Anda di halaman 1dari 16

Intratemporal Complications of Otitis Media

Andre Souza de Alburqueque Maranhao, Jose Santos Cruz De Andrade, Valeria Romero
Godofredo, Rafaella Caruso Matos, Norma de Oliveira Penido
Abstrak
Otitis media (OM) dianggap sebagai penyakit yang berpotensi menjadi penyakit yang parah
karena risiko komplikasinya.
Tujuan: Untuk menentukan angka kejadian komplikasi intratemporal pertahun yang
diakibatkan oleh otitis media dan secara prospektif menilai pasien yang terlibat dengan
menganalisis kejadian secara epidemiologis dan faktor-faktor klinis.
Metode: Penelitian kohort prospektif yang dimasukkan adalah pasien yang dirawat selama
satu tahun di sebuah Rumah Sakit Universitas yang didiagnosis dengan komplikasi
intratemporal dari otitis media. Pasien dianalisis untuk usia, jenis kelamin, jenis komplikasi
intratemporal, pengobatan, dan hasil klinis. Total insiden keseluruhan dari komplikasi dan
tingkat insiden khusus dari setiap jenis komplikasi telah ditentukan.
Hasil: 1.816 pasien didiagnosis dengan otitis media; 592 (33%) memiliki OM kronis; 1.224
(67%) memiliki OM akut. Lima belas pasien didiagnosis dengan OM Intratemporal
Complication (ITC), dengan kejadian pertahun sebesar 0,8%. Sembilan belas diagnosa ITC
dibuat pada 15 pasien. Tujuh (36,8%) pasien didiagnosis dengan labyrinthine fistula, lima
(26,3%) dengan mastoiditis, empat (21,1%) dengan peripheral facial palsy, dan tiga (15,8%)
dengan labyrinthitis.
Kesimpulan: Insiden komplikasi intratemporal tetap signifikan jika dibandingkan dengan
angka kejadian yang terdapat di negara-negara maju. Kolesteatoma otitis media kronis
merupakan penyebab paling sering dari komplikasi intratemporal. Fistula labirin adalah
komplikasi intratemporal yang paling umum.
Pendahuluan
Otitis media (OM) dianggap sebagai penyakit yang berpotensi menjadi penyakit yang
parah karena risiko komplikasinya dan harus dihadapi sebagai penyakit yang dinamis dengan
berbagai kondisi penyakit mulai dari yang bisa sembuh sendiri sampai menjadi penyakit yang

berkepanjangan dan terkadang sampai menimbulkan komplikasi. Beberapa faktor yang


mempengaruhi perkembangan penyakit pasien, seperti usia, status kekebalan lokal dan
sistemik, virulensi agen penyebab, dan riwayat pengobatan sebelumnya.
Munculnya antibiotik pada saat ini, khususnya di tahun 1940 an, menyebabkan
penurunan yang dramatis terhadap insiden komplikasi dari otitis media akut (OMA) dan otitis
media kronik (OMK), dan mengubah preferensi dari terapi pembedahan untuk manajemen
predominasi klinis terhadap penyakit tersebut.
Sebuah pertemuan World Health Organization (WHO) mengenai kebijakan kesehatan
untuk infeksi telinga tengah kronis yang diadakan pada tahun 1998, disimpulkan bahwa OM
sebagai masalah kesehatan publik yang penting dan permanen, khususnya di masyarakat
memang kurang disukai baik di negara berkembang maupun negra maju. WHO juga
memverifikasi data kependudukan tentang masalah ini dan meminta kepada negara tersebut
untuk mengumpulkan informasi epidemiologi untuk menentukan dampak dari OM dan
menetapkan prioritas untuk pencegahan dan pengobatan terhadap kondisi tersebut. Data
epidemiologi di negara Brasil mempublikasikan data yang langka dan mengadaptasi data dari
luar dengan realitas di negaranya bahwa data tersebut tidak tepat dan kurang terbukti secara
ilmiah.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kejadian pertahun mengenai komplikasi
intratemporal terkait dengan otitis media dan secara prospektif menilai pasien yang terlibat
dengan menganalisis kejadian secara epidemiologis dan faktor-faktor klinisnya.
Metode
Yang termasuk kedalam studi longitudinal kohort prospektif ini adalah pasien yang
didiagnosis dengan otitis media akut maupun kronis dan didiagnosis dengan komplikasi
intratemporal yang diakibatkan dari otitis media yang didapatkan di unit perawatan darurat,
bangsal rawat jalan, di rumah sakit universitas dari bulan Februari 2010 sampai Januari 2011.
Pasien dengan komplikasi yang ditindaklanjuti sementara dirawat inap di RS dan kemudian
diikuti ketika rawat jalan. Pasien dengan komplikasi intratemporal dianalisis berdasarkan
faktor-faktor berikut, yaitu: usia, jenis kelamin, jenis komplikasi intratemporal, pengobatan,
pemeriksaan penunjang, derajat dari peripheral facial palsy (House-Brackmann score), jenis
dan derajat gangguan pendengaran (selama infeksi dan setelah pengobatan), dan hasil temuan
klinis. Tingkat kejadian komplikasi secara keseluruhan dihitung secara spesifik. Komplikasi
intratemporal diklasifikasikan sebagai berikut: fistula labirin-erosi tulang endokhondral
dibagian atas labirin (terlihat pada CT scan atau pembedahan) tanpa kebocoran perilymph;

mastoiditis-eritema, edema/kolaps edema (termasuk abses subperiosteal); peripheral facial


palsy-sesuai dengan skor House-Brackmann; labyrinthitis-perburukan ambang pendengaran
(dilaporkan oleh pasien) diverifikasi dengan audiometri (penurunan konduksi tulang) dan
diikuti oleh tanda dan gejala vestibular. Pasien dengan otitis yang tidak mengalami
komplikasi memiliki analisis data sebagai berikut: usia, jenis kelamin, diagnosis otological
(OMA atau OMK). Penelitian ini telah disetujui oleh Institutions Research Etics Committee
dan telah diberi izin 0081/10.
Hasil
Dalam dua belas bulan penelitian, terdapat 1.816 pasien didiagnosis dengan otitis
media. Sebanyak 873 (48%) adalah laki-laki dan 943 (52%) adalah perempuan. Subjek
memiliki usia rata-rata 31 tahun (0-99 tahun). OMK didiagnosis pada 592 (33%) pasien,
sedangkan OMA sebanyak 1.224 (67%). Sebuah rasio perbandingan 2:1 diamati antara OMA
dan OMK.
Lima belas dari 1.816 pasien yang dilibatkan dalam penelitian ini memiliki
komplikasi intratemporal terkait dengan otitis media, menghasilkan angka kejadian pertahun
sebesar 0,8%. Sembilan (60%) dari 15 subjek adalah perempuan dan enam (40%) adalah lakilaki. Cholesteatomatous otitis media kronis (CCOM) didiagnosis pada 11 (74%) pasien,
OMA dalam 3 (20%) pasien, dan non-cholesteatomatous otitis media kronik (NCCOM)
dalam 1 (6%) subjek. Usia rata-rata pasien adalah 52 tahun (26-78 tahun).
Dua dari lima belas orang dengan komplikasi intratemporal memiliki dua
komplikasi bersamaan dan 1 orang memiliki tiga komplikasi bersamaan, terdapat 19 kasus
didiagnosis dari semua komplikasi intratemporal. Insiden setiap komplikasi tercantum dalam
Tabel 1. Satu pasien memiliki keterkaitan komplikasi intrakranial (trombosis sinus sigmoid).
Semua pasien diberi antibiotik intravena dan obat steroid saat dirawat di Rumah Sakit.
Tabel 1. Komplikasi Intratemporal terhadap 15 pasien dari total 19 diagnosis komplikasi (dua
pasien memiliki dua komplikasi bersamaan dan satu memiliki tiga komplikasi bersamaan).

Distribusi diagnosa otologikal dari 19 komplikasi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Distribusi dari diagnosis komplikasi (n=19)

Mastoidectomy canal dinding bawah dilakukan pada 10 (65%) pasien; dimana tujuh
(47%) menjalani mastoidectomy sebelumnya dan empat (57%) telah menjalani lebih dari satu
kali mastoidectomy. Pasien-pasien ini telah didiagnosis dengan Chronic Cholesteatomatous
Otitis Media (CCOM). Pendekatan ditampilkan pada Tabel 3. Komorbiditas ditampilkan
dalam sembilan (60%) pasien. Prevalensi yang lebih sering adalah hipertensi sistemik (SH)
dan diabetes mellitus (DM).
Tabel 3. Perawatan yang ditawarkan kepada pasien dengan komplikasi (antibiotik dan steroid
yang diresepkan untuk semua pasien)

Tanda-tanda dan gejala-gejala terjadi sebelum mengalami komplikasi untuk setiap


diagnosis tercantum pada Tabel 4.
Tabel 4. Tanda-tanda dan gejala sebelum mengalami komplikasi (%), untuk setiap diagnosis

Labyrinthine Fistula

Tujuh pasien didiagnosis labyrinthine fistula, empat (57%) laki-laki dan tiga (43%)
perempuan. Komplikasi ini memiliki angka kejadian pertahun sebesar 0,38%. Rata-rata usia
pasien adalah 59 tahun, dengan usia berkisar 44 tahun hingga 78 tahun. Enam (86%) pasien
didiagnosis dengan CCOM dan satu (14%) pasien memiliki NCCOM. Enam (86%) pasien
menderita penyakit selama lebih dari lima tahun. Tabel 5 berisi ringkasan dari prevalensi
semua tanda dan gejala. Hypacusis dan tinnitus terlihat pada semua pasien.
Nystagmus terlihat pada dua (29%) pasien dipicu oleh suara intens atau perubahan
tekanan dalam saluran telinga. Manifestasi klinis yang diamati, konfirmasi sementara CT
scan tulang, dan temuan intraoperatif mengarahkan pada diagnosis labyrinthine fistula. CT
scan menunjukkan tulang rusuk kanalis semisirkularis mengalami erosi pada semua pasien
dalam hubungannya dengan temuan pencitraan konsisten dengan CCOM (Gambar 1).

Pembedahan adalah terapi pilihan untuk semua pasien, dan lima (84%) subjek
menjalani mastoidectomy kanal dinding bawah. Satu pasien telah didiagnosis labyrinthitis.
Pasien-pasien tersebut dirawat di rumah sakit selama rata-rata enam hari (3-21 hari).
Seorang pasien wanita berusia 59 tahun tanpa riwayat efusi kronis mengeluh
hypacusis dan tinnitus intens telinga kiri terkait dengan vertigo yang berlangsung selama
empat minggu. Pemeriksaan otoscopik mengungkapkan gendang telinganya ditarik. Dia di
terapi diabetes mellitus dan telah menjalani kemoterapi untuk limfoma selama 11 tahun. CT
scan tulang temporal mengungkapkan tumor dengan ujung bulat menduduki antrum dengan
erosi kanalis semisirkularis lateralis. Pasien dirujuk untuk operasi, karena ia diduga memiliki
CCOM. Saat operasi, tumor konsistensi fibroelastik terlihat di antrum, bersamaan dengan
peradangan mukosa yang berdekatan. Biopsi dilakukan dan hasil laporan patologis
didapatkan proses inflamasi kronis. Imunohistokimia dilakukan pada spesimen bedah dan
pasien didiagnosis dengan tumor myofibroblastic inflamatory. Pasien diberikan pengobatan
steroid dan gejala serta ambang pendengarannya meningkat secara signifikan.

Audiometri praoperasi mengungkapkan semua subjek telah kehilangan pendengaran


campuran, keadaan menengah sebesar 43% (3/7) kasus, keadaan parah sebanyak 43% (3/7),
dan keadaan ringan sebanyak 14% (1/7) kasus. Audiometri pasca operasi menunjukkan
gangguan pendengaran campuran yang persisten. Dua (27%) pasien membaik dengan
ambang nada mereka dengan rata-rata 20 dB pada 500, 1000, dan 2000 Hz, sementara satu
(14 %) subjek memiliki ambang yang memburuk yaitu 15 dB pada frekuensi yang disebutkan
di atas.
Tabel 5. Insidensi timbulnya tanda dan gejala pada pasien dengan labyrinthine fistula.

Mastoiditis
Lima pasien didiagnosis dengan mastoiditis, dua laki-laki dan tiga perempuan.
Mereka memiliki usia rata-rata 44 tahun (26-66 tahun) . Insiden kejadian mastoiditis tiap
tahunnya adalah 0,27%. Tiga (60%) pasien didiagnosis dengan CCOM dan dua (40%) dengan
OMA. Semua pasien dengan CCOM telah didiagnosis setidaknya selama lima tahun. Waktu
antara timbulnya simptom sampai pasien-pasien mencari pengobatan yang sesuai berkisar
antara 5 dan 33 hari (rata-rata=25).
Tanda-tanda dan gejala yang dihadapi dan tingkat insiden ditunjukkan pada Tabel 6.
Otalgia dan otorrhea terlihat dalam lima (100%) pasien dan tinnitus dalam tiga (60%) .
Tabel 6. Insidensi dari tanda dan gejala pada pasien dengan mastoiditis

Mastoidectomy canal dinding bawah ditawarkan kepada dua (40%) pasien,


mastoidectomy tertutup kepada satu (20%) pasien, drainase retroauricular satu (20%) pasien,
dan pengobatan konservatif (antibiotik) ke satu (20%) pasien.
Satu pasien (20%) telah dikaitkan dengan komplikasi intratemporal setelah
dimulainya pengobatan dengan antibiotik untuk mastoiditis dan dikembangkan dengan
peripheral facial palsy (PFP) dan labyrinthitis. Ia menjalani tympanocentesis dan memiliki

tabung ventilasi yang dimasukkan. Selama rawat inap, pasien ditingkatkan mulai dari gejala
dan dirujuk untuk dilakukan mastoidectomy tertutup. Pasien dirawat di rumah sakit selama
32 hari dan setelah penyelidikan secara intensif didiagnosis dengan Wegeners
Granulomatosis (WG). Pasien dimulai pada pemberian siklofosfamid dan steroid, dan
meningkat sepenuhnya dari PFP dan otorrhea.
Pasien lain telah dikaitkan dengan komplikasi intrakranial. Subjek telah dirawat
karena OMA selama 30 hari ketika ia datang ke layanan kami mengeluh sakit telinga dan
otorrhea. Disempurnakan dilakukan CT scan dengan kontras pada tulang temporal
mengungkapkan sel-sel udara mastoid terlihat opac dan trombosis pada sinus sigmoid.
Kemudian dilakukan scan angiography magnetic resonance untuk menkonfirmasi
penegakkan diagnosis. Pasien dilihat oleh tim neurologi dan oftalmologi (untuk
menyingkirkan hidrosefalus otitic), tapi dia tidak memiliki tanda-tanda hipertensi intrakranial
dan uji fundus terhadap matanya normal. Pasien diberi antibiotik spektrum luas (ceftriaxone
dan klindamisin) terkait dengan steroid, dan berkembang secara memuaskan. Pasien dirawat
di rumah sakit selama tujuh hari dan diberikan pengobatan cefuroxime axetil selama 21 hari.
Dua (40%) pasien mengalami hipertensi sistemik. Pasien-pasien tersebut dirawat di
rumah sakit selama rata-rata 12 hari (4-32 hari).
Peripheral Facial Palsy
Tiga (75%) dari empat orang yang didiagnosis dengan PFP adalah perempuan.
Rata-rata usia subjek adalah 46 tahun, mulai dari usia 26 sampai 64 tahun. Angka kejadian
PFP pertahun sebesar 0,22%. Dua (50%) pasien didiagnosis dengan CCOM dan dua (50%)
dengan OMA. Pasien dengan OMA mengalami keluhan selama rata-rata 30 hari sebelum
mereka datang ke pelayanan kesehatan kami. Pasien dengan CCOM menunggu selama 10
hari sebelum datang berobat.
Satu pasien dengan mastoiditis berkembang menjadi derajat IV PFP (HouseBrackmann) dan labyrinthitis. Pasien ini didiagnosis dengan Wegeners granulomatosis
berdasarkan tes c-ANCA positif, tetapi berkembang secara memuaskan dengan remisi
lengkap dari PFP dan pengelolaan yang baik terhadap infeksi setelah diberikan pengobatan
khusus (seperti yang dijelaskan sebelumnya). Pasien lain juga memiliki PFP dan labyrinthitis.
Pasien telah mulai diberikan antibiotik sejak 30 hari sebelumnya untuk penderita OMA dan
mengalami perkembangan yang baik selama dua minggu, ketika hypacusis, tinnitus, dan
vertigo yang berhubungan dengan PFP. Pasien dengan terapi insulin untuk penderita diabetes
(terjadi amaurosis pada mata kanan akibat retinopati diabetes) dan diterapi akibat

hipotiroidisme. Pasien memilik derajat IV PFP (House-Brackmann) dan audiometri


menunjukkan gangguan pendengaran campuran yang parah. Pasien yang dirawat di rumah
sakit, dirubah pemberian antibiotiknya, terapi steroid yang ketat juga dikelola dan kadar
glukosa tetap dikendalikan, dan myringotomy yang dilakukan dengan insersi tabung ventilasi.
Pasien dirawat di rumah sakit selama 10 hari. Ketika kondisi pasien sudah stabil, dosis steroid
mulai diturunkan sampai dosis minimal. Tiga bulan selama dilakukan follow up pasien
mengalami perkembangan yang signifikan dari PFP (derajat II), melaporkan peningkatan
tinnitus dan vertigo, dan audiometrinya mengungkapkan gangguan pendengaran campuran
yang moderat.
Tiga (75%) pasien memiliki derajat IV dan satu (25%) memiliki derajat III PFP
(House-Brackmann). Dua (50%) pasien memiliki komplikasi terkait lainnya, yaitu kasus
mastoiditis dan selain kasus labyrinthitis. Rata-rata pasien dirawat di rumah sakit seama 13
hari, dengan range antara 2 sampai 32 hari. Dua orang dilakukan tindakan mastoidectomy
saluran dinding bagian bawah, satu pasien dilakukan mastoidectomy tertutup, dan satu pasien
dilakukan myringotomy yang dilakukan dengan insersi tabung ventilasi. Tiga pasien PFP
mengalami perkembangan yang positif, seperti yang terlihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Data dari pasien dengan PFP

Labyrinthitis
Tidak ada kasus labyrinthitis yang diisolasi. Tiga pasien memiliki labyrinthitis,
angka kejadian pertahunnya sebesar 0,1%. Semua telah dikaitkan dengan komplikasi, seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 8. Hypacusis, tinnitus dan vertigo secara universal hadir dan
nystagmus diobservasi dalam dua kasus.
Ketiga pasien tersebut diberikan pengobatan steroid dan dosisnya diturunkan
bertahap selama empat minggu. Dua bulan setelah pengobatan, pasien dilaporkan mengalami

perbaikan dari vertigo dan tinnitus serta perbaikan secara parsial terhadap hypacusis. Tes
Audiometri menunjukkan perbaikan dari 10 sampai 20 dB pada 500-1000 dan 2000 Hz dan
terdapat gangguan pendengaran campuran residual.
Tabel 8. Data dari pasien dengan labyrinthitis

Diskusi
Penelitian ini memaparkan angka kejadian komplikasi intratemporal pertahun akibat
otitis media sebanyak 0,8%, selain itu juga dapat dilihat dalam penelitian lain yang dilakukan
di negara-negara berkembang seperti Thailand, Turki, dan Taiwan, di mana tingkat
kejadiannya sebesar 0,45%, 1,35%, dan 3% yang telah dilaporkan oleh masing-masing
negara. Angka kejadian yang dilaporkan ternyata tidak signifikan dan lebih berat jika
dibandingkan dengan insiden yang terlihat di negara-negara maju. Sebagai contoh, sebuah
penelitian yang dilakukan di Finland melaporkan kejadian komplikasi sebesar 0,004%.
Peneliti percaya bahwa terdapat akses yang bermasalah pada sistem perawatan kesehatan
umum, layanan genting, dan rendahnya pendidikan yang mempromosikan kelangsungan
situasi ini, seperti yang dibahas oleh penulis lainnya.
OMK adalah prevalensi diagnosis yang paling banyak, CCOM pada khususnya,
karena menyumbang 74% dari semua komplikasi. Meskipun peneliti menampilkan sampel
hanya meneliti sedikit pasien (n=15), alur penelitian ini juga terlihat dalam studi dengan
kohort yang lebih besar.
Tiga (20%) orang memiliki dua atau lebih komplikasi intratemporal dan satu pasien
memiliki komplikasi intrakranial yang terkait (trombosis pada sinus sigmoid). Komplikasi
yang terjadi secara bersamaan telah dilaporkan dalam literatur, menekankan kebutuhan untuk
lebih teliti dalam menyelidiki pasien dengan beberapa komplikasi yang terkait.
Beberapa tanda dan gejala disebutkan pada pasien dengan komplikasi (Tabel 4)
dibagi antara pasien dengan komplikasi yang berasal dari OMA dan pasien dengan

komplikasi yang timbul dari OMK (NCCOM dan CCOM), karena mereka secara signifikan
berbeda satu sama lain. Ketika melihat pasien dengan OMA, peneliti menemukan bahwa
keluhan otalgia muncul pada 100% pasien. Kemudian, hanya terdapat 33% pasien dengan
OMK yang memiliki keluhan otalgia. Tanda dan gejala pada pasien dengan komplikasi dari
OMK biasanya nonspesifik, seperti hypacusis dan tinnitus, terjadi pada 84% dan 75% dari
masing-masing pasien. Biasanya juga terjadi pada pasien yang lebih tua dan telah dikaitkan
dengan komorbiditas. Diagnosis dini dan pencegahan terhadap komplikasi memerlukan
pemeriksaan terhadap pasien yang dilakukan dengan hati-hati.
Fistula Labirin
Fistula labirin adalah komplikasi intratemporal yang paling sering muncul (37 %),
dengan angka kejadian pertahun sebesar 0,38%. Hal ini didefinisikan sebagai erosi tulang
endokhondral di bagian atas labirin tanpa ada kebocoran perilimpa (seperti fistula
perilymphatic), dan masih merupakan salah satu komplikasi yang paling umum terjadi pada
CCOM. Insiden komplikasi ini dianggap remeh. Studi pada komplikasi otitis media tidak
mencakup semua kasus fistula labirin, karena tidak menghasilkan gejala yang signifikan dan
biasanya hanya terdeteksi selama pembedahan.
Banyak penulis tidak termasuk fistula labirin dalam melakukan diferensial
diagnosis komplikasi intratemporal, karena biasanya tidak menghasilkan manifestasi dan
gejala klinis yang tidak spesifik. Tanda dan gejala yang paling sering terlihat pada penelitian
ini berupa gejala fistula labirin minus, otalgia, merupakan gejala yang menarik perhatian para
dokter sebagai tanda kemungkinan terjadinya komplikasi, akan naik dari posisi keempat ke
posisi kedua, dengan angka kejadian sebesar 75%, disamping hanya otorrhea yang terlihat
dalam semua kasus. Namun, peneliti percaya fistula labirin harus dimasukkan, karena kondisi
di mana labirin terkena penyakit ini, akibatnya akan menurunkan fungsi vestibular dan fungsi
pendengaran menjadi lebih rentan.
Meskipun tidak ada komplikasi intrakranial dari labirin fistula yang terlihat dalam
penelitian ini, namun dapat terjadi dari hubungan antara labirin dan ruang subarachnoid,
meningitis merupakan kejadian paling sering yang dilaporkan. Meningitis dapat mencegah
terjadinya komplikasi lain, terhadap intrakranial khususnya, ketika diobati tepat waktu. Data
yang dikumpulkan dalam penelitian ini berfungsi sebagai peringatan bagi para peneliti ilmiah
dan para ahli THT khususnya terhadap pentingnya mengidentifikasi dan mengobati fistula
labirin sebelum mereka berevolusi untuk perilymphatic fistula.

Delapan puluh enam persen (6/7) dari pasien yang memiliki CCOM, dan terhadap
semua kasus telah didiagnosa selama lebih dari lima tahun dan selama lebih dari sepuluh
tahun sebanyak 72% (5/7) dari subjek penelitian, karakteristik untuk memperlambat
perkembangan yang berbahaya. Sulit untuk menentukan kapan kolesteatoma muncul, tetapi
dengan menggunakan tanggal manifestasi penyakit, biasanya dalam bentuk efusi telinga,
yang dilaporkan oleh pasien sebagai referensi, sehingga dapat menduga bahwa penyakit ini
telah ada sejak lama. Resorbsi dari kapsul telinga diyakini sebagai proses yang berbahaya
(seperti yang disebutkan sebelumnya), didorong oleh mediator inflamasi yang diaktifkan
pada matriks kolesteatoma atau dengan tekanan yang diberikan oleh cholesteatoma.
Erosi dari lapisan tulang yang melindungi labirin memungkinkan perubahan
tekanan untuk ditransmisikan ke dasar endosteum, perilimfa, dan kompartemen endolimfatik
yang berdekatan, sehingga membangkitkan vestibular dan bahkan simptom auditori. Hanya
29% (2/7) dari pasien dengan fistula labirin mengalami nistagmus yang disebabkan oleh
perubahan tekanan di dalam saluran telinga (tanda Hennebert) dan intensitas kebisingan
(fenomena tullio). Literatur melaporkan angka kejadiannya sedikit lebih tinggi, yang
menunjukkan 32% sampai 50% dari pasien yang diuji dan dinyatakan positif terhadap fistula
ditemukan selama eksplorasi pembedahan. Meskipun didapatkan gangguan sensorineural
pendengaran, vertigo, dan tes positif untuk fistula menunjukkan fistula labirin, tidak adanya
temuan tersebut bukan berarti kapsul telinga masih utuh/intak. Dengan demikian, untuk
mempertimbangkan dengan hati-hati pemeriksaan fistula pada semua pasien yang menjalani
operasi.
Dalam penelitian kami, kanalis semisirkularis lateralis terlibat 100% dari semua
individu. Mengingat lokasinya yang menutupi antrum, hal itu yang paling sering terlibat pada
labirin dan seperti yang dilaporkan oleh penulis lain, hal itu menyumbang sekitar 90% dari
kasus tersebut.
Delapan puluh enam persen (6/7) dari pasien memiliki CCOM dan menjalani
mastoidectomy dinding saluran bawah. Mastoidectomy tertutup ditawarkan kepada satu
individu dengan NCCOM. Empat pasien (58 %) sebelumnya telah mengalami
mastoidectomy. Erosi labirin diamati pada semua kasus. Matrix kolesteatoma telah dihapus
dalam dua kasus, ketika sebuah pecahan bagian yang aman telah ditemukan.
Pendekatan tindakan pembedahan telah dibahas secara luas dalam literatur.
Beberapa penulis percaya prosedur terbaik adalah tindakan mastoidectomy dinding saluran
bawah, menghilangkan cholesteatoma dan menjaga fistula dengan menutupnya dengan
matriks dan memindahkannya keluar menuju ruang/cavity. Para penulis percaya bahwa

menghilangkan semua matriks tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran


sensorineural. Para pendukung mengklaim dapat mengurangi potensi risiko perkembangan
erosi tulang dan komplikasi infeksi seperti labyrinthitis. Namun, operasi perbaikan juga
dibutuhkan. Mastoidectomy canal dinding bawah (menghilangkan matriks kolesteatoma bila
memungkinkan) dilakukan pada semua pasien dalam penelitian kami karena karakteristik
sosial ekonomi dari penduduk terlihat dalam kebiasaan kami, perpanjangan secara signifikan
dari kolesteatoma pada saat operasi, dan kesulitan dalam penjadwalan perbaikan operasi.
Mastoiditis
Dijelaskan secara klasik sebagai komplikasi yang paling sering dari otitis media,
mastoiditis memasuki peringkat kedua dalam penelitian kami, sebesatr 28 % dari komplikasi
yang didiagnosis. Hal ini terjadi karena fistula labirin yang termasuk dalam diagnosis
diferensial pada komplikasi intratemporal.
Kejadian pertahun mastoiditis terlihat dalam penelitian ini sebanyak 0,27%.
Meskipun tingkat insidensi menurun, mastoiditis masih sangat banyak terjadi pada realitas.
Di negara berkembang, mastoiditis dan komplikasi lainnya masih menjadi penyebab
kematian paling umum untuk OMK.
Tanda dan gejala yang palinh sering ditemui adalah otalgia dan otorrhea, yang
diamati pada 100% pasien. Mastoiditis perlu didefinisikan dengan benar sehingga dapat
diobati dengan baik. Secara umum, mastoiditis didefinisikan sebagai penebalan mukosa atau
efusi rongga mastoid. Ini sering terjadi dalam kasus-kasus OMA dan OMK serta dapat dilihat
secara rutin di hasil pemeriksaan CT scan tulang. Ini bukan bukti klinis yang signifikan dan
harus ada. Namun, tanda klinis mastoiditis-yang harus dijelaskan dalam penelitian ini-disertai
dengan eritema, edema, dan bisa terjadi kolaps edema yang menandakan adanya abses
subperiosteal, merupakan cerita yang berbeda . Investigasi yang teliti diperlukan dalam kasus
ini dalam rangka untuk menentukan program studi yang paling memadai untuk pengobatan.
Meskipun diagnosis klinis segera dilakukan, CT scan tulang temporal, sebaiknya
disempurnakan dengan kontras, akan memainkan peran penting dalam perencanaan terapi
dan mengesampingkan komplikasi lain yang mungkin terjadi.
Meskipun setiap jenis komplikasi yang timbul dari OM memiliki terapi khusus,
kami percaya prinsip-prinsip pengobatan tertentu dapat digeneralisasi. Pertama, kita harus
menentukan apakah pasien memiliki OMA atau OMK . Hampir semua kasus komplikasi dari
kasus OMA berkembang dengan baik dengan pemberian antibiotik yang tepat dan
miringotomi dengan atau tanpa insersi tabung ventilasi. Sedangkan komplikasi yang berasal

dari OMK, diperlukan antibiotik spektrum luas yang efektif terhadap kuman anaerob dan
aerob, bersama dengan beberapa bentuk mastoidectomy di sebagian kasus. Mastoidectomy
canal dinding bawah ditawarkan kepada tiga pasien dengan yang didiagnosis mastoiditis
dengan CCOM. Salah satu pasien ini memiliki tulang pipi yang dianginkan dan mudah
dikembangkan oleh abses dalam proses zygomatic. Insisi direncanakan untuk memasukkan
daerah abses, seperti yang direkomendasikan dalam literature tersebut. Setelah menguras
abses, mastoidectomy dilakukan dan cholesteatoma dihilangkan dengan cara yang biasa.
Dua kasus mastoiditis dari OMA ini memiliki komplikasi, dua intratemporal (PFP
dan labyrinthitis) dan satu intrakranial (trombosis sinus sigmoid). Keduanya memiliki otalgia
dan otorrhea dan telah diberikanl antibiotik oral, tetapi pencapaiannya hanya mengurangi
sebagian gejala. Mereka mencari layanan kesehatan kami 30 hari setelah timbul manifestasi
klinis dengan gejala yang memburuk. Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana waktu infeksi
sangat sugestif dari mastoiditis. Tanda otalgia atau otorrhea yang purulen bertahan selama
dua minggu atau lebih, atau gejala kekambuhan setelah memasuki periode perbaikan klinis
yang jelas.
Pasien dengan trombosis sinus sigmoid dari OMA diperbaiki gejala klinisnya
dengan antibiotik intravena yang diberikan di rumah sakit dan sebelumnya telah diberikan
antibiotik oral selama tiga minggu. Kasus ini harus menjadi perhatian bagi para dokter ahli
THT untuk kemungkinan terjadinya trombosis pada sinus sigmoid tanpa manifestasi klinis
dan perkembangan yang jinak pada kondisi ini. Karena itu, pengobatan trombosis sinus
sigmoid dibahas untuk tindakan terapi konservatif yaitu tidak sampai mendekati sinus
sigmoid secara langsung dan mengobati garis dasar penyakit menular secara efektif.
Peripheral Facial Palsy
Dua pasien dengan PFP yang didiagnosis dengan OMA dan dua dengan CCOM.
Dalam penelitian ini, kejadian PFP sebagai komplikasi OM pertahun sebanyak 0,22%.
Meskipun tampaknya tidak signifikan, hal ini mirip dengan tingkat insiden yang terlihat di
era pre-antibiotik yaitu sebesar 0,5-0,7%. Angka kejadian di negara berkembang berkisar
0,005 %, menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Denmark.
Peripheral Facial Palsy (PFP) mungkin diakibatkan dari OMA dan OMK. Saraf
penghinaan biasanya terjadi dari kelainan kongenital dari saluran saraf wajah atau
diakibatkan oleh erosi tulang yang disebabkan oleh jaringan yang mengalami granulasi atau
kolesteatoma, yang memungkinkan mediator-mediatir inflamasi untuk menyerang fungsi
saraf melalui proses yang dikenal sebagai neuropraxia supuratif. Teori yang berbeda untuk

menjelaskan kejadian PFP yang terkait dengan OMA. Dikarenakan proses progresi yang
lebih pendek, diyakini bahwa erosi tulang dan fenomena kompresif lebih cenderung terjadi,
dan beberapa penulis percaya bahwa cedera saraf terjadi dengan sumbatan pembuluh darah
kecil yang dipicu oleh proses inflamasi, sehingga terjadi iskemia saraf.
Dua pasien dengan OMA yang dikaitkan dengan komplikasi intratemporal, yaitu
labyrinthitis dan mastoiditis. Hyden et al, menjelaskan tujuh kasus yang bersamaan PFP dan
labyrinthitis pada pasien OMA dan memaparkan bahwa invasi toksin atau agen infeksi,
mungkin terjadi mengelilingi membran, disertai oleh cedera saraf karena proses inflamasi.
Penulis lain telah menjelaskan korelasi yang kuat antara OMA dan perkembangan PFP dan
labyrinthitis.
Pasien dengan Wegeners granulomatosis (WG) menghabiskan waktu 32 hari di
rumah sakit sebelum didiagnosis. Beberapa penulis telah menulis tentang pentingnya
mengesampingkan WG, kondisi langka yang mungkin ada terutama dalam kasus-kasus yang
tidak berkembang untuk kepuasan pasien meskipun telah dilakukan perawatan yang tepat.
Penatalaksanaan awal dalam dua kasus PFP dari OMA adalah untuk melakukan
miringotomi dengan menyisipkan tabung ventilasi (selain pemberian antibiotik dan steroid) .
Salah satu dari mereka tidak mengalami perkembangan dengan baik (pasien dengan WG) dan
disebut mastoidectomy tertutup. Keduanya ditingkatkan dengan memuaskan terhadap PFP
seperti yang dijelaskan dalam hasil. Para pasien yang didiagnosis dengan CCOM derajat III
dan derajat IV dari PFP dan menjalani mastoidectomy kanal dinding bawah. Cedera terletak
di segmen timpani pada satu kasus dan dibagian transisi timpani ke mastoid (lutut kedua)
segmen yang lain. Enam bulan dilakukan follow up kepada pasien grade IV PFP berpindah
menjadi grade III dan yang lainnya tetap berada di grade III PFP.
Prognosis PFP bervariasi pada pasien dengan OMA atau CCOM. PFP yang
disebabkan oleh OMA, pemberian antibiotik yang tepat dilanjutkan dengan tindakan
miringotomi untuk mengalirkan bahan purulen dan mengurangi jumlah bakteri agar fungsi
saraf dapat pulih dengan baik pada banyak kasus. Sedangkan jika penyebabnya adalah OMK
(dengan atau tanpa kolesteatoma operasi merupakan pengobatan pilihan. Infeksi sekitar saraf
perlu dihilangkan dan pemulihan fungsi yang tak menentu, seperti yang terlihat dalam kasus
kami.
Labyrinthitis
Terdapat tiga kasus labyrinthitis serosa (semua telah dijelaskan sebelumnya) diikuti
oleh komplikasi intratemporal lainnya, yaitu fistula labirin, mastoiditis, dan PFP. Keluhan

hypacusis, tinnitus, dan vertigo yang ditemukan pada semua pasien, bersamaan dengan
gangguan pendengaran campuran yang parah. Ini adalah komplikasi yang sering paling
terlihat dalam penelitian ini, dengan tingkat kejadian pertahun sebesar 0,1%.
Gangguan pendengaran sensorineural dan gangguan vestibular sekunder untuk
penetrasi racun atau bakteri di dalam struktur telinga masih menjadi tantangan. Labyrinthitis
dikategorikan menjadi supuratif atau serous. Yang pertama terjadi karena invasi labirin oleh
mikroorganisme (biasanya bakteri), mengenai koklea dan cedera vestibular dan biasanya
mengakibatkan gangguan pendengaran berat atau mendalam yang permanen, yang mana
tidak terlihat dalam penelitian kami. Ketika kerusakan labirin disebabkan oleh racun dari
bakteri atau partikel dari produk inflamasi, kondisi ini disebut labyrinthitis serosa dan gejala
sisa pendengaran cenderung lebih ringan dan tidak permanen, pasien biasanya mampu
memulihkan ebagian ambang pendengaran mereka setelah infeksi mereda, seperti yang
terlihat dalam penelitian kami.
Perbedaan antara serosa dan supuratif labyrinthitis dilakukan secara klinis,
berdasarkan respon terhadap pengobatan dan perbaikan pemeriksaan audiometri terlihat pada
pasien dengan labyrinthitis serous. Labyrinthitis supuratif kurang umum pada saat ini.
Insiden diperkirakan telah berkurang tujuh kali lipat sejak diperkenalkannya antibiotik.
Meskipun labyrinthitis serosa telah dilaporkan sebagai salah satu komplikasi yang
paling umum pada otitis media, hanya tiga subjek yang memiliki komplikasi itu dalam
penelitian kami. Telah diasumsikan bahwa banyak pasien dengan labyrinthitis serosa terkait
dengan otitis media berespon baik diberikan terapi konvensional dan operasi telinga elektif
untuk mengobati penyakit dasar dan komplikasinya, sering terjadi kesalahan diagnosis.
Proses labirin dapat terjadi oleh banyak cara yang berbeda. Proses peradangan dari
meninges atau cairan serebrospinal dapat melakukan perjalanan ke telinga bagian dalam
(labirin) melalui saluran air di koklea atau Internal Acoustic Canal (IAC). Sepuluh persen dari
pasien dengan meningitis bakteri memiliki labyrinthitis dan gangguan pendengaran yang
parah. Infeksi juga dapat terjadi sebaliknya, yaitu mungkin mulai dari labirin dan
perjalanannya mencapai ke sistem saraf pusat. Jalur penebaran lain yang sering terlihat yaitu
terjadi infeksi di telinga tengah dan cedera labirin terjadi disekitar bulatan atau jendela yang
berbentuk oval. Kami percaya ini adalah cara kerja dari kasus labyrinthitis yang terlihat
dalam penelitian ini. Bakteri dari infeksi sistemik mungkin telah mencapai labirin yang
diangkut oleh aliran darah, jarang terjadi penyebaran secara hematogenik.

Kesimpulan
Insidensi komplikasi intratemporal signifikan jika dibandingkan dengan tingkat
kejadian yang terlihat di negara-negara maju.
Chronic Cholesteatomatous Otitis Media (CCOM) merupakan penyebab paling
umum dari komplikasi intratemporal.
Labyrinthine fistula adalah komplikasi intratemporal yang paling umum. Hypacusis
dan tinnitus yang diamati pada semua kasus.