Anda di halaman 1dari 26

Disusun Oleh:

Kelompok 5:
1. Annisa Rahmawati
(06111181320001)
2. Arum Erischa Widyowati
(06111181320031)
3. Devi Ardiantini
(06111181320036)
4. Dwi Rahmawati
(06111281320012)
5. Melina Mustika Sari
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FKIP UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

Kata Pengantar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit
sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam
atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya,
sehingga

kami

dapat

menyelesaikan

makalah

dengan

judul

SISTEM

TERMODINAMIKA DAN PERSAMAAN KEADAAN SISTEM.


Dalam penyusunannya, kami memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak, karena itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah
memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah
semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata kami berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Indralaya, 14 Januari 2015

Mahasiswa
FKIP UNSRI

Pendidikan

Fisika

DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Manfaat Penulisan
BAB 2 PEMBAHASAN
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Sistem dan Lingkungan


Jenis Sistem Termodinamika
Sifat- sifat sistem
Persamaan keadaan
Sistem dan persamaan keadaannya
Properti-Properti dan Keadaan Dari Suatu Sistem
Persamaan-persamaan untuk gas tak ideal
Persamaan keadaan dalam termodinamika

BAB 3 PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Termodinamika adalah satu cabang fisika teoritik yang berkaitan dengan hukum
hukum pergerakan panas, dan perubahan dari panas menjadi bentuk bentuk energy
yang lain. Istilah termodinamika diturunkan dari bahasa yunani therme ( panas ) dan
dynamis (gaya). Cabang ilmu ini berdasarkan pada dua prinsip dasar yang aslinya
diturunkan dari eksperimen, tetapi kini dianggap sebagai aksioma ( suatu pernyataan
yang diterima sebagai kebenaran dan bersifat umum, tanpa memerlukan
pembuktian ). Prinsip pertama adalah hukum kekekalan energy, yang mengha
mengambil bentuk hokum kesetaraan panas dan kerja. Prinsip yang kedua
menyatakan bahwa panas itu sendiri tidak dapat mengalir dari benda yang lebih
dingin ke benda yang lebih panas tanpa adanya perubahan dikedua benda tersebut.
Eksperimen membuktikan dua sifat lebih lanjut dari energy dalam. Energy dalam
system yang terisolasi adalah tetap. Pengamatan ini sering diringkas degan ucapan
bahwa energy bersifat kekal. Bukti kekekalan energy adalah kemustahilan untuk
membuat mesin yang bergerak terus menerus, yang bekerja tanpa bahan bakar,
mustahil untuk menciptakan ( atau menghancurkan) energy. (P.W.Atkins, 1999:34)
sifat kedua dari energi dalam(yang membawa kita melampaui hukum fisika yang
sederhana: kekekalan energi) adalah bahwa oleh karena kita bisa tahu cara
perpindahan energi ( karena kita dapat melihat apakah sebuah beban dinaikkan
diturunkan dalam lingkungannya, atau apakah es sedah meleleh ), systemnya tutup
mata terhadap cara yang dipakai. Kalor dan kerja adalah cara yang setara dalam
mengubah energy system: energy adalah energy, bagaimanapun cara memperolehnya
atau cara menghabiskannya. System termodinamika menyerupai sebuah bank:
menerima simpanan uang, lalu menyimpannya untuk cadangan sebagai energy dalam
(P.W.Atkins,1999:34)
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas rumusan masalah dalam makalah


ini adalah:
1.
2.
3.
4.

Apakah yang dimaksud dengan sistem dan lingkungan ?


Apa saja jenis sistem termodinamika?
Apa saja sifat sistem termodinamika?
Apa saja persamaan dalam Termodinamika?

C. Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari penulisan makalah adalah:
a. Memberikan penjelasan kepada pembaca tentang sistem termodinamiaka
b. Memberikan penjelasan kepada pembaca mengenai persamaan-persamaan
sistem.

BAB 2
PEMBAHASAN

A. Sistem dan lingkungan


Suatu system termodinamika adalah suatu masssa atau daerah yang dipilih
untuk dijadikan obyek analisis. Daerah sekitar sistem tersebut disebut sebagai
lingkungan. Batas antara system dengan lingkungannya disebut batas

system

( boundary), sifat sistem seperti massa, volume, energy, tekanan, dan temperature,
merupakan krakteristik mikroskopik sistem, di mana nilai numeriknya dapat
diberikan pada suatu waktu tertentu tanpa mengetahui sejarah system Sifat (property )
system seperti massa , volume, energy, tekanan, dan temperatur, merupakan
krakteristik mikroskopik system, di mana nilai numeriknya dapat diberikan pada
suatu waktu tertentu tanpa mengetahui sejarah system itu sendiri. Keadaan ( state )
merupakan kondisi system yang dapat ditentukan oleh sifatnya. Mengingat bahwa
umumnya terdapat hubungan antara sifat sifat system, keadaan dapat ditentukan
berdasarkan nilai pasangan sifatnya. Sifat sifat yang lain dapat ditentukan
berdasarkan pasangan sifatnya. Proses dapat terjadi pada sebuah system apabila
terdapat perubahan sifat sehingga terjadi perubahan keadaan dari system tersebut.
Proses merupakan transformasi dari suatu keadaan ke kaadaan yang lain. Jika system
menunjukan nilai sifatnya yang tetap pada dua saat yang berbeda. Maka system dapat
dikatakan berada dalam keadaan yang sama.
Sebuah system dikatakan dalam kondisi tunak ( steady state) jika tidak satu
pun sifatnya berubah terhadap waktu. Siklus termodinamika merupakan suatu urutan
proses yang berawal dan berakhir pada keadaan yang sama. Pada akhir siklus, semua
sifat akan memiliki nilai yang sama dengan kondisi awal. Dengan demikian, maka
dalam suatu siklus, system tidak mengalami perubahan netto. Siklus yang berulang
secara periodik memegang peran penting dalam berbagai aplikasi teknik. Contohnya,
uap yang berdiskusi dalam suatu unit pembangkit tenaga listrik membentuk sebuah
siklus. Pada suatu keadaan tertentu, setiap sifat memiliki nilai tertentu yang dapat
ditentukan tanpa perlu mengetahui bagaimana sistem dapat mencapai keadaan
tersebut. Dengan demikian, perubahan nilai suatu sifat dapat pada saat system

berpindah dari suatu keadaan ke kaadaan yang lain sangat di tentukan oleh keadaan
awal dan akhir serta tidak di pengaruhi oleh langkah perubahan yang terjadi.
Perubahan tidak di pengaruhi oleh sejarah dan rincian proses. Sebaliknya apabila nilai
suatu besaran tidak dipengaruhi oleh proses antara dua keadaan, maka besaran
tersebut merupakan perubahan sifat. Hal ini mendorong munculnya pengujiaan yang
bukan saja penting namun juga memadai dalam menentukan apakah suatu besaran
merupakan perubahan sebuah sifat: suatu besaran adalah sebuah sifat, jika dan hanya
jika perubahan nilai diantara dua keadaan tidak di pemgaruhi oleh proses.
Selanjutnya,apabila nilai kuantitas tertentu bergantung pada detail proses dan tidak
semata mata tergantung pada kondisi awal dan akhir, maka besaran tersebut
bukanlah sebuah sifat.
B. Jenis sistem termodinamika
Ada tiga jenis system termodinamika berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara
sistem dan lingkungan :
1. Sistem Terisolasi
Pada sistem ini tidak terjadi pertukaran panas, benda atau kerja dengan
lingkungan. Contoh dari system terisolasi adalah wadah terisolasi, seperti tabung
gas terisolasi.
2. Sistem tertutup
Pada sistem ini terjadi pertukaran energi tapi tidak terjadi pertukatran benda
dengan lingkungan. Rumah hijau adalah contoh dari sistem tertutup dimana
terjadi pertukaran panas tetapi tidak terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan.
Apakah suatu sistem terjadi pertukaran panas, kerja atau keduanya biasanya
dipertimbangkan sebagai sifat pembatasnya:
a. Pembatas adiabatic: tidak memperoleh pertukaran panas
b. Pembatas rigid: tidak memperoleh pertukaran kerja.
3. Sistem Terbuka
Pada system ini terjadi pertukaran energy dan benda dengan lingkungannya.
Sebuah pembatas memperbolehkan pertukaran benda disebut permeable.
Samudra merupakan contoh dari system terbuka.

Dalam kenyataan, sebuah sistem tidak dapat terisolasi sepenuhnya dari


lingkungan, karena pasti ada terjadi sedikit pencampuran, meskipun hanya
penerimaan sedikit penarikan gravitasi. Dalam analisis sistem terisolasi, energi
yang masuk ke sistem sama dengan energi yang keluar dari sistem.
C. Sifat sifat sistem
Tingkat keadaan kesetimbangan system termodinamik pada waktu tertentu
dijelaskan sebagai seperangkat fungsi tingkat keadaan yang disebut sifat sifat. Sifat
sifat merupakan fungsi tingkat keadaan sistem tersebut saja, dengan demikian sifatsifat ini tidak tergantung pada riwayat sistem atau proses yang melaluinya tingkat
keadaan tersebut tercapai. Perubahan pada nilai sifat dengan demikian ditetapkan
hanya oleh tingkat keadaan awal dan akhir sistem tersebut. Sifat dapat dibagi menjadi
dua kategori : intensif dan ekstensif. Sifat sifat intensif seperti temperatur, tekanan,
dan densitas tidak tergantung pada ukuran, massa atau konfigurasi sistemnya. Sifatsifat intensif mendefinisikan tingkat keadaan intensif suatu system dan memiliki arti
hanya untuk system sistem yang berada dalam tingkat keadaan ke setimbangan.
Sifat- sifat intensif dapat juga dapat juga di defenidsikan pada suatu titik bilamana
ukuran system yang mengelilingi titik tersebut mendekati nol. Sifat sifat yang
tergantung pada ukuran system, seperti panjang, volume, massa dan energy
merupakan sifat- sitfat ekstensif. Jumlah sifat yang diperlukan untuk mendefinisikan
suatu system tergantung pada kerumitan sistem itu sendiri. Pada system sederhana.
Tingkat keadaan intensif memiliki dua derajat kebebasan. Jika sistm yang demikian
berada dalam kesetimbangan , tingkat keadaan intensif diberikan oleh dua sifat
intensif bebasnya. Sistem yang mengandung lebih dari satu komponen atau lebih.
Sifat- sifat yang mendefinisikan tingkat keadaan suatu system disebut sifat bebas.
Sifat sifat yang menjadi tetap apabila tingkat keadaan sistem tersebut didefinisikan
oleh sifat sifat bebasnya disebut sifat sifat takbebas. Sebagai contoh jika tekanan
dipilih sebagai sifat bebas, dan nilai sebesar 1 atmosfer telah dipilih, maka
temperature ( sifat takbebas) yang pada temperatur ini air akan mendidih ialah 100 c.

D. Persamaan keadaan
Di dalam fisika dan termodinamika, persamaan keadaan adalah persamaan
termodinamika yang menggambarkan keadaan materi di bawah seperangkat kondisi
fisika. Persamaan keadaan adalah sebuah persamaan konstitutif yang menyediakan
hubungan matematik antara dua atau lebih fungsi keadaan yang berhubungan dengan
materi, seperti temperatur, tekanan, volume dan energi dalam. Persamaan keadaan
berguna dalam menggambarkan sifat-sifat fluida, campuran fluida, padatan, dan
bahkan bagian dalam bintang.
E. Sistem dan persamaan keadaannya
Keadaan seimbang mekanis : Sistem berada dalam keadaan seimbang mekanis,
apabila resultan semua gaya (luar maupun dalam) adalah nol Keadaan seimbang
kimiawi : Sistem berada dalam keadaan seimbang kimiawi, apabila didalamnya tidak
terjadi perpindahan zat dari bagian yang satu ke bagian yang lain (difusi) dan tidak
terjadi reaksi-reaksi kimiawi yang dapat mengubah jumlah partikel semulanya ; tidak
terjadi pelarutan atau kondensasi. Sistem itu tetap komposisi maupun konsentrasnya.
Keadaan seimbang termal : sistem berada dalam keadaan seimabng termal dengna
lingkungannya, apbiala koordinat-kooridnatnya tidak berubah, meskipun system
berkontak dengan ingkungannnya melalui dinding diatermik. Besar/nilai koordinat
sisterm tidak berubah dengan perubahan waktu.

Keadaan keseimbangan

termodinamika adalah sistem berada dalam keadaan seimbang termodinamika,


apabila ketiga syarat keseimbangan diatas terpenuhi. Dalam keadan demikian
keadaan keadaan koordinat sistem maupun lingkungan cenderung tidak berubah
sepanjang massa. Termodinamika hanya mempelajari sistem-sistem dalam keadaan
demikian. Dalam keadaan seimbang termodinamika setiap sistem tertutup (yang
mempunyai massa atau jumlah partikel tetap mis. N mole atau m kg) ternyata dapat
digambarkan oleh tiga koordinat dan :

Semua eksperimen menunjukkan bahwa

dalam keadaan seimbang termodinamika, antara ketiga koordinat itu terdapat


hubungan tertentu : f(x,y,z)=0 dengan kata lain : Dalam keadan seimbang
termodinamis, hanya dua diantara ketiga koordinat system merupakan variabel bebas.

Suatu gas disebut gas ideal bila memenuhi hukum gas ideal, yaitu hukum Boyle, Gay
Lussac, dan Charles dengan persamaan P.V = n.R.T. Akan tetapi, pada kenyataannya
gas yang ada tidak dapat benar-benar mengikuti hukum gas ideal tersebut. Hal ini
dikarenakan gas tersebut memiliki deviasi (penyimpangan) yang berbeda dengan gas
ideal. Semakin rendah tekanan gas pada temperatur tetap, nilai deviasinya akan
semakin kecil dari hasil yang didapat dari eksperimen dan hasilnya akan mendekati
kondisi gas ideal. Namun bila tekanan gas tesebut semakin bertambah dalam
temperatur tetap, maka nilai deviasi semakin besar sehingga hal ini menandakan
bahwa hukum gas ideal kurang sesuai untuk diaplikasikan pada gas secara umum
yaitu pada gas nyata atau gas riil. Gas ideal memiliki deviasi (penyimpangan) yang
lebih besar terhadap hasil eksperimen dibanding gas nyata dkarenakan beberapa
perbedaan pada persamaan yang digunakan sebagai berikut:
Jenis gas
Tekanan gas. Ketika jarak antar molekul menjadi semakin kecil, terjadi
interaksi antar molekul dimana tekanan gas ideal lebih besar dibanding

tekanan gas nyata (Pnyata < Pideal)


Volume gas. Dalam gas ideal, volume gas diasumsikan sama dengan
volume wadah karena gas selalu menempati ruang. Namun dalam
perhitungan gas nyata, volume molekul gas tersebut juga turut
diperhitungkan, yaitu: Vriil = Vwadah Vmolekul

Maka dari itu, perbedaan persamaan pada gas ideal dengan gas nyata dinyatakan
dalam faktor daya mampat atau faktor kompresibilitas (Z) yang mana
menghasilkan persamaan untuk gas nyata yaitu:
PV =Z . nRT atau Z=

PV
nRT

Beberapa asumsi dan eksperimen telah dikembangkan untuk membuat


persamaan yang menyatakan hubungan yang lebih akurat antara P, V, dan T
dalam gas nyata. Beberapa persamaan gas nyata yang cukup luas digunakan yaitu

persamaan van der Waals, persamaan Kammerligh Onnes, persamaan Berthelot,


dan persamaan Beattie-Bridgeman.
F. Properti-Properti dan Keadaan Dari Suatu Sistem
Materi yang berada dalam suatu sistem terdiri dari beberapa fase, yaitu
padatan, cairan, dan gas. Fase adalah suatu kuantitas dari materi yang memiliki
komposisi kimiawi yang sama secara menyeluruh. Batas-batas fase memisahkan
berbagai fase dalam suatu campuran. Properti adalah suatu kuantitas yang dipakai
untuk mendeskripsikan suatu sistem. Keadaan dari suatu sistem kondisinya
dideskripsikan dengan cara memberikan nilai-nilai tertentu untuk propertinya pada
saat tertentu. Properti-properti yang umum adalah tekanan, temperatur, volume,
kecepatan, dan posisi dan lainnya. Bentuk menjadi penting saat terdapat efek-efek
permukaan yang signifikan sedangkan warna saat menyelidiki perpindahan kalor
radiasi. Properti memiliki suatu nilai unik pada saat sistem berada dalam keadaan
tertentu dan nilai ini tidak bergantung pada keadaan-keadaan sebelumnyayang telah
dilalui sistem tersebut, artinya bukan merupakan suatu fungsi jalur. Karena suatu
properti tidak bergantung pada jalurnya, setiap perubahan bergantung pada kondisi
awal dan akhir dari sistem tersebut. Dengan menggunakan simbol untuk
melambangkan properti, persamaan materinya adalah
2

d= 2 1
1

d sebagai diferensial eksak; 2 - 1 sebagai perubahan properti bersamaan


dengan berubahnya sistem dari keadaan 1 ke keadaan 2. Sehingga akan dijumpai
berbagai kuantitas, seperti usaha.
Properti termodinamika dibagi menjadi dua jenis umum, yaitu properti
intesnsif dan ekstensif. Properti intensif adalah properti yang tidak bergantung pada
massa dari sistemnya. Contoh, temperatur, tekanan, densitas, dan kecepatan karena
properti ini berlaku untuk seluruh sistem tersebut. Jika menggabungkan dua sistem,

properti intensifnya tidak dijumlahkan. Properti ekstensif adalah properti yang


bergantung pada massa dari sistemnya. Contoh, volume, momentum dan energi
kinetik. Jika dua sistem digabungkan, properti ekstensif dari sistem yang baru adalah
penjumlahan dari properti ekstensif dari kedua sistem awalnya. Jika membagi
properti ektensif dengan massanya, yang dihasilkan adalah properti spesifik. Jadi
volume spesifik didefinisikan sebagai,
v=

V
m

v = properti intensif
V = properti ekstensif
m = massa
Properti Zat-zat Murni
Hubungan-hubungan antara tekanan, volume spesifik dan temperatur yang mana
sesuatu yang murni memiliki sifat homogen yang dapat memiliki lebih dari satu
fase, tapi tiap fase harus memiliki komposisi kimiawi yang sama.

G. PERSAMAAN-PERSAMAAN KEADAAN UNTUK GAS TAK IDEAL


Ada berbagai macam persamaan keadaan yang telah diusulkan untuk
digunakan untuk gas-gas yang bersifat tak-ideal. Sifat sifat muncul ketika tekanan
menjadi relatif tinggi atau temperatur berada dekat dengan temperatur jenuh. Tidak
ada kriteria yang tepat yang dapat digunakan untuk menetukan apakah persamaan
pesamaan gas ideal dapat di gunakan . Biasanya suatu soal dinyatakan sedemikian
rupa sehingga menjadi jelas jika efek-efek gas tak-ideal di ikut sertakan ; jika tidak
sduatu soal biasany a diselesaikan dengan mengamsumsikan gas ideal. Psersamaan

keadaan van der Waals dimaksudkan untuk menghitungkan volume yang di isi
molekul-molekul gas dan gaya-gaya tarik menarik antar molekul .Persamaan tersebut
adalah
P=

RT
V b -

a
v2

Dimana konstanta a dan b berhubungan dengan data titik kritis dalam Tabel B-3
melalui
a=

27 R 2 T 2er
64 OP er

b=

R T er
8 P er

Konstanta ini juga di tampilkan dalam Tabel B- untuk memudahkan perhitungan.


Persamaan yang lebih baik adalah persamaan keadaan Redich-Kwong:
P=

RT
a

V b v (v +b) T

Di mana konstanta-konstantanya diberikan oleh


a =0,4275

R 2 T .2.5 er
Per

b=0,0867

R T er
P er

Suatu pesamaan keadaan viral menampilkan produk Pv sebagai suatu deret


ekspansi. Ekspansi yang paling umum adalah
P=

RT
v

B(T )
v2

C (T )
v3

Dimana penekanan terletak pada B(T) karena mempresentasikan koreksi ordo


pertama untuk hukum gas ideal. Fungsi fungsi B (T),C(T), dll harus diberikan
secara spesifik untuk gas yang di maksud.
H. PERSAMAAN KEADAAN DALAM TERMODINAMIKA
Persamaan keadaan van der Waals
Gas yang mengikuti hukum Boyle dan hokum Charles, disebut gas ideal.
Namun, didapatkan, bahwa gas yang kita jumpai, yakni gas nyata, tidak secara ketat
mengikuti hukum gas ideal. Semakin rendah tekanan gas pada temperatur tetap,
semakin kecil deviasinya dari perilaku ideal. Semakin tinggi tekanan gas, atau dengan
dengan kata lain, semakin kecil jarak intermolekulnya, semakin besar deviasinya.
Paling tidak, ada dua alasan yang menjelaskan hal ini. Pertama, definisi temperatur
absolut didasarkan asumsi bahwa volume gas real sangat kecil sehingga bisa
diabaikan.Molekul gas pasti memiliki volume nyata walaupun mungkin sangat kecil.
Selain itu, ketika jarak antarmolekul semakin kecil, beberapa jenis interaksi
antarmolekul akan muncul. Fisikawan Belanda Johannes Diderik van der Waals
(1837-1923) mengusulkan persamaan keadaan gas nyata, yang dinyatakan sebagai
persamaan keadaan van der Waals atau persamaan van der Waals. Ia memodifikasi
persamaan gas ideal dengan cara sebagai berikut: dengan menambahkan koreksi pada
p untuk mengkompensasi interaksi antarmolekul; mengurango dari suku V yang
menjelaskan volume real molekul gas. Persamaan van der Waals didasarkan pada tiga
perbedaan yang telah disebutkan diatas dengan memodifikasi persamaan gas ideal
yang sudah berlaku secara umum. Pertama, van der Waals menambahkan koreksi
pada P dengan mengasumsikan bahwa jika terdapat interaksi antara molekul gas
dalam suatu wadah, maka tekanan riil akan berkurang dari tekanan ideal (Pi) sebesar
nilai P.
'

P=PiP P=Pi+ P '

Nilai P merupakan hasil kali tetapan besar daya tarik molekul pada suatu jenis
jenis gas (a) dan kuadrat jumlah mol gas yang berbanding terbalik terhadap
volume gas tersebut, yaitu:
'

P=

n2 a
2
V

Kedua, van der Waals mengurangi volume total suatu gas dengan volume
molekul gas tersebut, yang mana volume molekul gas dapat diartikan sebagai
perkalian antara jumlah mol gas dengan tetapan volume molar gas tersebut yang
berbeda untuk masing-masing gas (V nb).
Dalam persamaan gas ideal (PV = nRT), P (tekanan) yang tertera dalam
persamaan tersebut bermakna tekanan gas ideal (Pi), sedangkan V (volume)
merupakan volume gas tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan
van der Waals untuk gas nyata adalah:

( P+ P' )( V nb ) =nRT
Dengan mensubtitusikan nilai P, maka persamaan total van der Waals akan
menjadi:

P+

n a
( V nb )=nRT
2
V

Nilai a dan b didapat dari eksperimen dan disebut juga dengan tetapan van der
Waals. Semakin kecil nilai a dan b menunjukkan bahwa kondisi gas semakin
mendekati kondisi gas ideal. Besarnya nilai tetapan ini juga berhubungan dengan
kemampuan gas tersebut untuk dicairkan. Berikut adalah contoh nilai a dan b
pada beberapa gas.
H2
O2
NH3
C6H6

a (L2 atm mol-2)


0.244
1.36
4.17
18.24

b (10-2 L mol-1)
2.661
3.183
3.707
11.54

Daftar nilai tetapan van der Waals secara lengkap dapat dilihat dalam buku
Fundamentals of Physical Chemistry oleh Samuel Maron dan Jerome Lando
pada tabel 1-2 halaman 20. Pada persamaan van der Waals, nilai Z (faktor
kompresibilitas):
P=

nRT
n2a
2
( V nb ) V

Z=

PV
PV
nRT .V
n2 a . V

=
2
nRT
nRT ( V nb ) nRT V nRT

Z=

V
an

( V nb ) VRT

Untuk memperoleh hubungan antara P dan V dalam bentuk kurva pada


persamaan van der Waals terlebih dahulu persamaan ini diubah menjadi
persamaan derajat tiga (persamaan kubik) dengan menyamakan penyebut pada
ruas kanan dan kalikan dengan V2 (V - nb), kemudian kedua ruas dibagi dengan
P, maka diperoleh:

V 3 nb+

) ( ) (

nRT 2 n a
n ab
V +
V
=0
P
P
P
Kurva P terhadap V dalam persamaan
van der Waals

Persamaan keadaan Lain pada Gas Nyata


a. Persamaan Kamerlingh Onnes
Pada persamaan ini, PV didefinisikan sebagai deret geometri penjumlahan
koefisien pada temperature tertentu, yang memiliki rasio P (tekanan) dan Vm
(volume molar), yaitu sebagai berikut:
2
3
PV m= A+ BP+C P + D P +
Nilai A, B, C, dan D disebut juga dengan koefisien virial yang nilai dapat dilihat
dalam buku Fundamentals of Physical Chemistry oleh Samuel Maron dan
Jerome Lando Pada tekanan rendah, hanya koefisien A saja yang akurat, namun
semakin tinggi tekanan suatu gas, maka koefisien B, C, D, dan seterusnya pun
akan lebih akurat sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan Kamerlingh
akan memberikan hasil yang semakin akurat bila tekanan semakin bertambah.
b. Persamaan Berhelot
Persamaan ini berlaku pada gas dengan temperatur rendah ( 1 atm), yaitu:

PV =nRT 1 +

9 PT c
6T 2
1 2C
128 P c T
T

)]

Pc = tekanan kritis (tekanan pada titik kritis) dan Tc = temperatur kritis


(temperatur pada titik kritis). P, V, n, R, T adalah besaran yang sama seperti
pada hukum gas ideal biasa. Persamaan ini bermanfaat untuk menghitung
massa molekul suatu gas.
c. Persamaan Beattie-Bridgeman
Dalam persamaan ini terdapat lima konstanta. Persamaan Beattie-Bridgeman
ini terdiri atas dua persamaan, persamaan pertama untuk mencari nilai tekanan
(P), sedangkan persamaan kedua untuk mencari nilai volume molar (Vm).
RT

P=
+ 2+ 3+ 4
Vm Vm Vm Vm
V m=

RT

+
+
+
2
P RT ( RT ) ( RT )3

Dimana:

=RT O A 0

Rc
T2

=RT B o b + A 0 u

RcBO
T2

R Bo bc
T2

Nilai Ao, Bo, a, b, dan c merupakan konstanta gas yang nilainya berbeda pada
setiap gas. Daftar nilai Ao, Bo, a, b, dan c dapat dilihat dalam buku Fundamentals of
Physical Chemistry oleh Samuel Maron dan Jerome Lando pada tabel 1-5 halaman
23. Persamaan ini memberikan hasil perhitungan yang sangat akurat dengan deviasi
yang sangat kecil terhadap hasil yang didapat melalui eksperimen sehingga
persamaan ini mampu diaplikasikan dalam kisaran suhu dan tekanan yang luas.
Persamaan keadaan Redlich-Kwong

RT
A
1/ 2
v B T v v B

Menggunakan faktor kompresibilitas: Persamaan keadaan Van der Waals

pv
v
RT
v a

RT
RT v b RT v 2
Z

1
1

b
v

a
vRT

Persamaan keadaan Redlich-Kwong:

pv
v
RT
v
A

1/ 2
RT
RT v B RT T v v B
Z

1
A

3/ 2
B RT
v B
1
v

Untuk memperoleh kurva p terhadap v, kita harus mengubah persamaan keadaan Van
der Waals menjadi:

a
p v 2 v b RT

a ab
pv pb 2 RT 0
v v
3
pv pb RT v 2 av ab 0

RT
a
ab
2
v3 b
0
v v
p
p
p

Sifat-sifat gas dapat dipelajari dari segi eksprimen dan dari segi teori. Hukum-hukum
berikut diperoleh dari hasil-hasil eksperimen, yaitu:
Hukum Boyle
Volume dari sejumlah tertentu gas pada temperature,tetap berbanding terbalik dengan
tekanannya.Secara sistematis dapat ditunjukan :
V = K1/ P
V =Volume gas.
P =Tekanan gas.
K1 =Tetapan yang besarnya tergantung temperatur, berat gas, jens gas dan satuan P
dan V

Hukum Charles
Dalam termodinamika dan kimia fisik, hukum Charles adalah hukum gas
ideal pada tekanan tetap yang menyatakan bahwa pada tekanan tetap, volume gas
ideal bermassa tertentu berbanding lurus terhadap temperaturnya (dalam Kelvin).
Secara matematis, hukum Charles dapat ditulis sebagai:

dengan
V: volume gas (m3),
T: temperatur gas (K), dan
k: konstanta.
Hukum ini pertama kali dipublikasikan oleh Joseph Louis Gay-Lussac pada
tahun 1802, namun dalam publikasi tersebut Gay-Lussac mengutip karya Jacques
Charles dari sekitar tahun 1787 yang tidak dipublikasikan. Hal ini membuat hukum
tersebut dinamai hukum Charles. Hukum Boyle, hukum Charles, dan hukum GayLussac merupakan hukum gas gabungan. Ketiga hukum gas tersebut bersama dengan
hukum Avogadro dapat digeneralisasikan oleh hukum gas ideal. Volume suatu gas
pada tekanan tetap, bertambah secara linear dengan naiknya suhu. Hubungan volume
gas dengan suhunya pada tekanan tetap, secara sistematis dapat ditulis:
V = b.T
V = suhu dalam Kelvin
b = tetapan
V = volume gas
Avogadro

Avogadro mengamati bahwa gas-gas yang mempunyai volume yang sama. Karena
jumlah partikel yang sama terdapat dalam jumlah mol yang sama, maka hukum
Avogadro sering dinyatakan bahwa pada suhu dan tekanan yang sama (konstan),gasgas dengan volume yang sama mempunyai jumlah mol yang sama.
V = a.n
V = volume gas pada suhu dan tekanan tertentu
A = tetapan
n = jumlah mol

Contoh Soal
1. sebuahban mobil dengan volume 0.6m3 diisi hingga ke tekanan 200Kpa.
Hitunglah massa udara dalam ban tesebut jika temperaturnya adalah 200C
Penyelesaian: udara di asumsikan sebagai gas ideal dengan kondisi-kondisi
yang di berikan.Dalam persamaan gas ideal, PV=mRT.kita gunakan tekanan
absolut .jadi dengan menggunakan Patm=100Kpa
P=200+100=300Kpa dan T=20+273=293K
Massa yang dihitung sebesar
PV
M= RT

287 N m/kg K
2
= ( 300.000 N /m ) ( 0,6 m ) (293 K ) =2.14 kg

Satuan yang digunakan dalam persamaan di atas harus di periksa kembali .


2. Hitunglah tekanan uap pada temperatur 5000C dan idensitas 24 kg/m3 dengan
mengunakan
a. Pesamaan gas ideal
b. Persamaan van der Waals
Penyelesaian:

a. P = (24)(0,46)(773) 8570Kpa. Di mana konstanta gas untuk uap di


peroleh dari T
abel B-2
b. Dengan mengunakan nilai-nilai untuk a dan b dari Tabel B-8,persamaan
van der waals menghasilkan
RT
a
P = V b V 2

( 0,462 ) (773)
1
0,00169
24

1 2

24

1,703

=7950 Kpa

LATIHAN
1. Massa jenis nitrogen 1,25 kg/m3 pada tekanan normal. Tentukan massa jenis
nitrogen pada suhu 42 C dan tekanan 0,97 105 N m-2!
2. Dua kilogram R134a berada dalam suatu rangkaian piston-silinder,seperti di
tunjukkan dalam gambar di bawah ini . Piston berdiameter 20mm dan
berbobot 48 kg tersebut dibiarkan bergerak ke atas dengan bebas hingga
temperatur mencapai 1600C. Hitunglah volume akhirnya.

Penyelesaian:
1. 1

= 1,25 kg/m3

p1

= 76 cm Hg

T1

= 273 K

T2

= 315 K

p2

= 0,97 . 105 N m-2

p1

= 76 cm Hg
= 76 . 13,6 . 980 dyne/cm3
=

= 101292,8 N m-2

=
=

=
2 = 0,9638 kg/m3

2.

tekanan absolute di dalam silinder dihasilkan oleh tekanan atmosfer dan berat
piston

P=P

atm+

( 48 )( 9,81)
W
6
=100000 +
=1,60 X 10 Pa
2
A
(0,02) 4

Atau
1,6 Mpa
Pada tekanan ini dan temperatur 160C, R134a berada dalam kondisi
superbeat.

BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suatu system termodinamika adalah suatu masssa atau daerah yang dipilih
untuk dijadikan obyek analisis. Daerah sekitar sistem tersebut disebut sebagai
lingkungan.
Jenis sistem termodinamika
Ada tiga jenis system termodinamika berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara
sistem dan lingkungan :
1. Sistem Terisolasi
Pada sistem ini tidak terjadi pertukaran panas, benda atau kerja dengan
lingkungan. Contoh dari system terisolasi adalah wadah terisolasi, seperti tabung gas
terisolasi.
2. Sistem tertutup
Pada sistem ini terjadi pertukaran energi tapi tidak terjadi pertukatran benda
dengan lingkungan. Rumah hijau adalah contoh dari sistem tertutup dimana terjadi
pertukaran panas tetapi tidak terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan. Apakah
suatu sistem terjadi pertukaran panas, kerja atau keduanya biasanya dipertimbangkan
sebagai sifat pembatasnya:
c. Pembatas adiabatic: tidak memperoleh pertukaran panas
d. Pembatas rigid: tidak memperoleh pertukaran kerja.
3. Sistem Terbuka

Pada system ini terjadi pertukaran energy dan benda dengan lingkungannya.
Samudra merupakan contoh dari system terbuka. Dalam kenyataan, sebuah sistem
tidak dapat terisolasi sepenuhnya dari lingkungan, karena pasti ada terjadi sedikit
pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit penarikan gravitasi. Dalam
analisis sistem terisolasi, energi yang masuk ke sistem sama dengan energi yang
keluar dari sistem.
Persamaan Keadaan Sistem
Keadaan seimbang mekanis : Sistem berada dalam keadaan seimbang
mekanis, apabila resultan semua gaya (luar maupun dalam) adalah nol Keadaan
seimbang kimiawi : Sistem berada dalam keadaan seimbang kimiawi, apabila
didalamnya tidak terjadi perpindahan zat dari bagian yang satu ke bagian yang lain
(difusi) dan tidak terjadi reaksi-reaksi kimiawi yang dapat mengubah jumlah partikel
semulanya ; tidak terjadi pelarutan atau kondensasi.
B. Saran
Melalui

uraian ini, kami berharap pembaca dapat lebih memahami sistem

termodinamika dan persamaan keadaan sistem. Untuk pengembangan lebih lanjut,


pembaca dapat mencari informasi melalui sumber lain. Dalam penulisan makalah ini
kami merasa masih banyak kekurangan, kami harap pembaca dapat memberikan
kritik yang membangun agar kami dapat memperbaiki dengan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Merle dan Craig. 2008. Termodinamika Teknik. Jakarta: Erlangga.


Smith, dkk. 2005. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics. New
Delhi: Tata McGraw-Hill.
Saad, Michel. 2000. Termodinamika Prinsip dan Aplikasi. Jakarta: PT. Prenhallindo