan berkembang sebagai motif yang
berbeda dari kebutuhan fisiologis organisme.

Stimulasi Sensorik
Penelitian Deprivasi Stimulasi

Eksplorasi dan manipulasi memberi organisme suatu masukan sensorik yang


baru dan berubah. Perubahan masukan inilah yang kemungkinan menjadi salah
satu alasan manusia dan hewan memanipulasi dan menyelidiki benda-benda, yakni
kita membutuhkan stimulasi sensorik.
Terdapat penelitian untuk mendukung hipotesis tersebut. Diawali dengan
mengakrabkan subjek dengan situasi eksperimenta, hal ini dilakukan untuk
menghilangkan kecemasan dan disorientasi subjek. Dala suatu sesi yang tipikal,
subjek berbaring di tempat tidur yang nyaman dalam ruangan gelap dan kedap
suara

selama 24 jam. Air dan makanan diperoleh melalui selang plastik dekat

bantal, dan toilet kimia dekat kaki tempat tidur.


Eksperimen ini menunjukkan persepsi bahwa subjek mengalami distorsi
warna dan orientasi spasial dan lebih lambat dalam bereaksi terhadap stimuli visual
dibanding subjek kontrol (Zubek, 1969). Penurunan stimulus juga menghasilkan
penurunan kemampuan memecahkan masalah seperti memikirkan sebanyak
mungkin kegunaan suatu benda yang umum. Jadi, dapat disimpulkan bahwa orang
membutuhkan stimulasi sensorik agar perspesi dan intelektualnya berfungsi secara
normal (Suedfeld, 1975).
Namun, penurunan stimulasi dapat membuat proses perseptual menjadi lebih
tajam dan dapat memperbaiki proses belajar. Hal ini dapat membantu seseorang
mengubah perilaku seperti berhenti atau menurunkan asupan alkohol. Jadi
penurunan

stimulus

terkadang

berguna,

tampaknya

memungkinkan

kita

memperbaiki perasaan dan pikiran kita sendiri.


Perbedaan Individaul dalam Pencarian Stimulasi
Perbedaan individual dalam motif keingintahuan tidak terlalu mencolok
seperti dalam hal memanipulasi motif lain. Zuckerman (1979) mengembangkan
suatu tes yang dinamakan Sensation Seeking Scale (SSS). Skala ini mencakup
berbagai butir yang menilai keinginan individu untuk terlibat dalam aktivitas yang
penuh petualangan, mencari pengalaman sensorik baru. Menikmati kegembiraan
situasi sosial dan menghindari kebosanan.

Riset ini menemukan perbedaan besar dalam pencarian stimulasi (Carol,


Zuckerman, & Vogel, 1982). Selain itu, pencarian sensasi tampaknya merupakan
suatu trait yang koensisten dalam berbagai situasi berbeda. Individu yang
mekaporkan menikmati pengalaman baru dalam suatu kehidupan cenderung
menggambarkan dirinya sebagai petualang dibidang lain.
Ahli psikologi telah mengaitkan skor SSS yang tinggi dengan sejumlah
karakteristik perilaku, yakni terlibat dalam olahraga, pekerjaan, atau hobi yang
berbahaya (seperti terjun payung, balap motor, firefighter) mencari variasi dalam
pengalaman seksual dan obat, tidak kenal takut dengan fobia umum (ketinggian,
kegelapan, ular), mengambil resiko ketika berjudi, menyukai makanan eksotik
bahkan mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi.

Prinsip Umum untuk Motif yang Berbeda


Motif

pada

mempertahankan

umumnya

dapat

kelangsungan

dikategorikan

hidup,

menjadi

kebutuhan

sosial,

kebutuhan
dan

untuk

kebutuhan

memuaskan keingintahuan. Pada tahun 1940-an dan 1950-an, banyak ahli psikologi
berpendapat bahwa semua motif dasar beroperasi menurut prinsi penurunan
dorongan (drive reduction). Misal, motif idarahkan untuk menurunkan keadaan
psikologis yang dialami seseorang sebagai ketegangan, dan orang itu mengalami
kesenangan dari oenurunan ketegangan atau dorongan. Drive reduction tampaknya
berlaku pula untuk motif kelangsungan hidup. Jika kekurangan makan, kita memang
merasakan ketegangan yang hilang jika kita maka, dan kita merasakan bahwa
penurunan tegangan itu sebagai suatu dorongan yang menyenangkan.
Namun, untuk motif seksual, penurunan dorongan tampaknya kurang masuk
akal. Menurut observasi sehari-hari dan eksperimen laboratorium, stimulasi seksual
sendiri telah menyenangkan. Demikian pula teori penurunan dorongan tidak sesuai
dengan motif ingin tahu. Teori penurunan dorongan menyatakan bahwa setiap
orang ingin menghindari situasi yang tegang, tetapi sebagian orang justru mencari
sensasi itu dengan menaiki roller coaster dan sky diving (Geen, Beatty, & Arkin,
1984).

Ahli psikologi sekarang biasanya menolak drive reduction dan memilih prinsip
tingkat rangsangan (arousal level).